Tuesday, April 3, 2007

From Hell

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Comics & Graphic Novels
Author:Alan Moore - Eddie Campbell
Peringatan: resensi ini mengandung spoiler

Akhirnya terbaca habis juga buku ini oleh saya. Apa yang tadinya menghambat saya utk membaca buku ini? Format paperback-nya yg cukup tebal (dengan sendirinya ada konsekuensi ke harga) membuat saya mengundur2 membelinya. Ketika akhirnya mendapatkannya sebagai hadiah kelulusan, saya tidak bisa segera membacanya karena buku ini harus segera dipak dan dikarduskan utk dikirim ke Indonesia. Baru setelah sekitar 5 minggu perjalanannya mencapai Bandung, tibalah buku ini kembali ke tangan saya. Setelah itu, saya menghabiskan waktu berhari2 utk selesai membacanya, termasuk membaca ulang utk lebih memahami isinya.

Sebagian besar dari kita tentu pernah mendengar seorang tokoh yg dijuluki Jack the Ripper. Saya sendiri pertama kali mendengar tentangnya (dan melihat rekonstruksi perbuatannya) ketika berkunjung ke Museum Madame Tussaud di London, jauh sebelum membaca From Hell. Ngeri! Bayangan saya ketika itu, Jack the Ripper hanyalah seorang bergangguan jiwa yang menyasarkan kesadisannya pada sembarang pelacur di London pada akhir abad-19. Tidak lebih. Tapi ternyata ada hal2 yg lebih kompleks di balik semua itu: sebuah pembunuhan berseri yang terencana rapih, dilakukan dengan konsep yang rumit, dan dilaksanakan atas kehendak Penguasa Agung saat itu. Pelacur yg terbunuh adalah mereka yg benar2 terpilih; lokasi pembuangan jenazah mereka pun tidak sembarangan, melainkan diperhitungkan dengan cermat. From Hell menyajikan semua ini dengan sangat menarik; sarat detail grafis tanpa menjadi vulgar atau merendahkan nilai2 kemanusiaan.

**********************************************************
Kisah berawal dari perkenalan Albert dengan Anne Crook, seorang penjaga toko permen dan manisan, oleh Walter Sickert, seorang pelukis muda tetangga Anne. Hubungan rekat antara Albert dan Anne membuahkan seorang bayi perempuan (Alice), sehingga kemudian mereka menikah secara diam2 atas kehendak Anne. Namun Anne tidak tahu bahwa Albert sebenarnya adalah seorang pangeran, cucu dari Ratu Victoria dengan gelar Prince of Wales (pewaris kerajaan Inggris!), sehingga tentu saja mereka tidak akan mungkin hidup bersama sebagai keluarga.

Selang beberapa tahun, hal ini diketahui juga oleh Sang Ratu. Atas titahnya, Albert ditarik kembali ke dalam pingitan lingkungan kerajaan, sementara Anne dinyatakan mengalami gangguan jiwa dan dimasukkan ke asylum perempuan di Guy's Hospital. Alice yg ketika itu masih balita dibawa oleh Mary Kelly (seorang teman Anne yg berprofesi sebagai pelacur), ke Walter yang dulu memperkenalkan Albert dengan Anne. Walter kemudian menyerahkan Alice dalam pengasuhan orang tua Anne.

Berpuluh tahun sebelum kejadian ini, seorang laki2 muda bernama William Withey Gull dengan gemilang berhasil menamatkan studinya di bidang medis. Ia mengambil spesialisasi bedah, dan telah membuktikan dirinya unggul di banding rekan2nya. Prestasinya ini telah menarik perhatian sebuah perkumpulan ‘brotherhood’ Freemason yang kemudian mengangkatnya menjadi anggota. Dengan segera karirnya menanjak; ia memperoleh gelar kebangsawanan dan menjadi penasehat medis utama Sang Ratu, sehingga dengan mudah ia dapat menerima perintah2 Ratu secara langsung.

Kembali ke masa terpisahnya Albert, Anne, dan Alice. Mary Kelly, si pelacur yang sempat mengasuh Alice sepeninggalan Anne, diperlihatkan berkumpul bersama rekan2 seprofesinya: 'Big' Liz, Annie Chapman dan Polly, di bar langganan mereka. Ternyata mereka mendapat ancaman dari sebuah gerombolan (‘The Old Nichol Mob’) yg bereputasi telah menyiksa dan membunuh pelacur yang tidak menyetorkan sejumlah uang pada mereka. Dalam desakan keuangan dan ancaman maut, Mary mengusulkan jalan keluar untuk mereka berempat dengan cara memeras keluarga kerajaan melalui Walter Sickert. Ia menuliskan surat yg meminta uang sejumlah 10 Poundsterling; bila tidak dipenuhi, ia akan menyebarkan berita ttg si royal baby pada publik. Surat ini berpindah tangan dari Walter, ke ibunda Albert, dan akhirnya jatuh ke tangan Sri Ratu.

Tentu saja rahasia ttg bayi ini harus dijaga ketat demi nama baik keluarga kerajaan. Ratu Victoria segera memanggil Sir William Gull untuk menyelesaikan masalah ini dengan segera, dan dengan semestinya. Nah, di sini lah konsep pelaksanaan titah Sang Ratu mulai dimatangkan oleh Gull. Menurutnya, pembungkaman para pelacur ini tidaklah cukup dengan pembunuhan biasa, namun harus dilaksanakan sebenar2nya dengan tata cara yg dianut Freemasons. Mulailah terjadi pembunuhan - yang disertai mutilasi - terhadap Mary Kelly dan rekan2nya, satu demi satu.

Seorang inspektur polisi, Fred Abberline, ditugaskan untuk mengusut perkara segera setelah pembunuhan pertama berlangsung. Selanjutnya, pembaca dibimbing untuk mengikuti proses pengusutan Abberline yg sepertinya sia2 saja, karena bila penemuannya berjalan ke arah yg benar, pasti akan ditutup2i atau dialihkan ke hal lain oleh atasannya yg sebenarnya adalah juga anggota Freemasons. Abberline menjadi sangat frustrasi karenanya. Pembunuhan berantai ini tentu menimbulkan sensasi besar di kalangan masyarakat London masa itu. Lebih dari itu, sekelompok pembuat berita yg makin ingin menaikkan penjualannya bahkan mengirimkan surat pada polisi - seolah2 dari sang pembunuh - dengan tanda tangan "Jack the Ripper", yg mempopulerkan julukan tsb. Ternyata tidak hanya si pembuat berita yg mengirimkan surat demikian – setelah julukan tsb dikenal masyarakat luas, polisi menerima banyak lagi surat dari ‘Jack the Ripper’ yg sebenarnya dibuat oleh orang2 iseng yg senang dengan sensasi ini. Bagaimana tanggapan Gull ?
Ia mengirimkan surat juga pada polisi, disertai sepotong organ tubuh dari korban terakhirnya. Dan, karena ia tahu bahwa tidak ada lagi jalan kembali baginya, ia menanda-tangani suratnya dengan keberadaannya sekarang, “From Hell”.

Setelah pembunuhan terakhir terjadi, Robert Lees, penasehat psikis Sang Ratu (yang tidak menyukai Gull) mendatangi Abberline secara diam2 dan mengaku mendapat 'penglihatan' bahwa ia mengetahui siapa si Jack the Ripper sebenarnya. Lees kemudian menunjuk Gull sebagai si Jack sebenarnya, dan ketika Abberline bertanya langsung pada yg bersangkutan, Sir William Gull tidak membantah hal tsb. Dengan segera para Freemasons melancarkan pembungkaman Gull: mereka mendeklarasikan wafatnya Sir William Gull, lengkap dengan sebuah 'upacara penguburan’ bagi masyarakat umum. Sementara Gull sendiri diungsikan ke sebuah rumah sakit jiwa dan akhirnya meninggal di sana. Abberline dan Lees diberi dua pilihan: menutup mulut mengenai hal ini sambil mendapatkan pensiun yg besar, atau mengungkap hal ini pada publik dan mati. Mereka memilih yang pertama. Dengan demikian, hingga kini, misteri Jack the Ripper tak terpecahkan di mata publik.
**********************************************************

Apa hebatnya cerita ini? Segala komplikasi rumit dari kisah ini ditulis dengan sangat baik! Bahkan di akhir cerita terdapat appendix di mana Moore berpanjang-lebar menjelaskan peristiwa2 yg terjadi pada panel2 gambar, dilengkapi referensi faktual yg mendasari adegan2 tsb.
Latar belakang dan detail yg menggambarkan London di akhir abad ke-19 juga divisualkan dengan sangat baik. Keadaan gedung2 dan bangunan, arsitektur dan interior (rumah berbagai kalangan, rumah sakit, bar, dsb), kendaraan, busana yg dikenakan – seluruhnya memberi bayangan yang jelas akan suasana saat itu.

Moore dengan sangat lihai menampilkan keunikan plotnya. Antara lain, fenomena bahwa makin banyak pengabdian Gull menjalankan ritual Freemasonry-nya (melalui pembunuhan2 tsb), makin ia diberi kemampuan penglihatan2 ke masa depan. Ia tiba2 melongok ke dalam sebuah jendela rumah modern ketika hendak membunuh korban ketiganya, atau mendadak menemukan dirinya di tengah2 ruang perkantoran abad ke-20 ketika sedang menggarap korban terakhirnya.

Namun dari seluruh plot ini, skenario terbesar adalah ketika Gull baru mendapatkan amanat Sri Ratu untuk menghabisi para pelacur tsb. Bersama Netley, seorang kusir yg mendampingi aksi2nya, ia mengelilingi kota London dengan tujuan titik2 tertentu berdasarkan sejarah masonry dan tokoh2 yg terlibat, Gull bercerita pada Netley bagaimana kuasa dan nilai2 sakral wanita sejak jaman purba diredam dengan paksa oleh kaum pria, di mana simbol2 dan peristiwa masa lampau yg menandai pertentangan tsb dikukuhkan oleh monumen2 yang masih berdiri hingga sekarang. Di akhir perjalanan ini, Gull meminta Netley menghubungkan titik2 rute perjalanan mereka secara berurutan pada selembar peta London. Sejarah kelam tersebut ternyata membentuk sebuah pentagram yang membujur luas di permukaan London. Dalam komposisi magis inilah Gull bertekad melaksanakan ‘tugas suci’nya.
Masih banyak lagi detail yang diselipkan oleh Moore dan Campbell dalam kisah ini. Bagaimanakah akhir hidup Gull dan kemampuan2 penglihatan di akhir hayatnya? Apa yang terjadi dengan Alice? Apakah hubungan kisah ini dengan teori ‘dimensi keempat’, si ‘manusia gajah’, dan para pujangga kondang Inggris pada abad ke-19? Silakan nikmati sendiri kisah menegangkan yang tak lekang waktu ini; masih banyak kejutan2 lain dalam bukunya. Mungkin, setelah membaca kisah ini, berjalan2 di sela2 kota London tidak akan pernah sama seperti sebelumnya.


PS. Novel grafis ini telah diangkat menjadi sebuah film layar lebar dengan judul yang sama. Johnny Depp sebagai tokoh utamanya memerankan Inspektur Abberline. Info: http://www.fromhellmovie.com/


From Hell
Alan Moore, Eddie Campbell
Publisher: Top Shelf Productions; New Ed edition (February 25, 2004)
Paperback: 560 pages
ISBN-10: 0958578346
ISBN-13: 978-0958578349

19 comments:

  1. gua nonton filmnyaaaa ... *tapi lupa-lupa inget*
    lupanya udah sampe kadar parah, gua lupa apa gua nonton beneran apa cuman punya dvdnya :))
    hadddddoohhh ... pikun akutt akoeee .... :P

    ReplyDelete
  2. hahaha kacau lu cin =)) tp dimaklumi, keluarnya 2001 kok, udah lama banget ;))
    gue belom nonton filmnya euy..

    ReplyDelete
  3. akhirnya kelar baca reviewnya ! *disambi chatting sama kamu juga sih* :))
    iya, aku kayanya udah pernah nonton filmnya nih.
    nggak separah cindy, aku inget nontonya di bioskop ! tapi lupa bioskop apa :">

    ReplyDelete
  4. waaaaaah.. keren neh kayaknya... cariii aaaah DVD-nyaaa :D

    ReplyDelete
  5. ehh belom tentu filmnya sebagus bukunya lho (apalagi krn th 2001 itu, pas filmnya keluar, nggak terlalu heboh ya?). tapi berhubung ada mas depp sih, boleh lah ;))

    ReplyDelete
  6. hahaha panjang ya :P th 2001 aku udah gak model ke bioskop, jadi belom nonton deeeh

    ReplyDelete
  7. Filmnya bagus, sebagian besar karena lighting dan Johnny Depp yang bermain serius di situ. Trims lho mbak! aku baru tahu kalo ada graphic novelnya.

    Freemasons sempat protes karena film ini mendiskreditkan mereka (baru lihat dokumenter tentang Freemasons di National Geographic) selain Da Vinci Code tentunya.

    ReplyDelete
  8. Sama-sama Ber! :) Alan Moore emang jagoan nulis! Selain From Hell, aku juga baru baca V for Vendetta dan emang kereeeen. Entah ya versi filmnya :D

    Gara2 DVC juga, Opus Dei sampai dibuatkan dokumenternya juga di NG, supaya orang2 gak salah kaprah.. hehe.. the power of pen..

    ReplyDelete
  9. gua mule curiga gua nonton beneran apa halusinasi gara2 seinget gua ...
    yang jadi jack the rippernya itu mas depp huehehehehehehehehehe ... :D

    kita simpulkan saja blon nonton deh hehehe

    ReplyDelete
  10. setelah nonton dvd nya, gw skarang jadi penasaran untuk baca versi buku V for vendetta. Versi film-nya gw suka banget!! Alurnya seru ^_^

    makasih Tita untuk reviewnya, gw baru tau klo ternyata yang nulis sama. Baca review dari elo aja gw uda berasa seru, gmana klo baca sendiri ya hehehe...

    ReplyDelete
  11. pena memang lebih tajam dari pisau!
    (apa payung ya? aku rada lupa peribahasanya)

    ReplyDelete
  12. Filmnya oke juga, bu....Screenplaynya ditulis sama The Wachowski brothers, yg nulis buat Matrix ( walaupun di film terakhir gw gak ngerti jalan ceritanya ) :)). Detailnya bisa diliat di sini : http://www.imdb.com/title/tt0434409/. Hugo Weaving mungkin satu dr sedikit aktor yg pernah bermain di trilogy sukses : Matrix dan Lords of the Rings.

    ReplyDelete
  13. Wah.. V for Vendetta itu keren banget!! Gua belum baca komiknya tapi filmnya bener2 penuh pesan dan makna yang keren banget. Banyak banget sindiran-sindiran terhadap media, TV, dan Amerika.

    Bagian akhir yang mana ya? yang meledakkan Big Ben?

    ReplyDelete
  14. Menarik sekali yah interpretasinya atas peristiwa itu :D

    ReplyDelete
  15. tulz: Gue cuma dengerin obrolannya aja (ttg V for Vendetta itu) waktu launching buku terjemahannya di Kinokuniya Plaza Senayan. Hebat ya, cerita yg terbit puluhan taun lalu ternyata masih bisa jadi film laris dan relevan di abad-21!

    ven: Appendix dari penulisnya (Alan Moore) canggih banget lho! Bagai baca sejarah Freemasons, dengan cara menyenangkan :D

    ReplyDelete
  16. Ada tanggapan dari Mas Rieza M, 'jurig' komik dan seputarnya, lewat japri (padahal sedianya mau di-post di milis, tp Yahoogroups lagi error mulu):
    ===================================
    Hi Tita selamat sudah membaca buku ini. Saya jadi kepingin mebacanya
    lagi .. :-)

    Menurut sepembacaan saya, Sri Ratu hanya menugaskan Gull "membungkam"
    satu wanita saja. Tapi kemudian melebar kemana-mana, dan sebagai mason
    fanatik, Gull membuat pembunuhan2 itu menjadi ritual ala pembunuhan
    terhadap Abiff - sang master mason (lengkap dengan bagaimana cara
    membunuhnya)

    Jack the Ripper, terkenal karena rekornya membunuh para wanita di kota
    London, tapi teori Alan Moore adalah Gull alias Jack the Ripper hanya
    membunuh lima wanita saja. 5 Adalah angka keramat para mason.

    Walau J.Deep bermain brillian, tapi film Frm Hell sangat menyesatkan,
    tidak heran kalau Alan Moore tidak begitu agul dengan versi film From
    Hell. Abberline sang detektif diaktingkan sebagai pemadat adalah
    terlalu absurd.

    From Hell, ada edisi barunya, tampil dengan cover baru.
    Versi lama menampilkan gunting dan jangka, ... itu adalah lambang para
    mason.

    Begitu dalam Alan Moore menggali masonry sehingga saya seperti membaca
    literatur mengenai mason saja .... appendixnya saja sudah beratus
    halaman.

    ReplyDelete
  17. Ada tanggapan dari Mas Rieza M, 'jurig' komik dan seputarnya, lewat japri (padahal sedianya mau di-post di milis, tp Yahoogroups lagi error mulu):
    ===================================
    Hi Tita selamat sudah membaca buku ini. Saya jadi kepingin mebacanya
    lagi .. :-)

    Menurut sepembacaan saya, Sri Ratu hanya menugaskan Gull "membungkam"
    satu wanita saja. Tapi kemudian melebar kemana-mana, dan sebagai mason
    fanatik, Gull membuat pembunuhan2 itu menjadi ritual ala pembunuhan
    terhadap Abiff - sang master mason (lengkap dengan bagaimana cara
    membunuhnya)

    Jack the Ripper, terkenal karena rekornya membunuh para wanita di kota
    London, tapi teori Alan Moore adalah Gull alias Jack the Ripper hanya
    membunuh lima wanita saja. 5 Adalah angka keramat para mason.

    Walau J.Deep bermain brillian, tapi film Frm Hell sangat menyesatkan,
    tidak heran kalau Alan Moore tidak begitu agul dengan versi film From
    Hell. Abberline sang detektif diaktingkan sebagai pemadat adalah
    terlalu absurd.

    From Hell, ada edisi barunya, tampil dengan cover baru.
    Versi lama menampilkan gunting dan jangka, ... itu adalah lambang para
    mason.

    Begitu dalam Alan Moore menggali masonry sehingga saya seperti membaca
    literatur mengenai mason saja .... appendixnya saja sudah beratus
    halaman.

    ReplyDelete
  18. Ada tanggapan dari Mas Rieza M, 'jurig' komik dan seputarnya, lewat japri (padahal sedianya mau di-post di milis, tp Yahoogroups lagi error mulu):
    ===================================
    Hi Tita selamat sudah membaca buku ini. Saya jadi kepingin mebacanya
    lagi .. :-)

    Menurut sepembacaan saya, Sri Ratu hanya menugaskan Gull "membungkam"
    satu wanita saja. Tapi kemudian melebar kemana-mana, dan sebagai mason
    fanatik, Gull membuat pembunuhan2 itu menjadi ritual ala pembunuhan
    terhadap Abiff - sang master mason (lengkap dengan bagaimana cara
    membunuhnya)

    Jack the Ripper, terkenal karena rekornya membunuh para wanita di kota
    London, tapi teori Alan Moore adalah Gull alias Jack the Ripper hanya
    membunuh lima wanita saja. 5 Adalah angka keramat para mason.

    Walau J.Deep bermain brillian, tapi film Frm Hell sangat menyesatkan,
    tidak heran kalau Alan Moore tidak begitu agul dengan versi film From
    Hell. Abberline sang detektif diaktingkan sebagai pemadat adalah
    terlalu absurd.

    From Hell, ada edisi barunya, tampil dengan cover baru.
    Versi lama menampilkan gunting dan jangka, ... itu adalah lambang para
    mason.

    Begitu dalam Alan Moore menggali masonry sehingga saya seperti membaca
    literatur mengenai mason saja .... appendixnya saja sudah beratus
    halaman.

    ReplyDelete

  19. johny deep , kurang asyik ya ...
    gayanya slebor slebor kayak jack pirates.

    ReplyDelete