Friday, October 13, 2006

Good-Bye, Chunky Rice

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Comics & Graphic Novels
Author:Craig Thompson
Apakah arti perpisahan? Apakah arti kesepian, dan arti persahabatan? Semua pertanyaan ini mendapat berbagai jawaban dalam Good-bye Chunky Rice. Kisah dalam buku ini dituturkan dalam bentuk gambar hitam-putih dan dialog2nya dikemas dalam gaya yg sangat bermain, yang ternyata malah menunjang keseriusan tema tsb. Tokoh2 utama, Chunky Rice dan Dandel, bahkan berwujud seperti kura-kura dan tikus, sementara tokoh2 lain berbentuk manusia biasa (tokoh2 berbentuk hewan yg lain - Merle dan Stomper - benar2 'berperan' sebagai hewan).

Chunky Rice suatu hari memutuskan utk pergi meninggalkan kampungnya di tepi laut, tempat ia tinggal selama ini. Ini berarti pula bahwa ia terpaksa berpisah dengan sobat karibnya, Dandel. Diantar oleh Solomon, tetangga se-apartemen, ia berangkat ke dermaga utk menjumpai kakak Solomon, Charles, seorang kapten kapal yg akan ditumpanginya. Awak kapal Charles saat itu hanyalah Eleanor (shipmate & housekeeper), Chunky, dan sepasang kakak-beradik kembar dempet, Livonia dan Ruth. Kapal pun berangkat meninggalkan pelabuhan, menjauh dari kampung di tepi laut, menuju samudera lepas.

Sangat mengagumkan bahwa plot sederhana tersebut ternyata mampu menampilkan banyak kejadian yang menguras emosi. Masing2 tokoh di sini memiliki seorang lain yang ia kasihi, dan (hampir) tak dapat terpisahkan. Solomon punya Merle, seekor burung yg ia piara sejak sayapnya rusak, yang disayanginya seperti ia menyayangi Stomper, anjing betina piaraannya semasa kecil. Livonia dan Ruth, si kembar dempet, tentu saja saling memiliki: menurut dokter yg menangani kelahiran mereka, terlalu banyak organ vital yg mereka pakai bersama, sehingga pemisahan secara fisik dapat mengakibatkan kematian keduanya. Charles memiliki kapal yg dibuatnya sendiri, dan tak terpisahkan dengan laut. Namun di balik ketangguhannya sebagai kapten kapal, Charles sebenarnya memiliki rasa kehilangan yg sangat mendalam terhadap Glenda, mendiang istrinya. Hubungan Chunky dan Dandel pun terlihat sangat lekat. Namun bagaimana ketika mereka akhirnya terpaksa juga menghadapi perpisahan?

Sejak ditinggal Chunky, Dandel setiap hari pergi ke pesisir pantai utk menatap lautan luas yg membawa pergi Chunky. Ia selalu melemparkan botol berisi surat (berupa goresan krayon warna-warni, tanpa kata2) ke arah laut, hari demi hari. Ketika terpisah dari Merle, ekspresi kesedihan Solomon (yg masih merasa bersalah atas nasib Stomper dan anak2nya) nyaris membawa mautnya. Perpisahan dapat berakibat fatal, bagaikan yg dapat terjadi pada ikan bila dipisahkan dari air. Perumpamaan tersebut digambarkan dengan sangat indah oleh Thompson menjelang berakhirnya kisah ini.

Thompson memang mampu dengan lihai menggunakan gambar utk bermain dengan waktu. Ambil contoh ketika Solomon mengambil gerobak kecil utk mengangkut barang2nya ke kapal: Chunky harus menunggu sebentar di beranda rumah. Halaman berikut menampilkan pemandangan yg dilihat Chunky: dalam keadaan berurutan, namun bagian2nya tetap bersambungan dalam bingkai utama. Atau ketika pertama kalinya Chunky berjumpa dengan si kembar dempet Livonia dan Ruth di atas kapal. Si kembar mengamati Chunky dengan intensitas yang sama dengan pengamatan Chunky pada kondisi istimewa mereka, bagian demi bagian tubuh. Banyaknya variasi permainan waktu ini membuat saya betah lagi-lagi membolak balik halaman2 buku ini. Teks dan gambar saling mendukung dengan kompak, yang satu menunjang yang lain dengan susunan yang nikmat ditelusuri. Mungkin juga kisah ini adalah refleksi emosi Thompson sendiri yg kala itu baru mengalami perpindahan tempat dan perpisahan, namun justru di situ lah letak kekuatan buku ini: sederhana, namun dapat bermakna mendalam, karena keluar dari hati pembuatnya.

(gambar2 lain akan menyusul)

Good-Bye, Chunky Rice
(c) Craig Thompson, 2006
Pantheon Books
ISBN: 0375714766

12 comments:

  1. hayuk aja. tapi nyampenya di kamu bakal agak lama (low-season trafficker nih :D)

    ReplyDelete
  2. Wah craig thompson kan ilustratornya book of magic/book of faeries yag?

    ReplyDelete
  3. Kayaknya sedih yah bukunya? :((

    ReplyDelete
  4. bukan lex, dia ini yg bikin blankets (semi autobiografis), yg tebelnya lebih dari 600 halaman. ini situs dia: http://www.dootdootgarden.com/

    ReplyDelete
  5. Pasti.... tidak mungkin kau baca yg mushy2 macam Anita Cemerlang dan kawan2 :D :D :D

    ReplyDelete
  6. heheheheh.. sebangsa anita cemerlang mah, cerita hepi juga nadanya tetep mushy, gak tahaaan... =))

    ReplyDelete
  7. oh lex, yg maksudlu itu mungkin jill thompson: http://www.jillthompsonart.com/ ..yg sering bekerja sama juga dengan Neil Gaiman, dan bukunya yg The Little Endless Storybook pernah gue review juga :D

    ReplyDelete
  8. Oiya.... ngaco gua...hahahah... ketuker ama craig russell & jill thompson jadiin satu orang...hahahaha.... thank u yaw, ntar gua liat :D

    ReplyDelete
  9. Ventje.. anita cemerlang.. mengingatkan aku pada seseorang.. pengarang cerpen..

    Ta.. reviewnya lugas, bagus banget.. thanks for sharing

    ReplyDelete
  10. Hai salam kenal..
    Gambar dan ceritanya imut sekali bagus untuk dongeng yang mendidik..
    Sad sory..

    ReplyDelete