Showing posts with label lambiek. Show all posts
Showing posts with label lambiek. Show all posts

Wednesday, April 28, 2010

Tuesday, June 24, 2008

Curhat at Lambiek!

Thanks again to Buzzworks, Curhat is now also available at Lambiek Comics Shop and Gallery at Kerkstraat 132, Amsterdam! For those who haven't known my history and Lambiek: it's a place that has nurtured the comicbooks-side of me. I've posted a story about Lambiek (in Indonesian) here: Luapan Semangat dan Enerji dari Kerkstraat, Amsterdam, where you can take a glimpse of their humongous collections of gimmick and memorabilia!

 

Sunday, November 26, 2006

Penerbitan Kembali Seri Arman & Ilva



Lambiek, Kamis 16 Nov 2006

Kamis sore itu, setiba dari Delft, saya tidak langsung pulang seperti biasanya, tapi naik tram menuju Lambiek, utk memenuhi undangan peluncuran ulang album seri Arman & Ilva. Album ini terkenal di awal 70an, sejak berupa komik strip untuk surat kabar (1 baris berisi 3 panel) hingga diterbitkan dalam bentuk album. Penulis seri ini adalah Lo Hartog van Banda, dan digambar oleh Thé Tjong-Khing. Saya tiba terlalu awal di Lambiek (setengah jam sebelum acara dimulai), jadi ada waktu untuk bercakap2 dengan Pak Khing (kami terakhir kali bertemu bulan Juni lalu, saat Stripdagen Haarlem) - sambil membantunya memasuk2kan paket album baru + signed artprints (edisi terbatas) ke dalam kantung2 plastik transparan. Di usianya yg ke-74, Pak Khing masih terlihat sangat sehat, bugar dan gembira. Sambil menanda-tangani lembaran2 artworks tsb, ia dengan riang menyapa dan bersenda-gurau dengan teman2 dan kenalan2nya yg berdatangan satu demi satu.

Photobucket - Video and Image Hosting
Dengan Dhanu dan Pak Khing, Haarlem, 3 Juni 2006

Dinding galeri Lambiek masih dipenuhi dengan bingkai2 dari pameran2 sebelumnya. Satu dinding disisihkan utk memajang original artworks Pak Khing utk komik Arman & Ilva. Pada dinding ini pula terbentang sebuah spanduk vertikal, bergambar berbagai ekspresi Ilva, dalam rangka menyambut peluncuran kembali album ini. Dua meja rendah (yg adalah juga 'lemari' tempat penyimpan lembaran2 gambar) di tengah ruang galeri juga jadi tempat memajang original artworks yg disusun di permukaan meja, yg dilindungi oleh lapisan kaca di atasnya.

Galeri terlihat makin penuh saat jam menunjukkan pukul tujuh. Sebagian besar tamu adalah para tokoh cergam di Belanda, baik penggambar, penulis maupun penerbit, dan teman2 lama yg tertarik di bidang ini. Nama Thé Tjong-Khing dan Lo Hartog van Banda memang cukup terkenal sebagai tokoh2 klasik di dunia perkomikan Belanda. Khing yg dulunya pemagang di Studio Toonder membuat Arman & Ilva sebagai seri komiknya yg terakhir. Setelah itu ia beralih menjadi ilustrator utk buku anak2 dan berhasil mendapat berbagai penghargaan tertinggi di Belanda untuk bidang tsb. Sementara Lo Hartog van Banda, yg juga pernah bekerja di Studio Toonder, adalah penulis naskah komik handal; karya2nya yg dikenal di Indonesia antara lain adalah seri Arad & Maya (yg digambar oleh Jan Steeman, yg juga menggarap seri Roel Dijkstra) dan tiga episode Lucky Luke (sepeninggalan Goscinny, yg digambar oleh Morris). Namun pada usia 89 th, Februari 2006 Lo Hartog meninggal dunia sehingga tidak dapat menyaksikan peluncuran kembali album Arman & Ilva ini. Malam ini seorang menantu perempuannya datang utk mewakili dirinya.

Photobucket - Video and Image Hosting
Khing muda

Arman & Ilva sendiri adalah cergam bertema science fiction, digarap dalam format hitam-putih utk keperluan penerbitan di surat kabar. Meskipun naskahnya dituliskan oleh Lo Hartog, Khing berhasil memasukkan gaya dan keunikannya sendiri melalui kontribusinya dalam seri ini. Dengan pengaruh kuat dari sudut pandang film2 layar lebar lawas, Khing banyak menggunakan close up - namun ini juga adalah kelebihannya: ia mampu dengan lihai membuat berbagai macam ekspresi wajah (terutama wajah Ilva, si gadis muda tokoh utama seri ini). Khing pun sering mengambil aktris/aktor ternama sebagai model dalam gambarnya; misalkan Angela Lansbury dalam episode Het spoor dat verdween (= Jejak yang menghilang). Proporsi wajah dan berbagai model karakter pada seri ini, yg digambar dengan garis2 halus-bersih dan diimbangi blocking bayangan tegas, mengingatkan pada gaya komik jenis roman dari Amerika yg juga populer di th 60-an. Namun di luar itu, tema dan setting ceritanya sama sekali berbeda. Khing terlihat sangat menikmati eksplorasinya membuat setting fiksi-ilmiah, melalui bentuk2 bangunan dan peralatan yg melatar-belakangi cerita. Di salah satu episode, Khing bahkan berhasil menciptakan adegan mencekam dengan menggambarkan transformasi seorang gadis kecil menjadi monster. Perubahan dari sosok imut menjadi mengerikan semacam ini adalah sebuah konsep yang belum umum pada masa itu.

Photobucket - Video and Image Hosting

Edisi terbitan ulang Arman & Ilva yang diluncurkan pada malam itu merupakan dua episode yg berjudul De perfecte kringloop (= Jalur lingkaran sempurna) dan Het spoor dat verdween, masing2 disertai kata pengantar dari Hanco Kolk dan Joost Swarte, dua cergamis dan grafikus kenamaan yg masa remajanya dilewatkan dengan membaca Arman & Ilva, beserta halaman2 ekstra yg memuat sketsa dan berbagai catatan dari proses pembuatan seri tsb.

Photobucket - Video and Image Hosting
Khing, kini

Acara malam itu dimulai dengan sambutan dari pihak penerbit, dilanjutkan dengan ucapan ringkas dari Pak Khing, yang secara simbolik menyerahkan satu set kopi Arman & Ilva kepada menantu Lo Hartog. Suasana peluncuran ini sangat informal, seperti halnya acara2 sejenis yg diadakan di Lambiek. Para hadirin yg sebagian besar telah mengenal satu sama lain segera berbaur, sambil menikmati minuman ringan dan kudapan yang disediakan.
Saya sendiri berkenalan dan mengobrol dengan satu dari dua putra Pak Khing yang bersama istri dan kedua anaknya hadir malam itu, juga dengan Peter van Dongen yang baru pindah rumah dan dengan Maaike Hartjes yang beberapa bulan lalu berpartisipasi dalam program ASEF di Singapura (Alfi, dapat salam!). Sayang tak banyak teman2 dan komikus muda lain yg hadir, karena malam itu bertepatan dengan malam perdana pertunjukan teater Gutsman, yg diangkat dari seri komik bisu berjudul serupa karya Erik Kriek. Erik sendiri akan naik panggung dan berpentas memerankan dirinya sendiri (seperti halnya kemunculannya di seri Gutsman), sehingga dengan sendirinya teman2nya sesama komikus hendak menyaksikan aksi panggungnya.

Photobucket - Video and Image Hosting
Dari De perfecte kringloop

Rencana penerbitan ulang seri ini memang telah diajukan bertahun2 sebelumnya, tapi orang yg mengenal Pak Khing pasti mengerti banyaknya pertimbangan yg harus dipikirkannya, sebab ia memang terkenal sangat cermat dalam menjaga kualitas karya2nya. Tentu saja ia banyak mengritisi karyanya sendiri, terutama yg dibuatnya sekitar 30 tahun lalu. Namun kini Pak Khing terlihat puas melihat penampilan edisi baru seri Arman & Ilva ini. Pada peluncuran malam ini baru dua episode yg selesai diterbitkan. Akan ada beberapa episode lagi yg direncanakan utk terbit dalam bulan2 mendatang dan sudah bisa dipesan sejak sekarang.
Makin larut malam, hujan makin deras merata dan anak2 di rumah pasti sudah menunggu, sehingga saya harus berpamitan. Sebelum pulang, Pak Khing sempat menuliskan pesan di dua terbitan Arman & Ilva terbaru untuk saya, masing2 untuk Dhanu ("voor Dhanu, verleer je het Nederlands niet?") dan Lindri ("voor Lindri, dimmen!"), ditanda-tangani atas nama "Opa Lamp" (panggilan Dhanu untuknya). Terima kasih, Pak Khing, dan sekali lagi selamat atas penerbitan ulang seri ini!

Photobucket - Video and Image Hosting

Mengenai Thé Tjong-Khing
Situs pribadi http://www.thetjongkhing.nl/
Visiting Pak Khing - 1 http://esduren.multiply.com/journal/item/34
Visiting Pak Khing - 2 http://esduren.multiply.com/journal/item/35
Peran Gambar dalam Buku Dongeng Anak http://komik.multiply.com/journal/item/2

Mengenai Lambiek
Luapan Semangat dan Enerji dari Kerkstraat, Amsterdam http://komik.multiply.com/journal/item/6




Tuesday, May 16, 2006

Luapan Semangat dan Enerji dari Kerkstraat, Amsterdam



Kerkstraat adalah sebuah jalan kecil yang memotong Leidsestraat, jalan besar menuju Leidseplein yang merupakan salah satu tempat tujuan para wisatawan di Amsterdam, di mana terdapat gedung-gedung teater, ratusan bar, café dan restoran. Di sekujur Kerkstraat pun terdapat beberapa restoran, galeri seni, hotel, tempat penyewaan sepeda, dan berbagai tempat menarik lainnya. Di jalan kecil inilah sebuah toko komik kecil bernama Lambiek mulai berdiri dan kemudian berkembang hingga memperoleh reputasi sebagai salah satu toko komik yang terlengkap di Belanda. Tak sekedar menjual komik, Lambiek pun memiliki ruang galeri dan juga mengoleksi memorabilia antik (yang berhubungan dengan komik/strip) dan karya-karya asli para komikus tenar.

Photobucket - Video and Image Hosting
Suasana Leidsestraat yg selalu dipenuhi wisatawan

Para profesional, penggemar dan pemerhati di bidang komik dan cergam, terutama yang telah mengenal Lambiek, pasti selalu mengasosiasikan toko tersebut dengan seorang Kees Kousemaker (63). Kees adalah sosok di balik seluruh kesuksesan Lambiek, bahkan dapat dikatakan merupakan personifikasi, bentuk jiwa-raga dari Lambiek dan seluruh aktivitas seputar Lambiek. Kees muda yang sebelumnya berprofesi sebagai guru gambar di Haarlem, kemudian melanjutkan studinya ke bidang Bahasa Belanda di Utrecht, memang senang berburu dan mengumpulkan berbagai komik dan cergam, baik baru maupun bekas. Setelah melewati masa wajib militernya, pada tahun 1968 Kees membuka toko Lambiek bermodalkan uang tabungannya sendiri. Tabungan Kees saat itu, sejumlah 2000 Gulden, masih dapat melunasi biaya sewa ruang (sebesar 129 Gulden/bulan - yang termasuk murah, bahkan untuk masa itu) dan biaya pembuatan rak dan perabot lain-lainnya, yang dibuat sendiri dari kayu bekas dengan bantuan teman-temannya. Kees memilih nama “Lambiek” untuk tokonya, yang berasal dari salah satu tokoh pada cergam seri Suske & Wiske dari Belgia (yang bisa dibilang merupakan satu-satunya seri ‘baru’ yang populer kala itu). Kees mengambil tokoh Lambiek karena asosiasi tokoh tersebut dengan bir dan perangainya yang agak ceroboh, yang dianggapnya mirip dengan dirinya (Kees) sendiri – terutama dalam hal ‘kenekatan’nya mendirikan toko komiknya tersebut. Di samping itu, pada masa itu orang senang menyebut toko mereka dengan istilah boutique (misalkan brood boutique untuk bakery, atau toko roti), jadi nama Lambiek pun pas bersajak dengan kata “boutique”. Salah satu motivasi terkuat Kees untuk mendirikan Lambiek adalah tidak adanya toko yang mengkhususkan ke komik/ cergam pada masa itu. Toko-toko buku besar sangat jarang menampilkan komik, sementara kios-kios rokok dan koran hanya menyediakan sedikit jenis majalah komik dan cergam.

Photobucket - Video and Image Hosting
Kees muda saat memasang papan nama toko di lokasi pertama Lambiek, Kerkstraat 104

Photobucket - Video and Image Hosting
Saat pembukaan Galerie Lambiek: (ki-ka) Evelien Kousemaker, Kees Kousemaker, Willy Vandersteen, pencipta seri Suske & Wiske

Meskipun tak pernah secara khusus memasang iklan, Lambiek sering mendapat publikasi gratis, baik dari mulut ke mulut maupun melalui media massa yang jumlah dan variasinya masih sangat terbatas. Antara lain adalah ketika acara peresmian Lambiek yang dihadiri oleh Willy Vandersteen (pencipta seri Suske & Wiske yang berasal dari Belgia) pada tanggal 8 November 1968 yang diliput oleh stasiun televisi Belanda. Kala itu hanya ada tiga saluran untuk seluruh negeri Belanda, sehingga dengan mudah kabar mengenai Lambiek, toko komik pertama di Belanda, tersebar ke seluruh pemirsa televisi di Belanda. Lambiek memang merupakan pelopor di bidangnya, sebab setelah didirikan, dengan segera bermunculan banyak toko di Belanda dan Eropa yang juga mengkhususkan diri di bidang komik/ cergam, memorabilia dan pernak-pernik komik lain.

Photobucket - Video and Image Hosting
Dalam sebuah seri Agen 327, Ijzerbroot digambarkan lewat di depan Lambiek

Pada awal masa berdirinya, Lambiek hanya menampilkan koleksi pribadi milik Kees. Para penggemar komik yang sering mengunjungi Lambiek, menjadikan Lambiek tempat berkumpul dan bergaul. Kees pun sering berinisiatif untuk mengadakan acara semacam sesi tanda tangan para komikus, atau perayaan penerbitan (ulang) suatu album komik; kegiatan yang masih berlangsung hingga kini. Peminat komik makin besar, sejalan dengan bertambahnya jumlah dan variasi komik di pasaran, dan koleksi Lambiek pun bertambah. Sehingga pada tahun 1980, toko pertama Lambiek di Kerkstraat nomer 104, yang hanya berupa sebuah ruang bawah tanah, pindah ke lokasi barunya ke nomer 78, ke sebuah ruang yang lebih besar di jalan yang sama. Saat itu dunia komik sedang mencapai masa jayanya, terus berkembang dan memiliki banyak penggemar setia, sehingga aktivitas pada Lambiek pun tak pernah mereda. Toko di lokasi yang baru ini diresmikan dengan nama Galerie Lambiek.

Photobucket - Video and Image Hosting
Sebuah gimmick reklame milik Lambiek yg mengundang banyak masalah (berkenaan dengan aturan tata kota) karena ditempatkan di tikungan antara Leidsestraat dan Kerkstraat. Kini gimmick tsb. ditempatkan tepat di depan toko.

Sehubungan dengan galerinya ini, yang mulai dibuka pada tahun 1986, Kees tidak ingin mengecilkan istilah “galeri” dengan sekedar memasang hasil cetakan silkscreen dan gambar-gambar komik pada dinding. Salah satu tujuan galeri ini adalah mengeksplorasi wilayah yang tak terdefinisi antara komik/ strip dan lukisan seni murni. Hal ini dibuktikan dengan pameran perdana saat pembukaan galeri, di mana ditampilkan berbagai karya dari para kontributor majalah Raw. Pers dan masyarakat umum dikejutkan oleh karya-karya yang ditampilkan, dan Eropa pun mulai menemukan seni komik/strip eksperimental. Ironisnya, Galerie Lambiek meraih reputasi lebih besar di luar Belanda, bukan di Belanda sendiri dengan dunia seninya yang konservatif. Semenjak itu, pameran-pameran di Galerie Lambiek berlanjut dengan berbagai jalur eksperimental, antara lain menampilkan Peter Pontiac (pencipta novel grafis Kraut) yang memamerkan lukisan-lukisan unik yang dibuatnya di lembaran-lembaran kardus berukuran besar, Pascal Doury dan Bruno Richard (para pencipta majalah Elles sont de sortie; Doury sendiri adalah seniman underground/comix yang tenar dengan karyanya Pornographie Catholiqie di majalah Raw) yang menggarap karya-karya mereka langsung pada saat pameran, dan André Franquin (pencipta tokoh-tokoh komik terkenal Marsupilami dan Gaston) yang menggunakan foto-foto untuk memperbesar sketsa pensilnya menjadi lukisan abstrak selebar dinding, dengan warna-warna mengejutkan.

Photobucket - Video and Image Hosting
Suasana interior Lambiek di Kerkstraat 78, karya Peter Pontiac, yg menampilkan beberapa tokoh komik terkenal. Kees terlihat sedang duduk membaca, sementara Klaas berdiri melayani seorang pelanggan. Para 'pelanggan' adalah tokoh2 komik terkenal di Belanda.

Sementara itu, Galerie Lambiek juga tetap mengoleksi berbagai sketsa dan lay-out asli (pre-produksi sebuah album cergam) hasil kerja para komikus tenar. Kees menganggap sketsa dan lay-out tersebut adalah bagian dari suatu proses produksi, yang sebagian besar dibuat untuk memenuhi target tenggat waktu dan permintaan klien maupun pasar. Sketsa dan lay-out untuk album cergam bukanlah curahan emosi, intuisi, dorongan bereksperimen atau penuangan kreativitas sepenuhnya, sehingga jarang yang dapat disebut sebagai karya seni, meskipun tampilannya tak kalah menarik. Karya-karya asli yang merupakan proses komik jarang dapat terjual, meskipun harganya tidak terlalu mahal. Sebagai gambaran, harga sebuah sketsa pensil dari Will Eisner (pencipta seri Spirit dan perintis novel grafis dengan karyanya A Contract with God) ‘hanya’ berkisar antara 300 hingga 400 Euro, sementara sebuah lukisan dapat mencapai harga ribuan Euro.

Photobucket - Video and Image Hosting
'Poster' Lambiek karya beberapa komikus

Photobucket - Video and Image Hosting
Sketsa Will Eisner untuk Lambiek

Galerie Lambiek telah banyak dikunjungi para komikus terkemuka di dunia. Mereka datang untuk berbagai acara, seperti sesi tanda tangan, peluncuran (ulang) album baru, atau hanya sekedar mampir di waktu senggang. Sebuah buku tamu tebal yang selalu tersedia telah terisi oleh coret-coretan gambar dan komentar dari para pengunjung, yang dengan sendirinya merupakan koleksi yang sangat berharga. Pertemanan Kees dengan para tokoh komikus ini, ditambah pula dengan Galerie Lambiek-nya yang telah melegenda, berakibat pada pengabadian lokasi Lambiek di Kerkstraat 78 dan Kees Kousemaker sendiri sebagai elemen dan tokoh pada beberapa komik/ cergam, poster, dan sebagainya, antara lain oleh Peter Pontiac dan Martin Lodewijk (pencipta Agent 327).

Photobucket - Video and Image Hosting
Tim Lambiek

Para pengunjung baru Lambiek dapat dengan tenang mengeksplorasi isi toko, begitu banyak koleksi yang dapat dilihat. Para pengunjung tetap pun tak akan bosan, karena setiap kali datang, pasti akan ada hal baru yang menarik. Klaas Knol, seorang personel senior Lambiek, selalu jeli melihat dan dapat merekomendasikan dengan tepat pilihan album komik/ cergam pada para pelanggan. Koleksi Lambiek memang melingkupi banyak aliran pada komik/ cergam, mulai dari keluaran penerbit besar hingga karya-karya underground maupun indie/ independent (patut dicatat bahwa Lambiek adalah toko komik pertama yang mendukung dan bersedia menjual komik-komik underground dan independent baik yang berasal dari Belanda maupun luar Belanda). Di Lambiek tak jarang pula dijumpai album-album cergam ternama dalam berbagai bahasa, yang menjadi sasaran para kolektor. Koneksi Lambiek yang tersebar begitu luas sempat juga menjadi berkah bagi sekelompok komikus Indonesia, yang melalui kontak dengan Lambiek telah membuahkan hasil konkret, berupa partisipasi dalam Stripdagen Haarlem (sebuah ajang komik/cergam terbesar di Belanda yang diadakan di Haarlem setiap dua tahun), dengan menampilkan pameran komik Indonesia bertajuk Madjoe! pada tahun 2002. Lambiek bahkan meminjamkan koleksi berharganya untuk disertakan dalam pameran “Madjoe!” tersebut: beberapa eksemplar koran tua yang penuh berisi komik/strip, yang diterbitkan di Hindia-Belanda pada tahun 30-an.

Photobucket - Video and Image Hosting
Interior Lambiek di Kerkstraat 78

Photobucket - Video and Image Hosting
Beberapa koleksi memorabilia komik milik Lambiek

Lambiek membebaskan para pengunjungnya menikmati koleksi mereka (buku/album yang disegel hanyalah yang masuk kategori antik), bahkan menyilakan para pelanggan tetap untuk membawa pulang (setelah membayar) komik baru yang mereka pilih untuk dibaca di rumah, dan boleh segera dikembalikan ke Lambiek bila ternyata tidak suka. Hubungan semacam ini memang membuat Lambiek lebih dari sekedar sebuah toko dan galeri, dan menciptakan pengalaman berinteraksi lebih dari sekedar hubungan pembeli dan penjual. Mereka dapat membuat semua pelanggan merasa nyaman dan diterima dengan baik sebagai kawan. Mungkin ini lah salah satu faktor yang membuat orang-orang selalu menyempatkan diri untuk mampir, walaupun hanya untuk sekedar bertukar sapa dengan para personel Lambiek.

Photobucket - Video and Image Hosting
Interior Lambiek di Kerkstraat 119 - toko perpindahan sementara yg memang sangat sempit - sebelum akhirnya mereka pindah di lokasinya yg sekarang, Kerkstraat 132

Sangat disayangkan, gedung tua yang ditempati Lambiek di Kerkstraat 78 mulai menampakkan kerapuhannya, sehingga mengakibatkan kerusakan pada banyak komik koleksi Lambiek. Sebagian besar komik baru yang terkena sedikit kerusakan karena kelembaban terpaksa dijual dalam kotak khusus bertuliskan vocht schade (= humidity damage), dengan harga yang sangat miring. Menjelang akhir tahun 2003, Lambiek dihadapkan pada dua pilihan: untuk pindah ke tempat baru, yang berarti memerlukan banyak sekali biaya, atau menutup bisnisnya sama sekali, yang berarti merupakan kehilangan besar bagi dunia komik internasional.
Setelah berdiri sebagai toko komik tertua di Belanda, bahkan Eropa, selama puluhan tahun dan tetap bertahan, sangat disayangkan bahwa Lambiek tidak mendapat dukungan apapun dari pemerintah Belanda. Titik lokasi Lambiek di Amsterdam yang telah seringkali dikunjungi oleh ribuan pelanggan setianya, baik dari dalam maupun luar Belanda, ternyata tidak layak dianggap sebagai landmark kota Amsterdam. Sehingga, bila ingin terus bertahan, Lambiek harus mengandalkan usaha dan tenaga sendiri. Dan memang itulah yang dilakukan Kees, Klaas dan teman-temannya untuk terus mempertahankan eksistensi Lambiek.

Kabar baik terdengar melalui De Reporter, jurnal online yang dikeluarkan Lambiek melalui situs Internetnya, bahwa toko Lambiek memang akan ditutup di lokasi Kerkstraat 78, namun akan dibuka kembali di Kerkstraat 119 - sebuah ruang kecil yang letaknya nyaris berseberangan dengan lokasi sebelumnya. Pada masa perpindahan ini, Lambiek mengumumkan berbagai korting dari koleksinya pada situs Lambiek di Internet. Foto-foto dari berbagai sudut toko legendaris ini segera diabadikan, termasuk sebuah dinding penuh coretan para tamu yang akan juga dihancurkan bila interior gedung tua ini benar-benar dibongkar untuk direnovasi.
Sekitar April 2004, Lambiek dibuka kembali di Kerkstraat 119. Ruang di lokasi ini jauh lebih kecil dari sebelumnya; hanya berupa lorong panjang di mana terdapat rak-rak buku, kotak etalase dan berbagai poster dalam pigura menutupi seluruh bagian dinding. Namun hal ini tidak berlangsung terlalu lama. Kabar baik terdengar lagi melalui De Reporter edisi Desember 2004, bahwa Lambiek akhirnya akan pindah ke lokasi yang lebih luas: Kerkstraat 132. Lokasi baru ini masih di jalan yang sama, nyaris berseberangan dengan lokasi sempit di nomer 119. Kabar lain menyatakan bahwa Bas van der Zee, seorang anak muda, telah menjadi pengurus baru dari Lambiek, sementara Kees Kousemaker masih akan terus memegang pengawasan Lambiek.

Photobucket - Video and Image Hosting
Bas, berpose di tengah2 proses renovasi ruang cikal bakal galeri Lambiek

Tanggal 28 Januari 2005 merupakan hari pembukaan Lambiek di lokasi terbarunya, di mana perayaan dan sekaligus penyambutan tahun baru dilangsungkan. Para teman-teman lama dan pengunjung setia Lambiek sangat senang ketika menemukan bahwa di lokasi ini terdapat ruang yang luas, di mana terdapat ruang untuk sebagian besar buku, dan terdapat pula ruang bawah tanah yang dapat dimanfaatkan sebagai galeri, dengan sebuah ruang kecil di sebelahnya sebagai kantor. Aktivitas kembali berlangsung di Galerie Lambiek. Namun perjuangan untuk tetap bertahan menjadi makin sulit di era digital ini. Sebagian besar generasi muda lebih terbiasa bermain game pada komputer, menonton DVD, dan sibuk saling berkirim teks pada ponsel, dibandingkan dengan membaca album komik/ cergam. Media komik dan cergam tidaklah sepopuler dulu lagi; adalah tidak mudah bagi komik untuk bersaing dengan media hiburan lain, dan Kees pun menyadari hal tersebut.
Sehingga, seiring dengan perkembangan jaman, Kees memilih untuk berkonsentrasi pada database komikus pada situs Lambiek, yang dinamai Comiclopedia. Comiclopedia ini adalah prestasi Lambiek yang paling menonjol saat ini. Pada database itu terdapat lebih dari tujuh ribu nama komikus dari seluruh dunia, dilengkapi dengan data pribadi ringkas dan beberapa contoh karya masing-masing, dan Lambiek masih terus menerima masukan baru setiap harinya. Rencana Kees dalam waktu dekat adalah membuat bagian khusus untuk komikus Belanda pada situsnya. Situs Lambiek, yang dirintis sejak tahun 1994, kini dikunjungi sekitar 20.000 pengguna Internet per harinya. Dengan tingkat aktivitas sedemikian tinggi, mestinya mudah bagi Lambiek untuk memperoleh sponsor pada situsnya..Namun Kees kurang menyukai tambahan banner iklan pada situs ini, sehingga masih terus mempertimbangkan kemungkinan ini. Pada satu sisi, Kees ingin agar tampilan situsnya tetap sederhana dan bersih, bebas dari banner iklan. Namun pada sisi lain, situs Lambiek butuh pemasukan finansial terutama untuk membiayai hosting data yang makin membludak, di samping juga tentunya untuk membiayai Galerie Lambiek.

Photobucket - Video and Image Hosting
Ruang dalam Lambiek, memandang ke arah pintu. Di balik rak roket Tintin, terdapat anak2 tangga menuju ke lantai galeri dan kantor di lantai bawah.

Photobucket - Video and Image Hosting
Interior Lambiek di lokasinya sekarang, Kerkstraat 132. Ruang galeri dan kantor terdapat di lantai bawah.

Galerie Lambiek kini memegang peranan penting dalam dunia komik dan cergam di Belanda, bahkan di Eropa dan dunia. Situs Lambiek telah disewa untuk ditampilkan di Nederlands Stripmuseum (museum komik/strip Belanda) di Groningen, di mana Kees Kousemaker sendiri menduduki posisi sebagai salah seorang dewan penasehat. Kees mengakui bahwa sangatlah berat untuk menjaga reputasi Galerie Lambiek, tak hanya sebagai toko dan galeri, namun juga bahkan sebagai sentra budaya komik dan cergam di Eropa. Galerie Lambiek, dalam perjuangannya mencapai reputasi tersebut, akan selalu menjadi teladan bagi para pecinta dan profesional media komik dan cergam, di mana pun mereka berada.


Tita, Amsterdam, 19 Juni 2005


Photobucket - Video and Image Hosting
Kru Lambiek, saat hendak memindahkan papan nama dari Kerkstraat 78

Lambiek
Galerie, Stripwinkel & Antiquariaat
Kerkstraat 132
1017 GP Amsterdam
Tel +31 (20) 626 7543
Fax +31 (20) 620 6372
E-mail lambiek@lambiek.net
Website http://www.lambiek.net


Sumber teks dan foto:
- Wawancara dengan Kees Kousemaker
- Situs Lambiek http://www.lambiek.net
- Lambiek’s Almanac 1968 – 1993







Thursday, July 7, 2005

De Wereld van de Nederlandse Strip

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Comics & Graphic Novels
Author:Kees Kousemaker & Margreet de Heer
Hari ini di Lambiek ada peluncuran buku baru: De Wereld van de Nederlandse Strip: Groot knipselboek karya Kees Kousemaker dan Margreet de Heer. Kees Kousemaker adalah pendiri toko & galeri Lambiek, kolektor komik dan hingga kini menempati salah satu posisi utama di dunia komik/ seni sekuensial di Belanda. Margreet de Heer telah beberapa tahun bekerja di Lambiek antara lain sebagai webmaster, di samping juga memproduksi komik2nya sendiri dengan teknik fotokopi dan juga dalam bentuk online pada situsnya.

Berformat cukup besar (sedikit lebih besar dari A4) dengan hard cover, dengan isi sebanyak 160 halaman, buku ini memang agak berat ditenteng. Namun cakupan isinya pun sangat besar. Kousemaker dan de Heer memilah2 karya2 komikus Belanda di bawah lebih dari seratus tema random, dari Kera, Tukang Roti & Koki, Hippies, hingga Profesor, Mesin Waktu dan Perang Dunia II. Pada masing2 tema, dikumpulkan berbagai komik/strip yg mewakili tema tersebut, yang pernah diterbitkan dari th 20an hingga kini. Terdapat sedikit teks pengantar kumpulan klipping ini, yang menjabarkan sejarah dari masing2 klip yang ditampilkan.

Beberapa komik ini, terutama yang sempat diterbitkan dalam majalah mingguan bergambar Eppo di Indonesia ada akhir th 70an dulu, tentu sudah akrab dengan kita. Antara lain adalah Agen 327 karya Martin Lodewijk (di bawah tema Detektif, Senjata Api, dll), Sjimmie dari seri Sjors & Sjimmie karya Robert van der Kroft (di bawah tema Negro), Sang Jenderal karya Peter de Smet (di bawah tema Militer), dan masih banyak lagi. Sayang di bagian Sepak Bola tidak saya temukan Roel Dijkstra, dan tokoh Eppo atau Leonardo pun tidak ada. Ah, mungkin karena saya baru browsing dan belum baca dari depan ke belakang secara lengkap (jadi mungkin review ini akan saya tambahi lain kali, dengan daftar tokoh2 yg sudah dikenal di Indonesia). Terbitnya buku ini memerlukan usaha dan kerja keras (terutama dalam mengumpulkan dan menyeleksi karya2 yang pernah ada) dan jelas merupakan penghargaan bagi profesi komikus di negerinya sendiri.

Sementara ini, bintang 3,5 dulu dari saya. Review ini akan saya update bila saya sudah selesai baca seluruh isi buku :)

De Wereld van de Nederlandse Strip
Kees Kousemaker & Margreet de Heer
(c)Lannoo, 2005
ISBN# 90-5897-260-7

Friday, January 28, 2005

Official Opening of "Lambiek" Galerie, Stripwinkel & Stripantiquariaat




This evening (Friday 28 Jan 2005) was the opening of Lambiek at its new location at Kerkstraat, Amsterdam. I've been going to this place since I first came to Holland and lived in Eindhoven (I dropped by Lambiek everytime I came to Amsterdam, that is). That would be 1998. When I moved to Amsterdam (in 2000), of course I visited this place more frequently, at their original location, their very first store and gallery. I got acquinted with the people over there, who are always so helpful and resourceful - concerning comics and all that are relevant to it, of course. You'll see rightaway that they're the kind of people who knows what they're talking about.

My relationship with this place was most intense in the year 2002, when I and some Indonesian comic-artist friends were preparing "Madjoe!" - an Indonesian comics exhibition in The Netherlands - as a part of the Stripdagen Haarlem. Lambiek played a big role here, since we found our contacts, who made everything possible, through Lambiek website. Morerover, Lambiek has a collection of old Indonesian comics that are very rare and priceless; we've got the honor to be trusted and had the permission to borrow them for the exhibition.
Around the same year, Lambiek has also developed their website with a vast Comiclopedia: a list of comic artists from all around the world. I am truly amazed by their generousity in spreading information and knowledge concerning the comicstrip world.

Due to the damaging condition of the old building, they had to move for a while to a smaller space, still in the same street. But it didn't take long until they moved to this new, wider space, still in the same street! Coincidence or not, it must have taken a lot of efforts, hard works and an elaborate process to come to this point. Not only the point of accomplishing such a fortunate accommodation, but also to be able to survive for tens of years, to be trusted by customers - who usually turn to be regular 'droppers-by'.

Somehow I think that going to Lambiek has become an addiction for me: I feel secure to know that whenever I yearn for more, it's always be there, as reliable as ever.


Here's Lambiek website: http://www.lambiek.net
Here's a website about Madjoe! (it functions as an archive): http://komik.scriptmania.com/