Saturday, June 14, 2008

[klipping] Mengapa Tak Ada Hidung di Wajah Tita?

Kompas Minggu, 15 Juni 2008

HIKMAT DARMAWAN

Tepatnya, tak ada hidung di gambar wajah ”Tita” jika sedang menghadap depan (”frontal face”). Kalau Tita menggambarkan ”Tita” dari samping, ada sih hidung itu—mungil, memberi tanda kecil bahwa ”Tita” adalah karakter tiga dimensi.

Tita Larasati saat ini adalah seorang dosen ITB. Pada tahun 1995, ia mendapat kesempatan magang selama setahun di Jerman. Jauh dari orangtua dan keluarga, Tita memulai kebiasaan membuat graphic diary.

Ia menggambar apa saja yang ia alami, kapan saja ia sempat, dengan kertas A4 dan gelpen (Pilot G-1 warna hitam), lalu mengirimkan graphic diary itu dengan faksimile ke keluarganya di Indonesia. Kebiasaan itu berlanjut, baik ketika ia balik ke Indonesia maupun ketika ia keluar negeri lagi, untuk melanjutkan studi desain industri ke Belanda, pada tahun 1998.

Di Belanda, kegiatan ngomik dan bertutur-grafisnya lebih terasah. Belanda adalah salah satu negeri komik terpenting di Eropa Barat, bahkan dunia. Kita, misalnya, akrab dengan komik-komik Belanda (diimpor tak resmi—tanpa copyright) lewat majalah Eppo yang menghimpun komikus-komikus Belanda, seperti Martin Lodewijk (Agen 327, Johny Goodbye, serta menulis beberapa episode seri Storm yang dilukis Don Lawrence), Hans G Kresse (Vidoq, Alain d’Arcy), dan Peter de Smet (Sang Jenderal). Belakangan, kita juga mengenal Peter van Dongen, yang membuat komik berlatar sejarah Indonesia, Rampokan Java dan Rampokan Celebes.

Tita mengenal Peter secara pribadi di Belanda. Rumah Tita di Belanda dekat dengan toko komik sekaligus museum komik internasional terkemuka, Lambiek. Kedekatan fisik dan batin dengan Lambiek ini membuat Tita juga dekat dengan perkembangan mutakhir seni komik dunia.

Di milis komik alternatif dan blog-multiply-nya, Tita sering cerita pergumulannya dengan novel-novel grafis terbaru atau perjumpaannya dengan komikus alternatif kelas dunia, macam Chris Ware (Jimmy Corrigan). Persinggungan langsung dengan perkembangan mutakhir seni komik dunia membuat komik-komik Tita menjadi warga dunia juga.

Spontan, ”lain”

Gagasan bahwa komik adalah medium untuk mendedahkan sepenuhnya diri pribadi seorang seniman bukanlah hal yang lazim di Indonesia. Graphic diary dan komik otobiografis bukanlah seni yang banyak dilakoni para komikus atau pegrafis kita.

Komik di Indonesia, baik fiksi maupun nonfiksi, lebih banyak jadi medium bercerita yang konvensional: mementingkan narasi verbal dan dialog, mementingkan plot (biasanya plot maju-lurus), penataan panel yang umumnya konservatif (bingkai kotak-kotak tersusun rapi), dan umumnya bertujuan menghibur atau memberikan informasi kepada pembaca. Satu lagi konvensi komik kita yang lazim: komik adalah bacaan hiburan anak. Karenanya, komik-komik Tita terasa ”lain”, bahkan ”asing”.

Komik-komik Tita berangkat dari kebutuhan pribadi mengingat dan berkabar, lalu tumbuh menjadi serangkaian seri komik yang sangat personal. Modus pembuatannya sangat spontan: hanya kertas dan pulpen, tanpa sketsa—dan, memang, gaya gambar Tita seperti sketsa. Tanpa naskah atau story board. Tanpa desain karakter, kecuali komitmen pada gaya kartun Barat yang melakukan penyederhanaan terhadap realitas, tetapi tak pernah beranjak jauh—bahkan ingin selalu mendekati—realitas. Tita mengalami sesuatu, lalu ia mewujudkannya dalam garis di atas kertas setiap kali ia punya waktu (saat menunggu sesuatu atau saat dalam perjalanan). Begitu, setiap hari.

Tita tak mendiskriminasi pengalaman, amatan, atau peristiwa yang terlintas di hadapannya. Hidup sehari-hari orang biasa seperti Tita, Anda, dan saya tak dipenuhi oleh petualangan atau peristiwa dramatis. Kita umumnya akan mengabaikan saja yang sehari-hari dan ”biasa-biasa” saja itu, menganggapnya tak menarik, dan melarikan diri darinya ke (misalnya) dunia sinetron, reality show, infotainment, yang serba berlebihan dan ”ajaib”. Seniman macam Tita merengkuh keseharian itu, menganggapnya menarik, menandainya, mengabadikannya.

Dan Tita sehari-hari adalah seorang pelancong iseng, istri Sybrand (seorang Eropa), ibu Dhanu dan Lindri, mahasiswa program doktoral dan kini telah menjadi dosen pegawai negeri. Sepuluh tahun ia tinggal di Belanda, mengalami Eropa luar-dalam, dan kini kembali jadi warga Bandung, selalu waswas tiap bersepeda ke kantor karena jalanan Bandung tak seramah jalanan Eropa pada pengendara sepeda. Dengan sendirinya, ketika Tita mengomikkan kesehariannya apa adanya, maka komiknya menampik kelaziman ”komik sebagai hiburan anak”.

Topik komik Tita mencakup pengalamannya hamil dan membesarkan anak; juga, kadang, pikiran-pikirannya tentang bangsa. Artinya, komik ini sedewasa pembuatnya. Komik dewasa, yang dicipta secara dewasa, sayangnya, masihlah aneh bagi pasar komik kita. Belakangan, memang mulai terbit komik-komik dewasa dan nyeleneh. Misalnya, novel grafis terjemahan dan terbitan Gramedia dan KPG. Atau beberapa gelintir komik underground dari Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung.

Lebih jarang lagi, komik lokal yang sepersonal ini—yang sepenuhnya, dan kontinu, merekam dengan rinci dunia pribadi sang komikus. Saingan terdekat Tita adalah seri strip Old Skull, karya Athonk di Yogya yang bersemangat punk, khususnya serial pengalamannya di penjara setahun gara-gara bawa ganja. Komik Lagak Jakarta karya Benny & Mice tak sepenuhnya bisa dikategorikan graphic diary karena masih mengandung kehendak menjadi komik fiksi.

Athonk memilih defamiliarisasi cukup ekstrem ketika menggambarkan dirinya di atas kertas: sosok berwajah tengkorak dengan rambut gaya mohawk. Tita memilih gaya kartun yang lebih lunak.

Tentang nir-hidung itu

Gemar berbaju kotak-kotak, santai, berbadan agak gempal, dan wajah bulat tanpa hidung jika sedang menghadap depan—itulah karakter kartun ”Tita”. Sengaja atau tak sengaja, karakter wajah ini mirip dengan karakter Smiley.

Smiley adalah perwujudan yang distilisasi dari wajah tersenyum manusia, biasanya berupa bulatan kuning dengan dua titik sebagai mata dan sebuah kurva setengah lingkaran mewakili mulut tersenyum. Smiley menjadi ikonik, termasuk mendapat ”panggilan sayang” Smiley ketika dengan cepat merasuki medan budaya pop dunia pada 1970- an.

Emotikon, dan Smiley sebagai emotikon, menunjukkan bahwa ada kelenturan luarbiasa dari ikon yang mereduksi wajah manusia menjadi perkakas minimalis dua titik dan garis ini dalam mewujudkan rentang emosi manusia yang kaya. Model minimalis ini telah muncul sejak awal sejarah komik/ kartun modern.

Kelenturan inilah yang dimanfaatkan dengan baik oleh Tita saat menggambar ”Tita”. Pilihan pada model ikonik Smiley untuk menggambar wajahnya sendiri sedikit banyak menggambarkan pilihan artistik Tita. Ia memilih gaya kartun, yang hakikatnya menyederhanakan obyek atau kenyataan yang digambarkan hingga ke garis-garis esensialnya saja.

Kartun juga kadang berarti melebih-lebihkan unsur tertentu objek dalam gambar. Tapi Tita lebih menekankan penyederhanaan, bukan hanya dalam menggambarkan dirinya sendiri menjadi berwajah mirip Smiley. Dunia yang ditemui Tita, yang ia pahami, yang ia tafsir melalui garis-garis gel pen-nya yang lincah dan spontan, adalah juga sebuah dunia yang disederhanakan, esensial. Apalagi ketika bidang graphic diary-nya adalah kertas A-4.

Dalam selembar kertas, Tita mencatat secara grafis berbagai kejadian yang ia alami dan tempat yang ia kunjungi selama sebulan. Tentu ini tak memberi ruang bagi penyusunan cerita dan penataan panel yang lazim. Sering kali bingkai kotak diabaikan dan kejadian dipilih momen-momen esensialnya saja. Tak ada ruang untuk plot, apalagi dramatisasi. Ruang-ruang kecil dimanfaatkan dengan maksimal sehingga halaman-halaman itu riuh rendah oleh garis.

Sejak tahun 2000, saat Tita pindah ke Amsterdam, ia beralih ke buku sketsa ukuran A-5. Bidang berbentuk buku ini walau lebih kecil dari kertas A-4 (atau, justru karena lebih kecil), sedikit memaksa Tita mengubah strategi visualnya. Satu aspek peristiwa bisa didalami, walau tetap disederhanakan. Jika sebelumnya komik Tita lebih berat sebagai seni grafis, dalam bentuk buku ini unsur kekisahan lebih mencuat. Komik-komik Tita periode inilah yang dipilih sebagian (amat kecil) dan dikumpulkan dalam Curhat Tita ini.

Curhat tanpa neurosis

Istilah ”curhat” (mengungkapkan perasaan dan pikiran—bahasa slang) menyiratkan keintiman.

Dalam buku ini, Tita mencurahkan pikirannya tentang polah lucu para pengguna kolam renang, lagak turis di Belanda, teman duduk di kereta, senam kehamilan, kepulangan ke Indonesia, naik angkot, tingkah lucu kedua anaknya—Dhanu yang menjanjikan akan mengirim kelapa ke semua teman sekelasnya di Belanda kalau sudah sampai di Indonesia, dan Lindri yang punya ”kiat” sendiri membangunkan ibunya (termasuk menyorongkan sandal ke mulut ibu). Tita mencatat juga benda-benda yang dekat dengannya: rincian tas ranselnya, makanan Jepang, sepeda, dan ”kematian” komputer kesayangannya.

Orang bisa bilang, inilah narasi kecil yang begitu diagungkan di zaman postmodern kini. Barangkali itu pula salah satu sebab Tita adalah komikus Indonesia yang kini dikenal di Eropa—ia menawarkan dunia Tita yang partikular dan hidup. Karyanya dipuji oleh seniman komik dunia, Eddie Campbell (From Hell, The Fate of an Artist): Tita’s charming and always engaging cartoons live in a region of the world of the comic strip that has not yet been taken by the neurotics.

Pujian ini bukan hanya jadi komentar terhadap komik Tita, tapi juga komentar terhadap dunia novel grafis atau komik alternatif masa kini. ”Region” yang dimaksud Campbell bukan wilayah fisik, tapi sebidang ranah seni komik yang khas, di Barat, yang saat ini didominasi komik-komik dengan gejala ”neurosis” (sakit jiwa). Model komik biografis dan graphic diary saat ini diisi oleh Robert Crumb, Harvey Pekar, Art Spiegelman, Lewis Torndheim, David Collier, Lat, James Kochalka, Chester Brown, dan banyak lagi jiwa gelisah lain.

Dibandingkan para komikus ”neurosis” kelas dunia itu, dunia Tita tampak lugu dan tanpa beban. Komik-komik Tita, seperti puisi-puisi Sapardi Joko Damono, memberi kita harapan bahwa kita masih bisa bahagia oleh hal-hal kecil.

Sayang sekali, mutu cetak yang kurang baik menurunkan mutu garis Tita di buku ini. Lain kali, semoga komik Tita bisa terbit dalam bentuk art book dengan standar terbitan Taischen yang terkenal ciamik dan penuh hormat pada seni visual itu. (Hikmat Darmawan, Pengamat Komik)

118 comments:

  1. Congrats ya dear! It's a good article, too :d

    ReplyDelete
  2. mbak Tita heibaaatt!! ^_^

    *ikutan bahagia*

    ReplyDelete
  3. selamat ya.........................

    ReplyDelete
  4. keep on going on Tita...jangan lupa bikin workshop2 untuk anak2..biar banyak tumbuh bibit komikus yang lebih bervariatif dan segarrr..!

    ReplyDelete
  5. *langsung ngedaftarin 2 jagoan gw*
    :D

    ReplyDelete
  6. Ta...ulasannya bagus ya..aku ikut seneng bacanya.
    PS...soo..jadi kenapa koq nggak ada hidungnya si Tita itu kalau ngadep depan?...*kekeuh penasaran*

    ReplyDelete
  7. selamat ya sepupu !
    tadi pagi pas baru buka koran langsung keliatan si artikel segede hohah ini
    aku ikut senaaaaaang bacanyaaaaaa *hugs*

    ReplyDelete
  8. kayaknya kamu gak sepesek itu, dur !

    ReplyDelete
  9. iya keren banget tita, satu halaman besuaarrrr sekali. Selamat yaaaa

    ReplyDelete
  10. Kok tanpa hidung sih? Hahaha.
    Selamat ya Ta

    ReplyDelete
  11. makasih say! i think so, too, many thanks to hikmat!

    ReplyDelete
  12. makasih mbak! heuuu workshop lagi ya, seneng sih, jadi hayuuuk

    ReplyDelete
  13. wah, kita tukeran jagoan aja yuk.. krucilsku juga bisa belajar banyak dari kalian! :D

    ReplyDelete
  14. euh.. sebab fungsinya tidak signifikan, jadi digambar pun belum tentu berfaedah :P makasih yaa

    ReplyDelete
  15. sepupuuu *hugs balik* makasiiihhh

    ReplyDelete
  16. biar kadar buletnya keliatan =)) makasih ya sisc!

    ReplyDelete
  17. Aku bangun langsung baca Kompas..en nemu artikel ini..
    padahal kemaren malem baru baca Gatra juga nemu ulasan Curhat Tita..wah..congratz yah Mbak...
    (tapi aku belum punya bukunya nih! hiks..di Gramedia ada yang jual gak yah?? atau udah bisa online order lagi?)

    have a great weekend!

    ReplyDelete
  18. huaaaaaa!!! masuk koran teruuuuuuuuuuuuuuuuuussssss!!!!

    go tita gooooooooooooooooo!

    ReplyDelete
  19. yg curhat tita, di gramedia bandung mestinya ada. kalo di jakarta adanya di aksara sama togamas. kalo yg transition nggak ada di toko, cuma bisa pesen online.

    makasih ya :)

    ReplyDelete
  20. mariiiiiiiii *sambil geret chikaradirghsa*

    ReplyDelete
  21. proficiat... artikelnya tadi udah baca di Kompas.. :)

    ReplyDelete
  22. udah baca di kompas tadi :)
    sukses Ta, ke depannya

    ReplyDelete
  23. selamat mbak Tita...ditunggu terus karya2nya...

    ReplyDelete
  24. Wah... artikelnya bagus. Ini review ato wawancara? Review kayaknya yah? Pokoknya... Selamat yah!

    PS: Judulnya langsung membuat org pengen baca :))

    ReplyDelete
  25. huaaa how flattering! thank you :)

    ReplyDelete
  26. bener, ini review. judulnya nose.. eh, eye catchy ya :D

    ReplyDelete
  27. makasiiih.. sampe ketemu besok pagi yaa :)

    ReplyDelete
  28. selamat, ya, Tita. Graphic design lainnya kapan diceritakan di koran?

    ReplyDelete
  29. Hi, Tita...Congrats ya...Nukilan "Curhat" yg panjang di Kompas Minggu. Sukses selalu ya. salam.
    Fyi, (to Michelle as well) di samping Aksara, sy juga sempat melihat "Curhat" dipajang di toko buku "TGA"- Mal Klp Gading3.

    ReplyDelete
  30. terrenyuh.....:D
    ngiring binggah mba Tita

    ReplyDelete
  31. Keren lho ulasannya... Selamat ya! *makin gak sabar nunggu kedatangan Curhat Tita akhir bulan* ;-)

    ReplyDelete
  32. tulisan bagus banget ta , thx for share

    ReplyDelete
  33. Congratulations yaa.. ta, emang patut dibanggakan seorang Tita, terimakasih jg udh share semuanya disini...

    ReplyDelete
  34. Semoga bisa dapet buku Curhat Tita di Jakarta..:-)

    ReplyDelete
  35. Tadi langsung beli di gramedia .... he... he... Kata Afya : "ini kok mamanya lindri!"

    ReplyDelete
  36. thanks infonya Pak..kebetulan saya tadi ke Gramedia Mal Ciputra..
    ternyata adaaa...udah beli nih bukunya...akhirnyaa.... =)

    ReplyDelete
  37. selamat, udah mantap menamcapkan kaki sbg komikus di indonesia.

    esduren, pengen tau dong komentar esduren terhadap tulisan ini; terutama perbandingan yg dilakukan penulis dengan komikus lain (baik indonesia ataupun luar-indonesia).

    ReplyDelete
  38. mungkin nggak akan pernah, sebab saya nggak pernah ngedesain grafis dan bukan desainer grafis :)
    trims yaa

    ReplyDelete
  39. mau sekalian yg "transition" nggak? :D makasih yaa

    ReplyDelete
  40. di Gramedia Citraland Grogol Jakarta juga ada Mbak..udah beli nih tadi siang..hihihi...akhirnya...

    ReplyDelete
  41. waah makasih yaaa! makasih juga pak tonny :)

    ReplyDelete
  42. terima kasih juga, senang bisa banyak yg ikut menikmati cerita2nya :)

    ReplyDelete
  43. haha iya, kemaren asik deh nonton afya presentasi! aktif sekali! :))

    ReplyDelete
  44. elu malah ngasih gue kerjaan =))

    bentar ya, abis ini...

    ReplyDelete
  45. tulisan ini kurang lebih menjawab keraguan ketika "curhat" akan diterbitkan: apa ada yg mau baca? sebab referensi yang saya lihat selama ini, 'komik' memoir atau autobio-graphics dan sejenisnya itu selalu memuat kisah-kisah yang hebat, berat, dan penuh titik balik dalam kehidupan seseorang - bahkan tidak jarang menggambarkan masa kesengsaraan yang dialami si penutur cerita.

    sedangkan "curhat" kan isinya ringan2 aja, sehari2 banget. ramenya di mana. malah pernah kepikir, apa saya mesti mengalami hal signifikan dulu dalam hidup, baru layak menerbitkan sebuah 'picture book'? ternyata tidak. sebab ternyata ada banyak referensi lain (terutama karya2 para komikus muda di belanda) yang bobotnya mirip2 "curhat" itu. jadi makin yakinlah gue :D

    ttg karya2 komik lokal, sebagai yg absen dari negri ini selama sekitar 10 taun, referensi saya pasti tidak sebanyak teman2 (terutama komunitas pembaca komik) di indonesia. jadi bukan jatah saya utk sok tau :P yang bisa saya bicarakan hanya yg pernah saya lihat via online ketika masih di belanda dan ketika sudah kembali ke tanah air.

    teman2 dan kenalan2 saya tidak sedikit yg juga membuat gambar2 kesehariannya. tapi saya belum pernah lihat dalam bentuk yang diterbitkan dan didistribusikan secara komersil (baik di toko buku maupun online).

    euh.. ntar kalo ada yg kurang gue tambah2in lagi. sementara segitu dulu :D

    ReplyDelete
  46. Ta, ibu ikut seneng, meski ga disebut-2 lagi bahwa pertama kali yang memperbanyak n dibagikan ke keluarga, juga soal gen talented, hehehe.
    Slamat ya Ta, semoga kariermu terus meningkat, tapi tetap harus rendah hati (tidak sombong) semua di dunia ini milik Tuhan.

    ReplyDelete
  47. Selamat ya, kmrn pas Pameran Produk Budaya Indonesia di JCC, saya beli komikmu yang "Transition". Really enjoyed reading it :)

    ReplyDelete
  48. Ah ya mau sekaliii sebenernya, tapi Janti sdh berangkat atau belum ya?

    ReplyDelete
  49. iya ih ... kemarin nyesel juga nggak bisa datang. Jangan lupa "transition" + pin-nya yaaa......

    ReplyDelete
  50. woww.. cool.. i know a famous person!!!!... lucu juga ya judul liputannya.. padahal kan esduren punya idung? :D..

    ReplyDelete
  51. beda emang kalau yang nulis reviewnya adalah orang yang berprofesi sebagai da'i komik...:-)
    kritik hikmat yang di alinea terakhir ..:-) hehehe, biar kayak seri drawn quaterly.

    ReplyDelete
  52. Glad you enjoy it! Terima kasih :D Saya sendiri malah nggak kesampean dateng sendiri ke PPBI itu :(

    ReplyDelete
  53. kata eddie campbell sih .. neurotics, ya dur ?

    ReplyDelete
  54. tepat!
    ah ya, kritik di masalah fisik. kita masih terus nyoba2 nih.. :D

    ReplyDelete
  55. ya itu dia. padahal itu kan termasuk dia sendiri.. haha..

    ReplyDelete
  56. hahahaha Tita bener. Maksude : graphic diary.

    Dasar kalo umur udah kepala 3, gampang lupa...

    ReplyDelete
  57. wooow, aku banga punya senior seperti mba tita ini, hu huuuy... :p

    ReplyDelete
  58. ada sedikit foto2nya nih di MP-nya dhanu dan lindri.
    titipan, beres, hari selasa yaa! :D

    ReplyDelete
  59. sebagai adik kelas, situ juga membanggakan.. aw awww... :D

    ReplyDelete
  60. Tapi yang keseharian juga bagus loh, bikin pembaca bisa menghubungkan peristiwa sehari-hari dengan cerita mbak. Serasa sharing pengalaman aja kalo baca kaya gitu, jadi lebih memandang hidup dengan optimis. Tapi ga nutup kemungkinan juga ada yang ga dapet menghubungkan hidupnya dengan adegan2 di curhat ini. Ga masalah menurut saya mah.

    ReplyDelete
  61. Tapi yang keseharian juga bagus loh, bikin pembaca bisa menghubungkan peristiwa sehari-hari dengan cerita mbak. Serasa sharing pengalaman aja kalo baca kaya gitu, jadi lebih memandang hidup dengan optimis. Tapi ga nutup kemungkinan juga ada yang ga dapet menghubungkan hidupnya dengan adegan2 di curhat ini. Ga masalah menurut saya mah.

    ReplyDelete
  62. ini memang hal yang paling 'megang' di bacaan jenis apa pun: bahwa pembaca bisa relate to the story, atau pada karakter dalam kisah yang dibacanya.

    ReplyDelete
  63. besok kita ketemuan! jadi masih sempet nyelipin "transition" :D

    ReplyDelete
  64. selamat buat tita. baca tulisannya hikmat ini juga enak. btw. nanya nih: banyakan mana sih komikus belanda apa belgia?

    ReplyDelete
  65. nah kalo soal banyak2an nggatau deh.. coba itung lewat hasil search di Comiclopedia.
    thanks za! :D

    ReplyDelete
  66. selamat, dan selamat ya taaaa *hugs* tulisannya hikmat membidik sisi yang tepat. ditunggu rangkaian "rekaman" berikutnya :)

    ReplyDelete
  67. Ulasan yang sangat bagus! Bangga banget deh sama Tita :)
    Mudah-mudahan komik Tita juga akan membanjiri Malaysia dan mengalahkan Lat :) hehe. Pasti bisa!
    Kalau msaalah kualitas cetakan, kan nanti ada cetakan ke-II atau ke-III, dsb.

    ReplyDelete
  68. kalau bisa bikin bahagia berarti "hal-hal" itu engga kecil (lagi) :)

    ReplyDelete
  69. soalnya lama di belanda, ik malah engga ngeh banyak komikus di belanda. taunya pada dari belgi meskipun dari daerah yg berbahasa belanda juga sih.

    ReplyDelete
  70. setauku sih yang pada nggambar di eppo itu dari belanda semua. kecuali don lawrence (pembuat storm dan trigan), yg aslinya inggris, tp dia menetap di belanda. selain yg terbit di eppo, juga banyak yg lain, yang hingga kini masih berkarya.

    tapi memang sih, karya2 komikus belgia lebih mendunia dengan tintin, asterix obelix, lucky luke, dll. meskipun di beberapa album, script dan gambarnya bekerja sama juga dengan para pekerja komik belanda. abis gimana lagi, deket banget, kayak jakarta-bogor :P

    ReplyDelete
  71. terima kasih G :) *bales huggsss*

    ReplyDelete
  72. pelan-pelan cari jalur distribusi ke sana nih ;))
    thanks teij!

    ReplyDelete
  73. dengan hati gembira kita tunggu karya berikutnya......

    ReplyDelete
  74. tenik kersa yang 'transition' lho ta :) .... kemarin gak sempat ke pameran di jhcc....

    ReplyDelete
  75. nang tiyas ono ten, telu. dhek'e kan sing ngedesain sampule :D

    ReplyDelete
  76. 'mahasiswa program doktoral dan kini telah menjadi dosen pegawai negeri' - kok dibilang masih 'mahasiswa program doktoral' sih - lha wong wis doktor jeeeeee.......

    ReplyDelete
  77. hehe iyo sih.. ora weruh yakke...

    ReplyDelete
  78. Aku senang baca buku Tita :) Makasih ya udah berbagi cerita di negri Belanda :)

    ReplyDelete
  79. saya baru baca koran minggu nih..
    selamat ya...sukses terus..belum sempat cr bukunya nih

    ReplyDelete
  80. terima kasih :) bukunya, mau pesan online?

    ReplyDelete
  81. Tita, hebat!!!
    jadi terpikir nih, PNS yg ngurus surat-surat dwikenegaraan bagaimana reaksinya yah begitu tahu siapa kamu sebenarnya =D
    ini link dari kompas:
    http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/15/01274624/mengapa.tak.ada.hidung.di.wajah.tita

    ReplyDelete
  82. haha, belum tau mungkin dia.. sampai suatu hari graphic diary saya ttg kepengurusan surat2 itu diterbitkan :P
    (thanks link-nya, sudah ada di judul entry ini)

    ReplyDelete
  83. Hai Ibu Doseeeennn... SELAMAT YAAAA ^__^ ditunggu kehadirannya di sekitar gw lagi hihihi *supaya bisa makan bareng lagi*

    ReplyDelete
  84. semoga ada kesempatan lagi.. hihihi..
    makasih yaaa!

    ReplyDelete
  85. boleh Bu..asyik..dapat diskon kan ya?
    pls email ke riris.nurbintari@ika-riris.info ya
    www.anakbangsa.info

    ReplyDelete
  86. congrats mbak tita :D
    ditunggu yah buku transition nya :D

    ReplyDelete
  87. omedetou gozaimasu..... (selamat)

    ReplyDelete
  88. bener, semoga kedepannya cetaknya lebih bagus.. amiiinn.. ;D

    * numpang lewat, liyat-liyat, salam kenal.. :D..

    ReplyDelete
  89. salam kenal juga, terima kasih :)

    ReplyDelete
  90. hi ibu tita, aku coba ngebahas curhat tita juga loh di mpku (http://mproductions.multiply.com/journal/item/30), mohon masukannya terhadap tulisanku... ^^

    ReplyDelete
  91. Tita, ( wadaow ) nggak nyangka kamu setenar ini ^o^ . selamat ya Ta. Hati2 bersepeda sehari2.

    ReplyDelete
  92. aku baca ulasan ini di blog lain..... sepertinya ini ulasan yang paling aku nikmati.... yang paling berisi dan paling mendekati 'apa adanya'....

    ReplyDelete
  93. hi hi mbaak, slamat ya.
    aku juga baca tuh di kompas, kupamerin ke sodara2ku hehehe. mereka pada mau nyari bukunya. sukses ya... bakal ada jilid2 gak?

    ReplyDelete
  94. ehh kangeeen! makasih yaa :)
    skg baru ada "transition" (28 hlm), sambil menunggu selanjutnya. la, email dong, kita terusin rencananya ;)

    ReplyDelete