Wednesday, July 11, 2007

[Klipping] Sebuah Cerminan Wajah Zaman

Kompas 12 Juli 2007
http://kompas.com/kompas-cetak/0707/12/humaniora/3679344.htm

Sebuah Cerminan Wajah Zaman

Indira Permanasari dan Brigitta Isworo

Adalah Ardian, seorang penyanyi dan anggota sebuah band. Pemuda itu tengah menjalin hubungan secara diam-diam dengan Netty yang masih terhitung keluarga karena perkawinan saudara mereka.

Sampai suatu saat, Ardian melihat Netty bersama seorang pemuda lain yang bergaya perlente. Gadis itu kemudian mengaku bahwa pemuda itu tunangannya. Tunangan yang dipilihkan orangtuanya. Netty terpaksa menerimanya karena pria itu seorang sarjana.

"Ja, Dian! Bagaimana aku harus menolaknja! Dia… Dia… seorang sardjana… dan…,"kata Netty.

"Ja, karena dia seorang sardjana, kau segera menerimanja dan lantas melupakan aku, bukan,"balas Ardian.

Singkat cerita, digambarkan kisah asmara berakhir. Ardian yang patah hati lalu merantau ke Jakarta untuk berjuang menjadi penyanyi rekaman. Demikian juga Netty yang merasa bersalah pergi menjauh.

Cerita ditutup dengan ungkapan Ardian dalam hati, "Ja, Lebih baik begitu Netty! Akan kuperlihatkan padamu, Netty Aku Dapat Hidup Tanpa Kau… Setelah kau membelakangiku…."

Jangan salah sangka. Kisah di atas bukan cerita pendek fiksi. Bagi generasi MTV saat ini, tentu bacaan di atas yang masih menggunakan ejaan lama itu terasa asing. Ardian dan Netty memang diciptakan di zaman yang berbeda. Kedua tokoh tersebut merupakan ciptaan Jan Mintaraga dalam komiknya, Aku Dapat Hidup Tanpa Kau. Jan Mintaraga berkarya dengan komik roman sekitar tahun 1960-an dan kini koleksinya hanya dimiliki kolektor atau toko buku tertentu.

Ada masanya

Komik ada masanya, tidak cuma sekadar menghibur. Pada era Jan tersebut, dia menciptakan komik yang tidak sebatas bacaan remaja, tetapi merupakan sebuah ekspresi sosial lebih luas. Tak heran, lewat komik itu terbaca pula situasi sosial pada masa itu. Waktu komik itu dibuat, misalnya, gelar sarjana masih merupakan suatu hal yang hanya menjadi impian bagi banyak orang serta menandakan status sosial dan kemapanan. Dalam narasi komik itu juga diceritakan, di masa itu band-band sedang bertumbuhan.

Komik roman dengan latar sosial masa itu: Jakarta sebagai kota metropolitan bertaburan night club, si miskin dilarang menjalin hubungan cinta dengan si kaya bertaburan pada karya-karya komik ciptaan Zaldy, Sim, dan Jeffry—dengan ciri khas mengangkat judul dari judul lagu yang sedang terkenal di masanya.

Antara fiksi dalam komik dan kenyataan begitu tipis batasnya sehingga dirasakan begitu nyata oleh pembacanya. Sebut saja serial komik Jaka Sembung karya Djair Warni di pertengahan tahun 1960-an.

"Banyak orang mengira dia hidup dan nyata. Saya bertemu dengan seorang pemuda di sebuah pameran. Dia bercerita pernah bertapa di gua-gua mencari Jaka Sembung. Ada juga tulisan di sebuah majalah misteri soal Jaka Sembung. Kabarnya, seorang wartawan majalah itu bertapa di Gunung Sembung dan ketemu arwah Jaka Sembung. Wartawan itu mengaku diberi keris pusaka. Jaka Sembung itu fiksi, tapi akhirnya menjadi legenda, lalu menjadi mitos," ujarnya.

Djair lebih heran lagi ketika di sebuah seminar budayawan di Taman Ismail Marzuki tahun 1983 juga menganggap Jaka Sembung adalah tokoh cerita fiksi. Padahal, si Jaka Sembung itu hanya tokoh rekaan Djair yang asli Cirebon itu.

Kata Djair, nama Jaka Sembung berasal dari kata jaka yang berarti pemuda dalam bahasa Jawa atau Sunda. Sembung berasal dari Gunung Sembung. Jaka Sembung berhasil menumpas musuh di Gunung Sembung dan oleh pesantren setempat dia dianugerahi julukan Jaka Sembung. "Nama aslinya sebetulnya Parmin. Karena ia dari keraton alias darah biru, jadi namanya Parmin Sutawinata. Ceritanya si Jaka lahir tahun 1602, sama dengan berdirinya VOC, jadi seolah-olah dia dilahirkan untuk menentang VOC," ujar Djair.

Dia menerka banyak orang kecele karena Jaka Sembung memang dekat dengan keadaan di lingkungan sosial masyarakat. Jaka Sembung yang jago silat itu tidak digambarkan berlebihan seperti layaknya superhero atau jagoan lain yang tampil fantastis, seperti Panji Tengkorak atau Si Buta Dari Goa Hantu.

"Jaka itu orang biasa. Artinya, kalo dia ke masjid, ya pakai peci dan sarung. Kalau ke sawah pasti telanjang dada dan pakai topi bambu," ujar Djair yang tinggal di kawasan Matraman Dalam, di mana banyak terdapat mushala—kehidupan di sekitar rumah ibadah menjadi bagian dari irama hidupnya.

Peredaran jenis komik juga tak lepas dari selera zaman dan kondisi sosial saat itu. Komikus gaek yang terkenal lewat karyanya, Sri Asih, Mahabharata, Siti Gahara, dan Ramayana, RA Kosasih, mengatakan, yang mendorong diciptakannya komik-komik wayang bukan selera pribadi. "Itu permintaan dari Penerbit Melodi karena pasarnya kuat. Pada masa itu setiap ada hajatan nanggap-nya pasti wayang. Anak muda juga suka wayang. Apalagi di daerah saya di Bogor, pada suka wayang golek. Sepinya wayang sekitar tahun 1960-an diganti dangdut dan band. Setelah itu, dari wayang terus berganti komik roman," ujar Kosasih.

Penelitian

Marcel Bonneff lewat penelitiannya yang terbit sebagai buku Komik Indonesia mengamini hal itu. Kisah roman remaja, misalnya, banyak mengolah drama kehidupan dan membawa pembaca ke alam mimpi. Kisahnya merupakan cerminan problematika kehidupan sehari-sehari. Tema yang dominan biasanya anak muda dengan latar kota, terutama Kota Jakarta yang kerap diartikan sebagai lambang kemajuan.

Orang datang untuk mencari pekerjaan dan belajar. Seperti kisah Jan Mintaraga di atas, Ardian dan Nety digambarkan pergi ke Jakarta.

Lain lagi dengan cerita silat. Silat diibaratkan "kesusastraan" untuk orang-orang tertindas. Kisahnya penuh sindiran politis dan perlawanan terhadap penguasa. Untuk cerita silat, dituliskan Bonneff, komikus biasanya merangkum berbagai kondisi yang mempermudah para pembaca mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh cerita.

Lingkungan dan karakter si jagoan terkadang dibangun dengan penelitian cermat agar dapat menyapa pembaca sedekat mungkin. Tak heran jika kemudian ada generasi yang tumbuh di era komik-komik tersebut merasa bahwa identifikasi dirinya tercermin dalam tokoh-tokoh tersebut sehingga mereka menjadi pembaca yang setia.

Komikus Gerdi WK, si pencipta tokoh pahlawan super, Gina, misalnya, mengatakan, penggemar-penggemar yang sudah dewasa ada yang setia bersilaturahmi dengannya. "Anak remaja pada umumnya membutuhkan tokoh idaman yang bisa membangkitkan imajinasi mereka. Penggemar komik saya kebanyakan perempuan. Barangkali karena mereka ingin mengidentifikasikan diri mereka seperti pahlawan super itu, mempunyai kekuatan melawan penindasan dan kejahatan," ujarnya.

Dengan kesadaran itu pula, Gerdi selalu berusaha membawa pesan kebaikan dalam komiknya itu. "Saya kira minimal membawa pesan bahwa dunia kejahatan tetap pada akhirnya harus takluk pada kebaikan," ujarnya.


No comments:

Post a Comment