Showing posts with label rampokan. Show all posts
Showing posts with label rampokan. Show all posts

Wednesday, May 10, 2006

Sejarah Indonesia di Mata Komikus Belanda



Dari ketinggian langit, terlihat beberapa peti kayu besar berjajar
di tanah. Masing-masing peti berisi seekor harimau yang menunggu
kelanjutan jalan hidupnya melalui upacara Rampokan (= perburuan
harimau). Satu persatu peti-peti tersebut terdobrak terbuka, melepaskan
masing-masing penghuninya – sementara sebuah narasi menyebutkan nama
demi nama yg menokohi kisah ini – untuk memulai jalannya cerita.
Pandangan beralih dari lapangan tempat peti-peti tersebut berada,
menyapu ke arah pegunungan dan hutan di sekitarnya. Kala itu tahun
1946, ketika Hindia-Belanda baru saja mengubah statusnya menjadi
Indonesia; ketika terjadi banyaknya pergolakan militer dan aksi-aksi
perjuangan untuk menegaskan kedaulatan Indonesia. Di jalan pada sisi
gunung terlihat iring-iringan jip militer dan truk yang mengangkut
warga sipil Belanda dan Indonesia, termasuk wanita dan anak-anak. Di
suatu kelokan jalan, seutas tali ranjau telah menunggu.. dan jip
pertama terjebak dalam ledakannya!


Photobucket - Video and Image Hosting
Cuplikan dari Rampokan Celebes

Inilah awal dari sebuah
kisah berjudul “Rampokan Java” (1998), sebuah novel dalam gambar karya
Peter van Dongen, kelahiran Amsterdam th 1966. Kisah ini beranjut dan
berakhir pada seri kedua yang berjudul “Rampokan Celebes” (2004).
Selisih sekitar enam tahun antara seri pertama dengan seri kedua ini
benar-benar diperlukan Peter untuk mengumpulkan dan meneliti lebih
banyak data, baik dalam bentuk dokumen tertulis maupun foto, termasuk
juga perjalanan ke Indonesia, untuk melengkapi kisahnya. Dalam
pembuatan seri pertama pun, Peter membutuhkan setidaknya tujuh tahun
sebelum menyelesaikan karyanya. Namun kerja keras selama 13 tahun ini
tidaklah sia-sia. Meskipun mendapat banyak kritik, terutama dari para
sejarawan dan veteran yang mengalami sendiri masa pergolakan di
Hindia-Belanda antara th 1946 – 1950, “Rampokan Java” telah memperoleh
berbagai penghargaan tertinggi dalam bidang roman bergambar (graphic
novel) di Belanda dan Belgia. Peter van Dongen pun kerap memamerkan
karya yang digarapnya selama proses menyelesaikan kedua seri “Rampokan”
tersebut (seperti sketsa, desain tata letak, poster promosi, halaman
contoh, dan sebagainya), baik di Belanda sendiri maupun di Belgia dan
Perancis. Pameran karyanya tidak terbatas pada acara-acara komik
internasional, namun juga di berbagai galeri dan museum. Tidak hanya
berhenti di sini, “Rampokan Java” telah diterjemahkan ke dalam bahasa
Perancis dan sedang dalam penyelesaian untuk versi bahasa Italia,
karena tingginya animo para pembaca di negara-negara tetangga Belanda
tersebut. Dengan sendirinya, “Rampokan Celebes” pun mendapat sambutan
serupa dan sangat dinanti-nanti oleh pembaca seri sebelumnya. Secara
tidak langsung, Peter van Dongen telah memperkenalkan (sejarah)
Indonesia di Eropa Barat dengan cara yang unik: melalui sebuah novel
bergambar.

Photobucket - Video and Image Hosting
Sampul majalah MYX yg memuat edisi khusus (berwarna) Rampokan Celebes. Beberapa lembar isinya bisa dilihat di sini.

Apakah yang dikisahkan dalam seri “Rampokan”?
Seorang
pemuda Belanda yang dilahirkan dan dibesarkan di Makasar, bernama Johan
Knevel, sempat dikirim kembali ke Belanda pada saat Jepang masuk dan
menduduki Hindia-Belanda. Kisah “Rampokan” dimulai saat Johan kembali
ke Indonesia sebagai tentara sukarelawan, dengan misi rahasianya:
mencari wanita yang mengasuhnya kala ia kecil dulu, bernama Ninih.
Selanjutnya dan hingga akhir, adalah petualangan Johan dalam usahanya
mencari Ninih. Dalam seri pertama, lokasi cerita adalah pulau Jawa dan
dalam seri kedua pulau Sulawesi.

Apakah arti judul “Rampokan”?
Istilah
“Rampokan” mempunyai dua makna; “perburuan harimau” dan “menyita benda
secara paksa”. Saya sengaja memilih judul tersebut sebab makna tersebut
dengan tepat menganalogikan makna yang lain dalam kisah ini.

Apakah kisah ini dikarang sendiri oleh Peter, dan apa yang memotivasinya?
Seluruh
kisah “Rampokan” adalah karangan Peter sendirim yang dibantu oleh
seorang teman dalam menyusun dialog dan mengedit teks. Motivasi Peter
membuat seri “Rampokan” adalah cerita-cerita dari ibunya. Waktu Peter
dan saudara2nya masih kecil dulu, ibu mereka sering bercerita tentang
tanah kelahirannya dan situasi di sana saat beliau tinggal di sana
semasa perang dan setelahnya.
[Ibu Peter lahir di Manado th 1941,
lalu dengan keluarganya pindah ke pegunungan semasa kependudukan Jepang
(sementara ayah dari ibunya tinggal di camp Jepang). Setelah masa
kependudukan Jepang berakhir, keluarga Peter kembali ke Ternate, lalu
tinggal di Makassar. Th 1951 keluarga Peter pindah ke Belanda.]

Cerita
sang ibu yang paling berkesan adalah ketika pada tahun 1950an beliau
harus mencari perlindungan di dalam rumah, karena serangan bom di
Makassar. Ibu bersembunyi di bawah meja, sangat ketakutan sambil
mendengarkan dentuman meriam, tanpa tahu ke mana peluru sebenarnya
disasarkan (dan ternyata salah satu bom jatuh di rumah tetangga!).
Terlahir
dan dibesarkan di Amsterdam, Belanda, Peter tidak pernah mendapat info
menyeluruh di sekolah mengenai Indonesia pada masa pendudukan Belanda.
Sehingga, waktu kecil Peter tidak pernah mendapat penjelasan mengenai
alasan atau kejadian pemboman yang dialami ibunya di Makassar. Baru
ketika menginjak usia 20 tahun, Peter memikirkan kembali mengenai tanah
kelahiran ibunya dan ingin mengetahui lebih banyak. Pada saat itu Peter
baru menyelesaikan cerita bergambar (cergam) berjudul “Muizen Theater”
dan hendak memulai dengan cergam yang lain. Masa lalu dan cerita-cerita
ibunya menjadi inspirasi utama bagi Peter untuk menggarap kisah
“Rampokan Java”.

Photobucket - Video and Image Hosting
Makassar, cetak saring karya Peter

Bagaimana Peter menghadapi berbagai kritik tajam yang menanggapi kisah “Rampokan”?
Berbagai
kritik adalah wajar bagi Peter, karena setting waktu yang ia pilih
dalam kisah ini adalah masa sensitif di Indonesia kala itu, di mana
status Indonesia sebagai negara berdaulat sedang diuji. Melalui riset
yang mendalam dan menyeluruh, Peter mengambil detail sebanyak mungkin
berdasarkan fakta pada masa itu – terutama jenis kendaraan, pakaian,
berbagai elemen dalam kota atau desa atau hutan, dan, yang paling
menarik bagi Peter, gedung dan arsitektur pada masa itu. Sejarah hanya
saya pakai sebagai latar belakang cerita fiksi yang saya karang dan tak
lebih sebagai pendukung proses kreatif, yang hasilnya tak berbeda dari
novel, hanya saja berbentuk gambar dan dialog bersekuel.

Gaya gambar Peter sangat meningatkan pada seri Tintin karya Hergé.
Peter
sangat mengagumi karya-karya Hergé dan dengan sendirinya mengadaptasi
gaya gambarnya ke dalam karya-karya saya sendiri. Seri Tintin menjadi
sukses juga karena perhatian dan detail yang dicurahkan Hergé ke dalam
gambarnya; ia juga melakukan riset yang mendalam untuk setiap seri
Tintin yang dibuatnya. Hal ini, dan juga ketekunannya, sangat menjadi
inspirasi bagi Peter.

Secara teknis, bagian mana yang paling sulit dalam pembuatan seri “Rampokan”?
Untuk
“Rampokan Java”, seluruhnya dibuat secara manual oleh Peter. Dari
sketsa, kotak-kotak pembatas, hingga pewarnaan (dual tone). Peter harus
memotong sendiri kertas film dengan cutter, satu persatu, untuk membuat
separasi warna. Ia menghabiskan dua bulan penuh hanya untuk menggarap
pewarnaan seri pertama ini. Untuk “Rampokan Celebes”, seluruh pewarnaan
menggunakan komputer. Selain karena adanya tenggat waktu, juga karena
warna-warna pada seri ini adalah datar dan tak bertekstur, maka
pewarnaan dengan menggunakan komputer dapat mencapai hasil serupa
dengan pewarnaan manual.

Setelah seri “Rampokan” ini selesai, apakah ada rencana untuk novel bergambar selanjutnya?
Peter
memastikan akan membuat karya berikut, hanya belum memastikan topiknya,
meskipun sudah banyak ide terkumpul di benaknya. Yang jelas, karya
berikutnya masih akan bernafaskan masa Hindia-Belanda. Sebab tema ini
yang akan selalu ada dalam hatinya, dan masih akan terus menarik
baginya, yang juga ia akui sebagai akar/ latar belakangnya. Ini
penting, sebab seseorang harus selalu berkarya dari lubuk hatinya,
dengan jujur dan penuh dedikasi.

Photobucket - Video and Image Hosting
Sampul Rampokan Celebes

Rampokan” mendapat sambutan
positif dari pembaca berbahasa Perancis dan Italia. Apakah ada rencana
ke arah penerbitan “
Rampokan” dalam bahasa Indonesia?
Pada salah
satu pameran karya-karya Peter di sebuah galeri di Amsterdam, direktur
Erasmus Huis Jakarta datang berkunjung dan menyatakan berminat untuk
menggelar pameran ini di Jakarta. Rencana ini tentunya disambut dengan
baik oleh Peter. Selama ini Peter sudah menerima berbagai reaksi
positif dan antusiasme dari anak-anak muda Indonesia yang sangat
beminat untuk menikmati seri “Rampokan” secara menyeluruh. Jadi menurut
Peter, pameran di Jakarta akan menjadi pemicu yang sangat baik untuk
memperkenalkan seri “Rampokan” ke masyarakat Indonesia.

Berdasarkan pengalaman berkarya selama ini, adakah yang hendak disampaikan kepada para komikus muda?
Percayalah
pada tingkat kemampuanmu sendiri. Di masa kini, semua gambar memang
dapat dikomputerisasi, namun hal ini dapat dilatih dan siapapun dapat
mengerjakannya. Yang terpenting adalah orang di belakang komputer
tersebut. Jadi adalah sangat penting untuk mempelajari berbagai teknik
manual dan mengembangkan gayamu sendiri, tetap tekun dan terus berusaha
menghasilkan yang terbaik.

Photobucket - Video and Image Hosting
Ilustrasi yg dijadikan lembar2 promosi pada pameran Peter van Dongen di Jakarta dan Yogyakarta

Tita, 19 April 2005

PS: Seri Rampokan Jawa telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia pada bulan September 2005, peluncurannya berbarengan dengan pameran Peter van Dongen dan Rekan2 Komikus Indonesia di Erasmus Huis Jakarta.



Monday, November 28, 2005

Rampokan Exhibition in Yogya (articles)




Some clippings from local newspaper about Peter van Dongen's exhibition in Yogyakarta (thanks to Suryo from Komik Alternatif mailing list for the info).
The first article from Kedaulatan Rakyat contains an announcement about the exhibition, along with an interview with Anggi Minarni, the Director of Karta Pustaka Yogyakarta (where the exhibition is held). My nickname is not the only word that was misspelled in that article.
The second article from Kedaulatan Rakyat contains opinions from Hasmi, creator of the legendary Gundala Putra Petir, who opened the exhibition. His points are: in creating comics, great skills should be improved by creativity (which is the biggest challenge in this Internet era), artists should understand the overall background of their subjects (be resourceful! - and diligent).


Kedaulatan Rakyat 9 Nov 2005
Peter van Dongen dan Rekan Pembuat Komik
YOGYA (KR) - Karta Pustaka bersama Erasmus Huis menyelenggarakan acara ‘Peter van Dongen, Kartunis dan Re-kan Pembuat Komik Indonesia: Motulz, Titi, Cahya dan Beng’ di Pendapa Karta Pustaka, Jl Bintaran Tengah 16, Jumat 11 November mendatang dibuka pukul 19.30. Pembukaan akan dilakukan komikus Yogya, Hasmi pencipta tokoh komik Gundala Putra Petir.

Direktur Karta Pustaka, Anggi Minarni mengatakan, kegiatan ‘Peter van Dongen dan Rekan Pembuat Komik’ sebenarnya diilhami oleh perayaan di Indonesia sehubungan dengan 60 tahun Kemerdekaan. Erasmus Huis akan menggelar karya kartunis Belanda Peter van Dongen, kelahiran Amsterdam tahun 1966 bersama karya lain dari generasi baru kartunis Indonesia. “Kartunis Indonesa banyak dipengaruhi oleh gaya buku komik Eropa: Motulz, Titi, Cahya dan Beng,” katanya.

Setahu Anggi Minarni, Peter van Dongen mengawali karirnya sebagai penabuh drum dalam sebuah kelompok musik ska-reggae pada awal tahun 80-an. Setelah enam tahun dan sejumlah album singlenya, ia kemudian jatuh cinta pada komik. Sejak kecil, Peter van Dongen sudah mengagumi garis-garis jelas pada gaya kartunis Herge, Jacons dan kemudian Franquin dan Chaland. Ia berhasil melanjutkan studinya di jurusan gambar profesional di Sekolah Tinggi Grafis Amsterdam, namun sayangnya ia tidak berhasil masuk Reitveldas-cademie.

Namun demikian, Van Dongen tidak berhenti menggambar dan pada tahun 1990, ia melakukan debut dengan diterbitkannya Theatre of Mice (Casterman). Tahun 1991, karya Van Dongen memperoleh penghargaan Buku Komik Terbaik dari ‘Stripschappenning’, sebuah penghargaan dari komunitas kartunis Belanda. Pada tahun 1998, Van Dongen mengeluarkan buku baru berjudul ‘Rampokan: Java’ (Ong & Blik). Dongeng tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia yang merupakan tanah leluhur Van Dongen ini mendapatkan sambutan yang lebih baik daripada debutnya. Kembali Van Dongen memperoleh penghargaan ‘Stripschappening’ untuk karyanya ini sebagai Buku Komik Terbaik tahun 1999, serta penghargaan ‘Prix du Lion’ 1999 di Brusel. ‘Rampokan: Java’ turut diterbitkan oeh Joost Swarte. Pada tahun 1998, baik penulis maupun penerbit memperoleh penghargaan untuk Desain Buku Terbaik. Edisi kedua dan terakhir Rampokan berjudul ‘Rampokan” Celebes’ diterbitkan tahun 2004. (Jay)-o


Kedaulatan Rakyat 14 Nov 2005
KOMIKUS ‘GUNDALA PUTRA PETIR’ HASMI: Komik Indonesia Jangan Sekadar Meniru

YOGYA (KR) - Para komikus alias pembuat komik memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Persoalannya, apakah mereka memiliki kreativitas yang tinggi sehingga tidak sekadar meniru ? Kreativitas dalam menggarap tema dan karakter yang benar-benar ‘Nge-Indonesia’. Komikus Indonesia jangan sekadar meniru dari negara maju seperti Jepang, perlu membuat komik khas Indonesia.

Demikian ditegaskan Hasmi, komikus dari Yogya yang terkenal dengan karyanya ‘Gundala Putra Petir’ saat membuka Pameran Komik ‘Peter Van Dongen dan Rekan Pembuat Komik Indonesia’ di Pendapa Karta Pustaka, Bintaran Tengah, Jumat (11/11) malam. Selain karya Peter Van Dongen ditampilkan pula karya Motulz, Tita, Cahya dan Beng. Pembukaan pameran tersebut diberi pengantar Direktur Karta Pustaka, Anggi Minarni.

Menurut Hasmi, tantangan membuat komik saat ini memang soal kreativitas. Masalahnya, media, teknologi komputer sudah menjadi bagian industri dari komik itu sendiri. “Persoalan bakat yang besar, adakah dibarengi kreativitas yang tinggi ?” tanya Hasmi. Ia hanya memberi ilustrasi, membuat komik itu sebenarnya harus memahami sosio-kultur dari materi yang akan diga-rap. Lihatlah karya Peter Van Dongen begitu ingin menghadirkan komik bercerita tentang Indonesia atau Asia, karakter orang-orang Indonesia atau Asia sangat kuat muncul dalam karya tersebut. Tak hanya itu, setting bangunan, cerita benar-benar digali dari sosio-kultur Indonesia. Pada prinsipnya, komikus sebelum menuangkan dalam karya sudah memiliki sejumlah referensi sosio-budaya, dipadukan dengan kemampuan imajinasi, akhirnya menjadi karya yang berkualitas dalam rentang waktu yang panjang. “Saya mengungkapkan hal ini sebenarnya bercermin dari diri sendiri. Saya membuat komik Gundala Putra Petir, justru memiliki bayangan tentang Eropa. Padahal saya sendiri tidak mengenal betul Eropa. Tapi, bagaimana lagi semua sudah kebacut alias telanjur,” ucapnya terus terang. Herannya, justru karya tersebut banyak yang memuji dan melekat betul dalam memori masyarakat.

Dalam pengamatan Hasmi, Yogyakarta dengan potensi seniman mudanya merupakan lahan sumber tumbuh-kembangnya komik. “Potensi yang besar memang harus digali dengan segala proses, ketekunan. Syukur komikus mampu membuat mashab, aliran sendiri, serta gaya tersendiri dalam karya yang dihasilkan,’ harapnya yang malam itu merasa berbahagia karena sepanjang hidup baru 2 kali membuka pameran komik. Meski dalam hal ilustrasi itu sendiri, atau komik tidak mengenal ‘mashab’, tetapi karakter karya dari goresan spontanitas bisa dilacak dari mana karya itu berasal. “Saya sendiri juga tidak setuju dengan Manga dari Jepang,” katanya tanpa memerinci, kenapa tidak setuju.

Hasmi juga berharap dari komikus muda, tetap saja muncul kreasi. Bahkan, siapa tahu dari kreasi ada penerbit yang mau berbaik hati menerbitkan, kemudian didistribusikan dan direspons pembaca. Sedangkan Anggi Minarni dalam pengantar antara lain mengatakan peristiwa pameran komik sekarang ini masih langka. “Kalau mendatangkan karya dari Belanda kemudian dipersandingkan dengan komikus Indonesia, harapannya bisa merangsang komikus Indonesia berkreasi.” tandasnya. (Jay)-o

Kompas 15 Okt 2005
Upaya Meraih Pasar dengan Format Baru
BI Purwantari

”Di komputer tertulis stoknya masih ada, kenapa saya dan Anda tidak bisa menemukan buku itu?” tanya seorang pembeli di sebuah toko buku besar di Jakarta dengan nada meninggi. Wajah si penjaga toko tampak bingung dan hanya bisa menjawab, ”Maaf, kami sedang membereskan stok buku.”

Setengah putus asa si pembeli menghampiri tumpukan ratusan komik, membolak-balik komik-komik tersebut. Karena yang dicari belum ditemukannya, ia beralih menuju rak bertuliskan cerita remaja. Satu persatu dibacanya judul tiap buku. Sekitar lima belas menit kemudian terdengar seruannya, ”Ah..ini dia..ketemu juga akhirnya!” Rupanya buku yang dicari tersebut terletak agak tersembunyi sehingga tidak mudah dilihat pembeli.

Buku yang dicari itu berjudul Selamat Pagi Urbaz, Sebuah Novel Grafis karya Beng Rahadian. Meskipun disebut novel grafis, tetapi formatnya tidak jauh berbeda dengan komik: menggunakan panel-panel gambar dengan balon untuk dialognya.

Di toko buku ini kita dapat menyaksikan tumpukan menggunung komik seperti Kung Fu Boy, Detektif Conan, Kapten Tsubasa, Yugi Oh, dan lainnya di antara rak-rak buku. Masih ditambah lagi komik-komik beraliran manga lainnya dipajang di rak dengan posisi yang mempermudah pembeli mencarinya. Sementara itu, karya Beng Rahadian tadi maupun buku novel grafis lainnya berjudul Split karya Bayu Indie hampir-hampir tak tampak di deretan rak buku yang ada.

Novel grafis, sebuah istilah yang dipopulerkan pertama kali oleh Will Eisner di Amerika Serikat pada paruh terakhir tahun 1970-an, merujuk pada sebuah bentuk komik yang mengambil tema-tema lebih serius dengan panjang cerita seperti halnya sebuah novel dan ditujukan bagi pembaca bukan anak-anak. Istilah ini sebenarnya dipakai oleh Eisner lebih untuk mencuri perhatian perusahaan penerbit tempat ia menyerahkan naskah komiknya di tengah-tengah dominasi pengertian komik sebagai bacaan murahan dan penguasaan pasar pada era itu.

Di Indonesia sendiri, istilah ini belum lama dipakai oleh komikus lokal yang melahirkan karya komik dengan alur cerita seperti halnya sebuah novel, seperti karya Beng Rahadian berjudul Selamat Pagi Urbaz ataupun Split hasil goresan Bayu Indie. Kedua komikus ini bersama-sama dengan penerbitnya, Terrant Comics, secara eksplisit menyebut di sampul depan bukunya sebagai karya novel grafis. Karya lain yang belum lama ini diluncurkan adalah Rampokan Jawa, versi terjemahan bahasa Indonesia dari Rampokan Java, buah karya Peter van Dongen, komikus keturunan Indonesia berkewarganegaraan Belanda.

Dari segi bentuk, kedua karya ini tidak jauh berbeda dengan bentuk komik umumnya. Bahkan dari aspek cerita pun sebenarnya tidak ada perbedaan yang mendasar dengan karya yang tidak disebut novel grafis. Di kedua karya ini elemen-elemen humor dan kekerasan juga tampil seperti halnya di dalam komik-komik umum. Selain itu, karya komik pada umumnya sebenarnya juga bukan konsumsi anak-anak saja. Banyak pembaca remaja hingga orang dewasa yang juga gandrung membaca komik.

Namun demikian, pihak penerbit memiliki alasan tersendiri untuk menyebutnya sebagai novel grafis. Pandu Ganesa dari Pustaka Primatama yang menerbitkan Rampokan Jawa menyebut, ”Gambarnya sangat indah dan ekspresif. Dari segi cerita juga mampu membuka mata pembaca tentang hal-hal yang selama ini tidak diketahui masyarakat.” Sedangkan Oktavia, General Manager Terrant Comics, menyatakan, ”Masih jarang komikus lokal membuat karya berbentuk cerita yang panjang seperti novel. Selama ini pasar dibanjiri oleh bentuk komik-komik Jepang.”

Apa pun alasan penerbit, karya novel grafis yang beredar di Indonesia mempunyai perbedaan dengan komik-komik yang saat ini mendominasi pasar: komik terjemahan, terutama dari Jepang. Meskipun harga jual novel grafis tidak jauh berbeda dengan komik terjemahan, yaitu sekitar Rp 12.000 hingga Rp 15.000, tetap ada perbedaan perlakuan pasar terhadap kedua produk tersebut. Ilustrasi di awal tulisan cukup memberi gambaran tentang hal ini. Perbedaan keduanya semakin jelas bila kita bandingkan jumlah copy yang dicetak untuk sebuah judul. Kedua karya Terrant Comics yang diterbitkan tahun 2004 dicetak sebanyak 3.000 eksemplar. Hingga Oktober 2005 jumlah yang terjual baru separuhnya. Demikian pula dengan Rampokan Jawa, hanya dicetak 3.000 eksemplar. Tahun 2001 Galang Press pernah menerbitkan karya Seno Gumira berjudul Jakarta 2039, yang oleh Hikmat Darmawan, pengamat komik, juga dikategorikan sebagai novel grafis, hingga kini hanya terjual 700 eksemplar dari 2.000 eksemplar yang dicetak.

Situasi yang sangat berbeda terjadi pada komik-komik terjemahan. Serial Detektif Conan misalnya, setiap judul seri komik terbitan Elex Media Komputindo ini diproduksi hingga 90.000 eksemplar. Sementara judul komik terjemahan lainnya bisa mencapai 10.000 eksemplar.

Situasi pasar yang tidak terlalu menyambut ini agaknya tidak membuat jeri para penerbit novel grafis. Seperti dinyatakan Oktavia, ”ini semacam proyek idealis kami, menerbitkan karya yang betul-betul karya orang Indonesia sendiri. Toh, kami juga punya lini lain di Terrant Books yang menerbitkan novel-novel remaja karya para penulis remaja Indonesia dan cukup diterima pasar.” Memang, Terrant Books yang memajang slogan Pelopor Kebangkitan Penulis Muda Indonesia di website-nya pernah meraup sukses cukup besar dari novel Eiffel I’m in Love, yang berhasil terjual 70.000 eksemplar dalam waktu enam bulan dan kemudian diangkat ke layar lebar serta menjadi film box office kedua setelah Ada Apa Dengan Cinta?.

Sementara itu, Pandu Ganesa mengakui bahwa kerja memasarkan Rampokan Jawa adalah kerja yang sangat berat. Selain karena harganya cukup mahal bagi kantong pribumi yaitu Rp 75.000, juga karena, ”Toko-toko buku di sini menganggap komik adalah produk untuk anak-anak dan sesuatu yang ’ringan’. Jadi dengan bentuk seperti ini tidak semua toko buku mau menerima.” Hal senada diungkap Hikmat Darmawan. Menurutnya, ”Yang jelas novel grafis karya komikus lokal ’ditaruh’ di rak novel oleh toko-toko buku di sini dan bukan di rak komik. Jadi, penerimaan terhadap novel grafis masih berada di tahap awal.”

Berbeda dengan novel grafis karya penulis lokal yang belum mendapat tempat di pasar dalam negeri, novel grafis karya komikus asing, terutama Amerika Serikat, yang didistribusikan ke Indonesia membentuk pasar sendiri di sini. Salah satu tempat para penggemar novel grafis asing bisa memuaskan hobi membacanya adalah toko buku Kinokuniya. Di Kinokuniya Plasa Senayan, novel grafis diberi rak khusus, terpisah dari rak komik, dengan jumlah rak yang cukup banyak.

Penempatan secara khusus seperti ini selain karena permintaan dari kantor pusat di Singapura, menurut Amanda Ayusya dari Kinokuniya, ”Karena turn over buku-buku novel grafis sangat tinggi yang menunjukkan peminatnya cukup banyak. Sering kali satu judul tertentu habis dalam waktu hanya sebulan.” Selain permintaan yang cukup tinggi, berdasarkan pengamatan, penempatan secara khusus ini disebabkan melimpahnya jumlah judul yang tersedia.

Pangsa pasar novel grafis karya komikus asing ini bukan hanya orang-orang asing yang tinggal di Indonesia, tetapi juga orang-orang Indonesia sendiri. Meskipun harganya relatif mahal, rata-rata di atas Rp 100.000, toh pembeli lokal tidak ragu membelanjakan uangnya untuk sebuah karya novel grafis berbahasa Inggris. Menurut Hikmat Darmawan, ”Mereka adalah orang-orang yang memang mengerti tentang novel grafis dan mencari format yang betul-betul novel grafis: karya tematik, alur cerita bukan sebatas tentang superhero, artinya yang tidak mainstream-lah.” Tema-tema di luar tema komik umumnya, seperti tentang persoalan masyarakat urban, psikologi, atau bahkan sosialisme, inilah yang, menurut Hikmat, disukai oleh pembeli yang sering menyambangi Kinokuniya.

Lantas, apakah format baru seperti novel grafis ini dapat membuka peluang baru juga untuk pasar novel grafis di dalam negeri? Beberapa pihak memberi indikasi terbukanya peluang tersebut. Peluang itu terbagi menjadi dua kutub, kutub karya terjemahan seperti Rampokan Jawa dan kutub karya asli komikus lokal. Di kutub pertama, menurut Hikmat, ”Bagus kalau memang ada yang mau menerbitkan terjemahan novel grafis asing. Ini akan mendidik komikus lokal untuk menghasilkan karya serupa. Contohnya komik Tintin yang diterjemahkan ke berbagai bahasa itu memberi inspirasi kepada Peter van Dongen untuk menghasilkan Rampokan Java.”

Di kutub kedua, Pandu Ganesa melihat bahwa ”Format novel grafis ini bisa menjadi jembatan bagi generasi muda Indonesia untuk mengenal kembali karya sastra yang lebih serius.” Dengan kata lain, contoh yang diberikan kutub pertama dapat mendorong komikus lokal menciptakan karya novel grafis untuk karya-karya sastra Indonesia. Nada optimistis serupa dilontarkan Rahayu Hidayat, pengamat komik. ”Format komik sebetulnya merupakan jembatan antarbudaya. Ia memberi peluang bagi karya-karya serius atau klasik untuk dipopulerkan dalam bentuk komik sehingga menjangkau lebih banyak pembaca,” ujar Wakil Dekan I, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia ini.

Karya-karya klasik yang dikomikkan pernah diterbitkan Gramedia Pustaka Utama (GPU) dalam seri Album Cerita Ternama (ACT) pada era 1970-an sampai 1980-an. Menurut Listiana dari GPU, ACT dulu cukup laris dan bahkan permintaan pasar saat ini untuk menerbitkan kembali ACT cukup besar. Ini berarti, optimisme yang dilontarkan Pandu dan Rahayu bukan isapan jempol belaka. Namun demikian, peluang ini mesti dibarengi dengan kerja keras di kalangan komikus dan penerbit dalam negeri selain strategi distribusi yang tepat. Seperti dilontarkan Pandu Ganesa, ”Promosinya tidak boleh lagi model konvensional. Klub-klub pembaca atau buku harus aktif bergerak dan lebih banyak lagi membentuk klub-klub semacam ini.” Kalau memang komunitas komik tidak ingin didominasi terus-menerus oleh manga, tentunya optimisme ini tidak seharusnya berhenti sebagai lontaran ide saja. (umi/sat/wen/ Litbang Kompas)

From the same Kompas, still related to Novel Grafis (also mentioning a bit about Peter's Rampokan):
Mereka Menyebut Novel Grafis
Novel Grafis, Komik atau Sastra?

There is supposedly one more article from Kompas 15 Nov 2005, titled Menggugah Kebangkitan Komik Indonesia, which contains interviews with Anggi Minarni (about indie comics in Indonesia), Beng Rahadian and Anto Motulz, but I'm still looking for it..

Illustration: cover of Waarom Die Vlag Toch? by Peter van Dongen, published by Het Indisch Huis, Den Haag, which is used for promotional materials of Peter's exhibition in Indonesia.
Here are some photos of the opening day, along with a report from Motulz.

Saturday, November 19, 2005

Rampokan: Interview at BBC Radio


http://www.bbc.co.uk/indonesian/
An interview about Peter van Dongen's Rampokan series at BBC Radio, Indonesian Section (Siaran 1300 GMT), for Kabar Buku program, Saturday Nov 19th, 2005. The interview starts at 22:17.

*edit to add*
The link works only for live broadcasts. The interview itself was filed here.

Thursday, November 17, 2005

Rampokan at Karta Pustaka, Yogyakarta




Works of Peter van Dongen and Indonesian comic artists, that were exhibited at Erasmus Huis Jakarta and Semarang, are now being shown at Karta Pustaka, Yogyakarta, starting November 11th, 2005. The report (in Indonesian) and photographs here are courtesy of Motulz (thanks, Tul!).

Sekilas Laporan dari Jogja (extend exhibition Peter van Dongen)

Berangkat dari Cengkareng jam 10.45WIB. Kita tiba di Adi Sucipto pukul 11.45 langsung naik taxi hotel menuju Hotel Santika. Saya di kamar 360 (karena ada wi fi internet) dan Benk di kamar 364. Menunggu malam.. saya cuma istirahat di hotel sambil internet sementara Benk reuni dengan teman2 Jogjanya.

Malamnya kita ke lokasi pameran dengan motor (ala Jogja gitu deh) gue di bonceng Agung Komikaze (untung ada dia). Sesampainya di lokasi masih sepi dan langsung disambut Ibu Anggie. Dia masih ingat dan mengenal Benk dengan baik. Kami langsung bergabung dengan pengunjung yang datang kepagian. Baru ngobrol sebentar kita langsung dipanggil Ibu Anggie untuk dikenalkan kepada Pak Hasjmi. Beliau tidak terlalu tua dari yang saya bayangkan.. masih sehat.. dan masih ramah (maklum baru sekali ketemu beliau). Saya sama Benk mempertanyakan kondisi Gundala, beliau sangat ingin sekali memunculkan kembali Gundala, sayangnya saat ini belum bisa aja.

Acara langsung dibuka oleh Ibu Anggie lalu dilanjutkan oleh kata sambutan dari Pak Hasjmi. Pak Hasjmi mengulas tentang "gaya komik" Peter van Dongen yang terpengaruh oleh Herge. Baginya ini merupakan sebuah wacana baru bagi komikus Indonesia, baik yang tua maupun yang muda. Dulu, komik dengan gaya-gaya itu sering dikonotasikan dengan meniru, atau plagiator. Bagi Pak Hasmi ini merupakan sebuah langkah proses, tahap belajar yang sangat wajar dilakukan bagi semua orang termasuk pembuat komik.

Pak Hasmi pun mengakui bahwa saat dulu ia membuat komik pun meniru komik Amerika yang saat itu beredar. Hanya saja memang topik "meniru" ini sangat tabu dibahas. Nah bagi Pak Hasmi, keterbukaan Peter ini menjadikan sebuah pelajaran baru bagi komikus Indonesia. Selesai sambutan, Pak Hasmi langsung membuka pameran dan mempersilakan masuk. Pameran dihadiri banyak pemerhati komik. Saya ketemu Eko (Daging Tumbuh), Sam (Petak Umpet), Pak Haryanto? (dari Bening Animasi), lalu Ismail (Sukribo).

Ketika selesai pameran, kita akan pamit pulang (sekitar pukul 22.30) kita masih diajak makan malam oleh teman-teman komikus Jogja (sama Lulu (boemboe), Ismail (Sukribo, Ayam Majapahit), Ferry, Agung (Komikaze) dll). Selesai makan.. kita pulang ke hotel. Semalaman saya gak tidur.. cuma ngerjain kerjaan dan online hehehe.

Hari Sabtu, saya hanya beberes sementara Benk ada keperluan dengan teman Jogjanya. Pukul 13.00 kita check out, setengah jam kemudian diantar mobil hotel ke bandara lalu langsung check in dan boarding pukul 15.10. Tiba di Jakarta pukul 16.00... lelah rasanya :) lalu saya dan Benk berpisah.

Bagi saya.. pameran komik Belanda - Indonesia ini bisa jadi berbeda dengan pameran2 komik biasanya di Indonesia. Peter, yang hanya komikus baru dikenal di Indonesia ternyata bisa mendapatkan tempat yang SANGAT AKRAB dengan para penggemar, pemerhati, dan pekerja komik di Indonesia. Komik Peter seperti memberikan sebuah pandangan baru akan komik yang selama ini berkesan gak serius. Ada banyak pengunjung pameran yang sangat menyayangkan ketidak hadiran Peter dan ingin sekali bertemu dengan Peter. Sepertinya Peter memberi nafas baru bagi komik Indonesia, selain pula memberikan secercah harapan dan kesempatan untuk bangkitnya komik di Indonesia.

Saturday, October 1, 2005

Just keeping track.. [10] (Kompas, Republika)



Kompas online today (Saturday 1 Oct 2005) features Rampokan Jawa in one of the main articles in the main page. Here goes:

POLITIKA
"Rampokan Uang Negara"
Budiarto Shambazy

Belum lama ini beredar sebuah novel grafis atau komik berjudul Rampokan Jawa. Komik terbitan Penerbit Pustaka Primata/Komunitas Komik Alternatif ini ditulis dan digambar oleh Peter van Dongen yang asal Belanda.

Rampokan akan mengingatkan Anda yang gemar membaca komik-komik Tintin, tokoh wartawan karangan Georges ”Hergé” Rémi yang berasal Belgia. Karya Van Dongen masuk ke dalam kategori ”komik Eropa” karena negara mereka memang ada di benua tua itu.

Komik Eropa telah lama menginternasional dan jarang yang menceritakan kisah jagoan-jagoan hebat. Komik-komik kita pada dekade 1960-1970, misalnya, banyak menokohkan jagoan seperti Si Buta dari Gua Hantu, Pangeran Mlaar, atau Wiro Si Anak Rimba.

Upacara ”rampokan” diadakan di alun-alun Blitar tiap akhir Ramadhan. ”Ada delapan peti mati berisi harimau dan macan kumbang. Orang-orang berdiri menunggu dengan tombak-tombak khusus berbau kemenyan,” tulis Van Dongen.

Setiap peti mati dibuka, harimau dan macan kumbang dilepas. Benteng orang di sekeliling alun-alun sulit ditembus karena semua mengacungkan tombak masing-masing, membuat harimau dan macan kumbang tak berkutik.

Upacara ”rampokan” itu merupakan sebuah metafora. Jika delapan harimau dan macan kumbang lepas dari hadangan benteng tombak, itu artinya Belanda akhirnya hengkang.

Van Dongen memang berkisah mengenai situasi di sekitar Jakarta dan Bandung hampir satu setengah tahun setelah Proklamasi 17 Agustus 1945. Belanda belum rela pergi, pasukan Jepang ditawan, dan Gurkha dari Inggris menguasai Jakarta.

Van Dongen mengaku, ia menggambar karena terpengaruh oleh Hergé. Oleh para kritikus ia dianggap cukup pas menggambarkan suasana di sekitar bioskop Rex di Jakarta, Pasar Atom di Bandung, atau suasan di kaki-kaki lima.

Gambar truk militer Belanda, becak menunggu penumpang, atau tukang sate berdagang juga nyaris persis. Anda masih dapat menyaksikan suasana kuno tersebut di kota-kota di Indonesia—tentu minus ”hutan spanduk” atau ”pasar tumpah” yang merusak pemandangan banyak kota di Pulau Jawa.

Cerita Rampokan berkisar pada tokoh Johan Kneivel, putra seorang pegawai di Hindia Belanda. Ia pulang ke Belanda untuk belajar sebelum Perang Dunia kedua, tetapi memutuskan kembali ke Indonesia.

Indonesia sebuah ”surga tropis” yang membuat dia bahagia ketika masih bocah. Johan si yatim piatu sejak kecil diasuh pembantu rumah tangga bernama Ninih yang bersikap seperti ibunya sendiri.

Di atas kapal menuju ke Tanjung Priok Johan secara tak sengaja melemparkan Erik Verhagen ke laut. Selama luntang lantung di Jawa bersama temannya, Fritz de Zwart, Johan memakai name tag (kalung identitas personel militer) milik Verhagen sang desertir komunis.

Fritz belakangan ketahuan terlibat kejahatan penggelapan BBM bersama seorang pemilik toko kelontong di Bandung bernama Ong dan Bennie Riebeek, yang mengaku sebagai wartawan. Johan secara tak sengaja terjebak kejahatan itu dan dikejar-kejar pasukan Belanda.

Ia kabur bersama Lisa, perempuan keturunan Ambon-Tionghoa yang bekerja di tangsi Belanda. Sementara toko kelontong milik Ong dibakar dan dijarah massa yang mengamuk.

Dalam pelarian Johan menjadi korban banjir sehingga kalung identitas militer Verhagen hilang. Bagaimana nasib dia selanjutnya, Van Dongen meneruskannya ke komik Rampokan Celebes yang belum disadur ke bahasa Indonesia.

Meskipun orang Indonesia dilukis kurang mirip, komik Van Dongen nyaris sempurna menggambarkan kehidupan saat itu. Itu terlihat, misalnya, dari lanskap Jawa Barat yang indah atau dari detail prosesi upacara penguburan dengan cara Islam.

Van Dongen (kakeknya serdadu KNIL yang dihukum pancung oleh Jepang) sepanjang kisah komiknya sedikit banyak menyajikan struktur sosial masa kemerdekaan. Rakyat Jakarta dan Jawa Barat digambarkan sebagai teroris, miskin, dan dicaci-maki tentara Belanda.

Kelas sosial tertinggi tentu orang-orang Belanda yang kala itu masih bebas berkeliaran dan hidup berdampingan dengan damai dengan pasukan Inggris. Tuan Ong, sang pemilik toko kelontong, adalah kelas pedagang yang berkonspirasi dengan (kalau perlu menipu) penguasa.

Di tahun 1970-an ada satu film bagus hasil buatan orang Indonesia dan Belanda, Saija dan Adinda. Film ini dilarang putar pada masa Orde Baru karena menggambarkan penindasan kejam terhadap rakyat Banten oleh bupatinya sendiri, yang memeras rakyat dan menerapkan praktik politik dan ekonomi ala simbiosis mutualisme dengan kompeni.

Kita juga memiliki komikus-komikus yang menempatkan politik dan ekonomi dalam karya-karyanya pada masa lalu. Cerita bergambar Put On karya Kho Wan Gie tahun 1930 di harian Sin Po, misalnya, menceritakan sosok gendut bermata sipit yang melindungi rakyat kecil dan mencintai Indonesia sebagai tanah kelahiranya.

Walaupun bobot sejarah politiknya terbatas, komikus Ganes TH menelurkan Tuan Tanah Kedaung atau Si Djampang. Pada masa jayanya, Kedaung bisa terjual laku sampai 30.000 kopi.

Komik bisa subur dan menjamur karena Indonesia merupakan sebuah happening art yang tak kunjung usai. Indonesia bagaikan sebuah pantun yang takkan pernah berhenti berbalas atau ibarat sinetron yang menghina logika kita.

Setelah 60 tahun berlalu, Rampokan masih relevan karena rampok-rampok beneran masih berkeliaran dan mengintai hidup kita. Jika ada yang berminat, buatlah sebuah komik yang mampu menyaingi karya Van Dongen, dengan judul Rampokan Uang Negara. (e-mail: bas2806@kompas.com )


By the way, the exhibition at The Erasmus Huis Jakarta was closed yesterday (30 Sept 2005), but there's a plan to bring it over to Semarang and perhaps other cities.



This article is from Republika 2 Oct 2005:

Sebelum membuat komik ini, Peter van Dongen belum pernah ke Indonesia. Tapi, ia bisa menggambarkan secara detail beberapa hal tentang Jawa pada era kemerdekaan di dalam Rampokan Jawa, komik yang dibuatnya itu. Lihat saja, ketika sang tokoh utama komik itu, Johan Knevel, tiba di Glodok, Jakarta, dilukiskannya suasana pertokoan bergaya arsitektur Cina sampai aktivitas tukang cukur di bawah pohon rindang di tepi jalan. Kostum orang Indonesia tempo doeloe pun, seperti pria dengan sarung atau perempuan dengan kain dan kebaya, ada di komiknya.

Knevel --dikisahkan sebagai seorang Belanda yang lahir di Indonesia dan sedang mencari perempuan bernama Ninih yang pernah mengasuhnya ketika kecil-- dilahirkan di Celebes ketika masa penjajahan Belanda. Dalam pencariannya itu, ia sempat singgah di Bandung. Di sini, von Dongen pun mampu mendeskripsikan suasana Kota Kembang masa kemerdekaan itu. Tak luput, beberapa gedung yang kini menjadi peninggalan bersejarah ia gambarkan, termasuk Hotel Savoy Homann yang masih berdiri megah di Jl Asia Afrika.

Perjalanan Knevel yang begitu merindukan tanah kelahirannya cukup berliku. Ia membunuh rekan Belandanya secara tak sengaja. Demi menghindari kejaran tentara Belanda, Knevel akhirnya 'berlari' dari satu ke kota lain. Ia pun melihat berbagai kebiasaan penduduk setempat yang tampak unik di matanya.

Van Dongen, lahir Amsterdam tahun 1966, mengenal Hindia Belanda (Indonesia) dari cerita ibunya yang berdarah Cina-Hindia. Sang ibu mengaku begitu traumatis atas peristiwa pemboman di kota Pelabuhan Makassar.

Ia sendiri mengawali kariernya tidak sebagai komikus. Bersama tiga saudaranya, termasuk kembarannya, van Dongen sempat membentuk grup band. Namun karena keinginan melukisnya menggebu-gebu, akhirnya memutuskan menjadi komikus. Awalnya ia membuat komik berjudul Muizentheater (Mice Theater) pada 1990. Komik ini berhasil mendapatkan penghargaan Stripschappening dari komunitas kartunis Belanda.

Beberapa saat setelah diterbitkan di Jakarta, komik ini termasuk laris manis. Di sejumlah milis pegiat perbukuan, banyak posting yang menceritakan sudah ludesnya Rampokan Jawa di Erasmus Huis, pusat kebudayaan Belanda di Jakarta yang mengundang van Dongen datang ke Jakarta dan menceritakan seputar komiknya pekan lalu. Di sejumlah toko buku besar pun komik itu dilaporkan sulit didapat.

Keistimewaan komik itu, selain mampu menggambarkan beberapa hal secara detail, juga alur ceritanya yang unik dan variatif. Pada beberapa bagian, komik ini bisa membuat senyum mengembang pembacanya. ''Meski ini fiksi, tapi ia mampu melihat negeri ini dari sisi yang lebih dalam: penderitaan rakyat Indonesia semasa penjajahan,'' tulis seorang penggemar komik.

Sebagai sebuah komik sejarah fiksi, ini mungkin original. Tapi sebagai sebuah komik, karya van Dongen tidak original. Karakter tokoh, pemilihan warna, dan gaya melukis van Dongen mirip dengan karya Herge dalam petuangan wartawan muda Tintin bersama anjingnya, Snowy. Van Dongen mengaku sangat ngefans dengan komik Tintin dan itu memberinya inspirasi pada karya yang diciptakannya itu. Mestinya, sebagai seniman dan kartunis, ia mampu menampilkan karakter yang dimilikinya, bukan karakter orang lain yang memang sudah sangat terkenal sejak lama. Terlalu naif juga kalau dikatakan ide kartunnya menjiplak dari Herge. `'Ia seperti tak percaya diri untuk menampilkan kemampuan aslinya,'' kata seorang rekan wartawan yang kebetulan berkesempatan bertemu dengan van Dongen.

Terlepas dari itu, sebagai sebuah cerita sejarah, Rampokan Jawa cukup menarik. Apalagi, proses pembuatan komik ini cukup panjang dan makan waktu. Setting cerita dan kehidupan yang mendetil, diakui Peter, didapatkannya dari riset tujuh tahun di museum dan perpustakaan di Negeri Kincir Angin. Foto-foto dan dokumentasi tentang Indonesia yang banyak tersedia di Belanda, ikut sangat membantu proses penafsirannya atas Indonesia yang sangat terbatas.

Sementara pemilihan Jawa sebagai lokasi cerita, diakuinya karena merupakan pusat pemerintahan Hindia Belanda saat itu, di samping banyaknya bangunan bersejarah yang indah. Namun dalam sekuel karyanya bertajuk Rampokan Celebes yang segera terbit dalam versi Bahasa Indonesia, Peter juga memasukkaan alam kota di Sulawesi yang merupakan kampung halaman ibundanya.

(Elba Damhuri )

Monday, September 19, 2005

Just keeping track.. [9] (Matamata.com, The Jakarta Post)




Several photos of the exhibition have been uploaded by Pathindan here (many thanks :D).

Motulz put up a some photos about the exhibition here and Peter's last night in Jakarta here.


And here's another article from Matamata.com (Thanks, Tul!)


Peter van Dongen dan Rekan Pembuat Komik Indonesia


Mendengar nama Erasmus Huis alias pusat kebudayaan Belanda terasa betul aroma seriusnya. Yang tertanam dalam benak kalau bukan konser musik klasik pasti pameran lukisan yang bikin jidat mengkerut. Namun sepanjang bulan September ini kesan itu seolah sirna. Pasalnya, ada pameran yang bikin lidah berdecak lantaran tidak biasa-biasanya. Wah pameran apa ya?

Pameran yang dimaksud bertajuk “Peter van Dongen dan Rekan Pembuat Komik Indonesia” berlangsung antara tanggal 7-30 September 2005. Peter adalah penggambar komik asal Belanda dengan setting khas Indonesia. Komik Rampokan: Jawa racikan van Dongen berkisah tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia, yang nota bene menjadi tanah leluhurnya. Buku ini diterbitkan di negeri keju pada tahun 1998 dan mendapat penghargaan Stripschappening untuk Buku Komik Terbaik tahun 1999 serta penghargaan Prix du Lion 1999 di Brussel.

Hajat ini sendiri digelar menandai perayaan 60 tahun kemerdekaan RI sekaligus diterbitkannya komik Rampokan: Jawa edisi bahasa Indonesia. Kemudian empat komikus lokal juga turut memamerkan karyanya di ajang ini. Mereka tergolong generasi muda dalam ranah komik lokal yang muncul di era 1990-an, masing-masing adalah Dwi Santoso alias Anto “Kapten Bandung” Motulz, Dwinita Larasati alias Tita, Muhammad Cahya Daulay alias Cahya dan Beng Rahadian alias Beng.

Ada puluhan item yang dipamerkan di tempat ini dan semuanya dipigura dengan manis. Karya-karya Peter yang tampak berupa artwork, salah duanya adalah versi asli Rampokan Jawa dan Rampokan Celebes. Bahkan dipajang pula halaman yang tampak masih tersisa coretan pinsil bahkan juga tipp-exnya. Versi surat kabar PS yang memuat komik Peter juga turut terpajang di dinding.

Sedangkan karya komikus lokal tampak pigura cover komik Kapten Bandung dari Motul bertajuk Kasus Tikus Tarka. Aroma kota Bandung terasa betul di sana, bukan hanya lewat penampakan angkot rute 03 jurusan Abdul Muis-Dago, melainkan istilah Tarka itu sendiri. Kependekan dari Taruna Karya ini adalah istilah khas di kota kembang yang berarti institusi kegiatan semacam Karang Taruna. Karya lain yang terhitung inovatif adalah coretan kartun dari Tita. Karya kandidat doktor ini malah cenderung lebih mirip catatan harian.

Pigura yang berisi halaman coretan Cahya lebih condong dengan gambar arsiran hitam putih. Cerita yang digelontorkanpun cenderung serius tidak seperti ketiga mitra lokalnya. Terakhir ada nama Beng yang cukup familiar di media massa. Di Koran Tempo ia kerap hadir menggambar komik. Pun di majalah komik lokal macam Wizard, sentuhan sosok kartunnya yang jenaka terasa akrab di mata.

Kalau ingin yang segar-segar, tak ada salahnya melangkahkan kaki ke Erasmus Huis. Kumpulan coretan yang menyejukkan itu dijamin bisa menjadi pelepas kepenatan, bahkan bagi mereka yang tak suka komik sama sekali. (bat)


From The Jakarta Post, 23 September 2005

Comic strips shed light on Indonesia's colonial past
M. Taufiqurrahman, The Jakarta Post, Jakarta

Despite his Indonesian roots, Dutch artist Peter van Dongen, 39, never spent a great deal of his time in this country and his work of art, an award-winning comic strip, was based solely on secondary sources such as old photos, soldiers' diaries and novels.

Yet, his best-known comic books Rampokan Java and Rampokan Celebes, two fictional stories about life in post-Independence Indonesia, contain breathtaking detail about daily attributes of the period, including people's daily clothing and their motifs, means of transportation, buildings and roadside advertisements.

Should the cartoon characters be erased from each panel, what would be left would be a realistic postcard view of cities in Java and Sulawesi, circa the 1940s.

Van Dongen uses a style that often features strong colors and a combination of cartoonish characters against a realistic background, a method he adopted from Belgian comic writer and artist Georges Remi, better known as Hergé, the creator of the renowned comic strip Adventures of Tintin.

In one panel from his comic Rampokan Java currently on display at the Dutch cultural center Erasmus Huis, which depicts Kota railway station, West Jakarta, viewers will be enraptured to find a true-to-life scene of a structure that still exists.

Van Dongen has meticulously used the sturdy, majestic dome-shaped construction as the perfect setting for bustling traffic comprising passing military trucks, a vintage sedan, becak (pedicabs), street hawkers and bystanders.

Another panel, showing busy life in Surabaya's Chinatown, is another example of Van Dongen's devotion to verit‚-style imaging.

Each detail, from the figure of an old Chinese man in a plain white suit, a small crowd that throngs a street vendor selling traditional drinks to the roadside advertisement, is given equal treatment, and none stands out above the others.

In doing so, Van Dongen adheres to another technique used by Hergé, ligne claire, which uses clear, strong lines with the same thickness and importance, rather than using them to emphasize certain objects or as shading.

The method is sometimes also called the "democracy of lines".

Van Dongen's commitment to geographical and cultural accuracy was inspired by Hergé's monumental work, The Blue Lotus, which tells the story of Tintin's adventure in China.

Hergé meticulously researched his subjects prior to making the Blue Lotus, to a point where he befriended a Chinese student, Zhang Chongren, who introduced the Belgium artist to Chinese history, culture and the arts.

The plot of Rampokan Java and Rampokan Celebes revolves around protagonist Johan Knevel's struggle to confront his inner demons.

Knevel, an Indonesian-born Dutch soldier, was sent back to the country as part of a battalion that would once again occupy the newly liberated Indonesia.

Knevel deserted his company after killing his soldier friend and assumed a new identity before going on an odyssey to revisit his long-lost past.

Rampokan Java was copublished by Joost Swarte and earned both author and publisher the 1999 Dutch Prize for Best Book Design.

Van Dongen, whose mother was a Chinese-Indonesian who once lived in Makassar and Manado, visited a number of Indonesian museums to collect background material for Rampokan.

in box: Peter van Dongen and the new generation of Indonesian cartoonists exhibition runs through Sept. 30 Erasmus Huis Jl. H.R. Rasuna Said Kav. S-3. tel. 5250507 website www.erasmushuis.or.id
(I don't have any access to whatever image is in the "in box", though)

Sunday, September 18, 2005

Just keeping track.. [8] (Cek & Ricek, Tempo Magazine)




Cek & Ricek is a national gossip magazine in Indonesia (after having been a popular television program, at first). Rosihan Anwar, a senior journalist who opened the exhibition at Erasmus Huis wrote a short article about that event, followed by two other subjects in the "Halo Selebriti" column. Herewith I copied the contents of the article (only the one about the exhibition). Thanks to Rieza at Komik Alternatif mailing list for sending me scanned pages of the magazine :D

Cek & Ricek 14-20 September 2005
Pameran Komik Belanda Indonesia, Pelukis Srihadi Dan Pirous, Banggakah Anda Jadi Putra Bangsa Ini?
Oleh: H. Rosihan Anwar

Kartunis Peter Van Dongen (39) dari negeri Belanda bersama rekan pembuat komik Indonesia Motulz, Tita, Cahya dan Beng menggelar pameran di Erasmus Huis Jakarta yang dibuka 6 September 2005 oleh Rosihan Anwar, sejarawan. Meskipun saya tidak tahu banyak tentang gambar/cerita komik, namun atas permintaan Erasmus yang menamakan saya "sejarawan", saya ucapkan pidato sambutan. Setelah bertanya kepada Ramadhan K.H. kartunis atau komikus mana yang dikenalnya, saya pun menyebutkan nama urang Sunda R.A. Kosasih yang terkenal di tahun 1950-an yang bertutur tentang cerita-cerita wayang. Saya sebut nama Kosasih, tapi menurut Myra Sidharta, penulis biografi delapan penulis peranakan "Dari Penjaja Tekstil sampai Superwoman", saya lupa mengemukakan nama Put-On, komikus peranakan yang bertutur banyak tentang Betawi.
Peter Van Dongen yang lahir di Amsterdam tahun 1966 adalah seorang dari generasi ketiga Indo. Ibunya Ny. Knevel lahir di Manado, kakeknya serdadu KNIL tewas di zaman Jepang. Peter tidak perlah berdiam di Indonesia. Toh pada tahun 1998, kemudian tahun 2004 dia menerbitkan buku komik Rampokan Java dan Rampokan Celebes. Cerita dan lokasinya ialah Indonesia. Berkat riset yang dilakukannya dan cerita yang didengarnya dari nenek dan ibunya, dia berhasil menggambar adegan kota beserta jalan dan tokonya di zaman Hindia Belanda dengan akurat. Dia bertutur tentang Johan Knevel pergi ke Indonesia mencari Ninih yang dulu jadi babu pengasuhnya, dan didapatinya Ninih berada di pihak para pejuang kemerdekaan.
Gaya Peter banyak kena pengaruh tokoh Tintin dalam komik Hergé dengan garis-garis gambar yang lurus, bersih, dan tidak memakai arsir, garis-garis silang-menyilang pada lukisan, demikian dijelaskan kepada saya oleh Anto Motulz yang belajar di ITB. Sebagai perbandingan, Motulz menunjuk kepada gambar komiknya sendiri yang dipamerkan. Saya juga berjumpa dengan Muhammad Cahya Daulay yang dipanggil Cahya, dan Beng Rahadian alias Beng. Mereka berusia kurang lebih 30 tahun. Seorang rekan mereka Dwinita Larasati atau Tita tidak hadir pada acara pembukaan pameran, karena berada di negeri Belanda menyelesaikan program doktor di Universitas Teknologi Delft. Tapi saya berjumpa dengan kedua orang tua Tita. Rupanya ayahnya, Purnomohadi, seorang arsitek yang pensiun dan mengaku diri fan buku-buku dan tulisan saya, di antaranya In Memoriam.
Seorang pemuda bernama Adrian menyalami saya sambil menyerahkan kartu namanya. Dia Ketua Masyarakat Komik Indonesia. Di kartu namanya tercantum: Support your local comics movement. Saya bilang pada Adrian, kirimlah buku-buku komik Indonesia, nanti saya dukung gerakan memajukan komik di negri ini.


Pictures: The complete article in two parts. Perhaps you can view the article bigger here for part 1 and here for part 2.


I received from Agam (thank a lot! :D) these articles from Tempo Magazine: Edisi. 30/XXXIV/19 - 25 September 2005


Buku
Bila Sang Meneer Melukis Indonesia: Sebuah komik terbitan Belanda tentang masa agresi militer tahun 1940-an diterbitkan dalam versi Indonesia.

”.... 27 Oktober 1945. Seper-ti-nya mimpi-mimpi buruk itu berkurang kalau aku menulis dalam buku harian-ku…. Untung saja, aku toh-- tak perlu merasa bersalah…. Bagaimanapun, aku perlu membela diri. Itu kecelakaan….”
(Rampokan Jawa, oleh Peter van Dongen)

Syahdan, Peter van Dongen tak pernah me-nyaksikan perjuangan Indonesia merebut kemerdekaan. Ia dilahirkan di Amsterdam pada 1966, ketika Indonesia sudah lama menjadi republik yang merdeka dan tengah bergulat dengan dirinya sendiri. Ia juga tak pernah merasakan ruwetnya kehidupan tentara bawahan yang dikirim oleh negerinya, Belanda, ke tanah Hindia. Tapi, lewat komik karyanya yang dipamerkan di Balai Erasmus 7-30 September, ia berhasil melukiskan kehidupan masyarakat Indonesia era 1940-an.

Van Dongen lahir dan besar di Belanda. Sepenggal cerita ibunda serta foto-foto menguning berisi suasana Indo-nesia tahun 1940-an itu menggelitik imajinasi Van Dongen.

Hindia, yang diceritakan sang ibu ini, kemudian menuntun pria kelahiran 1966 itu menelusuri Museum Tropis di Amsterdam hingga Museum Tentara di Yogyakarta. Ia berburu buku harian tentara Belanda yang pernah dikirim ke Indonesia sampai buku tentang Indonesia karangan Mochtar Lubis hingga Pramoedya Ananta Toer. Singkatnya, Van Dongen jatuh cinta pada Indonesia.

Cintanya pada Indonesia tak pupus begitu saja. Tahun 1998 ia membuat komik Rampokan Jawa, kisah perjuangan kemerdekaan Indonesia melawan penjajah. Tokoh sentral dalam cerita-nya adalah Johan Knevel, tentara Belanda yang kembali ke Indonesia tahun 1947 yang memiliki agenda pribadi, yakni mencari Babu Nini, ibu asuhnya yang penuh kasih sayang.

Komik atau novel grafis Rampokan Jawa kemudian diganjar penghargaan di Belanda untuk desain buku terbaik tahun 1998 dan penghargaan Stripschappening sebagai buku komik terbaik tahun 1999. Komik ini juga diberi penghargaan ”Prix du Lion” di Brussels. Di samping segala puja-puji ini, ternyata Van Dongen mendapat kritik tajam dari masyarakat Belanda, khususnya dari kerabat tentara yang dikirim ke Hindia.

”Kisah ini masih menjadi lembaran hitam bagi sejarah Belanda,” kata Van Dongen, yang keturunan Cina-Maluku dari pihak ibunya. Orang Belanda masih marah terhadap soal ini dan menjadi kritis akan apa yang mereka dengar tentang Indonesia. Menurut sebagian masyarakat Belanda, kisah agresi militer sebaiknya disimpan saja. ”Mereka kesal dengan orang seperti saya yang membuat buku tentang era ini. Padahal, bagi generasi saya, masalah ini dibuka sedikit lebih baik,” kata pria yang mulai menggambar komik serius pada tahun 1994 ini.

Buat masyarakat Belanda yang meng-anggap peristiwa agresi ke Indonesia sebagai lembaran hitam, memang hal ini akan seperti mengulang kembali kenangan tentang Indonesia di masa itu. Van Dongen, dengan tarikan gambar yang mirip komik petualangan Tintin karya Herge, menggambarkan dengan sangat lihai segala hal detail tentang Indonesia kala itu. Dia menggambar dengan garis yang lurus, bersih, tidak memakai arsir persis seperti gaya Herge.

Pelabuhan Tanjung Priok dengan kapal-kapal yang sedang bongkar muatan, perempuan bersanggul dan berkebaya, pria-pria tawanan tentara Hindia bertulang rusuk menonjol, kota pecinan di Glodok dengan pengusahanya yang berwajah Tionghoa meski memakai nama Jawa. Lalu, hutan-hutan lebat di Jawa hingga suasana Pasar Atom di Bandung dengan becak dan dokarnya. Meski tak seperti petualangan Tintin, beberapa adegan yang vulgar dan menggambarkan kekerasan membuat komik Van Dongen ini tak cocok dikonsumsi anak-anak.

”Saya memang terpengaruh gaya Herge, khususnya buku Tintin, Lotus Biru, tentang pendudukan Jepang di Cina. Cerita politik, dengan gaya menggetarkan hati, memperlihatkan latar belakang budaya dan Shanghai- selama tahun 1930. Itu menakjubkan. Gaya bercerita saya lebih modern, dengan- penyuntingan cepat dan mungkin lebih rumit,” kata Van Dongen.

Namun, tak seperti Tintin yang penuh warna, Rampokan Jawa hanya menggunakan warna hitam-putih dan cokelat dengan tinta India dan kuas kecil. Meski kata Van Dongen itu lebih karena keterbatasan dana penerbit. ”Selain rasanya terlihat lebih bagus dan lebih otentik.”

Mendengar judul Rampokan Jawa memang terasa janggal dan mengundang tanya. Tapi judul komik yang versi Indonesianya telah diterbitkan oleh Pustaka Primatama bekerja sama dengan Komunitas Komik Alternatif ini dibuat Van Dongen setelah melalui riset mendalam. ”Rampokan asalnya dari dua kata, rampok dan macan. Pertarungan macan setelah bulan Ramadan. Ini kebiasaan masyarakat Kediri dan Blitar,” kata Van Dongen.

Macan menggambarkan roh jahat. Bila seorang kiai berhadapan dengan macan dan mati dalam pertarungan itu, daerah tersebut akan mengalami hal buruk seperti banjir. ”Saya menyampaikan secara metafora bagi prajurit kolonial Belanda melawan keinginan Indonesia untuk merdeka,” kata pria yang sehari-hari berprofesi sebagai ilustrator paruh waktu ini. Sayang, terjemahannya agak terasa janggal, banyak kalimat yang tak jelas, misalnya ”..karena rampokan, saat itu semua bencana terramalkan...” (Apa pula arti kata ”terramalkan”?) Penerjemahan bukanlah pekerjaan menerjemahkan kata demi kata secara harfiah. Ada sebuah nuansa dan kultur yang ikut serta diterjemahkan, termasuk gaya bahasa dan ”rasa” seluruh isi komik.

Rampokan Java sesungguhnya bukan karya Van Dongen yang pertama. Tahun 1990, ia pernah menerbitkan Muizentheater atau teater tikus, dongeng tentang dua bersaudara laki-laki era 1030-an. Kesuksesan Rampokan Jawa membuat Van Dongen membuat sekuel Rampokan Celebes pada tahun 2004. Di kisah ini, Johan Knevel bertualang ke Sulawesi. Mungkin pada terjemahan berikutnya nanti, penerbit akan jauh lebih berhati-hati dan cermat.

Utami Widowati dan Evieta Fadjar/LSC


Menunggu Komik Asli Indonesia

Di pojok yang lain Balai Erasmus, ada goretan Dwi Santoso, Dwinita Larasati, Muhammad Cahya Daulay, dan Beng Rahadian. Mereka adalah komikus asli Indonesia yang bersama-sama berpameran dengan Peter van Dongen.

”Menurut saya, saat ini adalah momen yang tepat untuk kebangkitan komik Indonesia. Melihat perkembangan film dan sastra yang kini bangkit setelah mati, komik Indonesia seharusnya juga bisa. Apalagi komik adalah hiburan yang gampang, murah, dan bisa dibawa ke mana-mana,” kata Dwi Santoso atau Anto Motulz, 33 tahun, yang berencana menerbitkan dua komik akhir tahun ini.

Lalu, ke manakah kiblat komik Indonesia? Ke komik Jepang atau komik Eropa. ”Saya sangat terpengaruh komik Eropa, khususnya karya Herge. Tapi adaptasi saya hanya sebatas visual. Isinya masih berpijak pada kondisi masyarakat Indonesia,” kata Motulz. Karya Motulz berjudul Kapten Bandung, yang di-tampilkan dalam pameran ini, pernah diterbitkan pada 1995.

Pada tahun-tahun tersebut pula, Indonesia pernah mengenal komik Caroq karya Thariq, yang kini juga sudah tak terlihat di peredaran.

Para komikus Indonesia sebetulnya punya ide komik yang menarik. Problemnya adalah infrastruktur pemasaran dan distribusi, serta ongkos untuk menerjemahkan yang jauh lebih murah (dari sisi produksi) dibanding membuat komik asli. Para komikus Indonesia harus berjuang menembus pasar itu untuk bisa me-lawan dominasi komik manga.

Lihatlah ide Beng Rahadian. Ia memamerkan karya berjudul Jalan Sempit tentang kehidupan kaum gay kelas bawah yang punya nuansa gelap. Tampaknya ini mewakili pendapat Beng tentang komik Indonesia. ”Ya, adaptasi mesti ada batasnya juga. Menurut saya, komik itu sifatnya pribadi sekali,” kata pria usia 30 tahun itu, yang menyatakan membuat komik sama asyiknya dengan mengamati kehidupan sosial Indonesia.

Motulz merasa agak sulit mendefinisikan komik Indonesia semestinya seperti apa. ”Sama seperti produk budaya lain, saya ingin tanya sebenarnya ada tidak sih film, musik, bahkan sinetron yang hanya mengandung ciri khas Indonesia. Saya rasa tidak ada,” ujarnya, meski secara teknis Motulz menyebut komik Eropa lebih realis dibandingkan dengan komik Jepang yang kaya akan distorsi gambar, seperti mata yang terlalu besar atau otot badan yang kaku bak robot.

Lalu, yang jadi masalah, mengapa komik Indonesia belum sepopuler komik terjemahan Jepang. ”Kalau ada komik baru, pasti dibandingkannya dengan yang sudah ada di pasar. Sementara pembaca inginnya komik yang bagus. Jadi, ya, saya sih optimistis satu saat komik Indonesia akan bangkit,” kata Beng, yang cukup produktif membuat komik strip dan diterbitkan di Koran Tempo.

Utami Widowati


Membuka Jejak Hitam Kolonial

Namanya Peter, Peter van Dongen, 39 tahun. Kemampuannya, ia sanggup menggambar peristiwa-peristiwa dengan setting enam puluh tahun yang silam, dengan presisi tinggi.

Peter lahir dan dibesarkan di Amsterdam, Belanda. Tapi, jauh di dalam hatinya ada sebuah tempat bernama Hindia-Belanda, negeri yang belum pernah dikunjunginya. Di sanalah tanah kelahiran ibunya, dan di sana pula kakeknya gugur dalam Perang Dunia II.

Dalam komiknya, Rampokan Jawa, ia mewakilkan dirinya yang gandrung Hindia-Belanda lewat tokoh Johan Knevel. Ya, di Jakarta, Peter van Dongen memamerkan dua karyanya, masing-masing dengan setting Jawa dan Sulawesi: Rampokan Jawa dan Rampokan Celebes. ”Buku tentang Hindia Belanda dan perang kemerdekaan Indonesia berpusat di Jawa. Dan ibu saya pernah tinggal di Makassar,” kata Peter.

Peter mengakui, komik adalah proyek pribadi. Dan ia memang pemuda yang punya keahlian itu. Karya pertamanya, Theatre of Mice (1990), mendapat penghargaan komik terbaik ”Stripschappenning” dari komunitas kartunis Belanda, pada 1991. Delapan tahun kemudian, 1999, ia kembali menerima Stripschappenning dan ”Prix du Lion” di Brussels karena bukunya, Rampokan Jawa. Berikut ini petikan wawancara Tempo dengan Peter.

Orang Belanda mengkritik karya Anda karena dianggap terlalu membela Indonesia. Bagaimana menurut Anda sendiri?

Begini, orang Indonesia yang saya maksud juga menyerang orang Cina, dan Jawa, pada tragedi 1998 setelah Soeharto jatuh. Bagi saya, manusiawi, setiap orang pernah membuat salah. Orang Belanda masih marah ter-hadap itu dan menjadi kritis mengenai apa yang mereka dengar dari Indonesia. Mereka kesal saya membuat buku era agresi militer. Saya membuka lembar-an hitam. Bagi generasi saya, lain, lebih baik dibuka perlahan.

Tentara Amerika yang ke Vietnam dan tentara Belanda yang ke Indonesia adalah penyerang. Dalam cerita, mereka digambarkan dalam sosok antagonis atau lelaki jahat. Maka-nya, saya mendapat reaksi negatif dari keluarga tentara Belanda yang sudah berperang.


Mengapa Anda membikin karya itu? Nostalgia?

Ya, ini nostalgia, ditambah saya tertarik pada sejarah Belanda-Indonesia yang masih menjadi lembaran hitam bagi sejarah Belanda.


Buku apa saja yang menjadi rujuk-an- karya itu? Buku Pramoedya Ananta-Toer?

Saya lupa, mengenai korupsi, perbudakan. Bukan tentang Jawa, tapi bisa menggambarkan bagaimana kehidup-an orang Indonesia di masa kolonial.


Tapi, mengapa Anda memilih cerita Belanda di Indonesia?

Karena dunia kehilangan manusia ketika nenek moyang kami datang, makanya saya ungkapkan dalam buku. Saya cinta Indonesia.


Ada banyak latar cerita dari Sulawesi. Bagaimana inspirasi itu tergali?

Ibu saya pernah menetap di Sulawesi, Makassar, pada 1947 hingga 1952. Ia memberi saya ide dengan cerita-ceritanya. Misalnya, ia mengalami saat Makassar dibom Angkatan Laut Indonesia pada Agustus 1950 dan itu akan saya cerita-kan pada prolog Rampokan Celebes.


Setelah melihat keadaan Indo-nesia, apa langkah Anda selanjutnya?

Saya belum pasti, masih mengerjakan subyek mengenai Indonesia, mungkin orang seperti ibu saya yang pergi ke Belanda. Ceritakan secara kilas balik.


Mengapa Anda begitu terinspirasi oleh karya Herge, pembuat komik Tintin itu?

Saya suka cara menggambarnya. Saya lebih terkesan lagi gaya bertuturnya. Karya The Blue Lotus membuka mata saya. Cerita politik, alur menggetarkan, memperlihatkan latar belakang budaya dan pendudukan Jepang di Shanghai selama tahun 1930. Menak-jub-kan. Gaya bercerita saya lebih modern, dengan penyuntingan cepat dan mungkin lebih rumit.


Apakah Anda puas dengan karya ini? Apa obsesi yang lain?

Saya puas, terutama pada versi Indonesia. Karena saya berasal dari akar Indonesia. Mungkin saya terobsesi, tapi saya seorang penyuka kesempur-na-an. Dalam gaya Herge, ada garis-garis tegas di mana kita memperlihat-kan detail, tapi sederhana. Pilihan tepat -untuk menampilkan gambar.


Kabarnya Anda senang berlibur mengunjungi Padang, Makassar, dan Toraja?

Saya masih berusaha menemukan bangunan di Jakarta dan Bukittinggi yang meninggalkan kenangan pada masa kolonial Belanda. Arsitektur -Belanda dari tahun 1920-1930, itu sejarah Indonesia. Berharap anak muda di sini menyukainya juga.


Photo: Cover of Tempo Magazine edition 30/XXXIV/19 - 25 September 2005

Friday, September 16, 2005

Peter van Dongen's Exhibition at Erasmus Huis


Standing next to the frames where my A4-format diary sheets are displayed

I received these photos this morning, from my brother who was present at the opening evening of Peter van Dongen's Exhibition (thanks! :D).

Thursday, September 15, 2005

Just keeping track.. [7] (Kompas, Suara Pembaruan)



Publication of Peter van Dongen's exhibition still goes on.


This photo is from Kompas, 15 Sept 2005 (thanks, Jenz)

Personally, I don't think this photo captures how interesting the exhibition really is (you can hardly see the main exhibition materials). I wonder if it really attracts people to come and see it.

Heh. I was being silly: I thought that photo is one big photo, but it's actually composed of two photos! I didn't put attention to the size of the big frames versus the size of the person's head. Duh. But anyway, the caption doesn't really match the photos (or the other way around). A reliable source (*ahem*) said that it could happen sometimes, when the designer (and/or editor) all of sudden decided to put on another photos, without realizing that they don't match the caption.



This one is from Suara Pembaruan, 11 Sept 2005


SUARA PEMBARUAN DAILY



Asyiknya Nonton Pameran Komik



HAMPIR sebulan penuh, dari 6 sampai 30 September 2005, berlangsung sebuah pameran komik di pusat kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Dalam pameran itu, tampil karya Peter van Dongen, komikus Belanda yang menampilkan cerita komik dengan setting Indonesia "tempo doeloe" dan empat komikus muda Indonesia.

Menyaksikan karya-karya mereka, ternyata menimbulkan keasyikan tersendiri. Apalagi bagi mereka yang hobi membaca dan sekaligus mengoleksi komik, karya-karya yang ditampilkan dalam pameran itu dapat menjadi alternatif pilihan di tengah maraknya komik-komik Jepang di Indonesia.

Karya Peter van Dongen, komikus kelahiran Amsterdam, Belanda, tahun 1966 menjadi lebih menarik diamati, karena kisahnya tentang Indonesia di masa lampau. Komikus itu terampil menyajikan detail dalam gambar komiknya, mulai dari bangunan, bentuk tubuh orang, sampai gaya busana, dan suasana masa lalu Indonesia pada tahun-tahun awal kemerdekaan RI, sekitar 1946.

Walaupun dia tergolong kaum muda Belanda yang lahir sesudah selesainya pendudukan Belanda di Indonesia, namun van Dongen mampu menampilkan masa lampau itu dengan hampir sempurna lewat goresan gambar komiknya. Selain dari kisah ibunya yang kelahiran Manado, Sulawesi Utara, dia juga mengadakan riset tahunan di Museum Institut Tropik di Amsterdam.

Soal komiknya yang mirip dengan komik Tintin buatan Herge, van Dongen mengaku bahwa dia memang amat menyukai Tintin. Sejak kecil dia senang membaca komik Tintin, dan berharap suatu hari bisa membuat komik seperti itu. Maka dari tangannya lahirlah komik-komik yang mengingatkan kita pada komik Tintin.

Van Dongen hanya salah satu komikus yang berpameran di Erasmus Huis. Selain dia, juga tampil Dwi Santoso yang dikenal dengan nama Anto Motulz dalam karya-karya komiknya. Komikus kelahiran Jakarta tahun 1972 itu mengatakan,"Menggambar dan melukis (memang) merupakan hobi dasar saya sejak kecil."

Komikus lainnya, Dwinita Larasati atau yang akrab dipanggil Tita. Dia juga dilahirkan di Jakarta tahun 1972. Berbeda dengan komikus lainnya, Tita yang kini sedang menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Belanda, tampil dengan diary comic. Bila orang lain membuat catatan harian berbentuk tulisan, maka Tita membuat catatan harian dalam bentuk komik.

Muhammad Cahya Daulay atau Cahya yang lahir di Jakarta tahun 1978, merupakan komikus muda lainnya yang ikut berpameran. Cahya menggambar komik sejak masih duduk di bangku SMP. Dia pernah menerbitkan kartun Para Lodra, berkisah tentang seorang ayah dan putranya yang berusaha mencari arti kehidupan.

Satu lagi komikus yang tampil di pameran itu adalah Beng Rahadian. Pria kelahiran 1975 itu juga merupakan komikus yang produktif. Karya terbarunya Jalan Sempit, bercerita tentang seorang pria gay bernama Amet yang ingin menjadi seorang heteroseksual. Amet mulai menjalin hubungan serius dengan seorang perempuan bernama Mia. Pasangan gay Amet yang mengetahui hal ini, berusaha meneror Mia dengan kekerasan.

Komik memang bisa menceritakan segala hal. Seperti dikatakan van Dongen, bahkan soal politik dan ekonomi pun dapat dijadikan komik. Jadi ayo baca...eh...bikin komik. (B-8)




Last modified: 8/9/05





From Pasarbuku mailing list:
From: Bobby Bats
Date: Fri Sep 16, 2005 4:56 pm
Subject: Re: [PasarBuku] Penerbit gokil: Komik hardcover

Pak Pandu benar.

Komik "Rampokan Jawa" adalah salah satu buku berbahasa Indonesia terpenting di
tahun 2005 ini yang kudu dimiliki, bukan hanya oleh mereka yang mencintai komik
tetapi juga pemerhati sejarah. Makanya kondisi fisiknya sengaja dibuat tidak
terlalu jauh dengan versi londonya. Mewah dan wah (maksudnya bikin ngiler).
Penikmat buku sejati pasti bisa membayangkan macam apa pentingnya isi buku yang
fisiknya didesain dan dibungkus seperti ini. Jadi, niat penerbit serta pihak
pemrakarsa macam milis komik alternatif tentu saja patut diacungi jempol.

Pecinta komik lokal tahu betul kenapa mereka kudu punya buku ini. Gambarnya khas
betul macam coretan Georges Remy alias Herge, seperti yang diakui sang komikus
Peter van Dongen. Sangat detail dan serius. Bedanya, setiap bingkai yang
disuguhkan kental nian bercerita tentang bumi nusantara di awal abad ke-20.
Mulai dari pelabuhan, pasar, hutan, perkebunan, pertokoan semuanya menyuguhkan
sentimen keindonesiaan yang kuat. Tanpa sadar, Peter melakukan promosi
pariwisata untuk negeri ini lewat gambar-gambar buatannya di seantero Eropa.

Bagaimana pula hal menarik yang bisa ditawarkan untuk pemerhati sejarah?
Darah indo yang mengalir dalam diri Peter agaknya menjadi alasan kuat untuk
bercerita tentang negeri ini. Tahun 1990-an ia melakukan napak tilas, dan inilah
proses riset, jalan-jalan pulang kampung seraya mengumpulkan data. Bahan ini
pulalah yang kelak membuat "Rampokan Jawa" terasa fasih bertutur tentang negeri
ini tahun 1920an hingga 1940an. Setting besarnya sih tentang kembalinya rezim
oranye pasca Proklamasi kemerdekaan RI, namun setting recehannya amat memikat
mata. Tengok saja cerita tentang tentara Gurkha, tentara Belanda yang kader
komunis, aksi penghadangan konvoi tentara Belanda oleh gerilyawan Indonesia,
atau stereotip keturunan Tionghoa yang jadi pedagang. Ah, padahal dia orang
Belanda yang di mata orang Indonesia pasti alergi untuk bicara sejarah kolonial.


Begitulah. "Rampokan Jawa" tak sekadar mewah secara fisik, tapi juga secara
fakta dan coretan gambar. Peter dengan lincah menorehkan sepotong fiksi epik
negeri ini. Jika satu bingkai gambar bisa bercerita dalam seribu kata, tak
terkira lagi berapa kata mampu terucap dalam tebalnya "Rampokan Jawa" yang
kebetulan tidak diberikan nomor halaman ini...

Friday, September 9, 2005

Just keeping track.. [6] (Koran Tempo, Republika, The Jakarta Post, Stripschrift Online, Het Indisch Huis)



Many many thanks to Agam for copying the article from Koran Tempo in the previous journal.

Koran Tempo Jum’at, 09 September 2005
Budaya: Pameran Komik Aroma Eropa Memberi ruang bagi komikus aliran Eropa.

Jakarta -- Garis gambarnya bersih, tak terlalu banyak arsiran. Bagi Anda yang tumbuh remaja pada 1970 hingga 1990-an dan hobi membaca komik, tentu tak asing dengan proporsi gambar ini. Ya, karya komikus Belgia Herge, Tintin, ini begitu terkenal hingga memberi inspirasi bagi para komikus-komikus dunia.

Inspirasi bentuk gambar Tintin pun dengan setia ditekuni oleh Peter van Dongen, komikus Belanda yang tengah menggelar pameran komiknya di Erasmus Huis, Jakarta, hingga 30 September. Bersamaan dengan pameran ini, Peter juga meluncurkan buku komik Rampokan Jawa versi Indonesia di Tanah Air.

Komik Rampokan Jawa sendiri telah mengantarkan pria kelahiran 1966 ini meraih penghargaan Stripschappening, sebagai buku komik terbaik di Belanda pada 1999. Komik ini sempat menjadi kontroversi di negara asalnya karena banyak pihak yang keberatan dengan gaya penceritaan Peter yang terlalu membela Indonesia. Dalam komik ini, Peter menggambarkan perjuangan seorang pemuda Belanda, John Knevel, yang mencari jati dirinya di Hindia Belanda, tempat ia pernah dibesarkan.

Karena itu, dalam hajatan untuk memperingati 60 tahun Indonesia merdeka ini, Peter diundang untuk menampilkan beberapa halaman dari sketsa awal komik Rampokan Jawa yang masih berupa gambar hitam dan putih. Sementara itu, ditampilkan juga beberapa halaman lain yang telah diwarnai dengan warna cokelat, hitam, dan putih.

Selain Rampokan Jawa, Peter juga mengeluarkan Rampokan Celebes, sekuelnya pada 2004. Dalam pameran ini, sampul depan Rampokan Celebes pun turut ditampilkan. Selain kedua komiknya, Peter juga menampilkan beberapa gambar Hotel Rex di Batavia dan Medan dengan format gambar perangko.

Garis-garis zaman dulu begitu kuat melekat di karya-karya Peter. Warna yang dipilihnya pun cenderung kelam, seperti hijau lumut, cokelat tua, dan kuning lembut yang menyiratkan elegi masa lalu. Dia mengakui, masa lalu seolah menjadi obsesi tersendiri baginya. "Saya memang menyukai komik-komik yang bercerita tentang masa lalu, " tuturnya.

Gambar-gambarnya tentang kondisi Kota Batavia, Medan, Surabaya, dan Makassar ataupun gambar transportasi serta pakaian penduduk pun sangat mirip dengan kondisi saat itu, pada 1946. Menurut Peter, ia melakukan riset khusus agar hasilnya sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Dalam pameran yang menampilkan 40 item ini, Peter tak sendiri. Tampil pula karya empat komikus Indonesia yang selama ini menggeluti komik dengan aliran Eropa, yakni Anto Motulz, Dwinita Larasati (Tita), M. Cahya Daulay, serta Beng Rahadian. Berbeda dengan Peter, karya mereka berempat sarat energi kekinian.

Tita, misalnya. Satu-satunya komikus perempuan di pameran ini, menampilkan diary komik. Ia menggambarkan kegiatannya sehari-hari dalam bentuk sketsa, sejak bangun tidur hingga akan tidur. Di Belanda dan Eropa pada umumnya, bentuk komik yang dipilih Tita bukanlah sesuatu yang unik. Namun, di Indonesia tampaknya tak banyak yang cukup sabar menggambar bentuk-bentuk yang sama dalam jumlah banyak dan bertutur tentang kegiatan sehari-hari.

Sementara itu, komikus termuda, Cahya, menampilkan beberapa halaman dari komik Para Lodra. Komik yang bercerita tentang perjuangan ayah dan putranya dalam mencari arti hidup ini terasa diinspirasi komik-komik Indonesia masa lalu, seperti Si Buta dari Gua Hantu.

Sedangkan warna-warna cerah langsung menantang mata pengunjung dalam karya komik Motuls, Petualangan Kapten Bandung. Seperti Herge yang banyak memakai warna, Motulz pun menggunakan pakem yang sama, meski garis gambar mereka berbeda.

Komik pun bisa menjadi sarana ungkapan keprihatinan atas kehidupan sehari-hari. Karya Beng Rahadian, yang didominasi warna hitam dan putih, bertutur tentang kegalauan pria homoseksual dalam memandang orientasi seksualnya. Dari komik-komik inilah, kita bisa melihat bagaimana komik atau kartun tak harus selalu lucu. sita planasari a

And here's an article from Republika

Rabu, 07 September 2005
Komik Sejarah

Jawa, 1946
Berbekal kerinduan mendalam akan kampung halamannya, Johan Knevel, seorang pemuda keturunan Belanda, kembali ke Indonesia. Lima tahun menempuh pendidikan di Eropa, tidak menghapus kecintaannya terhadap tempatnya dilahirkan.

Setelah ditinggal mati orang tuanya, Johan bertekad menemukan Ninih, pengasuh masa kecilnya. Setiba di Indonesia, perjuangan Johan tidaklah mudah. Karena melakukan suatu kesalahan fatal, ia kemudian diburu.

Johan pun kemudian berkeliling ke kota-kota di Indonesia untuk menyelamatkan diri, sekaligus melakukan pencarian atas Ninih, dan dirinya sendiri.

Kisah di atas bukanlah peristiwa nyata atau resensi sebuah film. Ia adalah sebuah karya fiksi karya komikus Belanda, Peter van Dongen, berjudul Rampokan Jawa. Komik ini merupakan roman sejarah tentang pencarian identitas diri seorang pemuda keturunan di Indonesia.

Komik ini unik. Tidak banyak komikus yang bercerita tentang kisah perjuangan di masa lalu. Apalagi hal itu dilakukan oleh seseorang yang sama sekali tidak mengenal negeri yang dijadikan objek karyanya, seperti Peter. Pria blasteran Indonesia-Belanda ini hanya mengenal kampung halaman ibunya dari pelajaran di sekolah.

Bukan hanya itu, Peter lahir di Amsterdam pada tahun 1966. Sementara komiknya mengambil setting tahun 1946 atau kilas balik 20 tahun dari masa kelahirannya. Meski demikian, dengan fasih, Peter menerjemahkan kisah perjuangan bangsa Indonesia di masa silam. Bukan hanya kisah perjuangannya, arsitektur dan lansekap kota-kota Indonesia di masa itu ia gambarkan dengan detil.

Mengaku tidak pernah mengunjungi Indonesia sebelum menghasilkan Rampokan Jawa, karyanya patut diacungi jempol. Dengan gaya lukisan ala Herge--komikus Belgia favoritnya yang menciptakan karakter Tintin--- Peter berhasil menggambarkan dengan cukup akurat.

Misalnya gambaran pelabuhan Tanjung Priok kala itu, termasuk kawasan Pecinan di Glodok. Kemudian kawasan Batujajar di perbatasan Bandung, dan alun-alun Blitar dengan tarung macannya.

Van Dongen juga berhasil menggambarkan kehidupan masyarakat dengan baik. Bagaimana aktivitas pangkas rambut di bawah pohon, jual beli di pasar dengan segenap hiruk-pikuknya. Bahkan ia menggambarkan kostum orang Indonesia tempo doeloe seperti pria dengan sarung atau perempuan dengan kain dan kebaya.

Setting cerita dan kehidupan yang mendetil, diakui Peter, didapatkannya dari riset tujuh tahun di museum dan perpustakaan di Negeri Kincir Angin. Foto-foto dan dokumentasi tentang Indonesia yang banyak tersedia di Belanda, ikut sangat membantu proses penafsirannya atas Indonesia yang sangat terbatas.

Mengenai komiknya yang bertemakan sejarah, Peter mengaku penasaran sekaligus terkenang dengan masa lalu ibunya yang berasal dari Indonesia. Menurutnya, ini menimbulkan perasaan romantis sekaligus melankolis. ''Melihat komik ini juga seperti nostalgia, kembali ke masa lampau,''ujarnya, serius.

Sementara pemilihan Jawa sebagai lokasi cerita, diakuinya karena merupakan pusat pemerintahan Hindia Belanda saat itu, di samping banyaknya bangunan bersejarah yang indah. Namun dalam sekuel karyanya bertajuk Rampokan Celebes yang segera terbit dalam cersi Bahasa Indonesia, Peter juga memasukkaan alam kota di Sulawesi yang merupakan kampung halaman ibundanya.

Rampokan Jawa seakan kembali menghidupkan sejarah saat Belanda menginvasi dan menjajah Indonesia selama 350 tahun. Tak heran kalau komik ini, bukan hanya menarik minat komikus Belanda, melainkan juga mereka yang mengamati hubungan antara Belanda dan Indonesia saat ini.

Van Dongen mengawali karirnya tidak sebagai komikus. Bersama tiga orang saudara, termasuk kembarannya, ia sempat membentuk grup band. Namun karena keinginan melukisnya menggebu-gebu, akhirnya memutuskan menjadi komikus.

Awalnya ia membuat komik berjudul Muizentheater (Mice Theater) pada 1990. Berhasil mendapatkan penghargaan Stripschappening dari komunitas kartunis Belanda.

Menurut Direktur Erasmus Huis, Maarten Mulder, Peter sangat dikenal di Belanda. Karya-karyanya menghiasi surat kabar di Negeri Kincir Angin tersebut. Erasmus Huis, juga akan menggelar pameran karya Peter Van Dingen dan rekan pembuat komik Indonesia. (uli)


From The Jakarta Post:

Dutch colonialism in cartoon strip
Features - September 04, 2005

In honor of Indonesia's 60th anniversary of independence, Erasmus Huis will present the work of Dutch cartoonist Peter van Dongen. Young Indonesian cartoonists will also participate in the exhibition, scheduled from Sept.7 through Sept.30.
Van Dongen debuted in 1990 through the publishing of Muizentheater. A year later, Muizentheater (Theater of Mice) won an award from the Dutch society of cartoonists for Best Comic Book of the Year.
In 1998, Van Dongen published a book titled Rampokan: Java.

The tale about the independence struggle in the former Dutch colony of Indonesia (from where Van Dongen's ancestors came) was even better received than his debut.
It also won award for the Best Comic Book of the Year 1999 and also the Prix du Lion 1999 in Brussels.
The second and last volume, Rampokan: Celebes, was published in 2004.

Erasmus Huis, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. S-3, Kuningan, Jakarta
Phone: (021) 524 1069
-- The Jakarta Post

From Stripschrift Online, a short article about the exhibition plan, before Peter left to Indonesia:

Peter van Dongen naar Indonesië

5 augustus '05 - 12:00 Op 6 september opent Het Erasmus Huis in Jakarta een expositie rond Peter van Dongen. Ook is een uitgever daar gestart met de productie van de Indonesische versie van Rampokan 1: Java.

De tentoonstelling maakt deel uit van een serie tentoonstellingen die in het teken staan van zestig jaar onafhankelijkheid. Het belangrijkste deel van de expo is afkomstig uit Rampokan, dat zich afspeelt ten tijde van de politionele acties. Na een maand wordt de tentoonstelling verplaatst naar de steden Semarang en Surabaya op Java.

De aandacht voor Rampokan valt samen met de viering dat zestig jaar geleden de latere president Sukarno en diens premier Hatta de onafhankelijkheid van Indonesië uitriepen. De Nederlandse regering accepteerde dit niet en stuurde militairen om de orde en rust te herstellen. Opmerkelijk genoeg zal Minister Bot van Buitenlandse Zaken als eerste Nederlandse bewindsman ooit op 17 augustus de viering bijwonen.

Rampokan 1: Java verscheen in 1998. Rampokan 2: Celebes zes jaar later, in 2004. Inmiddels is Java ook verschenen in Frankrijk en zijn er plannen voor uitgaven in Spanje, Italië, Duitsland en nu dus ook Indonesië.

Van Dongen zal medio augustus afreizen naar dat land.

Malariapillen al besteld, Peter?
Peter van Dongen: Ja, ik vertrek 12 augustus en zal er zes weken verblijven, want ik combineer het natuurlijk met mijn vakantie.

Hoe is deze expositie tot stand gekomen?
Ik kwam via Rob Malasch - ik exposeerde vorig jaar in zijn galerie Serieuze Zaken - in contact met de directeur van Het Erasmus Huis. Ze hebben daar regelmatig thema-exposities, en die directeur stelde voor om er samen met mij eentje in te richten rond zestig jaar onafhankelijkheid. Dat leek me geweldig en ik heb meteen contact gelegd met de groep Indonesische tekenaars die in 2002 op de Stripdagen Haarlem aanwezig was. Er komen ongeveer veertig werken van mij te hangen, de rest van de tentoonstelling wordt samengesteld door één van die Indonesische tekenaars.

Wat moeten we ons voorstellen bij die Indonesische versie van Rampokan?
Het is een heel kleine uitgever die het gaat doen en die wordt daarbij voor de vertaling financieel ondersteund door Het Erasmus Huis en de Nederlandse ambassade. De oplage bedraagt zo'n 3000 exemplaren. Ik hoop dat het eerste deel op tijd af is.

Er wordt gefluisterd dat er ook een schetsboek van je gaat verschijnen…
Ja, in het najaar zal er een soort archiefwerk uitkomen bij uitgeverij Oog en Blik. Alle beschikbare potloodschetsen van de pagina's komen er in te staan, maar ook het overige schetswerk, en foto's die ik heb gebruikt als documentatie. Heel bijzonder. AvO


From the website of Het Indisch Huis:

Indonesië toont interesse in Peter van Dongen's strip Rampokan

Het Erasmus Huis in Jakarta opent 6 september 2005 een tentoonstelling van striptekenaar en illustrator Peter van Dongen. De tentoonstelling maakt deel uit van een serie tentoonstellingen die in het teken staan van 60 jaar onafhankelijkheid. Belangrijkste deel van de tentoonstelling is afkomstig uit Van Dongens stripverhaal Rampokan dat zich afspeelt ten tijde van de politionele acties. Na een maand zal de tentoonstelling zich verplaatsen naar de steden Semerang en Surabaya op Java. Ook is een Indonesische uitgever onlangs gestart met het in productie nemen van het eerste deel van Rampokan: Java.

De aandacht vanuit Indonesie voor Rampokan valt samen met de viering dat 60 jaar geleden de latere president Sukarno en diens premier Hatta de onafhankelijkheid van Indonesie uitriepen. De toenmalige Nederlandse regering accepteerde de onafhankelijkheidsverklaring niet en stuurde daarvoor in de plaats militairen om de rust en orde te herstellen. Minister Bot van Buitenlandse Zaken woont op 17 augustus de viering bij. Het is de eerste keer dat een Nederlandse bewindsman op deze dag daarbij aanwezig is.

Rampokan Java verscheen in 1998, Rampokan Celebes zes jaar later in 2004. Inmddels is Java ook verschenen in Frankrijk en zijn er plannen voor uitgaves in Spanje, Italie en Duitsland en nu dus ook Indonesie. Jarenlang historisch bronnen- en beeldonderzoek zijn voorafgegaan aan de publicatie van beide delen. Het was altijd Van Dongens bedoeling het slotakkoord van de Nederlands-Indische geschiedenis zo nauwkeurig mogelijk te reconstrueren.

Rampokan: het verhaal Rampokan, een historische en psychologische roman over het verlies van identiteit en tempo doeloe. Johan Knevel, soldaat en vrijwilliger wordt verscheurd door schuldgevoel: tegen wil en dank staat hij aan de kant van de Indonesische nationalisten. Hij moet wel verraad plegen aan de Nederlandse zaak: dat is zijn enige kans om zijn baboe weer te zien en iets terug te vinden van zijn verloren Paradijs. Het is 1946, Nederlands-Indië (nog even) en de Tijger is los…

Dit tweeluik, Rampokan: Java en Celebes staat in het teken van het Tijgergevecht, de Rampokan. Volgens Javaanse traditie werden gevangen tijgers of panters - symbolen van het kwaad én de koloniale overheerser - ceremonieel gedood aan het einde van de Ramadan.
Peter van Dongen over Rampokan: " De huidige Indonesische jongeren zijn niet belast met het koloniaal Nederlandse verleden. Ze kijken juist onbevangen naar mijn boeken: ze zien 'Kuifje' maar tegelijkertijd herkennen ze ook plekken en gebeurtenissen uit hun geschiedenis."

Thursday, September 8, 2005

Just keeping track.. [5] (Komik Alternatif mailing list)



I don't know how long I will keep this track, but as long as I still find news about Peter and the exhibition, I'll always put it here. I like collecting these stories, especially because I can draw this picture in my mind how everything goes. It feels like I was there, myself. So, sorry for those who are already bored with the subject :)

Here goes. From komik alternatif mailing list.



From: "suryo_anglagard"
Date: Thu Sep 8, 2005 4:10 pm
Subject: Menjelang Diskusi Buku Rampokan Jawa
Sore itu, Rabu 7 Sept 2005, Rieza dan saya menjemput Peter van
Dongen, istrinya Ellen dan ibundanya di hotel tempat mereka menginap
dibilangan Menteng, Jakarta Pusat. Malam itu menurut rencana akan
diadakan diskusi buku Rampokan Jawa, di toko buku Kinokuniya, Plaza
Senayan. Namun sebelumnya kami berniat mengajak Peter sekeluarga
makan malam. Sambil menunggu ibundanya bersiap, kami berempat
ngobrol di café hotel. Peter bercerita tentang suasana konferensi
pers semalam di Erasmus Huis, sambil melihat-lihat koleksi foto yang
sudah kami cetak untuknya.

Sangat menarik mendengar ceritanya bahwa ia nyaris menandatangani 70
buku malam itu. Ia hampir tak dapat menerangkan karya-karya
eksibisinya kepada para tamu. Ia sempat bercakap-cakap dengan
Rosihan Anwar dan komikus senior kita, Dwi Koen. Ellen
memperlihatkan foto Peter mengenakan kemeja batik hadiah dari saya.
Benar-benar kocak melihat seorang Londo muda memakai kemeja batik.
Peter juga bercerita para pegawai hotel menyambut senang, saat
melihat Peter dengan kemeja batik. Erasmus Huis rupanya juga
berencana untuk membawa materi eksibisi (termasuk karya para komikus
muda Indonesia) ke Yogyakarta dan Semarang. Pihak Erasmus sangat
gembira saat mengumumkan bahwa tamu yang hadir lebih dari 100 orang,
dan acara ini merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarahnya.

Kami juga sempat ngobrol tentang musik 80an. Peter rupanya penggemar
berat Madness dan Duran Duran, dan bercerita tentang konser mereka
baru-baru ini. Saya ceritakan bahwa saya penggemar berat Human
League dan Tears for Fears. Emang dasarnya kami satu generasi,
obrolan musik pun nyambung. Saat saya cerita kalo baru saja beli CD-
nya ABC, wah mereka berdua juga surprised. Sudah lama ngga dengar
band ini. Peter cerita kalo dia masih memutar banyak koleksi
piringan hitamnya. Saat kami sampai di band Buggles, saya cerita
kalo album keduanya sangat sulit didapat. Akhirnya CD album kedua
Buggles saya dapat di Jepang. Sempat juga nyerempet ke kelompok
sirkus top Kanada, Cirque du Soleil. Rupanya kami nyambung juga
karena sama-sama fans berat Cirque du Soleil. Bedanya (lagi-lagi)
Peter dan Ellen sempat menyaksikan pentas Dralion di Belanda. Oya,
sebagai kenang-kenangan saya hadiahkan album Karimata, Jezz. Mudah-
mudahan mereka suka jazz fusion + musik etnik Indonesia.

Sepanjang perjalanan, kami menjadi tour guide bagi para tamu.
Terutama pada beberapa bangunan historis kota Jakarta. Peter rupanya
mengenali patung Selamat Datang di bundaran Hotel Indonesia. Ia juga
menanyakan patung Arjuna Wijaya yang terletak didepan Bank
Indonesia, serta kompleks Senayan. Ia bahkan juga fasih bercerita
tentang perjuangan legendaris Jendral Sudirman. Jalanan belum padat
dan kami beruntung dapat tiba di Plaza Senayan dalam 30 menit.

Kami langsung menuju restoran Waroeng Podjok di lantai 3. Seperti
sudah kami duga, para tamu sangat senang dengan suasana tempo doeloe
restoran tsb. Ia bahkan bercerita koleksi lukisan repro miliknya
yang salinannya terdapat di dinding restoran. Sambil membaca menu,
ibundanya sibuk menanyakan apakah Waroeng Podjok menyajikan es
cendol. Rupanya minuman ini kegemarannya. Ia bercerita di Belanda,
es cendol termasuk mahal. Sekitar Euro 3.5 sementara rata-rata di
Indonesia Rp 3.000,- alias Euro 0.25. Pernah dicobanya membuat es
cendol, namun gagal. Walaupun saya konfirmasikan bahan dan cara
pembuatannya, ia tetap mengatakan (saat itu) hasilnya tidak serupa.

Tidak lama Iwan Gunawan, Syamsuddin dan Saut bergabung. Mereka sibuk
bercakap-cakap dengan Peter dan Rieza, sementara saya ngobrol dengan
ibunda Peter dan Ellen. Mereka bertanya tentang beberapa menu
makanan dan saya berusaha menerangkannya sebaik mungkin. Rupanya
ibunda Peter sering masak masakan Indonesia, walaupun hanya 4 jenis.
Ellen bercerita bahwa seluruh keluarga sangat senang jika ada acara
spesial dengan menu Indonesia.

Saatnya memesan makanan utama. Ellen memesan ayam gorang ketumbar,
Peter nasi gudeg, ibundanya tahu bacem. Kami minta bantuan pelayan
untuk mengambil beberapa foto. Tak lama Pandu Ganesa, Prama dan
istrinya bergabung. Jadilah acara makan malam yang sangat meriah.
Sempat juga ada perbincangan tentang wisata ke Bandung. Rupanya
ibunda Peter juga pernah beberapa kali ke Bandung, dan sangat
tertarik mendengar adanya jalan tol. Dengan jalan tol itu, Jakarta-
Bandung bisa ditempuh kurang dari 2 jam.

Makanan pun datang dan kami sibuk menikmati hidangan. Nampak para
tamu Londo kita sangat menikmati hidangan khas Indonesia. Peter
bercerita bahwa selama di Minangkabau, ia sangat menyukai daging
rendang, sayur nangka dan beberapa yang lain. Ibunda Peter bahkan
mencari kripik nangka, dan saya membantu menuliskannya diselembar
kertas.

Iwan bercerita proyek majalah Sekuen yang sedang ia buat. Peter
menawarkan untuk membuat beberapa ilustrasi yang tentu saja disambut
baik. Ia berjanji segera setelah sampai di Belanda, ia akan mulai
mengerjakannya. Saya lalu ingat bahwa Peter tidak memiliki alamat
email (selama ini kami berkomunikasi melalui email Ellen). Hari gini
ngga punya email? Ellen menjawab itu sudah menjadi pertanyaan banyak
orang dan Peter berjanji akan segera membuat. Ia juga sempat
bertukar cerita dengan Iwan tentang komputer Mac miliknya.

Tak terasa waktu menunjukan 19.40 dan kami harus segera bersiap
menuju Kinokuniya.

Surjorimba Suroto

From: "suryo_anglagard"
Date: Thu Sep 8, 2005 4:14 pm
Subject: Diskusi Buku: Rampokan Jawa

Suasana di salah satu pojok Kinokuniya sudah ramai. Nampak berderet
kursi lipat dan dua buah sofa sudah menanti, serta standing banner
cantik persembahan Pandu Ganesa. Para pengagum menyambut Peter dan
bergantian menyalaminya. Sementara menunggu pembicara tamu, tampak
staf Pandu Ganesa menyiapkan stok Rampokan Jawa. Dalam sekejap meja
kecil itu dikerumuni pembeli.

Tak lama Rani Ambyo (penterjemah Rampokan Java) dan Yusi Pareanom
(mantan wartawan Tempo) hadir dan acarapun segera dibuka oleh
moderator Hikmat Darmawan. Para pembicara tamu mendiskusikan
Rampokan Jawa dari banyak aspek. Sayang saya tak menyimaknya karena
terlibat rapat kecil dengan rekan-rekan KomikIndonesia.com di ujung
lorong. Maklum, karena urusan serius terpaksa mencari tempat yang
agak sunyi.

Seorang penggemar bertanya, Maria seorang wanita setengah baya,
tentang mutu terjemahan yang menurut dia ada beberapa kekurangan.
Contohnya tentang arti `Rampokan' itu sendiri. Kritik lain adalah
wajah orang Indonesia dibuat Peter lebih mirip Indocina (Vietnam/
Laos?). Ia juga mengkoreksi pendapat Yusi, yang mengatakan mustahil
orang Indonesia makan roti dengan sambal (seperti dalam Rampokan
Jawa). Menurutnya di Manado, bahkan mereka terbiasa makan pisang
dengan sambal. Maria juga menyarankan agar pada Rampokan Celebes,
akan lebih menarik jika dapat merangkai beberapa `bahasa gaul'
masyarakat kita pada periode 1945-1947.

Anto Motulz, pencipta komik Kapten Bandung, sempat memberi komentar
perihal banyaknya kritik tentang perawakan orang Indonesia yang
nampak seperti Indocina. Baginya itu tidak perlu menjadi soal. Pada
komik Jepang pun, tak ada yang mempermasalahkan mata yang tampak
besar. It's just a comicbook. Pencipta komik Caroq, Thoriq, juga
berkomentar bahwa ia mengagumi Peter dari gaya hidupnya. Ia tidak
minum bir dan tidak merokok. Seharusnya itu bisa kita teladani, jika
ingin menjadi komikus yang sehat dan berprestasi. Hikmat sempat
bertanya tentang sebuah ilustrasi karya Peter van Dongen yang dibuat
untuk sebuah program TV. Disitu tampak Peter membuat beberapa
gambar, yang bisa luput jika tidak teliti, dari beberapa komikus
legendaris. Peter mengakui bahwa selain Herge, ia juga mengagumi
beberapa karya lain. Bisa dikatakan gambar-gambar tsb merupakan
persembahan bagi mereka.

Tak dapat berlama-lama karena keterbatasan waktu, acara diskusi
ditutup dan dilanjutkan dengan sesi tanda tangan dan foto bersama.
Dengan sabar para penggemar sekitar 60 orang mengantri berbaris
menanti giliran. Pada umumnya mereka membawa buku Rampokan Jawa.
Seorang penggemar, Santi Rahmayanti dari milis Komik Alternatif,
membawa t-shirt Station Beos yang digambar Peter van Dongen untuk
Komunitas Sahabat Museum. Acara ditutup dengan foto bersama Peter.

Setelah berbincang-bincang sebentar dengan beberapa rekan Erasmus
Huis, Peter sekeluarga kembali ke hotel. Dalam perjalanan Peter
menanyakan beberapa pertanyaan yang baginya kurang jelas. Dari semua
itu yang sempat jadi perbincangan menarik kami berlima adalah
sepotong kisah paham komunis di lembaran Rampokan Jawa. Peter, Ellen
dan ibundanya bercerita bagaimana gerakan komunis berjalan saat
Perang Dunia II di Belgia dan Eropa. Bagaimana sikap masyarakat
Belgia saat itu terhadap paham komunis.Tidak banyak pengikut partai
komunis yang secara gamblang membuka identitasnya kepada publik.
Walaupun di Rusia dan Cina paham komunis berkembang pesat sejak
Lenin dan Mao (sampai runtuhnya Uni Soviet), namun tidak demikian
halnya dengan Eropa daratan. Berbagai latar belakang lainnya menjadi
diskusi menarik. Itulah sebabnya tokoh Erik Verhagen (dalam komik)
menyembunyikan jatidirinya yang pengikut aliran komunis.

Setibanya di hotel, kamipun berbincang-bincang singkat dan saling
mengucapkan terima kasih atas berbagai kesempatan selama tiga hari
ini. Kamipun sepakat menyempatkan waktu untuk bertemu lagi dan
mengadakan diskusi buku akhir September ini. Namun itu apabila tidak
ada halangan, karena Peter akan segera kembali ke negerinya (setelah
perjalanan ke Makasar, Bali dan Jakarta lagi).

Pengalaman bersama Peter van Dongen (dan keluarganya) memberi
kenangan manis bagi kami semua. Mudah-mudahan akan ada kesempatan
serupa, saat Rampokan Celebes diterbitkan dalam bahasa Indonesia.
Kemungkinannya memang kecil, tapi tidak ada salahnya kita selalu
berharap. Siapa yang tahu masa depan kita?

Kini perjuangan yang sebenarnya dimulai………..mampukah Rampokan Jawa
meraih sukses pasar? Semoga publik menyambutnya dengan antusias.

Surjorimba Suroto


And this is something to look forward to: Rampokan Jawa in Koran Tempo. It's a pity that not all articles are freely accessible through the Internet (you have to be a paying registered member), so I just hope somebody can find the electronic version of the article and post it in the mailing list.

From: "suryo_anglagard"
Date: Thu Sep 8, 2005 5:11 pm
Subject: Rampokan Jawa di Koran Tempo

Jika tak ada halangan, Jum'at 9 Sept 2005 Koran Tempo akan menurunkan
liputan konferensi pers dan eksibisi EH: Rampokan Jawa dan Komikus
Muda Indonesia. Mudah2an sambutan pembaca antusias dan mulai mencari
komiknya. Pak Pandu, udah siap ngga nih batch kedua? Ntar toko2
kebanjiran demand, tapi supply ngga ngejar. ah, tapi pak Pandu pasti
te-o-pe =)

BTW, saya juga diwawancara tadi malam oleh Koran Tempo perihal
tutupnya Radio M97 FM (nggada hubungannya dgn komik). Mereka tertarik
meminta pendapat saya, selaku orang yg pernah aktif di radio tsb (1999-
2001). Artikel ini rencananya turun Sabtu, 10 Sept 2005.

Dan jangan lupa setiap Koran Tempo Minggu, ada karya Beng Rahadian dan
komik Godam: Godam Gadungan.

suryo
ps. Rekan2 lain mohon bantuannya utk monitor surat2 kabar/ website
jika ada berita ttg Rampokan Jawa. thx