Showing posts with label bandung. Show all posts
Showing posts with label bandung. Show all posts

Wednesday, November 21, 2012

"Gaiman" is less sensible, compared to "Pamuk"

This blog was originally posted on January 16, 2009, but somehow wasn't included when I migrated my esduren.multiply.com to titalarasati.blogspot.com. So here goes, below, complete & unabridged.
Oh- and this is the post that actually 'introduced' me to Twitter, thanks to a comment (copied below). And so the snowball rolled on...

===========

At least, that's the case in the "specialties" list of Reading Light's menu. A Neil Gaiman coffee is "ice black coffee, fresh milk, peanut butter, hazelnut syrup, cinnamon & cold froth" while an Orhan Pamuk is "hot cappuccino with a special mix of kapulaga (Amomum cardamomum), clove & cinnamon". I've had a curiosity since I first read the menu and finally had the chance to taste that weird Gaiman today. Just as I thought: imagine drinking a peanut-butter sandwich that was soaked in cold coffee, crushed ice and liquid sugar. Even David Sedaris seemed like a more tempting option, however childish it may sound ("orange juice, lemon juice, fresh milk & vanilla ice cream").

Moving on to our dish: I had chicken sandwich, which was quite decent. Other than the usual diced, boiled chicken slathered in mayonaise, this one came filled with layers of 'chicken bologna' of some sorts. Yummy. However, next time, I would ask them to skip the chili sauce.

And what about our book-shopping spree for today? I've scored two hard cover Alice in Wonderland books, both published by Random House in 1946! I really like the illustration technique and appearance; Syb said it could even be hand-colored (I'll post a review as soon as time permits...). Syb did the rest of the rummaging and found several other books to his content, while I continued working on my papers with my MacBook. We happily skimming our books while enjoying our lunch in that cool place, unwinding before our next tasks called.

Our afternoon jaunt ended quite pleasantly. We got book discount from using a card (instead of cash) to pay, and food discount from having a membership card (and there's actually a complimentary drink, too, for members). The shop attendant informed us that they'll have a treat on the occasion of the Chinese New Year: there will be a bonus (an ang pau, she said) for every purchase of book about (or related to) China. Shall we go again in two weeks, then, and see what the ang pau is? :)

More photos can be viewed in an album with the same title.


====================
[COMMENT]

phronk wrote on Jan 17, '09:
The Neil Gaiman coffee sounds like it would be delicious if it was hot, but cold? Weird. I tried peanut butter in coffee myself a while ago and it was actually pretty tasty.
P.S. Do you know that Neil Gaiman himself linked here in his Twitter? (!)
 
me:
I agree! I asked for a hot version, but they couldn't provide that :|
I didn't know about his Twitter, but I just saw the post at his blog(!) :"> 
 
 

Saturday, December 11, 2010

[klipping] Ayo "Ngomik" dengan Gambar, Gambar dan Gambar

Ayo "Ngomik" dengan Gambar, Gambar, dan Gambar
Sabtu, 11 Desember 2010 | 03:22 WIB

OLEH DWI BAYU RADIUS

Sekembalinya dari studi di Belanda, Tita Larasati (37) sekeluarga mengalami gegar budaya. Pekan pertama, dua anak Tita dengan gembira menyantap nasi, makanan yang tidak selalu disajikan di Belanda. Namun, setelah itu, mereka bosan. ”Bueeh...,” ujar mereka seraya menyingkirkan sepiring nasi.

Di Bandung, Tita juga harus menghadapi masalah transportasi, hewan menggelikan seperti cicak, kecoak, tikus, dan tentu saja birokrasi yang menyebalkan. Cuplikan kisah tentang keseharian Tita dituangkan dalam berlembar-lembar naskah dan sketsa komik dalam pameran Bandung Indie Comic Now di Institut Teknologi Bandung (ITB) awal Desember ini.

Tita, yang belajar ke Belanda untuk menyelesaikan jenjang S-2, saat ini bekerja sebagai Dosen Jurusan Desain Produk, Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB. Ke mana pun ia pergi, buku gambar tidak pernah tertinggal di tasnya sebagai media untuk membuat komik tentang aktivitas Tita.

Sementara itu, komik After Dark karya Azisa Noor (23) mengisahkan dua orang asing secara terpisah yang berjalan kaki di Bandung pada malam hari. Ada peristiwa aneh yang mereka temui seperti mendengar suara tangisan ketika melewati Babakan Siliwangi, melihat badak di Jalan Badaksinga, dan bertemu perempuan Belanda dengan iring-iringan rombongan putri kerajaan.

”Komik itu memang terinspirasi dari cerita teman-teman saya yang mengalami kejadian serupa,” ujar Azisa yang saat ini fokus mengerjakan komik.

Erick Sulaiman (30) yang berprofesi sebagai artis tekstur menggambarkan gambar satir tentang rutinitas Jakarta yang kerap dilanda banjir. Dikisahkan, aktor tenar Kevin Costner datang ke Jakarta pada tahun 2012 untuk pengambilan gambar sekuel film Water World. Busway diganti dengan boatway; penggemar sepeda menggenjot perahu kayuh; dan pengemis mengenakan peralatan selam.

Motivasi

Ketua Panitia Bandung Indie Comic Now Fahriza Luzan menuturkan, awal sebuah komik bisa berasal dari naskah atau gambar. Sangat mungkin ide itu didapat dari aktivitas sehari-hari. Faktor terpenting, tuangkan saja ide itu bila sudah ditemukan jika akan diekspresikan dalam bentuk komik.

”Ayo ngomik. Kalau dapat inspirasi, gambar saja. Ketemu pengamen, gambar. Lihat kebakaran, gambar. Ada tabrakan, gambar. Gambar, gambar, gambar saja...,” ujar Fahriza.

Bagi Tita, faktor paling menarik dari pembuat komik adalah motivasinya. Meski alasan mereka bisa berbeda-beda, terdapat kesamaan bahwa semua punya pesan yang ingin disampaikan. Pembuat komik juga membutuhkan saluran untuk mengeksplorasi gaya komik masing-masing.

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Manajemen Desain Komunikasi, Institut Manajemen Telkom, Imansyah Lubis, menjelaskan, meski semakin banyak generasi muda yang tertarik membuat komik, profesi komikus di Indonesia perlu lebih dihargai.

”Komikus yang diapresiasi dengan baik biasanya malah membuat komik untuk perusahaan di luar negeri. Masalah itu butuh dukungan dari publik lokal juga,” katanya.

Komikus Sweta Kartika menjelaskan, banyak rekan komikus yang mencoba memamerkan dan menyebarluaskan komik buatan mereka melalui jalur independen atau indie. Promosi komik yang diterbitkan major label pun masih dikerjakan komikus sendiri.

”Komikus masih harus bergerilya dan bekerja bakti memasarkan karyanya,” katanya.

Komik Jepang dan Amerika masih mendominasi rak toko buku. Selain itu, komik juga belum sepopuler buku bacaan lain, seperti novel dan nonfiksi. Pemerintah, selaku pelaksana program membaca, pun belum terlalu melihat komik sebagai bacaan yang penting.

”Saat ini kebanyakan pengembang komik lokal adalah pihak swasta. Itu pun lebih terkonsentrasi pada bisnis, bukan idealisme,” katanya.

Saturday, September 25, 2010

Sketches from the Climate Change Action Training




How did I spend the day of Bandung's the 200th anniversary? By participating in a Climate Change Action Training, initiated by The Climate Project Indonesia and the Environmental Engineering Dept. of ITB. Here are my doodles during the presentations, which I did to help me memorize everything better.

Monday, September 13, 2010

How Come & First Times




"How Come" is a two-page story, "First Times" twelve, but in Indonesian. All stories are true, they really happened.

Sunday, July 18, 2010

[launching] KIDSTUFF, 24 Juli 2010

Peluncuran graphic diary KIDSTUFF, Sabtu 24 Juli 2010 mulai pk.16:00 di Galeri Padi, Dago 329 (detail ttg buku dan acaranya ada di 'lampiran' posting ini). Bagi yang berada di Bandung dan sekitarnya Sabtu sore itu, mampir yuuuk. Acara akan dimoderatori oleh Bu Riama Maslan, dosen DKV FSRD ITB, dan diramaikan oleh PidiBaiq sebagai salah satu pengisi buku tersebut.

Sampai jumpa Sabtu depan!



Oh iya, sudah mulai bisa pesan online lho, gratis ongkos kirim ke Jakarta & Bandung. Harga per bukunya Rp 39.000,-  
Berikut ini detail cara pemesanannya:

1. Kirim email pemesanan ke titalarasati@gmail.com atau ronielectric@gmail.com
2. Lampirkan bukti pembayaran (transfer)
3. Buku bakal dikirim setelah bukti pembayaran dikirim via email
4. Pembayaran (transfer) melalui:

Rek. BCA

438-137-0997
a.n Roni Amdani
BCA cab. Burangrang

Sunday, February 7, 2010

Dhanu's 9th, Officialy 37, etc.




A bit of updates. The last one isn't my drawing; it's a gift from my new friends in Yogyakarta when I visited last Thursday.

Sunday, January 3, 2010

Middelbare Akte




Foto2 dari acara pembukaan pameran "Middelbare Akte" di Galeri Soemardja, ITB (30 Desember 2009), yg menampilkan gambar2 karya mahasiswa, dosen dan alumni Seni Rupa ITB sejak tahun 1950an hingga kini. Pamerannya berlangsung hingga tanggal 16 Januari 2010.

Wednesday, December 2, 2009

[klipping] Desainer, Jawaban Persoalan Sampah

Kompas Jawa Barat, 30 November 2009

Desainer, Jawaban Persoalan Sampah
Youth Waste Digelar di Mal PVJ

Senin, 30 November 2009 | 15:45 WIB

Bandung, Kompas - Persoalan sampah sebetulnya bisa diatasi para desainer lewat pendekatan kreatif. Para desainer harus mengubah pendekatan lama dengan mengedepankan desain yang mampu bertahan lama, bahkan kalau bisa menggunakan bahan daur ulang.

Hal tersebut mengemuka dalam acara bincang-bincang "Upcycle Vs Downcycle" yang digelar dalam rangka acara Youth Waste, Sabtu (28/11) malam di mal Paris van Java (PVJ). Hadir sebagai pembicara, dosen Institut Teknologi Bandung, Dwinita Larasati; arsitek lulusan ITB, Yu Sing dan Ridwan Kamil; serta aktivis lingkungan hidup, M Bijaksana Junerosano.

"Pada tahun 1960-an profesi desainer produk disebut sebagai profesi paling berbahaya setelah teroris. Sebab, mereka menghasilkan sampah demikian besar. Keusangan dari produk yang mereka hasilkan sebetulnya telah direncanakan agar masyarakat terus membeli yang baru," tutur Dwinita Larasati, dosen bidang desain berkelanjutan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB.

Dahulu setiap produk memiliki karakter desain downycle, yang artinya lambat laun produk itu memiliki keusangan dan hanya menjadi sampah. Namun, dengan tekanan yang kian besar akibat kondisi lingkungan hidup dewasa ini, desain harus bisa menyesuaikan diri. "Mahasiswa semakin sadar bahwa yang mereka ciptakan nantinya memiliki konsekuensi terhadap lingkungan hidup di sekitarnya," ucapnya. Menurut Dwinita, desain ramah lingkungan di pasaran umumnya lebih mahal 20-30 persen dibandingkan dengan produk sejenis.

Namun, dalam beberapa tahun ke depan, harganya akan sama karena didesak kebutuhan. "Green product seharusnya bukan lagi tren, melainkan sudah jadi kebiasaan baru kita," tuturnya.

Menurut Ridwan Kamil, desain adalah simbol peradaban. Sampah bisa menjadi barang-barang berharga yang menunjang estetika jika dikemas dalam desain menarik. Hal ini dibuktikannya sendiri dengan menjadikan 30.000 botol bekas kemasan minuman berenergi sebagai salah satu material yang menghiasi rumahnya.

"Orang kreatif bisa melihat sampah sebagai potensi," tutur Ketua Bandung Creative City Forum ini. Dalam kesempatan ini, ia menekankan pentingnya prinsip kolaborasi dalam pengembangan desain ramah lingkungan. Kolaborasi ini, misalnya, antara desainer dan musisi atau desainer bersama arsitek.

Rumah dari sampah

Tindakan konkret menjadikan sampah sebagai benda yang upcycle atau dapat dimanfaatkan juga dilakukan Yu Sing, arsitek lulusan ITB. Ia membuat rumah dengan material bekas. Genteng-genteng sisa atau potongan kayu digunakan sebagai dinding.

"Dinding bisa menjadi seperti mozaik, kumpulan beragam jenis bahan material. Tidak perlu cat karena warna asli di bahan itu sudah cukup baik," kata penulis buku Mimpi Rumah Murah yang kini tengah mendesain model rumah kolaborasi di Jakarta.

Menurut Junerosano, masyarakat tidak lagi bisa menunda kebiasaan hidup berwawasan lingkungan. "Ketika Kota Bandung makin panas, makin macet, dan banyak sampah, itulah saatnya kita bertindak. Mau menunggu apa lagi?" gugatnya.

Acara Youth Waste ini sengaja dilakukan di pusat-pusat perbelanjaan agar bisa menyadarkan generasi muda mengenai pentingnya hidup berdampingan dengan sampah. Dalam acara ini dipamerkan berbagai produk interior berbahan dasar sampah hasil desain mahasiswa ITB. (jon)


Friday, November 6, 2009

[klipping] Melongok Industri Kreatif Bangkok

Artikel di Pikiran Rakyat tgl 6 Nov ini adalah laporan dari delegasi CEN.bdg (Creative Entrepreneur Network - Bandung), Febby dan Ben, ketika mereka berpartisipasi dalam acara Creative Catalysts.

Melongok Industri Kreatif Bangkok

BANGKOK dikenal sebagai surga bagi para penggila belanja karena banyak sekali produk-produk, terutama fashion, yang ditawarkan dengan harga murah dan kualitas tingkat atas. Selain dikenal sebagai salah satu tujuan belanja di Asia, Bangkok sebelumnya juga dikenal sebagai kota yang aktivitasnya sangat padat. Tak heran, 10 tahun lalu kema-cetan menjadi hal yang lumrah di kota yang memiliki slogan "City of Life" ini.

Selain dikenal sebagai tujuan berbelanja, di bidang industri kreatif Asia pun Bangkok patut diperhitungkan eksistensinya, terutama dalam bidang desain. Salah satu bukti keseriusan Bangkok dalam hal ini adalah dengan menggelar Bangkok Desaign Festival selama bulan oktober 2009.

Kunjungan tim Bandung Creative City Forum yang diwakili oleh Departemen CEN (Creative Entrepreneur Network) dan difasilitasi oleh British Council Indonesia, merupakan kesempatan baik. Kesempatan ini merupakan sarana "brainstorming", dan semoga bisa diaplikasikan di kota Bandung yang sudah mendeklarasikan diri sebagai "kota kreatif" dan tergabung di antara sembilan kota di dunia dalam "Creaticities".

Satu hal mendasar yang membuat kami angkat topi terhadap Bangkok adalah keseriusan pemerintah kota. Pemerintah kota memfasilitasi berbagai kepentingan industri kreatif di Bangkok dengan tujuan untuk lebih membuat Bangkok lebih terkenal dan "berdaya jual" tinggi di Negara Asia, dan ujung-ujungnya meningkatkan kunjungan wisatawan ke kota ini.

Salah satu bukti keseriusan pemerintah Kota Bangkok adalah dengan mendirikan dan memfasilitasi TCDC (Thailand Creative & Desaign Centre) pada tahun 2004. TCDC didirikan di bawah kontrol dari "The Office of the Prime Minister" dan didanai oleh "The Bureau of the Budget" Thailand.

Maksud pendirian TCDC adalah sebagai pusat pengembangan desain dan pusat pengembangan produk yang diharapkan dapat meningkatkan daya saing Bangkok di dunia kreatif internasional. Penempatan letak TCDC pun sangat kreatif, yaitu memanfaatkan satu lantai di salah satu pusat perbelanjaan mewah di Bangkok, yaitu Emporium.

Hal ini memudahkan masyarakat untuk mengunjungi tempat tersebut, walaupun tidak direncanakan untuk mendatangi TCDC. Desain interior juga sangat menarik. Orang yang sebelumnya tidak tahu pun akan mencoba masuk dan mungkin berkelanjutan dengan memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang disediakan.

Fasilitas yang terdapat di TCDC selain mini store yang menampilkan berbagai produk kreatif pilihan karya anak-anak muda Bangkok, juga terdapat perpustakaan yang dilengkapi dengan teknologi canggih semacam komputer di setiap meja yang dilengkapi jaringan internet. Ada pula perpustakaan material yang dinamakan "Material Connexion", dan mempunyai jaringan di New York, Cologne, Daegu, dan Milan. Terdapat ruang auditorium super gadget yang bisa dimanfaatkan untuk se-minar-seminar, kafe di dalam perpusatkaan untuk sekadar melepas penat, sampai ruang permanen yang disediakan khusus bagi para seniman memajang karya-karyanya. Singkat kata, TCDC didirikan sebagai "playground of creativity".

Selain memiliki TCDC dalam hal pengembangan industri kreatif, Pemerintah Kota Bangkok juga memfasilitasi berdirinya BACC (Bangkok Art & Culture Centre). Dengan bangunan yang lebih besar dibandingkan dengan TCDC, BACC memiliki bangunan khusus. Tidak di dalam mal, tetapi terletak di pusat kota dan bersebelahan dengan salah satu mal terbesar di kawasan Siam Complex.

Dengan demikian, sekali lagi, sangat mudah untuk diakses dan diketahui oleh publik. BACC terdiri atas tujuh lantai yang di dalamnya terdiri atas ekshibisi area seluas 3000 meter persegi. Terdapat tambahan 1000 meter persegi area ekshibisi di lantai paling bawah dan auditorium di lantai lima yang mampu menampung 222 kursi. Semua didesain khusus untuk event-event musik dan film screenings. Di lantai empat terdapat experimental space untuk performing arts seluas 350 meter persegi. Sementara itu, multifunction hall terletak di lantai satu yang terdiri atas 250 tempat duduk yang bisa digunakan untuk konferensi, pertemuan komunitas, dan lain-lain.

Selain itu, di lantai bawah banyak art library yang menyediakan fasilitas internet dan kids corner. Bagi yang kecanduan dengan belanja, bisa memenuhi kebutuhan dengan mengunjungi lantai 1-4. Segala jenis produk yang berhubungan dengan kreativitas dan beberapa restoran kecil pun banyak tersedia di lantai tersebut.

Seketika saya dan Ben langsung ingat Bandung tercinta (yang dikenal sebagai "kota kreatif"). Yang bisa kami lakukan saat itu hanya mengurut dada dan menarik napas panjang sambil berharap mudah-mudahan di Bandung cepat tersedia tempat semacam BACC, semoga!

Tujuan pendirian BACC adalah untuk membentuk salah satu tempat bertemu pelaku industri kreatif. Menyediakan program-program kebudayaan sebagai salah satu sarana keberlangsungan komunitas dan sebagai tempat bertemunya masyarakat umum dengan pelaku industri kreatif di Bangkok. BACC dioperasikan oleh BACC Foundation dengan dukungan penuh Pemerintah Kota Bangkok dalam hal keuangan dan hal-hal lainnya

**

Banyak hal-hal baru yang tidak dapat kita jumpai di Bandung terjadi di kota ini. Mulai dari keberadaan industri kreatif sampai dengan fasi-litas-fasilitas publik lain yang disediakan pemerintah kota bagi warga dan wisatawan yang datang. BTS Skytrain adalah salah satunya. Selain bagi warga lokal, skytrain merupakan solusi yang sempurna bagi turis yang datang ke Bangkok untuk berwisata.

Selain itu, taman-taman kota pun didesain sangatlah menarik dan nyaman. Sebagian besar dilengkapi dengan danau buatan kecil, bangku-bangku taman, hingga lahan untuk bermain bola basket, bola voli, sepak takraw, dan skateboard. Pedagang kaki lima pun difasilitasi dengan sangat rapi sehingga tidak menimbulkan kesan kumuh bagi keberadaan taman-taman kota tersebut.

Kondisi taman kota yang sangat bertolak belakang dengan kenyataan yang terjadi di kota Bandung tercinta. Taman kota hanya berfungsi sebagai ruang terbuka hijau dan tidak dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat karena selalu dalam kondisi terkunci serta dikelilingi pagar, dengan alasan keamanan dan keter-tiban. Padahal kalau saja dibuat sistem yang tegas dan dikelola dengan baik, bukan hal yang tidak mungkin kondisi itu akan terjadi di Bandung.

Keberadaan taman kota dan ruang publik lainnya selain sebagai sarana ruang terbuka hijau,merupakan sarana bagi pelaku industri kreatif untuk berekspresi dengan imajinasi. Pada akhirnya, bukan tidak mungkin nilai-nilai ekonomi akan didapat dari kreasi tersebut, sehingga mampu sedikit mengurangi beban pemerintah yang kadang kesulitan mengurangi angka pengangguran.

Hampir mirip dengan kondisi yang terjadi di Indonesia pada umumnya, korupsi di Bangkok pun kerap terjadi dan sudah menjadi kebiasaan buruk. Namun ada satu perbedaan mendasar yang membedakan perilaku korupsi para pejabatnya dengan kondisi yang terjadi di negeri ini, yaitu masih adanya pembangunan yang dapat dirasakan langsung oleh rakyat. Kemajuannya pun dapat dilihat secara luas. Contohnya penyediaan skytrain untuk mengatasi masalah kemacetan. Walaupun baru tersedia dua jalur yang membelah kota Bangkok dan satu jalur MRT di bawah tanah, setidaknya kondisi kemacetan yang sudah parah sedikit bisa teratasi. Bayangkan kalau seluruh kota sudah dilengkapi jalur skytrain, mungkin tingkat penjualan motor dan mobil di Bangkok akan menurun drastis.

Anekdot seperti ini pun menjadi salah satu karya grafis yang dibuat salah satu komunitas desain Bangkok dan dipamerkan di BACC, dengan sebuah gambar peta kota Bangkok yang dipenuhi jalur skytrain dengan judul ITINC yang merupakan singkatan dari "If There Is No Corruption".

Banyak hal-hal menarik yang dapat diambil hikmahnya dari perjalanan "Creaticities" kali ini. Dengan kerja sama yang baik antara pemerintah kota, komunitas, dan para professional, serta sejenak mengesampingkan kepentingan-kepentingan politis yang bisa menghambat terjadinya kemajuan, bukanlah hal yang mustahil jika cita-cita sebuah kota kreatif yang nyaman dapat segera terwujud. Dengan demikian, hal itu dapat lebih meningkatkan lagi taraf perekonomian masyarakat melalui ekonomi kreatif dan meningkatkan PAD yang berasal dari industri kreatif. Maka, julukan "Bandung kota impian", di mana semua cita-cita tentang kota yang nyaman hanyalah mimpi, dapat mempunyai arti yang sejati. Semoga…! (Febby Arhemsyah)***


 

Saturday, October 31, 2009

SEVEN: Draw Your Days!



WHAT IS "SEVEN"?
An event held by CAB, a publisher who concentrates on graphic diary, where everyone can participate. It's where everyone can draw his or her days, one page each day, for seven consecutive days.

WHO CAN PARTICIPATE?
Basically anyone. You don't have to be an artist or someone who's good at drawing. As long as you are eager to tell your stories in words as well as drawings, you're in!

IS THERE ANY THEME?
The drawings can be day-to-day happenings during the week, dreams, desires, or whatever comes to mind when your pen hits the paper (or the tablet).
Optionally - especially for those in Bandung - since this first SEVEN is held during Helarfest2009, it would also be nice if the keywords of your drawings include "creativity" and "Bandung".

WHEN?
All participants are to start their drawings on Nov 7. One page for one day, until Nov 14. In total, everyone will have 7 pages of drawings.
On Nov 15 we'll gather for a small exhibition, an informal discussion session and the launch of the new CAB website.

WHERE?
All works will be displayed online, so there's no 'real' place. But you are most welcome to arrange the event in your own communities or cities.
(In Bandung, the venue for Nov 15 gathering will be informed as soon as it is confirmed)

HOW?
If you'd like to participate, you are encouraged to upload your drawings on your own Blogs, which will be linked to CAB website. Alternately, you can also send your drawings to CAB [email drawyourdays@gmail.com], to be uploaded on CAB website.

More detailed information, coming up!



Click here to access SEVEN at Facebook



*HOW, EXACTLY?*
1. Go on with your day as you normally would on Nov 7
2. At the middle- or the end of the day, record anything that you think worth memorizing, or simply noting down.
3. The 'note' can be in the form of drawings, collage, clips from magazines, receipts and ticket stubs, anything! It could also be a digital drawing.
4. The length of the 'note' - or, let's say, your "graphic diary" - can be one page for each day
5. Upload the page on your own website or blog (please send us the URL so we can link it to CAB website) -OR- scan and send the page to CAB, to this address drawyourdays@gmail.com
6. Repeat daily, until Nov 14, so each of you would have made 7 pages
7. Enjoy! :)

*BAGAIMANA CARANYA?*
1. Jalankan keseharian seperti biasa pada tanggal 7 Nov
2. Catatlah peristiwa, pemikiran, impian hari itu, yang berkesan dan dirasa patut dikenang
3. 'Catatan' tersebut dapat berupa gambar, kolase, potongan majalah, bon dan karcis, apapun! Bisa juga berupa gambar digital.
4. Panjangnya 'catatan' tersebut - atau "graphic diary" tersebut - cukup sebanyak satu halaman
5. Upload halaman tersebut di situs atau blog masing-masing (tolong beritahu URLnya agar bisa ditautkan ke situs CAB) -ATAU- scan dan kirimkan halamannya ke CAB, ke alamat drawyourdays@gmail.com
6. Ulangi setiap harinya hingga tanggal 14 Nov, jadi setiap orang akan membuat 7 halaman
7. Selamat menikmati! :)

Saturday, October 24, 2009

24HCD09




The International 24 Hour Comics Day challenge happened on October 3. I made the first 13 pages but couldn't make it to 24 that day due to lots of happenings (2 guests, 1 outing, 1 shopping trip). I continued until the last page reeeally slowly and was determined to finish it up on Oct 24: The International Climate Action Day!

These pages were all made spontaneously, without prior sketches and/or storyboards, so please apologize any misspelling of names and/or organizations, and if the story is a bit jumbled and not well-structured.

Thursday, August 27, 2009

[klipping] CEN, Jejaring Wirausahawan Kreatif

Pikiran Rakyat 27 Agustus 2009

Creative Entrepreneur Network (CEN), Jejaring Wirausahawan Kreatif

Biar kuat dan solid, membentuk jejaring adalah keharusan. Itu pula yang mendasari pembentukan Creative Entrepreneur Network (CEN-BDG) sebagai sebuah jejaring komunikasi dan informasi antarpelaku industri kreatif di Bandung. Kawan-kawan Kampus yang bergiat di industri kreatif, simak nih bahasan berikut ini!

CEN sendiri adalah tindak lanjut atas program kerja Bandung Creative City Forum (BCCF) yang berupaya mewujudkan Bandung menjadi kota kreatif yang bisa berkompetisi secara global. CEN yang telah diluncurkan pada Mei 2009 lalu di Selasar Sunaryo, Bandung, bertujuan memperkuat networking antarpelaku industri kreatif. Dengan berjaring, diyakini akan ada percepatan sehingga usaha lebih cepat berkembang.

Dituturkan koordinator CEN Tita -panggilan akrab Dwinita Larasati-, melalui CEN para pelaku industri kreatif dapat memanfaatkan hubungan jaringan antarpelaku kreatif sendiri. "Tujuan sebenarnya menjadi pusat atau link yang bisa nyambung-nyambungin orang. Misalnya, ada yang perlu desainer, ilustrator, animator, storyboardmaker, atau apa pun, kadang kan susah nyarinya, nah di sini bisa didapat informasinya," kata Tita, yang juga seorang komikus, pada Kampus.

Di Bandung, pelaku industri kreatif terhitung banyak,tetapi belum semuanya bisa terdeteksi dan saling terhubung, sebab masing-masing berusaha sendiri dan gerilya. Tak sedikit anak muda turut berkecimpung di dalamnya. Makanya, Tita mengatakan bahwa CEN lebih banyak menyasar pada anak muda. "Misalnya saja di lingkungan saya di FSRD. Sejak masih kuliah, sudah banyak mahasiswa yang coba-coba berkreasi sesuatu dan berbisnis. Produknya bagus, tetapi yang tahu hanya teman saja, dan pemasaran mereka seperti salesman. Akan lebih baik kalau mereka bisa berkembang dengan berjejaring lebih luas," kata Tita, yang juga staf pengajar prodi Desain Produk FSRD ITB.

Selain menyusun database yang nantinya akan menjadi direktori, CEN juga akan menggelar sejumlah program rutin, di antaranya diskusi, pameran, dan pengembangan jaringan pemasaran secara online. Tita mengungkapkan, diskusi yang rencananya akan digelar tiga bulan sekali itu akan membahas beragam tema. "Kemarin tentang surviving crisis, ke depan bisa saja membahas animasi, komik, musik, dll.," katanya.

Febby Lorentz, project officer CEN, menuturkan bahwa meski CEN memfokuskan pada Bandung, jaringannya akan bersinggungan pula dengan mitra potensial di kota lain di Indonesia, regional Asia, hingga internasional. Jejaring ini terbuka keanggotaannya bagi para pebisnis pemula, pengusaha kecil, hingga perusahaan besar. "Sekarang lagi disusun database-nya. Paling tidak kini sudah ada 70-an yang tergabung," kata Febby.

Sayangnya, sebab terkendala kesibukan pengelolanya, sejak peluncuran CEN hingga kini, situs web CEN yang beralamat di www.cen-bdg.com belum beroperasi. "Mudah-mudahan bulan depan sudah bisa," kata Febby. Situs web tersebut rencananya akan menampung database pelaku industri kreatif di Bandung. Dengan demikian, masyarakat umum pun bisa mencari dan mengaksesnya sendiri. "Termasuk orang-orang dari luar negeri juga bisa ikut lihat," kata Febby.

CEN diniatkan menjadi komunitas wirausahawan industri kreatif yang sinergis. Bagi yang berminat bergabung, bisa mendaftar pada situs web-nya, atau sementara ini bisa bergabung pada grup Facebook-nya. "Pencatatan database itu sudah dimulai, dan tidak akan selesai karena akan di-update terus," kata Tita. Nanti semua informasi berjalan di situs web. Selain database, ada juga informasi edukasi dan artikel-artikel yang membahas pengetahuan yang berhubungan dengan bisnis atau industri kreatif," kata Febby. ***

dewi irma
kampus_pr@yahoo.com


Tuesday, July 14, 2009

Syb's B'day




It was last Sunday, at Tony Roma's Bandung for lunch. And at home, later in the evening, for our second dessert: chocolate cake from Magic Oven.

Wednesday, July 8, 2009

Central Java Trip 2009

[Just a note to self, which perhaps can also be helpful for others]
We have booked all accommodations beforehand from Bandung, based on Internet search and (friends/family) recommendations. One of our kids just got back from a camping trip; he was still exhausted and didn't feel well along the way. Both kids are very particular about food; therefore we could only make meal stops at places that meet their 'requirements'.        

DAY 1 | Wednesday, July 1st | Bandung – Baturraden

Departing around 10:30 from home, Bandung (with a rented car & driver).
Stopped for lunch at RM Gentong (nearby Tasikmalaya), spending 149,250 IDR for oxtail soup, fried rice, beef satay, fries, milkshakes, fruit punch, orange juice and iced tea. It’s a nice, spacious place plus a small playground.
Arriving in Baturraden at about 18:00, spent the night at Rosenda Cottage (300,000 IDR per night, incl. breakfast). Nice view to the mountains from the balcony, a nice and clean establishment, quite near to the Baturraden Park. Recommendable.
Had a ‘room service’ dinner (Restaurant Warung Gunung): 219,000 IDR for cream soups, sweet and sour chicken, chicken in butter sauce, spaghetti bolognese, white rice, orange juice, ice lemon tea and beer.

RM Gentong
Jl. Raya Gentong no. 16
T 0265 455572
Ciawi Tasikmalaya

Rosenda Hotel & Cottages (3 stars)
Jl. Pariwisata, Baturraden, Indonesia
T 0281 681570 (3 lines)
F 0281 681571
W http://hotelrosenda.blogspot.com/


DAY 2 | Thursday, July 2nd | Baturraden – Temanggung


Breakfast came in three choices: toast, porridge or fried rice. I shouldn’t have taken the sad porridge (it was just like eating wet rice, very undefined) and had the toast instead. Taking a walk at the Park (entrance fee: 5,000 IDR per person) after breakfast, then departed at about 09:00 from the cottage.
Had lunch at a Chinese restaurant, Murni Rasa. in Wonosobo. Everything was delicious, but the winner (in taste and price) was gurami asam manis. Other dishes were corn-crab soup, beef kangkung, white rice, ice lemon tea, lemon juice and orange juice. Total damage: 144,000 IDR. The restaurant also sells local specialties: carica (slices of young papaya brimming in sweet syrup), kacang dieng, dried fried mushrooms, etc.
Proceeded to Temanggung, arrived at Indraloka Hotel at about 16:00. We stayed in a room with twin beds for 200,000 IDR/night, plus an extra bed (70,000 IDR) and a driver’s room (100,000 IDR). The room is clean, but a ‘semi-indoor garden’ adjacent to the toilet/shower room looks a bit weird because it’s empty (only cement floor and artificial stone walls) and dark (no lamp).
Dinner was at the hotel’s restaurant, Daunmas: 117,000 IDR for fries, salad, sandwich, chicken cordon bleu, es kopyor, ice tea, lychee juice, coffee and beer.  

Wr. Makan Murni Rasa
Jl. A. Yani no. 122A, Wonosobo
T 0286 321659

Hotel Indraloka
Jl. Suwandi Suwardi no.3
Temanggung
T 0293 491392, 491710


DAY 3 | Friday, July 3rd | Temanggung – Salatiga


After a buffet breakfast, we walked to an old playground adjacent to the hotel, which turns out to have a swimming pool as well. Kids spent a while playing here during the morning, before we left the hotel at about 09:30.
Visiting Mas Singgih at his workshop Piranti Works, where he and his team produce Magno wooden radio. http://www.wooden-radio.com/
Had an exquisite lunch at Kampung Sawah, sitting in a bamboo hut next to a rice field, facing Sindoro mountain: grilled ribs, crispy-fried gurame, iced drinks, etc.  Courtesy of Mas Singgih and family ☺  

After lunch, we continued our trip to Salatiga, arriving at LeBeringin Hotel at about 16:00. Our room was in the new part of the hotel. Located at the city center, noises couldn’t be avoided. Especially since our balcony faced the parking space towards the entrance/exit gate, and there’s only one wall between balconies and we happened to have noisy next-door neighbors (kids). 460,000 IDR/night, but we had Internet connection in the room.

Dinner was at the hotel’s restaurant, Senjoyo, located at the highest floor along with the swimming pool. The setting is a bit strange. The service is still amateurish: only two tables were occupied, yet they were very slow in responding to our requests. We had cream soups, steak, grilled snapper, fish and chips, ice creams, hot tea (‘teh poci’) and iced lemon tea for a total of 211,000 IDR.

LeBeringin Hotel – Restaurant – Spa
Jl. Jenderal Sudirman no. 160, Salatiga
T 0298 326129, 327082
F 0298 316688
E sales@hotelberingin.com
W www.hotelberingin.com


DAY 4 | Saturday, July 4th | Salatiga – Ungaran

They charged 20,000 IDR for each child for the buffet breakfast. Oh well. Anyhoo, we left the hotel at about 09:30, heading to Kalibening village at Tingkir district of Salatiga. We had an appointment with Pak Bahruddin to visit his alternative (junior high level) school, Qaryah Thayyibah. At QT met up with Anna (Sybrand’s friend from The Netherlands), her husband Havedz and their 2 months old baby Ben.  
From QT, we went to Tegalwaton district (very close by Tingkir) to have lunch at Anna and Havedz’ place: Havana Horses. http://www.havanahorses.co.id/

The day is getting late, so we proceeded to Ungaran. Here, we stayed at a place called Villa Joglo, an establishment that has only seven villas, each an old wooden Joglo house, plus offices, a swimming pool and other service areas, surrounded by wide lawns, gardens and rice fields. There’s even a small stream of river going through the premises. At night, we could hear various noises of birds, crickets and geckos, enjoying the cool and fresh air, under a mosquito net, in our blankets. We chose a wooden Joglo hut with two rooms, 650,000 IDR/night (before 15% tax & service). Dinner was at the villa’s restaurant: 289,500 IDR for fries, broccoli cream soup, potato cream soup, fettuccine with chicken, mushroom and cream sauce, grilled ribs, chicken-spinach roll, hot tea, iced tea and beer.


Hills Joglo Villa
Desa Keji RT06, RW01
Mapagan – Ungaran, Semarang
T 024 6926101-03
F 024 6926102
M 081 8291416
W www.villajoglo.com


DAY 5 | Sunday, July 5th | Ungaran – Cirebon

Breakfast was great! Each person had a platter of omelet, fries, fresh tomato and sausages, orange juice, coffee and tea, plus toasts with butter and two kinds of jam. We started for our journey Westward at about 09:30.
Lunchtime came when we were nearby Pekalongan, the most possible town to find ‘desirable‘ food for our picky kids. KFC: 115,000 IDR and the kids didn’t even eat any chicken; they were just in for the fries, Fruit Tea and Transformer toys.
Reaching Cirebon nearing 19:00, after an excruciating traffic jam nearby a bridge. We stayed at Zamrud Hotel (2 stars), spacey twin-bed room, and Internet is available at the lobby: 395,000 IDR/night.
Dinner was the hotel’s room service (nobody has any extra energy after the horrible traffic jam): chicken-asparagus soup, spaghetti bolognese, squid fried in butter sauce, sweet and sour chicken, white rice, mixed juice, milkshake, fruit punch and orange juice for a total of 193,540 IDR.  

Zamrud
Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo no. 46-A
Cirebon
T 0231 246201 (hunting)
F 0231 246202
W www.zamrud-hotel.com


DAY 6 | Sunday, July 6th | Cirebon – Bandung

Homeward! Stopped for lunch at Jatinangor. Again, ‘safe’ food for kids at Papa Ron’s Pizza:  fettuccine al fredo, pizza cheese napoli, pizza basic cheese, cream soup and garlic bread, ice cream, sundae, peach melba, iced lemon tea, hot tea and coffee for 197,132 IDR.
Arrived in Bandung around 15:30. Paid off the driver and car rent for 5.5 days: 1,850,000 IDR (excluding gas, highway tickets and driver’s meals).
Photos and drawings, coming up… 

Tuesday, June 30, 2009

[klipping] Bambu... Baja Pun Kalah

KEKAYAAN ALAM

Rabu, 1 Juli 2009 | 03:44 WIB

Cornelius Helmy

Kubah berdiameter 4 meter tampak mendominasi ruang pameran Galeri Soemardja Institut Teknologi Bandung beberapa waktu lalu. Kubah ini cikal bakal bangunan tahan tsunami.

Bangunan tersebut terbuat dari rangkaian bambu tipis didominasi bentuk segi lima dan segitiga banyak sudut (polyhedric). Rencananya kubah ini akan dikembangkan menjadi konstruksi utama bangunan tahan tsunami.

Warna dan serat material bambu yang tidak seragam justru menjadikannya tampak unik dan tidak kalah menarik.

Biasanya bambu yang digunakan adalah jenis Madake. Jenis ini batangnya bisa digunakan sebagai tiang, serutannya dianyam, dan seratnya menjadi tali. Konsep yang menonjolkan ciri khas bambu ini dinamakan wabi sabi. Artinya memanfaatkan ketidaksempurnaan alam menjadi estetika seni.

Material bambu dan bentuk kubah juga sangat lentur tetapi kuat. Buktinya, tidak ada retak pada lapisan tipis bambu yang memiliki ketebalan 2 milimeter ketika dibor dengan diameter lubang 3 milimeter.

Kubah ini hasil karya Takaaki Bando dari Musashino Art University (MAU). Pembuatannya terinspirasi kubah batang aluminium dengan teori synergetic karya Buckminster Fuller (1895-1983), arsitek dari Amerika Serikat.

Karya lain yang dipamerkan adalah desain kursi karya Ito Shinichi. Alas, tiang, hingga sandaran kursi semuanya memakai bahan baku bambu. Ini merupakan ciri khas desain karya bambu dari Jepang yang meninggikan kemurnian bambu.

Menurut Ito yang juga Asisten Profesor Departemen Industri, Interior, dan Desain Kerajinan MAU, pembuatan desain kursinya menggunakan teknik laminating. Lapisan bambu tipis ukuran 2 milimeter dipres sehingga menjadi satu bagian tebal sekitar 40 milimeter. Hasil pres bambu lantas dibentuk sesuai selera desainer.

”Hasil yang kami buat di Jepang kurang lebih sama dengan yang ada di Indonesia. Namun, dari sisi perawatan bahan bambu di Indonesia masih harus diperbaiki,” kata Ito.

Menurut Ito, hal itu berakibat pada usia karya yang dibuat. Tanpa perawatan yang baik, karya akan mudah rusak. Seperti menjadi lapuk atau mudah patah. Ito mengatakan, harus ada perlakuan khusus agar material bambu lentur, kuat, dan sesuai standar keamanan.

Di Jepang, konsep perawatan bambu dinamakan Ecology Diversity Energy (EDE). Konsep ini mirip dengan pemanfaatan kearifan lokal di Indonesia yang menggabungkan pengetahuan tradisi dan modern. Beberapa teknik yang digunakan antara lain pengasapan, pencelupan ke air panas, atau pemanasan menggunakan oven.

”Usia bambu bisa tidak terhingga. Kualitas bambu tidak kalah dengan kayu,” katanya.

Kondisi di Indonesia

Potensi pengembangan bambu yang ada di Jepang sebenarnya ada di Indonesia. Pengajar Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, Dwinita Larasati, mengatakan, Indonesia diperkirakan memiliki 11 persen dari 1.250 spesies bambu dunia. Namun, dari 19 spesies bambu yang digunakan di dunia baru lima spesies yang ditemukan di Indonesia, di antaranya bambu tali dan betung.

Hal yang sama dikatakan pakar bambu dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia, Elizabeth Widjaja.

Saat ini di Indonesia terdapat 88 jenis bambu endemik yang belum seluruhnya dikembangkan, di antaranya bambu eul-eul dari Bandung, Jawa Barat; Fimbribambusa di Meru Betiri, Jawa Timur; dan Schizotachyum di Kalimantan Barat. Bambu itu berguna sebagai pengobatan, konstruksi bahan bangunan, hingga bahan kerajinan.

”Sebagian besar spesies bambu endemik di Indonesia justru terancam punah. Penyebabnya adalah alih tata guna lahan, pengambilan berlebihan, dan penyelundupan ke luar negeri,” katanya.

Teknik pengawetan sebenarnya juga sudah diketahui peneliti Indonesia, di antaranya teknik pengawetan yang diterapkan peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman Departemen Pekerjaan Umum, Purwito.

Menurut dia, bambu juga bisa diawetkan menggunakan bahan kimia yang tidak merusak lingkungan. Pengawetan bisa dilakukan dengan menggunakan cairan borak dan asam borik dengan perbandingan 4:1. Campuran itu digunakan sebagai media utama untuk merendam bambu sebanyak 5-7 persen dari volume bambu.

Cara lain dilakukan Morisco, Kepala Laboratorium Teknik Struktur Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.

Dia melakukan pengawetan bambu menggunakan tabung yang dapat dioperasikan tanpa tenaga listrik sehingga cocok untuk daerah pedesaan. Bahan pengawet berupa larutan kimia yang dimasukkan dengan tekanan udara. Proses pemasukan larutan pada bambu diameter 8 sentimeter dan panjang 6 meter memakan waktu sekitar 20 menit.

Lebih kuat dari baja

Dengan semua potensi ini, menurut Morisco, banyak hal bisa diraih, di antaranya pengembangan arsitektur bernuansa bambu. Salah satu senjatanya adalah kekuatan tarik bambu lebih tinggi ketimbang baja.

Sebatang bambu dewasa berumur 3-5 tahun memiliki kekuatan tarik hingga 480 MPa (Mega Pascal—satuan tegangan tarik). Hasil itu lebih tinggi ketimbang baja yang hanya memiliki kekuatan tarik 370 MPa.

”Beberapa bangunan sudah menggunakan bambu sebagai komponen utama, seperti Green School di Bali dan rumah korban gempa di Yogyakarta,” katanya.

Potensi bambu juga harus diperkenalkan lebih mendalam kepada industri kreatif.

Menurut Kepala Divisi Desain Industri Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Dudy Wiyancoko, ketahanan dan kualitas material bambu olahan dari Jepang harus diakui lebih unggul. Bambu olahan dari Jepang lebih tahan lama dan tidak mudah lapuk. Berbeda dengan kebanyakan material bambu Indonesia yang selama ini sudah cukup puas dilapisi pelitur.

Hal ini harus ditularkan ke masyarakat, khususnya kepada perajin bambu. Kemungkinan besar, perajin tradisional masih buta tentang konsep perawatan material atau karya yang baik.

Dudy mengatakan, perajin tradisional masih terpaku membuat produk konvensional sesuai kebiasaan. Hal baru biasanya keluar lewat proses meniru dari produk lain yang terbukti laku di pasar. Dari sisi ekonomi, perajin biasanya takut merugi bila hendak berinovasi. Mereka khawatir produk baru tidak akan laku di masyarakat.

”Di Jepang, saat ini konsep mono zukuni alias genius bekerja sendiri sudah tidak populer lagi. Yang banyak diterapkan masyarakatnya adalah konsep hito zukuni. Konsep ini meluhurkan kebiasaan bekerja sama dalam menjalankan semua pekerjaan,” ujar Dudy. Ini termasuk dalam pengolahan bambu tentunya.

Monday, June 22, 2009

An entry after a long, long absence

Where to begin.. Hm. The church I go to, GKI (Gereja Kristen Indonesia) at Jl. Maulana Yusuf, Bandung (yes, across that yummy saté place), conducts lots of events on weekday evenings, that are not necessarily related to religious services or activities. Tonight was an event with the theme "Inexpensive and qualified education, is it possible?", with a guest Pak Bahruddin from Alternative Junior High School Qaryah Thayyibah (QT) in Salatiga, Central Java. Prior to this meeting, I have read about QT from books given by a nice acquaintance (that I've never met, actually - thank you, P! :D) and got deeply interested in the subject. Afterward, I found articles about QT in newspapers and such, but gave it no further thoughts until tonight.


Rubber Clock, filled appropriately
The event supposed to start at 6pm, but the guest got caught in a traffic jam or so, so we were to wait. It wasn't an emtpy waiting time, though, since the host decided to screen a movie. It was a documentary called "Suster Apung" (Floating Nurse). No, it's not a horror movie, but it's scary nonetheless in a way, knowing that reality can be that harsh. This documentary is focused on a nurse whose duty is to look after people in the islands region in the Middle- and Eastern part of Indonesia. Cases she found are often different from what she learned at the academy, so she has to improvise lots of things anyway. She said she could be sentenced for malpractice, but she has no choice: she has to be a nurse, a midwife, and even a doctor at many times. She had to cross the ocean with a shabby little boat from one island to another, often spending 24-26 hours in it, to reach her patients. And she has been doing this for about 29 years!
A visiting official: Don't you have a handy-talky?
The Floating Nurse: We were given a handy-talky indeed, but only one, with a broken antenna, too.
The visiting official: What good is one handy-talky?! How could you talk to your colleagues in another place?!
The Floating Nurse: ... (staring agreeably)


Another Distraction
Before the real event started, another movie was screened. This one titled, "My Headmaster, The Scavenger", telling about - well, a school headmaster who is also a scavenger. Why would he want to be a scavenger, too, selecting garbage from a dump after school, when he already has a job as a headmaster? In order to provide for his family, of course.
But why scavening? Why not by giving course to students, like other teachers do? He would, if he could accommodate his pupils in his house - but the condition of his house doesn't allow that.
Why not take that 2nd job offer to teach at another school? He said, "I'm done teaching at my current school at about 1pm. As a headmaster, I should be the one who arrives the earliest at school and leaves the latest. Could you imagine if I had to go and teach again in the afternoon? What kind of performance would I give to my students, if I don't have enough energy? Neglecting your students is a sin, you know". "Besides", he continued, "Gathering such things (showing plastic cups and bottles) could give me more salary, compared to being a teacher".
       

The Actual Event
The guest from QT, Pak Bahruddin, has arrived so the actual event could start. It was about 7pm. He first showed some video clips of songs, created by QT team. These songs and videos have been produced, distributed and sold, for the profit of QT itself. Then another video was screened: a documentary made by MetroTV about QT, including interviews with QT students and their parents. Quite remarkable.
I won't elaborate the details here, since there are already lots of resources that expose QT backgrounds, history, achievements and all. What I want to stress is, I agree with what Pak Bahruddin said about education. In the end, it's the result, the quality, personality and independency of the pupils that matters. Not the grading from National Exam, nor a piece of certificate.
The discussion went through the night, up to nearing 10pm. But even after that, the conversation continued informally. Seems like you could have a nice long chat with Pak Bahruddin without a moment of bore. I had to catch an angkot home (it *was* fairly late), but have made a soft promise to visit QT during our holiday in West Java, soon. Hope we can make it.

E.T.A. (my bad habit, forgetting to close a writing)
Responding to the question if it is possible to provide an affordable and qualified education in Indonesia: it is. All we need is people with the same vision to start and to commit to an independent education plan, which really touches the heart and the art of learning itself, rather than compiling ranks and aiming for status.
Another point that should be stressed is: local values should be introduced naturally, not merely adopted from other people's 'localities' (then it won't be 'local' anymore!). Recognize and make use of local resources, learn skills that would help you through life.   

Saturday, November 8, 2008

My first education in "making comics"

"Why don't you join the workshop?", a colleague asked while bringing the news about the exhibition of Gerald Gorridge's work and his two-days workshop at CCF Bandung, a couple of weeks ago.
"I'd like to, but I won't be available in the second day", I answered regretfully.

I trusted another colleague to deliver names of two participants on behalf of our institution, then set my mind to other work. I no longer thought about this matter, until the day came. Attending the opening of the exhibition on Nov 6th, I asked that first colleague who helped organizing the event, "Has he come up with participants' names?". "Nope", was the answer. Then, again, "Just join the workshop, will you". I didn't reply, but was seriously thinking about it.

I lingered around the exhibition space, watching the artist being interviewed by journalists, meeting colleagues and friends, and people I've known only via Internet before. That was exciting - but I was excited for another thing, too: my publisher came and handed me my new, freshly-printed book!

I gathered around a display table, where Gerald's book, Les Fantomes de Hanoi (2006), was being displayed and explained by Gerald himself to a group of audience that surrounded the table. I've never seen this book before, and was fascinated by its water-color technique and free lines, cityscape and people's figures, despite my disability to understand what the story is all about (it's in French). I was moreover intrigued by his sketches and artworks that were displayed on the wall, which really makes me want to practice on my aquarell once again!
At one point, I pulled my books out of my bag and gave it to him as presents. He looked into them, flipped the pages and asked if I would join his workshop the next day. "But I won't be able to make it on the second day", I answered. "No matter", he replied, "Just come". Right, now my mind is made. How could I resist?!

Friday, Nov 7th, 2008. The workshop started at 14.30; I came on time only to see that I was the only person in the venue. It so happened that a heavy rain fell abruptly just before I reached CCF, which held back - even 'trapped' - some participants who were on their way. When they finally arrived, chairs had to be removed and tables were to be brought in and arranged in a line, where Gerald, an interpreter and workshop participants could be seated. "Here we go", I thought, "My first real training in making comics".

The session begun with a task for us to make a story in three short, precise sentences, based on our real life experiences. The first sentence should introduce ourselves, the main characters in our own stories. It should also provide information about the location, time settings and all necessary details about the atmosphere that would build the story. The second sentence is where a 'problem' occurs, while the third sentence should contain the solution that ends the story. "It should make five to seven pages of comics", he said, "But no more". We were given 15 minutes to write it down, then read it loud to him, then he would respond with remarks and criticism about how the story could be more interesting - especially when it is transformed into comics form. I like it how clear he could explain about possibilities and development of each of our stories, and how he could point out the weakness of the plot as well as its strength.

After we all had our turns (there were about 12 of us), we were asked to draw the main characters of our stories, in various expressions. Now I started, of course, with the "Tita" you've seen in my recent drawings. I was asked to include more facial expressions, more realistic (meaning, with nose and all :D), so I tried. I remember the first pages of my graphic diary, made during my apprenticeship in Germany, when I still had spotty cheeks, short hair, and a nose. I remember also my earliest drawings from my teenage years, of journeys to other islands, back when "Tita" looked more cartoony. Then, further back, when we had to draw our own faces for an art lesson in junior high school, when I had to look at my face in the mirror, while filling my paper (already pencil-lined thinly for proportions) with drawings of my eyes, nose and mouth. Right, let's blend them all this time! I could manage, surprisingly, considering how long ago it was that I allowed myself to try other drawing styles!

Saturday, Nov 8th, 2008. I made a return trip to Jakarta for a nephew's birthday, bringing Dhanu and Lindri. There's a change of plan due to Syb's condition (he had to cancel going to Jakarta with us): I had to cut our visit short. On one hand, it was a pity to rush our family gathering; on the other hand, I might have the chance to continue the workshop at CCF.
We departed from Jakarta at 14.30, reaching Bandung at about 17.00. I dropped off the kids at home and left again for CCF, arriving shortly before 18.00. I think I missed the first half of the session.

Everybody was seated around the table, the participants working on their storyboards and taking turns in showing their pages to Gerald to receive remarks and input. Based on my story from the day before, I quickly composed my storyboard - consisting five pages in total. This was also a rather new thing for me, for I am not used to drawing in boxes. But it was not impossible. My turn was among the last ones, for it was getting late.
His input to my storyboard was about building up the condition of the main character, gestures, and clearness of the story. I realized my story is a bit vague at the end and around the key element that makes the story important. A lot of improvement could be made, and I might - one day - complete those pages! (I'm telling you: it would involve lots of water-painting, photo references, and my sentiments and memories about Albert Cuyp marketplace in Amsterdam :D)

At the end of the session, Gerald gave an overview about producing the finished pages (transferring images from A4 to A3 sized paper, deciding tones, inking, etc.) and incorporating texts into drawings (mind the gap!). Then, since a question was raised towards the subject: about the procedure of comics publication in France. All in all, his explanation was very comprehensive, and it is evident that he has lots of experience in this, especially considering him being a lecturer specialized in comics art at the European School of Visual Arts in Angouleme, France (they offer a Master's Degree in comics!). I'm glad I got the chance to absorb a bit of his knowledge. Lots of thanks to CCF Bandung and the interpreters (Mb'Windie & Mb'Dina), to Manyala and Gerald for this experience!


Photo of Gerald, taken from detik.com:
Melihat Hantu dari Vietnam
More photos from detik.com: Pameran Komik di CCF
And a video, also from detik.com: Melihat Hantu dari Vietnam

Gerald's other activity during his visit in Indonesia: Workshop HAPPENING KOTA KOMIK in Yogyakarta
Gerald was also mentioned as one of the mentors in LINGUA COMICA program (London, 2007) - see also Paul Gravett's site about Lingua Comica -  so he must have met Aziza Noor, our colleague who was selected to represent Indonesia in that program.