Wednesday, September 2, 2009

[klipping] Komik Keroyokan dan Korupsi

Koran Tempo, Ruang Baca edisi 31 Agustus 2009

Cerita Sampul
Komik Keroyokan dan Korupsi


Belakangan ini komik-komik Indonesia yang terbit mengangkat tema yang beragam dan bentuk yang macam-macam, tak lagi terikat pada model manga dan genre silat dan superhero yang dulu sempat merajai dunia perkomikan. Tema itu bisa soal pemberantasan korupsi hingga kisah keseharian sang komikus. Bentuknya bisa gado-gado karena digarap keroyokan oleh beberapa komikus berbeda gaya atau garis-garis yang bersih. Berikut ini beberapa komik yang muncul tersebut.
Judul: Antologi 7

Pengarang: Alfie Zachkyelle, Tita Larasati, Caravan Studio, Sheila Rooswitha, Motulz, Rhoald Marcellius, Beng Rahadian, Aziza Noor, Adiputra

Penerbit: Curhat Anak Bangsa, Juli 2009

Scott McCloud, tokoh teori komik dan pengarang Understanding Comics, menciptakan tantangan komik 24 jam pada 1990. Dia menantang komikus untuk membuat komik utuh sepanjang 24 halaman selama 24 jam. Gagasan ini diadopsi oleh penerbit Curhat Anak Bangsa (CAB) dengan sebuah proyek yang lebih sederhana: membuat satu halaman cerita bergambar dalam satu hari selama tujuh hari berturut-turut. CAB lantas melempar tantangan itu kepada enam komikus dan satu studio komik dan hasilnya adalah Antologi 7.

Sebagai karya keroyokan, pembaca akan menemukan berbagai tema, cara berutur dan gambar pada buku ini. Alfie Zachkyelle, misalnya, sibuk mengisahkan perjuangan mencari cinta sejati setelah menjadi duda dari seorang cewek Jerman sambil menuturkan soal penyelamatan nasib anjing-anjing peliharaannya yang ditolak di sana-sini. Tita Larasati, yang goresan penanya sudah dikenal lewat komik Curhat Tita yang terbit tahun lalu, kini kembali menncoret-coret panel gambarnya tentang kisah perjalannya yang tersandung-sandung ke Bangkok. Adapun Sheila Rooswitha menurutkan kesialan-kesialan yang menimpanya gara-gara datang terlambat ke kantor.

Meski beragam tema dan gaya, satu hal yang menyatukan ketujuh cerita di buku ini adalah sama-sama mengangkat kisah nyata sang komikus, bukan fiksi. Dalam bahasa Tita, salah satu pendiri CAB, komik begini adalah "graphic diary", catatan harian grafis.

4 comments:

  1. yg dikopi ini satu dari ulasan beberapa cergam di matabaca. bisa di-klik di "koran tempo..." di atas :D

    ReplyDelete