Showing posts with label campbell. Show all posts
Showing posts with label campbell. Show all posts

Thursday, September 4, 2008

Monsieur Leotard

It finally arrived! (thanks to saturdaypeople)
I've browsed a bit and stopped after ten seconds for I didn't want to spoil my surprises before really reading it thoroughly. I hope I could spend this weekend enjoying this book. All pages are fully painted and (seems like) no page is identical in forms and contents.
Happy happy joy joy!

Now please excuse me while I'm zooming out to take kids (and myself) to school...

Tuesday, April 3, 2007

From Hell

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Comics & Graphic Novels
Author:Alan Moore - Eddie Campbell
Peringatan: resensi ini mengandung spoiler

Akhirnya terbaca habis juga buku ini oleh saya. Apa yang tadinya menghambat saya utk membaca buku ini? Format paperback-nya yg cukup tebal (dengan sendirinya ada konsekuensi ke harga) membuat saya mengundur2 membelinya. Ketika akhirnya mendapatkannya sebagai hadiah kelulusan, saya tidak bisa segera membacanya karena buku ini harus segera dipak dan dikarduskan utk dikirim ke Indonesia. Baru setelah sekitar 5 minggu perjalanannya mencapai Bandung, tibalah buku ini kembali ke tangan saya. Setelah itu, saya menghabiskan waktu berhari2 utk selesai membacanya, termasuk membaca ulang utk lebih memahami isinya.

Sebagian besar dari kita tentu pernah mendengar seorang tokoh yg dijuluki Jack the Ripper. Saya sendiri pertama kali mendengar tentangnya (dan melihat rekonstruksi perbuatannya) ketika berkunjung ke Museum Madame Tussaud di London, jauh sebelum membaca From Hell. Ngeri! Bayangan saya ketika itu, Jack the Ripper hanyalah seorang bergangguan jiwa yang menyasarkan kesadisannya pada sembarang pelacur di London pada akhir abad-19. Tidak lebih. Tapi ternyata ada hal2 yg lebih kompleks di balik semua itu: sebuah pembunuhan berseri yang terencana rapih, dilakukan dengan konsep yang rumit, dan dilaksanakan atas kehendak Penguasa Agung saat itu. Pelacur yg terbunuh adalah mereka yg benar2 terpilih; lokasi pembuangan jenazah mereka pun tidak sembarangan, melainkan diperhitungkan dengan cermat. From Hell menyajikan semua ini dengan sangat menarik; sarat detail grafis tanpa menjadi vulgar atau merendahkan nilai2 kemanusiaan.

**********************************************************
Kisah berawal dari perkenalan Albert dengan Anne Crook, seorang penjaga toko permen dan manisan, oleh Walter Sickert, seorang pelukis muda tetangga Anne. Hubungan rekat antara Albert dan Anne membuahkan seorang bayi perempuan (Alice), sehingga kemudian mereka menikah secara diam2 atas kehendak Anne. Namun Anne tidak tahu bahwa Albert sebenarnya adalah seorang pangeran, cucu dari Ratu Victoria dengan gelar Prince of Wales (pewaris kerajaan Inggris!), sehingga tentu saja mereka tidak akan mungkin hidup bersama sebagai keluarga.

Selang beberapa tahun, hal ini diketahui juga oleh Sang Ratu. Atas titahnya, Albert ditarik kembali ke dalam pingitan lingkungan kerajaan, sementara Anne dinyatakan mengalami gangguan jiwa dan dimasukkan ke asylum perempuan di Guy's Hospital. Alice yg ketika itu masih balita dibawa oleh Mary Kelly (seorang teman Anne yg berprofesi sebagai pelacur), ke Walter yang dulu memperkenalkan Albert dengan Anne. Walter kemudian menyerahkan Alice dalam pengasuhan orang tua Anne.

Berpuluh tahun sebelum kejadian ini, seorang laki2 muda bernama William Withey Gull dengan gemilang berhasil menamatkan studinya di bidang medis. Ia mengambil spesialisasi bedah, dan telah membuktikan dirinya unggul di banding rekan2nya. Prestasinya ini telah menarik perhatian sebuah perkumpulan ‘brotherhood’ Freemason yang kemudian mengangkatnya menjadi anggota. Dengan segera karirnya menanjak; ia memperoleh gelar kebangsawanan dan menjadi penasehat medis utama Sang Ratu, sehingga dengan mudah ia dapat menerima perintah2 Ratu secara langsung.

Kembali ke masa terpisahnya Albert, Anne, dan Alice. Mary Kelly, si pelacur yang sempat mengasuh Alice sepeninggalan Anne, diperlihatkan berkumpul bersama rekan2 seprofesinya: 'Big' Liz, Annie Chapman dan Polly, di bar langganan mereka. Ternyata mereka mendapat ancaman dari sebuah gerombolan (‘The Old Nichol Mob’) yg bereputasi telah menyiksa dan membunuh pelacur yang tidak menyetorkan sejumlah uang pada mereka. Dalam desakan keuangan dan ancaman maut, Mary mengusulkan jalan keluar untuk mereka berempat dengan cara memeras keluarga kerajaan melalui Walter Sickert. Ia menuliskan surat yg meminta uang sejumlah 10 Poundsterling; bila tidak dipenuhi, ia akan menyebarkan berita ttg si royal baby pada publik. Surat ini berpindah tangan dari Walter, ke ibunda Albert, dan akhirnya jatuh ke tangan Sri Ratu.

Tentu saja rahasia ttg bayi ini harus dijaga ketat demi nama baik keluarga kerajaan. Ratu Victoria segera memanggil Sir William Gull untuk menyelesaikan masalah ini dengan segera, dan dengan semestinya. Nah, di sini lah konsep pelaksanaan titah Sang Ratu mulai dimatangkan oleh Gull. Menurutnya, pembungkaman para pelacur ini tidaklah cukup dengan pembunuhan biasa, namun harus dilaksanakan sebenar2nya dengan tata cara yg dianut Freemasons. Mulailah terjadi pembunuhan - yang disertai mutilasi - terhadap Mary Kelly dan rekan2nya, satu demi satu.

Seorang inspektur polisi, Fred Abberline, ditugaskan untuk mengusut perkara segera setelah pembunuhan pertama berlangsung. Selanjutnya, pembaca dibimbing untuk mengikuti proses pengusutan Abberline yg sepertinya sia2 saja, karena bila penemuannya berjalan ke arah yg benar, pasti akan ditutup2i atau dialihkan ke hal lain oleh atasannya yg sebenarnya adalah juga anggota Freemasons. Abberline menjadi sangat frustrasi karenanya. Pembunuhan berantai ini tentu menimbulkan sensasi besar di kalangan masyarakat London masa itu. Lebih dari itu, sekelompok pembuat berita yg makin ingin menaikkan penjualannya bahkan mengirimkan surat pada polisi - seolah2 dari sang pembunuh - dengan tanda tangan "Jack the Ripper", yg mempopulerkan julukan tsb. Ternyata tidak hanya si pembuat berita yg mengirimkan surat demikian – setelah julukan tsb dikenal masyarakat luas, polisi menerima banyak lagi surat dari ‘Jack the Ripper’ yg sebenarnya dibuat oleh orang2 iseng yg senang dengan sensasi ini. Bagaimana tanggapan Gull ?
Ia mengirimkan surat juga pada polisi, disertai sepotong organ tubuh dari korban terakhirnya. Dan, karena ia tahu bahwa tidak ada lagi jalan kembali baginya, ia menanda-tangani suratnya dengan keberadaannya sekarang, “From Hell”.

Setelah pembunuhan terakhir terjadi, Robert Lees, penasehat psikis Sang Ratu (yang tidak menyukai Gull) mendatangi Abberline secara diam2 dan mengaku mendapat 'penglihatan' bahwa ia mengetahui siapa si Jack the Ripper sebenarnya. Lees kemudian menunjuk Gull sebagai si Jack sebenarnya, dan ketika Abberline bertanya langsung pada yg bersangkutan, Sir William Gull tidak membantah hal tsb. Dengan segera para Freemasons melancarkan pembungkaman Gull: mereka mendeklarasikan wafatnya Sir William Gull, lengkap dengan sebuah 'upacara penguburan’ bagi masyarakat umum. Sementara Gull sendiri diungsikan ke sebuah rumah sakit jiwa dan akhirnya meninggal di sana. Abberline dan Lees diberi dua pilihan: menutup mulut mengenai hal ini sambil mendapatkan pensiun yg besar, atau mengungkap hal ini pada publik dan mati. Mereka memilih yang pertama. Dengan demikian, hingga kini, misteri Jack the Ripper tak terpecahkan di mata publik.
**********************************************************

Apa hebatnya cerita ini? Segala komplikasi rumit dari kisah ini ditulis dengan sangat baik! Bahkan di akhir cerita terdapat appendix di mana Moore berpanjang-lebar menjelaskan peristiwa2 yg terjadi pada panel2 gambar, dilengkapi referensi faktual yg mendasari adegan2 tsb.
Latar belakang dan detail yg menggambarkan London di akhir abad ke-19 juga divisualkan dengan sangat baik. Keadaan gedung2 dan bangunan, arsitektur dan interior (rumah berbagai kalangan, rumah sakit, bar, dsb), kendaraan, busana yg dikenakan – seluruhnya memberi bayangan yang jelas akan suasana saat itu.

Moore dengan sangat lihai menampilkan keunikan plotnya. Antara lain, fenomena bahwa makin banyak pengabdian Gull menjalankan ritual Freemasonry-nya (melalui pembunuhan2 tsb), makin ia diberi kemampuan penglihatan2 ke masa depan. Ia tiba2 melongok ke dalam sebuah jendela rumah modern ketika hendak membunuh korban ketiganya, atau mendadak menemukan dirinya di tengah2 ruang perkantoran abad ke-20 ketika sedang menggarap korban terakhirnya.

Namun dari seluruh plot ini, skenario terbesar adalah ketika Gull baru mendapatkan amanat Sri Ratu untuk menghabisi para pelacur tsb. Bersama Netley, seorang kusir yg mendampingi aksi2nya, ia mengelilingi kota London dengan tujuan titik2 tertentu berdasarkan sejarah masonry dan tokoh2 yg terlibat, Gull bercerita pada Netley bagaimana kuasa dan nilai2 sakral wanita sejak jaman purba diredam dengan paksa oleh kaum pria, di mana simbol2 dan peristiwa masa lampau yg menandai pertentangan tsb dikukuhkan oleh monumen2 yang masih berdiri hingga sekarang. Di akhir perjalanan ini, Gull meminta Netley menghubungkan titik2 rute perjalanan mereka secara berurutan pada selembar peta London. Sejarah kelam tersebut ternyata membentuk sebuah pentagram yang membujur luas di permukaan London. Dalam komposisi magis inilah Gull bertekad melaksanakan ‘tugas suci’nya.
Masih banyak lagi detail yang diselipkan oleh Moore dan Campbell dalam kisah ini. Bagaimanakah akhir hidup Gull dan kemampuan2 penglihatan di akhir hayatnya? Apa yang terjadi dengan Alice? Apakah hubungan kisah ini dengan teori ‘dimensi keempat’, si ‘manusia gajah’, dan para pujangga kondang Inggris pada abad ke-19? Silakan nikmati sendiri kisah menegangkan yang tak lekang waktu ini; masih banyak kejutan2 lain dalam bukunya. Mungkin, setelah membaca kisah ini, berjalan2 di sela2 kota London tidak akan pernah sama seperti sebelumnya.


PS. Novel grafis ini telah diangkat menjadi sebuah film layar lebar dengan judul yang sama. Johnny Depp sebagai tokoh utamanya memerankan Inspektur Abberline. Info: http://www.fromhellmovie.com/


From Hell
Alan Moore, Eddie Campbell
Publisher: Top Shelf Productions; New Ed edition (February 25, 2004)
Paperback: 560 pages
ISBN-10: 0958578346
ISBN-13: 978-0958578349

Sunday, December 31, 2006

The Right to Not Read






"By making time to read, like making time to love,
we expand our time for living"

- Pennac

A nice thought to enter 2007. Not that we (I and most of you, my contacts whom I know in person) need encouragement to read, but here's a nice review in the Guardian for a book about the right to not read: Josh Lacey on Daniel Pennac's The Rights of the Reader. From that site, you can download this poster of Pennac's manifesto: the 10 rights that should be granted to all readers (it's full of Quentin Blake's drawings, people! Of course I couldn't resist :D)


Photobucket - Video and Image Hosting
(click to enlarge)

Thanks to the blog of Eddie Campbell, which directed me to this site.








Monday, June 5, 2006

The Fate of The Artist

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Comics & Graphic Novels
Author:Eddie Campbell
Sang seniman, bernama Eddie Campbell, tiba-tiba merasa muak pada karya-karyanya, dirinya sendiri, dan para penggemarnya. Sehingga pada suatu hari ia menghilang begitu saja. Seorang detektif yg bertugas menyelidiki hilangnya sang seniman memulai pencariannya di kediaman Campbell dengan mewawancarai istri dan anak perempuan Campbell yg tertua, Hayley. Demikianlah buku ini dimulai, berbentuk prosa yang dituturkan oleh si detektif; ditampilkan dalam teks yang diselingi ilustrasi kecil di sana-sini.

Photobucket - Video and Image Hosting

Narasi si detektif ini merupakan alur utama kisah dalam buku ini. Sebagai selingannya, terdapat kisah2 pendamping dan beberapa kilas balik, yang ditampilkan dalam berbagai bentuk: bentuk pertama adalah berupa panel2 gambar bersekuel (komik). Dalam panel2 komik ini, Eddie Campbell 'diperankan' oleh seorang aktor bernama Richard Siegrist. Bentuk kedua merupakan sebuah wawancara terpisah dengan Hayley (interviewer: unknown) ditampilkan dalam bentuk urut2an montage foto Hayley di sebuah café; ucapan2 Hayley berupa balon kata2 yg ditik rapih. Dalam wawancara ini Hayley menceritakan proses unik ayahnya dalam berkreasi dan berkehidupan sehari2. Bentuk ketiga adalah (seolah2) guntingan komikstrip pendek (2-3 panel) dari surat kabar: seri Honeybee yg menampilkan suka-duka sepasang suami-istri (kombinasi dumb husband/snarky wife), seri Angry Cook yg bertokoh utama Hayley (yg selalu gusar saat menyiapkan makanan/minuman), dan cuplikan2 komikstrip lepas lain - termasuk strip bertema metanarasi, misalkan saat Siegrist diberi pengarahan saat memerankan Campbell di depan kamera. Untuk meyakinkan bahwa benar2 dari guntingan surat kabar tua, strip2 pendek tsb disajikan di atas warna kertas yg kekuningan, disertai potongan artikel dan sebagian kotak2 TTS. Tidak hanya itu, strip ini pun berkembang dari bentuk pendek (2-3 panel, hitam putih) hingga menjadi "Sunday page" (satu halaman penuh, berwarna), dan sempat mengajak para pembaca koran bereaksi supaya komik dapat dipertahankan terbit. Di akhir buku, terdapat sebuah komik 'ekstra' berjudul The confessions of a humorist, dengan tokoh utama.. Eddie Campbell sendiri(!).

Photobucket - Video and Image Hosting
Photobucket - Video and Image Hosting

Sangat menyenangkan bahwa berbagai bentuk bercerita tersebut berhasil disusun menjadi cerita yang enak diikuti. Lebih dari itu, isi ceritanya sendiri sangat menarik. Bukan saja karena narasi fiktif Campbell tentang ke(tidak)beradaan dirinya, tapi juga karena pembaca diberi kesempatan melihat kebiasaan hidupnya sehari-hari, terutama yg berkenaan dengan proses berkarya dan keunikan sifatnya.
Beberapa hal yg menonjol antara lain adalah kebiasaan Campbell untuk menyebarkan kertas gambarnya di sekujur rumah. Ini sengaja dilakukannya utk memperoleh efek 'kejutan' setiap kali ia menjumpai gambarnya dari arah yg berbeda. Yang menjadi masalah adalah, seluruh anggota keluarganya (termasuk anjing dan kucing2 peliharaan) juga setiap saat 'terbentur' pada sebaran gambar2 tersebut. Sehingga nasib sketsa2 tsb bermacam2, hingga ada yg berakhir menjadi bahan lelang di eBay. Ada lagi sifat Campbell yg menonjol, yaitu kecerobohan sekaligus pemarahnya. Campbell mudah meninggalkan barang2 kecil (seperti kunci, dompet) dan mudah pula mengumpat karena geramnya akan hal tsb. Menurut Hayley, anak2 tetangga selalu menunggu2 saat Campbell pergi belanja ke supermarket, karena di jalan ia bisa tiba2 mengumpat, berlari ke rumah (utk mengambil barang yg tertinggal), lalu kembali ke jalan.. dan mengulangi kejadian yg sama, bisa hingga 3-4 kali.
Kejadian serupa diperankan juga oleh 'Richard Siegrist' (sebagai Eddie Campbell, dalam bentuk komik) saat meninggalkan paspornya di rumah, dan baru sadar ketika sudah tiba di bandara. Betapa perjalanan kembalinya ke rumah, mencoba masuk lewat jendela belakang, menyapa anjing dan kucing2nya dengan terburu2, bahkan sempat mengecek koleksi CD-nya, merupakan kekesalan tersendiri.. sehingga di halaman berikutnya terdapat sketsa (seperti gambar anak2): tangan besar yg keluar dari awan, melempar sebuah pesawat terbang sehingga jatuh ke laut.

Photobucket - Video and Image Hosting

Campbell juga dikenal sebagai tukang mengatur. Yang menurutnya seharusnya demikian, diubahnya sesuai dengan maunya sendiri. Misalkan pendapatnya tentang penempatan cover/buku CD dalam wadah CD, yg menurutnya adalah terbalik, sebab buku CD tsb mudah rusak bila dipaksakan masuk ke wadahnya. Jadi ia balik posisi semua cover CD koleksinya. Tidak berhenti sampai situ, setiap bepergian jauh dari rumah, yg ia kuatirkan adalah ada orang yg merambah koleksi CD-nya dan kembali menempatkan buku2 CD-nya secara "terbalik".
Ia pun suka 'mengoreksi' isi buku ensiklopedia. Istrinya bercerita bahwa Campbell telah merombak sebuah buku ensiklopedia ttg kesehatan: bila menurutnya suatu jenis penyakit tidak seharusnya berada di halaman sekian, akan ia gunting bagian ttg itu, utk dibuang atau digantikan dengan yang "lebih tepat".

Photobucket - Video and Image Hosting

Di bagian wawancara dengan Hayley, disinggung lagi persoalan pendefinisian Graphic Novel. Adalah merupakan masalah besar bagi Campbell bila seseorang mengkategorikan komik sebagai, misalkan, urut2an beberapa gambar ('Bloody definers,' he'd say). Untuk menyatakan sikapnya, ia akan sengaja membuat komik hanya dengan SATU gambar. Atau membuat "graphic novel"-nya berupa dominasi teks yg diselingi hanya beberapa ilustrasi. 'It's all just illustrated stories.' he'd say, 'And an illustration is just a typographical anomaly.' He detested the way they have to categorize everything.
Photobucket - Video and Image Hosting

Menjelang akhir cerita, Campbell telah berhasil ditemukan. Campbell (diperankan oleh Siegrist) dikisahkan telah menemukan arti semesta, hasil dari percakapannya dengan Tuhan (Hayley: By God I mean a sort of methaporical god. [...] And if anybody said 'Jeezis' he'd go 'No: Eddie Campbell. Jeezis is the one with the sandals.') Episode terakhir adalah "The confessions of a humorist" yg diperankan sendiri oleh Eddie Campbell. Tumben, sebab biasanya ia menciptakan tokoh yg memerankan dirinya, seperti Richard Siegriest di buku ini, atau Alec MacGarry di seri Alec, yg sebenarnya menceritakan ttg dirinya.

Photobucket - Video and Image Hosting

The Fate of The Artist ini bisa dibilang sebagai karya autobiografi Campbell yang terbaik. Berbeda dengan seri Alec yang hitam-putih, buku ini menampilkan lebih banyak warna dan campuran teknik, dari pewarnaan manual, hingga kolase foto dan ilustrasi yg tersusun secara harmonis dengan teks. Melalui buku ini pula pembaca bisa mengenal Campbell tidak hanya sebagai seniman dan komikus ("A. Humorist" - yg adalah tanda tangan pembuat komikstrip Honeybee), tapi juga sebagai kepala keluarga. Dari buku ini pula pembaca bisa mendapat lebih banyak lagi kesan tentang seorang Eddie Campbell. Ia mungkin berada di mana dirinya sekarang berada, berkat attitude-nya yang unik tsb, yang sebenarnya tidak membuat hidupnya lebih mudah, dan tidak jarang pula merepotkan orang2 terdekatnya.


Sebuah wawancara dengan Eddie Campbell, yg dijawabnya dengan sketsa berwarna: http://www.powells.com/ink/campbell.html

Photobucket - Video and Image Hosting

Blog Eddie Campbell (atau, tempat di mana ia kadang2 menulis atau memasukkan sketsa2nya): http://firstsecondbooks.typepad.com/mainblog/eddie_campbell_guest_blogger/index.html

The Fate of The Artist
Hardcover 96 pages (May 2, 2006)
Publisher: First Second
ISBN: 1596431717

Paperback 192 pages (May 2, 2006)
Publisher: Roaring Brook P. (an imprint of Millbrook P. Inc)
ISBN: 1596431334

Photobucket - Video and Image Hosting

Thursday, February 16, 2006

A Disease of Language

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Comics & Graphic Novels
Author:Alan Moore & Eddie Campbell
Bila hanya melihat sampul depan buku ini, orang akan mengira bahwa ini adalah buku popular science: bagian atas berwarna merah gelap (deep red), dengan samar2 gambar bayi di sudutnya, bagian tengah sebuah bidang putih bertuliskan judul, dan bagian bawah merupakan detail motif sisik ular dengan warna merah gelap - kehijauan.
Namun A Disease of Language berisikan karya Alan Moore dalam kolaborasinya dengan Eddie Campbell, yg menampilkan:
Birth Caul – Birth Caul, sebuah talisman masa kanak2, pertama kali dipentaskan secara monolog oleh Alan Moore di Old County Court di Newcastle-upon-Tyne pada 18 November 1995. Campbell menawarkan diri utk menggrafiskan monolog ini, karena ia merasa mempunyai hubungan erat dengan isi kisah ini.
Snakes and Ladders – sebuah naskah yg dikirimkan Moore utk Campbell tak lama setelah penggarapan Birth Caul, yg pada intinya bernuansa sensual.
Wawancara dengan Alan Moore oleh Eddie Campbell – berisi konsep dan pemikiran2 mendalam seorang Alan Moore dalam hal pencitraan tulisan2nya.
Gambar2 awal untuk Snakes and Ladders – kumpulan sketsa awal dari adegan2 tarian dalam Snakes and Ladders, yg diakui Campbell sebagai koleksi langka, sebab ia yg sangat jarang menyimpan oretan2 awalnya, sangat terpesona akan sketsa2 tsb sehingga merasa wajib mengabadikannya dengan menerbitkannya dalam buku ini.

Birth caul, atau selaput yg membungkus kepala bayi saat ia dilahirkan, adalah sesuatu yg sangat jarang terdapat pada kelahiran bayi. Terdapat banyak mitos mengenai selaput ini, sehingga ia banyak disimpan sebagai talisman atau jimat demi keselamatan seseorang.
Dalam Birth Caul, Moore menuturkan kilas balik, atau refleksi dirinya, dari masa dewasa menuju ke masa kanak2nya. Di batasan setiap masa, Moore menampilkan berbagai makna dari birth caul itu sendiri. Campbell dengan sangat tepat, indah sekaligus mencekam, berhasil menggambarkan refleksi diri ini dari masa dewasa, hingga masa muda, menuju ke masa kanak2, hingga akhirnya kembali menjadi bayi, menjadi janin, menjadi bakal sperma, hingga menjadi ketiadaan.

Gabungan kata2 dan gambar ini tidak dapat dibaca hanya sekali saja.Banyak hal2 yg dapat membuat kita ikut merefleksi diri terhadap makna pertumbuhan dari kecil hingga dewasa, dan bagaimana kita terbentuk menjadi manusia sekarang karena bekal kata2 dan berbagai jenis bahasa yg melingkupi kita sejak bayi – bahkan sejak di dalam kandungan, atau sebelum semuanya ada.


=====akan dilanjutkan bila seluruh isi buku telah terbaca=====


A Disease of Language
Hardcover 160 pages (February 2, 2006)
Publisher: Knockabout Comics
ISBN: 0861661532

Sunday, September 18, 2005

Tentang 'Graphic Novel' (Eddie Campbell's revised manifesto)





Hari ini, dari jurnal Neil Gaiman, ada link ke wawancara dengan Eddie Campbell (yg bersama Alan Moore membuat From Hell). Salah satu hal yang menarik dari wawancara adalah definisi Campbell mengenai istilah graphic novel, yg kesepuluh manifestonya dijabarkan di situs yang sama (saya kopi di bawah ini).

Membaca point2 manifesto itu benar2 mengingatkan pada beberapa posting di sebuah milis komunitas komik. Salah satunya, seseorang berujar, "Saya sedang membuat komik nih. Harus berapa halaman ya supaya bisa jadi graphic novel?"
Ah. Apakah benar panjang-pendeknya sebuah kisah bergambar menentukan 'pangkat'nya sebagai graphic novel atau bukan? Bagaimana bila dipaksa2 menjadi panjang, tapi cerita jadi bertele2, hingga membosankan? Lihat A Contract with God-nya Will Eisner, toh itu kumpulan cerita2 pendek? Atau dipaksa2 dipepet2 seirit mungkin, hingga banyak penggalan cerita yang hilang? Andaikan seri Sandman-nya Neil Gaiman dipaksakan hanya jadi 5 buku, apakah bisa dinikmati?
Jumlah halaman tidak bisa dijadikan patokan. Menurut point kedua, hal ini dapat mengakibatkan orang berpikir bahwa graphic novel hanyalah bentuk ilustrasi dari literatur biasa, padahal para pembuatnya memiliki cita2 lebih, yaitu membentuk karya rupa yg tidak terikat baik oleh aturan2 yang sudah ada, maupun yang baru.

Graphic novel mengambil bentuk dasar dari komik (yang dianggap memalukan), dan mengangkatnya ke tingkat yang lebih berambisi dan bermakna. Hal ini mengakibatkan berubahnya dimensi fisik si buku, hingga mungkin hasil akhirnya tidak lagi menyerupai 'buku komik'. Hal ini tidak menjadi soal. Yang patut dipertanyakan hanyalah, apakah hasil akhirnya menyumbangkan sesuatu ke pemikiran2 manusiawi.
Hal ini mengingatkan saya akan kata2 Will Eisner mengenai membuat komik, "Yang penting adalah, ada sesuatu yang hendak kau sampaikan". 'Sesuatu yg hendak disampaikan' di sini tidak hanya terbatas sebagai 'pesan moral' seperti yg kita dapat di akhir dongeng anak2, namun apa pun curahan hati, ide dan pikiran si pembuat komik. Ya, tanpa itu, komiknya hanya akan 'kosong' saja, tak berisi apa2 selain urutan gambar2 dan adegan2 aksi.

Salah satu point Campbell juga menyatakan bahwa para pembuat graphic novel tidak akan menyebut karya mereka sendiri sebagai "graphic novel" di antara rekan2nya. Istilah tersebut hanyalah dipakai utk, misalkan, mendefinisikan penempatan buku2 tsb pada rak di toko-toko buku yang belum akrab dengan bentuk/isi buku tsb. Membaca bagian ini, sempat membuat saya tersenyum sendiri, terutama pada kalimat penutupnya: "Furthermore, graphic novelists are well aware that the next wave of cartoonists will choose to work in the smallest possible forms and will ridicule us all for our pomposity".
Benar, bahwa kita mestinya harus kritis terhadap karya sendiri dan tidak cepat puas dengan menyebutnya "graphic novel" dengan berbangga hati. Biarlah para pembaca yang menilai, mengapresiasi dan menentukan hal tersebut. Memberi label pada karya sendiri sering berakibat pembatasan diri, atau penentuan (tingginya) standar yang bisa2 menghalang proses berkreasi. Sekali lagi, menurut saya, berkarya dan berkaryalah terus - bahwa karya2 tsb diterima sebagai bentuk seni berkualitas atau bukan, akan dibuktikan oleh apresiasi masyarakat.

Sebagai penutup entry kali ini, saya kutipkan salah satu kutipan dari wawancara tsb, mengenai konsep "komik":
"I have felt that the concept of what comics is gets narrower as we go along. Each writer on the subject who defines comics wants to exclude something. McCloud excludes the single panel so Family Circus and Far Side are out. Blackbeard says there must be word balloons so Prince Valiant is out. Harvey says there has to be a visual-verbal balance. Somebody else says there must be no redundancy of information with words and pictures repeating each other. This is crap. Pictures have illustrated words and words have explained pictures since the beginning of time. Somebody reads a dull comic and extrapolates rules from it. Who do they think they are? There are all these people trying to be the rule-makers and the end result is bad for the art of Comics. Fuck 'em all, that's what I say."

Berikut ini adalah kopian dari manifesto Campbell, dan link menuju ke situs wawancara selengkapnya: excerpt from In Depth: The Eddie Campbell Interview by Milo George

Eddie Campbell's (Revised) Graphic Novel Manifesto

There is so much disagreement (among ourselves) and misunderstanding (on the part of the public) around the subject of the graphic novel that it's high time a set of principles were laid down.

1. "Graphic novel" is a disagreeable term, but we will use it anyway on the understanding that graphic does not mean anything to do with graphics and that novel does not mean anything to do with novels. (In the same way that "Impressionism" is not really an applicable term; in fact it was first used as an insult and then adopted in a spirit of defiance.)

2. Since we are not in any way referring to the traditional literary novel, we do not hold that the graphic novel should be of the supposed same dimensions or physical weight. Thus subsidiary terms such as "novella" and "novelette" are of no use here and will only serve to confuse onlookers as to our goal (see below), causing them to think we are creating an illustrated version of standard literature when in fact we have bigger fish to fry; that is, we are forging a whole new art which will not be bound by the arbitrary rules of an old one.

3. "Graphic novel" signifies a movement rather than a form. Thus we may refer to "antecedents" of the graphic novel, such as Lynd Ward's woodcut novels but we are not interested in applying the name retroactively.

4. While the graphic novelist regards his various antecedents as geniuses and prophets without whose work he could not have envisioned his own, he does not want to be obliged to stand in line behind William Hogarth's Rake's Progress every time he obtains a piece of publicity for himself or the art in general.

5. Since the term signifies a movement, or an ongoing event, rather than a form, there is nothing to be gained by defining it or "measuring" it. It is approximately thirty years old, though the concept and name had been bandied about for at least ten years earlier. As it is still growing it will in all probability have changed its nature by this time next year.

6. The goal of the graphic novelist is to take the form of the comic book, which has become an embarrassment, and raise it to a more ambitious and meaningful level. This normally involves expanding its size, but we should avoid getting into arguments about permissible size. If an artist offers a set of short stories as his new graphic novel, (as Eisner did with A Contract with God) we should not descend to quibbling. We should only ask whether his new graphic novel is a good or bad set of short stories. If he or she uses characters that appear in another place, such as Jimmy Corrigan's various appearances outside of the core book, or Gilbert Hernandez' etc. or even characters that we do not want to allow into our "secret society," we shall not dismiss them on this account. If his book no longer looks anything like comic books we should not quibble as to that either. We should only ask whether it increases the sum total of human wisdom.

7. The term graphic novel shall not be taken to indicate a trade format (such as "trade paperback" or "hardcover" or "prestige format"). It can be in unpublished manuscript form, or serialized in parts. The important thing is the intent, even if the intent arrives after the original publication.

8. The graphic novelists' subject is all of existence, including their own life. He or she disdains "genre fiction" and all its ugly clichés, though they try to keep an open mind. They are particularly resentful of the notion, still prevalent in many places, and not without reason, that the comic book is a sub-genre of science fiction or heroic fantasy.

9. Graphic novelists would never think of using the term graphic novel when speaking among their fellows. They would normally just refer to their "latest book" or their "work in progress" or "that old potboiler" or even "comic" etc. The term is to be used as an emblem or an old flag that is brought out for the call to battle or when mumbling an enquiry as to the location of a certain section in an unfamiliar bookstore. Publishers may use the term over and over until it means even less than the nothing it means already.

Furthermore, graphic novelists are well aware that the next wave of cartoonists will choose to work in the smallest possible forms and will ridicule us all for our pomposity.

10. The graphic novelist reserves the right to deny any or all of the above if it means a quick sale.


Picture: Detail from The Fate of The Artist (C)2004 Eddie Campbell