Showing posts with label curhat. Show all posts
Showing posts with label curhat. Show all posts

Monday, September 13, 2010

How Come & First Times




"How Come" is a two-page story, "First Times" twelve, but in Indonesian. All stories are true, they really happened.

Sunday, July 18, 2010

[launching] KIDSTUFF, 24 Juli 2010

Peluncuran graphic diary KIDSTUFF, Sabtu 24 Juli 2010 mulai pk.16:00 di Galeri Padi, Dago 329 (detail ttg buku dan acaranya ada di 'lampiran' posting ini). Bagi yang berada di Bandung dan sekitarnya Sabtu sore itu, mampir yuuuk. Acara akan dimoderatori oleh Bu Riama Maslan, dosen DKV FSRD ITB, dan diramaikan oleh PidiBaiq sebagai salah satu pengisi buku tersebut.

Sampai jumpa Sabtu depan!



Oh iya, sudah mulai bisa pesan online lho, gratis ongkos kirim ke Jakarta & Bandung. Harga per bukunya Rp 39.000,-  
Berikut ini detail cara pemesanannya:

1. Kirim email pemesanan ke titalarasati@gmail.com atau ronielectric@gmail.com
2. Lampirkan bukti pembayaran (transfer)
3. Buku bakal dikirim setelah bukti pembayaran dikirim via email
4. Pembayaran (transfer) melalui:

Rek. BCA

438-137-0997
a.n Roni Amdani
BCA cab. Burangrang

Wednesday, April 28, 2010

[klipping] Graphic Diary. Apa Itu?




Tulisan SGA di Intisari edisi Maret 2010. Saya pasang lengkap sekarang, karena sudah hampir Mei :D

Thursday, March 4, 2010

[klipping] Graphic Diary, Apa Itu?

INTISARI Maret 2010

Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Baru saya scan empat halaman ini, total artikelnya ada 10 halaman. Ada 'bocoran' tentang seri curhat berikutnya: terbit Juli 2010 :)








Sunday, February 7, 2010

Dhanu's 9th, Officialy 37, etc.




A bit of updates. The last one isn't my drawing; it's a gift from my new friends in Yogyakarta when I visited last Thursday.

Thursday, December 24, 2009

Preview Pages: Berbagi Hidup




"Berbagi Hidup" merupakan hasil kolaborasi antara Komunitas Anak Berbagi Hidup dan Penerbit Curhat Anak Bangsa, berisi kisah-kisah nyata anak-anak ODHA yang dibuat dalam bentuk cergam berwarna.

Peluncurannya direncanakan:
Hari Senin, tanggal 28 Desember 2009
Pk. 19.00-21.00
Di Jendela Ide, Sasana Budaya Ganesa, Lebak Siliwangi, BANDUNG

Detail lebih lanjut akan diinformasikan kemudian.

Post ttg acara peluncuran di MP

RSVP kehadiran di acara peluncuran di FB

Wednesday, December 23, 2009

[Launching] graphic diary "Berbagi Hidup"

"Berbagi Hidup" merupakan hasil kolaborasi antara Komunitas Anak Berbagi Hidup dan Penerbit Curhat Anak Bangsa, berisi kisah-kisah nyata anak-anak ODHA yang dibuat dalam bentuk cergam berwarna.

Peluncurannya direncanakan:
Hari Senin, tanggal 28 Desember 2009
Pk. 19.00-21.00
Di Jendela Ide, Sasana Budaya Ganesa, Lebak Siliwangi, BANDUNG

Detail lebih lanjut akan diinformasikan kemudian.

RSVP kehadiran di acara peluncuran di FB

Preview pages di MP

Graphic diary “Berbagi Hidup”

Ukuran: B5 (35 x 15 cm)
Jumlah halaman: 24 halaman + cover
Kertas isi: art paper
Print: full color

Cover artist: Mia Diwasasri
Desain cover: Dudi Suwardi
Artists:
Tita Larasati
Sheila Rooswitha
Tri Prasetyningtyas
Malia Hartati & Rony Amdani
Adiputra

Penerbit: Curhat Anak Bangsa

Donasi: Rp. 25.000 boleh lebih (di luar ongkos kirim)


Cara memesan
1. Emailkan alamat pengiriman dan jumlah buku yang dipesan ke drawyourdays@gmail.com
2. Tunggu konfirmasi penerimaan pemesanan dan jumlah biaya pengiriman
3. Transfer ke: BCA 578 0483 158 a.n Frenki Tampubolon
4. Setelah itu, bukti transfer harap dikirimkan ke email drawyourdays@gmail.com ATAU di-fax ke 022 7319981
5. Buku-buku pesanan akan dikirimkan setelah bukti transfer diterima

ATAU

Dapat diperoleh langsung di Komunitas Anak Berbagi Hidup
Jl Cempaka Putih Barat XXI No 34 Jakarta Pusat Tlp. 021. 42802349-50
PiC: Frangky Tampubolon

Thursday, September 17, 2009

[klipping] Getting graphic with Indonesian comic books

Time Out Jakarta, September 2009

Curhat Tita
More like a graphic diary than a graphic novel, 'Curhat Tita' (Tita's Story') tells the story of Tita's daily life and all the bizarre things she comes across. Her light and simple sketches, which she draws using a black gel pen, started off as her way of sending news back home to Indonesia while studying abroad. By eschewing the panels found in more traditional comics, her drawings feel more intimate and personal when relating minor details from her everyday life, such as her disagreement with her Caucasian husband on how to wash the dishes. Written in English, Tita transferred exactly what she saw and observed in real life into her drawings, producing a funny, honest and sincere work of art.

Thursday, August 6, 2009

[klipping] 9 Pertanyaan untuk Tita Larasati: Pelopor Catatan Harian Grafis

Jurnal Nasional, 15 Juni 2009

9 Pertanyaan untuk Tita Larasati: Pelopor Catatan Harian Grafis
by : Grathia Pitaloka
MENCURAHKAN isi hati (curhat) lewat kata-kata mungkin sudah biasa, namun Dwinita Larasati atau yang lebih dikenal dengan nama Tita Larasati, doktor lulusan Universitas Teknologi Delft, Amsterdam, ini lebih suka mencatat pengalaman sehari-harinya lewat gambar. Maka, setiap hari ada saja kejadian menarik yang ia tuangkan dalam jurnal pribadinya.

Kebiasaan bercerita lewat gambar, intens ditekuninya sejak menuntut ilmu di Negeri Kincir Angin, Belanda. Melalui media itulah ia berkomunikasi dan bercerita dengan sanak saudara di Indonesia mengenai keadaan serta pengamannya tinggal di negeri orang. Maklum ketika itu fasilitas internet belum selancar sekarang.

Tak disangka, jurnal tersebut yang awalnya hanya untuk konsumsi pribadi itu menarik minat banyak orang. Lantas, ketika pulang ke Tanah Air, datang "lamaran" untuk menerbitkan jurnal pribadi tersebut menjadi sebuah catatan harian grafis. Setelah berpikir panjang, akhirnya tawaran itu ia terima dan lahirlah tiga catatan harian grafis berjudul Curhat Tita (2008), Transition (2008), dan Curhat Tita Back to Bandung (2009).

Catatan harian grafis merupakan sesuatu yang baru di Indonesia dan bisa dibilang Tita merupakan salah satu pelopornya. Berikut obrolan Tita dengan Jurnal Nasional beberapa waktu lalu.  

1. Sejak kapan Anda menulis catatan harian berupa gambar?

Sejak kecil saya sudah senang menggambar. Mungkin karena terpengaruh oleh ayah dan ibu saya yang berprofesi sebagai arsitek. Mereka selalu mendukung untuk mengembangkan bakat saya dengan mendaftarkan ke sanggar atau mengikuti lomba gambar. Ayah pula yang mengajarkan saya untuk selalu membawa kertas dan pulpen sehingga saya bisa menggambar di mana saja.

Sejak masih berada di Indonesia sebenarnya saya sudah sering membuat catatan harian berupa gambar. Hanya saja ketika itu belum terdokumentasi dengan baik sehingga banyak yang hilang. Kemudian saat melanjutkan pendidikan ke Belanda kebiasaan menulis catatan harian itu saya lakukan lagi. Pada tahun 1995, saya mendapat kesempatan magang selama 10 bulan di sebuah biro desain di Jerman. Di sana saya tinggal di sebuah desa kecil yang sepi dari hiburan, bahkan ketika itu televisi pun saya tidak punya. Kondisi tersebut membuat saya semakin rutin membuat catatan harian berupa grafis.

Selain untuk membunuh waktu, catatan harian itu saya gunakan sebagai sarana komunikasi dengan orang tua saya di Jakarta. Karena waktu itu belum ada internet, maka catatan itu saya kirim lewat faksimili. Ternyata oleh ibu lembar faks itu difotokopi, diperbanyak, dan disebar ke saudara-saudara. Saya sempat heran, kok ada ya orang yang mau baca catatan harian saya.

2. Kesulitan apa saja yang Anda hadapi saat mengerjakan catatan harian grafis ini?

Saya rasa tidak ada, kecuali masalah waktu. Saat ini saya merasa agak kesulitan untuk menggambar banyak karena harus membagi waktu dengan pekerjaan pokok saya sebagai dosen, di mana saya dituntut menyediakan waktu untuk laporan riset atau menyiapkan bahan ajar.

Soal inspirasi, saya tidak pernah bermasalah karena cerita yang saya gambarkan berupa kejadian sehari-hari. Biasanya saya memilih kejadian yang menjadi highlight setiap hari untuk digambar. Supaya tidak lupa, saya mencatat kejadian atau inspirasi yang hinggap itu di jurnal pribadinya. Itu tidak sulit karena saya biasa menggambar cepat dan sering tanpa dihapus.

 3. Apa yang memotivasi Anda untuk menerbitkannya?

Awalnya catatan harian itu saya peruntukan untuk konsumsi pribadi. Sampai kemudian waktu teman-teman komikus Indonesia diundang pameran di Harlem, Belanda. Ketika itu saya yang membantu mengurusi surat-suratnya. Usai mengurusi surat-menyurat, direktur pameran itu bertanya apa saya juga menggambar. Saya jawab iya, tetapi gambar saya berupa catatan harian. Lalu dia minta izin lihat dan dia bilang gambar saya harus ikut pameran. Pada mulanya saya sempat merasa minder, tetapi melihat respons pengunjung yang cukup antusias perlahan percaya diri saya pun naik.

Sejak itu saya mulai rajin ikut pameran, di antaranya bersama komikus Belgia. Waktu itu mereka mengundang para komikus seluruh dunia untuk meng-up-load karyanya yang bertema travelling. Karena banyak karya saya yang bertema jalan-jalan, maka saya pun ikut meng-up-load. Dari sana saya juga banyak mendapatkan respons mengenai karya-karya saya.

Pulang ke Indonesia saya diajak oleh teman-teman komikus untuk pameran di TIM. Karena belum punya buku, maka karya yang saya pamerkan berupa fotokopi dari catatan harian grafis. Saat itu ada penerbit yang menawarkan untuk dibukukan. Karena merasa nyaman dengan kesepakatan yang dibuat dan saya juga tidak merasa dieksploitasi seperti komoditi, maka tawaran itu saya terima.

4. Apa ada tokoh khusus yang menjadi panutan Anda ketika membuat catatan harian grafis ini?

Awalnya niat saya hanya ingin membuat catatan harian. Itu pun hanya untuk konsumsi pribadi sehingga gambar-gambarnya seringkali hanya saya yang mengerti. Kemudian karena banyak orang yang suka, perlahan saya pun mulai membuat gambar yang mudah dimengerti oleh orang banyak, ketimbang saya harus menjelaskan berkali-kali.

Seiring dengan bertambahnya wawasan, saya jadi tahu ternyata karya berupa buku kumpulan sketsa atau catatan harian bergambar berbasiskan kehidupan nyata, sudah menjamur di Eropa dan Amerika. Saya pun membaca dan menjadikan mereka inspirasi untuk mengembangkan diri. Beberapa novel grafis yang saya suka antara lain Eddie Campbell (Skotlandia), Marjane Satrapi (Iran), Peter Pontiac (Belanda), Joulie Doucet (Prancis), dan Chris Ware (Amerika Serikat). Setelah melihat karya mereka, saya semakin yakin kalau ada tempat untuk saya.

5. Apakah Anda salah satu pelopor catatan harian grafis di Indonesia?

Catatan harian grafis memang belum terlalu populer di Indonesia. Pada awalnya niat saya hanya ingin memberikan pilihan bagi para pembaca cerita gambar. Jika kemudian banyak yang suka atau ikut membuat catatan harian grafis, itu saya anggap sebagai bonus.

Kalau yang diangkat langsung dan sama dengan catatan harian, sepertinya saya memang yang pertama. Saya membuat catatan bergambar itu secara spontan, langsung, tanpa rancangan dengan pensil terlebih dulu. Isinya asli, plek (sama persis) dengan diary yang saya buat. Kalau ada tulisan salah, ya dibiarkan salah, tidak dihapus.

6. Bagaimana respons masyarakat terhadap catatan harian grafis Anda ini?

Cukup baik. Pasarnya sudah mulai jelas dan terlihat siapa pembacanya. Mereka yang tak suka atau tak bisa baca komik juga sudah mulai nyambung. Seperti yang saya katakan sebelumnya, pada dasarnya saya hanya ingin ada nuansa baru di komik Indonesia.

7. Apa perbedaan antara catatan harian grafis yang Anda buat dengan novel grafis lain seperti karya Marjane Satrapi?

Catatan harian grafis saya benar-benar dikopi dari catatan harian saya yang asli. Sehingga, kejadian didalamnya lepas dan tanpa plot, sebab saya tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Sementara Satrapi sejak awal memang sudah berniat untuk membuat sebuah memoar autobiografinya secara grafis.

8. Apa Anda berminat mengembangkan catatan harian grafis ini menjadi sebuah film grafis seperti Persepolish?

Saya suka film itu, keren banget! Satrapi berhasil mengutarakan substansi yang ingin ia sampaikan pada penonton. Ia menyampaikan sesuatu yang kompleks dengan sederhana dan berhasil merebut perhatian orang. Sementara cerita saya sporadic, masih belum layak menjadi kesatuan sebuah film panjang. Kalau pun dikemudian hari saya akan membuat animasi atau grafis motion pasti bentuknya bukan film panjang seperti Satrapi tetapi videoklip.

9. Kapan Anda akan meluncurkan karya berikutnya?

Rencananya pada ulang tahun penerbit, saya akan meluncurkan antologi yang berisi catatan harian saya dan beberapa komikus lainnya. Kalau punya waktu agak luang saya juga ingin menggambar agak serius dengan disket terlebih dahulu dan diberi warna.


Tuesday, July 28, 2009

[klipping] Hari-hari Bergairah dalam Komik Indonesia

Koran Tempo, 26 Juli 2009

U L A S A N


Hari-hari Bergairah dalam Komik Indonesia

Sejumlah komik baru berturut-turut diterbitkan. Bahkan komik tentang pencitraan perusahaan.

“Kalau komik Indonesia ingin dianggap penting, ia harus masuk ke tengah persoalan yang juga penting,” Seno Gumira Ajidarma (catatan sampul pada Mat Jagung: Kabut Manusia).

Beberapa bulan terakhir komik Indonesia menjadi masa yang paling menyenangkan. Tidak hanya karena ramai dengan rilis komik-komik terbaru, namun banyak di antara komik-komik itu yang patut mendapat pujian. Beberapa komik ini layak dipuji karena banyak aspek, mulai dari tema dan penulisan cerita, keindahan artistik, hingga kesungguhan dalam kemasan.

Mat Jagung, komik bersambung yang terbit setiap hari Minggu di Koran Tempo, akhirnya terbit dalam bentuk buku. Tidak seluruh episode memang, namun dipilihkan beberapa episode yang merepresentasikan kiprah Mat Jagung melawan korupsi beberapa tahun terakhir, yaitu Kabut Manusia, Romansa Dinda Ida, Ramadhan Majic Wajik, dan Mas Kawin Ida. Judul beberapa episode ini mungkin tidak terdengar sarat perlawanan terhadap korupsi di negeri ini. Tapi percayalah halaman demi halaman Anda akan dibawa berkelana mengikuti aneka cerita fiktif, yang mungkin mencerminkan dunia yang tidak kita orang awam kenal.

Tita Larasati, komikus yang populer dengan genre graphic diary-nya, memprakarsai Antologi Tujuh dan mengumpulkan rekan-rekannya sesama komikus untuk berpartisipasi sekaligus memperingati satu tahun berdirinya penerbit Curhat Anak Bangsa. Terinspirasi usahanya (dan juga sesama komikus sedunia) dalam 24 Hour Comic Day, sebuah aksi yang diprakasai Scott McCloud dengan membuat sebuah komik secara spontan dan rampung dalam 24 jam, Antologi Tujuh disajikan sedikit berbeda. Sebanyak tujuh komikus (walau akhirnya menjadi sembilan orang) membuat tujuh halaman komik sepanjang tujuh hari kehidupannya. Sebuah kumpulan karya yang beraneka ragam dan kadang mengundang senyum (terutama jika Anda termasuk tokoh yang ikut digambar).

Sayangnya tidak semua komikus setia dengan konsep tujuh halaman komik sepanjang tujuh hari kehidupannya. “Seperti terbitan-terbitan sebelumnya, buku ini diharapkan dapat meramaikan alternatif bacaan cergam Indonesia. Juga hendak menunjukkan pada publik, betapa beragamnya gaya kita bertutur secara visual, di mana masing-masing menunjukkan keunikan dan karakternya sendiri. Juga hendak memperlihatkan bahwa kisah berdasarkan kehidupan sehari-hari pun menarik untuk disimak,” ujar Tita Larasati tentang harapan terbitnya Antologi Tujuh.

Komikus senior Dwi Koendoro juga mengaktifkan kembali serial Sawung Kampret dalam episode Warok Surobongsang. Jika dulu hadir dari tangan beberapa penerbit dengan kemasan berukuran standar komik Eropa, kini Sawung Kampret tampil berukuran mirip standar komik Amerika. Masih mengusung resep yang sama, Dwi Koendoro membawa Sawung Kampret beradu kecerdikan melawan penjajah Belanda di Hindia Belanda.

Mengambil genre serupa dengan Sawung Kampret, Wahyu Hidayatz membuat Brasta Seta. Berkisah tentang seorang pendekar konyol, kerap tak beruntung, namun secara kebetulan memperoleh kesaktian tak terkira dan diperebutkan dua orang putri cantik. Termasuk tebal untuk ukuran sebuah komik lokal (210 halaman!). Rasanya tak lelah membaca halaman demi halaman, sambil sesekali tertawa terpingkal-pingkal mengikuti sepak terjang jagoan kita ini.

Komik yang paling unik dan tidak lazim di Indonesia adalah 15 Kesalahan Dalam Branding. Ditulis oleh Herman Kwok, seorang praktisi di bidang pencitraan perusahaan, ia dibantu beberapa rekannya untuk berbagi pengalaman selama bertahun-tahun kariernya di dunia tersebut. Tidak banyak komik Indonesia yang dapat disebut sebagai komik rujukan suatu bidang studi atau profesi. Pada umumnya komik lokal berkonsentrasi pada bidang pendidikan dan fiksi. Akan bagus jika apa yang dilakukan Herman Kwok ini ikut memotivasi para praktisi dan profesional untuk berbagi pengetahuan dalam bentuk komik.

Fenomena jejaring sosial Facebook juga direfleksikan dalam komik. Beng Rahadian menyeleksi beberapa komik strip Lotif yang rutin terbit setiap hari Minggu di Koran Tempo dan disajikan dengan tampilan persis wajah Facebook, walau kisah-kisahnya tak berhubungan dengan Facebook. Cergam Rangers (yang terdiri atas Oyasujiwo, Fatahillah, Harlia Hasjim, dan lainnya) melakukan pendekatan berbeda. Dalam Sibuk Fesbuk mereka benar-benar mengingatkan penggunanya, bahwa perilaku ‘sibuk fesbuk’ sudah mendarat di dirinya.

Roman fiksi sejarah juga ikut meramaikan khasanah komik lokal. Merdeka di Bukit Selarong mengambil setting waktu dan tempat di tengah-tengah perang Diponegoro (1825-1830), ketika beberapa remaja terlempar ke masa lalu dan terlibat pertempuran yang dinamai pihak Belanda sebagai Perang Jawa.

Ariela Kristantina (lebih akrab dipanggil dengan Rie) mengedarkan secara terbatas karyanya the.Trails.of.the.Midnight.Bunny. Cerita yang dibuatnya memiliki beberapa pilihan akhiran. Seperti halnya kehidupan: manusia tidak diberikan pilihan untuk hidup atau tidak, namun bebas memilih jalan yang ingin ditempuhnya. Rie sudah melakukan road show untuk komiknya ke beberapa kota dan saat ini sedang singgah di kota Yogyakarta.

Tema yang diangkat Ariela dalam komiknya adalah perihal jejak-jejak dalam kehidupan. Kalau ia menjuduli pernyataannya Manusia//Jejak, itu karena pesan dibalik semua komik bertokoh boneka kelinci ini ditujukan bagi publik penikmat karyanya manusia; dan ia pun berkisah berdasarkan pengetahuan dan pengalaman hidupnya.

Anda generasi 80-an ingat dengan serial Mahabharata yang terbit secara berkala sebagai sisipan di majalah Ananda? Komik pewayangan karya Teguh Santosa (alm) ini dapat dikatakan sebagai re-boot karya R.A. Kosasih yang terbit 30 tahun sebelumnya. Kini pembaca dapat menikmatinya kembali dalam kemasan luks yang digarap secara serius dan teliti.

Masih ada beberapa komik menarik yang terbit akhir-akhir ini seperti adaptasi cerita Karl May dalam Api Maut dan Pasir Maut (keduanya dari penerbit Pustaka Primatama), The Quest For Princess Zhafira (Erlangga For Kids), A Place In Your Heart (Koloni/ M&C). Selain itu, dalam waktu dekat akan terbit buku terbaru Benny & Mice berjudul Lost In Bali 2, dan beberapa judul komik fiksi dari penerbit M&C yang mencoba kembali menggarap komik lokal.

Tidak setiap saat kita menantikan hari-hari mendatang yang penuh komik lokal bermutu.

Surjorimba Suroto

www.komikindonesia.com

Saturday, June 27, 2009

[klipping] Yuk, Curhat Lewat Gambar!

Tabloid Nova, Juni 2009

Yuk, Curhat Lewat Gambar!

Saat mengajar, Tita juga sering mengenakan kaos oblong, kemeja flannel, dan jins belel (Foto : Ester Sondang)

Diary Graphic atau komik curhat memang sudah biasa di luar negeri. Kendati di sini masih tergolong baru, toh, hasil karya dua ibu ini langsung diminati.

Curhat Tita karya Tita Larasati (37), ternyata memberi banyak inspirasi pada pembacanya. Bisa dibilang, Tita adalah salah satu pelopor penulis diary graphic di Indonesia saat ini.

Jika orang lain menuliskan kejadian sehari-hari yang dialaminya, Tita memilih media gambar. Ia melukiskan suasana hati, pikiran, bahkan potret dirinya secara apa adanya. Di bukunya, perempuan yang sejak kecil suka menggambar ini melukiskan dirinya sebagai sosok bertubuh tinggi gempal, rambut pendek yang jarang tersisir, kacamata, kemeja flanel kotak-kotak yang tidak terkancing lengkap dengan kaos oblong di dalamnya, plus jins belel.

Laiknya sebuah buku harian, Ibu dari Prasidya Dhanurendra Zijlstra (8) dan Syastira Lindri Dwimaharsayani Zijlstra (5) ini menggambar ceritanya dengan alur jelas, seperti komik. “Saya lebih suka menyebutnya diary graphic,” katanya sambil menjelaskan, Asterix, Tintin, dan lainnya, “Jelas disebut komik karena si pembuatnya sadar akan cerita yang dia buat. Si pembuat membuat jalan cerita semenarik mungkin dengan tokoh, lokasi, dan naskah yang sangat terencana. Benar-benar keep the reader on the story.”

Sedangkan, kata Tita lagi, “Yang saya buat, benar-benar apa adanya. Apa yang saya lihat dan amati, itu yang saya gambar. Beda lagi dengan graphic novel yang sekarang juga lagi happening. Itu merupakan novel dalam gambar, sehingga ceritanya lebih padat.”

Tak Yakin Laku

Yang jelas, sejak kecil, Tita sudah menyintai dunia gambar. Ayahnya yang arsitek, selalu membawa buku sketsa dan cat air ke mana-mana. Kebiasaan itulah yang menular ke wanita bernama asli Dwinita Larasati ini.

Begitulah. Lulus dari jurusan Desain Produk ITB, ia memilih melanjutkan kuliah S2 di Design Academy Eindhoven, Belanda, tahun 1998. Di sana pun, ia terus menggambar. Banyak teman kuliahnya yang senang membaca dan selalu menunggu gambar-gambar Tita. “Biasanya, kalau ada teman yang ingin memiliki gambar saya, akan saya kopikan. Jadi, aslinya tetap untuk saya. Sekarang sudah masuk buku sketsa ke-11.”

Dari Eindhoven, Tita lompat ke Amsterdam, mengambil S3 di Delft University of Technology. Nah, tidak jauh dari rumahnya di sana, ada sebuah toko komik terkemuka, Lambiek. Saat Lambiek mengadakan acara Amsterdam 24 hour Comic Day, Tita ikut serta. Tak lama berselang, karyanya terpilih di 24 Hour Comic Highligths di Amerika Serikat.

Ketika kembali ke Tanah Air tahun 2007, istri Sybrand Zijlstra ini dilirik penerbit Cinta Anak Bangsa. “Mereka mau membukukan diary graphic saya. Sempat tak percaya diri mulanya. Apa, ya, ada yang suka dan laku?” kisah dosen ITB ini. Ternyata bukunya, Curhat Tita, laris-manis. “Sekarang sedang menyiapkan terbitan kedua,” ujarnya senang.
Ester Sondang




Wednesday, December 10, 2008

Ngobrol2 Curhat di Aksara Kemang

Start:     Dec 19, '08 7:00p
End:     Dec 19, '08 9:00p
Location:     ak.'sa.ra - Jl. Kemang Raya No. 8B, Jakarta
Ketemuan yuukkk... ngobrol-ngobrolin Curhat di Toko Buku ak.'sa.ra Kemang! Detail pengisi acara yang komplit akan menyusul, tapi isi acara direncanakan seperti berikut ini:

- Pembukaan oleh host, Surjorimba Suroto
- Cerita tentang Curhat, Tita
- Ngobrol-ngobrol
- Preview buku dan artist CAB terbitan 2009 (ini seru!)
- Tanya jawab, kalau waktu masih mengijinkan
- Book signing
- Penutupan

Watch this space for updates!

Thursday, November 27, 2008

[klipping] "Curhat" dan Sketsa Kehidupan Tita Larasati

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/11/28/01203044/curhat.dan.sketsa.kehidupan.tita.larasati
KOMPAS, Jumat 28 November 2008

FRANS SARTONO

”Curhat /choor-hat/ singkatan dari curahan hati.” Begitu Tita Larasati memberi catatan pada kata pengantar karyanya, Curhat Tita. Ini adalah catatan harian grafis yang berbentuk serupa komik . Curhat, dan catatan kehidupan dalam bentuk sketsa itu menjadi komik alternatif yang mengajak pembaca untuk melihat dunia nyata secara lebih dekat.

Tita Larasati (36) adalah ibu dengan dua anak bernama Dhanu (7) dan Lindri (5). Setiap pagi, doktor lulusan Universitas Teknologi Delft, Belanda, 2007, itu mengantar anak-anaknya ke sekolah menggunakan angkot, alias angkutan kota. Setelah itu, ia mengayuh sepeda ke tempatnya mengajar di Jurusan Desain Produk Institut Teknologi Bandung (ITB).

Dari rumahnya di kawasan Kanayakan, Dago, Bandung, Jawa Barat, Tita mula-mula harus menuntun sepeda karena jalan di kampung menanjak tajam. Selepas itu, ia tak perlu mengayuh karena jalan menurun terus menuju Kampus ITB di Taman Sari. Tita akan melesat di tengah jalanan Bandung yang penuh mobil angkot atau angkutan kota serta sepeda motor. Ia akan melewati penjaja serabi, nasi kuning, hingga bubur ayam di sekitar Simpang Dago.

Setelah dari kampus, ia harus bekerja keras mengayuh sepeda pulang ke rumah yang menanjak terus. Ketika ia sedang terengah- tengah mengayuh itu, sering terdengar sapaan ramah dari orang di sepanjang jalan. Enggak capek neng!” Atau juga godaan yang agak iseng, seperti ”Eeeh… awas itu rodanya muter!”

”Dari hari ke hari segala teriakan seperti itu terdengar,” begitu bernama lengkap Dwinita Larasati itu mencatat ”ritual” paginya dalam Curhat Tita, sebuah buku harian grafis atau graphic diary terbitan CV Curhat Anak Bangsa, Bandung, Maret 2008.

Bentuk catatan ini bisa disebut sebagai komik, tanpa alur cerita. Buku itu berisi catatan kehidupan sehari-hari Tita dalam sketsa. Ia menggambarnya dengan pena Pilot Gel –I warna hitam. Cetakan pertama sebanyak 3.000 eksemplar kini tinggal tersisa ratusan buku. Pekan ini di Bandung, Tita akan meluncurkan lanjutan diary grafisnya berjudul Curhat Tita Back in Bandung.

Judul itu merujuk pada keberadaan kembali Tita di Kota Bandung setelah sepuluh tahun lebih tinggal di Belanda. Tita kembali ke ITB, almamaternya, untuk mengajar di jurusan Desain Produksi. Perempuan kelahiran Jakarta tahun 1972 itu kuliah di jurusan Desain Produksi, 1991. Tahun 1998 ia ke Belanda untuk melanjutkan studi program S-2 dan S-3 hingga mendapat gelar doktor di Universitas Teknologi Delft tahun 2007. Di Amsterdam, dia menikah dengan Sybrand Zijlstra yang berdarah Belanda. Tahun 2007 itu juga keluarga Tita boyongan ke Bandung berikut dua anak mereka.

Keseharian keluarga itu menjadi catatan menarik dalam Curhat Tita Back in Bandung. Tercatat dalam buku itu antara lain tentang anak-anaknya yang beradaptasi di negeri tropis. Misalnya tentang keheranan Dhanu tentang kulitnya yang tak juga berubah sawo matang setelah sebulan tinggal di Indonesia. Atau juga pengalaman naik angkot yang bagi anak-anak itu merupakan petualangan mengasyikkan. Sebab untuk pertama kali dalam hidup, mereka naik mobil dengan pintu terbuka.

Kartunis Dwi Koendoro mencatat garis skets dan teks Tita sebagai ceria, nakal, dan menggelikan. ”Kita diajak naik angkot, berlomba naik sepeda bersama keluarganya…,” kata Dwi Koen di sampul belakang Curhat Tita Back in Bandung.

Tidak untuk Pasar

Catatan harian dalam bentuk sketsa itu dibuat Tita layaknya orang mengisi buku harian. Hanya saja, Tita membuatnya tidak dalam tulisan, tetapi sketsa. Catatan bergambar itu dibuat Tita secara spontan, langsung, tanpa rancangan dengan pensil terlebih dulu. Di dalamnya tercatat proses persalinan dari menit ke menit, termasuk detik-detik kontraksi. Atau juga ketika Tita jijik saat kejatuhan cicak. Catatan harian itulah yang menjadi materi Curhat Tita dan buku lanjutannya.

”Isinya asli, plek (sama persis), dengan diary yang saya buat. Kalau ada tulisan salah, ya dibiarkan salah, tidak dihapus,” kata Tita sambil menunjukkan sembilan buku harian berisi ratusan halaman dengan ribuan coretan. Ia juga menunjukkan ratusan kertas ukuran A 4 yang berisi penuh sketsa.

”Jadi, saya membuat ini tidak untuk menyenangkan pasar. Ketika saya menggambarkan semua itu, saya hanya mencatatkan apa yang saya alami setiap hari. Ini seperti ketika orang lain membuat puisi atau lagu,” kata Tita di rumahnya yang teduh yang dirancang oleh arsitek yang adalah ayahnya sendiri.

Ayah dan ibu Tita adalah arsitek sehingga sejak kecil ia dekat dengan dunia corat-coret. Dia juga tumbuh dengan komik seperti Asterix, Tintin, Trigan, plus komik dari Eppo, majalah komik dari Belanda. Ia juga mengenal komik wayang jenis Mahabarata dari RA Kosasih yang merupakan bacaan eyang atau kakeknya.

Tahun 1995, ketika mendapat kesempatan magang selama sepuluh bulan di sebuah biro desain di Jerman, Tita suka berkirim catatan harian dalam bentuk sketsa ke orangtuanya di Jakarta. Sketsa itu ia kirim lewat faksimile. Oleh ibunya, lembar faks itu difotokopi, diperbanyak, dan disebar ke saudara-saudara Tita. Itulah cikal bakal dari catatan harian grafis yang kini menjadi buku itu. Ratusan halaman sketsa itu telah terkumpul dalam delapan buku. Sebagian diseleksi dan terkumpul dalam Curhat Tita dan buku lanjutannya.

Tahun 2007, sekembali dari Belanda, Tita menggelar pameran tunggal ”Curhat Tita” di Spaces59, Bandung. Dari pameran itulah kemudian tergagas untuk mewujudkan buku Curhat Tita. Kebetulan ada penerbit yang kreatif, jeli, dan percaya diri untuk menerbitkan curhat-nya Tita. Mereka ingin memberi pilihan lain kepada masyarakat, selain komik semacam manga, komik Jepang yang banyak beredar di toko buku itu. Atau juga komik ala Amerika.

”Kalau ada komik Indonesia di toko buku, itu justru komik lama yang tokohnya jagoan,” kata Tita menyebut komik era Ganes Th dengan tokoh para jagoan dari dunia persilatan.

Dari cetakan pertama yang 3.000 eksemplar itu, Tita dan penerbit bisa membaca bahwa catatan harian grafis Tita mendapat respons pasar. ”Dalam Curhat Tita Back in Bandung, pasarnya sudah mulai jelas dan kebaca siapa pembacanya. Mereka yang tak suka atau tak bisa baca komik sudah mulai nyambung,” kata Tita yang juga membaca respons pasar itu lewat situs Internet Tita di www.esduren.multiply.com. ”Teman-teman ingin ada nuansa baru di komik Indonesia,” kata Tita.

Suasana baru itu datang dari catatan harian tentang kehidupan sehari-hari seorang ibu dengan dua anak kecil yang setiap hari mengantar anak-anaknya ke sekolah naik angkot di Bandung.

Pengamat komik, Yasraf Amir Piliang, mencatat Curhat Tita sebagai karya yang mengajak pembaca untuk ”...merebut kembali dunia harian yang nyata, yang nyaris tergilas oleh hiruk pikuk dunia urban, nyinyir media massa, dan banalitas dunia hiburan…”.

Friday, November 21, 2008

[launching] Curhat Tita: Back in Bandung

Start:     Nov 28, '08 7:00p
End:     Nov 28, '08 9:00p
Location:     Bandung
Curhat Tita: Back in Bandung akan diluncurkan pada:
Hari Jumat, 28 November 2008
Pk. 19.00-21.00
Di Warung Pasta, Jl. Ganesha 3, Bandung
Bersama Andi Yudha, Hikmat Darmawan, dan PidiBaiq!

Pengunjung akan mendapatkan kenang-kenangan kartupos eksklusif dan bisa memilih-milih merchandise unik yang dibuat khusus hanya untuk acara peluncuran ini. Sampai ketemu di sana yaa!


p.s. Please pay for your own food & drink

Curhat Tita: Back in Bandung
Graphic Diary
112 pages, paperback
Contents: Flashback, Indonesia, Adopted Hometown (24HCD'07), Bike ITB, Bird ITB, Internet: a luxury, Roadkill, Sickweek, Jalansutra Hunt, etc.
Introduction text by Rieza Fitramuliawan, visualized by Sheila Rooswitha


Imagine having lived in a particular city for years, and then going away for a long time to live in a faraway place. One day, you come back and start living in that same city again, this time for good. How would you feel, and what would you expect? Changes. Reflections. New adventures. That is at least what I experienced upon returning to my adopted hometown Bandung, after having lived in Europe for more than ten years.
- Tita, September 2008

"Menyimak curhat orang kadang terasa membosankan. Tapi kalau yang curhat Tita Larasati rasanya selalu menyenangkan"
- Benny & Mice, kartunis

"Tita makes you feel as if you are sitting next to her on the couch, while she tells you the latest news about the family. Her drawings are warm, natural and unpretentious. You'll catch yourself smiling with recognition now and then. May this book be an inspiration of many!"
- Kees Kousemaker, founder Lambiek comics shop in Amsterdam (1968) and comics historian

Thursday, November 6, 2008

Curhat Tita: Back in Bandung

Curhat Tita: Back in Bandung
112 pages, paperback
Contents: Flashback, Indonesia, Adopted Hometown (24HCD'07), Bike ITB, Bird ITB, Internet: a luxury, Roadkill, Sickweek, Jalansutra Hunt, etc.

Imagine having lived in
a particular city for years, and then going away for a long time to live in a faraway place. One day, you come back and start living in that same city again, this time for good. How would you feel, and what would you expect? Changes. Reflections. New adventures. That is at least what I experienced upon returning to my adopted hometown Bandung, after having lived in Europe for more than ten years.
- Tita, September 2008

"Menyimak curhat orang kadang terasa membosankan. Tapi kalau yang curhat Tita Larasati rasanya selalu menyenangkan"
-
Benny & Mice, kartunis

"Tita makes you feel as if you are sitting next to her on the couch, while she tells you the latest news about the family. Her drawings are warm, natural and unpretentious. You'll catch yourself smiling with recognition now and then. May this book be an inspiration of many!"
-
Kees Kousemaker, founder Lambiek comics shop in Amsterdam (1968) and comics historian


Introduction text by Rieza Fitramuliawan, visualized by Sheila Rooswitha









Purchasing online:

1. Please send a private message to esduren at Multiply, containing your name and postal address. There is a bonus of one 'pin' magnet for each book (see below), as long as supply lasts.
2. Book: IDR 30,000,-
Postal fee IDR 5,000,- (to all over Java, except to Surabaya: IDR 6,000,-)
3. Transfer the total amount to one of these accounts:
 
130-00-0526220-2
Bank Mandiri
cab. Asia Afrika Utara, Bandung
a.n. Rony amdani
Jl. Eceng 2, Bandung

4381370997 BCA
KCP Burangrang, Bandung
a.n Roni Amdani
0028649704
BNI 
cab. ITB Bandung
SWIFT code: BNINI DJAITB
a.n. Dwinita Larasati
Jl. Cihaur 24, Bandung 40135

4. Send the proof of payment
by fax to (022) 7319981 attn. Rony Amdani OR by email to titalarasati@gmail.com 


Saturday, October 11, 2008

[klipping] Generasi Komik Semau Gue

Kompas 11 Oktober 2008

Generasi Komik Semau Gue
Sabtu, 11 Oktober 2008 | 11:15 WIB

Oleh Herlambang Jaluardi

"Komik saya, ya terserah saya." Kira-kira begitulah ujaran yang pantas disematkan kepada komunitas pembuat komik di Bandung saat ini. Pakem baku komik dibenturkan dengan semangat "semau gue" itu.

Garis kaku panel untuk membatasi suatu adegan tidak lagi menjadi suatu keharusan. Susunan adegan dibiarkan berserak di setiap lembar. Gaya ini tampak di dua komik karya Tita Larasati: Curhat Tita dan Transition. Komiknya tidak tebal sampai ratusan halaman. Gambarnya pun masih menyisakan arsiran-arsiran bolpoin dan tidak diwarnai, seperti sketsa yang belum selesai. Hanya sampulnya yang penuh warna.

Cerita kedua komik ini sederhana dan tidak bermaksud melucu ataupun menggurui. Benar-benar hanya menceritakan kehidupan sehari-hari Tita dan keluarga serta lingkungan tempat mereka tinggal.

Kalaupun ternyata ada kegetiran dan kelucuan, memang kedua unsur itu lazim ada di setiap fragmen hidup, termasuk Tita. Karena itu, ada tulisan "graphic diary" di setiap sampul komik yang diterbitkan CV Curhat Anak Bangsa tahun 2008 ini.

Dalam kata pengantar komik Curhat Tita, Tita menuliskan, pada mulanya ia menjadikan gambar sebagai "bentuk laporan" kegiatan sehari-hari di sebuah keluarga saat magang di Jerman tahun 1995. Ia mengirim gambar itu kepada orangtua di Jakarta melalui faksimile. Lembaran faksimile ini kemudian difotokopi untuk dibagikan kepada sanak saudara.

Kebiasaan berkirim gambar ini terus berlangsung hingga ia beralih menggunakan buku sketsa. Hal ini membuat pengarsipan gambarnya lebih terjamin. Gambar-gambar itulah yang terangkum di Curhat Tita.

Ayam goreng kampung

Kejadian yang ditemui sehari-hari juga menjadi sumber ide bagi Erick Sulaiman. Sebagian kecil karyanya terangkum dalam Perpustakaan Sketsa: Kumpulan Komik Strip Gila terbitan PT Kumata Indonesia (Desember, 2007).

Pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Nasional ini menjadikan hal biasa menjadi lebih komikal. Di jalan-jalan Kota Bandung, Erick kerap melihat menu makanan ayam goreng kampung. Frasa itu memberi rangsangan untuk membayangkan seekor ayam yang sedang menggoreng sebuah perkampungan. Itulah yang ia gambar menjadi komik strip.

Naif dan bermuatan lokal seakan menjadi ciri karyanya. Salah satu komik stripnya menceritakan keluarga Bodo (keluarga kelinci) sedang berwisata di Lembang. Dalam perjalanan mereka berhenti mengisi perut. Setelah menemukan warung, mereka makan dengan lahap, dan bahkan akan menambah. Niat dibatalkan setelah mereka tahu bahwa yang mereka makan adalah daging kelinci. Era internet

Komikus bernama pena Ivy Black mengambil tema keseharian yang lebih ekstrem daripada dua komikus tadi. Ia menerbitkan komik tentang hubungan cinta sesama laki-laki dengan judul Sunset Glow.

"Seru aja melihat hubungan sesama laki-laki itu," kata perempuan kelahiran Bandung ini. Ivy melabeli komiknya dengan batasan umur 18 tahun ke atas. Ia mengaku terinspirasi dari film kartun tentang homoseksual yang banyak beredar di internet. Internet pula yang dipilih Ivy sebagai salah satu media berpromosi.

"Aku enggak mungkin menjual komik terang-terangan. Lewat internet dan jaringannya, orang bisa menghubungi kalau ingin mendapatkan komik aku," kata Ivy yang punya beberapa alamat situs web ini.

Dunia maya

Dunia maya juga menjadi ruang bagi Tita dan Erick memublikasikan karya mereka dengan segera. Halaman web Tita menampilkan beberapa karyanya yang belum dipublikasikan dan mempromosikan dua komik yang sudah terbit. Begitu juga dengan web milik Erick.

Bahkan, komik strip yang sudah dicetak awalnya sudah ia pajang di web-nya. Setelah versi cetaknya terbit, ia menghapus komik itu. Kini, beberapa komik baru pun sudah ia unggah dan bisa dibaca pengunjung web. "Nantinya, komik baru itu juga akan dihapus kalau sudah dicetak," kata Erick.

Memajang karya di internet bagi Erick adalah upaya "memasarkan" namanya sebagai komikus. Pembajakan karya yang rawan terjadi di jagat maya pun tidak ia hiraukan. "Semakin banyak orang men-download komik saya dari internet, semakin banyak orang yang mengakui karya saya," katanya.

Begitulah, jagat per-komik-an di Bandung terus bergulir dengan menerbitkan "komik-komik" baru di setiap generasi.


 

Sunday, September 21, 2008

Sketsa Curhat ttg Bandung di PR

Ultah Kota Bandung jatuh tgl 25 Sept nanti, tapi berhubung halaman ekstra (Selisik) biasanya terbit tiap Senin, maka hari ini Pikiran Rakyat sudah membahas ttg Bandung dalam rangka hari jadinya ini di bagian Selisik itu. Di halaman tengah Selisik itu ada sketsa2 'curhat' yang saya buat khusus untuk edisi ini. Rencananya, masing2 sketsa itu dibuat untuk direspon oleh Pidi dengan sketsa2nya sendiri, tapi sayangnya nggak jadi. (Deadline nggak kekejar ya Pid?) Di situ juga ada foto saya yang diambil waktu wawancara beberapa bulan lalu dengan PR, di-crop, posenya jadi agak2 gak jelas.. :P

Print gambar yang di halaman tengah ini hitamnya nggak tajam. Dan, gambar2 yang tadinya rencananya berupa fragmen2 terpisah yang didampingi sketsa2 Pidi, jadinya disatukan di bentangan halaman tengah. Agak aneh aja ngeliatnya ter-magnify sekian besar (apa ini sebabnya jadi blawur?). Lalu, saya disebut mengambil MA dan PhD di "The Design Academy Delft University of Technology".. kesannya itu satu sekolah :D Tepatnya: MA dari Design Academy Eindhoven (di Eindhoven) dan PhD dari Delft University of Technology (di Delft).

Anyway, semoga pesen sketsa2 itu nyampe', bisa dinikmati pembaca dan nyambung dengan artikel2 Selisik hari ini: Dari Kota Kembang ke Kota Kreatif, Sulitnya Mengembalikan "City of Excellence", dan Mendorong Perubahan Melalui Kreatifitas. Worth reading. Selamat ulang tahun, Bandung, semoga dirimu nggak makin salah diurus!    

Gambar2 lain ada di sini: http://esduren.multiply.com/photos/album/121