Monday, April 28, 2008

Hari Telat Sedunia

Udah tau hari ini acara di UPH (Karawaci) jam 8.30 pagi, kenapa juga berangkat jam 6 pagi dari rumah (Bandung). Jadi aja telat hebat, baru nyampe jam setengah sepuluhan! Skali lagi sori ya El, time management gue makin parah nih :P Faktor2 lain ada sih, seperti adanya kecelakaan di tol Cikunir, jadi semua mobil musti ngasih jalan buat polisi, mobil derek, dan kendaraan2 patroli lain. Terus supirnya (mobil + supir sewaan) pake nyantai pula. Awalnya di jalan dia 'cuma' batuk-batuk berat (tapi di dalem mobil, ruang kecil tertutup ber-AC itu, kemungkinan penyebaran bakteri makin tokcer, toh?). Belom lagi dia itu sesekali melanin mobil untuk minum dari botol airnya (bukannya nggak boleh, tapi kok rasanya sering bener, tiap 10-15 km). Terus males banget liat dia kopek2 pipi kanannya selama nyupir (jerawat?), dan terkadang nerima2 telpon di HPnya.. lalu pas ampir nyampe, dia setop mobilnya di pinggiran tol utk permisi kencing di balik pepohonan. Kebayang gak sih berapa tebel lapisan germs di roda setir dan persneling.. yuck yuck..

Tapi selingan hari ini menyenangkan: akhirnya ketemuan juga sama Elisa, dan bisa ketemu lagi sama si Sinta, dan makan siang bareng, dan enak, dan kenyaaang! Foto selengkapnya ada di albumnya Elisa.    

Nah baliknya nih. Saya berusaha nelpon supir itu supaya nyamper saya di titik tempat saya turun, tapi telponnya bicaraaa terus. Akhirnya saya SMS. Terus telpon lagi, katanya lagi jalan. Waktu itu sekitar jam 1 siang. Begitu masuk mobil, saya tanya, "Bisa nggak sampai ITB jam 4?" Bisa, katanya. Tapi dia belom makan siang, jadi dia berhenti dulu utk makan di warung deket tol Serpong. Saya nunggu baca buku di mobil. Terus jalan Cipularang sempet macet, jadi baru masuk Pasteur jam empat lebih... Nyampe Gelap Nyawang sekitar setengah lima: tinggal ada Dhanu dan Lindri, ditemani guru2 piket yang baik, di pool jemputan sekolah. Ibunya telat njemput setengah jam. Bener2 payah deh pengaturan waktu saya hari ini!

Fotonya dari Elisa: para mahasiswa UPH yg menghadiri kelas saya pagi ini

Argh Gemes!

Stripdagen Haarlem 2008 sebentar lagi mau mulai, tepatnya Juni tgl 7 dan 8 ini. Baru kali ini saya absen setelah setia mengunjunginya sejak tahun 2002. Barusan saya masuk ke situsnya Stichting Beeldverhaal Nederland, penyelenggara tetap Stripdagen Haarlem, yang bilang bahwa website-nya Stripdagen Haarlem 2008 sudah siap. Langsung akses ke sana, dan klik daftar komikus yang akan hadir.

Nah ini yang bikin *gemes*. Ada Adrian Tomine. Ada Chris Ware yang tahun 2004 lalu sempet saya mintain tanda-tangannya di buku Acme Novelty DateBook-nya yang pertama, dan sekarang saya kan sudah punya yang kedua(!). Ada Craig Thompson yang sedang sibuk menggarap karya berikutnya: Habibi. Juga bakal ada Peyo, bapaknya Smurf, Johan & Pirlouit dan lain-lain itu! Belum lagi adanya Dupuy-Berberian si duet nyentrik, Loustal si drafter kawakan, Cyril Pedrosa yang Three Shadows-nya saya tunggu2 banget! Aduh udah deh baca sendiri daftarnya, pusiiing...

Yang bikin makin *gemes* lagi apa coba. Sejak tgl 3-nya Syb bakal ada di Belanda, tapi dia udah bilang nggak akan mampir ke Stripdagen ini, padahal dia bakal di sana sampe tanggal 12. Heuhhhh....

Friday, April 25, 2008

Omuniuum & Reading Lights

On a Friday Freeday morning, April 25th, 2008.

S: "Shall we execute our plan?"
T: "By bike or angkot?"
S: "Up to you"
T: ... (considering)
T: (braving up) "Let's take our bikes"

Our first target was Omuniuum, a bookshop across Parahyangan University. We've read some publications about this place but have never actually been there. Leaving Kanayakan, we went through Dago Asri housing complex, out at the intersection of Cisitu (Sangkuriang?) and Siliwangi. We had to go against the traffic for a couple of meters, then slided down Siliwangi street until the bridge. The route has been downhill so far. After the bridge started the ascending road.

Syb could handle the climb easily. Me, I had only my will to stay on the bike. None of us knew the place, so we stopped at a wrong spot - a Circle K - just underneath the aimed address. That's where I had the chance to collapse a bit, before continuing our journey. When we finally got to the place and locked our bikes together, we could feel ourselves sweating like a dog. No, dogs don't sweat; they pant. Anyway, our sweat didn't stop running until another half hour, at least. But let's not talk about perspiration.

The shop was weirdly hidden. There's no sign whatsoever; I had to ask a person at the parking space about the entrance. We had to enter a small, dingy restaurant to reach a staircase that goes directly to Omuniuum. Getting in, I had to rest again on a couch, facing the street. Until Syb called out from behind, "It's all comics here!" (that was enough to get me springing up towards the designated shelf).

The shop isn't too big and choices are limited. Of course, we shouldn't compare it to our favorite second hand English bookshop in Amsterdam: Book Exchange. However, I found interesting books of my childhood: The Famous Five (even the half-comics version), Malory Towers, and a lot more Blyton series, Nina, Tintin, Johan & Pirlouit and many more old (Belgian and European) comics published by Misurind, and novels from my teenage days by Bung Smas. At the end of our visit, our grazing throughout the small shop resulted in:
Confessions of Felix Krull (15K)
Nobrow (38K)
Lateral Thinking (35K)
Mangan Ora Mangan Kumpul (35K)
Panji Koming (35K)
Joe Sacco's Palestina (20K)
Tao Te Ching (20K)
The Saying of Confucius (15K)
Crime and Punishment (35K)

It started to drizzle, but no problem - our next target was nearby: Reading Lights, at the upper corner of Siliwangi Street. We only had to go downhill and turn left after the traffic light. No sweat. This place provides more seats and offers drinks and snacks, as well. They seem to have less options of books (compared to Omuniuum) but it's a pleasant place nonetheless. We browsed and picked our books and sat at a table facing the huge window, watching the rain showering the street. It's obvious that we were tempted to try their café service.

On to the menu: hot/iced coffee, hot/iced coffee, snacks, light meals, specialties. Guess what: they have Neil Gaiman Coffee(!). I almost ordered that one, but I didn't, because:
(1) It is an iced coffee, while I preferred a hot drink at that moment.
(2) The mix includes peanut butter, which is not exactly my idea for a drink substance
Maybe next time, when I feel the need to brag to Neil that I've drunk a coffee named after him.
So here's our order:
- Hot cappuccino (the "super" variation, meaning extra thick) for Syb
- Hot honey-lemon tea for me
The drinks were accompanied by two kinds of sugar (white and palm) and each drink came with two pieces of kattetong-like biscuits.
- Pancake with chocolate syrup for Syb: three pieces of folded golden-colored pancakes, swimming in glistening dark liquid, half-melting dark-chocolate buttons scattered all over.
- Honey cinnamon toast for me and Syb: two layers of crusty toasted white bread, cut into tiny squares, damp on the surface with honey and cinnamon sugar.
And here's our shopping spree:
The Human Consequences (Brian J.L. Berry) 25K
The Naked Society (Vance Packard) 30K
The Bonfire of the Vanities (Tom Wolfe) 35K - discount 20%

The sky has cleared up, the sun shone again, we were fueled and ready to go back home (besides, our backpack started to fill up and it was Syb's turn to be the 'pack mule'). Downhill until the bridge, a climb along the rest of Siliwangi and Sangkuriang, then turn right at Cisitu. The road is not steep but it was full of parking cars and stopping angkot, which caused us to halt and slither our way through the traffic. Home safely by one o'clock, tired but refreshed at once. That was a pleasant morning!

Jl. Ciumbuleuit 151 b lt.2 Bandung
[front of unpar, for this time entrance through mie jak & gubuk dongeng]
Ph. 022-2038279
email :

Jl. Siliwangi 16 (near Ciumbuleuit)
Bandung - 40141
West Java
Ph. 022-203 6515
Tue & Wed : 10 am - 6 pm
Thu, Fri & Sat : 10 am - 10 pm
Sun : 11 am - 8 pm
Monday Closed

the photo above is taken from readinglights website

Sunday, April 20, 2008

An Evening with Duran Duran

This is old news and I admit I'm a bit ("a bit"?!) tardy in posting these notes. But here they are anyway, finally frolicking in Jakarta again after 14 years of absence.


Kompas: Duran Duran, Pesona Ikon Masa Lalu (lots of mistakes in details *sigh*)
The Jakarta Post: Duran Duran returns with more than just a glorious past

Friday, April 18, 2008

FMI 7 Summits Site
An acquaintance of mine is in a quest to conquer the world's seven highest peaks. This site is where people can get updated information about his journey. Go for it, Franky, show the world that Indonesians can do it, too!

Thursday, April 17, 2008

[klipping: Pikiran Rakyat] Tita Larasati: Alternatif Baru Dunia Komik

Tita Larasati, Alternatif Baru Dunia Komik

Ada beragam cara menuangkan pemikiran dan pengalaman pribadi dalam hidup. Banyak orang memilih media kata, misalnya, membuat puisi, lirik, hingga tulisan curahan hati (curhat) biasa, yang disimpan di jurnal pribadi atau mungkin dipublikasikan di blog. Sama halnya dengan Tita Larasati, ia pun ingin curhat tentang kisah kesehariannya, dari yang membahagiakan, menyedihkan, sampai memalukan. Yang berbeda, ia mengekspresikannya melalui gambar komikal yang unik dan lucu.

Jumat (11/4) lalu, Tita meluncurkan graphic diary berjudul Curhat Tita di Galeri Soemardja ITB, Bandung. Sebelumnya, ia juga menggelar acara serupa di Toko Buku Aksara, Jakarta, beberapa waktu lalu. Lulusan S1 Desain Produk FSRD ITB angkatan 1991 ini memang tengah giat memperkenalkan karyanya, yang boleh dibilang sebuah tawaran baru bagi dunia cerita bergambar (cergam/komik) Indonesia.

Jurnal pribadi yang diterbitkan untuk umum, sudah cukup unik. Ditambah tampilannya dalam bentuk gambar komikal, menjadikan karya Tita menarik diketahui lebih jauh. Di Indonesia, karya semacam itu belum lumrah. Maka, Curhat Tita ini boleh jadi adalah graphic diary pertama yang diterbitkan di Indonesia.

Berbeda dengan di luar negeri, graphic diary dalam berbagai format dan gaya sudah banyak beredar di toko buku. Dalam kesempatan bedah bukunya, Tita pun sempat berpresentasi memperlihatkan karya-karya dengan tema serupa, yang sudah diterbitkan di negara lain.

Menarik mendengar cerita tentang motivasi dan proses Tita dalam membuat buku harian bergambarnya. Mulanya tahun 1995, ketika itu perempuan bernama lengkap Dwinita Larasati ini tengah melaksanakan program magang di Jerman. Dipicu rasa rindu dan keinginan keluarga yang ingin tahu kabarnya di negeri orang, ia pun rutin mengirimkan kabar harian melalui mesin faksimile, sebab teknologi internet belum musim. "Tadinya mau nulis cuma kayaknya ’garing’ aja, jadinya ngirim gambar deh," kata perempuan kelahiran Jakarta, 28 Desember 1972 itu, membuka obrolan dengan Kampus ketika bertandang ke rumahnya beberapa waktu lalu, seraya tersenyum.

Gambar yang dikirim berisi rupa-rupa kisah Tita bertemu orang baru, makanan baru, hingga tempat baru di Jerman. Tita yang suka menggambar sejak kecil ini terkadang juga mengirim selembar kertas yang memuat rangkaian kegiatannya berhari-hari, sehingga ukuran gambarnya pun kecil-kecil. Apa pun itu, yang jelas kiriman kabar bergambar dari Tita, menimbulkan kesan tersendiri bagi keluarganya. Gambar-gambar itu pun kemudian dikumpulkan dan diperbanyak, sehingga bisa dinikmati keluarga besar dan teman-teman Tita di tanah air.

Selepas lulus ITB, tahun 1998, Tita pergi ke Belanda untuk melanjutkan studi S2 di The Design Academy dan S3 di Delft University of Technology, kemudian baru kembali ke Indonesia tahun 2007. Jika 9 tahun lalu ketika berangkat ke Belanda, status Tita masih S1 dan lajang, maka sekembali dari sana ia bertitel doktor dan menjadi ibu dari dua anak --Dhanu dan Lindri. Tita menikah dengan lelaki berkebangsaan Belanda, Sybrand, tahun 1999. Kesibukan Tita kini jadi dosen di almamaternya. "Sebelum ke Belanda memang sudah diangkat (jadi dosen), makanya memang harus pulang. Lucunya, waktu berangkat cuma bawa satu koper, tapi pulangnya bawa satu kontainer," cerita Tita diiringi derai tawa.

Kebiasaan menggambar sewaktu di Jerman, semakin dirutinkan saat Tita berada di Belanda, bahkan sampai ia kembali ke Indonesia dan melakukan perjalanan ke berbagai daerah. Tita telah mengumpulkan lebih dari 100 lembar kertas A4, dan lebih dari tujuh buku sketsa berukuran A5 yang memuat gambar-gambarnya, yang kemudian diseleksi menjadi Curhat Tita. Saat internet mulai berkembang, gambar-gambar itu pun kemudian turut di-upload di blog pribadi Tita (

Sesuai dengan judul bukunya, Curhat Tita, maka buku ini murni berasal dari kisah kehidupan Tita. Sampul depan bukunya pun memuat gambar Tita, yang memperlihatkan dirinya sebagai perempuan yang suka berpenampilan dengan celana jin, kemeja kotak-kotak, dan sepatu gunung. "Saya hanya ingin membuka jenis lain alternatif cergam yang berdasarkan cerita nyata keseharian, sebab cergam bukan hanya fantasi, superhero, dsb.," kata Tita.


Tita menjelaskan, karya berupa buku kumpulan sketsa atau catatan harian bergambar berbasiskan kehidupan nyata, sudah menjamur di Eropa dan Amerika. Tita menyebutkan beberapa komikus yang dianggap menjadi sumber inspirasi pengembangan graphic diary-nya. Antara lain, Eddie Campbell (Skotlandia), Marjane Satrapi (Iran), Peter Pontiac (Belanda), Joulie Doucet (Prancis), dan Chris Ware (Amerika Serikat). Para komikus ini memiliki semangat dan percaya diri tinggi untuk mengembangkan seni bertuturnya. "Saya jadi merasa yakin setelah melihat karya mereka. Oh, ternyata ada juga ya tempat untuk saya," kata Tita.

Bagaimana kebiasaan Tita dalam menggambar? Ternyata ia memilih kejadian yang menjadi highlight per hari, untuk digambar. Agar tidak lupa, ia kerap mencatat kejadian atau inspirasi yang hinggap itu di jurnal pribadinya. Tita juga biasa menggambar cepat dan sering tanpa dihapus. Itu dilakukan Tita ketika ingin santai sejenak di tengah kesibukan pengerjaan tugas kuliahnya.

Tita mencatat romantika, tragedi, maupun komedi dunia hariannya. Ada yang menceritakan keikutsertaannya dalam senam hamil, bagaimana keluarga mereka setelah pindah ke Bandung, aktivitas Tita saat di rumah dan mengurus anak, pengalamannya mengajar, hingga anaknya yang mempertanyakan perbedaan warna kulitnya yang putih --dibandingkan dengan teman-teman sekolahnya.

Budayawan Yasraf Amir Piliang, yang juga memberi pengantar dalam buku ini, menyebutkan bahwa karya Tita mengangkat kembali nilai keseharian, yang mungkin dianggap remeh, tapi dapat terasa signifikan ketika tertuang dalam bentuk cerita gambar.

Ulah Danu dan Lindri yang kerap "ajaib" khas kebandelan anak kecil juga mewarnai Curhat Tita, dan membuat kisahnya jadi lebih hidup. "Keluarga, khususnya anak, memang sumber inspirasi saya. Kalau mereka sudah besar, saya akan tunjukkan kepada mereka, begini lho, kenakalanmu dulu," ungkap Tita seraya tertawa.

Tidak semua gambar Tita memiliki balon teks. Ada juga yang hanya gambar, namun ternyata sudah cukup bercerita. Gambar Tita juga seolah tak banyak mempertimbangkan segi layout dan estetis. Itu terlihat dari tidak adanya panel yang mengurung gambar dalam kotak. Di buku sketsanya, halaman kiri dibiarkan kosong untuk tempat menempel bon, tiket, karcis, bungkus permen, dsb. Pewarnaan pun tidak ada, tapi memakai teknik arsir untuk membedakan gelap terang.

Namun demikian, sambutan positif datang dari kartunis Priyanto, yang menyebutkan betapa mengalirnya cerita gambar karya Tita. Ia bahkan berpesan kepadanya untuk tidak repot memikirkan apakah karya ini sebagai komik atau bukan. Cerita bergambar yang dibuat tanpa menghiraukan kaidah pembuatan komik, misalnya, berpanel-panel, berkewajiban memperkenalkan tokoh-tokohnya, dsb., justru makin menghidupkan "kenakalan" dan kebebasan gambar. Yang terpenting di atas semuanya adalah gambar itu tetap harus bernilai komunikatif. Tita sendiri seolah sudah menemukan gaya "orisinal"-nya, yang ia adopsi dari beragam komikus favoritnya, sembari tak lupa terus mengasah karakter pribadinya. "Memang harus mencari sendiri, makin sering menggambar bakal makin ketemu," katanya.

Tita juga sempat beberapa kali didatangi pertanyaan semacam ini, "Kalau begitu, ini bukan diary kamu lagi dong?". Tita kemudian menjawab, "Nggak juga, ini tetap diary saya. Misalnya, kamu melihat martabak di gambar ini. Tapi cerita apa lagi di balik martabak ini, kan hanya saya yang tahu," kata Tita.

Soal keterbukaan, Tita mengaku memang belum sevulgar beberapa komikus di luar negeri. "Sebenarnya semua sudah terceritakan, sampai waktu saya tengsin juga diceritain. Tapi se-open-open-nya saya, nggak akan sampai mengeluarkan kata-kata kasar, misalnya," kata Tita.

Sewaktu tinggal di Belanda, kegemarannya pada komik membawanya terlibat dalam beragam acara, antara lain pameran dan workshop Madjoe! di Stripdagen Haarlem (2002) dan Royal Ethnology Museum (Leiden, 2002), pameran Homesick di galeri De Schone Kunsten (Haarlem, 2004), dan partisipasi di 24 Hour Comics Day di Lambiek (Amsterdam, 2006). Di Indonesia, karya-karyanya ikut dalam pameran Fellow Indonesian Comic Artists di Erasmus Huis (Jakarta, 2005) dan Karta Pustaka (Yogyakarta, 2005), pameran DIY di Taman Ismail Marzuki (Jakarta, 2007), dan pameran tunggal Curhat Tita di Space 59 (Bandung , 2007).

Soal dunia komik, Tita melihat Indonesia masih lemah dalam positioning. Daripada sekadar menjadi kuli gambar industri asing, menurut dia, orang Indonesia tak salah kalau mencoba membuat karya sendiri. Ia percaya skill komikus Indonesia bagus, dan dengan dukungan semakin banyaknya kompetisi dan workshop tentang komik, ke depan industrinya bisa dibangun. Yang disayangkan, justru komunitas komik sering kali memelihara sikap "tersegmentasi". "Ini manga banget, ogah ah, itu Marvel banget, males ah, dsb., padahal perbedaan itu bukan untuk dipertentangkan tapi dirayakan saja," katanya.

Setelah Curhat Tita, berikutnya Tita berencana membuat kisah spesifik yang tematis. Selain itu, ia ingin pula mengaplikasikannya dalam dunia pendidikan. Misalnya, menyosialisasikan pembuatan gambar komikal untuk berbagai riset, sebagai panduan tambahan. Pada akhirnya, cergam semacam Curhat Tita ini ternyata bukan sekadar kumpulan pengalaman individu, namun juga dapat merepresentasikan latar belakang budaya di mana orang tersebut berada. Itulah yang menarik. "Teruslah mencatat. Sebab dari kebiasaan itu suatu hari bisa berguna untuk kita sebagai bahan refleksi, atau juga pelajaran untuk orang lain di kemudian hari," katanya. ***

dewi irma

Tuesday, April 15, 2008

[klipping: Pikiran Rakyat] Peluncuran Cergam Tita

SEORANG pengunjung memerhatikan cerita bergambar (cergam) karya Tita Larasati, pada acara peluncuran dan bedah buku "Curhat Tita" di Galeri Soemardja ITB, Jln Ganeca, Kota Bandung, Jumat (11/4). Cergam yang diterbitkan sebagai buku ini merupakan catatan harian dalam bentuk gambar dan dianggap sebagai "graphic diary” pertama yang diterbitkan di Indonesia.* KRISHNA AHADIYAT

Sunday, April 13, 2008

[klipping: Koran Tempo] Tita dan Goresan Lugunya,20080413,

Minggu, 13 April 2008

Banyak cara berbagi pengalaman hidup dengan orang lain. Tak selalu yang indah dan membahagiakan; yang menyedihkan bahkan memalukan juga menarik disimak. Banyak orang memilih media kata. Tita Larasati punya cara berbeda. Ia memilih berbagi kisah hidup lewat goresan pena tinta gel dalam bentuk sketsa dan gambar.

    Tita mulai membuat sketsa hidupnya sedari 1995. Awal 1998, ketika ia melanjutkan belajar ke Belanda, kebiasaan ini jadi obat kangennya kepada keluarga dan teman-temannya. Dia biasa mengirimkan hasil sketsa gambar lewat faksimile.

    "Semua saya buat secara spontan. Bahkan kalau ada goresan yang salah pun saya biarkan apa adanya. Inginnya, sih, berwarna, tapi saya nggak ada waktu," kata Tita. Oleh keluarga dan teman-temannya, gambar-gambar kiriman Tita dikumpulkan dan diperbanyak menjadi komik pendek. Hingga kini terkumpul lebih dari 100 lembar kertas A4 dan lebih dari tujuh buku sketsa berukuran A5. Gambar-gambar inilah yang kemudian diseleksi dan diterbitkan dalam Curhat Tita. Coretan-coretan yang dibuat Tita sangat bersahaja tapi tak mengurangi makna pesan yang hendak disampaikan ibu dua anak dan doktor lulusan Universitas Teknologi Delft ini. Untuk mengingat saat peristiwa berlangsung, Tita menyertakan tanggal dan lokasi peristiwa dalam goresannya, tidak ubahnya seperti buku harian pada umumnya.

    Istilah membaca tampaknya tak terlalu tepat untuk menikmati buku ini. Sketsa Tita memang miskin kata. Lewat balon berisi kata-kata dengan bahasa campur sari, Indonesia, Inggris, dan Belanda, kita diajak melanglang buana menikmati potongan-potongan pengalaman Tita, seorang gadis Indonesia di Negeri Belanda, hingga kembalinya Tita sebagai ibu dua anak ke Tanah Air 10 tahun kemudian. "Ini memang ibarat potret kenangan saya. Saya buat langsung ketika ada ide," katanya.

    Kehadiran tokoh Dhanu dan Lindri, dua anak Tita, berikut kebandelan khas anak-anak membuat kisah-kisah curahan hati (curhat) ini jadi lebih hidup. Simak, misalnya, gaya Lindri, putri kedua Tita, membangunkan ibunya di pagi hari dengan menempelkan sandal jepit di wajah sang ibu. "Anak-anak memang sumber inspirasi saya. Karena gambar saya, juga potret, buat mereka kelak ketika dewasa. Begini, lo,  kenakalan kamu dulu," kata Tita tertawa.

     Atau gaya Tita, si penggemar sepeda, menggambarkan keruwetan lalu lintas Bandung dari rumah ke kampusnya, Program Studi Desain Produk Institut Teknologi Bandung, tempatnya mengajar kini. Juga kegusaran Dhanu, putra pertamanya yang berayah Belanda, akan kulitnya yang lebih putih dari teman-teman sekolahnya di Bandung.

    Tak semua kisah Tita berisi hal-hal ringan semata. Di penggalan kisah Upsetting Thoughts, Tita menampilkan sisi dirinya yang lebih serius, meski gambar yang disuguhkannya masih penggalan dari kegiatannya sehari-hari.

    Di balik dunia cerah dan penuh warna yang digambarkan Tita, ia juga menggugah perasaan lewat coretan keresahannya akan kondisi Tanah Air. Misalnya kisah seorang guru di Tangerang yang terpaksa mengakui dirinya pekerja seks hanya karena pulang larut malam. Atau anak yang diadili karena "berhasil" menjatuhkan pemalak yang bertubuh lebih besar. Tita, dengan beragam aktivitas yang ia jalani, tetap saja seorang ibu yang resah.


[klipping: Republika Online] Graphic Diary Curhat Tita

Minggu, 13 April 2008

Graphic Diary Curhat Tita

Pengalaman sehari-hari ia kisahkan dalam torehan grafis. Hasilnya, menjadi pioner sebagai buku harian dengan tampilan komik.

Judulnya Curhat Tita. Inilah buku harian bertutur dengan tampilan gambar-gambar komik (graphic diary). Jumat (28/3) malam, buku karya Tita itu diluncurkan di Toko Buku Aksara, Kemang, Jakarta Selatan.

Kepada pengunjung yang menghadiri acara peluncuran itu, pemilik nama Dwinia Larasati itu menceritakan bahwa latar belakang pembuatan komiknya murni berasal dari kisah kehidupannya. Menurut dia, setelah menamatkan pendidikan jenjang sarjananya di Institut Teknologi Bandung pada jurusan Desain Produk, dirinya mendapatkan beasiswa S2 dan S3 di Belanda.

Saat-saat memulai hidup di negeri Kincir Angin itulah, kebiasaannya menggambar situasi di sekitar lingkungannya mulai mendapat tempat yang lebih. Ibu dua anak itu, saat itu, harus selalu mengirimkan informasi kepada orangtuanya di Jakarta.

Tita telah mengumpulkan lebih dari 100 lembar kertas A4 dan lebih dari tujuh buku sketsa berukuran A5 yang memuat gambar-gambarnya. Ia kemudian menyeleksinya untuk Curhat Tita. Curhat Tita menjadi graphic diary pertama yang diterbitkan di Indonesia. Di luar negeri, graphic diary dalam berbagai format dan gaya banyak dijual di toko buku.

Lewat bahasanya yang sangat khas, graphic diary Tita berhasil menampilkan berbagai cerita dengan tampilan yang utuh. Meskipun, tidak semua adegan yang dialami Tita saat itu benar-benar dilukiskan menjadi komik yang utuh.

''Saya memang tidak bisa menghadirkan semua cerita saya dalam gambar komik yang komplit. Tapi, setidaknya saya berusaha menampilkannya dengan inti yang utuh,'' jelas Tita kepada Republika.

Cerita-cerita yang ditampilkan menjadi gambar komik, menurut Tita, benar-benar cerita yang dialaminyna dan sangat sederhana. Misalnya, saat dirinya beraktivitas di rumah dan mengurus anak. Termasuk saat-saat menidurkan kedua anaknya, Rasidia Danurendra (7 tahun) dan Syastra Lindri Dwimaharsayani (4 tahun).

Adegan demi adegan yang digambarkan itu berwujud menjadi sebuah gambar komik yang sangat bermakna. Gambar yang ditampilkan pun benar-benar sangat berbeda dibanding komik-komik sebelumnya yang sudah hadir di Indonesia.

Tita menyebut karya orisinilnya itu sebagai bentuk pengekspresian karya seni ala Tita. Kata dia, komik bertutur yang bercerita tentang kehidupan asli seseorang sangat tidak familiar di Indonesia. ''Padahal, di Eropa dan Amerika, komik seperti itu sudah menjamur,'' jelas dia.

Tita menyebut beberapa komikus yang dianggap menjadi inspirator untuk mengembangkan komik diary-nya. Antara lain Peter Pontiac (Belanda), Joulie Doucet (Perancis), Eddie Campbell (Skotlandia), dan Chris Were (Amerika Serikat).

Komikus-komikus itu, kata Tita, memiliki semangat yang luar biasa untuk mengembangkan seni bertuturnya. ''Saya sendiri merasa yakin dengan komik seperti itu setelah melihat karya mereka. Oh, jadi ternyata ada juga tempat untuk saya, ya,'' ujarnya.

Dosen Seni Rupa ITB itu mengungkapkan proses kreatif menciptakan gambar-gambar yang terkesan asal tapi sangat indah itu berlangsung dalam suasana yang sangat cepat dan sederhana. Biasanya, kata Tita, gambar-gambar itu tercipta di saat dirinya sedang berkutat menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya. Di sela waktu tersebut, Tita selalu berusaha menetralkan kepenatannya dengan cara menggambar. ''Saya menggambar apa yang hari itu saya alami. Sudah banyak gambar yang saya kumpulkan,'' ujar dia.

Tita menyadari karyanya ini bukanlah karya pop. Karenanya, ia sama sekali tak menargetkan kuntungan finansial dari upaya penerbitan Curhat Tita. ''Saya melakukannya karena saya cinta pada karya saya. Dan, orang harus menghargainya bukan dengan bentuk sokongan rupiah saja,'' kata dia.

Karena itu, penerbitan Curhat Tita ia percayakan kepada orang yang bisa mengerti keinginannya. Termasuk, keinginan agar waktu terbatasnya tidak menjadi sangat terbatas hanya karena pengerjaan proyek itu. ''Saya ingin profesi sebagai dosen tidak terganggu oleh rencana penerbitan ini,'' ujar perempuan yang suka berpenampilan dengan celana jins dipadu kemeja kotak-kotak dan sepatu gunung itu.

Selama di Belanda, Tita rajin mengikuti workshop dan pameran komik. Termasuk, pameran 'Madjoe!' di Stripdagen Haarlem (2002) dan Royal Ethnology Museum di Leiden, Belanda (2002). Pameran 'Homesick' di Galeri De Schone Kunsten (Haarlem, 2004) dan partisipasi di pameran '24 Hour Comics Day' di Lambiek (Amsterdam, 2006).

Di Indonesia, karya-karyanya pertama kali mulai dikenal publik melalui pameran 'Fellow Indonesian Comic Artist' di Erasmus Huis, Jakarta (2005), Karta Pustaka di Yogyakarta (2005), pameran 'DI:Y' di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (2007), dan pameran 'Curhat Tita' di SPACE59 (Bandung, 2007).

Berbagai antologi karya di luar negeri telah memuat karya-karyanya. Antara lain dalam antologi 40075km Comics oleh l'Employe du Moi (Brussels, 2007), 24 Hour Comics Day Highlights 2006 oleh About Comics (USA, 2007), 24 Hour Comics Day Amsterdam oleh Lambiek (Amsterdam, 2007) dan Jogja 5,9SR oleh Aruskata (Jakarta, 2007). Anugerah Kosasih, pada 2007 dinominasikan untuk blog Tita yang memuat gambar-gambarnya dalam kategori Komik Cyber Terbaik.

Setelah Curhat Tita, Tita tengah mempersiapkan kisah-kisah spesifik untuk graphic diary berikutnya. Tita merencanakan agar komiknya bisa lebih runut dan bertema. Seperti, tentang sebuah kejadian yang sangat membekas dalam dirinya. ''Tapi, itu baru rencana awal. Mungkin realisasinya, bisa saja lain lagi. Kita tunggu saja deh,''tutur dia.

(mus )

Saturday, April 12, 2008

Curhat di Galeri Soemardja, Bandung, 11 April 2008

Sayang saya nggak bikin catatan selama diskusi berlangsung. Tapi kurang lebih inilah yang saya ingat, tolong dikoreksi atau ditambahkan bila perlu, buat yang juga hadir di sana sore itu.

Acara dimulai agak terlambat (biasa deh), tapi Mas Toni Masdiono sudah datang sebelum jam tiga. Pak Priyanto S. datang jam tiga, tapi beliau harus pergi lagi jam 4 sore untuk rapat di tempat lain. Sedangkan Pak Yasraf A. Piliang baru bisa datang setelah jam 4. Jadi para pembicaranya seperti ‘gantian’ mengisi acara.

Langsung aja ke masukan dari Pak Priyanto. Terutama kritiknya dulu, yang mau saya bahas, karena itu yang saya paling ingat… hehe… Beliau lebih suka format fotokopi yang berjudul A Taste of Tita yang saya buat waktu acara KONDE di Ancol tahun lalu, ketimbang Curhat Tita versi Curhat Anak Bangsa. Masalahnya adalah di bingkai hitam pada tiap halaman Curhat, yang menjadikan gambar-gambarnya tidak riang lagi, kurang ‘nakal’ dan berkurang kebebasannya. Pak Pri cerita tentang betapa Pak Suyadi (yg juga beken dengan julukan Pak Raden) sangat menentang pengurungan karya dalam kotak, apalagi kotak hitam. Mas Toni nambahin, ini juga seperti memasukkan karya ke dalam peti mati. Kaku dan sedih. Right, got the point. Memang saya tidak memasukkan banyak pertimbangan estetis dan tidak berpikir panjang untuk urusan lay out. Padahal jelas terlihat ya, kalau pasang foto di Multiply pun rasanya beda kalau pilih bingkai hitam, dan saya selalu pasang versi polos (tanpa bingkai sama sekali). Pembingkaian itu juga bukan hanya soal impresi, tapi juga merembet ke soal proporsi gambar, yang jadinya makin kecil. Tentunya makin tidak nyaman untuk dilihat, mengingat aslinya saja sudah lumayan kecil untuk bisa diamati.
Noted, dan semoga terbitan berikutnya lebih banyak pertimbangan ke arah ini.

Tambahan, baru ingat lagi hari ini: Pak Pri juga berkomentar bahwa kadang2 saya tidak percaya bahwa gambar saya sudah cukup bercerita tanpa harus diselingi teks. Jadi sepertinya di beberapa bagian jadi terlalu penuh oleh kata-kata, yang sebenarnya tidak perlu.


Pak Pri punya pertanyaan: setelah ‘buku harian’ ini menjadi milik publik, apakah Tita akan menggambarkan dirinya seperti yang sudah-sudah, atau jadi berubah? Dan kalau berubah, ke arah yang seperti apa? Jujurnya, saya sendiri nggak tau jawabannya, karena saya nggak bisa melihat ke masa depan (whatever will be, will be). Tapi soal perubahan, jelas sudah ada. Tadinya kan (yang berukuran A4 itu) memang tidak untuk disebar luas, jadi gambarnya pun cuek, kecil-kecil dan tanpa runutan cerita. Hanya ketika saya pindah ke buku A5 sajalah saya mulai mengakomodasi keinginan orang-orang yg ingin ikutan baca buku itu.
Pak Pri melihat buku aslinya (yang ke-8) dan bertanya, kenapa saya
membiarkan halaman di kiri itu kosong? Padahal sepertinya akan lebih seru lagi bila gambar2nya menerabas bebas saja ke kiri! Saya bilang, memang sengaja dibiarkan kosong untuk tempat menempel bon, tiket, karcis, dsb. Tapi bukan ide jelek untuk mencoba hal itu, seperti yang saya lakukan di buku-buku sebelumnya. Kira-kira itulah yang saya ingat, untuk pertimbangan dan perbaikan terbitan selanjutnya.


Ada  juga masukan dari teman-teman, salah satunya (kalo nggak salah) dari Eric, yang berkomentar mengenai merchandise Curhat. Eric tolong luruskan ya kalau ada yang mencong-mencong di paragraf ini, tapi kalo saya nggak salah denger (akustik Galeri Soemardja termasuk parah), Eric menyayangkan komersialisasi semacam ini? Saya lupa tanggapan saya sendiri sore itu, tapi sepertinya saya belum punya pendapat soal ini.
Saya belum melihat ada yang salah di hal ini, meskipun memang saya tahu bahwa dalam beberapa kasus ada pembuat cergam yang tidak setuju akan ekspansi aplikasi karya mereka (misalkan, yang langsung teringat: Bill Waterson yang bikin Calvin & Hobbes). Sedangkan saya sendiri masih nyaman akan hal ini, selama jenis merchandise yang diproduksi masih ‘wajar’ (sejauh ini adalah kaos, pin, dan tas kantung kecil).

Remarks positif dari Pak Pri adalah tentang betapa mengalirnya cerita-gambar ini. Pesan beliau, jangan repot-repot memikirkan ini “komik” atau bukan. Cerita-gambar ini memang dibuat tanpa menghiraukan aturan-aturan baku cara pembuatan komik – yang berpanel-panel, yang berkewajiban memperkenalkan tokoh-tokohnya, dan seterusnya. Tapi ia dibuat berdasarkan adanya cerita yang harus disampaikan, ekspresi yang harus diungkapkan, dengan cara Tita sendiri. Ketiadaan panel di sini bukanlah masalah, bahkan makin menghidupkan ‘kenakalan’ dan kebebasan gambar.

atu hal lagi, gambar itu sebenarnya adalah cerminan atau persepsi si penggambar terhadap obyek yang ia gambarkan. Hal ini berlaku juga pada gambar yang paling naturalis sekalipun. Intinya, yang penting adalah nilai komunikatif karya tersebut; tersampaikannya pesan yang hendak diungkapkan si penggambar melalui karyanya. Dan hal ini dinilai berhasil dalam Curhat Tita.

Sayang Pak Pri harus berada di tempat lain pada pukul 4 sore, jadi beliau terpaksa pamit terlebih dahulu. Kekosongan tempat di depan diisi oleh Mas Andi Yudha, yang mengarahkan pembahasan ke dunia pendidikan di Indonesia, kebiasaan menggambar, dan sikap guru-guru terhadap gambar karya para peserta didik mereka. Terus terang, ini sambil menunggu datangnya Pak Yasraf (yang siang itu juga jadi pembicara di tempat lain, di Buahbatu), jadi pembicaraan berkembang terus – bahkan sampai ke usul pembentukan sebuah partai yang mendukung gerakan menggambar! Memang saya punya teman-teman yang agak-agak nggak beres...


Sekitar pukul setengah lima, Pak Yasraf datang. Kembali saya coba ingat-ingat komentar beliau, yang antara lain menegaskan tentang betapa Curhat Tita mengangkat kembali nilai-nilai keseharian – yang mungkin dianggap remeh atau terlewat saking biasanya, tapi dapat terlihat dan terasa signifikansinya ketika tertuang dalam bentuk cerita-gambar.

Ketika ada pertanyaan dari Pak Rizky (rekan dosen utk bidang HKI, yang juga pengacara), bahwa bagian cerita mengenai urusan di pengadilan dalam buku Curhat itu hanya mewakili sepersepuluh dari seluruh cerita yang saya ceritakan langsung ke dirinya, Pak Yasraf menjelaskan bahwa parodi yang saya gambarkan dalam Curhat adalah jenis yang halus. Bukan secara vulgar atau kasar atau datar, dan masih memasukkan unsur-unsur humor di dalamnya.  Saya sendiri menjawab bahwa sebenarnya masih banyak halaman-halaman lain yang berkaitan dengan urusan di pengadilan itu, tapi bila dikumpulkan bisa jadi satu buku sendiri. Dan mungkin akan terbit sebagai satu buku sendiri sebagai ‘pedoman’ untuk orang yang akan berurusan dengan hal-hal serupa dengan yang saya alami… hehe…

Kira-kira itu inti dari acara sore tersebut. Silakan menambahkan bagi yang juga hadir di sana – saya masih ingat beberapa hal lagi, tapi nanti entry ini jadi kepanjangan. Saya berterima kasih sekali pada teman-teman yang datang, para mahasiswa dan rekan-rekan dosen, tim penerbit, dan tentu saja keluarga yang jauh-jauh datang dari Jakarta: ibu, bude (kakaknya ibu), sepupuku Chica dan Lunanya, dan Syb serta krucils Dhanu dan Lindri yang lari-lari seliweran di dalam galeri selama acara berlangsung. Sampai bertemu di acara berikutnya yaa!

Foto-foto adalah hasil jepretan Chica selama acara berlangsung, selengkapnya dapat dilihat di MP-nya (hanya utk network Chica).


Tambahan: KOMPAS 14 April 2008
[klipping] Buku Harian Grafis "Curhat Tita"

Curhat Tita, buku harian grafis, diluncurkan, Jumat (11/4) sore di Galeri Soemardja Institut Teknologi Bandung. Buku ini merupakan karya sastra-grafis yang berawal dari corat-coret tentang pengalaman harian penulisnya, Tita, alumnus Desain Produk ITB. Corat-coret gambar yang biasa ia kirimkan kepada keluarga ketika ia jauh dari Tanah Air itu kemudian dikumpulkan dan menjadi komik pendek. Hingga kini telah terkumpul 100 lembar kertas dan lebih dari tujuh buku sketsa hasil karyanya. (jon/*)

Wednesday, April 9, 2008

[undangan] Launching "Curhat Tita" di Bandung

Undangan Launching
Curhat Tita
A Graphic Diary

- Tita Larasati
- Priyanto S. (kartunis majalah Tempo)
- Yasraf Amir Piliang (penulis)

Host: Tony Masdiono (praktisi cergam)

Tema : graphic diary dan "Curhat Tita"

Tempat : Galeri Soemardja, ITB, Jl. Ganesha 10 Bandung

Waktu : Jumat, 11 April 2008, pk. 15.00 - selesai

Pelaksana : CV Curhat Anak Bangsa


A Graphic Diary
Galeri Soemardja,
Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10, Bandung
Jumat, 11 April 2008, mulai pk. 15.00


Kebiasaan mencatatkan kejadian sehari-hari, atau menuangkan
pemikiran-pemikiran pribadi, tentunya tidak asing lagi bagi siapa pun.
Bentuknya pun bermacam-macam, dari tulisan di buku harian, hingga
obrolan rahasia dengan teman terdekat, maupun berupa sketsa dan gambar
pada lembaran-lembaran kertas. Pencatatan atau penyampaian pemikiran
pribadi ini sering disebut juga sebagai `pencurahan isi hati', atau -
dalam bahasa gaulnya - `curhat'. Demikianlah buku "Curhat Tita" ini
berasal: berawal dari coret-coret yang dimulai pada tahun 1995, yang
menceritakan pengalaman harian untuk dikirimkan pada keluarga ketika
sedang tinggal jauh dari tanah air, gambar-gambar Tita ini pun
dikumpulkan dan diperbanyak menjadi `komik' pendek yang dapat
dinikmati oleh keluarga dan teman-teman di tanah air. Seiring dengan
berjalannya waktu, hingga kini telah terkumpul sebanyak lebih dari 100
lembar kertas A4 + lebih dari 7 buku sketsa berukuran A5 yang memuat
gambar-gambarnya, yang lalu diseleksi dan diterbitkan dalam "Curhat Tita".

Cerita bergambar (cergam) yang terbit sebagai buku dengan tema graphic
diary, atau catatan harian berupa gambar, belum banyak dikenal di
Indonesia. "Curhat Tita" bahkan dapat dianggap sebagai graphic diary
pertama yang diterbitkan di Indonesia. Berbeda dengan di luar negeri,
cergam dengan tema serupa dalam berbagai gaya, format dan fokus
cerita, dapat dengan mudah ditemukan di toko-toko buku. Dari berbagai
contoh yang telah ada ini, terlihat bahwa cergam jenis ini ternyata
bukan sekedar menceritakan pengalaman atau ekspresi seorang individu,
namun juga dapat merepresentasikan latar belakang, kebiasaan dan
budaya di mana orang tersebut berada. Akan sangat menarik untuk dapat
melihat berbagai ekspresi serupa di Indonesia, yang tentunya tidak
kalah bervariasi dibandingkan dengan karya-karya dari luar Indonesia.
Oleh sebab itu, terbitnya "Curhat Tita" diharapkan dapat memicu
perkembangan cergam dengan tema serupa di Indonesia, sehingga
meramaikan ragam cergam karya insan kreatif Indonesia.

Detail Acara
Bentuk acara: Presentasi dan bincang-bincang bersama Tita, dll.
Host : Tony Masdiono (Praktisi Cergam)
Pembicara : Tita Larasati (penulis), Priyanto S. (kartunis majalah Tempo), & Yasraf Amir Piliang (penulis)
Tema : graphic diary dan "Curhat Tita"
Tempat : Galeri Soemardja, ITB, Jl. Ganesha 10 Bandung
Waktu : Jumat, 11 April 2008, pk. 15.00 - selesai
Pelaksana : CV Curhat Anak Bangsa

Rundown Acara
15:00 - 15:30 presentasi mengenai graphic diary dan karya-karya Tita
15:30 - 18:00 sesi tanya-jawab dan bincang-bincang bersama Tita, dll.

Saturday, April 5, 2008

Japan Foundation Comic Magz Project

Comic Magazine Project
Sebuah proyek yang digagas oleh Takahashi Mizuki dan Ade Darmawan (ruangrupa) untuk mempublikasikan kompilasi komik di Indonesia yang berisikan karya seniman Indonesia dan Jepang.
Seniman : [Indonesia] Agung Kurniawan, Beng Rahadian, Eko Nugroho, Dwinita Larasati
[Jepang] Shiriagari Kotobuki, Kondoh Akino, Nishijima Daisuke, Oishi Akinori
Dapatkan kompilasi komik ini secara gratis dengan menghadiri event Seni Rupa Japan Foundation dibawah ini

KITA!! : Japanese Artists Meet Indonesia
19 April - 18 Mei 2008

Tidak kurang dari 56 orang dari 24 kelompok seniman Jepang akan tinggal di
Indonesia untuk beberapa waktu. Mereka diharapkan mampu menyerap budaya
Indonesia dari alam dan lingkungan tempat mereka tinggal serta berkolaborasi
dengan masyarakat serta seniman Indonesia. Karya mereka selama beradaptasi di
Indonesia ini dapat diapresiasi oleh UMUM dan akan diselenggarakan di beberapa

Tempat penyelenggaraan:

  • Teater Kecil - Taman Ismail Marzuki Jl. Cikini Raya 73 T 021-319-34740
  • Cemeti Art House Jl. Dl. Panjaitan Yogyakarta T 0274-371-015
  • Lembaga Indonesisa Perancis (LIP) : Jl. Sagan no. 3 Yogyakarta T 0274-566520
  • KINOKI Jl.Abu Bakar Ali no.2 Kotabaru 0274-7029085
  • Ruang MESS 56 Jl. Nagan Lor no. 17 Yogyakarta 55133 Jeron Benteng T 0274-375131
  • Jogja National Museum (JNM) Jl. Amri Yahya no.1 Gampingan Wirobrajan Yogyakarta 0274-586105

=============== OPENING EVENTS ===============

KITA!! Grand Opening (Jumat) 18 April pk. 19:00-
Jogja National Museum | Catering: Nanpu Shokudo
  • Strange Kinoko Dance Co.,
  • Chanchiki Tornade


Opening (Senin) 21 April pk. 19:30-
Selasar Sunaryo Art Space Performance:
  • Ujino Muneteru,
  • Strange Kinoko Dance Co.,
  • Chanchiki Tornade

=============== EXHIBITION ===============

(Sabtu) 19 April 2008 - (Minggu) 18 Mei 2008

Selasar Sunaryo Art Space
  • Ujino Muneteru (installation) ,
  • Oishi Akinori (media art),
  • Tochka (video),
  • Hachiya Kazuhiko (media art),
  • paramodel (installation) ,
  • Matsumoto Chikara (video installation)

Jogja National Museum
  • Asai Yusuke (drawing),
  • Shiga Lieko (photography) ,
  • Shiriagari Kotobuki (installation) ,
  • SONTON (installation) ,
  • Takagi Masakatsu (video),
  • Chim¡ôPom (video installation) ,
  • Tsuzuki Kyoichi (photography) ,
  • Namaiki (installation) ,
  • Nanpu Shokudo (video),
  • Nishio Yasuyuki (sculpture),
  • Hachiya Kazuhiko (media art),
  • Yodogawa Technique (sculpture, video)
Cemeti Art House
  • YNG (Yoshitomo Nara + graf) (installation)
Ruang MES 56
  • Tsuzuki Kyoichi (photography)
  • Theatre Products (textile, clothing) + Abdi Setiawan (sculpture) + DAGADU (fashion)

=============== WORKSHOP ===============

Selasar Sunaryo Art Space (Sabtu) 29 Maret - (Sabtu) 12 April
  • Matsumoto Chikara: Handscroll Viewer [animation & drawing]
Common Room (Rabu) 9 April - (Senin) 14 April
  • Tochka: Pika Pika [video art]
LIP (Jumat) 18 April & (Sabtu) 19 April
  • Theatre Products THEATRE PRODUCTS Voyage "CUT & SEWN" [fashion] Cooperation: DAGADU

=============== PERFORMANCE ===============

Taman Ismail Marzuki (TIM)
Teater Kecil
(Selasa) 15 April & (Rabu) 16 April pk. 20:00 -
  • Strange Kinoko Dance Co. [dance]
(Minggu) 20 April pk. 16:00 -
  • Chanchiki Tornade [music]

Pasar Bring Harjo
(Kamis ) 17 April ; siang hari
  • Chanchiki Tornade (Chindon music performance)

=============== VIDEO SCREENING ===============

  • A Program: KITA!! Video All Stars | Takagi Masakatsu, Matsumoto Chikara, Kondoh Akino, Kotaka Takuro, Tochka
  • B Program: Takagi Masakatsu Special
  • C Program: Matsumoto Chikara Special
  • D Program: KITA!! Assorted Video Works | Hachiya Kazuhiko, Shiriagari Kotobuki, Yodogawa Technique, Chim¡ôPom, Nishijima Daisuke, Ujino Muneteru

Selasar Sunaryo Art Space | Seluruh program (A,B,C,D)


Jogja National Museum | A & B Programs
Kinoki | Seluruh program

=============== CURATOR'S LECTURE ===============


Jogja National Museum (Kamis) 24 April pk. 13:00-14:30
  • Takahashi Mizuki "Japanese Contemporary Art in the 21st Century" + Nanpu Shokudo's special lunch

Wednesday, April 2, 2008

Konsumen di Indonesia, jangan harap jadi "raja"

Sebenernya tulisan ini nggak akan ada kalau kasusnya cuma sesekali, maklum lah Indonesia. Tapi karena sepertinya hari-hari belakangan ini kasusnya lumayan beruntun, jadi 'terpaksa'lah menggelar sedikit unek-unek.

Yang pertama soal pemberesan SK Menteri HukHAM ttg kewarga-negaraan si Lindri. Hingga sekarang saya belum sempat ke sana lagi utk minta perbaikan nama dan tanggal lahir Lindri pada SK-nya (situ yang kerjanya gak becus, kok kita yang jadi repot?!). Bukan hanya bener2 nggak sempet, tapi juga enggan, mengingat 'biaya administrasi pengambilan SK' yang mereka kenakan, yaitu 500ribu rupiah per nama. Setelah tanya ke sana kemari, jelaslah bahwa nggak ada aturan resmi macam ini.
Suatu hari saya nemu artikel di Kompas Online ini: DepHuk dan HAM Paling Buruk. Intinya, saya cuplikkan demikian (penebalan oleh saya), "Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia serta Badan Pertanahan Nasional dinilai sebagai instansi-instansi yang paling buruk memberikan pelayanan kepada publik. Bahkan, di dalam survei Komisi Pemberantasan Korupsi, petugas pelayanan publik di dua instansi itu masih berperilaku koruptif". Hah! Jadi kalau saya ke sana lagi, selain ngotot minta bukti adanya peraturan 500rb itu, saya akan sodorkan artikel ini di depan hidung mereka. Mempan nggak mempan, kita bisa liat nanti mereka masih punya malu atau enggak! Yang jelas saya nggak mau
ngasih sejuta begitu saja ke para tukang porot ini...

Yang kedua adalah dengan PT Pos Indonesia (teman yang mengalami ini, kalau cerita saya nggak akurat, benerin ya :D). Seperti yang sudah dapat diduga, kami sedang (akan) sering2nya mengirimkan paket Curhat Tita ke luar kota, luar pulau dan luar negeri. Yang di dalam Indonesia mungkin nggak masalah. Tapi untuk yang keluar negeri, urusannya agak ajaib.
Jadi gini. Kita tau bahwa ada jasa2 pengiriman profesional seperti DHL, FedEx,
TIKI, dsb. Tapi karena kita cari yang harganya paling pantes (yg dikirim cuma barang cetak massal gituloh), kita mau pakai jasa PT Pos Indonesia saja. Paling enggak pakai pos tercatat, biar bisa dilacak. Nggak usah pakai ekspres yang mahal2 itu, sebab paling murah pun 300rb harus dikeluarkan untuk menaruh paket2 tsb ke benua di belahan bumi lain. Eh tapi apa coba kata petugas posnya hari ini, "Pakai yang ekspres (mahal) aja. Kalo pake yang murah begini, kami nggak jamin bisa sampai atau enggak. Dan kalau nggak sampai, nggak boleh keberatan". What the...?! Kok dari awal udah niat nyasarin barang orang?! Ini Kantor Pos atau tukang gadai pasar selundupan?! Ndilalah kok ya pada hari yang sama saya nemu artikel ttg Kantor Pos ini di Pikiran Rakyat. Puah, mau "persaingan global"?! Kalo kelakuannya kayak gini, mau bersaing tingkat kecamatan pun pasti keok!
Jadi sampe sekarang kita masih nggatau mau ngirim pake apa keluar negri, yang harganya masuk akal dan layanannya bisa dipercaya...

Terakhir, soal tiket konser Duran Duran yang mahalnya minta ampun. Ada artikel ttg konser DD di Kompas Online hari ini, tapi ngeja nama Nick Rhodes-nya salah sampe dua kali(!). Saya dan sepupu saya setuju utk beli tiket Festival Depan (750rb), sebab posisinya memang pas di depan panggung, menurut denah pada tempat penjualan tiket. Niatnya memang untuk ngibing, hehe. Tiket kami sudah terbeli minggu lalu, jadi tinggal nunggu Hari-H nya dengan tenang, bukan? Bukan.
Sebab baru tadi sore ini seorang teman lain mengirim SMS: dur, promotor nepthya brengsek. tadi malam ada selebaran, layout dirubah. paling depan vip semua, festival kebagean paling belakang. udah gitu tiket vip dihajar 2jt dan tidak dijual umum. payah. asli. ngecewain.
Saya: Idih norak! Dijual k member fanclub khusus kali ya. Booo
Temen bales lagi: protes gw. gw kan beli tiket based on layout yg pertama, yaitu depan panggung. skg kita jadi paling belakang. norak aja masa depan panggung penonton pada duduk?, emangnya gamelan! nepathya gw blacklist. di depan panggung mustinya crowd.
Huh, kecewa! Ada yang kenal nggak sama orang2 Nepathya ini? Kan namanya nipu (calon) penonton, yang udah keburu beli tiket! Sok2an mau jual tiket konser termahal di dunia, tapi layanannya kayak jual karcis layar tancep yang masih misahin antara inlander dan totok. Seperti yang saya bilang ke temen itu tadi: semogaaa konsernya sepi, jadi kita bisa ketemuan sama LeBon!

Dari tiga kasus di atas, keliatan kan kalo kita ini, sebagai konsumen yang harus dilayani dengan benar, malah nggak punya daya tawar di Indonesia? Peres aja terus, dianggap sumber uang, kayak yang pada nggak digaji aja. Bikin malu.

Sumber gambar: Kompas Online, Pikiran Rakyat Online, dan situsnya Nepathya