Sunday, April 13, 2008

[klipping: Republika Online] Graphic Diary Curhat Tita

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=330127&kat_id=319

Minggu, 13 April 2008


Graphic Diary Curhat Tita

Pengalaman sehari-hari ia kisahkan dalam torehan grafis. Hasilnya, menjadi pioner sebagai buku harian dengan tampilan komik.

Judulnya Curhat Tita. Inilah buku harian bertutur dengan tampilan gambar-gambar komik (graphic diary). Jumat (28/3) malam, buku karya Tita itu diluncurkan di Toko Buku Aksara, Kemang, Jakarta Selatan.

Kepada pengunjung yang menghadiri acara peluncuran itu, pemilik nama Dwinia Larasati itu menceritakan bahwa latar belakang pembuatan komiknya murni berasal dari kisah kehidupannya. Menurut dia, setelah menamatkan pendidikan jenjang sarjananya di Institut Teknologi Bandung pada jurusan Desain Produk, dirinya mendapatkan beasiswa S2 dan S3 di Belanda.

Saat-saat memulai hidup di negeri Kincir Angin itulah, kebiasaannya menggambar situasi di sekitar lingkungannya mulai mendapat tempat yang lebih. Ibu dua anak itu, saat itu, harus selalu mengirimkan informasi kepada orangtuanya di Jakarta.

Tita telah mengumpulkan lebih dari 100 lembar kertas A4 dan lebih dari tujuh buku sketsa berukuran A5 yang memuat gambar-gambarnya. Ia kemudian menyeleksinya untuk Curhat Tita. Curhat Tita menjadi graphic diary pertama yang diterbitkan di Indonesia. Di luar negeri, graphic diary dalam berbagai format dan gaya banyak dijual di toko buku.

Lewat bahasanya yang sangat khas, graphic diary Tita berhasil menampilkan berbagai cerita dengan tampilan yang utuh. Meskipun, tidak semua adegan yang dialami Tita saat itu benar-benar dilukiskan menjadi komik yang utuh.

''Saya memang tidak bisa menghadirkan semua cerita saya dalam gambar komik yang komplit. Tapi, setidaknya saya berusaha menampilkannya dengan inti yang utuh,'' jelas Tita kepada Republika.

Cerita-cerita yang ditampilkan menjadi gambar komik, menurut Tita, benar-benar cerita yang dialaminyna dan sangat sederhana. Misalnya, saat dirinya beraktivitas di rumah dan mengurus anak. Termasuk saat-saat menidurkan kedua anaknya, Rasidia Danurendra (7 tahun) dan Syastra Lindri Dwimaharsayani (4 tahun).

Adegan demi adegan yang digambarkan itu berwujud menjadi sebuah gambar komik yang sangat bermakna. Gambar yang ditampilkan pun benar-benar sangat berbeda dibanding komik-komik sebelumnya yang sudah hadir di Indonesia.

Tita menyebut karya orisinilnya itu sebagai bentuk pengekspresian karya seni ala Tita. Kata dia, komik bertutur yang bercerita tentang kehidupan asli seseorang sangat tidak familiar di Indonesia. ''Padahal, di Eropa dan Amerika, komik seperti itu sudah menjamur,'' jelas dia.

Tita menyebut beberapa komikus yang dianggap menjadi inspirator untuk mengembangkan komik diary-nya. Antara lain Peter Pontiac (Belanda), Joulie Doucet (Perancis), Eddie Campbell (Skotlandia), dan Chris Were (Amerika Serikat).

Komikus-komikus itu, kata Tita, memiliki semangat yang luar biasa untuk mengembangkan seni bertuturnya. ''Saya sendiri merasa yakin dengan komik seperti itu setelah melihat karya mereka. Oh, jadi ternyata ada juga tempat untuk saya, ya,'' ujarnya.

Dosen Seni Rupa ITB itu mengungkapkan proses kreatif menciptakan gambar-gambar yang terkesan asal tapi sangat indah itu berlangsung dalam suasana yang sangat cepat dan sederhana. Biasanya, kata Tita, gambar-gambar itu tercipta di saat dirinya sedang berkutat menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya. Di sela waktu tersebut, Tita selalu berusaha menetralkan kepenatannya dengan cara menggambar. ''Saya menggambar apa yang hari itu saya alami. Sudah banyak gambar yang saya kumpulkan,'' ujar dia.

Spesifik
Tita menyadari karyanya ini bukanlah karya pop. Karenanya, ia sama sekali tak menargetkan kuntungan finansial dari upaya penerbitan Curhat Tita. ''Saya melakukannya karena saya cinta pada karya saya. Dan, orang harus menghargainya bukan dengan bentuk sokongan rupiah saja,'' kata dia.

Karena itu, penerbitan Curhat Tita ia percayakan kepada orang yang bisa mengerti keinginannya. Termasuk, keinginan agar waktu terbatasnya tidak menjadi sangat terbatas hanya karena pengerjaan proyek itu. ''Saya ingin profesi sebagai dosen tidak terganggu oleh rencana penerbitan ini,'' ujar perempuan yang suka berpenampilan dengan celana jins dipadu kemeja kotak-kotak dan sepatu gunung itu.

Selama di Belanda, Tita rajin mengikuti workshop dan pameran komik. Termasuk, pameran 'Madjoe!' di Stripdagen Haarlem (2002) dan Royal Ethnology Museum di Leiden, Belanda (2002). Pameran 'Homesick' di Galeri De Schone Kunsten (Haarlem, 2004) dan partisipasi di pameran '24 Hour Comics Day' di Lambiek (Amsterdam, 2006).

Di Indonesia, karya-karyanya pertama kali mulai dikenal publik melalui pameran 'Fellow Indonesian Comic Artist' di Erasmus Huis, Jakarta (2005), Karta Pustaka di Yogyakarta (2005), pameran 'DI:Y' di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (2007), dan pameran 'Curhat Tita' di SPACE59 (Bandung, 2007).

Berbagai antologi karya di luar negeri telah memuat karya-karyanya. Antara lain dalam antologi 40075km Comics oleh l'Employe du Moi (Brussels, 2007), 24 Hour Comics Day Highlights 2006 oleh About Comics (USA, 2007), 24 Hour Comics Day Amsterdam oleh Lambiek (Amsterdam, 2007) dan Jogja 5,9SR oleh Aruskata (Jakarta, 2007). Anugerah Kosasih, pada 2007 dinominasikan untuk blog Tita yang memuat gambar-gambarnya dalam kategori Komik Cyber Terbaik.

Setelah Curhat Tita, Tita tengah mempersiapkan kisah-kisah spesifik untuk graphic diary berikutnya. Tita merencanakan agar komiknya bisa lebih runut dan bertema. Seperti, tentang sebuah kejadian yang sangat membekas dalam dirinya. ''Tapi, itu baru rencana awal. Mungkin realisasinya, bisa saja lain lagi. Kita tunggu saja deh,''tutur dia.

(mus )

27 comments:

  1. ah selamat lagi ya sepupu ! *hugs*

    ReplyDelete
  2. hihiyy.. lagi cari waktu nggambarnya nih..

    ReplyDelete
  3. kemarin sempet ke aksara citos, tapi kok gak ada ya? bukunya dijual di sana juga gak sih?

    ReplyDelete
  4. oh ya? mestinya sih ada di semua cabang aksara jakarta. sudah tanya di customer service-nya?

    ReplyDelete
  5. nah, itu dia. belum nanya ke customer service-nya hehe. lagipula kan biasanya ada di rak-rak depan. oks, nanti ke sana lagi deh buat nyari.

    ReplyDelete
  6. sambil aku tanyain ke penerbit ya, biar dia cek ke distributornya. makasiiih :)

    ReplyDelete
  7. ada.. aku baru beli di aksara citos.. tadi jam 7an malem..

    ReplyDelete
  8. Ternyata nama lengkap Dhanu dan Lindri njelimet juga ya. Hihihi

    ReplyDelete
  9. Wiiiiiiiiih, bangga banget berteman dengan ibu produktif satu ini! Salut :-)
    *peluk Mba Tita eraaaaaaaat2* :-p

    ReplyDelete
  10. gue selalu kagum sama proses ini... taktis, efektif, dan produktif dalam waktu2 yang biasanya dibuang orang..... salut abis Ta!

    ReplyDelete
  11. makanya salah eja. seharusnya prasidya dhanurendra, dan syastira lindri (sisanya bener).

    ReplyDelete
  12. aww Ma.. likewise, bangga juga punya teman dirimuuu.. *hugs*

    ReplyDelete
  13. seperti dirimu, aku juga perlu distraction ketika sedang ngerjain tugas serius :P
    trims mer, I learn a lot from you, too!

    ReplyDelete
  14. ntar kalo balik.. gue beli ah.. :D

    ReplyDelete
  15. pemilik nama Dwinia Larasati itu menceritakan

    =============

    tipikal indonesia.
    padahal di buku ada namanya jelas gitu
    masih aja salah.
    he he he
    kayak orang bikin ktp aja , eh kayak siapa itu yang di kantor imigrasi ya dur . salah tulis nama anakmu itu :-)

    ReplyDelete
  16. huhuhuu...belum beliiii ...T_T

    ReplyDelete
  17. Duh, publikasinya banyaaak! SElamat sekali lagi yaaaa! *hugs*

    ReplyDelete
  18. heuhh.. itu orang2 di bagian imigrasi dan kewarga-negaraan di kantor hukum dan HAM, bandung. tak becus.

    ReplyDelete
  19. Kalo mau nanya buku di Aksara PM gue aja...ntar gue bantu

    ReplyDelete