
| Rating: | ★★★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Comics & Graphic Novels |
| Author: | Alan Moore - Eddie Campbell |
Peringatan: resensi ini mengandung spoiler
Akhirnya terbaca habis juga buku ini oleh saya. Apa yang tadinya menghambat saya utk membaca buku ini? Format
paperback-nya yg cukup tebal (dengan sendirinya ada konsekuensi ke harga) membuat saya mengundur2 membelinya. Ketika akhirnya mendapatkannya sebagai hadiah kelulusan, saya tidak bisa segera membacanya karena buku ini harus segera dipak dan dikarduskan utk dikirim ke Indonesia. Baru setelah sekitar 5 minggu perjalanannya mencapai Bandung, tibalah buku ini kembali ke tangan saya. Setelah itu, saya menghabiskan waktu berhari2 utk selesai membacanya, termasuk membaca ulang utk lebih memahami isinya.
Sebagian besar dari kita tentu pernah mendengar seorang tokoh yg dijuluki
Jack the Ripper. Saya sendiri pertama kali mendengar tentangnya (dan melihat rekonstruksi perbuatannya) ketika berkunjung ke Museum
Madame Tussaud di London, jauh sebelum membaca
From Hell. Ngeri! Bayangan saya ketika itu,
Jack the Ripper hanyalah seorang bergangguan jiwa yang menyasarkan kesadisannya pada sembarang pelacur di London pada akhir abad-19. Tidak lebih. Tapi ternyata ada hal2 yg lebih kompleks di balik semua itu: sebuah pembunuhan berseri yang terencana rapih, dilakukan dengan konsep yang rumit, dan dilaksanakan atas kehendak Penguasa Agung saat itu. Pelacur yg terbunuh adalah mereka yg benar2 terpilih; lokasi pembuangan jenazah mereka pun tidak sembarangan, melainkan diperhitungkan dengan cermat.
From Hell menyajikan semua ini dengan sangat menarik; sarat detail grafis tanpa menjadi vulgar atau merendahkan nilai2 kemanusiaan.
**********************************************************
Kisah berawal dari perkenalan Albert dengan Anne Crook, seorang penjaga toko permen dan manisan, oleh Walter Sickert, seorang pelukis muda tetangga Anne. Hubungan rekat antara Albert dan Anne membuahkan seorang bayi perempuan (Alice), sehingga kemudian mereka menikah secara diam2 atas kehendak Anne. Namun Anne tidak tahu bahwa Albert sebenarnya adalah seorang pangeran, cucu dari
Ratu Victoria dengan gelar
Prince of Wales (pewaris kerajaan Inggris!), sehingga tentu saja mereka tidak akan mungkin hidup bersama sebagai keluarga.
Selang beberapa tahun, hal ini diketahui juga oleh Sang Ratu. Atas titahnya, Albert ditarik kembali ke dalam pingitan lingkungan kerajaan, sementara Anne dinyatakan mengalami gangguan jiwa dan dimasukkan ke asylum perempuan di
Guy's Hospital. Alice yg ketika itu masih balita dibawa oleh Mary Kelly (seorang teman Anne yg berprofesi sebagai pelacur), ke Walter yang dulu memperkenalkan Albert dengan Anne. Walter kemudian menyerahkan Alice dalam pengasuhan orang tua Anne.
Berpuluh tahun sebelum kejadian ini, seorang laki2 muda bernama
William Withey Gull dengan gemilang berhasil menamatkan studinya di bidang medis. Ia mengambil spesialisasi bedah, dan telah membuktikan dirinya unggul di banding rekan2nya. Prestasinya ini telah menarik perhatian sebuah perkumpulan ‘brotherhood’
Freemason yang kemudian mengangkatnya menjadi anggota. Dengan segera karirnya menanjak; ia memperoleh gelar kebangsawanan dan menjadi penasehat medis utama Sang Ratu, sehingga dengan mudah ia dapat menerima perintah2 Ratu secara langsung.
Kembali ke masa terpisahnya Albert, Anne, dan Alice. Mary Kelly, si pelacur yang sempat mengasuh Alice sepeninggalan Anne, diperlihatkan berkumpul bersama rekan2 seprofesinya: 'Big' Liz, Annie Chapman dan Polly, di bar langganan mereka. Ternyata mereka mendapat ancaman dari sebuah gerombolan (‘The Old Nichol Mob’) yg bereputasi telah menyiksa dan membunuh pelacur yang tidak menyetorkan sejumlah uang pada mereka. Dalam desakan keuangan dan ancaman maut, Mary mengusulkan jalan keluar untuk mereka berempat dengan cara memeras keluarga kerajaan melalui Walter Sickert. Ia menuliskan surat yg meminta uang sejumlah 10 Poundsterling; bila tidak dipenuhi, ia akan menyebarkan berita ttg si
royal baby pada publik. Surat ini berpindah tangan dari Walter, ke ibunda Albert, dan akhirnya jatuh ke tangan Sri Ratu.
Tentu saja rahasia ttg bayi ini harus dijaga ketat demi nama baik keluarga kerajaan. Ratu Victoria segera memanggil Sir William Gull untuk menyelesaikan masalah ini dengan segera, dan dengan semestinya. Nah, di sini lah konsep pelaksanaan titah Sang Ratu mulai dimatangkan oleh Gull. Menurutnya, pembungkaman para pelacur ini tidaklah cukup dengan pembunuhan biasa, namun harus dilaksanakan sebenar2nya dengan tata cara yg dianut Freemasons. Mulailah terjadi pembunuhan - yang disertai mutilasi - terhadap Mary Kelly dan rekan2nya, satu demi satu.
Seorang inspektur polisi,
Fred Abberline, ditugaskan untuk mengusut perkara segera setelah pembunuhan pertama berlangsung. Selanjutnya, pembaca dibimbing untuk mengikuti proses pengusutan Abberline yg sepertinya sia2 saja, karena bila penemuannya berjalan ke arah yg benar, pasti akan ditutup2i atau dialihkan ke hal lain oleh atasannya yg sebenarnya adalah juga anggota Freemasons. Abberline menjadi sangat frustrasi karenanya. Pembunuhan berantai ini tentu menimbulkan sensasi besar di kalangan masyarakat London masa itu. Lebih dari itu, sekelompok pembuat berita yg makin ingin menaikkan penjualannya bahkan mengirimkan surat pada polisi - seolah2 dari sang pembunuh - dengan tanda tangan "Jack the Ripper", yg mempopulerkan julukan tsb. Ternyata tidak hanya si pembuat berita yg mengirimkan surat demikian – setelah julukan tsb dikenal masyarakat luas, polisi menerima banyak lagi surat dari ‘Jack the Ripper’ yg sebenarnya dibuat oleh orang2 iseng yg senang dengan sensasi ini. Bagaimana tanggapan Gull ?
Ia mengirimkan surat juga pada polisi, disertai sepotong organ tubuh dari korban terakhirnya. Dan, karena ia tahu bahwa tidak ada lagi jalan kembali baginya, ia menanda-tangani suratnya dengan keberadaannya sekarang,
“From Hell”.
Setelah pembunuhan terakhir terjadi,
Robert Lees, penasehat psikis Sang Ratu (yang tidak menyukai Gull) mendatangi Abberline secara diam2 dan mengaku mendapat 'penglihatan' bahwa ia mengetahui siapa si Jack the Ripper sebenarnya. Lees kemudian menunjuk Gull sebagai si Jack sebenarnya, dan ketika Abberline bertanya langsung pada yg bersangkutan, Sir William Gull tidak membantah hal tsb. Dengan segera para Freemasons melancarkan pembungkaman Gull: mereka mendeklarasikan wafatnya Sir William Gull, lengkap dengan sebuah 'upacara penguburan’ bagi masyarakat umum. Sementara Gull sendiri diungsikan ke sebuah rumah sakit jiwa dan akhirnya meninggal di sana. Abberline dan Lees diberi dua pilihan: menutup mulut mengenai hal ini sambil mendapatkan pensiun yg besar, atau mengungkap hal ini pada publik dan mati. Mereka memilih yang pertama. Dengan demikian, hingga kini, misteri Jack the Ripper tak terpecahkan di mata publik.
**********************************************************
Apa hebatnya cerita ini? Segala komplikasi rumit dari kisah ini ditulis dengan sangat baik! Bahkan di akhir cerita terdapat appendix di mana Moore berpanjang-lebar menjelaskan peristiwa2 yg terjadi pada panel2 gambar, dilengkapi referensi faktual yg mendasari adegan2 tsb.
Latar belakang dan detail yg menggambarkan London di akhir abad ke-19 juga divisualkan dengan sangat baik. Keadaan gedung2 dan bangunan, arsitektur dan interior (rumah berbagai kalangan, rumah sakit, bar, dsb), kendaraan, busana yg dikenakan – seluruhnya memberi bayangan yang jelas akan suasana saat itu.
Moore dengan sangat lihai menampilkan keunikan plotnya. Antara lain, fenomena bahwa makin banyak pengabdian Gull menjalankan ritual Freemasonry-nya (melalui pembunuhan2 tsb), makin ia diberi kemampuan penglihatan2 ke masa depan. Ia tiba2 melongok ke dalam sebuah jendela rumah modern ketika hendak membunuh korban ketiganya, atau mendadak menemukan dirinya di tengah2 ruang perkantoran abad ke-20 ketika sedang menggarap korban terakhirnya.
Namun dari seluruh plot ini, skenario terbesar adalah ketika Gull baru mendapatkan amanat Sri Ratu untuk menghabisi para pelacur tsb. Bersama Netley, seorang kusir yg mendampingi aksi2nya, ia mengelilingi kota London dengan tujuan titik2 tertentu berdasarkan sejarah masonry dan tokoh2 yg terlibat, Gull bercerita pada Netley bagaimana kuasa dan nilai2 sakral wanita sejak jaman purba diredam dengan paksa oleh kaum pria, di mana simbol2 dan peristiwa masa lampau yg menandai pertentangan tsb dikukuhkan oleh monumen2 yang masih berdiri hingga sekarang. Di akhir perjalanan ini, Gull meminta Netley menghubungkan titik2 rute perjalanan mereka secara berurutan pada selembar peta London. Sejarah kelam tersebut ternyata membentuk sebuah pentagram yang membujur luas di permukaan London. Dalam komposisi magis inilah Gull bertekad melaksanakan ‘tugas suci’nya.
Masih banyak lagi detail yang diselipkan oleh Moore dan Campbell dalam kisah ini. Bagaimanakah akhir hidup Gull dan kemampuan2 penglihatan di akhir hayatnya? Apa yang terjadi dengan Alice? Apakah hubungan kisah ini dengan teori ‘dimensi keempat’, si ‘manusia gajah’, dan para pujangga kondang Inggris pada abad ke-19? Silakan nikmati sendiri kisah menegangkan yang tak lekang waktu ini; masih banyak kejutan2 lain dalam bukunya. Mungkin, setelah membaca kisah ini, berjalan2 di sela2 kota London tidak akan pernah sama seperti sebelumnya.
PS. Novel grafis ini telah diangkat menjadi sebuah film layar lebar dengan judul yang sama. Johnny Depp sebagai tokoh utamanya memerankan Inspektur Abberline. Info:
http://www.fromhellmovie.com/From HellAlan Moore, Eddie Campbell
Publisher: Top Shelf Productions; New Ed edition (February 25, 2004)
Paperback: 560 pages
ISBN-10: 0958578346
ISBN-13: 978-0958578349