Showing posts with label yogyakarta. Show all posts
Showing posts with label yogyakarta. Show all posts

Monday, June 4, 2007

[Comics Compilation] Jogja 5,9sr

Coming home after picking up the kids from school, after taking off their wet raincoats and boots and my own soaked sandals, I went downstairs to my working desk, as usual. Surprise! A small package, sent using an express mail service, sat still next to my ever-growing pile of papers. It's the Jogja 5,9sr Comics Compilation from Beng! (Thanks so much!)

Right after all immediate household-necessities were taken care of and the kids were settled with their own games, I went upstairs to read the book, from cover to cover. Jogja 5,9sr contains short stories in graphic forms (drawings and photographs in sequences), contributed by various artists. I was invited to do a piece when I was still in The Netherlands, and I managed to submit two one-page stories, which are included in the book.

My first impression towards this book was "rich". Not only of styles and stories, but also viewpoints and meanings. Among my favourite ones are Pak Gempa, which is full of funny details once you look carefully at each panel - despite the touching story it presents - and Jogja Effect, which is adorned by simple, humane daily happenings along the (serious) conversations offerred by its characters.

A launching of this book will take place this Thursday, June 7th, 2007. Following is a copy of the invitation:

SAAT GAMBAR BERBICARA

With:
Frigidianto Agung (fotografer)
Oyasujiwo (Komikus)
Arief AshShiddiq (Visual Arts Magz)
Surjorimba Suroto (komikindonesia.com)
Moderator: Akademi Samali

TB Aksara
Jl Kemang Raya 8B
Jakarta Selatan

Thursday 7 Juni 2007
19.00 - End                

I might come over, as well, but that depends on many conditions this week. We'll see. Following are details relevant to the book:

Jogja 5,9sr contributors: Anto Garang, Azisa Noor, Alfarobi, Asnar Zacky, Beng Rahadian, Budiono, Devoa, Dian, Diyan Bijac, Endik Koeswoyo, F Agung, Ganjar W, Hanree, Herjaka, Injun, Mario Diaz, Man, Motulz, Nana, Iput-Oyas, Ones, Rudi GM, Tita

Publisher: Aruskata (2007)
Price: Rp. 30.000,-
Contents: 104 pages of poems, comics and articles

My contribution can be viewed here: http://komik.multiply.com/photos/album/17 and Motul's is here: http://komik.multiply.com/photos/album/16

Thursday, November 17, 2005

Rampokan at Karta Pustaka, Yogyakarta




Works of Peter van Dongen and Indonesian comic artists, that were exhibited at Erasmus Huis Jakarta and Semarang, are now being shown at Karta Pustaka, Yogyakarta, starting November 11th, 2005. The report (in Indonesian) and photographs here are courtesy of Motulz (thanks, Tul!).

Sekilas Laporan dari Jogja (extend exhibition Peter van Dongen)

Berangkat dari Cengkareng jam 10.45WIB. Kita tiba di Adi Sucipto pukul 11.45 langsung naik taxi hotel menuju Hotel Santika. Saya di kamar 360 (karena ada wi fi internet) dan Benk di kamar 364. Menunggu malam.. saya cuma istirahat di hotel sambil internet sementara Benk reuni dengan teman2 Jogjanya.

Malamnya kita ke lokasi pameran dengan motor (ala Jogja gitu deh) gue di bonceng Agung Komikaze (untung ada dia). Sesampainya di lokasi masih sepi dan langsung disambut Ibu Anggie. Dia masih ingat dan mengenal Benk dengan baik. Kami langsung bergabung dengan pengunjung yang datang kepagian. Baru ngobrol sebentar kita langsung dipanggil Ibu Anggie untuk dikenalkan kepada Pak Hasjmi. Beliau tidak terlalu tua dari yang saya bayangkan.. masih sehat.. dan masih ramah (maklum baru sekali ketemu beliau). Saya sama Benk mempertanyakan kondisi Gundala, beliau sangat ingin sekali memunculkan kembali Gundala, sayangnya saat ini belum bisa aja.

Acara langsung dibuka oleh Ibu Anggie lalu dilanjutkan oleh kata sambutan dari Pak Hasjmi. Pak Hasjmi mengulas tentang "gaya komik" Peter van Dongen yang terpengaruh oleh Herge. Baginya ini merupakan sebuah wacana baru bagi komikus Indonesia, baik yang tua maupun yang muda. Dulu, komik dengan gaya-gaya itu sering dikonotasikan dengan meniru, atau plagiator. Bagi Pak Hasmi ini merupakan sebuah langkah proses, tahap belajar yang sangat wajar dilakukan bagi semua orang termasuk pembuat komik.

Pak Hasmi pun mengakui bahwa saat dulu ia membuat komik pun meniru komik Amerika yang saat itu beredar. Hanya saja memang topik "meniru" ini sangat tabu dibahas. Nah bagi Pak Hasmi, keterbukaan Peter ini menjadikan sebuah pelajaran baru bagi komikus Indonesia. Selesai sambutan, Pak Hasmi langsung membuka pameran dan mempersilakan masuk. Pameran dihadiri banyak pemerhati komik. Saya ketemu Eko (Daging Tumbuh), Sam (Petak Umpet), Pak Haryanto? (dari Bening Animasi), lalu Ismail (Sukribo).

Ketika selesai pameran, kita akan pamit pulang (sekitar pukul 22.30) kita masih diajak makan malam oleh teman-teman komikus Jogja (sama Lulu (boemboe), Ismail (Sukribo, Ayam Majapahit), Ferry, Agung (Komikaze) dll). Selesai makan.. kita pulang ke hotel. Semalaman saya gak tidur.. cuma ngerjain kerjaan dan online hehehe.

Hari Sabtu, saya hanya beberes sementara Benk ada keperluan dengan teman Jogjanya. Pukul 13.00 kita check out, setengah jam kemudian diantar mobil hotel ke bandara lalu langsung check in dan boarding pukul 15.10. Tiba di Jakarta pukul 16.00... lelah rasanya :) lalu saya dan Benk berpisah.

Bagi saya.. pameran komik Belanda - Indonesia ini bisa jadi berbeda dengan pameran2 komik biasanya di Indonesia. Peter, yang hanya komikus baru dikenal di Indonesia ternyata bisa mendapatkan tempat yang SANGAT AKRAB dengan para penggemar, pemerhati, dan pekerja komik di Indonesia. Komik Peter seperti memberikan sebuah pandangan baru akan komik yang selama ini berkesan gak serius. Ada banyak pengunjung pameran yang sangat menyayangkan ketidak hadiran Peter dan ingin sekali bertemu dengan Peter. Sepertinya Peter memberi nafas baru bagi komik Indonesia, selain pula memberikan secercah harapan dan kesempatan untuk bangkitnya komik di Indonesia.