Showing posts with label comics. Show all posts
Showing posts with label comics. Show all posts

Saturday, December 11, 2010

[klipping] Ayo "Ngomik" dengan Gambar, Gambar dan Gambar

Ayo "Ngomik" dengan Gambar, Gambar, dan Gambar
Sabtu, 11 Desember 2010 | 03:22 WIB

OLEH DWI BAYU RADIUS

Sekembalinya dari studi di Belanda, Tita Larasati (37) sekeluarga mengalami gegar budaya. Pekan pertama, dua anak Tita dengan gembira menyantap nasi, makanan yang tidak selalu disajikan di Belanda. Namun, setelah itu, mereka bosan. ”Bueeh...,” ujar mereka seraya menyingkirkan sepiring nasi.

Di Bandung, Tita juga harus menghadapi masalah transportasi, hewan menggelikan seperti cicak, kecoak, tikus, dan tentu saja birokrasi yang menyebalkan. Cuplikan kisah tentang keseharian Tita dituangkan dalam berlembar-lembar naskah dan sketsa komik dalam pameran Bandung Indie Comic Now di Institut Teknologi Bandung (ITB) awal Desember ini.

Tita, yang belajar ke Belanda untuk menyelesaikan jenjang S-2, saat ini bekerja sebagai Dosen Jurusan Desain Produk, Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB. Ke mana pun ia pergi, buku gambar tidak pernah tertinggal di tasnya sebagai media untuk membuat komik tentang aktivitas Tita.

Sementara itu, komik After Dark karya Azisa Noor (23) mengisahkan dua orang asing secara terpisah yang berjalan kaki di Bandung pada malam hari. Ada peristiwa aneh yang mereka temui seperti mendengar suara tangisan ketika melewati Babakan Siliwangi, melihat badak di Jalan Badaksinga, dan bertemu perempuan Belanda dengan iring-iringan rombongan putri kerajaan.

”Komik itu memang terinspirasi dari cerita teman-teman saya yang mengalami kejadian serupa,” ujar Azisa yang saat ini fokus mengerjakan komik.

Erick Sulaiman (30) yang berprofesi sebagai artis tekstur menggambarkan gambar satir tentang rutinitas Jakarta yang kerap dilanda banjir. Dikisahkan, aktor tenar Kevin Costner datang ke Jakarta pada tahun 2012 untuk pengambilan gambar sekuel film Water World. Busway diganti dengan boatway; penggemar sepeda menggenjot perahu kayuh; dan pengemis mengenakan peralatan selam.

Motivasi

Ketua Panitia Bandung Indie Comic Now Fahriza Luzan menuturkan, awal sebuah komik bisa berasal dari naskah atau gambar. Sangat mungkin ide itu didapat dari aktivitas sehari-hari. Faktor terpenting, tuangkan saja ide itu bila sudah ditemukan jika akan diekspresikan dalam bentuk komik.

”Ayo ngomik. Kalau dapat inspirasi, gambar saja. Ketemu pengamen, gambar. Lihat kebakaran, gambar. Ada tabrakan, gambar. Gambar, gambar, gambar saja...,” ujar Fahriza.

Bagi Tita, faktor paling menarik dari pembuat komik adalah motivasinya. Meski alasan mereka bisa berbeda-beda, terdapat kesamaan bahwa semua punya pesan yang ingin disampaikan. Pembuat komik juga membutuhkan saluran untuk mengeksplorasi gaya komik masing-masing.

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Manajemen Desain Komunikasi, Institut Manajemen Telkom, Imansyah Lubis, menjelaskan, meski semakin banyak generasi muda yang tertarik membuat komik, profesi komikus di Indonesia perlu lebih dihargai.

”Komikus yang diapresiasi dengan baik biasanya malah membuat komik untuk perusahaan di luar negeri. Masalah itu butuh dukungan dari publik lokal juga,” katanya.

Komikus Sweta Kartika menjelaskan, banyak rekan komikus yang mencoba memamerkan dan menyebarluaskan komik buatan mereka melalui jalur independen atau indie. Promosi komik yang diterbitkan major label pun masih dikerjakan komikus sendiri.

”Komikus masih harus bergerilya dan bekerja bakti memasarkan karyanya,” katanya.

Komik Jepang dan Amerika masih mendominasi rak toko buku. Selain itu, komik juga belum sepopuler buku bacaan lain, seperti novel dan nonfiksi. Pemerintah, selaku pelaksana program membaca, pun belum terlalu melihat komik sebagai bacaan yang penting.

”Saat ini kebanyakan pengembang komik lokal adalah pihak swasta. Itu pun lebih terkonsentrasi pada bisnis, bukan idealisme,” katanya.

Monday, November 1, 2010

SEVEN: Draw Your Days 2010

Halo semuanya! Tak terasa sudah satu tahun berlalu sejak kita bersama-sama meramaikan acara SEVEN: Draw Your Days, di mana kita merekam keseharian kita dalam gambar selama tujuh hari berturut-turut, dan mengunggahnya di situs masing-masing (daftar tautan ke situs-situs tersebut masih tersimpan di bukucurhat.net). Kita juga sempat mencetak dan memamerkan beberapa karya tersebut di Galeri Soemardja, FSRD ITB, sambil mengadakan acara ngobrol-ngobrol bersama. Hasilnya memang menjadi kejutan yang menyenangkan. Ternyata yang dibuat dari hari ke hari tersebut sangat beragam medianya: gambar, komik, foto, bahkan kolase dan puisi, yang datang bukan hanya dari Indonesia, tapi juga dari Amerika, Jerman dan Belanda.

SEVEN: Draw Your Days ini diadakan dalam rangka hari jadi CAB, sehingga akan kita adakan setiap tahun pada tanggal yang sama. Tahun ini, mari mulai merekam hari-hari kita sejak tanggal 7 November 2010 ini, berlanjut hingga hari ke-7, yaitu tanggal 13 November 2010. Yuk!

 

 

Hi all! It’s been one year since we had fun with SEVEN: Draw Your Days event, where we recorded our daily lives in images for seven consecutive days, and uploaded them on our websites (a list of links to those sites are available at bukucurhat.net). We have also printed and exhibited a lot of those works at Galeri Soemardja, FSRD ITB, while having a talk session. The result was indeed pleasantly surprising. The works that were produced day-by-day came in different medias: drawings, comics, photographs, even collages and poems, which came not only from Indonesia but also from the United States, Germany and The Netherlands.

SEVEN: Draw Your Days is held to celebrate the anniversary of CAB, so we do it each year on the same dates. This year, let’s draw our days since 7 November 2010 onward to the seventh day, 13 November 2010. Let’s go!

 

 

[about SEVEN, from http://bukucurhat.net/]



WHAT IS "SEVEN"?

An event held by CAB, a publisher who concentrates on graphic diary, where everyone can participate. It's where everyone can draw his or her days, one page each day, for seven consecutive days.

 

WHO CAN PARTICIPATE?

Basically anyone. You don't have to be an artist or someone who's good at drawing. As long as you are eager to tell your stories in words as well as pictures, you're in!

 

IS THERE ANY THEME?

The drawings can be day-to-day happenings during the week, dreams, desires, or whatever comes to mind when your pen hits the paper (or the tablet).

 

WHEN?

All participants are to start their drawings on Nov 7. One page for one day, until Nov 13. In total, everyone will have 7 pages of drawings. Afterward we'll gather for a small exhibition and an informal discussion session.

 

WHERE?

All works will be displayed online, so there's no 'real' place. But you are most welcome to arrange the event in your own communities or cities.

 

HOW?

If you'd like to participate, you are encouraged to upload your drawings on your own Blogs, which will be linked to CAB website. Alternately, you can also send your drawings to CAB drawyourdays@gmail.com, to be uploaded on CAB website.

Saturday, September 25, 2010

Sketches from the Climate Change Action Training




How did I spend the day of Bandung's the 200th anniversary? By participating in a Climate Change Action Training, initiated by The Climate Project Indonesia and the Environmental Engineering Dept. of ITB. Here are my doodles during the presentations, which I did to help me memorize everything better.

Monday, September 13, 2010

How Come & First Times




"How Come" is a two-page story, "First Times" twelve, but in Indonesian. All stories are true, they really happened.

Sunday, July 18, 2010

[launching] KIDSTUFF, 24 Juli 2010

Peluncuran graphic diary KIDSTUFF, Sabtu 24 Juli 2010 mulai pk.16:00 di Galeri Padi, Dago 329 (detail ttg buku dan acaranya ada di 'lampiran' posting ini). Bagi yang berada di Bandung dan sekitarnya Sabtu sore itu, mampir yuuuk. Acara akan dimoderatori oleh Bu Riama Maslan, dosen DKV FSRD ITB, dan diramaikan oleh PidiBaiq sebagai salah satu pengisi buku tersebut.

Sampai jumpa Sabtu depan!



Oh iya, sudah mulai bisa pesan online lho, gratis ongkos kirim ke Jakarta & Bandung. Harga per bukunya Rp 39.000,-  
Berikut ini detail cara pemesanannya:

1. Kirim email pemesanan ke titalarasati@gmail.com atau ronielectric@gmail.com
2. Lampirkan bukti pembayaran (transfer)
3. Buku bakal dikirim setelah bukti pembayaran dikirim via email
4. Pembayaran (transfer) melalui:

Rek. BCA

438-137-0997
a.n Roni Amdani
BCA cab. Burangrang

Wednesday, April 28, 2010

[klipping] Graphic Diary. Apa Itu?




Tulisan SGA di Intisari edisi Maret 2010. Saya pasang lengkap sekarang, karena sudah hampir Mei :D

Sunday, February 7, 2010

Dhanu's 9th, Officialy 37, etc.




A bit of updates. The last one isn't my drawing; it's a gift from my new friends in Yogyakarta when I visited last Thursday.

Thursday, December 24, 2009

Preview Pages: Berbagi Hidup




"Berbagi Hidup" merupakan hasil kolaborasi antara Komunitas Anak Berbagi Hidup dan Penerbit Curhat Anak Bangsa, berisi kisah-kisah nyata anak-anak ODHA yang dibuat dalam bentuk cergam berwarna.

Peluncurannya direncanakan:
Hari Senin, tanggal 28 Desember 2009
Pk. 19.00-21.00
Di Jendela Ide, Sasana Budaya Ganesa, Lebak Siliwangi, BANDUNG

Detail lebih lanjut akan diinformasikan kemudian.

Post ttg acara peluncuran di MP

RSVP kehadiran di acara peluncuran di FB

Wednesday, December 23, 2009

[Launching] graphic diary "Berbagi Hidup"

"Berbagi Hidup" merupakan hasil kolaborasi antara Komunitas Anak Berbagi Hidup dan Penerbit Curhat Anak Bangsa, berisi kisah-kisah nyata anak-anak ODHA yang dibuat dalam bentuk cergam berwarna.

Peluncurannya direncanakan:
Hari Senin, tanggal 28 Desember 2009
Pk. 19.00-21.00
Di Jendela Ide, Sasana Budaya Ganesa, Lebak Siliwangi, BANDUNG

Detail lebih lanjut akan diinformasikan kemudian.

RSVP kehadiran di acara peluncuran di FB

Preview pages di MP

Graphic diary “Berbagi Hidup”

Ukuran: B5 (35 x 15 cm)
Jumlah halaman: 24 halaman + cover
Kertas isi: art paper
Print: full color

Cover artist: Mia Diwasasri
Desain cover: Dudi Suwardi
Artists:
Tita Larasati
Sheila Rooswitha
Tri Prasetyningtyas
Malia Hartati & Rony Amdani
Adiputra

Penerbit: Curhat Anak Bangsa

Donasi: Rp. 25.000 boleh lebih (di luar ongkos kirim)


Cara memesan
1. Emailkan alamat pengiriman dan jumlah buku yang dipesan ke drawyourdays@gmail.com
2. Tunggu konfirmasi penerimaan pemesanan dan jumlah biaya pengiriman
3. Transfer ke: BCA 578 0483 158 a.n Frenki Tampubolon
4. Setelah itu, bukti transfer harap dikirimkan ke email drawyourdays@gmail.com ATAU di-fax ke 022 7319981
5. Buku-buku pesanan akan dikirimkan setelah bukti transfer diterima

ATAU

Dapat diperoleh langsung di Komunitas Anak Berbagi Hidup
Jl Cempaka Putih Barat XXI No 34 Jakarta Pusat Tlp. 021. 42802349-50
PiC: Frangky Tampubolon

Saturday, October 31, 2009

SEVEN: Draw Your Days!



WHAT IS "SEVEN"?
An event held by CAB, a publisher who concentrates on graphic diary, where everyone can participate. It's where everyone can draw his or her days, one page each day, for seven consecutive days.

WHO CAN PARTICIPATE?
Basically anyone. You don't have to be an artist or someone who's good at drawing. As long as you are eager to tell your stories in words as well as drawings, you're in!

IS THERE ANY THEME?
The drawings can be day-to-day happenings during the week, dreams, desires, or whatever comes to mind when your pen hits the paper (or the tablet).
Optionally - especially for those in Bandung - since this first SEVEN is held during Helarfest2009, it would also be nice if the keywords of your drawings include "creativity" and "Bandung".

WHEN?
All participants are to start their drawings on Nov 7. One page for one day, until Nov 14. In total, everyone will have 7 pages of drawings.
On Nov 15 we'll gather for a small exhibition, an informal discussion session and the launch of the new CAB website.

WHERE?
All works will be displayed online, so there's no 'real' place. But you are most welcome to arrange the event in your own communities or cities.
(In Bandung, the venue for Nov 15 gathering will be informed as soon as it is confirmed)

HOW?
If you'd like to participate, you are encouraged to upload your drawings on your own Blogs, which will be linked to CAB website. Alternately, you can also send your drawings to CAB [email drawyourdays@gmail.com], to be uploaded on CAB website.

More detailed information, coming up!



Click here to access SEVEN at Facebook



*HOW, EXACTLY?*
1. Go on with your day as you normally would on Nov 7
2. At the middle- or the end of the day, record anything that you think worth memorizing, or simply noting down.
3. The 'note' can be in the form of drawings, collage, clips from magazines, receipts and ticket stubs, anything! It could also be a digital drawing.
4. The length of the 'note' - or, let's say, your "graphic diary" - can be one page for each day
5. Upload the page on your own website or blog (please send us the URL so we can link it to CAB website) -OR- scan and send the page to CAB, to this address drawyourdays@gmail.com
6. Repeat daily, until Nov 14, so each of you would have made 7 pages
7. Enjoy! :)

*BAGAIMANA CARANYA?*
1. Jalankan keseharian seperti biasa pada tanggal 7 Nov
2. Catatlah peristiwa, pemikiran, impian hari itu, yang berkesan dan dirasa patut dikenang
3. 'Catatan' tersebut dapat berupa gambar, kolase, potongan majalah, bon dan karcis, apapun! Bisa juga berupa gambar digital.
4. Panjangnya 'catatan' tersebut - atau "graphic diary" tersebut - cukup sebanyak satu halaman
5. Upload halaman tersebut di situs atau blog masing-masing (tolong beritahu URLnya agar bisa ditautkan ke situs CAB) -ATAU- scan dan kirimkan halamannya ke CAB, ke alamat drawyourdays@gmail.com
6. Ulangi setiap harinya hingga tanggal 14 Nov, jadi setiap orang akan membuat 7 halaman
7. Selamat menikmati! :)

Saturday, October 24, 2009

24HCD09




The International 24 Hour Comics Day challenge happened on October 3. I made the first 13 pages but couldn't make it to 24 that day due to lots of happenings (2 guests, 1 outing, 1 shopping trip). I continued until the last page reeeally slowly and was determined to finish it up on Oct 24: The International Climate Action Day!

These pages were all made spontaneously, without prior sketches and/or storyboards, so please apologize any misspelling of names and/or organizations, and if the story is a bit jumbled and not well-structured.

Wednesday, September 2, 2009

[klipping] Komik Keroyokan dan Korupsi

Koran Tempo, Ruang Baca edisi 31 Agustus 2009

Cerita Sampul
Komik Keroyokan dan Korupsi


Belakangan ini komik-komik Indonesia yang terbit mengangkat tema yang beragam dan bentuk yang macam-macam, tak lagi terikat pada model manga dan genre silat dan superhero yang dulu sempat merajai dunia perkomikan. Tema itu bisa soal pemberantasan korupsi hingga kisah keseharian sang komikus. Bentuknya bisa gado-gado karena digarap keroyokan oleh beberapa komikus berbeda gaya atau garis-garis yang bersih. Berikut ini beberapa komik yang muncul tersebut.
Judul: Antologi 7

Pengarang: Alfie Zachkyelle, Tita Larasati, Caravan Studio, Sheila Rooswitha, Motulz, Rhoald Marcellius, Beng Rahadian, Aziza Noor, Adiputra

Penerbit: Curhat Anak Bangsa, Juli 2009

Scott McCloud, tokoh teori komik dan pengarang Understanding Comics, menciptakan tantangan komik 24 jam pada 1990. Dia menantang komikus untuk membuat komik utuh sepanjang 24 halaman selama 24 jam. Gagasan ini diadopsi oleh penerbit Curhat Anak Bangsa (CAB) dengan sebuah proyek yang lebih sederhana: membuat satu halaman cerita bergambar dalam satu hari selama tujuh hari berturut-turut. CAB lantas melempar tantangan itu kepada enam komikus dan satu studio komik dan hasilnya adalah Antologi 7.

Sebagai karya keroyokan, pembaca akan menemukan berbagai tema, cara berutur dan gambar pada buku ini. Alfie Zachkyelle, misalnya, sibuk mengisahkan perjuangan mencari cinta sejati setelah menjadi duda dari seorang cewek Jerman sambil menuturkan soal penyelamatan nasib anjing-anjing peliharaannya yang ditolak di sana-sini. Tita Larasati, yang goresan penanya sudah dikenal lewat komik Curhat Tita yang terbit tahun lalu, kini kembali menncoret-coret panel gambarnya tentang kisah perjalannya yang tersandung-sandung ke Bangkok. Adapun Sheila Rooswitha menurutkan kesialan-kesialan yang menimpanya gara-gara datang terlambat ke kantor.

Meski beragam tema dan gaya, satu hal yang menyatukan ketujuh cerita di buku ini adalah sama-sama mengangkat kisah nyata sang komikus, bukan fiksi. Dalam bahasa Tita, salah satu pendiri CAB, komik begini adalah "graphic diary", catatan harian grafis.

[klipping] Tak Lagi Merantau di Alam Mati Suri

Koran Tempo, Ruang Baca edisi 31 Agustus 2009

Cerita Sampul


Tak Lagi Merantau di Alam Mati Suri

Komik lokal kembali bergairah setelah Benny & Mice meledak. Kini bentuk dan temanya lebih beragam, meninggalkan tren superhero dan silat.

Mata para pengunjung Cengkeh Restoran dan Galeri di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tertuju pada delapan perempuan yang mengenakan kebaya warna-warni. Mereka masing-masing memegang poster dengan gambar kartun yang tak kalah ramai nuansa warnanya dengan busana mereka.

Mereka memang sengaja memakai kebaya karena hari itu penerbit M&C, lewat lini penerbitan Koloni, tengah mengenalkan manga-manga (komik khas Jepang) terbaru hasil goresan komikus Indonesia. Tak tanggung-tangung, pada acara di awal Agustus lalu itu Koloni meluncurkan delapan judul sekaligus.

Tempo menelusuri beberapa toko buku dan menemukan manga Indonesia itu kini berdampingan dengan manga Jepang. Di antara nama komikus asal Negeri Matahari Terbit itu terdapat Ida Ariyanti dengan My Ghost Sister dan Is Yuniarto dengan Garudayana.

Delapan manga itu menjadi gelombang terkini dari komik lokal yang jumlahnya perlahan tapi pasti terus bertambah banyak. Memang, peningkatan itu tak kentara, lantaran komik lokal ini tak berformat mirip manga atau terserak tanpa pengelompokan yang jelas di toko buku. Berbeda sekali dengan manga, yang biasanya diberikan satu tempat khusus di rak toko.

Gelombang kegairahan itu tampak ketika hampir 30 judul komik lokal telah terbit sejak awal tahun ini. Sebagian besar komik-komik itu karya baru dan sebagian lagi karya lawas yang diterbitkan ulang, seperti Mahabharata dan Bharatayudha karya Teguh Santosa.

Salah satu dari komik yang baru muncul adalah Pamali, karya komikus dengan nama pena Norvan Pecandupagi. Komik yang sempat dibedah di panggung utama Pesta Buku Jakarta 2009 ini mengisahkan berbagai pamali atau larangan dan pantangan berdasarkan adat Sunda.

Setiap pamali itu ia kupas dengan jenaka dalam dua sampai tiga halaman. Norvan juga melengkapinya dengan catatan kecil berisi kalimat asli pamali itu dalam bahasa Sunda, terjemahan dalam bahasa Indonesia, serta komentar pribadinya.

Catatan itulah yang menjadi keunikan karya Norvan yang menunjukkan bahwa komikus ini tak sekadar mengandalkan kemampuan menggambar dan dialog dalam balon percakapan. Lewat komentar-komentar yang tak kalah kocak dengan goresan gambarnya, Norvan menunjukkan dirinya bukan sekadar piawai menggambar tapi juga mampu mengolah kata-kata menjadi jenaka tanpa bantuan visual.

Misalnya, saat membahas soal pamali "Tong ngagegelan kuku, bisi cilaka!" ("Jangan mengigiti kuku, nanti bisa celaka!"). Di panel gambar ia membuat pengendara motor yang karena tak percaya pamali lantas mengigiti kukunya dan motor yang tak terkendali itu pun jatuh ke jurang. Nah, pada sudut halaman terdapat komentarnya: "Sebetulnya akan lebih celaka lagi kalau kuku yang kita gigitin itu kuku macan atau kuku ABRI yang lagi melamun. Gak percaya? Tes Gih!"

Selama ini komikus lokal mengandalkan ajang seperti Pekan Komik Nasional demi unjuk diri. Belakangan ini muncul media yang lebih efektif bagi mereka untuk memamerkan karyanya, yakni di dunia maya lewat blog dan situs jejaring sosial.

Norvan adalah salah satu yang memperoleh berkah dari situs jejaring sosial Facebook, tempat salah seorang editor penerbit Gramedia Pustaka Utama menemukan draf komik Pamali tersebut. Editor Gramedia, Hetih Rusli, mengatakan, mereka langsung kepincut begitu melihat karya Norvan itu.

Menurut Hetih, Gramedia memang mengamati adanya gairah di ranah komik lokal dan tertarik menjajal genre ini lewat Pamali. "Kami berkaca dari komik Benny & Mice yang laris dan itu berarti pasarnya memang menjanjikan," katanya.

Komik Benny & Mice memang mencuat di tengah kelesuan komik lokal. Dalam catatan penerbit Nalar, komik karya duo kartunis Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad ini terjual rata-rata 40 ribu eksemplar untuk setiap judulnya.

Redaktur Penerbit Nalar, J.B. Kristanto, menuturkan, saat menerbitkan kumpulan komik strip Benny & Mice yang pernah dimuat di harian Kompas itu, mereka awalnya hanya berani mencetak tiga ribu kopi saja. Kala itu Kristanto pun harus siap rugi, karena sejarah mencatat komik lokal terbilang sepi peminat.

Tak disangka, belum mencapai dua bulan komik ini harus cetak ulang sebanyak dua kali akibat tingginya permintaan. "Ternyata komik itu meledak, kami benar-benar kaget," ujar Kristanto.

Nalar sendiri meminang dua komikus itu lantaran ingin mencoba menggarap pasar komik di pembaca dewasa yang selama ini tak tersentuh. Kristanto waktu itu memilih Benny & Mice karena sebelumnya komik Indonesia sudah terlalu identik dengan tema silat dan superhero yang peminatnya tak banyak, yang menurutnya akibat gayanya yang tak cocok dengan pembaca sekarang ini.

Sukses Benny & Mice dinilai Kristanto tak lepas dari efek pemuatan versi komik strip di surat kabar. Nalar lalu mendekati Radhar Panca Dahana, Widyartha Hastjarya, dan Diyan Bijac dan menerbitkan komik Mat Jagung karya ketiganya, yang sebelumnya dimuat seminggu sekali di Koran Tempo. "Ke depan kami akan terus menambah jumlah penerbitan komik," kata Kristanto.

Penerbit Cendana Art Media juga meneruskan tren pembukuan komik strip dari surat kabar tersebut dengan meluncurkan Lotif Versi Pasbook, yang juga pernah dimuat di Koran Tempo edisi Minggu. Berbeda dengan kumpulan komik strip lainnya, Lotif versi buku ini dipermak tampilannya oleh Beng Rahadian, sehingga berbeda dari versi di koran. Ia membuat perwajahan yang mirip halaman situs jejaring sosial Facebook, sehingga di bawah satu panel cerita terdapat komentar mengikuti bentuk komentar terhadap catatan atau status yang di situs Facebook.

Ragam komik lokal pun semakin bervariasi ketika penerbit yang dipayungi Grup Agromedia mengadaptasi buku laris mereka menjadi komik. GagasMedia membuat versi komik dari buku cerita-cerita jenaka Raditya Dika, Kambing Jantan, dan Gradien Mediatama menyulap buku Anak Kos Dodol menjadi Anak Kos Dodol Dikomikin.

Bagi Direktur Gradien, Ang Tek Khun, sebuah buku punya potensi divisualkan dalam bentuk film dan komik. Khun berpendapat, Anak Kos Dodol, yang berisi kumpulan kisah pengocok perut, bisa dibuat komik.

Menurut penerbit yang bermarkas di Yogyakarta ini, membuat versi komik itu menjadi lebih realistis ketika melihat produktifnya komunitas komik di Kota Gudeg tersebut. "Semua kembali ke komikusnya, karena ada yang bagus, ya jadi dibuat. Kalau tak ada yang bagus, ya batal," ujar Khun.

Komik berisi kisah keseharian anak-anak kos di Yogyakarta yang digambar oleh K. Jati itu kini sudah naik cetak tiga kali atau setara 15 ribu eksemplar. Tak dipungkiri oleh Khun bahwa popularitas komik tersebut sangat dipengaruhi oleh versi aslinya, yang punya angka penjualan jauh lebih tinggi. Melihat respons pasar tersebut, Khun berencana menerbitkan sekuel komik itu. Bahkan, ke depan Gradien memiliki beberapa naskah yang rencananya akan langsung diterbikan dalam bentuk komik.

Sementara itu, dari kota industri kreatif Bandung, penerbit CV Curhat Anak Bangsa meluncurkan komik-komik yang mereka namai graphic diary. Komik yang satu ini pada dasarnya berupa catatan harian yang dibuat dalam bentuk gambar. Salah satu buku pertamanya adalah Curhat Tita karya Tita Larasati. Dalam komik tersebut, dosen Institut Teknologi Bandung itu mengisahkan pengalamannya semasa studi di Eropa.

Tahun ini Curhat Anak Bangsa menelurkan Antologi 7, yang dikerjakan secara keroyokan oleh tujuh komikus, dan Cerita Si Lala karya Sheila Rooswitha Putri. Manajer Pemasaran Penyalur Buku Nalar, Leo Tigor Sidabutar, mengatakan, komik Sheila itulah yang penjualannya lumayan baik.

Penyalur Buku Nalar, yang menjadi distributor komik Curhat Anak Bangsa, mencatat bahwa komik Cerita Si Lala sudah laku 700 eksemplar sejak diterbitkan April lalu. "Kelihatannya memang sedikit, tapi sebenarnya angka itu terhitung lumayan bagus untuk komik yang tidak main stream," ujar Tigor.

Komik Sheila alias Lala ini memang berbeda karena atmosfer ceritanya adem dan tenang tanpa gambar hiperbolis atau pun canda dan aksi yang meledak-ledak. Lala secara wajar menuangkan pengalamannya saat mati-matian menurunkan berat badan yang melonjak setelah menikah atau masa-masanya menjadi pengantin baru, saat mengandung, dan tentang kedua ekor anjing kesayangannya.

Tigor menjelaskan bahwa cerita yang dimuat oleh ibu muda itu ternyata punya daya tarik sendiri bagi pembaca perempuan dan ibu muda yang selama ini tak menjadi pembaca komik. "Jadi, pembacanya memang segmen baru yang bukan pembaca komik yang fanatik," kata dia.

Tigor menyarankan kepada penerbit komik agar terus memperluas genre agar tak bertarung langsung dengan komik Jepang dan Amerika Serikat yang sudah lebih dulu populer. Yang jelas, Tigor meminta agar tak terus-terusan membuat komik silat, yang meski gambarnya sangat matang dan mendetil, tapi pasarnya sudah jenuh dan tak menarik bagi pembaca muda. Sementara itu, genre komik superhero yang mungkin lebih akrab dengan remaja ternyata harganya sering tak terjangkau oleh target pembacanya.

Tigor mengakui bahwa mengangkat tema dan gaya yang tak mengikuti arus memang bisa membuat kantong penerbit bobol. "Mau tak mau dua tahun pertama harus merugi, tapi harus terus terbit demi menciptakan segmen pembaca yang setia," kata dia.

Menurut Tigor, setelah Lebaran nanti paling tidak akan ada sepuluh judul komik baru, termasuk dari tiga penerbit komik yang menjadi rekanan Nalar. "Kalau komik Indonesia mau maju dan dikenal pembaca, ya mesti terus perbanyak judul dan genre juga harus makin variatif," katanya. OKTAMANDJAYA WIGUNA

[klipping] Angin Kedua Komik Lokal

Koran Tempo, Ruang Baca edisi 31 Agustus 2009

Cerita Sampul


Angin Kedua Komik Lokal

Seakan-akan tiba-tiba, sejumlah komik lokal dirilis pada waktu yang kalaupun tak bersamaan ya berdekatan. Ada Antologi Tujuh, The Trails of the Midnight Bunny, Brastaseta: Sang Penyembur Api, Mat Jagung: Kabut Manusia, Warok Surobongsang, 15 Kesalahan dalam Branding, lalu delapan judul sekaligus persembahan Penerbit M&C!.

Isi komik-komik itu bukan saja beraneka macam, melainkan juga terasa segar, kalaupun tak menarik. Contohnya Antologi Tujuh. Buku ini lahir dari prakarsa Tita Larasati, komikus yang populer dengan "genre" graphic diary. Terilhami 24 Hour Comic Day (aksi membuat komik spontan dan rampung dalam 24 jam yang diprakarsai Scott McCloud, penulis buku Understanding Comics), Tita mengumpulkan rekan-rekannya sesama komikus untuk ikut membuat tujuh halaman komik sepanjang tujuh hari kehidupan masing-masing. Hasilnya adalah kumpulan karya yang beraneka rupa dan tak sedikit yang menggelitik.

Yang lebih unik adalah 15 Kesalahan dalam Branding. Karya Herman Kwok, praktisi pencitraan perusahaan, bersama teman-temannya ini boleh dibilang merupakan komik pertama di Indonesia yang berisi pengalaman praktek di suatu bidang tertentu. Katakanlah ini sebuah komik rujukan.

Pada periode yang sama pula, awal bulan ini tepatnya, telah diumumkan pemenang Lomba Komik Jelajah Kota Tua, yang diselenggarakan oleh Departemen Budaya dan Pariwisata.

Begitu banyak komik, produksi lokal pula. Komik lokal bergairah kembali? Tampaknya.

Bagi penggemar komik yang memang merindukan hadirnya karya-karya lokal, dan sangat boleh jadi kreator komik, hal itu tentu merupakan perkembangan yang menggembirakan. Dari segi jumlah, semua judul baru yang disebut itu memang belum menyamai judul-judul hasil terjemahan --masih sangat, sangat jauh. Tapi paling tidak pembaca jadi punya pilihan yang lebih luas; kreator pun jadi punya kesempatan untuk berkarya dan menyajikan alternatif.

Tetapi, sebentar. Bergairah? Bukankah sebelum ini hal yang sama pernah terjadi pula? Dulu, pada pertengahan 1990-an, pernah muncul, misalnya, Kapten Bandung. Atau Caroq. Tapi para superhero sentuhan lokal itu lalu seperti kehabisan napas. Dan begitu pula komik-komik lain yang diterbitkan lewat gerakan indie....

Memang tidak sampai mati, sebab diam-diam satu-dua komik lokal masih dibuat; juga karakter-karakter lain dicoba dihidupkan. Dan barangkali karena tak pernah benar-benar mati itulah selalu tiba masanya ketika, ibarat permukaan air laut, pasang naik kembali tiba.

Pasang naik itu kali ini terjadi pada dua-tiga bulan belakangan. Apa sebab?

Pasti ada lebih dari satu jawaban. Sementara jawaban-jawaban atas pertanyaan itu akan dielaborasi di bagian pertama Cerita Sampul edisi ini, yang sangat boleh jadi akan segera terbit adalah kekhawatiran. Dari pengalaman yang lalu, wajar bila ada pertanyaan akankah gairah itu kembali mengempis seperti yang sudah-sudah.

Tetapi, dengan pengalaman yang sudah-sudah pula, mestinya siapa pun yang terlibat dalam penerbitan komik lokal telah belajar mengenai apa saja kekurangan yang perlu diperbaiki sehingga kali ini hasilnya bisa jauh lebih baik. Melihat berbagai komik yang telah dihasilkan, juga ide-ide kreatifnya, tak berlebihan sebenarnya bila ada optimisme.

[klipping] Komik Lokal: Semangat yang Harus Jadi Bisnis

Koran Tempo, Ruang Baca Edisi 31 Agustus 2009

Cerita Sampul


Komik Lokal: Semangat yang Harus Jadi Bisnis

  • Oleh Hikmat Darmawan

  • Sekilas lihat, tahun 2009 ini seperti ada “second wind” bagi penerbitan komik Indonesia. Banyak penerbit baru. Tapi, “tanda-tanda kebangkitan” macam begini sudah beberapa kali tiba.

    Ibarat ledakan bisnis dotcom di Amerika pada akhir 1990-an, sebermula banyak janji dan harapan di udara. Banyak dari janji itu terpenuhi, tapi lebih banyak yang kandas. Sejak bangkitnya Web 2.0 beberapa tahun belakangan, janji bisnis Internet mencuat lagi, tapi para pelakunya lebih dewasa, lebih mawas, lebih hati-hati. Begitulah juga, mestinya, para pelaku bisnis komik lokal saat ini. Lebih dewasa, lebih mawas, lebih hati-hati.

    Janji-janji

    Saya termasuk yang percaya pada janji-janji kebangkitan komik Indonesia sejak 1998 (dengan membaca gerakan komik indie pada pertengahan 1990-an), dan kemudian pada pertengahan 2000-an. Pada pertengahan 2000-an itu, saya meramalkan bahwa tanda-tanda kebangkitan komik Indonesia sudah tiba.

    Tanda-tanda itu, kurang lebih, adalah: (1) maraknya gairah menerbitkan komik-komik lokal; (2) tumbuhnya kesadaran potensi industrial dan estetis ”novel grafis”. (Ramalan saya itu tercatat, antara lain, dalam buku saya, Dari Gatotkaca Hingga Batman, Orakel, 2005). Tapi, sejak semula, saya menekankan bahwa itu baru “tanda-tanda”. Kebangkitan komik lokal itu sendiri baru mewujud ketika memenuhi syarat-syarat lain.

    Saya segarkan sedikit kenapa dua hal di atas menjadi tanda-tanda kebangkitan komik lokal. Tentu saja, gairah yang marak untuk menerbitkan komik lokal memberi harapan karena begitulah semua industri komik yang besar bermula di Jepang, Amerika, atau Eropa. Gairah penerbitan komik lokal pada waktu itu seperti kelanjutan logis dari gairah membuat komik lokal secara gerilya, indie, pada pertengahan hingga akhir 1990-an.

    Pada pertengahan 2000-an itu muncul penerbitan bermodal kecil yang berani mencetak komik lokal --beberapa adalah yang tadinya beredar secara fotokopian pada 1990-an, seperti Selamat Pagi Urbaz (Beng Rahardian). Media massa pun seperti menyambut, baik dengan berita yang cukup intens tentang komik lokal, atau (seperti Koran Tempo) membuka pintu bagi komik lokal dengan bermitra dengan komunitas komik yang ada.

    Di sisi lain, mulai muncul minat baru terhadap ”novel grafis”. Walau secara akademis istilah ini bermasalah, secara umum para pegiat komik dan sebagian pasar konsumen komik di Indonesia mulai banyak membicarakan novel grafis. Istilah ini menjadi ”seksi” karena, pertama, di Amerika pada 2000, ia telah tumbuh jadi industri baru yang bagai palu godam di industri buku, tampak terus merangsek maju, membuka jalan ke arusutama (mainstream) industri perbukuan di sana.

    Kedua, novel grafis menjadi ranah persemaian banyak inovasi estetik komik, yang membuat komik muncul menjadi sebuah seni mandiri yang mengejutkan. Kapasitas sastrawi dan seni rupa komik mencuat kebanyakan melalui jalur ”novel grafis” itu. Dari gengsi, balik lagi ke industri: Hollywood pun lantas banyak tertarik mengadaptasi novel-novel grafis laris ke dalam film seperti From Hell, V For Vendetta, Road To Perdition, History of Violence, dan American Splendor.

    Optimisme industri dan estetika novel grafis itu pun mampir ke Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Apalagi, seperti saya catat dulu, format novel grafis sesungguhnya sangat karib bagi kita: komik-komik wayang, silat, dongeng, hingga superhero ndagelan yang jaya pada 1960-an hingga 1980-an, hakikatnya berformat fisik novel grafis dengan tebal hingga ribuan halaman. Persis manga, sebetulnya.

    Kebangkitan estetis dan industri

    Maka, jika kita hendak beranjak lebih jauh dalam membicarakan ”kebangkitan komik Indonesia”, kita perlu bertanya lebih dulu: kebangkitan apanya? Hemat saya, kebangkitan komik lokal bermakna dua: kebangkitan estetis dan kebangkitan industrial.

    Kebangkitan estetis memiliki syarat-syarat yang terkait dengan lembaga-lembaga seni rupa yang ada di Indonesia. Di dalam jenis kebangkitan ini, komik harus menjadi cukup berharga untuk bisa dibicarakan secara diskursif di arena lembaga-lembaga seni seperti kritik seni/sastra, ruang-ruang pameran, hingga jurnal-jurnal seni atau medan penerbitan serupa.

    Komik-komik lokal pernah mencicipi kesempatan itu. Masuk pameran CP Bienalle, Jakarta. Menjadi salah satu agenda pameran DKJ di TIM. Diulas oleh beberapa majalah seni terhormat di Indonesia. Diapropriasi oleh para perupa angkatan baru dari Yogyakarta, Bandung, atau Jakarta. Pameran-pameran yang saya maksud bukan sekadar pameran komik yang bersifat festival, yang meniru ajang Comic Con di Amerika, yang lebih bersifat bursa produk dan sekadar ingin berjualan. Pameran-pameran yang saya maksud adalah seperti pameran komik di MoMA, New York.

    Jika ”dimainkan” dengan benar, kebangkitan estetis komik lokal bisa merentang terus ke lembaga-lembaga seni internasional, dan pada akhirnya bisa juga menarik perhatian penerbitan-penerbitan seni komik yang khusus dan bersifat alternatif, di negara-negara maju seperti Amerika, Eropa, dan Jepang.

    Dari segi industri, saya melihat ada kenaifan yang belum juga usai dari kebanyakan pegiat komik lokal. Kenaifan yang berhubungan dengan kekurangpahaman akan sifat-sifat industri perbukuan di Indonesia. Tentu, banyak yang sangat paham soal harga kertas, biaya percetakan, sampai kepada harga pasar untuk penulis, pembuat sketsa pensil, peninta, penata huruf, dan pewarna.

    Tapi, jarang yang paham bahwa pekerjaan utama industri penerbitan bukanlah sekadar menerbitkan. Berpikir industrial berarti memikirkan infrastruktur penerbitan buku/komik serta masalah-masalahnya. Sementara, banyak pegiat dan produsen komik kita pada pertengahan 2000-an itu masih dengan lugunya berfokus pada produk. Fokus sempit pada produk saja adalah bermasalah, apalagi dengan lugu.

    Contoh keluguan itu adalah ungkapan seperti: ”pokoknya, menerbitkan komik standar Marvel” --yang berarti: kisah superhero, diterbitkan berwarna, modus kerja ”ban berjalan” (ada penulis, pemensil, peninta, pewarna, penataletak), kalau perlu dengan kertas glossy. Pendekatan ini sama sekali belum bervisi industrial, karena kemudian mengabaikan daya beli masyarakat, minat masyarakat, masalah distribusi, juga kapasitas mencetak (yang berkaitan dengan strategi pengelolaan modal).

    Memilih fokus

    Jika kita ingin mendorong terciptanya kebangkitan (kembali) industri komik lokal, fokus terhadap produk yang agak bersifat ”asyik sendiri” itu mesti digeser pada fokus terhadap aspek-aspek bisnis dan industri penerbitan buku. Kesadaran pertama dan utama yang harus dimunculkan adalah kesadaran bahwa industri komik lokal bagaimanapun terkait sepenuhnya dengan keadaan industri perbukuan lokal pada umumnya. Jika industri buku kita busuk, busuklah pula industri komik kita.

    Maka, para pegiat dan produsen komik lokal mesti mempelajari sungguh-sungguh berbagai masalah dunia penerbitan kita, khususnya soal pasar dan infrastrukturnya. Mengapa, misalnya, industri perbukuan kita masih gagal mengatasi ”kutukan 3000” (yakni standar umum penerbitan 3.000 eksemplar, padahal penduduk kita 200 juta orang lebih)? Tahukah para produsen komik lokal itu bahwa sekarang standar 3.000 itu malah makin turun jadi 2.000, 1.500, bahkan 1.000? Kenapa? Apa logikanya? Apa strategi mengatasinya?

    Apakah arti ”pemasaran buku” sesungguhnya? Apakah hanya berarti promosi, ataukah mencakup definisi pasar, strategi produk dan strategi distribusi yang konprehensif dan jitu? Kalaupun sudah punya pengetahuan teoritis tentang itu, sudah benarkah penerapannya? Sudah akuratkah pemahaman lapangan para produsen komik itu tentang ”pasar”?

    Saya memandang penuh harap pada para penerbit komik lokal yang baru-baru ini marak: Cendana Art Media (Understanding Love, Brastaseta, dan Lotif Versi Pasbook), Rumah Penerbit Cleo (Sawung Kampret dan Warok Surobongsang karya Dwi Koen), Orange Publishing Merdeka (Di Bukit Selarong oleh Kostkomik), Penerbit Nalar (Mat Jagung: Kabut Manusia dan Benny & Mice: Hape), Banana Publishing (Ekspedisi Kapal Borobudur Jalur Kayu Manis dan Eendaagsche Exprestreinen), Sleepless Selene Studio (Setengah Dua), Cergam Centre (Sibuk Fesbuk), de Britz (15 Kesalahan Dalam Branding), Curhat Anak Bangsa (Seri Curhat Tita, Cerita Si Lala, Antologi 7). Juga penerbit komunitas Komik Indonesia (Andi Wijaya, dkk.) yang menerbitkan ulang komik-komik lawas. Dan penerbit besar M & C! (grup Gramedia) yang menerbitkan lini komik lokal Koloni.

    Saya tak punya cukup ruang untuk membahas mereka satu per satu di sini. Saya dengar sebagian dari mereka mulai berpikir untuk patungan membuat rak khusus komik/novel grafis lokal di toko-toko buku. Baguslah. Berarti, mereka ada perhatian pada aspek nonproduk.

    Semoga semangat menerbitkan lokal tak berhenti jadi semangat saja, tapi bertransformasi jadi bisnis penerbitan yang dapat diandalkan. Menyenangkan konsumen, menguntungkan penerbit, membahagiakan para komikus.

    Thursday, August 6, 2009

    [klipping] 9 Pertanyaan untuk Tita Larasati: Pelopor Catatan Harian Grafis

    Jurnal Nasional, 15 Juni 2009

    9 Pertanyaan untuk Tita Larasati: Pelopor Catatan Harian Grafis
    by : Grathia Pitaloka
    MENCURAHKAN isi hati (curhat) lewat kata-kata mungkin sudah biasa, namun Dwinita Larasati atau yang lebih dikenal dengan nama Tita Larasati, doktor lulusan Universitas Teknologi Delft, Amsterdam, ini lebih suka mencatat pengalaman sehari-harinya lewat gambar. Maka, setiap hari ada saja kejadian menarik yang ia tuangkan dalam jurnal pribadinya.

    Kebiasaan bercerita lewat gambar, intens ditekuninya sejak menuntut ilmu di Negeri Kincir Angin, Belanda. Melalui media itulah ia berkomunikasi dan bercerita dengan sanak saudara di Indonesia mengenai keadaan serta pengamannya tinggal di negeri orang. Maklum ketika itu fasilitas internet belum selancar sekarang.

    Tak disangka, jurnal tersebut yang awalnya hanya untuk konsumsi pribadi itu menarik minat banyak orang. Lantas, ketika pulang ke Tanah Air, datang "lamaran" untuk menerbitkan jurnal pribadi tersebut menjadi sebuah catatan harian grafis. Setelah berpikir panjang, akhirnya tawaran itu ia terima dan lahirlah tiga catatan harian grafis berjudul Curhat Tita (2008), Transition (2008), dan Curhat Tita Back to Bandung (2009).

    Catatan harian grafis merupakan sesuatu yang baru di Indonesia dan bisa dibilang Tita merupakan salah satu pelopornya. Berikut obrolan Tita dengan Jurnal Nasional beberapa waktu lalu.  

    1. Sejak kapan Anda menulis catatan harian berupa gambar?

    Sejak kecil saya sudah senang menggambar. Mungkin karena terpengaruh oleh ayah dan ibu saya yang berprofesi sebagai arsitek. Mereka selalu mendukung untuk mengembangkan bakat saya dengan mendaftarkan ke sanggar atau mengikuti lomba gambar. Ayah pula yang mengajarkan saya untuk selalu membawa kertas dan pulpen sehingga saya bisa menggambar di mana saja.

    Sejak masih berada di Indonesia sebenarnya saya sudah sering membuat catatan harian berupa gambar. Hanya saja ketika itu belum terdokumentasi dengan baik sehingga banyak yang hilang. Kemudian saat melanjutkan pendidikan ke Belanda kebiasaan menulis catatan harian itu saya lakukan lagi. Pada tahun 1995, saya mendapat kesempatan magang selama 10 bulan di sebuah biro desain di Jerman. Di sana saya tinggal di sebuah desa kecil yang sepi dari hiburan, bahkan ketika itu televisi pun saya tidak punya. Kondisi tersebut membuat saya semakin rutin membuat catatan harian berupa grafis.

    Selain untuk membunuh waktu, catatan harian itu saya gunakan sebagai sarana komunikasi dengan orang tua saya di Jakarta. Karena waktu itu belum ada internet, maka catatan itu saya kirim lewat faksimili. Ternyata oleh ibu lembar faks itu difotokopi, diperbanyak, dan disebar ke saudara-saudara. Saya sempat heran, kok ada ya orang yang mau baca catatan harian saya.

    2. Kesulitan apa saja yang Anda hadapi saat mengerjakan catatan harian grafis ini?

    Saya rasa tidak ada, kecuali masalah waktu. Saat ini saya merasa agak kesulitan untuk menggambar banyak karena harus membagi waktu dengan pekerjaan pokok saya sebagai dosen, di mana saya dituntut menyediakan waktu untuk laporan riset atau menyiapkan bahan ajar.

    Soal inspirasi, saya tidak pernah bermasalah karena cerita yang saya gambarkan berupa kejadian sehari-hari. Biasanya saya memilih kejadian yang menjadi highlight setiap hari untuk digambar. Supaya tidak lupa, saya mencatat kejadian atau inspirasi yang hinggap itu di jurnal pribadinya. Itu tidak sulit karena saya biasa menggambar cepat dan sering tanpa dihapus.

     3. Apa yang memotivasi Anda untuk menerbitkannya?

    Awalnya catatan harian itu saya peruntukan untuk konsumsi pribadi. Sampai kemudian waktu teman-teman komikus Indonesia diundang pameran di Harlem, Belanda. Ketika itu saya yang membantu mengurusi surat-suratnya. Usai mengurusi surat-menyurat, direktur pameran itu bertanya apa saya juga menggambar. Saya jawab iya, tetapi gambar saya berupa catatan harian. Lalu dia minta izin lihat dan dia bilang gambar saya harus ikut pameran. Pada mulanya saya sempat merasa minder, tetapi melihat respons pengunjung yang cukup antusias perlahan percaya diri saya pun naik.

    Sejak itu saya mulai rajin ikut pameran, di antaranya bersama komikus Belgia. Waktu itu mereka mengundang para komikus seluruh dunia untuk meng-up-load karyanya yang bertema travelling. Karena banyak karya saya yang bertema jalan-jalan, maka saya pun ikut meng-up-load. Dari sana saya juga banyak mendapatkan respons mengenai karya-karya saya.

    Pulang ke Indonesia saya diajak oleh teman-teman komikus untuk pameran di TIM. Karena belum punya buku, maka karya yang saya pamerkan berupa fotokopi dari catatan harian grafis. Saat itu ada penerbit yang menawarkan untuk dibukukan. Karena merasa nyaman dengan kesepakatan yang dibuat dan saya juga tidak merasa dieksploitasi seperti komoditi, maka tawaran itu saya terima.

    4. Apa ada tokoh khusus yang menjadi panutan Anda ketika membuat catatan harian grafis ini?

    Awalnya niat saya hanya ingin membuat catatan harian. Itu pun hanya untuk konsumsi pribadi sehingga gambar-gambarnya seringkali hanya saya yang mengerti. Kemudian karena banyak orang yang suka, perlahan saya pun mulai membuat gambar yang mudah dimengerti oleh orang banyak, ketimbang saya harus menjelaskan berkali-kali.

    Seiring dengan bertambahnya wawasan, saya jadi tahu ternyata karya berupa buku kumpulan sketsa atau catatan harian bergambar berbasiskan kehidupan nyata, sudah menjamur di Eropa dan Amerika. Saya pun membaca dan menjadikan mereka inspirasi untuk mengembangkan diri. Beberapa novel grafis yang saya suka antara lain Eddie Campbell (Skotlandia), Marjane Satrapi (Iran), Peter Pontiac (Belanda), Joulie Doucet (Prancis), dan Chris Ware (Amerika Serikat). Setelah melihat karya mereka, saya semakin yakin kalau ada tempat untuk saya.

    5. Apakah Anda salah satu pelopor catatan harian grafis di Indonesia?

    Catatan harian grafis memang belum terlalu populer di Indonesia. Pada awalnya niat saya hanya ingin memberikan pilihan bagi para pembaca cerita gambar. Jika kemudian banyak yang suka atau ikut membuat catatan harian grafis, itu saya anggap sebagai bonus.

    Kalau yang diangkat langsung dan sama dengan catatan harian, sepertinya saya memang yang pertama. Saya membuat catatan bergambar itu secara spontan, langsung, tanpa rancangan dengan pensil terlebih dulu. Isinya asli, plek (sama persis) dengan diary yang saya buat. Kalau ada tulisan salah, ya dibiarkan salah, tidak dihapus.

    6. Bagaimana respons masyarakat terhadap catatan harian grafis Anda ini?

    Cukup baik. Pasarnya sudah mulai jelas dan terlihat siapa pembacanya. Mereka yang tak suka atau tak bisa baca komik juga sudah mulai nyambung. Seperti yang saya katakan sebelumnya, pada dasarnya saya hanya ingin ada nuansa baru di komik Indonesia.

    7. Apa perbedaan antara catatan harian grafis yang Anda buat dengan novel grafis lain seperti karya Marjane Satrapi?

    Catatan harian grafis saya benar-benar dikopi dari catatan harian saya yang asli. Sehingga, kejadian didalamnya lepas dan tanpa plot, sebab saya tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Sementara Satrapi sejak awal memang sudah berniat untuk membuat sebuah memoar autobiografinya secara grafis.

    8. Apa Anda berminat mengembangkan catatan harian grafis ini menjadi sebuah film grafis seperti Persepolish?

    Saya suka film itu, keren banget! Satrapi berhasil mengutarakan substansi yang ingin ia sampaikan pada penonton. Ia menyampaikan sesuatu yang kompleks dengan sederhana dan berhasil merebut perhatian orang. Sementara cerita saya sporadic, masih belum layak menjadi kesatuan sebuah film panjang. Kalau pun dikemudian hari saya akan membuat animasi atau grafis motion pasti bentuknya bukan film panjang seperti Satrapi tetapi videoklip.

    9. Kapan Anda akan meluncurkan karya berikutnya?

    Rencananya pada ulang tahun penerbit, saya akan meluncurkan antologi yang berisi catatan harian saya dan beberapa komikus lainnya. Kalau punya waktu agak luang saya juga ingin menggambar agak serius dengan disket terlebih dahulu dan diberi warna.


    Tuesday, July 28, 2009

    [klipping] Hari-hari Bergairah dalam Komik Indonesia

    Koran Tempo, 26 Juli 2009

    U L A S A N


    Hari-hari Bergairah dalam Komik Indonesia

    Sejumlah komik baru berturut-turut diterbitkan. Bahkan komik tentang pencitraan perusahaan.

    “Kalau komik Indonesia ingin dianggap penting, ia harus masuk ke tengah persoalan yang juga penting,” Seno Gumira Ajidarma (catatan sampul pada Mat Jagung: Kabut Manusia).

    Beberapa bulan terakhir komik Indonesia menjadi masa yang paling menyenangkan. Tidak hanya karena ramai dengan rilis komik-komik terbaru, namun banyak di antara komik-komik itu yang patut mendapat pujian. Beberapa komik ini layak dipuji karena banyak aspek, mulai dari tema dan penulisan cerita, keindahan artistik, hingga kesungguhan dalam kemasan.

    Mat Jagung, komik bersambung yang terbit setiap hari Minggu di Koran Tempo, akhirnya terbit dalam bentuk buku. Tidak seluruh episode memang, namun dipilihkan beberapa episode yang merepresentasikan kiprah Mat Jagung melawan korupsi beberapa tahun terakhir, yaitu Kabut Manusia, Romansa Dinda Ida, Ramadhan Majic Wajik, dan Mas Kawin Ida. Judul beberapa episode ini mungkin tidak terdengar sarat perlawanan terhadap korupsi di negeri ini. Tapi percayalah halaman demi halaman Anda akan dibawa berkelana mengikuti aneka cerita fiktif, yang mungkin mencerminkan dunia yang tidak kita orang awam kenal.

    Tita Larasati, komikus yang populer dengan genre graphic diary-nya, memprakarsai Antologi Tujuh dan mengumpulkan rekan-rekannya sesama komikus untuk berpartisipasi sekaligus memperingati satu tahun berdirinya penerbit Curhat Anak Bangsa. Terinspirasi usahanya (dan juga sesama komikus sedunia) dalam 24 Hour Comic Day, sebuah aksi yang diprakasai Scott McCloud dengan membuat sebuah komik secara spontan dan rampung dalam 24 jam, Antologi Tujuh disajikan sedikit berbeda. Sebanyak tujuh komikus (walau akhirnya menjadi sembilan orang) membuat tujuh halaman komik sepanjang tujuh hari kehidupannya. Sebuah kumpulan karya yang beraneka ragam dan kadang mengundang senyum (terutama jika Anda termasuk tokoh yang ikut digambar).

    Sayangnya tidak semua komikus setia dengan konsep tujuh halaman komik sepanjang tujuh hari kehidupannya. “Seperti terbitan-terbitan sebelumnya, buku ini diharapkan dapat meramaikan alternatif bacaan cergam Indonesia. Juga hendak menunjukkan pada publik, betapa beragamnya gaya kita bertutur secara visual, di mana masing-masing menunjukkan keunikan dan karakternya sendiri. Juga hendak memperlihatkan bahwa kisah berdasarkan kehidupan sehari-hari pun menarik untuk disimak,” ujar Tita Larasati tentang harapan terbitnya Antologi Tujuh.

    Komikus senior Dwi Koendoro juga mengaktifkan kembali serial Sawung Kampret dalam episode Warok Surobongsang. Jika dulu hadir dari tangan beberapa penerbit dengan kemasan berukuran standar komik Eropa, kini Sawung Kampret tampil berukuran mirip standar komik Amerika. Masih mengusung resep yang sama, Dwi Koendoro membawa Sawung Kampret beradu kecerdikan melawan penjajah Belanda di Hindia Belanda.

    Mengambil genre serupa dengan Sawung Kampret, Wahyu Hidayatz membuat Brasta Seta. Berkisah tentang seorang pendekar konyol, kerap tak beruntung, namun secara kebetulan memperoleh kesaktian tak terkira dan diperebutkan dua orang putri cantik. Termasuk tebal untuk ukuran sebuah komik lokal (210 halaman!). Rasanya tak lelah membaca halaman demi halaman, sambil sesekali tertawa terpingkal-pingkal mengikuti sepak terjang jagoan kita ini.

    Komik yang paling unik dan tidak lazim di Indonesia adalah 15 Kesalahan Dalam Branding. Ditulis oleh Herman Kwok, seorang praktisi di bidang pencitraan perusahaan, ia dibantu beberapa rekannya untuk berbagi pengalaman selama bertahun-tahun kariernya di dunia tersebut. Tidak banyak komik Indonesia yang dapat disebut sebagai komik rujukan suatu bidang studi atau profesi. Pada umumnya komik lokal berkonsentrasi pada bidang pendidikan dan fiksi. Akan bagus jika apa yang dilakukan Herman Kwok ini ikut memotivasi para praktisi dan profesional untuk berbagi pengetahuan dalam bentuk komik.

    Fenomena jejaring sosial Facebook juga direfleksikan dalam komik. Beng Rahadian menyeleksi beberapa komik strip Lotif yang rutin terbit setiap hari Minggu di Koran Tempo dan disajikan dengan tampilan persis wajah Facebook, walau kisah-kisahnya tak berhubungan dengan Facebook. Cergam Rangers (yang terdiri atas Oyasujiwo, Fatahillah, Harlia Hasjim, dan lainnya) melakukan pendekatan berbeda. Dalam Sibuk Fesbuk mereka benar-benar mengingatkan penggunanya, bahwa perilaku ‘sibuk fesbuk’ sudah mendarat di dirinya.

    Roman fiksi sejarah juga ikut meramaikan khasanah komik lokal. Merdeka di Bukit Selarong mengambil setting waktu dan tempat di tengah-tengah perang Diponegoro (1825-1830), ketika beberapa remaja terlempar ke masa lalu dan terlibat pertempuran yang dinamai pihak Belanda sebagai Perang Jawa.

    Ariela Kristantina (lebih akrab dipanggil dengan Rie) mengedarkan secara terbatas karyanya the.Trails.of.the.Midnight.Bunny. Cerita yang dibuatnya memiliki beberapa pilihan akhiran. Seperti halnya kehidupan: manusia tidak diberikan pilihan untuk hidup atau tidak, namun bebas memilih jalan yang ingin ditempuhnya. Rie sudah melakukan road show untuk komiknya ke beberapa kota dan saat ini sedang singgah di kota Yogyakarta.

    Tema yang diangkat Ariela dalam komiknya adalah perihal jejak-jejak dalam kehidupan. Kalau ia menjuduli pernyataannya Manusia//Jejak, itu karena pesan dibalik semua komik bertokoh boneka kelinci ini ditujukan bagi publik penikmat karyanya manusia; dan ia pun berkisah berdasarkan pengetahuan dan pengalaman hidupnya.

    Anda generasi 80-an ingat dengan serial Mahabharata yang terbit secara berkala sebagai sisipan di majalah Ananda? Komik pewayangan karya Teguh Santosa (alm) ini dapat dikatakan sebagai re-boot karya R.A. Kosasih yang terbit 30 tahun sebelumnya. Kini pembaca dapat menikmatinya kembali dalam kemasan luks yang digarap secara serius dan teliti.

    Masih ada beberapa komik menarik yang terbit akhir-akhir ini seperti adaptasi cerita Karl May dalam Api Maut dan Pasir Maut (keduanya dari penerbit Pustaka Primatama), The Quest For Princess Zhafira (Erlangga For Kids), A Place In Your Heart (Koloni/ M&C). Selain itu, dalam waktu dekat akan terbit buku terbaru Benny & Mice berjudul Lost In Bali 2, dan beberapa judul komik fiksi dari penerbit M&C yang mencoba kembali menggarap komik lokal.

    Tidak setiap saat kita menantikan hari-hari mendatang yang penuh komik lokal bermutu.

    Surjorimba Suroto

    www.komikindonesia.com