
Tadi siang kita keluar rumah bawa anak2 ke jembatan sungai Amstel utk menyambut Sinterklaas. Berangkat sekitar jam sebelas dari rumah naik sepeda, parkir di jembatan Mauritskade yg sudah rame dengan orang tua, anak2, dan Piet Hitam yg mondar mandir ngasih salam ke anak2. Bagian tengah pagar jembatan yg menghadap ke arah Selatan sungai Amstel (dari mana rombongan Sinterklaas bakal muncul) udah penuh manusia, jadi kita bisanya nempel ke pager jembatan yg agak pinggir. Sungai Amstel itu lebar sekali, jadi dari sudut mana pun pasti keliatan.

Pas kita dateng, ternyata rombongan pertama mulai keliatan. Kapal berisi Piet Hitam melaju ke arah kolong jembatan, sementara para penumpangnya melambai2 ke arah orang2 di atas jembatan. Makin lama jumlah kapal makin banyak, sampai menuh2in sungai. Banyak kapal berpenumpang Piet Hitam, ada yg berhias balon2, main musik, nyanyi2, dsb. Cuaca yg dingin-lembab nggak pengaruh ke keriaan anak2 dan para Piet Hitam yg joget2 terus. Selain kapal2 Piet Hitam, ada kapal2 dan sekoci2 yg lebih kecil, isinya keluarga dan anak2 yg ikut meramaikan pelayaran sepanjang sungai Amstel ini.
Kapal uap Sinterklaas datang! Di kejauhan terlihat jembatan Nieuwe Amstel terbuka, rombongan kapal di sungai makin padat. Ada kapal polisi mendahului, disusul kapal2 polisi yg lebih kecil, lalu kapal2 Piet Hitam lagi.. lalu kapal uap besar! Mendekati jembatan, si kapal uap memamerkan suaranya sambil mengepulkan uap putih.. TOOOOOAAAAT..

Jembatan tempat kita berdiri pun siap2 dibuka supaya kapal uap itu bisa lewat. Orang2 menyingkir ke pinggir jembatan sambil terus melambai2 ke arah Sinterklaas dan para Piet Hitam. Ini yg pertama kalinya buat Lindri, jadi dia excited banget melambai2 terus sambil senyum2. Dhanu ekspresinya lebih serius dan dia lebih suka cari2 detail (Piet yg itu punya terompet! Ada Sinterklaas kecil!). Iya, banyak anak2 kecil yg ikutan nunggu Sinterklaas itu pada pakai kostum Piet Hitam atau Sinterklaas, lengkap setopi2nya.
Rombongan kapal lewat jembatan Mauritskade, sambil sekali lagi membunyikan peluit dan menyembur uap, sementara jembatan setelah Mauritskade (Hoge Sluis) mulai terbuka utk memberi jalan lanjutan buat konvoi air ini. Kita langsung ke sepeda, mbuka kunci2nya lalu naikin anak2 lagi sambil nunggu jembatan Mauritskade nutup lagi. Terus kebut sepeda ke arah Nieuwe Herengracht, di mana kita bisa menghadang rombongan itu lagi. Banyak orang lain berencana spt kita, jadi para orang tua yg naikin anak2nya ke sepeda atau bakfiets (sepeda-becak) juga pada buru2 ke arah situ. Sampai di Nieuwe Herengracht, sudah banyak juga orang di sepanjang kanal itu, tapi rombongan Sinterklaas belum lewat.
Segera parkir sepeda, lalu kita bergabung dengan orang2 di pinggir kanal. Kanal ini tentunya lebih sempit dari sungai Amstel, makanya kapal2 yg tadi mendahului kapal uap Sinterklaas harus satu persatu melewati jembatan mungil. Dari dekat begini, anak2 bisa lebih jelas melihat isi kapal2 yg tadi lewat sungai Amstel. Satu kapal penuh Piet Hitam yg main musik, satu kapal sekeluarga sambil piknik, satu kapal polisi, dua kapal Piet Hitam pura2 tabrakan, dst.

Ketika musik makin rame dan nyanyian mulai kenceng, berarti kapal uap makin mendekat. Jembatan mungil mulai terbuka, lalu kapal polisi besar tadi lewat lagi. Kapal2 polisi yg lebih kecil sibuk mengatur jalannya kapal2 kecil lain. Kapal Piet Hitam lagi, lalu si kapal uap! Lindri dan Dhanu masih aja terkesima, sampe lupa melambai2kan tangan. Tapi tampangnya pada penuh kekaguman semua. Pandangan mata mengikuti iring2an kapal2 dari jembatan mungil, terus mengikuti kanal menuju arah Timur (lewat Hortus Botanicus) menuju Scheepvaartmuseum (Museum Maritim) Amsterdam. Di sana Sinterklaas akan turun dari kapal, disambut oleh walikota Amsterdam, sebelum melanjutkan perjalanan keliling kota dengan kuda. Habis melambai di Nieuwe Herengracht kita nyepeda pulang; waktu itu sekitar jam 1 siang.
Sampai rumah, semua lapar, apalagi habis nyepeda dan berdingin2 di luar. Aku bikin lentilsoup (tapi terus diambil Dhanu jadi bikin pumpkin soup juga), makan roti pakai paté, lalu ngomputer sebentar. Lindri mestinya tidur, tp dia nggak mau.. akhirnya dia sama Dhanu nonton TV aja sehabis makan siang. Syb bilang, jam 3 sore Sinterklaas bakal tiba di Leidseplein, jadi bisa kita hadang di Wetering Plantsoen sekitar jam setengah tiga. Ini deket banget dari rumah, bunderan di antara Ferdinand Bolstraat dan Vijzelstraat yg kelihatan dari Heineken Museum (cuma keclek satu kanal, Singel gracht).
Sekitar jam 2 siang, anak2 dibungkus2 lagi pakai jaket, scarf dan boots. Kali ini pakai sarung tangan juga, sebab cuaca mendingin. Malah sebelum kita keluar, sempet gerimis rata sebentar. Untungnya segera berhenti dan matahari malah mulai bersinar pas kita keluar rumah, naik sepeda. Kita nyepeda ke arah Stadhouderskade, terus nyebrang Singel gracht, sampai di bunderan Wetering Plantsoen dan parkir di situ. Jalan2 tram dan mobil sudah di-blok supaya orang2 dan pejalan kaki bisa bebas berkeliaran. Daerah di dekat halte tram sudah penuh orang, jadi kita jalan kaki ke arah Vijzelstraat, cari tempat yg agak kosong.

Lumayan rame juga, banyak anak2 main2 di jalur tram sambil nunggu Sinterklaas. Ada beberapa polisi berjaga2, dan Piet Hitam yg berkeliaran - ada juga gabungan keduanya: Piet Hitam yg bertugas jadi polisi pengaman (atau sebaliknya, polisi yg pake baju Piet Hitam), pakai kostum Piet Hitam dengan rompi polisi tp tulisannya "Pietzie", bukan "Politzie".
Mendekati jam setengah tiga, rombongan pertama datang. Orang2 dan anak2 mulai tertib jejer lagi mepet pagar. Awal2 ada grup marching band, main musik dan berkonfigurasi sepanjang jalan; kostumnya belang2 item-putih. Diikuti beberapa marching band lain, yg semua anggotanya berdandan spt Piet Hitam. Dari awal sampai akhir ini banyak sekali Piet Hitam berjalan kaki, bagi2 pepernoot & snoep ke anak2 di pinggir jalan. Juga bagi2 balon dan bendera. Mereka suka iseng juga, jadi tudung jaket Dhanu diem2 terisi banyak pepernoot, saku celana Lindri juga tau2 penuh pepernoot. Abis kalo ditawarin, anak2 ini ngambilnya dikit, Lindri cuma ngambil satu butir pepernoot saben disodorin segenggam, dan Dhanu selalu malu2 nadahin tangannya. Padahal anak2 kecil lain di sekitar kita pada bawa tas plastik besar, standar buat belanja di Dirk atau Albert Heijn! Hahaha..

Habis marching band, banyak lagi mobil2 yg lewat, terutama mobil2 hias. Ada yg bertema jaman batu dengan mammoth, kaisar Roma, mobil musik. meriam raksasa (yg menembakkan permen), dll. Ada badut, Piet Hitam yg naik unicycle, otopet, dll. Akhirnya rombongan Sinterklaas mendekat. Diawali dengan konvoi Piet Hitam berkuda. Kudanya macem2, tapi semuanya bersih dan gagah, meskipun jenis yg kecil. Rombongan kuda ini sempet berhenti sebentar di depan kita, sebab belakangnya (kuda Sinterklaas) masih ketahan. Pas depan kita kuda Flemmish plough horse, yg rambutnya lebat sampe kaki2nya spt pake boots tebal berbulu2. Sayang film di kameraku udah abis (huhhh).
Setelah rombongan kuda2 ramah ini, kuda putih yg ditunggangi Sinterklaas lewat, Sinterklaas sibuk melambai2 dan kadang2 menyalami anak2 di pinggir jalan. Setelah Sinterklaas lewat, rombongan Piet HItam yg menunggangi kuda tinggi hitam (Frisian horse yg gagahnya minta ampun) menutup seluruh iring2an.

Selewatnya mereka, kita (dan orang2 lain) mulai bubaran. Lindri mulai ngantuk tapi masih senyum2 sendiri sambil bawa bendera. Dhanu sibuk menghitung perolehan sore itu (pepernoot dan snoep dari tudung jaket, dari topinya yg ditadahin, dan dari sakunya Syb) Waktu kita jalan menuju tempat sepeda2 diparkir, ada temen Dhanu, Govert, lewat dibonceng ibunya. Kita ngobrol2 sebentar sambil nontonin Sinterklaas dari kejauhan yg masih sibuk melambai2 ke penonton di sekitar Wetering Plantsoen, sebelum belok sepanjang Weteringschans utk menuju Leidseplein. Di situ kita ketemu temen Dhanu satu lagi, Nan, dengan orang tuanya.
Dari situ kita bubaran pulang; Govert ikut kita ke rumah sebab dia mau main dengan Dhanu. Sampe rumah, Lindri langsung minta tidur (sambil tetep menggenggam benderanya). Pas aku ngetik ini, Govert dan Dhanu sedang sibuk membangun2 Duplo sambil narok2 binatang2 mini di atasnya, kompleks rumah2an kayu, rel kereta, dsb (semua mainan itu dicampur, jadi satu koloni). Sekian cerita penghadangan Sinterklaas hari ini. Foto2 yg diambil sendiri akan menyusul (sebab harus cuci-cetak-scan dulu sebelum bisa upload.. :D)
Foto2: ngambil dari Wikipedia dan situs Sint in Amsterdam 2005