Showing posts with label sinterklaas. Show all posts
Showing posts with label sinterklaas. Show all posts

Saturday, December 2, 2006

Sinterklaas in Amsterdam




Photos from the day we chased Sinterklaas who 'just came from Spain with his steamboat'. A complete story can be found here (in Indonesian).

Sunday, November 19, 2006

Ngejar-ngejar Sinterklaas




Tadi siang kita keluar rumah bawa anak2 ke jembatan sungai Amstel utk menyambut Sinterklaas. Berangkat sekitar jam sebelas dari rumah naik sepeda, parkir di jembatan Mauritskade yg sudah rame dengan orang tua, anak2, dan Piet Hitam yg mondar mandir ngasih salam ke anak2. Bagian tengah pagar jembatan yg menghadap ke arah Selatan sungai Amstel (dari mana rombongan Sinterklaas bakal muncul) udah penuh manusia, jadi kita bisanya nempel ke pager jembatan yg agak pinggir. Sungai Amstel itu lebar sekali, jadi dari sudut mana pun pasti keliatan.

Photobucket - Video and Image Hosting

Pas kita dateng, ternyata rombongan pertama mulai keliatan. Kapal berisi Piet Hitam melaju ke arah kolong jembatan, sementara para penumpangnya melambai2 ke arah orang2 di atas jembatan. Makin lama jumlah kapal makin banyak, sampai menuh2in sungai. Banyak kapal berpenumpang Piet Hitam, ada yg berhias balon2, main musik, nyanyi2, dsb. Cuaca yg dingin-lembab nggak pengaruh ke keriaan anak2 dan para Piet Hitam yg joget2 terus. Selain kapal2 Piet Hitam, ada kapal2 dan sekoci2 yg lebih kecil, isinya keluarga dan anak2 yg ikut meramaikan pelayaran sepanjang sungai Amstel ini.
Kapal uap Sinterklaas datang! Di kejauhan terlihat jembatan Nieuwe Amstel terbuka, rombongan kapal di sungai makin padat. Ada kapal polisi mendahului, disusul kapal2 polisi yg lebih kecil, lalu kapal2 Piet Hitam lagi.. lalu kapal uap besar! Mendekati jembatan, si kapal uap memamerkan suaranya sambil mengepulkan uap putih.. TOOOOOAAAAT..

Photobucket - Video and Image Hosting

Jembatan tempat kita berdiri pun siap2 dibuka supaya kapal uap itu bisa lewat. Orang2 menyingkir ke pinggir jembatan sambil terus melambai2 ke arah Sinterklaas dan para Piet Hitam. Ini yg pertama kalinya buat Lindri, jadi dia excited banget melambai2 terus sambil senyum2. Dhanu ekspresinya lebih serius dan dia lebih suka cari2 detail (Piet yg itu punya terompet! Ada Sinterklaas kecil!). Iya, banyak anak2 kecil yg ikutan nunggu Sinterklaas itu pada pakai kostum Piet Hitam atau Sinterklaas, lengkap setopi2nya.

Rombongan kapal lewat jembatan Mauritskade, sambil sekali lagi membunyikan peluit dan menyembur uap, sementara jembatan setelah Mauritskade (Hoge Sluis) mulai terbuka utk memberi jalan lanjutan buat konvoi air ini. Kita langsung ke sepeda, mbuka kunci2nya lalu naikin anak2 lagi sambil nunggu jembatan Mauritskade nutup lagi. Terus kebut sepeda ke arah Nieuwe Herengracht, di mana kita bisa menghadang rombongan itu lagi. Banyak orang lain berencana spt kita, jadi para orang tua yg naikin anak2nya ke sepeda atau bakfiets (sepeda-becak) juga pada buru2 ke arah situ. Sampai di Nieuwe Herengracht, sudah banyak juga orang di sepanjang kanal itu, tapi rombongan Sinterklaas belum lewat.
Segera parkir sepeda, lalu kita bergabung dengan orang2 di pinggir kanal. Kanal ini tentunya lebih sempit dari sungai Amstel, makanya kapal2 yg tadi mendahului kapal uap Sinterklaas harus satu persatu melewati jembatan mungil. Dari dekat begini, anak2 bisa lebih jelas melihat isi kapal2 yg tadi lewat sungai Amstel. Satu kapal penuh Piet Hitam yg main musik, satu kapal sekeluarga sambil piknik, satu kapal polisi, dua kapal Piet Hitam pura2 tabrakan, dst.

Photobucket - Video and Image Hosting

Ketika musik makin rame dan nyanyian mulai kenceng, berarti kapal uap makin mendekat. Jembatan mungil mulai terbuka, lalu kapal polisi besar tadi lewat lagi. Kapal2 polisi yg lebih kecil sibuk mengatur jalannya kapal2 kecil lain. Kapal Piet Hitam lagi, lalu si kapal uap! Lindri dan Dhanu masih aja terkesima, sampe lupa melambai2kan tangan. Tapi tampangnya pada penuh kekaguman semua. Pandangan mata mengikuti iring2an kapal2 dari jembatan mungil, terus mengikuti kanal menuju arah Timur (lewat Hortus Botanicus) menuju Scheepvaartmuseum (Museum Maritim) Amsterdam. Di sana Sinterklaas akan turun dari kapal, disambut oleh walikota Amsterdam, sebelum melanjutkan perjalanan keliling kota dengan kuda. Habis melambai di Nieuwe Herengracht kita nyepeda pulang; waktu itu sekitar jam 1 siang.

Sampai rumah, semua lapar, apalagi habis nyepeda dan berdingin2 di luar. Aku bikin lentilsoup (tapi terus diambil Dhanu jadi bikin pumpkin soup juga), makan roti pakai paté, lalu ngomputer sebentar. Lindri mestinya tidur, tp dia nggak mau.. akhirnya dia sama Dhanu nonton TV aja sehabis makan siang. Syb bilang, jam 3 sore Sinterklaas bakal tiba di Leidseplein, jadi bisa kita hadang di Wetering Plantsoen sekitar jam setengah tiga. Ini deket banget dari rumah, bunderan di antara Ferdinand Bolstraat dan Vijzelstraat yg kelihatan dari Heineken Museum (cuma keclek satu kanal, Singel gracht).
Sekitar jam 2 siang, anak2 dibungkus2 lagi pakai jaket, scarf dan boots. Kali ini pakai sarung tangan juga, sebab cuaca mendingin. Malah sebelum kita keluar, sempet gerimis rata sebentar. Untungnya segera berhenti dan matahari malah mulai bersinar pas kita keluar rumah, naik sepeda. Kita nyepeda ke arah Stadhouderskade, terus nyebrang Singel gracht, sampai di bunderan Wetering Plantsoen dan parkir di situ. Jalan2 tram dan mobil sudah di-blok supaya orang2 dan pejalan kaki bisa bebas berkeliaran. Daerah di dekat halte tram sudah penuh orang, jadi kita jalan kaki ke arah Vijzelstraat, cari tempat yg agak kosong.

Photobucket - Video and Image Hosting

Lumayan rame juga, banyak anak2 main2 di jalur tram sambil nunggu Sinterklaas. Ada beberapa polisi berjaga2, dan Piet Hitam yg berkeliaran - ada juga gabungan keduanya: Piet Hitam yg bertugas jadi polisi pengaman (atau sebaliknya, polisi yg pake baju Piet Hitam), pakai kostum Piet Hitam dengan rompi polisi tp tulisannya "Pietzie", bukan "Politzie".
Mendekati jam setengah tiga, rombongan pertama datang. Orang2 dan anak2 mulai tertib jejer lagi mepet pagar. Awal2 ada grup marching band, main musik dan berkonfigurasi sepanjang jalan; kostumnya belang2 item-putih. Diikuti beberapa marching band lain, yg semua anggotanya berdandan spt Piet Hitam. Dari awal sampai akhir ini banyak sekali Piet Hitam berjalan kaki, bagi2 pepernoot & snoep ke anak2 di pinggir jalan. Juga bagi2 balon dan bendera. Mereka suka iseng juga, jadi tudung jaket Dhanu diem2 terisi banyak pepernoot, saku celana Lindri juga tau2 penuh pepernoot. Abis kalo ditawarin, anak2 ini ngambilnya dikit, Lindri cuma ngambil satu butir pepernoot saben disodorin segenggam, dan Dhanu selalu malu2 nadahin tangannya. Padahal anak2 kecil lain di sekitar kita pada bawa tas plastik besar, standar buat belanja di Dirk atau Albert Heijn! Hahaha..

Photobucket - Video and Image Hosting

Habis marching band, banyak lagi mobil2 yg lewat, terutama mobil2 hias. Ada yg bertema jaman batu dengan mammoth, kaisar Roma, mobil musik. meriam raksasa (yg menembakkan permen), dll. Ada badut, Piet Hitam yg naik unicycle, otopet, dll. Akhirnya rombongan Sinterklaas mendekat. Diawali dengan konvoi Piet Hitam berkuda. Kudanya macem2, tapi semuanya bersih dan gagah, meskipun jenis yg kecil. Rombongan kuda ini sempet berhenti sebentar di depan kita, sebab belakangnya (kuda Sinterklaas) masih ketahan. Pas depan kita kuda Flemmish plough horse, yg rambutnya lebat sampe kaki2nya spt pake boots tebal berbulu2. Sayang film di kameraku udah abis (huhhh).
Setelah rombongan kuda2 ramah ini, kuda putih yg ditunggangi Sinterklaas lewat, Sinterklaas sibuk melambai2 dan kadang2 menyalami anak2 di pinggir jalan. Setelah Sinterklaas lewat, rombongan Piet HItam yg menunggangi kuda tinggi hitam (Frisian horse yg gagahnya minta ampun) menutup seluruh iring2an.


Photobucket - Video and Image Hosting

Selewatnya mereka, kita (dan orang2 lain) mulai bubaran. Lindri mulai ngantuk tapi masih senyum2 sendiri sambil bawa bendera. Dhanu sibuk menghitung perolehan sore itu (pepernoot dan snoep dari tudung jaket, dari topinya yg ditadahin, dan dari sakunya Syb) Waktu kita jalan menuju tempat sepeda2 diparkir, ada temen Dhanu, Govert, lewat dibonceng ibunya. Kita ngobrol2 sebentar sambil nontonin Sinterklaas dari kejauhan yg masih sibuk melambai2 ke penonton di sekitar Wetering Plantsoen, sebelum belok sepanjang Weteringschans utk menuju Leidseplein. Di situ kita ketemu temen Dhanu satu lagi, Nan, dengan orang tuanya.

Dari situ kita bubaran pulang; Govert ikut kita ke rumah sebab dia mau main dengan Dhanu. Sampe rumah, Lindri langsung minta tidur (sambil tetep menggenggam benderanya). Pas aku ngetik ini, Govert dan Dhanu sedang sibuk membangun2 Duplo sambil narok2 binatang2 mini di atasnya, kompleks rumah2an kayu, rel kereta, dsb (semua mainan itu dicampur, jadi satu koloni). Sekian cerita penghadangan Sinterklaas hari ini. Foto2 yg diambil sendiri akan menyusul (sebab harus cuci-cetak-scan dulu sebelum bisa upload.. :D)

Foto2: ngambil dari Wikipedia dan situs Sint in Amsterdam 2005

Monday, December 5, 2005

Dag, Sinterklaasje.. dag, Zwarte Piet!




Dec 5th, the birthday of St. Nicholas, is one of the most anticipated days here in Holland, especially for children. This is the day they get presents, along with all the novelties of the year that come with the Sinterklaas tradition: chocolate letters, pepernot, speculaas, finding your shoes filled with snoep (sweet treats) every morning you wake up, greeting Sinterklaas and his Piets when they just get off the boat (from Spain), greeting Sinterklaas who parades on his white horse..

This year Dec 5th is on Monday. People go to work as usual, but supermarkets are closed early (at 18:00 instead of the usual 22:00) and schools are arranging special programs. Today, De Community School (where Dhanu goes) arranged a Sinterklaas meeting at Hemonyplein (a square nearby the school) at 08:30. Unfortunately, rain poured down heavily around that hour, the appointed square was empty, so parents and children arrived at the school building, looking a bit anxious.
I stayed with Dhanu, when the teachers were trying to improvise the program. They should have had a B-plan, considering the uncertain weather nowadays. I took Dhanu upstairs (to his classroom) so he could hang his jacket and put his backpack. Nobody was allowed into the classroom, but some peeked to see a stack of big presents in the middle of the classroom!

These youngest kids of the school (class 1 to 4) were then gathered in the sport hall, all sitting on blue mattresses. Older students (class 5 to 8) waited in their classrooms. Some of them were wearing the costume of Zwarte Piet (a cap and a cape), some Sinterklaas' cape and high hat. Parents and teachers stood around the walls and at the back of the hall.
The principal of the school, helped by a teacher (Dhanu's class teacher, Meester Joeri), led the children to sing Sinterklaas songs, while the Sinterklaas himself entered the room, accompanied by two Zwarte Piets. The kids were excited and could hardly sit still. Sinterklaas brought a bad news, that his bags full of presents (for the kids) were stolen! They have to find the bags, quickly!

The kids were then divided into two: class 1-2 to the theater hall, while class 3-4 stayed at the sport hall. I went along Dhanu's classmates to the other hall. Between the two halls, stands a counter (a reception desk and a kitchenette to serve tea/coffee/cup soup). Some bigger kids were hanging around the counter, pointing and shouting, "We have found the thieves! They're here!".

In the theather hall, the kids were seated on low wooden benches, parents on plastic seats. More singing, Sinterklaas and his two Piets entered the room, then the "thieves" story continued. The kids were so excited they couldn't sit on the bench, they stood and danced, their faces full of anticipation and eagerness. They were sweet, though, obediently raising their hand when about to say something, eventhough some shoutings were heard now and then.
Soon, the 'thieves' were caught (two men dressed in Dalton Brothers' kind of stripey prison uniform). Presents were revealed from 'behind the blue doors' (the storage room of the theater hall). Then Sinterklaas started to call some of the kids to sit on his lap - not all, because he's old and tired, he said. He was given a book of 'report' of these children. Sweet, these kids: they came forward and sat on Sinterklaas' lap and sang when asked to sing, answering all the questions. Getting off his lap, the kids received a handful of pepernoten from Zwarte Piet, to be eaten together with friends.

At about 10:00. Sinterklas left, while the children sang the "Dag Sinterklaas" song for him. They danced, jumped and sang happily, then were led to their classrooms. We parents were still following them into the classroom, where the seats were arranged to form a big circle. In the middle of the circle, was a pile of presents, boxes of the same size.
Meester Joeri explained that Sinterklaas has left these presents for them, and each kid may pick one present for him/herself. Once everyone got their present, they unwrapped them at the same time. Everybody got the same thing: a catapult game with plastic tree and monkeys. We left not long afterwards, then came back to pick up the kids at 12:00 already.

Tonight, we still have to make a surprise for Dhanu and Lindri. We had to make it as if Sinterklaas himself came and left a bunch of presents for us. The presents are now hidden in the laundry room, and I've cooked up a plan with Syb of how to go about it. Allright, time to move on.. dinner, and then the 'theater'.. hee hee. See you!

(One of the children's songs for Sinterklaas:)

"Zie ginds komt de stoomboot
uit Spanje weer aan.
Hij brengt on Sint-Nicolaas,
ik zie hem al staan.
Hoe huppelt zijn paardje
het dek op en neer,
hoe waaien de wimpels
al heen en al weer."



Image: from St. Nicholas Center