Showing posts with label kids. Show all posts
Showing posts with label kids. Show all posts

Monday, May 23, 2011

Kecil-Kecil Punya.. Mimpi?

Karena satu dan lain hal, belakangan ini saya membaca buku-buku seri Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK). Tentu saja beberapa tahun lalu - berkat berita-berita dari Internet - KKPK ini sempat akrab di telinga saya, ketika para penulis cilik berbakat, seangkatan Faiz, muncul. Tapi saya belum pernah benar-benar membaca seri ini sampai hari ini, ketika membawa pulang beberapa judul seri KKPK yang Best Seller.   

Ternyata yang pertama saya putuskan begitu menyelesaikan membaca buku-buku ini adalah agar buku-buku ini jangan sampai dibaca oleh anak-anak saya. Kenapa? Karena sangat mirip dengan sinetron, hanya saja dalam versi anak-anak.

Contohnya, nama-nama para tokohnya yang biasanya kebarat-baratan. Memang referensi para penulisnya yang asing semua, atau supaya keren? Memanggil orang yang lebih tua pun sering dengan Mrs atau Mr, memanggil orang tua dengan Mom atau Dad. Apakah anak-anak usia SD-SMP sekarang (penulis dan pembaca KKPK) memang seperti itu? Mungkin saja setting-nya di luar negri, tapi ini biasanya ketahuan setelah cerita berlangsung sekitar separuhnya.

Contoh lain lagi adalah kurangnya logika dalam bercerita. Ceritanya anak miskin, tapi ketika ia cerita ttg masa lalu, elemen2nya (jenis makanan, dsb) adalah yg termasuk mewah. Ceritanya panti asuhan, tapi mudah makan-makan di restoran.
Seorang anak yatim-piatu bisa berlaku kasar pada pelayan restoran. Hanya dengan melambaikan uang ratusan ribu, si pelayan 'tunduk' padanya. Apakah etika anak sekarang seperti itu?

Kisah-kisah ini juga banyak menggunakan Bahasa Inggris, terutama dalam percakapannya. Mestinya tidak apa-apa mengingat referensi anak-anak sekarang yang kebanyakan memang keinggris-inggrisan. Tapi, tolong disunting lagi, supaya penggunaannya baik dan benar. Jangan salah sehingga memalukan.

==========

Kekuatiran.
Sebagai orang tua yang punya anak-anak usia SD, tentu saja saya punya kekuatiran. Bukan hanya tentang anak2 sendiri, tapi tentang anak2 seusia mereka.
Mengingat nilai-nilai yang dibawa dalam tulisan2 di KKPK, saya kuatir anak-anak (pembacanya) tidak akan memiliki rasa penghargaan terhadap nilai uang dan barang. Anak-anak akan kesulitan membangun rasa empati terhadap sesamanya, terutama terhadap mereka yang kurang beruntung, dan menganggap semuanya mudah dicapai.

Anak-anak hanya akan mengerti dunia sebatas sekolah mewah, dinding-dinding mal, dan (bayangan) nikmatnya hidup di luar negri. Yang paling fatal adalah bila anak-anak menganggap bahwa inilah jenis 'kebahagiaan' yang harus diraih.

Tidak, Nak, masih banyak mimpi-mimpi lain, yang lebih tulus, lebih membumi.

==========

Tentu saja saya tidak memukul rata dengan beranggapan bahwa seluruh KKPK itu tidak layak baca bagi anak, tapi sejauh ini yang seperti itulah yang saya temukan. Orang tua harus menyeleksi dulu bahan bacaan sebelum memberikan ke anak-anak mereka.

Tentu saja saya juga tidak langsung menyalahkan adik-adik penulis yang telah berkarya dengan mengagumkan ini. Menulis kumpulan cerita pendek ini tentu tidak mudah, bahkan luar biasa untuk anak-anak seusia mereka. Tapi tentunya, sebelum diterbitkan, tulisan2 mereka melalui proses penyuntingan, bukan? Dan yang menyunting bukan anak-anak, tapi orang dewasa, kan, yang seharusnya bisa lebih mengerti kebutuhan (bacaan) anak? Kalau dibiarkan 'lepas' seperti ini terus, dampaknya adalah dapat 'menyetir' selera, cara pikir serta perilaku para calon pengisi bangsa ini.

Mungkin akan sangat baik jika dilakukan pelatihan penulisan yang benar, tanpa harus mengkompromikan daya imajinasi dan kreativitas si anak. Kalau ada sanggar lukis, sanggar tari dan sebagainya, tidak ada salahnya kan bila ada sanggar menulis, khusus untuk anak-anak?

Mari perbaiki bersama, cintai Bahasa Indonesia, hargai bacaan anak, dan tularkan semangat literasi pada generasi penerus kita nanti!


p.s. judul diambil dari komentar RFM di twitter :)

Sunday, February 7, 2010

Dhanu's 9th, Officialy 37, etc.




A bit of updates. The last one isn't my drawing; it's a gift from my new friends in Yogyakarta when I visited last Thursday.

Sunday, September 13, 2009

Decipher This

Coming home from work last Friday, I found Lindri's drawings all over our dining table, of which this is one. Guess what she means to say here.



No, it's
not Lindri LOVES Dhanu.
(which was my first guess)










The first line means, "Lindri LOVES, Dhanu DESTROYS"
(The second line means, "Ibu works, Bapak works")

Saturday, November 22, 2008

[klipping] Belajar dari Dora

Kompas 22 Nov 2008
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/11/22/13095931/potret

Potret
Sabtu, 22 November 2008 | 13:09 WIB

 Tita Larasati
BELAJAR DARI DORA

Tita Larasati, seniman komik, membebaskan Lindri, anaknya yang berumur 5 tahun, menonton acara edutainment, Dora The Explorer, di televisi. Pasalnya, dari percakapan Dora, Lindri bisa belajar bahasa Inggris sambil berhibur diri. "Dia bisa menirukan kata-kata Dora dengan intonasi yang persis," kata Tita yang tengah menyiapkan peluncuran komiknya pekan depan.

"Jadi, saya setuju Lindri nonton Dora karena selain belajar bahasa Inggris, Dora juga mengajak anak kreatif belajar, menghitung, menggambar, atau lainnya," kata Tita, Jumat (21/11).

Kebetulan anak Tita juga mendapat pelajaran bahasa Inggris di Taman Kanak-kanak Cendekia, Cigadung. Maka, Lindri bisa belajar dari berbagai sumber. "Kalau lagi main rumah-rumahan di rumah, bahasanya suka campur-campur, bahasa Indonesia dan Inggris. Tapi, dia tidak bisa bahasa Sunda karena tidak diajarkan di sekolah, he-he-he..." (XAR)


Monday, October 6, 2008

Cendekia Leadership School

http://cendekialeadershipschool.blogspot.com/
Link to Dhanu and Lindri's school blog. It has been around for awhile and is becoming more active and updated since a new headmaster is appointed to his post (it was vacant for some time). There are links to parents' and teachers' blogs, as well.

Tuesday, July 1, 2008

[klipping] "Kedua Anakku Lahir di Rumah"

Tabloid Mom&Kiddie Edisi 23 - Tahun ke II - 30 Juni-13 Juli 2008

Artikel di tabloid itu bisa dibaca langsung di tabloidnya. Yg aku tempel di sini ini cerita aslinya (sebelum diedit utk tabloid), lengkap dengan pertanyaan dari Mom&Kiddie.

1. Apa alasan Anda memilih untuk melakukan persalinan di rumah! Bagaimana dukungan pihak keluarga, terutama suami?
2. Tolong ceritakan proses persalinan yang Anda alami?
3. Menurut opini Anda, apa kelebihan dan kekurangan setelah Anda melahirkan di rumah? Tolong jelaskan!

Kedua anak kami dilahirkan di Amsterdam, Belanda. Di negara tersebut, ibu yang sehat dengan kondisi kehamilan normal umumnya memang melangsungkan persalinan di rumah. Rumah Sakit Bersalin (RSB) menjadi pilihan bila kesehatan ibu kurang baik, atau terdapat masalah selama kehamilan, atau prosesnya diasumsikan akan berisiko.
Ketika tes kehamilan menunjukkan tanda positif, kami memberitahukan dokter keluarga, yang lalu merujuk kami ke klinik bidan terdekat. Klinik bidan inilah yang menangani proses kehamilan hingga persalinan dan sekitar 2 minggu masa pasca persalinan. Setelah bersalin, untuk beberapa hari ke depan seorang asisten akan datang untuk membantu mengurus bayi (seperti memandikan dan ‘melatih’ ibu dan bayi dalam proses menyusui), mengontrol kondisi ibu dan bayi, bahkan juga melayani tamu yang datang dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga sehari-hari (seperti berbelanja, mencuci baju, dan menyiapkan makanan).

Suami tentu saja sangat mendukung, karena adik, saudara-saudara dan teman-teman perempuannya juga melahirkan di rumah. Keluarga di Indonesia, meskipun sempat mengungkapkan keraguan, tetap mendukung pilihan saya. Syukurnya saya tetap sehat dan kandungan pun tidak bermasalah, sehingga saya dapat melaksanakan kedua persalinan di rumah, sesuai rencana.

PERSALINAN PERTAMA
Berminggu-minggu sebelumnya kami sudah mendapat kiriman paket “bersalin di rumah” yang kami dapatkan sebagai layanan dari asuransi yang kami ikuti, berupa alas tempat tidur selama bersalin, popok bayi, pembalut, perban dan kapas, buku catatan persalinan, dsb.
Seminggu sebelum due-date, pada hari Minggu sekitar pk 09.30 pagi, air ketuban pecah menggenangi lantai ketika saya beranjak dari tempat tidur. Suami segera menelpon klinik bidan, untuk memberi tahu. Sekitar pk 10.00 seorang bidan datang untuk memeriksa kondisi saya. Ia berpesan untuk bersantai saja seharian ini, kerjakan aktivitas sehari-hari seperti biasa, dan menelpon mereka lagi kalau kontraksi sudah terasa setiap 5 menit.

Jadi pagi itu kami berjalan-jalan di KerstMarkt (Pasar Natal) yang digelar pada hari itu di sebuah pasar terbuka dekat rumah, sekaligus mampir ke sebuah drugstore untuk membeli thermometer. Di rumah, saya membuat minestrone (meal soup ala Italia) dalam jumlah banyak, sebab saya tahu tidak akan sempat memasak sampai beberapa hari ke depan. Ketika itu bulan Desember, musim dingin, dan langit sudah menjadi gelap sekitar pukul empat sore.

Kami sebisa mungkin mempersiapkan apa pun yang kira-kira akan diperlukan. Satu yang belum siap, adalah meninggikan tempat tidur. Terdapat peraturan bahwa ketinggian tempat tidur harus sekitar 50-60 cm dari permukaan lantai, untuk memudahkan kerja bidan selama masa persalinan. Tempat tidur kami adalah jenis futon yang hanya setinggi 30 cm dari lantai,  sedangkan – karena bayi datang seminggu lebih cepat – tidak ada waktu untuk meninggikan tempat tidur tersebut. Si bidan akan terpaksa bekerja di tempat tidur rendah.

Menjelang malam hari perut mulai terasa mulas, yang hanya bisa diduga sebagai kontraksi, sebab ketika itu saya belum pernah merasakan “kontraksi”. Menjelang pukul sembilan malam, kontraksi terasa makin sering dan makin tajam. Saya mulai mempraktikkan posisi-posisi yang dapat meredakan perih, sementara suami mencatat frekuensi kontraksi. Ketika kontraksi sudah terjadi setiap lima menit, suami menelpon bidan, yang berjanji akan datang dalam waktu setengah jam. Saat itu sudah sekitar pk. 21.30. Bidan datang sekitar pk. 22.00 bersama seorang asisten. Bidan memeriksa kondisi saya dan bayi, lalu mempersiapkan ‘tempat tidur bersalin’ dengan asistennya. Sementara itu saya berjalan mondar-mandir, atau sesekali ke WC untuk buang air kecil, sambil meringkuk setiap kali kontraksi terasa.

Sekitar pk. 23.00, sudah mencapai bukaan 10. Pk. 23.30 dorongan pertama dimulai. Tak lama kemudian, ditandai dengan kontraksi hebat, dilakukan dorongan kedua, yang membawa bayi ke posisi crowning. Setelah dorongan kedua ini kami jeda sebentar; bidan bahkan meminta saya menyentuh ubun-ubun bayi yang berambut lebat, yang sudah terpapar udara di luar kandungan. Ketika kontraksi berikut datang, asisten sedang mengambil ganti air hangat. Bidan meminta saya menahan bayi, tapi tidak berhasil, dorongan bayi terlalu kuat. Pk. 23.46, lahirlah putra pertama kami dengan pecahan tangisnya. Suami saya dipersilakan memotong tali ari, dengan bimbingan bidan.

Bidan lalu dengan sigap membersihkan bayi, mengukur beratnya dan memeriksa kondisi lainnya, lalu memakaikan baju dan topi, sebelum meletakannya di dada saya. Ia langsung mencatat Apgar score si bayi. Asistennya mengganti alas seprai dengan yang bersih. Kontraksi berikut, yang terjadi beberapa menit kemudian, mengeluarkan kantung tempat si bayi tinggal selama 39 minggu. Bidan lalu memeriksa kondisi saya pasca persalinan. Saat itu lah ia ragu, apakah perlu menjahit atau tidak.

Ia lalu menelpon RSB terdekat untuk memberitahukan bahwa saya akan diperiksa sejenak di sana, lalu menyiapkan kendaraan di depan apartemen kami. Saya segera memakai baju tebal, untuk menembus cuaca musim dingin di tengah malam, dan berjalan menuruni anak tangga (kami tinggal di apartemen, di lantai tiga) menuju tempat parkir. Bayi kami dibungkus baju hangat dan digendong oleh suami saya, menyusul menuju mobil.
Tiba di RSB pk. 01.30, kami diantar menuju sebuah kamar bersalin. Saya bersiap di tempat tidur, sementara suami duduk di sisi sambil tetap menggendong si bayi yang sedang tidur lelap. Beberapa saat kemudian seorang dokter kandungan datang, memeriksa, dan melaksanakan sekitar tujuh jahitan. Setelah itu saya dibantu untuk membersihkan diri, lalu kami dipersilakan untuk beristirahat sebentar sebelum pulang. Sekitar pk. 03.00 kami telah tiba kembali di rumah.

PERSALINAN KEDUA
Prosedur ketika mengetahui positifnya kehamilan serupa dengan pengalaman pertama: memberi tahu dokter keluarga, dirujuk ke bidan, membuat ultrasound graphic pada 3 bulan pertama, lalu bersiap-siap dengan paket bersalin yang ada, yang dikirimkan oleh pihak asuransi.

Siang hari itu, di awal musim gugur, kontraksi ringan sudah terjadi. Di sore hari, kontraksi terasa makin keras dan sering. Ini terjadi 10 hari sebelum due-date, jadi kami belum juga meninggikan tempat tidur sesuai standar yang berlaku. Suami menelpon bidan sekitar pk. 20.00, ketika kontraksi makin terasa kencang. Bidan datang pada pk. 21.00, memeriksa bukaan (sudah 8), menelpon asisten untuk datang dan langsung sibuk mempersiapkan semuanya. Anak laki-laki kami yang saat itu hampir berusia 3 tahun ingin ikut membantu, ia sibuk juga memindah-mindahkan mainannya dari satu wadah ke wadah lain. Ia pun terkadang mendatangi saya yang sedang menahan sakit sambil menyodorkan irisan apel yang sedang dimakannya, ‘untuk mengobati ibu’, katanya.
Sekitar pk. 22.00, bidan memutuskan untuk memecahkan ketuban, supaya bayi dapat terangsang keluar. Dan benar saja, setelah air tergenang keluar, si bayi dengan keras mendorong dirinya keluar dari rahim. Tangisan bayi pecah pada pk. 22.17. Suami beranjak ke kamar belakang untuk memanggil si kakak – yang sedang bermain sendiri – supaya melihat adik barunya. Sambil menggendong si kakak yang penasaran dan terus bertanya, suami saya sekali lagi memotong tali ari bayinya.

Bayi yang sudah diperiksa, dibersihkan dan dibungkus oleh bidan ditidurkan di dada saya. Saya bertanya, apakah bayi ini perempuan atau laki-laki. Kata bidan, silakan lihat sendiri. Ternyata, ini bayi perempuan! Memang jadi kejutan menyenangkan, apapun jadinya, karena selama proses kehamilan USG hanya dilaksanakan satu kali, ketika kandungan berusia sekitar 3 bulan.

Bidan kembali memeriksa kondisi saya dan memastikan apakah uterus sudah keluar semua dalam keadaan lengkap. Setelah itu ia melaksanakan sendiri jahitan yang diperlukan, sebelum berkemas dan berpamitan, untuk kembali lagi esok harinya untuk memeriksa dan memantau kondisi saya dan putri kami. Kali ini, semuanya berlangsung lancar dan kami tidak perlu lagi mendadak ke RSB di tengah malam.


KELEBIHAN dan KEKURANGAN
Kelebihan:
-    Suasana ruang yang sudah sangat akrab, bisa menenangkan dan memberikan mental support
-    Kehadiran orang-orang terdekat yang diinginkan (plus 1 bidan dan 1 asisten), dapat membuat pengalaman melahirkan menjadi sangat pribadi dan natural
-    Tidak usah berkemas utk menginap di RSB
-    Keluarga dan teman tidak usah menyesuaikan jadual menjenguk bayi dengan peraturan RSB
-    Jauh lebih murah dibandingkan biaya persalinan dan perawatan di RSB
Kekurangan:
-    Bila bidan kurang tangkas/terampil/berpengalaman dalam menangani hal-hal darurat, sehingga tetap harus memakai layanan RSB
-    Bila ada peralatan yang terlupakan atau tidak tersedia selama proses persalinan

==================================
p.s. Versi graphic diary-nya bisa dilihat di sini:
Lahiran Dhanu: 9-months diary
Lahiran Lindri: another 9-months diary

Sunday, May 18, 2008

Going Places

Saturday, May 17th 2008: Open Day at Cendekia Leadership School, Bandung
I was asked to give a comic-drawing workshop from 10.00 to 12.00. It wasn't my first time delivering a workshop for school kids, but it is different from one class to another. This group at Cendekia was full of eager kids with so much ideas and diligence. It was a pleasure working with them, making up silly stories as we went along with our drawings. Thanks, kids! Thanks to Cendekia teachers, too, who have assisted during the workshop. Photos of that day are uploaded at DhanuLindri site.


Wednesday, May 21st 2008: O-Channel, Jakarta
I am invited to be a guest at O-Channel, in a live program that starts at 7.00am. I knew nothing about this channel except from what I read from their website, since they broadcast only in Jakarta. Their studio is at Senayan City, very close to my parents' house, which is fortunate, because I will have to show up at about 6am already. Now I am waiting for an email from their personel, who promised to send details and further info. I hope everything goes well...

Saturday, May 24th 2008: Seminar in Surabaya
I will attend a seminar at Petra University, Surabaya, and stay at my cousin Rully's house. Rully is an architect and lecturer at Petra, she's exactly my age (we were born 10 days apart) and I used to stick with her and her sister in family gatherings. I'm looking forward to meet her and her family, since the last time we saw each other was... way too long ago!

Sunday, May 25th 2008: Curhat Promotion in Surabaya
While I'm there, a promotional event for Curhat is planned. The event will be from 11.00 to 13.00, taking place at Togamas BookStore, Jl. Pucang Anom Timur 5, Surabaya. I'll go back to Bandung that same afternoon.

Right. That's about all I gather for now.
See you in... those places!

Sunday, May 11, 2008

A Weekend of No Significance

What happened yesterday and the day before was a blur. Fragments of my recollection include going to church and to a wedding on Sunday afternoon; the rest include pieces of views of my bedroom ceiling, juvenile television series and ordinary cartoons - which were about all I could handle. Why, you ask? I had the runs. I couldn't stay far from the loo, but that's not the point. There are things I supposed to do and could have done had I felt not so fatigued.

- A slight nausea bothered my appetite, so I couldn't eat although I felt hungry sometimes. "It's alright", husband said, "It's about time your body uses its reserves", while nodding at my chunky limbs.   

- My plan to go to Toko Setiabudi to get tubs of mascarpone cheese had to be aborted (no lemon tiramisu for now, people!). I offered to make tuna dip instead for a friend's birthday snack at the office on Monday. "Oh great", his wife said, "So we have something sweet and savory for that day", reminding that she'll bring a cheese cake for that occasion.

- I was trying to make myself useful (a.k.a. producing something other than that nasty toilet business), by carrying along my sketchbook-diary and gelpen wherever I went around the house. But I ended up only crashing horizontally wherever I parked myself, half-conscious and detached from my surroundings.
Dhanu (climbing up to the armrest of a rattan coach): Lindri, lay next to ibu so I can jump over both of you from this coach.
Lindri (taking her position as instructed): Oh, okay Dhanu.
Tita (totally oblivious to kids' stunts): ...


Never. Ever. Give in to such degrading disease. Again.

Wednesday, May 7, 2008

Family Rafting at Cimanuk




A rafting trip arranged by friends for us and family at Cimanuk, Garut. Too bad I couldn't go with them into the river, for I had to stay with Lindri (who is considered too young to raft) as a 'dry team', along with Dadang's wife and their 3 y.o. daughter Paras. A very short post about Dhanu and Syb's experience can be read here: A Weekend Full of Firsts.

Sunday, May 4, 2008

A Weekend Full of Firsts

SATURDAY May 3rd, 2008

First rafting experience for Dhanu and Sybrand
Site: Cimanuk, Garut
Starting time: about 10.30
Finishing time: about 15.00
Participants: 36 adults and children
Fleet: 5 rafts

Sybrand
- Couldn't right away execute the fast orders shouted by the skipper, Mas Adri. He had to translate everything to his own language first, before conducting anything. If he ever got it correct, that is.
- Fell overboard twice, but not drifted. He held on to the boad whilst tumbling.
- Got sunburnt at the back of his hands, on his knees, and a bit on the face.
- Said that the experience doesn't stop him going for the next time.

Dhanu
- Only had to hold on to the rope that was stretched along the length of the raft. No problem.
- Turned out to be not squeamish about the experience. He enjoyed it, instead.
- Worried only when he saw Syb went overboard. "Are you okay?" he asked everytime Syb made it back inside the raft.
- No sunburn. Similar to his Ciwidey and Pawon adventures, this trip seemed to have gained his confidence. He'd like to go again some other time.

SUNDAY May 4th, 2008

First haircut for Lindri
Location: bathroom, home
Time: during bath, about 17.00
Duration: less than 10 minutes, including trimming
Hairdresser: Tita
Spectators: Kitchen crew

Lindri

- Has never had any haircut, ever before, in her life time
- Quite enjoyed the whole happening
- Thought she looks like Dora the Explorer now


Tita

- Has never cut any of her kids' hair, ever before
- Thought that Lindri's hair is too short now, but no matter, it will grow back
- Is relieved that - in the mean time - she's free from combing tangled long hair

Kitchen crew

- Expressed their deep regret for losing such wavy hair with golden streaks

Saturday, March 15, 2008

Our children are finally (officially) Indonesians!

At an appointed time, I went to the Immigration Office yesterday. I went upstairs and directly into the back room, where KITAS are cancelled and nationality documents are issued. "Later, two o'clock", Bu D said, "I'm still typing the documents". So I sat at the waiting room, spending my time drawing in my sketchbook until Bu D appeared and called me. "Please follow me to Bu I's room". This is where I went first to apply for our kids' KITAS cancellation.  

I was asked to check two documents for each child: one is a piece of A4-sized paper, which has to be submitted at the airport the first time the child goes abroad; another one is a square piece of paper that has to be kept until the child reach 18 years of age, when s/he has to choose her/his nationality. All names, status and birthdates are correct and I could go without any hassle.

Happy, happy.

Now I just have to go to the Civil Office and the Police to report the status of our children: that they are also Indonesians and don't have to renew any KITAS anymore. Oh, and also to that blasted Department of Justice and Human Rights agan, to acquire a correct documentation for Lindri. No celebration until all these are done...

Dhanu's "Temple of Doom"

"I watched Indiana Jones movie and I like it!", Dhanu reported to me after watching The Temple of Doom, and he made drawings of his favorite scenes. This are his own words:
- The aeroplane at the left is when the woman couldn't control the plane but operated the machine gun just like that!
- Next is when Indiana was in a pit with cobras.
- This is when the boy said, "Great! There's Dr. Jones!" while he was driving this truck but it went to all directions!
- Next is when Indiana tried to free himself from the chain on his ankles, doing CLANG! CLANG! CLANG!
- The last one is when everyone fell off the bridge, hanging on to it while trying to climb
- And the biggest one below is the coolest: that's the big truck with tents and there's the jeep!
He closed his story by saying, "Ibu, I want to make a pistol and a whip and I want to have a round brown hat. I want to be Indiana Jones!"

Boy, will he be delighted when he finds out that we have two more Indiana Jones movies that he can get crazy about pretty soon...

Tuesday, March 11, 2008

Nyabut KITAS

Setelah mengambil SK Menteri untuk dwi-WN anak-anak, siangnya saya berangkat ke Kantor Imigrasi (KanIm) untuk mengurus pencabutan KITAS mereka dan meminta affidavit pada paspor mereka, yang menyatakan bahwa anak2 ini warga Belanda sekaligus Indonesia. 

Hujan lebat! Pakai payung juga percuma, apalagi kalau harus naik-turun angkot: bagian lutut ke bawah pasti akan basah juga. Mana jalanan aspal pun jadi sungai dadakan di sisi2nya, gara2 air got yang meluap ke jalan dan mengalir deras berikut sampah2nya. Tapi lumayan lah, pas sampai di KanIm hujan sudah mereda. Masuk gedung, naik lantai satu, langsung diarahkan untuk ketemuan dengan Bu I utk urusan pencabutan KITAS. Bu I yang memperhatikan tanggal di SK anak2, bahwa selesainya 2 Januari 2008.
I: Kapan diberitahu SKnya siap diambil?
T: Baru kemarin.
I: Ini tanggalnya sudah Januari, padahal...
T: Ya, nggak tau..

Selanjutnya, Bu I memberi tahu syarat2 untuk pencabutan KITAS, yang kebanyakan harus saya fotokopi dulu (untung sudah siap2, bawa semua berkas!). Ini nih:
1. Formulir no. 27, isi, lalu fotokopi 2x
2. Paspor dan KITAS asli, dan fotokopinya masing2
3. Fotokopi akte lahir anak dan surat pelaporannya
4. Fotokopi paspor ayah dan KTP ibu
5. Fotokopi akte nikah orang tua dan surat pelaporannya
6. Fotokopi SK Menteri ttg dwi-WN anak

Setelah ngantri lumayan lama di satu-satunya kios fotokopi di KanIm yang hanya punya satu mesin fotokopi, saya kembali ke lantai atas. Susun berkas di masing2 map, lalu kembali ke Bu I. Dicek kelengkapannya. Lalu saya disuruh kembali hari Kamis siang untuk mengambil affidavit dan menyelesaikan urusan pencabutan KITAS.

Sejauh ini urusan di KanIm lancar. Nantikan lanjutannya Kamis besok ini...

"Di sini aturannya gitu, Bu..."

Saga berlanjut.

Aplikasi dwi-WN anak2 masuk 1 Oktober 2007, normalnya awal Januari 2008 sudah keluar. Tapi seperti yang sudah kita ketahui bersama, ketika saya cek di pertengahan Februari 2008, kabarnya belum juga 'turun dari Jakarta' (lihat episode sebelumnya: "Ke henpon saya aja, Bu"). Saya jengah utk ngontak orang nggak kenal di henponnya untuk urusan kerja, jadi sudah rencana kalau luang akan mampir sendiri saja ke Kantor HukHAM. Eeh.. ternyata, kemaren ada sms masuk:

Bu sk wni telah selesai.
Sender: +628122092625
Message centre: +6281100000
Sent: 10-Mar-2008 09:58:58

Saya balas: ok besok sy ke sana. trm ksh.
 
On to the next game...

Tadi pagi saya ambil angkot Panghegar-Dipati Ukur utk pergi ke kantor itu, tapi terus salah turun! Baru pombensin Martadinata udah turun, padahal seharusnya turun setelah IBCC! Mau naik lagi nanggung, ya udah jalan aja.. padahal lumayan panas. Akhirnya sampai juga: Jl. Jakarta No. 27.


Duduk di ruang tunggu, atur napas, seka2 keringet, minum... Terus ngeluarin folder tebel yg isinya berkas2 urusan imigrasi Syb dan anak2, siapin tanda pengambilan SK, lapor ke loket. Kata petugasnya, "Langsung saja, Bu, ke dalam, Pak BM atau Pak AF". Aha, Pak AF sudah ada lagi rupanya. Terakhir ke sana, kan Pak BM mengeluhkan bahwa dia harus kerja sendiri, sebab bosnya (AF) sedang tidak di tempat.

Masuk, duduk di meja depan Pak AF yg sedang nanda2in setumpuk berkas di depannya pakai spidol ijo. Nunggu sambil minum air lagi.
AF (masih sambil kerja): Kok keliatannya capek?
T: Salah turun tadi. Jalan kemari dari perempatan Martadinata-Laswi.
AF: Nanggung ya mau naik lagi?
T: Iya...

Sama2 nunggu sampai semua berkas selesai dispidol. Sementara itu BM mondar-mandir di cubicle sebelah. Setelah selesai, AF ngambil SK utk anak2 dari BM, lalu BM rada2 ikut gabung, berdiri di sebelah meja.
AF: Ini periksa dulu, terutama nama dan keterangan, apakah sudah benar.
BM: Tanggal lahir juga.

SK anak2 itu tertanggalnya 2 Januari 2008, lho! Jadi semestinya sudah bisa berada di tangan saya sejak berbulan-bulan lalu, kan? Masa ngirim dokumen dari Jakarta ke Bandung aja sampe dua bulan? Saya periksa isinya, ternyata nama Lindri salah eja sampai 3x dan tanggal lahirnya juga salah. Tapi yang punya Dhanu sudah benar semua. Jadi gimana ini?
BM: Bawa aja Bu, cabut dulu KITASnya di Imigrasi, lalu bawa kemari lagi SK ini, kita ganti.
T: Di Imigrasinya nggak apa2, ini?

BM: Kan yang dikasih cuma fotokopiannya, yang penting KITAS dicabut dulu. Soalnya nanti SK yg udah dikoreksi bisa lama lagi nunggunya dari sini, nanti keburu masa ijin tinggalnya habis. Jadi nanti setelah ngurus di sana, ke sini lagi bawa SKnya untuk dikoreksi.
 
AF menyetujui usulan BM itu. Saya lalu diminta mengisi kolom nama anak, nama penerima dan mendanda-tangani tanda terima SK.

AF: Bu, sudah membayar biaya apa saja?
T (sambil nunjuk ke kuitansi2 asli): Beli map, aplikasi 500rb untuk tiap anak, dan biaya legalisir.
AF: Oh. Sudah diberitahu mengenai prosedur pengambilan SK?
T: (Nah mulai deh..) Belum.
AF: Bawa amplop nggak Bu?
T: (Mulai alergi denger "amplop") Nggak.
AF: Ada biaya administrasi pengambilan.
T: Ha? Nggak, saya nggak tau. Emangnya berapa?
AF (sambil nyuruh orang ngambil amplop): 500rb per anak
T: Lho, banyak amat?
AF: Di sini aturannya gitu, Bu...
T: Saya nggak siap, nggak bawa2 uang sebanyak itu.
AF (sambil nyodorin amplop panjang warna coklat): Ya udah nggak apa2, nanti aja kalo balik bawa SK utk diperbaiki. Di amplop ini tulis nama anak2, Bu, terus langsung aja dihekter ke formulir ini. Nanti akan langsung disetor ke pusat, bukan buat kita. Nanti kita yang dikira macem-macem, lagi.
T: Oh, gitu? ("Pusat" perlu apa lagi ya?)

Setelah melanjutkan basa-basi, saya beranjak pamit dengan membawa SK, amplop kosong, dan formulir tanda terima. Menuju Kantor Imigrasi. Sekarang pertanyaannya, apa bener ada biaya administrasi pengambilan SK? Dan apakah memang jumlahnya segitu? Adakah sumber referensi di mana aturan itu tertera secara resmi?

Terus, last but not least: mereka yang salah (ketik), kok jadi gue yang capek bolak-balik ke sana dan harus nunggu lagi?! Hhhhh...

*warning: contains explicit language*

Monday, March 3, 2008

Happy 70th Birthday, Eyang Bapak!

Dear Eyang Bapak,

I didn't go to school today, Eyang, because Bapak said it's better for me to stay home and rest, because he said I coughed the whole night although I don't remember that. Lindri went to school with Ibu this morning, then Ibu went to her working place: a school for big people. I stayed home with Bapak, where I did some writing and math exercise and drawing.

Here's one for you, it's a present for your 70th birthday. 70 is a lot, Eyang!

My drawing is about a big colourful jeep called "Rainbow Jeep", with chain wheels that is Asa's favourite. The yellow vehicles below and above are its aids. The big robot at the left side is a friend, whose fingers can be extended to form a drilling head. The colourless things are enemies. Look, there's one under the ground that's an insect and there's another one nearby the jeep, in the tree. See the flying harpoon, Eyang? Follow the rope and you can see its storage.

I hope you like it and I wish to come over soon to celebrate your birthday and eat birthday cake with everyone!

Kisses from Bandung,
Dhanu

Wednesday, November 7, 2007

Fragmen Semarang

Akhirnya bisa juga nulis2 di sini meskipun di antara kemepetan satu kerjaan dengan yang lain. Sejak balik dari Semarang Minggu malem lalu, rasanya nggak pernah di rumah, terus di kampus dengan jadual penuh, yg bikin tewas dengan sukses begitu pulang. Apa ya yang bisa di-blog dari Semarang? Yang ringan dan yang lucu aja deh...

SEBELAH
Apapun asesoris yang Dhanu pakai, Lindri pasti mau juga. Bahkan kalo bisa barangnya pun persis. Jadi ketika Dhanu pakai kaos kaki Tigger, Lindri juga ingin pakai yg sama. Untung dia punya juga sepasang yg persis sama. Nah, mereka berdua pergi ke Semarang pakai kaos kaki yg sama itu, tapi parahnya Lindri nggak dibawain bekal kaos kaki tambahan. Hari Minggu, ketika siap2 mau ke resepsi nikahan Ayu, Lindri lihat ada lubang di tumit kaos kaki Tigger-nya yg sebelah kiri. Dia nggak mau pakai lagi yg ada lubangnya, tp tetep mau pakai yg satunya lagi. Jadi selama ke resepsi itu dia pakai kaos kaki sebelah, yg kanan aja. Juga ketika ke bandara di Semarang, di pesawat, dan sampai Bandung. Tetap bertahan dengan kaos kaki sebelah dan gaun pestanya yg dia suka banget itu. Apa nggak aneh ya sensasinya, satu kaki anget sementara sebelahnya lagi kedinginan?

POWERPUFF
Anak2 ini jadi ketagihan nonton TV di bed, seperti model di kamar hotel gitu. Makanya, kalau sedang nggak pergi2, mereka manteng terus di depan TV. Saben pergi2 pun, mereka maunya ‘pulang aja ke hotel’ supaya bisa nonton TV di ruang sejuk ber-AC. Lindri selalu pake alasan, “Sakit perut, Ibu.. Lindri mau ke bed”. Yea, right…
Gara2 porsi asupan nonton macam ini, mereka jadi apal beberapa film kartun, terutama yg belum pernah mereka tonton sebelumya. Lindri jadi kecanduan PowerPuff Girls!
Jadi ketika kita nunggu pesawat ke Jakarta yg delay-nya sampai 3 jam, di boarding room itu Lindri dan Dhanu kejar2an. Dhanu dianggap Lindri sebagai MojoJojo, sedangkan dia sendiri ButterCup, anggota PowerPuff yg paling galak. Ceritanya sama, diulang2… Dhanu lari menjauh, Lindri ngejar, muter2 sebentar di deretan bangku2, terus Dhanu menghempaskan diri ke salah satu bangku. Lindri segera datang nomprok Dhanu dengan posisi tangan terkepal, sambil berseru, “MojoJojo, awas! Aku Powerpuff!” Terus dua2nya terpingkal2 sampe terguling2 merosot dari bangku ke lantai, lalu mengulangi adegan yg sama.

Bayangin aja kalo 3 jam diisi hal yg sama, yg tentu saja diselingi kecelakaan2 kecil seperti jatuh kepeleset atau kesandung, kepentok kursi, kebentur kaca, dan sejenisnya.  ‘Untung’ boarding room-nya makin penuh (karena banyaknya pesawat yg terpaksa delayed gara2 cuaca buruk), jadi ruang gerak mereka makin terbatas. Sehingga huru-haranya tidak berlangsung terlalu lama.

SEJAK KAPAN…?
Sabtu malam, ada acara serah-serahan di rumah Ayu. Nggak terlalu formal sih, jadi asik aja saya sama Tiyas ngerubutin Ayu yg duduk di depan kipas angin (sebenernya sih nebeng kipas anginnya juga), tentunya sambil gunjing sana-sini.. heheh.. Setelah upacara2 berakhir, tiba waktunya makan, tapi kami menunggu dengan sabar sampai sebagian besar tamu2 ngantri di buffet. Setelah agak kosong, baru deh saya dan Tiyas maju ikutan ngantri.
Ketika sedang nunggu dapet giliran ngambil piring, tau2 ada orang nanya ke saya, “Mbak, sejak kapan ya Mbak ini jadi gemuk begini?”. Begitu ditengok (ibu2 gitu deh), cepat2 si penanya melanjutkan, “Saya nanya juga karena saya jadi gemuk begini, nggak turun-turun”. Padahal menurut standar ibu2 seumurnya, ibu ini sebenernya nggak gemuk2 amat kok. Saya kesel sih enggak, lha emang kenyataannya gemuk. Tapi masa nanya begitu ke orang yang nggak dikenal sama sekali?! Emangnya semua orang gemuk sesabar saya?
Sambil menyunggingkan senyum tidak sempurna, saya jawab kurang lebih gini, “Sejak kecil saya memang nggak pernah kurus, dan sejak lahiran anak kedua memang belum berhasil kembali ke berat semula”. Terus dia ngomong lagi, tapi nggak penting dan sangat standar jadi nggak usah dibahas.
Belakangan, pas cerita ke Ayu dan nanya siapa sebenernya ibu itu, ternyata dia adalah ketua panitia acara nikahannya Ayu, masih kerabat dari bapaknya Ayu. Eyalah.. makanya dia merasa langsung bisa SKSD kali ya..
 
Kejadian lain2 nggak terlalu spesial, seperti rame2 ngedorong mobil di parkiran tackshop-nya temen di pinggiran Salatiga, jalan kaki sampe nyasar2 abis di Semarang, dan sebuah penemuan bahwa kepopuleran Toko Oen sudah merosot tajam (orang Semarang di jalan nggak ada yg tau!)… Nggak usah diceritain ya? Hehe…
 
Now, back to work!

Foto: Lindri dan Dhanu di Havana Tackshop, Salatiga (ini Sabtu pagi, kaos kaki Tigger masih lengkap).