Showing posts with label klipping. Show all posts
Showing posts with label klipping. Show all posts

Saturday, December 11, 2010

[klipping] Ayo "Ngomik" dengan Gambar, Gambar dan Gambar

Ayo "Ngomik" dengan Gambar, Gambar, dan Gambar
Sabtu, 11 Desember 2010 | 03:22 WIB

OLEH DWI BAYU RADIUS

Sekembalinya dari studi di Belanda, Tita Larasati (37) sekeluarga mengalami gegar budaya. Pekan pertama, dua anak Tita dengan gembira menyantap nasi, makanan yang tidak selalu disajikan di Belanda. Namun, setelah itu, mereka bosan. ”Bueeh...,” ujar mereka seraya menyingkirkan sepiring nasi.

Di Bandung, Tita juga harus menghadapi masalah transportasi, hewan menggelikan seperti cicak, kecoak, tikus, dan tentu saja birokrasi yang menyebalkan. Cuplikan kisah tentang keseharian Tita dituangkan dalam berlembar-lembar naskah dan sketsa komik dalam pameran Bandung Indie Comic Now di Institut Teknologi Bandung (ITB) awal Desember ini.

Tita, yang belajar ke Belanda untuk menyelesaikan jenjang S-2, saat ini bekerja sebagai Dosen Jurusan Desain Produk, Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB. Ke mana pun ia pergi, buku gambar tidak pernah tertinggal di tasnya sebagai media untuk membuat komik tentang aktivitas Tita.

Sementara itu, komik After Dark karya Azisa Noor (23) mengisahkan dua orang asing secara terpisah yang berjalan kaki di Bandung pada malam hari. Ada peristiwa aneh yang mereka temui seperti mendengar suara tangisan ketika melewati Babakan Siliwangi, melihat badak di Jalan Badaksinga, dan bertemu perempuan Belanda dengan iring-iringan rombongan putri kerajaan.

”Komik itu memang terinspirasi dari cerita teman-teman saya yang mengalami kejadian serupa,” ujar Azisa yang saat ini fokus mengerjakan komik.

Erick Sulaiman (30) yang berprofesi sebagai artis tekstur menggambarkan gambar satir tentang rutinitas Jakarta yang kerap dilanda banjir. Dikisahkan, aktor tenar Kevin Costner datang ke Jakarta pada tahun 2012 untuk pengambilan gambar sekuel film Water World. Busway diganti dengan boatway; penggemar sepeda menggenjot perahu kayuh; dan pengemis mengenakan peralatan selam.

Motivasi

Ketua Panitia Bandung Indie Comic Now Fahriza Luzan menuturkan, awal sebuah komik bisa berasal dari naskah atau gambar. Sangat mungkin ide itu didapat dari aktivitas sehari-hari. Faktor terpenting, tuangkan saja ide itu bila sudah ditemukan jika akan diekspresikan dalam bentuk komik.

”Ayo ngomik. Kalau dapat inspirasi, gambar saja. Ketemu pengamen, gambar. Lihat kebakaran, gambar. Ada tabrakan, gambar. Gambar, gambar, gambar saja...,” ujar Fahriza.

Bagi Tita, faktor paling menarik dari pembuat komik adalah motivasinya. Meski alasan mereka bisa berbeda-beda, terdapat kesamaan bahwa semua punya pesan yang ingin disampaikan. Pembuat komik juga membutuhkan saluran untuk mengeksplorasi gaya komik masing-masing.

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Manajemen Desain Komunikasi, Institut Manajemen Telkom, Imansyah Lubis, menjelaskan, meski semakin banyak generasi muda yang tertarik membuat komik, profesi komikus di Indonesia perlu lebih dihargai.

”Komikus yang diapresiasi dengan baik biasanya malah membuat komik untuk perusahaan di luar negeri. Masalah itu butuh dukungan dari publik lokal juga,” katanya.

Komikus Sweta Kartika menjelaskan, banyak rekan komikus yang mencoba memamerkan dan menyebarluaskan komik buatan mereka melalui jalur independen atau indie. Promosi komik yang diterbitkan major label pun masih dikerjakan komikus sendiri.

”Komikus masih harus bergerilya dan bekerja bakti memasarkan karyanya,” katanya.

Komik Jepang dan Amerika masih mendominasi rak toko buku. Selain itu, komik juga belum sepopuler buku bacaan lain, seperti novel dan nonfiksi. Pemerintah, selaku pelaksana program membaca, pun belum terlalu melihat komik sebagai bacaan yang penting.

”Saat ini kebanyakan pengembang komik lokal adalah pihak swasta. Itu pun lebih terkonsentrasi pada bisnis, bukan idealisme,” katanya.

Wednesday, April 28, 2010

[klipping] Graphic Diary. Apa Itu?




Tulisan SGA di Intisari edisi Maret 2010. Saya pasang lengkap sekarang, karena sudah hampir Mei :D

Thursday, March 4, 2010

[klipping] Graphic Diary, Apa Itu?

INTISARI Maret 2010

Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Baru saya scan empat halaman ini, total artikelnya ada 10 halaman. Ada 'bocoran' tentang seri curhat berikutnya: terbit Juli 2010 :)








[klipping] Kartunis Diary Pertama Tanah Air

Kabarindo Februari 2010

An article in Kabarindo Magazine. The 'interview' was conducted via email (a list of their questions, replied by my answers). The images are taken from this Multiply site (on my permission). I didn't know which drawing of mine they'd use until I bought the magazine. It's actually a 'get-well card' for a daughter of an online acquaintance in the U.S. (a fellow Duran Duran fan :D), who just broke her left arm.





Friday, November 6, 2009

[klipping] Melongok Industri Kreatif Bangkok

Artikel di Pikiran Rakyat tgl 6 Nov ini adalah laporan dari delegasi CEN.bdg (Creative Entrepreneur Network - Bandung), Febby dan Ben, ketika mereka berpartisipasi dalam acara Creative Catalysts.

Melongok Industri Kreatif Bangkok

BANGKOK dikenal sebagai surga bagi para penggila belanja karena banyak sekali produk-produk, terutama fashion, yang ditawarkan dengan harga murah dan kualitas tingkat atas. Selain dikenal sebagai salah satu tujuan belanja di Asia, Bangkok sebelumnya juga dikenal sebagai kota yang aktivitasnya sangat padat. Tak heran, 10 tahun lalu kema-cetan menjadi hal yang lumrah di kota yang memiliki slogan "City of Life" ini.

Selain dikenal sebagai tujuan berbelanja, di bidang industri kreatif Asia pun Bangkok patut diperhitungkan eksistensinya, terutama dalam bidang desain. Salah satu bukti keseriusan Bangkok dalam hal ini adalah dengan menggelar Bangkok Desaign Festival selama bulan oktober 2009.

Kunjungan tim Bandung Creative City Forum yang diwakili oleh Departemen CEN (Creative Entrepreneur Network) dan difasilitasi oleh British Council Indonesia, merupakan kesempatan baik. Kesempatan ini merupakan sarana "brainstorming", dan semoga bisa diaplikasikan di kota Bandung yang sudah mendeklarasikan diri sebagai "kota kreatif" dan tergabung di antara sembilan kota di dunia dalam "Creaticities".

Satu hal mendasar yang membuat kami angkat topi terhadap Bangkok adalah keseriusan pemerintah kota. Pemerintah kota memfasilitasi berbagai kepentingan industri kreatif di Bangkok dengan tujuan untuk lebih membuat Bangkok lebih terkenal dan "berdaya jual" tinggi di Negara Asia, dan ujung-ujungnya meningkatkan kunjungan wisatawan ke kota ini.

Salah satu bukti keseriusan pemerintah Kota Bangkok adalah dengan mendirikan dan memfasilitasi TCDC (Thailand Creative & Desaign Centre) pada tahun 2004. TCDC didirikan di bawah kontrol dari "The Office of the Prime Minister" dan didanai oleh "The Bureau of the Budget" Thailand.

Maksud pendirian TCDC adalah sebagai pusat pengembangan desain dan pusat pengembangan produk yang diharapkan dapat meningkatkan daya saing Bangkok di dunia kreatif internasional. Penempatan letak TCDC pun sangat kreatif, yaitu memanfaatkan satu lantai di salah satu pusat perbelanjaan mewah di Bangkok, yaitu Emporium.

Hal ini memudahkan masyarakat untuk mengunjungi tempat tersebut, walaupun tidak direncanakan untuk mendatangi TCDC. Desain interior juga sangat menarik. Orang yang sebelumnya tidak tahu pun akan mencoba masuk dan mungkin berkelanjutan dengan memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang disediakan.

Fasilitas yang terdapat di TCDC selain mini store yang menampilkan berbagai produk kreatif pilihan karya anak-anak muda Bangkok, juga terdapat perpustakaan yang dilengkapi dengan teknologi canggih semacam komputer di setiap meja yang dilengkapi jaringan internet. Ada pula perpustakaan material yang dinamakan "Material Connexion", dan mempunyai jaringan di New York, Cologne, Daegu, dan Milan. Terdapat ruang auditorium super gadget yang bisa dimanfaatkan untuk se-minar-seminar, kafe di dalam perpusatkaan untuk sekadar melepas penat, sampai ruang permanen yang disediakan khusus bagi para seniman memajang karya-karyanya. Singkat kata, TCDC didirikan sebagai "playground of creativity".

Selain memiliki TCDC dalam hal pengembangan industri kreatif, Pemerintah Kota Bangkok juga memfasilitasi berdirinya BACC (Bangkok Art & Culture Centre). Dengan bangunan yang lebih besar dibandingkan dengan TCDC, BACC memiliki bangunan khusus. Tidak di dalam mal, tetapi terletak di pusat kota dan bersebelahan dengan salah satu mal terbesar di kawasan Siam Complex.

Dengan demikian, sekali lagi, sangat mudah untuk diakses dan diketahui oleh publik. BACC terdiri atas tujuh lantai yang di dalamnya terdiri atas ekshibisi area seluas 3000 meter persegi. Terdapat tambahan 1000 meter persegi area ekshibisi di lantai paling bawah dan auditorium di lantai lima yang mampu menampung 222 kursi. Semua didesain khusus untuk event-event musik dan film screenings. Di lantai empat terdapat experimental space untuk performing arts seluas 350 meter persegi. Sementara itu, multifunction hall terletak di lantai satu yang terdiri atas 250 tempat duduk yang bisa digunakan untuk konferensi, pertemuan komunitas, dan lain-lain.

Selain itu, di lantai bawah banyak art library yang menyediakan fasilitas internet dan kids corner. Bagi yang kecanduan dengan belanja, bisa memenuhi kebutuhan dengan mengunjungi lantai 1-4. Segala jenis produk yang berhubungan dengan kreativitas dan beberapa restoran kecil pun banyak tersedia di lantai tersebut.

Seketika saya dan Ben langsung ingat Bandung tercinta (yang dikenal sebagai "kota kreatif"). Yang bisa kami lakukan saat itu hanya mengurut dada dan menarik napas panjang sambil berharap mudah-mudahan di Bandung cepat tersedia tempat semacam BACC, semoga!

Tujuan pendirian BACC adalah untuk membentuk salah satu tempat bertemu pelaku industri kreatif. Menyediakan program-program kebudayaan sebagai salah satu sarana keberlangsungan komunitas dan sebagai tempat bertemunya masyarakat umum dengan pelaku industri kreatif di Bangkok. BACC dioperasikan oleh BACC Foundation dengan dukungan penuh Pemerintah Kota Bangkok dalam hal keuangan dan hal-hal lainnya

**

Banyak hal-hal baru yang tidak dapat kita jumpai di Bandung terjadi di kota ini. Mulai dari keberadaan industri kreatif sampai dengan fasi-litas-fasilitas publik lain yang disediakan pemerintah kota bagi warga dan wisatawan yang datang. BTS Skytrain adalah salah satunya. Selain bagi warga lokal, skytrain merupakan solusi yang sempurna bagi turis yang datang ke Bangkok untuk berwisata.

Selain itu, taman-taman kota pun didesain sangatlah menarik dan nyaman. Sebagian besar dilengkapi dengan danau buatan kecil, bangku-bangku taman, hingga lahan untuk bermain bola basket, bola voli, sepak takraw, dan skateboard. Pedagang kaki lima pun difasilitasi dengan sangat rapi sehingga tidak menimbulkan kesan kumuh bagi keberadaan taman-taman kota tersebut.

Kondisi taman kota yang sangat bertolak belakang dengan kenyataan yang terjadi di kota Bandung tercinta. Taman kota hanya berfungsi sebagai ruang terbuka hijau dan tidak dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat karena selalu dalam kondisi terkunci serta dikelilingi pagar, dengan alasan keamanan dan keter-tiban. Padahal kalau saja dibuat sistem yang tegas dan dikelola dengan baik, bukan hal yang tidak mungkin kondisi itu akan terjadi di Bandung.

Keberadaan taman kota dan ruang publik lainnya selain sebagai sarana ruang terbuka hijau,merupakan sarana bagi pelaku industri kreatif untuk berekspresi dengan imajinasi. Pada akhirnya, bukan tidak mungkin nilai-nilai ekonomi akan didapat dari kreasi tersebut, sehingga mampu sedikit mengurangi beban pemerintah yang kadang kesulitan mengurangi angka pengangguran.

Hampir mirip dengan kondisi yang terjadi di Indonesia pada umumnya, korupsi di Bangkok pun kerap terjadi dan sudah menjadi kebiasaan buruk. Namun ada satu perbedaan mendasar yang membedakan perilaku korupsi para pejabatnya dengan kondisi yang terjadi di negeri ini, yaitu masih adanya pembangunan yang dapat dirasakan langsung oleh rakyat. Kemajuannya pun dapat dilihat secara luas. Contohnya penyediaan skytrain untuk mengatasi masalah kemacetan. Walaupun baru tersedia dua jalur yang membelah kota Bangkok dan satu jalur MRT di bawah tanah, setidaknya kondisi kemacetan yang sudah parah sedikit bisa teratasi. Bayangkan kalau seluruh kota sudah dilengkapi jalur skytrain, mungkin tingkat penjualan motor dan mobil di Bangkok akan menurun drastis.

Anekdot seperti ini pun menjadi salah satu karya grafis yang dibuat salah satu komunitas desain Bangkok dan dipamerkan di BACC, dengan sebuah gambar peta kota Bangkok yang dipenuhi jalur skytrain dengan judul ITINC yang merupakan singkatan dari "If There Is No Corruption".

Banyak hal-hal menarik yang dapat diambil hikmahnya dari perjalanan "Creaticities" kali ini. Dengan kerja sama yang baik antara pemerintah kota, komunitas, dan para professional, serta sejenak mengesampingkan kepentingan-kepentingan politis yang bisa menghambat terjadinya kemajuan, bukanlah hal yang mustahil jika cita-cita sebuah kota kreatif yang nyaman dapat segera terwujud. Dengan demikian, hal itu dapat lebih meningkatkan lagi taraf perekonomian masyarakat melalui ekonomi kreatif dan meningkatkan PAD yang berasal dari industri kreatif. Maka, julukan "Bandung kota impian", di mana semua cita-cita tentang kota yang nyaman hanyalah mimpi, dapat mempunyai arti yang sejati. Semoga…! (Febby Arhemsyah)***


 

Thursday, September 17, 2009

[klipping] Getting graphic with Indonesian comic books

Time Out Jakarta, September 2009

Curhat Tita
More like a graphic diary than a graphic novel, 'Curhat Tita' (Tita's Story') tells the story of Tita's daily life and all the bizarre things she comes across. Her light and simple sketches, which she draws using a black gel pen, started off as her way of sending news back home to Indonesia while studying abroad. By eschewing the panels found in more traditional comics, her drawings feel more intimate and personal when relating minor details from her everyday life, such as her disagreement with her Caucasian husband on how to wash the dishes. Written in English, Tita transferred exactly what she saw and observed in real life into her drawings, producing a funny, honest and sincere work of art.

Thursday, August 6, 2009

[klipping] 9 Pertanyaan untuk Tita Larasati: Pelopor Catatan Harian Grafis

Jurnal Nasional, 15 Juni 2009

9 Pertanyaan untuk Tita Larasati: Pelopor Catatan Harian Grafis
by : Grathia Pitaloka
MENCURAHKAN isi hati (curhat) lewat kata-kata mungkin sudah biasa, namun Dwinita Larasati atau yang lebih dikenal dengan nama Tita Larasati, doktor lulusan Universitas Teknologi Delft, Amsterdam, ini lebih suka mencatat pengalaman sehari-harinya lewat gambar. Maka, setiap hari ada saja kejadian menarik yang ia tuangkan dalam jurnal pribadinya.

Kebiasaan bercerita lewat gambar, intens ditekuninya sejak menuntut ilmu di Negeri Kincir Angin, Belanda. Melalui media itulah ia berkomunikasi dan bercerita dengan sanak saudara di Indonesia mengenai keadaan serta pengamannya tinggal di negeri orang. Maklum ketika itu fasilitas internet belum selancar sekarang.

Tak disangka, jurnal tersebut yang awalnya hanya untuk konsumsi pribadi itu menarik minat banyak orang. Lantas, ketika pulang ke Tanah Air, datang "lamaran" untuk menerbitkan jurnal pribadi tersebut menjadi sebuah catatan harian grafis. Setelah berpikir panjang, akhirnya tawaran itu ia terima dan lahirlah tiga catatan harian grafis berjudul Curhat Tita (2008), Transition (2008), dan Curhat Tita Back to Bandung (2009).

Catatan harian grafis merupakan sesuatu yang baru di Indonesia dan bisa dibilang Tita merupakan salah satu pelopornya. Berikut obrolan Tita dengan Jurnal Nasional beberapa waktu lalu.  

1. Sejak kapan Anda menulis catatan harian berupa gambar?

Sejak kecil saya sudah senang menggambar. Mungkin karena terpengaruh oleh ayah dan ibu saya yang berprofesi sebagai arsitek. Mereka selalu mendukung untuk mengembangkan bakat saya dengan mendaftarkan ke sanggar atau mengikuti lomba gambar. Ayah pula yang mengajarkan saya untuk selalu membawa kertas dan pulpen sehingga saya bisa menggambar di mana saja.

Sejak masih berada di Indonesia sebenarnya saya sudah sering membuat catatan harian berupa gambar. Hanya saja ketika itu belum terdokumentasi dengan baik sehingga banyak yang hilang. Kemudian saat melanjutkan pendidikan ke Belanda kebiasaan menulis catatan harian itu saya lakukan lagi. Pada tahun 1995, saya mendapat kesempatan magang selama 10 bulan di sebuah biro desain di Jerman. Di sana saya tinggal di sebuah desa kecil yang sepi dari hiburan, bahkan ketika itu televisi pun saya tidak punya. Kondisi tersebut membuat saya semakin rutin membuat catatan harian berupa grafis.

Selain untuk membunuh waktu, catatan harian itu saya gunakan sebagai sarana komunikasi dengan orang tua saya di Jakarta. Karena waktu itu belum ada internet, maka catatan itu saya kirim lewat faksimili. Ternyata oleh ibu lembar faks itu difotokopi, diperbanyak, dan disebar ke saudara-saudara. Saya sempat heran, kok ada ya orang yang mau baca catatan harian saya.

2. Kesulitan apa saja yang Anda hadapi saat mengerjakan catatan harian grafis ini?

Saya rasa tidak ada, kecuali masalah waktu. Saat ini saya merasa agak kesulitan untuk menggambar banyak karena harus membagi waktu dengan pekerjaan pokok saya sebagai dosen, di mana saya dituntut menyediakan waktu untuk laporan riset atau menyiapkan bahan ajar.

Soal inspirasi, saya tidak pernah bermasalah karena cerita yang saya gambarkan berupa kejadian sehari-hari. Biasanya saya memilih kejadian yang menjadi highlight setiap hari untuk digambar. Supaya tidak lupa, saya mencatat kejadian atau inspirasi yang hinggap itu di jurnal pribadinya. Itu tidak sulit karena saya biasa menggambar cepat dan sering tanpa dihapus.

 3. Apa yang memotivasi Anda untuk menerbitkannya?

Awalnya catatan harian itu saya peruntukan untuk konsumsi pribadi. Sampai kemudian waktu teman-teman komikus Indonesia diundang pameran di Harlem, Belanda. Ketika itu saya yang membantu mengurusi surat-suratnya. Usai mengurusi surat-menyurat, direktur pameran itu bertanya apa saya juga menggambar. Saya jawab iya, tetapi gambar saya berupa catatan harian. Lalu dia minta izin lihat dan dia bilang gambar saya harus ikut pameran. Pada mulanya saya sempat merasa minder, tetapi melihat respons pengunjung yang cukup antusias perlahan percaya diri saya pun naik.

Sejak itu saya mulai rajin ikut pameran, di antaranya bersama komikus Belgia. Waktu itu mereka mengundang para komikus seluruh dunia untuk meng-up-load karyanya yang bertema travelling. Karena banyak karya saya yang bertema jalan-jalan, maka saya pun ikut meng-up-load. Dari sana saya juga banyak mendapatkan respons mengenai karya-karya saya.

Pulang ke Indonesia saya diajak oleh teman-teman komikus untuk pameran di TIM. Karena belum punya buku, maka karya yang saya pamerkan berupa fotokopi dari catatan harian grafis. Saat itu ada penerbit yang menawarkan untuk dibukukan. Karena merasa nyaman dengan kesepakatan yang dibuat dan saya juga tidak merasa dieksploitasi seperti komoditi, maka tawaran itu saya terima.

4. Apa ada tokoh khusus yang menjadi panutan Anda ketika membuat catatan harian grafis ini?

Awalnya niat saya hanya ingin membuat catatan harian. Itu pun hanya untuk konsumsi pribadi sehingga gambar-gambarnya seringkali hanya saya yang mengerti. Kemudian karena banyak orang yang suka, perlahan saya pun mulai membuat gambar yang mudah dimengerti oleh orang banyak, ketimbang saya harus menjelaskan berkali-kali.

Seiring dengan bertambahnya wawasan, saya jadi tahu ternyata karya berupa buku kumpulan sketsa atau catatan harian bergambar berbasiskan kehidupan nyata, sudah menjamur di Eropa dan Amerika. Saya pun membaca dan menjadikan mereka inspirasi untuk mengembangkan diri. Beberapa novel grafis yang saya suka antara lain Eddie Campbell (Skotlandia), Marjane Satrapi (Iran), Peter Pontiac (Belanda), Joulie Doucet (Prancis), dan Chris Ware (Amerika Serikat). Setelah melihat karya mereka, saya semakin yakin kalau ada tempat untuk saya.

5. Apakah Anda salah satu pelopor catatan harian grafis di Indonesia?

Catatan harian grafis memang belum terlalu populer di Indonesia. Pada awalnya niat saya hanya ingin memberikan pilihan bagi para pembaca cerita gambar. Jika kemudian banyak yang suka atau ikut membuat catatan harian grafis, itu saya anggap sebagai bonus.

Kalau yang diangkat langsung dan sama dengan catatan harian, sepertinya saya memang yang pertama. Saya membuat catatan bergambar itu secara spontan, langsung, tanpa rancangan dengan pensil terlebih dulu. Isinya asli, plek (sama persis) dengan diary yang saya buat. Kalau ada tulisan salah, ya dibiarkan salah, tidak dihapus.

6. Bagaimana respons masyarakat terhadap catatan harian grafis Anda ini?

Cukup baik. Pasarnya sudah mulai jelas dan terlihat siapa pembacanya. Mereka yang tak suka atau tak bisa baca komik juga sudah mulai nyambung. Seperti yang saya katakan sebelumnya, pada dasarnya saya hanya ingin ada nuansa baru di komik Indonesia.

7. Apa perbedaan antara catatan harian grafis yang Anda buat dengan novel grafis lain seperti karya Marjane Satrapi?

Catatan harian grafis saya benar-benar dikopi dari catatan harian saya yang asli. Sehingga, kejadian didalamnya lepas dan tanpa plot, sebab saya tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Sementara Satrapi sejak awal memang sudah berniat untuk membuat sebuah memoar autobiografinya secara grafis.

8. Apa Anda berminat mengembangkan catatan harian grafis ini menjadi sebuah film grafis seperti Persepolish?

Saya suka film itu, keren banget! Satrapi berhasil mengutarakan substansi yang ingin ia sampaikan pada penonton. Ia menyampaikan sesuatu yang kompleks dengan sederhana dan berhasil merebut perhatian orang. Sementara cerita saya sporadic, masih belum layak menjadi kesatuan sebuah film panjang. Kalau pun dikemudian hari saya akan membuat animasi atau grafis motion pasti bentuknya bukan film panjang seperti Satrapi tetapi videoklip.

9. Kapan Anda akan meluncurkan karya berikutnya?

Rencananya pada ulang tahun penerbit, saya akan meluncurkan antologi yang berisi catatan harian saya dan beberapa komikus lainnya. Kalau punya waktu agak luang saya juga ingin menggambar agak serius dengan disket terlebih dahulu dan diberi warna.


Friday, July 17, 2009

[klipping] Tita Larasati Terinspirasi Tintin

Pikiran Rakyat, Sabtu 18 Juli 2009



Tita Larasati Terinspirasi Tintin

INSPIRASI bisa datang dari mana saja, tanpa diduga. Tita Larasati (38) merasakan hal itu. Untuk membuat coretan dan sketsa dari tangannya, ibu dua anak ini terinspirasi dari seluruh kejadian yang ditemui dalam kesehariannya. Tak ketinggalan, dari tokoh kartun favoritnya Tintin.

Tita yang mulai dikenal secara luas sejak menerbitkan catatan harian grafis berjudul "Curhat Tita", memang tumbuh dengan komik seperti Asterix-Obelix, Tintin, Trigan, dan majalah dari Belanda, Eppo. Orang tua Tita yang berprofesi sebagai arsitek, membuatnya dekat dengan dunia corat-coret sejak berusia dini.

"Influence ngomik (membuat komik) dari mana-mana, terutama Tintin," ujar Tita, ditemui di Bloemen Cafe, Jln. Bosscha Bandung, Sabtu (11/7) sore. Saat itu, Tita dan beberapa temannya dari komunitas Tintin Indonesia memang sedang mengadakan acara kopi darat.

Membicarakan Tintin, langsung saja Tita bersemangat mengeluarkan merchandise Tintin miliknya, beserta jaminan sertifikat keasliannya. Sejak masih kuliah di Belanda beberapa tahun silam, ia memang sudah mengoleksi benda-benda yang berhubungan dengan detektif berjambul itu. "Soalnya, komik kan sudah dianggap sebagai perjalanan hidupku. Dulu sebelum punya anak, aku paling suka bercerita tentang perjalanan dan itu sangat terinspirasi oleh Tintin. Kalau sekarang sih, lebih sering cerita tentang anak-anak," ujar Tita, yang kini tinggal di kawasan Kanayakan Bandung ini.

Adapun cerita grafis yang paling dirasakannya punya arti mendalam, yaitu mengenai kisahnya melahirkan. Di dalamnya, ada proses persalinan dari menit ke menit, termasuk detik-detik kontraksi. (Endah Asih/"PR")***

Saturday, June 27, 2009

[klipping] Yuk, Curhat Lewat Gambar!

Tabloid Nova, Juni 2009

Yuk, Curhat Lewat Gambar!

Saat mengajar, Tita juga sering mengenakan kaos oblong, kemeja flannel, dan jins belel (Foto : Ester Sondang)

Diary Graphic atau komik curhat memang sudah biasa di luar negeri. Kendati di sini masih tergolong baru, toh, hasil karya dua ibu ini langsung diminati.

Curhat Tita karya Tita Larasati (37), ternyata memberi banyak inspirasi pada pembacanya. Bisa dibilang, Tita adalah salah satu pelopor penulis diary graphic di Indonesia saat ini.

Jika orang lain menuliskan kejadian sehari-hari yang dialaminya, Tita memilih media gambar. Ia melukiskan suasana hati, pikiran, bahkan potret dirinya secara apa adanya. Di bukunya, perempuan yang sejak kecil suka menggambar ini melukiskan dirinya sebagai sosok bertubuh tinggi gempal, rambut pendek yang jarang tersisir, kacamata, kemeja flanel kotak-kotak yang tidak terkancing lengkap dengan kaos oblong di dalamnya, plus jins belel.

Laiknya sebuah buku harian, Ibu dari Prasidya Dhanurendra Zijlstra (8) dan Syastira Lindri Dwimaharsayani Zijlstra (5) ini menggambar ceritanya dengan alur jelas, seperti komik. “Saya lebih suka menyebutnya diary graphic,” katanya sambil menjelaskan, Asterix, Tintin, dan lainnya, “Jelas disebut komik karena si pembuatnya sadar akan cerita yang dia buat. Si pembuat membuat jalan cerita semenarik mungkin dengan tokoh, lokasi, dan naskah yang sangat terencana. Benar-benar keep the reader on the story.”

Sedangkan, kata Tita lagi, “Yang saya buat, benar-benar apa adanya. Apa yang saya lihat dan amati, itu yang saya gambar. Beda lagi dengan graphic novel yang sekarang juga lagi happening. Itu merupakan novel dalam gambar, sehingga ceritanya lebih padat.”

Tak Yakin Laku

Yang jelas, sejak kecil, Tita sudah menyintai dunia gambar. Ayahnya yang arsitek, selalu membawa buku sketsa dan cat air ke mana-mana. Kebiasaan itulah yang menular ke wanita bernama asli Dwinita Larasati ini.

Begitulah. Lulus dari jurusan Desain Produk ITB, ia memilih melanjutkan kuliah S2 di Design Academy Eindhoven, Belanda, tahun 1998. Di sana pun, ia terus menggambar. Banyak teman kuliahnya yang senang membaca dan selalu menunggu gambar-gambar Tita. “Biasanya, kalau ada teman yang ingin memiliki gambar saya, akan saya kopikan. Jadi, aslinya tetap untuk saya. Sekarang sudah masuk buku sketsa ke-11.”

Dari Eindhoven, Tita lompat ke Amsterdam, mengambil S3 di Delft University of Technology. Nah, tidak jauh dari rumahnya di sana, ada sebuah toko komik terkemuka, Lambiek. Saat Lambiek mengadakan acara Amsterdam 24 hour Comic Day, Tita ikut serta. Tak lama berselang, karyanya terpilih di 24 Hour Comic Highligths di Amerika Serikat.

Ketika kembali ke Tanah Air tahun 2007, istri Sybrand Zijlstra ini dilirik penerbit Cinta Anak Bangsa. “Mereka mau membukukan diary graphic saya. Sempat tak percaya diri mulanya. Apa, ya, ada yang suka dan laku?” kisah dosen ITB ini. Ternyata bukunya, Curhat Tita, laris-manis. “Sekarang sedang menyiapkan terbitan kedua,” ujarnya senang.
Ester Sondang




Thursday, November 27, 2008

[klipping] "Curhat" dan Sketsa Kehidupan Tita Larasati

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/11/28/01203044/curhat.dan.sketsa.kehidupan.tita.larasati
KOMPAS, Jumat 28 November 2008

FRANS SARTONO

”Curhat /choor-hat/ singkatan dari curahan hati.” Begitu Tita Larasati memberi catatan pada kata pengantar karyanya, Curhat Tita. Ini adalah catatan harian grafis yang berbentuk serupa komik . Curhat, dan catatan kehidupan dalam bentuk sketsa itu menjadi komik alternatif yang mengajak pembaca untuk melihat dunia nyata secara lebih dekat.

Tita Larasati (36) adalah ibu dengan dua anak bernama Dhanu (7) dan Lindri (5). Setiap pagi, doktor lulusan Universitas Teknologi Delft, Belanda, 2007, itu mengantar anak-anaknya ke sekolah menggunakan angkot, alias angkutan kota. Setelah itu, ia mengayuh sepeda ke tempatnya mengajar di Jurusan Desain Produk Institut Teknologi Bandung (ITB).

Dari rumahnya di kawasan Kanayakan, Dago, Bandung, Jawa Barat, Tita mula-mula harus menuntun sepeda karena jalan di kampung menanjak tajam. Selepas itu, ia tak perlu mengayuh karena jalan menurun terus menuju Kampus ITB di Taman Sari. Tita akan melesat di tengah jalanan Bandung yang penuh mobil angkot atau angkutan kota serta sepeda motor. Ia akan melewati penjaja serabi, nasi kuning, hingga bubur ayam di sekitar Simpang Dago.

Setelah dari kampus, ia harus bekerja keras mengayuh sepeda pulang ke rumah yang menanjak terus. Ketika ia sedang terengah- tengah mengayuh itu, sering terdengar sapaan ramah dari orang di sepanjang jalan. Enggak capek neng!” Atau juga godaan yang agak iseng, seperti ”Eeeh… awas itu rodanya muter!”

”Dari hari ke hari segala teriakan seperti itu terdengar,” begitu bernama lengkap Dwinita Larasati itu mencatat ”ritual” paginya dalam Curhat Tita, sebuah buku harian grafis atau graphic diary terbitan CV Curhat Anak Bangsa, Bandung, Maret 2008.

Bentuk catatan ini bisa disebut sebagai komik, tanpa alur cerita. Buku itu berisi catatan kehidupan sehari-hari Tita dalam sketsa. Ia menggambarnya dengan pena Pilot Gel –I warna hitam. Cetakan pertama sebanyak 3.000 eksemplar kini tinggal tersisa ratusan buku. Pekan ini di Bandung, Tita akan meluncurkan lanjutan diary grafisnya berjudul Curhat Tita Back in Bandung.

Judul itu merujuk pada keberadaan kembali Tita di Kota Bandung setelah sepuluh tahun lebih tinggal di Belanda. Tita kembali ke ITB, almamaternya, untuk mengajar di jurusan Desain Produksi. Perempuan kelahiran Jakarta tahun 1972 itu kuliah di jurusan Desain Produksi, 1991. Tahun 1998 ia ke Belanda untuk melanjutkan studi program S-2 dan S-3 hingga mendapat gelar doktor di Universitas Teknologi Delft tahun 2007. Di Amsterdam, dia menikah dengan Sybrand Zijlstra yang berdarah Belanda. Tahun 2007 itu juga keluarga Tita boyongan ke Bandung berikut dua anak mereka.

Keseharian keluarga itu menjadi catatan menarik dalam Curhat Tita Back in Bandung. Tercatat dalam buku itu antara lain tentang anak-anaknya yang beradaptasi di negeri tropis. Misalnya tentang keheranan Dhanu tentang kulitnya yang tak juga berubah sawo matang setelah sebulan tinggal di Indonesia. Atau juga pengalaman naik angkot yang bagi anak-anak itu merupakan petualangan mengasyikkan. Sebab untuk pertama kali dalam hidup, mereka naik mobil dengan pintu terbuka.

Kartunis Dwi Koendoro mencatat garis skets dan teks Tita sebagai ceria, nakal, dan menggelikan. ”Kita diajak naik angkot, berlomba naik sepeda bersama keluarganya…,” kata Dwi Koen di sampul belakang Curhat Tita Back in Bandung.

Tidak untuk Pasar

Catatan harian dalam bentuk sketsa itu dibuat Tita layaknya orang mengisi buku harian. Hanya saja, Tita membuatnya tidak dalam tulisan, tetapi sketsa. Catatan bergambar itu dibuat Tita secara spontan, langsung, tanpa rancangan dengan pensil terlebih dulu. Di dalamnya tercatat proses persalinan dari menit ke menit, termasuk detik-detik kontraksi. Atau juga ketika Tita jijik saat kejatuhan cicak. Catatan harian itulah yang menjadi materi Curhat Tita dan buku lanjutannya.

”Isinya asli, plek (sama persis), dengan diary yang saya buat. Kalau ada tulisan salah, ya dibiarkan salah, tidak dihapus,” kata Tita sambil menunjukkan sembilan buku harian berisi ratusan halaman dengan ribuan coretan. Ia juga menunjukkan ratusan kertas ukuran A 4 yang berisi penuh sketsa.

”Jadi, saya membuat ini tidak untuk menyenangkan pasar. Ketika saya menggambarkan semua itu, saya hanya mencatatkan apa yang saya alami setiap hari. Ini seperti ketika orang lain membuat puisi atau lagu,” kata Tita di rumahnya yang teduh yang dirancang oleh arsitek yang adalah ayahnya sendiri.

Ayah dan ibu Tita adalah arsitek sehingga sejak kecil ia dekat dengan dunia corat-coret. Dia juga tumbuh dengan komik seperti Asterix, Tintin, Trigan, plus komik dari Eppo, majalah komik dari Belanda. Ia juga mengenal komik wayang jenis Mahabarata dari RA Kosasih yang merupakan bacaan eyang atau kakeknya.

Tahun 1995, ketika mendapat kesempatan magang selama sepuluh bulan di sebuah biro desain di Jerman, Tita suka berkirim catatan harian dalam bentuk sketsa ke orangtuanya di Jakarta. Sketsa itu ia kirim lewat faksimile. Oleh ibunya, lembar faks itu difotokopi, diperbanyak, dan disebar ke saudara-saudara Tita. Itulah cikal bakal dari catatan harian grafis yang kini menjadi buku itu. Ratusan halaman sketsa itu telah terkumpul dalam delapan buku. Sebagian diseleksi dan terkumpul dalam Curhat Tita dan buku lanjutannya.

Tahun 2007, sekembali dari Belanda, Tita menggelar pameran tunggal ”Curhat Tita” di Spaces59, Bandung. Dari pameran itulah kemudian tergagas untuk mewujudkan buku Curhat Tita. Kebetulan ada penerbit yang kreatif, jeli, dan percaya diri untuk menerbitkan curhat-nya Tita. Mereka ingin memberi pilihan lain kepada masyarakat, selain komik semacam manga, komik Jepang yang banyak beredar di toko buku itu. Atau juga komik ala Amerika.

”Kalau ada komik Indonesia di toko buku, itu justru komik lama yang tokohnya jagoan,” kata Tita menyebut komik era Ganes Th dengan tokoh para jagoan dari dunia persilatan.

Dari cetakan pertama yang 3.000 eksemplar itu, Tita dan penerbit bisa membaca bahwa catatan harian grafis Tita mendapat respons pasar. ”Dalam Curhat Tita Back in Bandung, pasarnya sudah mulai jelas dan kebaca siapa pembacanya. Mereka yang tak suka atau tak bisa baca komik sudah mulai nyambung,” kata Tita yang juga membaca respons pasar itu lewat situs Internet Tita di www.esduren.multiply.com. ”Teman-teman ingin ada nuansa baru di komik Indonesia,” kata Tita.

Suasana baru itu datang dari catatan harian tentang kehidupan sehari-hari seorang ibu dengan dua anak kecil yang setiap hari mengantar anak-anaknya ke sekolah naik angkot di Bandung.

Pengamat komik, Yasraf Amir Piliang, mencatat Curhat Tita sebagai karya yang mengajak pembaca untuk ”...merebut kembali dunia harian yang nyata, yang nyaris tergilas oleh hiruk pikuk dunia urban, nyinyir media massa, dan banalitas dunia hiburan…”.

Saturday, November 22, 2008

[klipping] Belajar dari Dora

Kompas 22 Nov 2008
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/11/22/13095931/potret

Potret
Sabtu, 22 November 2008 | 13:09 WIB

 Tita Larasati
BELAJAR DARI DORA

Tita Larasati, seniman komik, membebaskan Lindri, anaknya yang berumur 5 tahun, menonton acara edutainment, Dora The Explorer, di televisi. Pasalnya, dari percakapan Dora, Lindri bisa belajar bahasa Inggris sambil berhibur diri. "Dia bisa menirukan kata-kata Dora dengan intonasi yang persis," kata Tita yang tengah menyiapkan peluncuran komiknya pekan depan.

"Jadi, saya setuju Lindri nonton Dora karena selain belajar bahasa Inggris, Dora juga mengajak anak kreatif belajar, menghitung, menggambar, atau lainnya," kata Tita, Jumat (21/11).

Kebetulan anak Tita juga mendapat pelajaran bahasa Inggris di Taman Kanak-kanak Cendekia, Cigadung. Maka, Lindri bisa belajar dari berbagai sumber. "Kalau lagi main rumah-rumahan di rumah, bahasanya suka campur-campur, bahasa Indonesia dan Inggris. Tapi, dia tidak bisa bahasa Sunda karena tidak diajarkan di sekolah, he-he-he..." (XAR)


Saturday, October 11, 2008

[klipping] Generasi Komik Semau Gue

Kompas 11 Oktober 2008

Generasi Komik Semau Gue
Sabtu, 11 Oktober 2008 | 11:15 WIB

Oleh Herlambang Jaluardi

"Komik saya, ya terserah saya." Kira-kira begitulah ujaran yang pantas disematkan kepada komunitas pembuat komik di Bandung saat ini. Pakem baku komik dibenturkan dengan semangat "semau gue" itu.

Garis kaku panel untuk membatasi suatu adegan tidak lagi menjadi suatu keharusan. Susunan adegan dibiarkan berserak di setiap lembar. Gaya ini tampak di dua komik karya Tita Larasati: Curhat Tita dan Transition. Komiknya tidak tebal sampai ratusan halaman. Gambarnya pun masih menyisakan arsiran-arsiran bolpoin dan tidak diwarnai, seperti sketsa yang belum selesai. Hanya sampulnya yang penuh warna.

Cerita kedua komik ini sederhana dan tidak bermaksud melucu ataupun menggurui. Benar-benar hanya menceritakan kehidupan sehari-hari Tita dan keluarga serta lingkungan tempat mereka tinggal.

Kalaupun ternyata ada kegetiran dan kelucuan, memang kedua unsur itu lazim ada di setiap fragmen hidup, termasuk Tita. Karena itu, ada tulisan "graphic diary" di setiap sampul komik yang diterbitkan CV Curhat Anak Bangsa tahun 2008 ini.

Dalam kata pengantar komik Curhat Tita, Tita menuliskan, pada mulanya ia menjadikan gambar sebagai "bentuk laporan" kegiatan sehari-hari di sebuah keluarga saat magang di Jerman tahun 1995. Ia mengirim gambar itu kepada orangtua di Jakarta melalui faksimile. Lembaran faksimile ini kemudian difotokopi untuk dibagikan kepada sanak saudara.

Kebiasaan berkirim gambar ini terus berlangsung hingga ia beralih menggunakan buku sketsa. Hal ini membuat pengarsipan gambarnya lebih terjamin. Gambar-gambar itulah yang terangkum di Curhat Tita.

Ayam goreng kampung

Kejadian yang ditemui sehari-hari juga menjadi sumber ide bagi Erick Sulaiman. Sebagian kecil karyanya terangkum dalam Perpustakaan Sketsa: Kumpulan Komik Strip Gila terbitan PT Kumata Indonesia (Desember, 2007).

Pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Nasional ini menjadikan hal biasa menjadi lebih komikal. Di jalan-jalan Kota Bandung, Erick kerap melihat menu makanan ayam goreng kampung. Frasa itu memberi rangsangan untuk membayangkan seekor ayam yang sedang menggoreng sebuah perkampungan. Itulah yang ia gambar menjadi komik strip.

Naif dan bermuatan lokal seakan menjadi ciri karyanya. Salah satu komik stripnya menceritakan keluarga Bodo (keluarga kelinci) sedang berwisata di Lembang. Dalam perjalanan mereka berhenti mengisi perut. Setelah menemukan warung, mereka makan dengan lahap, dan bahkan akan menambah. Niat dibatalkan setelah mereka tahu bahwa yang mereka makan adalah daging kelinci. Era internet

Komikus bernama pena Ivy Black mengambil tema keseharian yang lebih ekstrem daripada dua komikus tadi. Ia menerbitkan komik tentang hubungan cinta sesama laki-laki dengan judul Sunset Glow.

"Seru aja melihat hubungan sesama laki-laki itu," kata perempuan kelahiran Bandung ini. Ivy melabeli komiknya dengan batasan umur 18 tahun ke atas. Ia mengaku terinspirasi dari film kartun tentang homoseksual yang banyak beredar di internet. Internet pula yang dipilih Ivy sebagai salah satu media berpromosi.

"Aku enggak mungkin menjual komik terang-terangan. Lewat internet dan jaringannya, orang bisa menghubungi kalau ingin mendapatkan komik aku," kata Ivy yang punya beberapa alamat situs web ini.

Dunia maya

Dunia maya juga menjadi ruang bagi Tita dan Erick memublikasikan karya mereka dengan segera. Halaman web Tita menampilkan beberapa karyanya yang belum dipublikasikan dan mempromosikan dua komik yang sudah terbit. Begitu juga dengan web milik Erick.

Bahkan, komik strip yang sudah dicetak awalnya sudah ia pajang di web-nya. Setelah versi cetaknya terbit, ia menghapus komik itu. Kini, beberapa komik baru pun sudah ia unggah dan bisa dibaca pengunjung web. "Nantinya, komik baru itu juga akan dihapus kalau sudah dicetak," kata Erick.

Memajang karya di internet bagi Erick adalah upaya "memasarkan" namanya sebagai komikus. Pembajakan karya yang rawan terjadi di jagat maya pun tidak ia hiraukan. "Semakin banyak orang men-download komik saya dari internet, semakin banyak orang yang mengakui karya saya," katanya.

Begitulah, jagat per-komik-an di Bandung terus bergulir dengan menerbitkan "komik-komik" baru di setiap generasi.


 

Sunday, September 21, 2008

Sketsa Curhat ttg Bandung di PR

Ultah Kota Bandung jatuh tgl 25 Sept nanti, tapi berhubung halaman ekstra (Selisik) biasanya terbit tiap Senin, maka hari ini Pikiran Rakyat sudah membahas ttg Bandung dalam rangka hari jadinya ini di bagian Selisik itu. Di halaman tengah Selisik itu ada sketsa2 'curhat' yang saya buat khusus untuk edisi ini. Rencananya, masing2 sketsa itu dibuat untuk direspon oleh Pidi dengan sketsa2nya sendiri, tapi sayangnya nggak jadi. (Deadline nggak kekejar ya Pid?) Di situ juga ada foto saya yang diambil waktu wawancara beberapa bulan lalu dengan PR, di-crop, posenya jadi agak2 gak jelas.. :P

Print gambar yang di halaman tengah ini hitamnya nggak tajam. Dan, gambar2 yang tadinya rencananya berupa fragmen2 terpisah yang didampingi sketsa2 Pidi, jadinya disatukan di bentangan halaman tengah. Agak aneh aja ngeliatnya ter-magnify sekian besar (apa ini sebabnya jadi blawur?). Lalu, saya disebut mengambil MA dan PhD di "The Design Academy Delft University of Technology".. kesannya itu satu sekolah :D Tepatnya: MA dari Design Academy Eindhoven (di Eindhoven) dan PhD dari Delft University of Technology (di Delft).

Anyway, semoga pesen sketsa2 itu nyampe', bisa dinikmati pembaca dan nyambung dengan artikel2 Selisik hari ini: Dari Kota Kembang ke Kota Kreatif, Sulitnya Mengembalikan "City of Excellence", dan Mendorong Perubahan Melalui Kreatifitas. Worth reading. Selamat ulang tahun, Bandung, semoga dirimu nggak makin salah diurus!    

Gambar2 lain ada di sini: http://esduren.multiply.com/photos/album/121

Friday, August 15, 2008

Sunday, August 10, 2008

[klipping] Menolak Krisis Energi Kreatif

Artikel selengkapnya ada di Kompas Minggu 10 Agustus 2008: http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/10/0142403/menolak.krisis.energi.kreatif

...

Orisinalitas ini pula yang ditawarkan Dwinita Larasati, komikus yang doktor dari Delft Technical University, Belanda. Selain mengajar di Jurusan Desain Produk Institut Teknologi Bandung, ibu dua anak yang biasa dipanggil Tita ini menyisihkan waktu untuk menggambar.

Jenis komiknya graphic diary, semacam komik grafis yang bercerita mengenai perjalanan seseorang. Di situ, tokoh utama adalah Tita sendiri.

”Sejauh ini belum ada yang membuat komik graphic diary dengan karakter tokoh yang dikreasi sendiri dari banyak pengaruh, tidak berkiblat ke Jepang atau Amerika,” kata Tita.

Komik Tita, 40075 km Comics, diterbitkan di Belgia, berisi perjalanan hidup Tita. Angka 40075 adalah diameter bumi.

Ketika ada acara 24 Hour Comics Day di AS, dari 1.000-an peserta berbagai negara, Tita dengan komiknya Transition masuk sepuluh besar yang kesemuanya lalu diterbitkan dalam Highlight 2006.

Komik Tita yang lain, Curhat Tita, dijual dalam bentuk buku dan karakter serta adegan di dalamnya dijadikan pin, kantong telepon seluler, dan tas.

...

Artikel2 terkait:
- "Urang" Bandung "Keur" di Jakarta
- Biarpun Kere, tetapi Kreatif

Thursday, August 7, 2008

[klipping] Kurangi Dampak Kerusakan dengan "Eco-Design"

Pikiran Rakyat - Kampus, 7 Agustus 2008

Kurangi Dampak Kerusakan dengan "Eco-Design"

SEJATINYA, desain adalah alat mutakhir untuk menyampaikan ide dan menjawab persoalan keseharian kita. Akan tetapi, ada yang tidak boleh dilupakan dan harus dijawab oleh desain, yakni memproduksi tanpa menimbulkan kerusakan. Para desainer kini menghadapi tantangan, bukan hanya memaksimalkan potensi estetika dan kegunaan objek, tapi juga meminimalisasi dampak buruk bagi lingkungan tanpa menghabiskan lebih banyak sumber energi.

Inilah pentingnya wacana eco-design sebagai upaya peranan desain mengurangi kerusakan yang ditimbulkan oleh proses pembangunan manusia. Bertandang ke gelaran local clothing expo "Kicfest 2008", 1-3 Agustus lalu, turut ditampilkan beberapa karya mahasiswa Desain Produk ITB yang mengandung konsep ramah lingkungan di booth British Council. Berikut Kampus sajikan pembahasan dua karya di antaranya.

Sukmadi Rafiuddin dari Desain Produk ITB 2003 membuat tugas akhir dengan judul "Transformasi Bentuk Furnitur dengan Pendekatan Konsep Berkelanjutan". Ia mengangkat wacana desain berkelanjutan (sustainable design) yang sedang naik ke permukaan, melalui konsep furnitur. Ia menciptakan furnitur dengan sistem modular, di mana satu buah komponen bisa bersifat multifungsi.

Dari satu modular berbahan LVL (berasal dari kayu sengon atau karet) tersebut, bisa ditransformasikan ke dalam 7 buah fungsi furnitur, mulai dari meja, kursi, tempat tidur, lemari, dsb. Segi estetika dan kegunaan bisa ditambahkan dengan pemberian bantal, misalnya. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalisasi jumlah komponen dan juga mobilitas produk. "Menghemat uang dan ruang," kata Udin, panggilan akrabnya, yang baru saja menempuh kelulusan.

Gagasan itu juga mengakomodasi permasalahan keterbatasan ruang. Udin menuturkan, tujuan pembuatan produk bersifat knock down tersebut demi memfasilitasi kegiatan dalam ruang hunian yang kecil, dan menerapkan konsep keberlanjutan dalam produk, terutama melalui desain dan fungsi. "Cocok bagi penghuni pada rumah susun sederhana," kata Udin, yang mendapat nilai A untuk tugas akhirnya itu.

Setiap tahunnya, angka permintaan furnitur selalu meningkat dengan jumlah peminat pada produk kayu tetap menjadi yang teratas. Di satu sisi, hal ini adalah keuntungan, namun di sisi lain terdapat kerugian yang disebabkan oleh penebang liar yang terus memangkas hutan menjadi gundul. Menurut Udin, desainer perlu kreatif merancang produk yang mengurangi dampak kerusakan lingkungan. "Rencananya produk ini ingin dijual massal, tapi rancangannya akan diperbaiki lagi," katanya.

Sementara itu, M. Fadli Adi Abiyasa, juga dari Desain Produk ITB, membuat tugas akhir "Pemanfaatan Limbah Kulit Hasil Eksplorasi Sebagai Produk Tas Wanita". Keistimewaan karya Fadli ialah pengolahan sesuatu yang berpotensi menjadi sampah, menjadi perlengkapan wanita dengan desain yang cantik. Fadli merancang dompet dan tas dengan beragam model. Sistem kuncian yang menghasilkan motif anyaman ditambah material kulit lembaran dan logam, menghasilkan kesan unik.

Dalam proses produksi sepatu, biasanya memang terdapat sisa-sisa potongan pola, dalam hal ini terbuat dari kulit. Jika limbah kulit itu dibuang atau dibakar tentunya akan mencemari lingkungan. Namun, jika dijual kembali dan diolah menjadi produk maka akan berpotensi secara ekonomi dan memaksimalkan potensi desain.

"Saya berasal dari Cibaduyut dan melihat proses produksi sepatu di sana yang menghasilkan limbah kulit. Daripada jadi sampah padahal punya potensi bagus, kenapa nggak limbah itu dijadikan produk yang layak jual, yang tujuannya mengurangi jumlah limbah dan meningkatkan nilai jual produk itu," kata Fadli, yang sedang mempertimbangkan memassalkan produk karyanya.

Menurut Dwinita Larasati, dosen pembimbing, inti dari sistem desain yang berkelanjutan bukan hanya desain fisik sebuah produk, tetapi juga sebuah sistem berkelanjutan yang menggunakan 3 parameter, yakni, sosial, ekonomi, lingkungan. "Semua produk harusnya ramah lingkungan. Namun, bukan hanya dari segi material, tapi juga memerhatikan secara keseluruhan secara aspek sosial dan ekonomi. Misalnya, memerhatikan nasib pekerjanya, masalah sosial yang timbul, dsb.," katanya. ***

dewi irma
kampus_pr@yahoo.com


Tuesday, July 1, 2008

[klipping] "Kedua Anakku Lahir di Rumah"

Tabloid Mom&Kiddie Edisi 23 - Tahun ke II - 30 Juni-13 Juli 2008

Artikel di tabloid itu bisa dibaca langsung di tabloidnya. Yg aku tempel di sini ini cerita aslinya (sebelum diedit utk tabloid), lengkap dengan pertanyaan dari Mom&Kiddie.

1. Apa alasan Anda memilih untuk melakukan persalinan di rumah! Bagaimana dukungan pihak keluarga, terutama suami?
2. Tolong ceritakan proses persalinan yang Anda alami?
3. Menurut opini Anda, apa kelebihan dan kekurangan setelah Anda melahirkan di rumah? Tolong jelaskan!

Kedua anak kami dilahirkan di Amsterdam, Belanda. Di negara tersebut, ibu yang sehat dengan kondisi kehamilan normal umumnya memang melangsungkan persalinan di rumah. Rumah Sakit Bersalin (RSB) menjadi pilihan bila kesehatan ibu kurang baik, atau terdapat masalah selama kehamilan, atau prosesnya diasumsikan akan berisiko.
Ketika tes kehamilan menunjukkan tanda positif, kami memberitahukan dokter keluarga, yang lalu merujuk kami ke klinik bidan terdekat. Klinik bidan inilah yang menangani proses kehamilan hingga persalinan dan sekitar 2 minggu masa pasca persalinan. Setelah bersalin, untuk beberapa hari ke depan seorang asisten akan datang untuk membantu mengurus bayi (seperti memandikan dan ‘melatih’ ibu dan bayi dalam proses menyusui), mengontrol kondisi ibu dan bayi, bahkan juga melayani tamu yang datang dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga sehari-hari (seperti berbelanja, mencuci baju, dan menyiapkan makanan).

Suami tentu saja sangat mendukung, karena adik, saudara-saudara dan teman-teman perempuannya juga melahirkan di rumah. Keluarga di Indonesia, meskipun sempat mengungkapkan keraguan, tetap mendukung pilihan saya. Syukurnya saya tetap sehat dan kandungan pun tidak bermasalah, sehingga saya dapat melaksanakan kedua persalinan di rumah, sesuai rencana.

PERSALINAN PERTAMA
Berminggu-minggu sebelumnya kami sudah mendapat kiriman paket “bersalin di rumah” yang kami dapatkan sebagai layanan dari asuransi yang kami ikuti, berupa alas tempat tidur selama bersalin, popok bayi, pembalut, perban dan kapas, buku catatan persalinan, dsb.
Seminggu sebelum due-date, pada hari Minggu sekitar pk 09.30 pagi, air ketuban pecah menggenangi lantai ketika saya beranjak dari tempat tidur. Suami segera menelpon klinik bidan, untuk memberi tahu. Sekitar pk 10.00 seorang bidan datang untuk memeriksa kondisi saya. Ia berpesan untuk bersantai saja seharian ini, kerjakan aktivitas sehari-hari seperti biasa, dan menelpon mereka lagi kalau kontraksi sudah terasa setiap 5 menit.

Jadi pagi itu kami berjalan-jalan di KerstMarkt (Pasar Natal) yang digelar pada hari itu di sebuah pasar terbuka dekat rumah, sekaligus mampir ke sebuah drugstore untuk membeli thermometer. Di rumah, saya membuat minestrone (meal soup ala Italia) dalam jumlah banyak, sebab saya tahu tidak akan sempat memasak sampai beberapa hari ke depan. Ketika itu bulan Desember, musim dingin, dan langit sudah menjadi gelap sekitar pukul empat sore.

Kami sebisa mungkin mempersiapkan apa pun yang kira-kira akan diperlukan. Satu yang belum siap, adalah meninggikan tempat tidur. Terdapat peraturan bahwa ketinggian tempat tidur harus sekitar 50-60 cm dari permukaan lantai, untuk memudahkan kerja bidan selama masa persalinan. Tempat tidur kami adalah jenis futon yang hanya setinggi 30 cm dari lantai,  sedangkan – karena bayi datang seminggu lebih cepat – tidak ada waktu untuk meninggikan tempat tidur tersebut. Si bidan akan terpaksa bekerja di tempat tidur rendah.

Menjelang malam hari perut mulai terasa mulas, yang hanya bisa diduga sebagai kontraksi, sebab ketika itu saya belum pernah merasakan “kontraksi”. Menjelang pukul sembilan malam, kontraksi terasa makin sering dan makin tajam. Saya mulai mempraktikkan posisi-posisi yang dapat meredakan perih, sementara suami mencatat frekuensi kontraksi. Ketika kontraksi sudah terjadi setiap lima menit, suami menelpon bidan, yang berjanji akan datang dalam waktu setengah jam. Saat itu sudah sekitar pk. 21.30. Bidan datang sekitar pk. 22.00 bersama seorang asisten. Bidan memeriksa kondisi saya dan bayi, lalu mempersiapkan ‘tempat tidur bersalin’ dengan asistennya. Sementara itu saya berjalan mondar-mandir, atau sesekali ke WC untuk buang air kecil, sambil meringkuk setiap kali kontraksi terasa.

Sekitar pk. 23.00, sudah mencapai bukaan 10. Pk. 23.30 dorongan pertama dimulai. Tak lama kemudian, ditandai dengan kontraksi hebat, dilakukan dorongan kedua, yang membawa bayi ke posisi crowning. Setelah dorongan kedua ini kami jeda sebentar; bidan bahkan meminta saya menyentuh ubun-ubun bayi yang berambut lebat, yang sudah terpapar udara di luar kandungan. Ketika kontraksi berikut datang, asisten sedang mengambil ganti air hangat. Bidan meminta saya menahan bayi, tapi tidak berhasil, dorongan bayi terlalu kuat. Pk. 23.46, lahirlah putra pertama kami dengan pecahan tangisnya. Suami saya dipersilakan memotong tali ari, dengan bimbingan bidan.

Bidan lalu dengan sigap membersihkan bayi, mengukur beratnya dan memeriksa kondisi lainnya, lalu memakaikan baju dan topi, sebelum meletakannya di dada saya. Ia langsung mencatat Apgar score si bayi. Asistennya mengganti alas seprai dengan yang bersih. Kontraksi berikut, yang terjadi beberapa menit kemudian, mengeluarkan kantung tempat si bayi tinggal selama 39 minggu. Bidan lalu memeriksa kondisi saya pasca persalinan. Saat itu lah ia ragu, apakah perlu menjahit atau tidak.

Ia lalu menelpon RSB terdekat untuk memberitahukan bahwa saya akan diperiksa sejenak di sana, lalu menyiapkan kendaraan di depan apartemen kami. Saya segera memakai baju tebal, untuk menembus cuaca musim dingin di tengah malam, dan berjalan menuruni anak tangga (kami tinggal di apartemen, di lantai tiga) menuju tempat parkir. Bayi kami dibungkus baju hangat dan digendong oleh suami saya, menyusul menuju mobil.
Tiba di RSB pk. 01.30, kami diantar menuju sebuah kamar bersalin. Saya bersiap di tempat tidur, sementara suami duduk di sisi sambil tetap menggendong si bayi yang sedang tidur lelap. Beberapa saat kemudian seorang dokter kandungan datang, memeriksa, dan melaksanakan sekitar tujuh jahitan. Setelah itu saya dibantu untuk membersihkan diri, lalu kami dipersilakan untuk beristirahat sebentar sebelum pulang. Sekitar pk. 03.00 kami telah tiba kembali di rumah.

PERSALINAN KEDUA
Prosedur ketika mengetahui positifnya kehamilan serupa dengan pengalaman pertama: memberi tahu dokter keluarga, dirujuk ke bidan, membuat ultrasound graphic pada 3 bulan pertama, lalu bersiap-siap dengan paket bersalin yang ada, yang dikirimkan oleh pihak asuransi.

Siang hari itu, di awal musim gugur, kontraksi ringan sudah terjadi. Di sore hari, kontraksi terasa makin keras dan sering. Ini terjadi 10 hari sebelum due-date, jadi kami belum juga meninggikan tempat tidur sesuai standar yang berlaku. Suami menelpon bidan sekitar pk. 20.00, ketika kontraksi makin terasa kencang. Bidan datang pada pk. 21.00, memeriksa bukaan (sudah 8), menelpon asisten untuk datang dan langsung sibuk mempersiapkan semuanya. Anak laki-laki kami yang saat itu hampir berusia 3 tahun ingin ikut membantu, ia sibuk juga memindah-mindahkan mainannya dari satu wadah ke wadah lain. Ia pun terkadang mendatangi saya yang sedang menahan sakit sambil menyodorkan irisan apel yang sedang dimakannya, ‘untuk mengobati ibu’, katanya.
Sekitar pk. 22.00, bidan memutuskan untuk memecahkan ketuban, supaya bayi dapat terangsang keluar. Dan benar saja, setelah air tergenang keluar, si bayi dengan keras mendorong dirinya keluar dari rahim. Tangisan bayi pecah pada pk. 22.17. Suami beranjak ke kamar belakang untuk memanggil si kakak – yang sedang bermain sendiri – supaya melihat adik barunya. Sambil menggendong si kakak yang penasaran dan terus bertanya, suami saya sekali lagi memotong tali ari bayinya.

Bayi yang sudah diperiksa, dibersihkan dan dibungkus oleh bidan ditidurkan di dada saya. Saya bertanya, apakah bayi ini perempuan atau laki-laki. Kata bidan, silakan lihat sendiri. Ternyata, ini bayi perempuan! Memang jadi kejutan menyenangkan, apapun jadinya, karena selama proses kehamilan USG hanya dilaksanakan satu kali, ketika kandungan berusia sekitar 3 bulan.

Bidan kembali memeriksa kondisi saya dan memastikan apakah uterus sudah keluar semua dalam keadaan lengkap. Setelah itu ia melaksanakan sendiri jahitan yang diperlukan, sebelum berkemas dan berpamitan, untuk kembali lagi esok harinya untuk memeriksa dan memantau kondisi saya dan putri kami. Kali ini, semuanya berlangsung lancar dan kami tidak perlu lagi mendadak ke RSB di tengah malam.


KELEBIHAN dan KEKURANGAN
Kelebihan:
-    Suasana ruang yang sudah sangat akrab, bisa menenangkan dan memberikan mental support
-    Kehadiran orang-orang terdekat yang diinginkan (plus 1 bidan dan 1 asisten), dapat membuat pengalaman melahirkan menjadi sangat pribadi dan natural
-    Tidak usah berkemas utk menginap di RSB
-    Keluarga dan teman tidak usah menyesuaikan jadual menjenguk bayi dengan peraturan RSB
-    Jauh lebih murah dibandingkan biaya persalinan dan perawatan di RSB
Kekurangan:
-    Bila bidan kurang tangkas/terampil/berpengalaman dalam menangani hal-hal darurat, sehingga tetap harus memakai layanan RSB
-    Bila ada peralatan yang terlupakan atau tidak tersedia selama proses persalinan

==================================
p.s. Versi graphic diary-nya bisa dilihat di sini:
Lahiran Dhanu: 9-months diary
Lahiran Lindri: another 9-months diary

Saturday, June 14, 2008

[klipping] Mengapa Tak Ada Hidung di Wajah Tita?

Kompas Minggu, 15 Juni 2008

HIKMAT DARMAWAN

Tepatnya, tak ada hidung di gambar wajah ”Tita” jika sedang menghadap depan (”frontal face”). Kalau Tita menggambarkan ”Tita” dari samping, ada sih hidung itu—mungil, memberi tanda kecil bahwa ”Tita” adalah karakter tiga dimensi.

Tita Larasati saat ini adalah seorang dosen ITB. Pada tahun 1995, ia mendapat kesempatan magang selama setahun di Jerman. Jauh dari orangtua dan keluarga, Tita memulai kebiasaan membuat graphic diary.

Ia menggambar apa saja yang ia alami, kapan saja ia sempat, dengan kertas A4 dan gelpen (Pilot G-1 warna hitam), lalu mengirimkan graphic diary itu dengan faksimile ke keluarganya di Indonesia. Kebiasaan itu berlanjut, baik ketika ia balik ke Indonesia maupun ketika ia keluar negeri lagi, untuk melanjutkan studi desain industri ke Belanda, pada tahun 1998.

Di Belanda, kegiatan ngomik dan bertutur-grafisnya lebih terasah. Belanda adalah salah satu negeri komik terpenting di Eropa Barat, bahkan dunia. Kita, misalnya, akrab dengan komik-komik Belanda (diimpor tak resmi—tanpa copyright) lewat majalah Eppo yang menghimpun komikus-komikus Belanda, seperti Martin Lodewijk (Agen 327, Johny Goodbye, serta menulis beberapa episode seri Storm yang dilukis Don Lawrence), Hans G Kresse (Vidoq, Alain d’Arcy), dan Peter de Smet (Sang Jenderal). Belakangan, kita juga mengenal Peter van Dongen, yang membuat komik berlatar sejarah Indonesia, Rampokan Java dan Rampokan Celebes.

Tita mengenal Peter secara pribadi di Belanda. Rumah Tita di Belanda dekat dengan toko komik sekaligus museum komik internasional terkemuka, Lambiek. Kedekatan fisik dan batin dengan Lambiek ini membuat Tita juga dekat dengan perkembangan mutakhir seni komik dunia.

Di milis komik alternatif dan blog-multiply-nya, Tita sering cerita pergumulannya dengan novel-novel grafis terbaru atau perjumpaannya dengan komikus alternatif kelas dunia, macam Chris Ware (Jimmy Corrigan). Persinggungan langsung dengan perkembangan mutakhir seni komik dunia membuat komik-komik Tita menjadi warga dunia juga.

Spontan, ”lain”

Gagasan bahwa komik adalah medium untuk mendedahkan sepenuhnya diri pribadi seorang seniman bukanlah hal yang lazim di Indonesia. Graphic diary dan komik otobiografis bukanlah seni yang banyak dilakoni para komikus atau pegrafis kita.

Komik di Indonesia, baik fiksi maupun nonfiksi, lebih banyak jadi medium bercerita yang konvensional: mementingkan narasi verbal dan dialog, mementingkan plot (biasanya plot maju-lurus), penataan panel yang umumnya konservatif (bingkai kotak-kotak tersusun rapi), dan umumnya bertujuan menghibur atau memberikan informasi kepada pembaca. Satu lagi konvensi komik kita yang lazim: komik adalah bacaan hiburan anak. Karenanya, komik-komik Tita terasa ”lain”, bahkan ”asing”.

Komik-komik Tita berangkat dari kebutuhan pribadi mengingat dan berkabar, lalu tumbuh menjadi serangkaian seri komik yang sangat personal. Modus pembuatannya sangat spontan: hanya kertas dan pulpen, tanpa sketsa—dan, memang, gaya gambar Tita seperti sketsa. Tanpa naskah atau story board. Tanpa desain karakter, kecuali komitmen pada gaya kartun Barat yang melakukan penyederhanaan terhadap realitas, tetapi tak pernah beranjak jauh—bahkan ingin selalu mendekati—realitas. Tita mengalami sesuatu, lalu ia mewujudkannya dalam garis di atas kertas setiap kali ia punya waktu (saat menunggu sesuatu atau saat dalam perjalanan). Begitu, setiap hari.

Tita tak mendiskriminasi pengalaman, amatan, atau peristiwa yang terlintas di hadapannya. Hidup sehari-hari orang biasa seperti Tita, Anda, dan saya tak dipenuhi oleh petualangan atau peristiwa dramatis. Kita umumnya akan mengabaikan saja yang sehari-hari dan ”biasa-biasa” saja itu, menganggapnya tak menarik, dan melarikan diri darinya ke (misalnya) dunia sinetron, reality show, infotainment, yang serba berlebihan dan ”ajaib”. Seniman macam Tita merengkuh keseharian itu, menganggapnya menarik, menandainya, mengabadikannya.

Dan Tita sehari-hari adalah seorang pelancong iseng, istri Sybrand (seorang Eropa), ibu Dhanu dan Lindri, mahasiswa program doktoral dan kini telah menjadi dosen pegawai negeri. Sepuluh tahun ia tinggal di Belanda, mengalami Eropa luar-dalam, dan kini kembali jadi warga Bandung, selalu waswas tiap bersepeda ke kantor karena jalanan Bandung tak seramah jalanan Eropa pada pengendara sepeda. Dengan sendirinya, ketika Tita mengomikkan kesehariannya apa adanya, maka komiknya menampik kelaziman ”komik sebagai hiburan anak”.

Topik komik Tita mencakup pengalamannya hamil dan membesarkan anak; juga, kadang, pikiran-pikirannya tentang bangsa. Artinya, komik ini sedewasa pembuatnya. Komik dewasa, yang dicipta secara dewasa, sayangnya, masihlah aneh bagi pasar komik kita. Belakangan, memang mulai terbit komik-komik dewasa dan nyeleneh. Misalnya, novel grafis terjemahan dan terbitan Gramedia dan KPG. Atau beberapa gelintir komik underground dari Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung.

Lebih jarang lagi, komik lokal yang sepersonal ini—yang sepenuhnya, dan kontinu, merekam dengan rinci dunia pribadi sang komikus. Saingan terdekat Tita adalah seri strip Old Skull, karya Athonk di Yogya yang bersemangat punk, khususnya serial pengalamannya di penjara setahun gara-gara bawa ganja. Komik Lagak Jakarta karya Benny & Mice tak sepenuhnya bisa dikategorikan graphic diary karena masih mengandung kehendak menjadi komik fiksi.

Athonk memilih defamiliarisasi cukup ekstrem ketika menggambarkan dirinya di atas kertas: sosok berwajah tengkorak dengan rambut gaya mohawk. Tita memilih gaya kartun yang lebih lunak.

Tentang nir-hidung itu

Gemar berbaju kotak-kotak, santai, berbadan agak gempal, dan wajah bulat tanpa hidung jika sedang menghadap depan—itulah karakter kartun ”Tita”. Sengaja atau tak sengaja, karakter wajah ini mirip dengan karakter Smiley.

Smiley adalah perwujudan yang distilisasi dari wajah tersenyum manusia, biasanya berupa bulatan kuning dengan dua titik sebagai mata dan sebuah kurva setengah lingkaran mewakili mulut tersenyum. Smiley menjadi ikonik, termasuk mendapat ”panggilan sayang” Smiley ketika dengan cepat merasuki medan budaya pop dunia pada 1970- an.

Emotikon, dan Smiley sebagai emotikon, menunjukkan bahwa ada kelenturan luarbiasa dari ikon yang mereduksi wajah manusia menjadi perkakas minimalis dua titik dan garis ini dalam mewujudkan rentang emosi manusia yang kaya. Model minimalis ini telah muncul sejak awal sejarah komik/ kartun modern.

Kelenturan inilah yang dimanfaatkan dengan baik oleh Tita saat menggambar ”Tita”. Pilihan pada model ikonik Smiley untuk menggambar wajahnya sendiri sedikit banyak menggambarkan pilihan artistik Tita. Ia memilih gaya kartun, yang hakikatnya menyederhanakan obyek atau kenyataan yang digambarkan hingga ke garis-garis esensialnya saja.

Kartun juga kadang berarti melebih-lebihkan unsur tertentu objek dalam gambar. Tapi Tita lebih menekankan penyederhanaan, bukan hanya dalam menggambarkan dirinya sendiri menjadi berwajah mirip Smiley. Dunia yang ditemui Tita, yang ia pahami, yang ia tafsir melalui garis-garis gel pen-nya yang lincah dan spontan, adalah juga sebuah dunia yang disederhanakan, esensial. Apalagi ketika bidang graphic diary-nya adalah kertas A-4.

Dalam selembar kertas, Tita mencatat secara grafis berbagai kejadian yang ia alami dan tempat yang ia kunjungi selama sebulan. Tentu ini tak memberi ruang bagi penyusunan cerita dan penataan panel yang lazim. Sering kali bingkai kotak diabaikan dan kejadian dipilih momen-momen esensialnya saja. Tak ada ruang untuk plot, apalagi dramatisasi. Ruang-ruang kecil dimanfaatkan dengan maksimal sehingga halaman-halaman itu riuh rendah oleh garis.

Sejak tahun 2000, saat Tita pindah ke Amsterdam, ia beralih ke buku sketsa ukuran A-5. Bidang berbentuk buku ini walau lebih kecil dari kertas A-4 (atau, justru karena lebih kecil), sedikit memaksa Tita mengubah strategi visualnya. Satu aspek peristiwa bisa didalami, walau tetap disederhanakan. Jika sebelumnya komik Tita lebih berat sebagai seni grafis, dalam bentuk buku ini unsur kekisahan lebih mencuat. Komik-komik Tita periode inilah yang dipilih sebagian (amat kecil) dan dikumpulkan dalam Curhat Tita ini.

Curhat tanpa neurosis

Istilah ”curhat” (mengungkapkan perasaan dan pikiran—bahasa slang) menyiratkan keintiman.

Dalam buku ini, Tita mencurahkan pikirannya tentang polah lucu para pengguna kolam renang, lagak turis di Belanda, teman duduk di kereta, senam kehamilan, kepulangan ke Indonesia, naik angkot, tingkah lucu kedua anaknya—Dhanu yang menjanjikan akan mengirim kelapa ke semua teman sekelasnya di Belanda kalau sudah sampai di Indonesia, dan Lindri yang punya ”kiat” sendiri membangunkan ibunya (termasuk menyorongkan sandal ke mulut ibu). Tita mencatat juga benda-benda yang dekat dengannya: rincian tas ranselnya, makanan Jepang, sepeda, dan ”kematian” komputer kesayangannya.

Orang bisa bilang, inilah narasi kecil yang begitu diagungkan di zaman postmodern kini. Barangkali itu pula salah satu sebab Tita adalah komikus Indonesia yang kini dikenal di Eropa—ia menawarkan dunia Tita yang partikular dan hidup. Karyanya dipuji oleh seniman komik dunia, Eddie Campbell (From Hell, The Fate of an Artist): Tita’s charming and always engaging cartoons live in a region of the world of the comic strip that has not yet been taken by the neurotics.

Pujian ini bukan hanya jadi komentar terhadap komik Tita, tapi juga komentar terhadap dunia novel grafis atau komik alternatif masa kini. ”Region” yang dimaksud Campbell bukan wilayah fisik, tapi sebidang ranah seni komik yang khas, di Barat, yang saat ini didominasi komik-komik dengan gejala ”neurosis” (sakit jiwa). Model komik biografis dan graphic diary saat ini diisi oleh Robert Crumb, Harvey Pekar, Art Spiegelman, Lewis Torndheim, David Collier, Lat, James Kochalka, Chester Brown, dan banyak lagi jiwa gelisah lain.

Dibandingkan para komikus ”neurosis” kelas dunia itu, dunia Tita tampak lugu dan tanpa beban. Komik-komik Tita, seperti puisi-puisi Sapardi Joko Damono, memberi kita harapan bahwa kita masih bisa bahagia oleh hal-hal kecil.

Sayang sekali, mutu cetak yang kurang baik menurunkan mutu garis Tita di buku ini. Lain kali, semoga komik Tita bisa terbit dalam bentuk art book dengan standar terbitan Taischen yang terkenal ciamik dan penuh hormat pada seni visual itu. (Hikmat Darmawan, Pengamat Komik)

Friday, June 13, 2008

[klipping] Curhat Hitam-Putih

GATRA No.31 Tahun XIV, 12-18 Juni 2008, hlm.60-61


Sebagian koreksi:
Jurusan Desain Produk --> Program Studi Desain Produk
(buku A4-nya pada saat ini ada sembilan) --> buku A5-nya
Jose Pullman --> Joost Pollmann
Pangeran Bandung --> Kapten Bandung
Rony Ramdany --> Rony Amdani
PPBI di Kemayoran --> di Jakarta Convention Center