Showing posts with label exhibition. Show all posts
Showing posts with label exhibition. Show all posts

Tuesday, October 7, 2008

Pameran Komik "Hantu-hantu dari Hanoi"

Start:     Nov 7, '08 10:00a
End:     Nov 8, '08 5:00p
Location:     Auditorium CCF Bandung
Pameran Komik « Hantu-hantu dari Hanoi »
Jumat, 7 dan Sabtu, 8 November 10.00 – 17.00
Pembukaan : Kamis, 6 November – 19.00

Workshop : Jumat, 7 dan Sabtu, 8 November, Pkl.: 14.30 – 19.30
Auditorium CCF Bandung

Gérald Gorridge mengawali karirnya dengan membuat komik yang dimuat dalam majalah Métal Hurlant. Kemudian ia menjadi guru di École Européenne Supérieure de l’image, Sekolah Tinggi Gambar Eropa, di Kota Angoulême. Ia juga bekerja untuk penerbit Jerman Alfa Comic Verlag. Perjalanan-perjalanan tersebut menempati sebagian besar dari kehidupannya.

Karena sangat menyukai dunia Timur Jauh, ia mengelola penerbitan karya He Youzhi, ahli gambar terkenal dari Shanghai dalam versi Prancis. Untuk festival gambar ilustrasi pertama di Beijing tahun 2005, ia mengadakan pameran keliling « Pelajaran tentang gambar-gambar yang berhubungan dan asap-asap yang berbicara ».

Sejak 1999, ia memberikan master classe komik di Hanoi, Vietnam, dengan bermacam-macam rekanan. Ini berbuahkan penerbitan karya kolektif Ké Moï, komik baru Vietnam, album komik pertama dalam bahasa Viêt. Beberapa kali kedatangannya ke ibu kota Vietnam ini telah memberinya materi untuk albumnya yang berjudul « Les Fantômes de Hanoï , Hantu-hantu Hanoi, yang diterbitkan tahun 2006.



Acara ini terselengara atas kerjasama publikasi dengan Komunitas Cergam Bandung Manyala.



www.lire-en-fete.culturel.fr


Centre Culturel Français / Pusat Kebudayaan Prancis / CCF Bandung
Jl. Purnawarman No: 32
Bandung 40117
INDONESIA

T : 00 62 22 421 24 17
F : 00 62 22 420 78 77
www.ccfbandung.org

Pameran Komik "Seabad komik berbahasa Prancis"

Start:     Oct 14, '08 10:00a
End:     Oct 31, '08 5:00p
Location:     Galerie Esp’Art – CCF Bandung, Jl. Purnawarman 32
Pameran terdiri dari 35 plat asli yang diambil dari koleksi asli « Cité internationale de la bande dessinée et de l’image », dengan menelusuri tahap-tahap sejarah suatu seni yang tersohor keunikannya di Prancis, di Eropa dan mungkin di seluruh dunia. Dari Caran d’Ache, pakar yang begitu modern dalam bidang cerita bisu hingga Nicolas de Crécy, pakar teknik ilustrasi yang memukau. lebih dari seabad kreasi Prancis – dan Belgia – yang dipamerkan di sini.

Monday, September 17, 2007

Workshop Ngomik di SPACE59

Start:     Sep 19, '07 4:00p
End:     Sep 22, '07 6:00p
Location:     Bandung
Undangan Kursu59ambar Komik

Bersama Alva (Martabakomikita / Pengajian Komik DKV-ITB), Tita (penggambar), Pidi Baiq (haji), dan kemungkinan akan ada tamu kejutan.
Kegiatan tgl 19, 20 dan 22 September 2007, Pukul 16.00 s/d 18.00 WIB
di SPACE59, Jl. Merak No. 2, Bandung.

Tidak dipungut bayaran (gratis!) dan akan disediakan minuman dan
makanan kecil pembuka puasa. Peserta dipersilakan membawa kertas dan
alat-alat gambar masing-masing.

Peserta tidak dibatasi umurnya, dari usia SD hingga anak kuliahan,
sampai pegawai dan pensiunan pun boleh.

Kursus akan meliputi:
- Creating characters
- Visual storytelling dan background/setting
- Hal2 lain seputar pembuatan komik

Sampai ketemu di SPACE59!

PS. SPACE59 juga akan menjadi host acara 24 Hour Comics Day di
Bandung, tgl 20 Oktober 2007! Mari bergabung, kita ngomik bareng
sehari semalam!

PPS.
Tentang SPACE59: http://space59bandung.multiply.com
Tentang "Curhat Tita": http://esduren.multiply.com
Tentang Martabakomik: http://martabakomikita.multiply.com
Tentang PidiBaiq: http://pidibaiq.multiply.com
Tentang 24 Hour Comics Day: http://24hourcomics.com/

Sunday, September 16, 2007

Rackety Saturday at SPACE59

Sudden ideas came to Pidi, as they usually do, on Wednesday, "Let's make an event at SPACE59 on Saturday afternoon!". Go ahead, I told him, you can perform. "You'll have a discussion session, too!". Alright, I said, just prepare a program and the invitation. The latter was distributed to our contacts through mailing lists, websites and SMS, as commonly done nowadays. It was supposed to start at 4 pm, but of course in reality it began a bit later.

I arrived at the gallery at around 2.30 pm, to meet an appointment while preparing my material. Indeed, I made a PowerPoint presentation for this evening, containing a short story about me, my drawings and other relevant activities.

Passing four o'clock, a group of people - bringing guitars and tambourines - entered the gallery and Pidi asked them to start performing. The way he introduced them might offend some sensitive people, but nobody seemed to mind. I asked Pidi who these guys really are. "I don't know", he said, "I just found them around the corner of the street, and asked them to perform here. They'd like to". "Really?!" my eyebrows and voice raised. "Seriously", he chuckled. Don't believe a word he said.

During their performance, the "Jakarta support team" came: Deedee, Dezig, and many others whose name I've come accross lots of times at Multiply. Glad to finally meet you all in person, guys!

Then it was my turn to face the audience. It's never been easy for me to talk about my self, so visual assistance is always in order. I showed my earliest documented drawing, from my apprenticeship era in Germany (1995), my travel log in Indonesia and Australia (1996-1997), to my student life in The Netherlands (starting 1998), continued with family life in Amsterdam (2000), up to today. I presented as well photos of exhibitions, publications and other works. It didn't take long, really.
The Q&A session was great. Thanks to all for the appreciation; I'm happy to find out that, after all, my doubt about the acceptance of this kind of work is gradually decreasing. This 'readiness' of Indonesian comics community was actually the first question from Deedee, followed by an inquiry about my returning to Indonesia. Another question was about keeping privacy (it's still a diary, indeed) while maintaining a wide audience who view my drawings. The rest were remarks and comments, all of which I felt very grateful for.

The conclusion? Curhat doesn't always have to be whiny! Haha.

The program continued with a performance from Pidi, who played guitar and sang his heart out, his way, for some minutes. I got the chance to chat and shop (Nat, Nunu and Chica, I got your stuff!) - and to be in several snapshots with the Jakarta team!      

The sun went down, flagging down the sign of break-fast. The gallery provided cups of water, Teh Botol and fried snacks from a street vendor. Afterwards, some interior lights were switched off, the guests dripping off the premise - leaving the gallery serene and vacant again in the dim light. That was quite a memorable afternoon, thanks to everyone!

Photo: courtesy of Dhani, at http://dezig.multiply.com/photos/album/271/Curhat_Tita_
Other photos can be seen at Alice's http://alsqtecture.multiply.com/photos/album/212/Pameran_Curhat_Tita_Dinner_Boemi_Joglo_ at Arini's http://louiesmum.multiply.com/photos/album/69/curhat_TITA_1592007_space59_Bandung_
and at Olive's http://obendon.multiply.com/photos/album/264/dKambers_ka_Bandung_euyy_
====================

SPACE59 will hold a workshop for making comics (Kursu59ambar Komik) on the 19th, 20th and 22nd of September. Announcement will be released as soon as responsible parties are confirmed.
Starting Monday, new merchandise will be produced, i.e. stickers and magnets. T-shirts that are sold out will also be reproduced. Online selling will be prepared approaching the closing of the exhibition, at the Multiply of SPACE59.   

Friday, September 14, 2007

Rame-rame di "Curhat"

Start:     Sep 15, '07 4:00p
End:     Sep 15, '07 6:00p
Location:     Bandung
Sabtu sore besok akan ada rame-rame di pameran "Curhat"! Kemungkinan besar ada ngobrol2 dengan Tita dan Pidi, dan penampilan Pidi sebagai penyanyi tengil bersama lawan2nya para PanasDalam.

Tempatnya di SPACE59, Jl. Merak No. 2, Bandung. Ancer2nya di belakang Gedung Telkom yg deket Gasibu, masuknya dari Jl. Surapati, belokan pertama ke kiri itu sudah Jalan Merak. Sama dengan jalannya RM Ciganea dan Sari Bundo.

Yang sempat mampir, datang yaa!

p.s. SPACE59 punya Multiply juga sekarang, ID-nya space59bandung

Monday, September 10, 2007

Opening of "Curhat" at SPACE59




Wednesday night, Sept 5th, 2007. The opening of SPACE59 gallery and also of "Curhat Tita" exhibition, that is held until Sept 22nd, 2007. From Sybrand's camera.

Tuesday, September 4, 2007

Exhibition: "Curhat Tita"

Start:     Sep 5, '07 7:00p
End:     Sep 22, '07
Location:     Jl. Merak 2, Bandung, Indonesia
All are invited! The opening, at Wednesday night, will be filled - among others - with a drawing demo (anyone is welcome to join), a discussion session, and Panas Dalam live performance.

T-shirts and other merchandise based on my drawings will be sold. There will also cool packages - each containing a comic (er.. drawing) book and a T-shirt - available for sale.

See you there!

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Monday, September 3, 2007

Come One, Come All!



Pameran Curhat Tita
5-22 September 2007
SPACE59
Jalan Merak 2
BANDUNG
T 022 250 5959
F 022 250 0124

Pembukaan
Rabu 5 September 2007
pukul 18:59 WIB
oleh Prof. Dr. Bambang Sugiarto
Demo gambar Tita dkk
Diskusi bersama Tita
Hiburan:
- Demo Grafiti
- Bad Boy Blues
- Pidi Baiq dan Musuh

Tim Kalong: Maswied, Maskiki, Maspidibaiq, Maswidjana, Masgiman, Masmiko

Friday, August 31, 2007

Buletin "Curhat"




NewsLetter from Space59, concerning "Curhat" exhibition - and the next one!

Wednesday, August 29, 2007

"Curhat" T-shirts




T-shirts that will be produced for the exhibition. Illustration by Tita, design by Pidi.

Saturday, August 25, 2007

[sneak preview] Wawancara Curhat




Wawancara ini dilakukan lewat YM yg lagging dan sering disco. Ditambah pula dengan tabiat pewawancaranya (Pidi), maka hasilnya adalah seperti ini. Dapatkan aslinya di dalam kemasan paket khusus saat pameran!

Friday, August 24, 2007

Exhibition: "Curhat Tita"

Start:     Sep 5, '07 7:00p
End:     Sep 22, '07
Location:     Jl. Merak 2, Bandung, Indonesia
All are invited! The opening, at Wednesday night, will be filled - among others - with a drawing demo (anyone is welcome to join), a discussion session, and Panas Dalam live performance.

T-shirts and other merchandise based on my drawings will be sold. There will also cool packages - each containing a comic (er.. drawing) book and a T-shirt - available for sale.

See you there!

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Thursday, August 23, 2007

Coming Soon: "Curhat Tita"

An exhibition of my works and merchandise at the new gallery of C-59 (called ArtSpace59). More info to come, as soon as I get more materials from the curator, our out-of-this-world PidiBaiq.

For non-Indonesian speakers: curhat is a slang, an abbreviation from CURahan HATi, which means pouring (one's) heart out. Curhat is usually done by confiding to someone you trust. In my case, I've been revealing my thoughts and feelings to pieces of paper and sketchbooks, in drawings. Since these drawings are what you'll see in this exhibition, it's only sensible to call the whole thing "my divulgence": tita's curhat.

The exhibition will be held from September 5th to 22nd, 2007. We haven't really decided yet about what to do during the opening, but some weird ideas have come up.

Watch this space - you might get a preview at every update.     


Saturday, March 31, 2007

[Catalogue] DI:Y Comics Exhibition




For those who couldn't visit the DI:Y comics exhibition at TIM, Jakarta (3-17 March 2007), or those who did but didn't get the catalogue. Here's the content: introductory pages (sorry for the blurry parts), short descriptions about all the artist, each followed by his/her work samples. There are some mistakes in my details; people who know me well can easily spot them.

Saturday, March 17, 2007

[klipping] Bridging differences through comics


From The Jakarta Post: http://thejakartapost.com/detailfeatures.asp?fileid=20070317.W04&irec=3
I've browsed through this article and found some basic mistakes: my name is actually Dwinita ("Dinita" is what's spelled in the exhibition's catalogue), I've never studied graphic design and I haven't got my drawings published except for the ones in anthologies (40075km-comics, Belgium and 24HCD, USA and The Netherlands). I'll write a letter to JP soon..



Dinita Larasati: Bridging differences through comics


A. Junaidi, The Jakarta Post, Jakarta

Dinita
"Tita" Larasati has a doctorate in architecture from the Delft
University of Technology in the Netherlands, but the public at large
would probably better recognize her for her graphic diary comics than
her academic credentials.

One of Tita's comics will soon be published in The 24 Hour Comics book in the United States.


The journey to the U.S. was not easy. Over 1,200 comic writers from 17
countries submitted their stories to the organizing committee, which
chose the 10 best entries to be published in a book titled 24 Hour Comics Day 2007. One of the 10 comics selected was Tita's -- titled Transition -- which is also features at the on-going Indie comics exhibition at Taman Ismail Marzuki in Central Jakarta.

The exhibition, which is being attended by 10 comic writers from Jakarta, Bandung and Yogyakarta, ends today.

Transition
deals with the role of cultural differences in human relations, drawing
inspiration mainly from Tita's, and her friends', experiences living in
the Netherlands.


In one of the drawings, for example, Tita, who is also a lecturer at
the Bandung Institute of Technology (ITB), describes how her Indonesian
friends, on their first visit to the Netherlands, became infuriated
when her Dutch husband, while stirring coffee, would point to a
location on a map with his foot, an act considered impolite back in
Indonesia.

In
another drawing, Tita shows how Indonesians living in the Netherlands,
including herself, have to learn "small" habits, such as mentioning
their name when answering the phone. In Indonesia, merely saying
"hello" is sufficient.

Tita's Transition
also points out how two things can have different functions in two
countries with different cultures. In Indonesia, and perhaps in other
developing countries, a house window is a place where children, and
sometimes adults, from the neighborhood would watch from outside a TV
that was in the house, while in the Netherlands and other developed
countries, the same window functions as a place for house owners to
look out of while watching TV.


All Tita's drawings, which are classified as Indie comics, are full of
details and lines placed in small panels. This is thanks to her
background in graphic design.


"All my works are about my personal experiences, such as traveling,"
Tita said in a discussion on Indie comics at Taman Ismail Marzuki Art
Center in Central Jakarta last Saturday.

Transition, along with other works by nine local cartoonists, which are categorized in the Do It Yourself (DIY) genre of comics, has been on exhibition at the center since March 3.


The comics are classified as DIY because the writers produce and
distribute their works by themselves, as mainstream publishing
companies often reject their "market-unfriendly" comics.


Indie comic artists can create whatever they want and address sensitive
themes such as violence perpetrated by military officers or certain
religious groups.


Some observers view Indie comics as a symbol of rejection of the
dictatorial power represented in large publishing companies, be this
political of economical in nature.


Although they do not hate the state or big companies, Indie comic
writers want to highlight the fact that both the state and big
corporations have done nothing to improve their lives and that freedom
is the key concept they are trying to convey.

Tita, 35, has so far published five graphic diary books and two comics -- Re-United and Still Life, which is about the massive earthquake in Yogyakarta in 2005.


In her books, which mostly tell of her journeys, Tita often attaches
items such as tickets and candy wrappers because of their artistic
qualities.

"If
there are any mainstream companies that want to publish my work, they
have to follow what I want ... in terms of the details of my comics,"
the mother of two said.

Tita, who was born in Jakarta on Dec. 28, 1972, has published most of her works, including those selected in The 24 Hour Comics Day book, in her blog http://esduren.multiply.com.


She knows very well that piracy is rampant in the Indie comics world
and other indie worlds, but still chooses not to care too much about
property rights violations.


"They can steal my works, but they can not steal my ideas," said Tita,
who earned her master's degree in graphic design at Eindhoven
University of Technology in the Netherlands.










Wednesday, March 14, 2007

[klipping] Komik Unik

Dari Tempo Interaktif http://www.tempointeraktif.com/hg/budaya/2007/03/13/brk,20070313-95384,id.html


Komik Unik
Selasa, 13 Maret 2007 | 15:08 WIB


TEMPO Interaktif, Jakarta: Bencana yang merenggut ribuan nyawa di darat sudah jamak. Dari dalam air, bencana juga membuat ribuan nyawa melayang tinggi. Ketakutan pun muncul, jangan-jangan bencana dari udara segera datang.

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh di atap langit. "Bencana dari udara," kata seorang ayah. Ia pun mengajak istri dan anaknya berlari ke luar ruang. Namun, sang istri lega lantaran sumber suara gemuruh di atas atap itu ternyata hanya seekor kucing.

Sindiran itu digarap di sepenggal komik yang dipamerkan dalam pameran komik bertajuk Eksposisi Komik DI:Y alias Daerah Istimewa: Yourself. Acara yang berlangsung di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, pada 3-17 Maret itu menampilkan karya sebelas komikus lokal, seperti Athonk, Bambang Toko, Beng Rahardian, Didoth, Eko Nugroho, Iwank, Oyas & Iput, Mail, Pras, dan Tita.

Para komikus telah memiliki sederet pengalaman. Athonk, yang bernama asli Sapto Raharjo, misalnya, telah melahirkan karya, seperti dua jilid Bad Times Story, Old Skull Comics Strips, Old Skull in the Garden, dan Strip Jams. Sebagian besar karya komikus kelahiran Kendal, 15 Agustus 1971, ini diterbitkan oleh penerbit asing dari Melbourne, Hawaii, dan New Orleans.

Bambang Toko, yang lahir di Yogyakarta dengan nama Bambang Witjaksono pada 27 Maret 1973, juga banyak berpameran di dalam dan luar negeri. Sedangkan Eko Nugroho, yang tahun lalu terpilih sebagai manusia cemerlang versi majalah Tempo, adalah komikus yang dikenal sebagai Presiden The Daging Tumbuh, sebuah jurnal sekaligus gerakan seni fotokopi yang banyak memuat komik di Yogyakarta.

Karya yang ditampilkan dalam pameran memang bukan komik mainstream layaknya Tintin, Asterix, Superman, atau bahkan komik Jepang yang bejibun jumlahnya di pasar. "Kesebelas komikus ini adalah wakil yang boleh dibilang sangat berhasil memunculkan keunikan jati diri mereka dalam karya mereka," kata kurator komik Hikmat Darmawan.

Keunikan karya itu tak cuma tampil dalam bentuk kaya garis milik Beng Rahadian. Namun, cara bertutur yang begitu unik juga ditunjukkan Tita, yang banyak menampilkan karyanya lewat blog.

Keunikan tersebut, kata Hikmat, menawarkan daerah kemungkinan yang lebih luas lagi bagi medium komik. Sikap inilah yang mampu mengubah posisi sebelumnya.

Maklum, sebelumnya komik adalah bentuk seni yang menunggu di antara peradaban Guttenberg dan McLuhan. Peradaban Guttenberg adalah peradaban teks yang statis. Sedangkan peradaban McLuhan adalah peradaban visual, yakni membaca dan menonton. "Sebuah tangan gaib menempatkannya di sana karena sifat alaminya sebagai medium hibrida," kata Hikmat.

Maka komik pun pasif menunggu di ruang tunggu. Gerakan kesebelas komikus ini, kata Hikmat, membuat komik tak lagi pasif menunggu. Tak penting lagi, Godot akan datang atau tidak. Komik malah asyik sendiri. Ruang tunggu telah diubahnya menjadi ruang miliknya sendiri. Bahkan, kata Hikmat, "Ruang itu semakin besar saja kini."

nur hidayat

[klipping] DI:Y, Apresiasi Eksplorasi Komikus Lokal








Dari http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/budaya/di-y-apresiasi-eksplorasi-komikus-lokal-3.html


DI:Y, Apresiasi Eksplorasi Komikus Lokal

Minggu, 11/03/2007





SEBELAS komikus – Sapto Raharjo (Anthok), Bambang Witjaksono, Bambang ‘Beng’ Tri Rahardian, Didi Purnomo (Didoth),Eko Nugroho, Erwan Hersi Susanto (Iwank), Ahmad Ismail (Ma’il),Siti Fitriyah (Iput),Golkas Teguh Sujiwo (Oyas), Prasajadi, dan Dinita Larasati (Tita)— menampilkan karya mereka dalam pameran bertajuk


”Eksposisi Komik DI:Y (Daerah Istimewa: Yourself)”di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki (TIM) dari 3-17 Maret 2007. Setiap komikus memperlihatkan keistimewaan atau kekhasan masing-masing. Anthok misalnya, tampil sebagai komikus yang menawarkan tema–tema realisme.Dalam karya berseri Oldskull and Friends tentang kisahkisah dari penjara yang merupakan pengalaman pribadinya, kecenderungan menawarkan realisme itu tampak kuat.Di sisi lain,Anthok kelihatan tidak membiarkan ruang kosong mengisi panel-panel komiknya.


Maka,panel-panel itu pun disi dengan corat-coret garis dan kata-kata seperti living on a prayer, bontex floresta, punk, bastard,God help me,derita tiada akhir,dan hidup di bui lagi. Obrolan singkat dan anekdot yang dibangun Anthok tampak spontan dan ekspresif. Sedangkan Beng Rahardian tampil lebih surealis, walaupun sedikit juga tertarik ke realis. Dalam komik bertajuk Lapar dan Tidur Panjang, komik korban gempa Yogyakarta, kekhasan surealis Beng sangat menonjol.


Lantas mengapa dia lebih suka gaya surealis? ”Saya tidak bisa lagi tanpa realis ketika menghadapi bencana seperti tsunami Aceh atau gempa Yogya, sebab tidak ada lagi yang riil untuk digambarkan dengan kata-kata,” ungkap Beng. Dalam menggarap karya-karya, dia mengaku, dirinya lebih mengedepankan ekspresi kekebasan kendati tetap dalam format konvensional. Penampilan ke-11 komikus, yang mempertontonkan kekhasan daerah istimewa mereka, sebenarnya sebuah upaya memetakan pertualangan komikus di jagad komik Indonesia.Upaya tersebut, kata Ketua Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Ade Darmawan, penting untuk mengetahui perkembangan karya komik di Tanah Air. Bagaimana tidak,sejak 1990 komik di Tanah Air mengalami perkembangan cukup pesat. Kendati pasar komik lebih didominasi kekuatan industri komik dari Jepang dan Amerika,namun geliat eksplorasi komikus Indonesia cukup fantastik.


”Sejumlah komikus kita melakukan eksplorasi bahasa visual dan literatur,menjajaki segala kemungkinan.Mereka juga berupaya menciptakan modus produksi dan estetika yang lebih mandiri di luar modus produksi dan estetika industri komik utama,”tutur Ade.Maka tujuan pameran ini, jelasnya, untuk membuka kesempatan komik Indonesia bertemu dengan khalayak komik,menghidupkan apresiasi,kajian, dan kritik.”Karena perkembangan,kendati kecil, akan menjadi penting ketika dicatat, dikaji, dan dikritik,”imbuh dia.


Sementara kurator komik Hikmat Darmawan menilai,ke-11 komikus yang tampil dalam pameran ini merupakan wakil-wakil yang boleh dibilang sangat berhasil memunculkan keunikan jati diri mereka dalam karya-karyanya.Keberhasilan tersebut karena aktivitas mereka dengan etos DIY (Do It Yourself). Keistimewaan komikus lokal era DIY ialah mereka tidak lagi mengutamakan ketrampilan teknis menggambar sebagaimana lazimnya. Mereka lebih mementingkan ekspresi, tidak terikat pada proses penerbitan tradisional atau tidak membutuhkan penerbit.Modus penerbitan melalui fotokopi dan distribusi dari tangan ke tangan,tanpa melalui jaringan distribusi resmi adalah ciri khas etos DIY. Menurut Hikmat,etos DIY ini membuka peluang seluas-luasnya bagi kemerdekaan estetik dan spontanitas ekspresi seni akan tumbuh. (donatus nador) K

Tuesday, March 13, 2007

[klipping] 'Gerilya' Komik Indonesia

Dari Republika: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=285841&kat_id=306


Minggu, 11 Maret 2007
Komik Yourself
'Gerilya' Komik Indonesia


Di tengah popularitas komik Jepang dan Amerika Serikat (AS), komik lokal hampir tak mendapat tempat di rak pajang toko buku. Kendati demikian, kondisi sebenarnya ternyata tidak terlalu mengenaskan. Setidaknya, komik lokal masih hidup dan dinikmati oleh penggemarnya.


Ingin bukti? Tengok saja cuplikan hasil karya 11 komikus yang dipamerkan di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki sejak 3 Maret 2007 lalu. Eksposisi Komik Daerah Istimewa Yourself (DI:Y) itu masih bisa dinikmati sampai 17 Maret mendatang.


Untuk memberi bobot pameran, juga digelar diskusi komik bertajuk Komik sebagai Sub Kultur, pada Sabtu 10 Maret 2007, dengan pembicara Vaniani Ika (pengamat komik), serta Dinita Larasati, Beng Rahadian, dan Bambang Toko (ketiganya komikus).


Komik Indonesia pernah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Tetapi, era itu sudah lama berselang. ''Komik lokal digandrungi pada tahun 1970-an,'' ujar Ade Darmawan, ketua Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta.

RA Kosasih beserta komik Mahabharata-nya amat terkenal dalam tahun 1970-an. Begitu pula, Hasmi dan karya fenomenalnya, serial Gundala Putera Petir. Nama lain yang sukar hilang dari ingatan pecinta komik lokal adalah Ganes TH, pencipta serial Si Buta dari Goa Hantu.


Dalam tahun 1970-an, lanjut Ade, komik lokal kental sekali dengan nuansa Indonesia. Kalau bukan lantaran mengangkat mitos tentu karena bahasa visualnya yang akrab. Cara komikus menggambarkan gerak-gerik tokoh-tokohnya patut diacungi jempol. Pada masanya, komikus malah sejajar dengan bintang film ternama yang selalu menjadi pusat perhatian saat berada di keramaian.


Ade berpendapat komikus zaman dulu amat terasah. Mereka mampu menciptakan karya-karya orisinal. ''Sayangnya, kemampuan itu tidak tertular pada generasi muda komikus,'' katanya.


Dalam pengamatan Ade, komikus masa kini sangat terpengaruh oleh gaya komik Jepang. Dari segi visual, tak ada pencapaian baru yang ditunjukkan. ''Padahal, kalau menggali lebih jeli, mereka bisa menemukan gaya khas sendiri,'' komentarnya.


Bilakah kebangkitan komik lokal tiba? ''Tak perlu merisaukan, Godot datang atau tidak,'' kata Hikmat Darmawan, kurator komik pada Eksposisi Komik DI:Y. Sejumlah komikus muda yang berdomisili di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta mengusung filosofi punk -- do it yourself alias kerjakan saja sendiri -- untuk mengangkat kembali kejayaan komik lokal.


Athonk termasuk salah satu komikus muda yang terbaik saat ini. Tokoh yang direkanya jauh dari pengaruh komik Jepang maupun Amerika yang digandrungi semua umur. Ia menawarkan sebuah kemungkinan realisme tema.


Seri Old Skull merupakan karya Athonk yang paling digemari. Dalam Old Skull, komikus bernama asli Sapto Raharjo sedikit banyak mengangkat pengalaman pribadinya semasa 11 bulan mendekam di bui. Salah satunya menceritakan tentang insafnya Old Skul, pemakai putaw berambut Mohawk berwajah tengkorak. ''Gaya kartun seri komik strip Old Skull tampak kasar, minim stilisasi, seperti diguris seadanya, serbacepat, dan spontan,'' komentar Hikmat.


Selain Athonk, ada pula Eko Nugroho. Dari pemikiran cemerlangnyalah lahir komik-komik banyolan seri The Konyol. Dalam The Konyol, Eko mengetengahkan keseharian orang kebanyakan. Di akhir tahun 1990-an, Eko membuat dunia komik lokal menggeliat. Presiden komunitas The Daging Tumbuh ini memprakarsai penerbitan jurnal komik indie, Daging Tumbuh. Daging Tumbuh merupakan kumpulan komik --mayoritas komik-komik DI:Y-- yang disebarluarskan dalam bentuk hasil fotokopi.


Tentang penyebab keterpurukan komik lokal, Hikmat punya teori. Kemungkinan besar itu terjadi karena ketidaksiapan industri buku untuk menerbitkan komik lokal. ''Tanpa dukungan infrastruktur industri, sulit untuk membuat komik tersebar luas,'' katanya.


Kecenderungan penerbit menyukai pencetakan komik luar negeri tentu bukan tanpa alasan. Dalih utama menyangkut kemudahan menerbitkan. ''Tinggal menerjemahkan naskah yang populer,'' urai Hikmat. Manga alias komik Jepang merupakan komik terbanyak yang menyerbu pasar Indonesia. Sedangkan, Amerika tak begitu produktif menghasilkan komik laris. ''Paling hanya Tintin dan Superman,'' imbuh Hikmat.


Pada tahun 1978, masyarakat baca Indonesia mulai mengenal komik asal Amerika. Saat itu, Tintin hadir. ''Tenda tempat penjualannya sampai rubuh gara-gara kerumunan penggemar,'' kenang Hikmat. Memasuki tahun 1980-an, Manga menyapa pecinta komik. Modus industrinya dibantu dengan anime (kartun Jepang). ''Manga menjadi amat kondang juga karena ketersediaannya yang berlimpah,'' kata Hikmat.


Di tahun 1990-an, dunia komik memasuki masa suram. Oleh masyarakat, komik hanya dianggap sebagai sub-kultur. ''Potret sebenarnya menggambarkan masyarakat yang terfragmentasi,'' ucap Hikmat. Di mata Hikmat, masa depan komik lokal tidak ditentukan oleh jumlah komikus yang meramaikan. Keaslian ide jauh lebih penting. ''Sebab, yang orisinallah yang bakal laris,'' ujarnya menandaskan. reiny dwinanda

Saturday, March 10, 2007

[klipping} Pameran Komik DI:Y

Dari http://www.suarapembaruan.com/News/2007/03/09/index.html

Pameran Komik DI:Y


Merangsang Kebangkitan Produksi dan Distribusi




Pameran Eksposisi Komik DI : Y (Do It Yourself) di Galeri Cipta II
Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Di pameran yang berlangsung hingga 17
Maret. [Pembaruan/Posman Sianturi]


Komik
lokal hampir tak berdaya menahan gempuran komik impor. Selain lemah
dari sisi produksi, komik lokal tak mampu bersaing dalam distribusi.
Namun di sisi lain, potensi komik lokal sesungguhnya cukup besar.


Sejumlah komikus membuktikan komik lokal masih eksis lewat pameran
Eksposisi Komik DI:Y (Do It Yourself) di Galeri Cipta II Taman Ismail
Marzuki, Jakarta. Di pameran yang berlangsung hingga 17 Maret ini
sekaligus upaya komikus asal Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung untuk
menjajaki sejumlah kemungkinan.


Menurut Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Ade Darmawan,
sesungguhnya Indonesia mempunyai banyak komikus. Di sisi lain,
keberadaan sumber daya manusia itu tidak didukung oleh percetakan dan
distributor. Hal itu diperburuk lagi dengan kesenjangan antara komik
lokal dengan pembaca.


Saat ini, pasar Indonesia dipenuhi oleh komik Jepang dan Amerika.
Kondisi itu disebabkan keberpihakan para penerbit besar dengan jalur
distribusinya. Secara langsung atau tidak, ketidakberagaman komik di
pasar Indonesia mendikte pembaca komik atau konsumen untuk memilih
komik Jepang atau Amerika.


Ditambahkan, pameran komik DI:Y ini merupakan usaha awal untuk membaca
perkembangan karya komik lokal saat ini. Di balik pasar yang didominasi
komik Jepang dan Amerika, sejumlah komikus melakukan eksplorasi bahasa
visual dan literatur.


Para komikus yang berpameran, kata Ade, berupaya menciptakan modus
produksi dan estetika yang lebih mandiri di luar mainstream. Pameran
ini sebuah upaya untuk lebih membuka kesempatan komik Indonesia bertemu
dengan khalayak komik, menghidupkan apresiasi, kajian dan kritik.


Sementara itu, Kurator Komik, Hikmat Dermawan mengatakan secara
kultural, sejak awal sejarahnya, komik Indonesia modern mengalami
pasang surut cercaan yang lumayan keras. Secara industrial, sejak awal
tahun 1990-an, komik lokal mengalami keruntuhan. Komik Indonesia
kehilangan pembaca dan sempat melahirkan ilusi kematian komik Indonesia.


Dikatakan, sebelas komikus lokal yang ditampilkan dalam eksposisi
pameran komik DI:Y adalah wakil-wakil yang bisa disebut sangat berhasil
memunculkan keunikan jati diri pribadi dalam karya-karyanya.
Keberhasilan tersebut sebagian karena afinitas mereka dengan etos DI:Y
(Do It Yourself, Red). Di samping itu, mereka juga adalah
pribadi-pribadi yang terus mencari berproses dalam berkarya.


Keunikan identitas mereka, kata Hikmat, akhirnya menawarkan daerah
kemungkinan yang lebih luas lagi bagi medium komik. Mereka telah
mentransformasikan etos dan modus DI:Y menjadi penciptaan sebuah Daerah
Istimewa, tempat berbagai kemungkinan narasi-visual terbuka ke segala
arah. Akhirnya, komik lokal tidak lagi pasif menunggu.


Para komikus tersebut antara lain Oyas dan Iput, ada Athonk, Bambang
Toko, Beng Rahardian, Didoth, Eko Nugroho, Iwank, Mail, Pras dan Tita.
Bambang Toko lebih suka memarodikan konvensi visual komik. Tidak heran
banyak persoalan sosial tak luput diparodikannya.


Hasil karya Bambang Toko dengan komik berjudul Abdul Toyib
..., begitu jelas menyindir fundamentalisme salah satu ajaran agama.
Dia memparodikan perkongsian politik-militer-bisnis dalam komik
Reformasi pada tahun 1998. [AHS/U-5]




[klipping] Dari Eksposisi Komik DI:Y

Dari http://www.sinarharapan.co.id/berita/0703/06/hib01.html
Pasti ada aja salah cetak nama gue di katalog. Dulu waktu di Erasmus Huis, Titia, sekarang di TIM, Dinita.. hihihi..
===============================

Yang Mati Justru Distributor
Indonesia



Oleh

Sihar Ramses Simatupang



Jakarta – “Saya menolak komik Indonesia telah mati. Yang mati justru
produsen dan distributor komik Indonesia,” ujar Hikmat Darmawan,
kurator pameran komik yang hadir pada pembukaan eksposisi “Komik
DI:Y” di Galeri Cipta 3 Taman Ismail Marzuki Jakarta, Sabtu (3/3).



Apa yang dikatakan Hikmat sesungguhnya memang telah jadi fenomena
belakangan ini. Komik Indonesia menjamur. Sebut saja areal di depan
Bioskop 21 Cinepleks di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, yang
menggelarnya hampir setiap hari. “Kulakan” ini bisa jadi luput dari
perhatian orang banyak, tetapi nyatanya banyak juga pelanggan
setianya.

Jadi, jangan hanya mengenang Djair (Warni), Taguan Hardjo, Ganes Th
yang memang terjamin dalam kenangan publik komik, walau itu perlu.
Namun, waktu terus berjalan, generasi komik Indonesia masih ada.
Bukan hanya komik singkat, Hikmat juga menjamin narasi panjang pada
karya komikus muda Indonesia itu terjaga. Seperti pendapat Ade
Darmawan, Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta, bahwa di balik
pasar yang didominasi komik Jepang dan Amerika, sejumlah komikus
kita melakukan “eksplorasi bahasa visual dan literatur”.

Jadi, komikus Indonesia ada, juga aktif. Bahkan, di ajang pameran
itu digelar komik-komik Indonesia. Memang masih ada fotokopian
sederhana dari komik mini Djair sekitar empat edisi, tapi Beng
Rahardian dan beberapa komikus yang juga menawarkan komik karyanya.
“Teh Jahe” yang merupakan tajuk kompilasi komik pendek Beng menarik
perhatian para hadirin di momen pembukaan eksposisi malam itu.

Ada juga yang sedang mempersiapkan komiknya. “Tolong ya bantu diedit,
komik saya ini,” ujar Tita, berbicara kepada Hikmat, seraya
menunjukkan karyanya empat buku calon komik tebal dan satu buku
berisi komik separuh jadi.

Tita, atau lengkapnya Dinita Larasati, adalah salah satu komikus
Indonesia yang pernah berpameran juga di Erasmus Huis, beberapa
bulan silam. Bersama dengan komikus Indonesia lainnya yang saling
berbeda gaya – mereka adalah Motulz (Dwi Santoso), Cahya (Muhammad
Cahya Daulay), dan Beng. Tita dengan komik “graphic diary”-nya
adalah salah satu fenomena komik terbaru di Eropa, berbicara tentang
kisahnya dalam tumpukan komik grafik yang detail serupa dengan
tumpukan dekoratif. Kisah pribadinya itu, gamblang dan terbuka.

Sekarang ini, komik manga dari Jepang masih menghebohkan pasar
industri komik di Indonesia, dengan mata gadis Jepang yang kerap
ditampilkan lebar itu. Kurator Hikmat, kemudian menyebut fenomena
lain manga yaitu kisah cinta dan desire-nya yang kerap tak logis,
namun dikonsumsi para generasi muda Indonesia saat ini.

Jadi, selain komik-komik silat di Indonesia yang penuh dengan aroma
“nostalgia kebangsaan” itu, juga usai terbius oleh pikatan komik
manga atau petualangan Tintin karya Herge, Asterix karya Rene
Goscinny (naskah) dan Albert Uderzo (gambar), atau secara acak komik
Roel Dijkstra, Trigan, Arad & Maya, Coki si Pelukis Cepat, Storm,
jangan lupakan komik Indonesia yang mungkin sedang beredar secara
underground di sekeliling Anda.



Orisinal dan Stilis

Mainstream itu, seperti yang dituturkan Hikmat, tak nampak dalam
pameran ini. Para komikus dari Kota Yogyakarta, Bandung dan Jakarta,
menampilkan kekuatan pribadi pada masing-masing karyanya. Seperti
tajuknya DI:Y yaitu Do It Your Self, dalam pameran gaya personal
mereka masing-masing, terasa pada momen eksposisi.

Di pameran ini ada Athonk yang memperlihatkan objek tak konvensional
dengan tubuh tokoh yang mengalami deformasi, terkesan “cuwek” namun
dilengkapi panel yang masih rapi. Tokohnya pun digambarkan mirip
wajah tengkorak dan berambut Mohawk. Ada Bambang Toko yang gambarnya
terkesan naif, namun kisahnya cukup menarik dan rumit untuk diselami.
Eko Nugroho yang eksperimentalis dan gandrung menggambarkan dunia
ganjil dalam strip tiga panel terutama dalam Fight Me (2004).

Iwank yang ajeg dalam gaya namun ringan dalam narasi. Ma’il yang
dalam komik personalnya menunjukkan upaya subversi atas kenyataan
sosial-historis yang resmi selama ini. Oyas Sujiwo yang dari “gaya
manga” ke “DI:Y” – bersama istrinya Iput kemudian mengeksplorasi
“komik bodor” Humor ala Bandung dan Prasajadi yang karyanya sangat
khas dengan latar desain grafis, simetris dan terkesan rapi.

Membuat komik, contohkan saja yang konvensional, memerlukan strategi
teknik yang memadai – keseimbangan antara visual dan narasi. Mirip
rangkaian slide film yang menggabungkan kisah dengan penjelasan
gambar (komik nenek moyang film?), komik sangat memerlukan
kecerdasan dari komikusnya. Sebuah seni yang tak bisa dipandang
sebelah mata. Tinggal bagaimana produsen-distributor kita merespons
gelombang besar komikus muda Indonesia ini.