Sunday, February 27, 2005

Perempuan WNI bersuami WNA, siap2 terima diskriminasi hukum di Indonesia :(




Ternyata, jadi perempuan WNI yg nikah dengan pria WNA itu jauh lebih banyak bermasalah dibandingkan jadi pria WNI yg nikah dengan perempuan WNA. Ini ada sebagian kecil masalah utama (dari daftar yg lebih panjang):

1. Perempuan WNI tidak dapat mensponsori suami maupun anak anaknya yang sudah dewasa untuk mengajukan ijin tinggal di indonesia. Pada situasi dimana suami kehilangan pekerjaan di Indonesia (ia otomatis tidak memiliki ITAS dari perusahaan) maka suami dan anak anak harus pindah keluar dari Indonesia. Bila keluarga ingin menetap di Indonesia mereka hanya dapat memperoleh visa turis atau visa kunjungan sosial budaya yang masa berlakunya hanya dua bulan.
==> Karena saya 'hanyalah istri', meskipun punya pekerjaan, nggak boleh mensponsori suami WNA dan anak2 (WNA - meskipun anak2 kandung). Beda kalau si suami yg WNI, ia boleh mensponsori istri WNA-nya (anak2nya semua WNI).

2. Hak asuh bagi anak WNA. Seorang ibu WNI memerlukan ijin dari kementrian terkait untuk mendapatkan hak asuh bagi anak anaknya (WNA) yang dibawah umur. Setelah ijin keluar visa ijin tinggal harus diambil di KBRI di luar negeri
==> Mau marah nggak sih. Anak2ku yg masih pada balita itu, adalah anak2 yg aku lahirkan sendiri, hasil meregang nyawa sendiri. Masak utk mengasuh & membesarkan mereka, harus minta ijin dari kementrian bla bla?! Dan utk bisa tinggal denganku di Bandung nanti, anak2 harus minta visa dari KBRI di Den Haag?! Edan tenan.
Belom lagi soal si suami WNA dan anak2 (yg juga otomatis jadi WNA itu) harus minta ijin tinggal tiap taun! Ini pasti sumber income utama Dirjen Imigrasi ya.. jangankan jumlah setoran yg resmi, jumlah pelicin (yg lumrah di Indonesia) pasti bikin mereka kaya raya juga tuh.. *keluh*

3. Perempuan WNI kehilangan hak untuk dapat bekerja di instansi/ pemerintah RI, tidak dapat berpolitik praktis, dan tidak dapat menjadi anggota DPR-MPR.
==> Gimana nih.. berarti beneran, nggak jadi PNS. Emang statusku udah CPNS kasus sih... hehe.. Dan, jangankan jadi gubernur atau presiden, jadi rektor ITB aja nggak boleh nih ya :P

4. Suami dan anak anak (WNA) tidak dapat menjadi WNI tampa melepas kewarganegaraan suami/ bapak (walaupun negara suami/bapak memperbolehkan dwi-kewarganegaraan).
==> Nyebelin banget. Terus terang, lebih enak pegang ke-WN-an mereka (suami & anak2) sendiri sekarang ini. Sekarang mereka masih berhak dapat tunjangan2 dan asuransi2 kesehatan, dan segala perhatian yg manusiawi dari negaranya ini. Kalau jadi WNI SAJA, bukan hanya mereka akan kehilangan semua hak itu, tapi juga bakal dapat perlakuan diskriminatif dari "bangsa sendiri"/ sesama WNI di negara Indonesia.

..Dan masih banyak lagi peraturan yg bisa mengurungkan niat saya untuk pulang ke Indonesia. Untuk kembali mengajar dan bekerja di Bandung (cita2 punya usaha sendiri nih.. hehe..) dan membesarkan anak2 di dekat keluarga besar.

Tapi, untuk menuju kemauan, pasti selalu ada jalan. Saya masih bertekad untuk pulang, meskipun dukungan dari pihak peraturan dan hukum di Indonesia akan sangat memberatkan moral dan (jelas!) kantong. Jangan menyerah, sebelum mencoba..

Sekian curhat malam ini. Oh iya, peraturan2 itu saya kutip dari sini: http://www.aliansipab.com/Problem.htm [I'm just glad that mixed couples in Indonesia has an association that fights for their rights. For a balanced family life. I'll surely contact this association for future references]



45 comments:

  1. status kita sama lah, 'ta. ya tinggal tunggu status ITB menjadi murni "swasta". kalopun gak jadi, gak usah khawatirlah kalo emang gak bisa kembali ke ITB. berkarir dan berbakti buat bangsa tidak harus berarti tinggal di Indonesia. Menetap di Eropa saya kira memberi banyak kesempatan. Kali aja gw bisa bergabung di sana suatu saat....hehehe.

    ReplyDelete
  2. Lah Ta, emang suami lu WNA? gue kira orang Indo juga... Emang Indonesia itu belagu, dobel kewarganegaraan juga gak boleh, pdhal sebg WNI kita gak dapet jaminan apa2 dr pemerintah, jaminan hidup susah sih iya, sampe pada jadi TKI..

    ReplyDelete
  3. sabar Ta,dari mata gue yang ada di luar masalah lo, peraturan itu kayaknya dibikin supaya mempertegas kewarganegaraan dari anak dan hak asuh anak. cuma larinya pihak perempuan dipersulit ya, mungkin maksudnya kan jadi engga betah, kalo bisa dua2nya wni jadinya atau wna sekalian. ujungnya untuk anak tidak membingungkan juga dan jelas....
    rumit amit ya..kalo ke ina kontak 2 gue deh..ok :)

    ReplyDelete
  4. salah tulis tuh yang belakang kayaknya.hehehhe.
    Anyway, Keep fighting,mbak!!!! Emang negara kita ruwet banget. Tp, pasti ada jalan!

    ReplyDelete
  5. oh iyo, suwun ka.. biasa nih, lagi esmosi.. hahaha! (ta' edit sik ah)

    ReplyDelete
  6. emang dev, peraturan ini dibuat jaman indonesia masih hindia-belanda dan sampe sekarang belum pernah direvisi! utk jaman itu, ngerti deh gue, utk melindungi nona2 lugu di pedesaan yg dipinang meneer penjajah yg niatnya beli tanah di desa si nona lugu. nah ini jelas udah nggak relevan buat sekarang.
    yg gue pengen, minimal, anak2 (dan suami) bisa punya dua WN supaya indonesia juga bisa punya human resource bermutu getoloh :P

    ReplyDelete
  7. Suami gue londo Belanda Ko :P Itu dia, Indonesia belagu2 pasti memang (pernah) ada tujuannya, tapi mestinya bisa lebih fleksibel. Paling enggak update lah hukum2nya, jangan pake yg keluaran abad-18 terus..

    ReplyDelete
  8. Iya So, gue niat balik ini adalah untuk memenuhi janji. Bukan buat kepentingan gue pribadi, tapi buat almamater, lah (hadoooh). Makanya, ntar seselesainya sekolah ini balik, coba kerja di Bandung dulu selama 1-2 tahun. Kalo nggak ada penghargaan setimpal (bukan hanya berbentuk uang lho ya), ya balik lagi aja ke Eropa, pas elu gabung So :)

    ReplyDelete
  9. Begitulah negeri kita, negeri sim sala bim eh..negeri abrakadabra euy...
    Keep fighting, memang susah karena digencet imigrasi buat dapet uang bawah meja... Tabah ya, mudah2an ada jalan keluar..

    ReplyDelete
  10. Tita, my support for you. Dicoba aja dengan tabah. Gue salut dgn org2 yg mau mencoba karena... gue sendiri udah cape (bukan masalah suami WNA tapi yg lain :p). Banyak kok aliansi untuk mixed couple gitu di Jakarta. Tapi gue gak tau mana yg credible mana yg gak. Hampir tiap minggu juga ada komplen dari mixed couples ke Jakarta Post mengenai hal ini. Tapi dari kurangnya impact yg dibuat oleh assosiasi2 ini, gue jadi curiga: mereka itu networking group apa lobbyist gak jelas :D

    One day pasti ada yang sadar kalo cara ini merugikan negara sendiri. And hopefully soon.

    ReplyDelete
  11. Trims atas supportnya :) Emang nih negara kita masih "lucu" banget.. *grrr*

    ReplyDelete
  12. Nah ini dia Ven.. gue baca di website yg gue jadiin referensi itu, mereka udah nyoba bertahun2 propose berbagai usulan ke DPR, supaya bisa mengubah berbagai policy yg merugikan itu. Tapi impact-nya kok nyaris nggak kedengeran ya. Entah macet di prosesnya.. atau di DPR nya.. atau..
    Ya sudah, berjuang dulu lah nanti ^_^ ..and you'll hear from me. Thanks Ven :D

    ReplyDelete
  13. saya sangat simpati soal masalah ini. keluarga adik ipar punya masalah yang sama. peraturan2 negara mengacak2 hubungan keluarga. :(

    ReplyDelete
  14. Don't hold your breath. Sebagai salah seorang yang pernah menjadi bagian dari eksekutif ITB, bisa saya katakan bahwa perjalanan ke sana masih panjang. Jadi jangan terlalu berharap pada orang lain. Do it yourself.

    Status saya saja masih ajaib. Setelah pulang ke Indonesia, saya tidak lagi digaji secara PNS. (It's a long story. There are things that I don't aggree on and I accept the consequences.) Tapi saya tetap mengajar lho. Bahkan termasuk dosen yang rajin. Sempat dapat penghargaan dari mahasiswa segala. (Tapi ini bukan karena kerajinannya, he he he.) Saya mengajar karena suka saja. That's all. Soal rezeki, itu sudah ada yang mengatur.

    Mengapa saya kembali ke Indonesia setelah hampir 11 tahun di Canada? Karena saya mencintai Indonesia. Ah, nanti dikatakan sok nasionalis loe! Tidak. Saya mencintai Indonesia karena di sini masih surga. No dreadful winter! (Although, once in a while, I miss snow.)

    Look at this. Enjoy and weep... :)

    http://gbt.blogspot.com/2005/02/beautiful-morning-beautiful-day.html

    ReplyDelete
  15. Hiks...kenapa kita perempuan dianggap tidak 'mampu' mensponsori yah? Hmmm saya tidak terima!!!!! Hmmm hukum di negara laen bgm yah? Ada yg tahu?

    ReplyDelete
  16. Shit. Never really knew how hard it was.
    Hang in there...

    ReplyDelete
  17. Aturan yg ini dibuat di abad Hindia-Belanda (di jaman yg memang kebanyakan perempuan hanya berpangkat istri atau gundik - duh nulisnya aja nggak tega), dan sampe sekarang belum pernah direvisi. Ndableg tenan. Makanya sexist banget.
    Aku taunya aturan di Belanda, baik laki2 maupun perempuan (yg WN Belanda) berhak mensponsori pasangan masing2, meskipun ijin tinggalnya hanya "samenwonen" dan bukan resmi menikah, asal bisa membuktikan bahwa income-nya mencukupi (ada standarnya, sekian ribu Euro per bulan). Lalu si pasangan yg WNA (= bukan WN Belanda) juga berhak atas sebagian besar tunjangan dan fasilitas dari pemerintah Belanda.
    Eh bener ya, menarik juga kalo tau gimana peraturannya di negara2 Asia (atau ASEAN) lain.

    ReplyDelete
  18. Aduh Pak.. adem ayem tentrem banget fotonya :)
    Sementara sejak kemaren di Amsterdam ini salju teballl banget! Brrr..

    ReplyDelete
  19. setuju pak. seenak apapun di laur negeri saya selalu punya keinginan untuk kembali dan ngajar di ITB. Biarpun bandung macet dimana2 (makasih buat para ahli tata kota kita...:)), tetap aja jauh lebih nyaman. disamping itu saja udah eneg yang namanya winter.

    tapi dilema emang kalo ingat kondisi ITB seperti itu. masa saya harus mulai dari gaji 500 ribu pak? apakah itu layak untuk hidup dgn keluarga? belum lagi soal kesejahteraan yang lain (kesehatan, perumahan, pendidikan, etc). jadi mau gimana nih....

    ya kayaknya harus nyari duit dulu biar gak kelaparan kalo langsung pulang. dulu pak Budi gimana strategi survivenya?

    ReplyDelete
  20. Yah, ini adalah bukti bahwa peraturan-peraturan di Indonesia masih sangat bias jender. Kadang jadi gak ngerti kenapa begitu banyak peraturan yang tidak masuk akal di negara ini...
    Beberapa tahun lalu, saya sempat tahu konsorsium catatan sipil. Konsorsium ini terdiri dari LSM, Dep. Agama, Depdagri, kementrian peranan wanita, yang tujuannya membuat revisi atas peraturan-peraturan tentang perkawinan di Indonesia. Sayangnya saya tidak tahu apakah permasalahan perkawinan campuran beda warga negara (karena di Indonesia yang disebut perkawinan campuran lebih banyak tertuju pada pasangan yang beda agama) juga termasuk hal yang ingin dirubah. Mungkin nanti saya bisa cari tahu tentang hal ini dan tentang kelanjutan dari konsorsium itu sendiri (karena memang banyak partai politik yang tidak setuju kalau peraturan perkawinan ini diganti).

    Mudah-mudahan permasalahan yang Mbak Tita sebutkan ini segera memperoleh perhatian dari masyarakat kita...

    ReplyDelete
  21. saya pernah baca soal ini juga di salah satu koran di Indonesia bahwa hukum ini adalah hukum warisan jaman baheula yg pada jaman dulu buanget wanita2 indo yg menikah dgn org2 belanda adalah nyai-nyai yg dianngap tidak berpenghasilan. yg saya heran knp pemerintah gak melek bahwa wanita2 indo skrg khan sudah berbeda.

    ReplyDelete
  22. Salah satunya juga untuk mencegah dimanfaatkannya gadis2 lokal oleh orang asing untuk bisa memiliki & menguasai tanah tempat asal si gadis. Beberapa alasan mungkin masih relevan, tapi hukum yg expiry-date nya sudah lewat berabad2 ini seharusnya segera direvisi.

    ReplyDelete
  23. Hmmm sabar yah en jangan nyerah....tunjukin kalo orang indo tuh gak bisa dikalahin....sekarang kan hukumnya kalo anak dari perkawinan campur boleh jadi WNI. Kita di jalur yang sama...emangnya enak kawin ama bule....moet gewoon vechten hoor....kheb dezelfde probleem hier.....

    ReplyDelete
  24. iya, masih tetap semangat. hukum dwi-WN utk anak2 campuran memang sangat membantu, semoga pelaksanaannya di lapangan bisa berlangsung baik. terima kasih :)

    ReplyDelete
  25. adooh, bingung niih, aku kbetulan jg sm ky kalian smua... gini bener gak siiih wanita indonesia yg menikah sm WNA itu kehilangan hak2nya di indonesia, misalnya wanita yg menikah sm WNA itu gak bisa beli tanah? bener gak siiih sharing ya?

    ReplyDelete
  26. Sekarang sudah ada perubahan yg lebih baik, karena ada UU kewarga-negaraan yg keluar 12 juli 2006. Anak2 dari ibu WNI dan ayah WNA boleh punya WN ganda hingga mencapai 18 th. Dan sekarang istri WNI bisa mensponsori ijin tinggal suaminya yg WNA. Utk properti di Indonesia, mestinya bisa atas nama istri WNI yg bersuamikan WNA asal sebelum menikah membuat prenuptial agreement.

    Semalam saya nemu info yg lumayan lengkap dari Wijaya law firm (hasil browsing), ttg Mixed Marriage, dsb.

    Atau gabung saja dengan KPC-Melati atau Indo-MC utk mencari informasi yg lebih mendetail, sekaligus bersosialisasi dengan para wanita WNI yg berkeluarga campuran.

    ReplyDelete
  27. BT sama aturan di Indonesia, TUL apa kata lo ta, maap bukannya gak cinta sm indonesia, cuma males aja aturannya yg NEKO2 itu, sebenernya gak usah di pungkiri WNA itu rata2 lebih berkualitas. Indonesia sih terlalu sombong sampai2 GENGSI bgt ada istilah DUAL CITYZEN. Indonesia gimana mau maju, kalo aturan2nya terlalu sombong, CAPE DEEEH!!! yang ada nih negara gak maju2, korupsi aja terus.. BT gw..

    ReplyDelete
  28. Halo, saya punya pertanyaan nih., nama saya okta.. Situasi saya yang sudah menikah dengan WNA , berdasarkan hukum indonesia, tapi belum bikin prenuptial agreement, masih bs gk yah saya bikin prenuptial agreement, en kalo gak bisa bikin prenuptial agreement , masih bisakah saya beli propertie di indo?

    Thank's

    ReplyDelete
  29. Halo, masalah kita mirip! Kami juga dulu nggak buat prenupt sebelum menikah. Kalau sudah terlanjur begini, kita nggak bisa buat prenuptial agreement itu. Si istri WNI diperbolehkan membeli properti di Indonesia atas namanya. Tapi kalau ada apa2 dengannya, sang suami WNA tidak diperbolehkan mewarisi properti tsb, juga anak2 mereka (bila mereka WNA). Dalam waktu setahun, properti tsb akan menjadi milik pemerintah RI.

    Kami sedang mengira2, gimana kalau beli properti atas nama seorang anggota keluarga terdekat, lalu kita buat surat lagi yg menyatakan bahwa hak penggunaan properti tsb adalah pada kami. Atau mungkin tetap punya properti a/n istri WNI, tapi juga langsung membuat surat wasiat utk mengantisipasi supaya properti tsb tidak langsung menjadi hak milik negara bila terjadi apa2 dengan sang istri. We'll still have to ask around for this..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mbaaa...salam kenal yaa
      Saya juga baru menikah dg wna wn Korea...krn posisi suami mmg sudah habis kontrak di indonesia..so ijin tgl nya cuma visa kunjungan aja ya. Trus kalo mau bantu bisnis saya gimana ya. Saya cari2 info ttg ini msh byk yg ga standar ini itunya. Mba membahas bhw jika suami sudah selesai kontrak di indonesia, so sy beneran ga bs jd sponsor dong...ribet amat yaaa imigrasi itu...ampun deh

      Delete
    2. Hi mbaaa...salam kenal yaa
      Saya juga baru menikah dg wna wn Korea...krn posisi suami mmg sudah habis kontrak di indonesia..so ijin tgl nya cuma visa kunjungan aja ya. Trus kalo mau bantu bisnis saya gimana ya. Saya cari2 info ttg ini msh byk yg ga standar ini itunya. Mba membahas bhw jika suami sudah selesai kontrak di indonesia, so sy beneran ga bs jd sponsor dong...ribet amat yaaa imigrasi itu...ampun deh

      Delete
  30. koq ngeri banget... jadi nda ya aku nikah ma WNA...

    ReplyDelete
  31. Nikah atau nggak nikah kan keputusan si pasangan itu sendiri. Jangan sampai formalitas2 semacam ini jadi halangan - sebaliknya, kita harus dengan cermat mengikuti prosedur yg ada supaya bisa hidup berkeluarga dengan tenang.

    ReplyDelete
  32. soal tiket harga wna orang asing yang 3 kali lipat kalau mau ke candi borobudur, emang seharusnya malu abis, luar negri membantu Indonesia terus menerus abis bencana bencana misalnya, tapi juga dengan renovasi borobudur abis di-bom puluhan tahun yang lalu. Anti Koruption Watch sebetulnya kerjain apa saja saat ini?

    ReplyDelete
  33. Hidup tenang selama pasangan mixed ada urusan dengan pemerintah berhubungan dan izjin izjin dan sebagainya, kayaknya tidak mungkin. Sinilah ada peran besar untuk anti korupsi watch

    ReplyDelete
  34. eh aku mau merit neh sama orang belanda...aku = wanita...gimana dong...jadi ragu...apa aku aja yah yg pindah kewarganegaraan??gimana pendapat kalian??

    ReplyDelete
  35. Jurnal ini dibuat tiga tahun yang lalu, dan syukurnya sudah ada perubahan pada hukum (kewarga-negaraan) yang meringankan situasi pasangan kawin campur ibu WNI dan ayah WNA:
    - Anak2 dapat memiliki dwi-WN hingga usia mereka mencapai 18 th
    - Istri WNI sekarang dapat menjadi sponsor suami WNA utk tinggal di Indonesia (hanya saja: suami WNA tinggal dengan visa 'ikut istri', dan tidak boleh bekerja di Indonesia)

    Keterangan lebih lanjut, bisa mencari update di organisasi2 atau komunitas2 kawin campur seperti KPC Melati: http://www.kpcmelati.org/

    ReplyDelete
  36. owh..thanks a lot..tapi, dia ga boleh kerja di Indonesia yah..

    Makasih...makasih banget..commentnya berarti bangeud buat saya..

    ReplyDelete
  37. sore Mbak...
    salam kenal nama saya metra...
    insyaAllah saya mau menikah dengan WNA...nah yang saya bingung katanya istri boleh jadi sponsor suami WNA, tapi tidak boleh bekerja di Indonesia. bener ya mbak?
    waduh klu gitu calon suami saya jobless donk disini?
    atau maksudnya ga boleh kerja PNS? tapi swasta bole?
    kasih penjelasan donk....
    plzzz
    thanks before

    ReplyDelete
  38. Suaminya boleh saja kerja di Indonesia, tapi berarti jenis ijin tinggalnya bukan yang di-support istri. Dia harus pakai ijin tinggal "kerja", dan ngurus2nya sampai ke Depnaker juga.

    ReplyDelete
  39. tapi mbak sekarang kan calon suami saya masih tinggal di negaranya dan kerja disana, nah kalau kesini dia belum py kerja di indonesia gimana donk? maaf ya mbak banyak tanya

    ReplyDelete
  40. ya berarti yg paling mungkin adalah pakai ijin tinggal dengan support istri dulu. kalau ternyata nantinya memang dapat kerja di indonesia, ijin tinggalnya tinggal diubah statusnya. bisa begitu :)

    ReplyDelete
  41. Waduh, padahal br rencana bakal nikah ma WNA, kmrn seh udah kelihatan bgt kalo bolak balik Imigrasi ngantarin dia duh3x diskriminasix udah kelihatan banget... malah aku dikirain wanita simpanan lagi... cwape deh... Trus kita bakalan buka usaha gitu, kalau wiraswasta apa gak boleh juga dia kerja di Indonesia? Koq ngaco bgt seh aturannya, bukannya WNA juga ngasi pendapatan negara yg lumayan dibandingkan pendapatan Indonesia lainnya.. :-)

    ReplyDelete
  42. peraturannya sudah berubah :D sekarang istri WNI sudah boleh jadi sponsor suami WNA, tapi si suami WNA nggak boleh kerja sama sekali.

    ReplyDelete
  43. Mohon maaf jika postingan ini menyinggung perasaan anda semua tapi saya hanya mau menceritakan pengalaman pribadi saya yang mengubah kehidupan saya menjadi sukses. Perkenalkan terlebih dahulu saya Sri Wahyuni biasa di panggil Mba Sri, TKI tinggal di kota Pontian johor Malaysia,Saya berprofesi sebagai pembantu rumah tangga, tapi saya tidak menyerah dengan keadaan saya, tetap ikhtiar.
    pengen pulang ke indonesia tapi gak ada ongkos pulang. sempat saya putus asa,gaji pun selalu di kirim ke indonesia untuk biaya anak sekolah,sedangkan hutang banyak, kebetulan teman saya buka-buka internet mendapatkan nomor hp Mbah Suro (+6282354640471) katanya bisa bantu orang melunasi hutang melalui jalan togel dengan keadaan susah jadi saya coba beranikan diri hubungi dan berkenalan dengan beliau Mbah Suro, Dan saya menceritakan keadaan saya.Beliau menyarankan untuk mengatasi masalah perekonomian saya,baiknya melalui jalan togel saja.Dan angka yang di berikan beneran tembus ,4607 dan saya dapat 275 juta alhamdulillah terima kasih banyak ya allah atas semua rerjekimu ini. walaupun ini melalui togel


    ReplyDelete