Showing posts with label food. Show all posts
Showing posts with label food. Show all posts

Wednesday, November 21, 2012

"Gaiman" is less sensible, compared to "Pamuk"

This blog was originally posted on January 16, 2009, but somehow wasn't included when I migrated my esduren.multiply.com to titalarasati.blogspot.com. So here goes, below, complete & unabridged.
Oh- and this is the post that actually 'introduced' me to Twitter, thanks to a comment (copied below). And so the snowball rolled on...

===========

At least, that's the case in the "specialties" list of Reading Light's menu. A Neil Gaiman coffee is "ice black coffee, fresh milk, peanut butter, hazelnut syrup, cinnamon & cold froth" while an Orhan Pamuk is "hot cappuccino with a special mix of kapulaga (Amomum cardamomum), clove & cinnamon". I've had a curiosity since I first read the menu and finally had the chance to taste that weird Gaiman today. Just as I thought: imagine drinking a peanut-butter sandwich that was soaked in cold coffee, crushed ice and liquid sugar. Even David Sedaris seemed like a more tempting option, however childish it may sound ("orange juice, lemon juice, fresh milk & vanilla ice cream").

Moving on to our dish: I had chicken sandwich, which was quite decent. Other than the usual diced, boiled chicken slathered in mayonaise, this one came filled with layers of 'chicken bologna' of some sorts. Yummy. However, next time, I would ask them to skip the chili sauce.

And what about our book-shopping spree for today? I've scored two hard cover Alice in Wonderland books, both published by Random House in 1946! I really like the illustration technique and appearance; Syb said it could even be hand-colored (I'll post a review as soon as time permits...). Syb did the rest of the rummaging and found several other books to his content, while I continued working on my papers with my MacBook. We happily skimming our books while enjoying our lunch in that cool place, unwinding before our next tasks called.

Our afternoon jaunt ended quite pleasantly. We got book discount from using a card (instead of cash) to pay, and food discount from having a membership card (and there's actually a complimentary drink, too, for members). The shop attendant informed us that they'll have a treat on the occasion of the Chinese New Year: there will be a bonus (an ang pau, she said) for every purchase of book about (or related to) China. Shall we go again in two weeks, then, and see what the ang pau is? :)

More photos can be viewed in an album with the same title.


====================
[COMMENT]

phronk wrote on Jan 17, '09:
The Neil Gaiman coffee sounds like it would be delicious if it was hot, but cold? Weird. I tried peanut butter in coffee myself a while ago and it was actually pretty tasty.
P.S. Do you know that Neil Gaiman himself linked here in his Twitter? (!)
 
me:
I agree! I asked for a hot version, but they couldn't provide that :|
I didn't know about his Twitter, but I just saw the post at his blog(!) :"> 
 
 

Wednesday, January 23, 2008

The Grill, Bandung

Lokasinya, yang merupakan bagian dari satu seri ruko baru, memang biasa-biasa saja. Suasananya bahkan cenderung berisik dengan suara kendaraan, karena berada tepat di sisi keramaian jalan Dago. Tapi tempat ini menggoda untuk dimampiri, karena:
  • terlihat sekilas dari jalan terkesan bersih dan luas (meskipun tempatnya tidak besar), dengan interior yang simple sekaligus ramah
  • berjudul steak & burger, cukup bisa mengundang saya yg cenderung karnivora ini
Jadi tadi sepulang menjemput anak-anak dari sekolah, kami spontan mampir untuk ‘makan malam’ di sana. Ketika kami datang, belum ada pengunjung lain. Selang seperempat jam kemudian baru satu persatu meja terisi. Desain meja dan bangku kayunya lurus tegas, hanya berupa kotak persegi panjang yang rapih. Dinding berlapis batu yang dialiri air di bagian belakang dan beberapa vas tanaman berdaun lebar membantu membentuk suasana yang lebih asri.
Tadinya kami duduk di dalam, tapi anak-anak selalu mau lari-lari di luar, jadi akhirnya kami pindah ke meja terluar. Dari meja kami ke tempat parkir hanya berbataskan vas-vas tanaman, jadi anak-anak harus benar-benar diingatkan untuk tidak sembarangan berlarian ke jalan. Tepat di sebelah tempat makan ini adalah warnet untuk game, jadi banyak motor berseliweran, membuat kami makin was-was kalau tiba-tiba anak-anak memutuskan untuk melesat ke lapangan parkir. Untungnya mereka bisa tenang ketika makanan datang (kelakuan liar mereka memang biasanya bersumber dari rasa lapar).


ONION RINGS
Satu makanan pembuka datang dahulu: onion rings. Irisan bawang bombaynya berukuran pas, dan tepung yang membalutnya juga tidak terlalu tebal, tapi menutupi sekujur irisan bawang. Keseluruhannya crunchy, sekaligus ringan. (Ah, andai isinya irisan cumi segar dan bukan bawang bombay..) Onion rings ini dihidangkan bersama semangkuk kecil saus BBQ yang dipenuhi irisan bawang putih dan bawang bombay. Kejutan indah buat yang gemar bawang-bawangan!
Tambahan lagi, di sisi piring ada ‘buket salad’ mini: daun sla, irisan panjang paprika merah dan hijau, berlumur dressing ringan (rasanya mirip saus huzarensla buatan ibu saya yg terbuat dari leburan kuning telur rebus), diikat oleh satu ring bawang bombay. Tampilannya manis sekali.

FRIES + SAUSAGES
Berikutnya, datang makanan utama pertama: kentang goreng + susis punya Lindri (4 th). Memang standar, tapi justru di hidangan yang sepele ini kelihatan kepedulian si pemasak: pas/tidaknya struktur, kadar kematangan, dan juga presentasi keseluruhan hidangan. Kentangnya panjang bergelombang, renyah di luar dan empuk di dalam, seperti seharusnya kentang goreng. Susisnya susis sapi biasa yang berwarna kemerahan – yang sayangnya bukan jenis yang disukai oleh Lindri, jadi tidak dihabiskan olehnya. Tapi dua potong susis itu dikerat bersilang sepanjang ‘badan’nya, sehingga isinya menyeruak dengan ramai akibat digoreng. Menarik. Porsi ini juga dihidangkan dengan saus BBQ serupa. 


CLUB SANDWICH
Hidangan pesanan Dhanu (7 th) ini datang berbarengan dengan kentang goreng dan susis, didampingi juga dengan kentang goreng dan saus BBQ. Saya tidak sempat mencicip yang ini, sebab Dhanu kelihatan senang sekali dengan makanannya. Tumpukan tiga lembar roti ini diisi dengan bacon sapi dan irisan telur rebus di bagian bawah, dan grilled chicken fillet di bagian atas. Irisan sla, timun dan tomat menambah ketebalan roti bertingkat ini; siraman dressing ‘kuning telur rebus’ (dan mungkin saja ada mayonais dan saus tomat) menambah ramainya hidangan ini.

SPAGHETTI CARBONARA
Berikutnya, datanglah spaghetti pesanan Syb. Gundukan pasta yang sudah bercampur dengan saus cream dan irisan ham sapi itu dihias dua utas spaghetti yang disimpul sehingga membentuk semacam laso, yang didudukkan dengan tegak di puncak gunung pasta. Garam dan merica siap sedia, jadi dapat ditambahkan sesuai selera. Nah, hidangan yang ini sempat saya icip sedikit. Tekstur pastanya sesuai harapan, dan untaian spaghetti yang sudah rata berlumur saus carbonara ini memang berasa sekali creamy-nya, tapi yang dominan terasa di gigitan pertama adalah butter, lalu cheesy. Gurih!


STEAK A’LA DAGO
Pesanan saya datang terakhir, pasti karena persiapannya paling banyak. Di lembaran menu, banyak bahan disebutkan untuk hidangan yang satu ini – dan memang benar: piringnya penuh sekali!
Tiga potong Lyonnaise potatoes berjajar rapih di sisi piring, ditemani setumpuk tumisan sayur hijau (kailan?) di sebelahnya. Dagingnya sendiri berupa sirloin yang dibentuk pipih sehingga bisa ‘membungkus’ campuran bayam, mozzarella dan bawang putih di dalamnya. Bayangkan ‘lumpia’ berkulit sirloin dan berisi bayam, dibagi dua dengan diiris menyerong di tengah2nya. Lalu satu potong ditegakkan pada tengah2 piring, sementara potongan lain berbaring tenang di sisinya. Seperti itulah garis besar presentasi Steak a la Dago. Saus black pepper menggenang luas di sekitarnya, diwarnai dengan aksen putih (dari sour cream, bila tidak salah tebak) yang berzig-zag di tengah-tengahnya.
Bayam bungkus daging ini sama sekali tidak sulit dipotong, apalagi dikunyah. Tekstur dan rasa bayam yang lembut dikuatkan dengan tarikan mozzarella dan bawang putih panggang. Dibalur saus black pepper (yang masih bertabur serpihan kasar butiran black pepper), dan sour cream, suapan yang rasanya lumer di mulut ini memang membuat saya enggan berbagi porsi ketika Syb minta gilirannya untuk mengicip.  

Secara keseluruhan, makanannya memuaskan. Meskipun tempat makan ini masih relatif baru (baru sekitar dua bulan), pelayanannya sudah cukup baik, stafnya lumayan tanggap dan lamanya waktu menunggu hidangan pun wajar. Hanya saja minuman yang kami pesan kebetulan semuanya ‘buatan’, instan: lemon tea dari Nestea (utk anak2), dan orange & lemon squash kami hanyalah sirup jeruk dan lemon yang diberi soda. Oh ya, untuk harga, saya kira masih wajar. Kami makan berempat menghabiskan sekitar Rp130.000 (dan ternyata porsi saya yang termahal.. hehe).
Kemungkinan besar kami akan kembali lagi ke sini – untuk mencoba menu yang lain. Apalagi lokasinya dekat sekali dengan tempat kami tinggal, dan anak-anak sudah terbukti doyan dengan makanannya (hanya saja mereka perlu diingatkan terus soal berlarian di tempat parkir). Lain kali, kalau diniatkan ke The Grill lagi, bawa kamera, ah!

The Grill steak & burger
Jl. Ir. H. Juanda 342 D
Bandung
Telpon: (022) 250 0232
(Kalau dari arah bawah/Selatan, letaknya di sisi kanan jalan, di kompleks bangunan ruko pas sebelum belokan ke Jl. Kanayakan/Politeknik Manufaktur ITB. Kalau sudah lihat Borma di sebelah kanan, berarti sudah terlewat!)

Saturday, May 5, 2007

H.E.M.A. Dutch Resto

Rating:★★★
Category:Restaurants
Cuisine: European
Location:Jakarta
Here's the situation: it was definitely lunchtime and we needed a quick bite - one that our kids would really eat (they have become very picky recently) but no fastfood chain, please. And preferably nearby, since we had to catch our transportation back to Bandung in a couple of hours. My mother suggested this Dutch Family Restaurant, which sounds quite proper for our situation, so we went there. The restaurant is called H.E.M.A., a name not unsimilar to an established retail store in The Netherlands, but this one stands for Halal, Enak, Murah, Artistik (Halal, Tasty, Cheap, Artistic).

The interior has the notion of a wooden cottage; wooden elements (mock fences, tables and chairs, pilars) are spread around the place. Tiny gimmicks from The Netherlands can be found everywhere. You know, those small wooden 'klompen', plastic tulips, miniature windmills, cheese cutting board and Delft-blue ceramics. Feel at home yet? There's a television at one corner, broadcasting a Dutch program, although you could barely listen to it.

We quickly ordered our meals: tuna sandwich for Syb, fries and mayo for Dhanu and Lindri, a hot dog for Dhanu, fish and chips and cream mushroom and chicken soup for me. For my mother, a portion of sirloin steak. On to the food..
My soup arrived first, in a common soup-bowl, dashed with croutons and a sprig of parsley. Lindri ate all the croutons and gave the rest to me. It tasted decent, but not special.
Syb said his sandwich had a strong mayonaise taste, but hardly any tuna at all. Dhanu enjoyed his hotdog, that was completed with zig-zagged mustard and ketchup, although I wasn't impressed by the sausage at all. Both kids were happy with their fries, of course, which were cut 'Belgian-fries' style: thick, random and a bit rough. The fries were served in pressed wooden bowls, based with an oil paper, but lots of pieces were soaked and rather greasy. The 'mayonaise' was perhaps mixed with a bit of mustard, and were served in a small plate, garnished with parsley sprigs.

My fish and chips. It was probably a big mistake to order this food in a 'Dutch restaurant'. I hoped for at least a decent chunk of deep-fried fresh fish (while realizing that there's no way I would get kibbeling as a nice surprise). But what came in front of me were two patties of fried, coated frozen 'fish', which was hard to cut and evenmore to chew. Don't even ask about the taste. It's a wonder I finished them anyway. My fries were no different from the kids'. But the sauce! I thought it was tartar sauce of some sorts.. but it turned out to be a 'tuna mayonaise'! Just imagine my surprise when applying a knifepoint of that sauce to the already-ruined fish patties. Oh and of course that sauce was garnished with a parsley sprig, too.

What's for dessert? Syb ordered 'klappertaart' and a cup of black coffee, and I a portion of vanilla ice cream. The klappertaart appeared different from klaapertaarts I knew before: this one was served in a single, round aluminum baking container, and shaped like the top of a high ice cream cone. It tasted fine, though. The ice cream came in two scoops, one was dressed with strawberry syrup(?) and the other chocolate fudge. I only ate a spoon of it, the rest was claimed by Dhanu.
My mother actually ordered a portion of poffertjes as well, but it came only after we've paid and all (poffertjes included), so we had it packed to bring. I didn't get to taste it but my mother said it's just so-so.

All in all, the food was allright and edible, although not spectacular. The place was nice, the service good, the ambience friendly (nevermind the kitsch, the Dutch gimmicks and the noisy teenagers who seemed to consider this restaurant their hanging place). The toilet, however, was small but pleasant.
Will we come back to this place again? Maybe, if we feel like trying other dishes on the menu (there's hutspot met klapstuk!). It's just too bad that they don't really serve the Dutch rookworst, or ewrtensoep.


Scale 1 to 5
Service: 3,5
Food: 2,5
Ambience: 3
Price: 3,5
Total: about 3


H.E.M.A. Dutch Resto
Jl. K.H. Akhmad Dahlan No. 18
Keb. Baru, Jakarta Selatan
T +62 (21) 739 3891
F +62 (21) 725 2712
W http://www.hemaresto.com/

Drawings, coming up! :D

Friday, April 13, 2007

Rice Bowl

Rating:★★★★
Category:Restaurants
Cuisine: Asian
Location:BIP Bandung
Resensi ini di-post juga di milis Jalansutra, msg #65886

Sebenarnya sudah sejak beberapa minggu lalu saya tahu tentang tempat makan ini, tapi agak enggan mendatanginya.Kenapa? Bukan karena lokasinya yang ‘mojok’ di lantai dasar Bandung Indah Plaza dan dikelilingi oleh kios2 yang belum buka. Tapi karena – setiap kali turun atau naik eskalator di lantai dasar yg dekat dengan tempat tersebut – selalu ada staf Rice Bowl yg berseru2, “Silakan Rice Bowl-nya!”, “Coba Rice Bowl-nya, Mbak!”, dan sejenisnya. Makin diteriaki, makin saya urung mampir.

Nah kemaren siang ini rupanya saya ‘jodo’ dengan tempat ini. Setelah sedari pagi hanya diisi bubur ayam pinggir jalan, sekitar jam dua siang - ketika akhirnya semua pekerjaan saya selesai - dalam keadaan sangat lapar, saya memutuskan utk mampir ke Rice Bowl. Kebetulan sedang tidak ada staf yg berseru2 di ujung eskalator. Ini cara meluangkan waktu yang baik sebelum berangkat menjemput anak2 di sekolah!

Ice Lemon Tea
Meskipun sudah lewat jam makan siang, beberapa meja di Rice Bowl masih terisi, dan ternyata pelanggan pun masih berdatangan. Saya memilih sebuah meja kecil di pojok ruangan, dan duduk di salah satu dari dua kursi empuk yg berhadapan. Sebelum membaca menu, saya pesan dulu minuman: ice lemon tea. Minuman ini segera datang dalam gelas tinggi, berisi bongkahan2 es batu dan cairan yg warnanya coklat pucat. Kadar manis dan asamnya cukup imbang, tapi kenapa rasanya agak sintetis ya? Minuman ini (pada menu) termasuk chef’s recommendation, jadi semestinya bukan lemon tea pabrikan, bukan?

Orange Chicken Rice Bowl
Berlanjut ke makanan. Saya pesan chef’s recommendation tanpa ‘cap cabe’ di pinggirnya (= tidak pedas): orange chicken rice bowl. Tak lama kemudian semangkuk besar porsi nasi tsb dihidangkan di depan saya. Tidak salah bahwa ini termasuk hidangan yg dijagokan, sebab tekstur dan rasanya pas. Gigitan pada potongan daging ayam bite-size bersalut tepung renyah, disusul dengan lembutnya daging dan asam-manisnya saus jeruk, sangat sesuai dengan harapan rasa yg telah dititipkan pada lidah. Condiments pada porsi tsb berupa irisan ketimun, bawang bombay dan nanas adalah juga teman2 yg cocok bagi si ayam renyah. Hanya saja sayang, nasinya tidak mudah ‘diangkat’ dengan sumpit; sangat mudah tercerai-berai dan jatuh berantakan kembali ke dalam mangkuk. Dan sayang juga daging ayamnya terlalu sedikit, sementara porsinya belum cukup meredakan rasa lapar saya.

Masa pesan lagi? Yah sekalian deh, mumpung sedang di sini dan sambil menghabiskan waktu. Saya ambil buku menu lagi sambil melirik ke meja2 lain. Wah, ada mie juga! Sepertinya yang berkuah2 hangat begitu enak utk sore2 yg dingin spt waktu itu. Mata saya segera menyisir kembali buku menu, terutama ke baris2 dengan icon ‘chef’s recommendation’ di sisinya. Foto beberapa menu yg tertera di situ sangat membantu saya membuat keputusan. Oke, karena tadi menu ayamnya sama sekali tidak pedas, kali ini saya pilih menu yang disertai satu icon cabe (ada nol, satu, dua atau tiga icon cabe pada masing2 menu, sesuai dengan tingkat kepedasannya): black pepper beef noodle (saya pilih yg home made noodle; beda sekitar 6000 IDR dengan pilihan Hong Kong noodle).

Mengamati sekitar, saya lihat para staf Rice Bowl cukup cepat tanggap. Selalu ada yg siap utk dipanggil, dan bahkan berinisiatif membantu ketika seorang pelanggan dengan bayinya menumpahkan sesuatu di meja mereka. Mungkin atribut ‘family restaurant’ memang cocok untuk tempat ini. Juga ketika dengan tidak sengaja saya menyenggol wadah saus/sambal di meja, yg berakibat cipratan2 sambal pada tangan dan permukaan meja. Seorang pelayan segera memberi setumpuk serbet kertas yg ditata di atas sebuah piring kecil.

Black Pepper Beef Noodle
Porsi black pepper beef noodle saya datang dengan kuah terpisah dalam mangkuk yg lebih kecil. Tampilannya menarik! Kalau yang tadi kaya dengan warna kuning cerah, diselingi aksen hijau dari ketimun, kali ini dominan warna coklat gelap baik dari daging sapi maupun taburan gerusan lada hitam di permukaan mangkuk dan coklat pucat dari lembaran2 mie, dengan aksen merah yg berani dari irisan cabe, hijau terang dari paprika dan pakchoy, dan kilapan2 segar dari irisan bawang bombay, daun bawang dan bawang putih. Kuah kaldunya yg sangat panas juga terlihat menarik, dengan taburan irisan tipis daun bawang. Ketika diicip, sangat terasa indikasi sari poultry – mungkin bebek dan ayam sekaligus – yang cukup mild dan dengan baik dapat mengimbangi pedasnya merica pada menu utama.

Bagian mie yang belum tercampur bumbu2 black pepper ternyata sudah terasa cukup enak. Sayur2an yg menyertai irisan daging sapi juga terasa segar, baik rasa maupun teksturnya. Namun sayang, beberapa potong daging terlalu melawan ketika digigit; cenderung alot. Padahal rasanya mantap, terutama dengan cubitan2 asyik dari serpihan2 kasar lada hitam yg bertebaran di sekujur porsi mie.

Red Bean Ice Bowl
Setelah porsi kedua ini, rasa lapar tergantikan dengan menjelang puas. “Menjelang”? Iya, sebab rasanya belum lengkap bila tidak diakhiri dengan sedikit yang manis-manis. Apalagi sebelumnya saya sudah melirik salah satu (lagi-lagi) rekomendasi si jurumasak pada buku menu: red bean ice bowl – yang porsinya saya duga cukup mungil, mengingat keadaan lambung saya yang mestinya sedang cukup sibuk mencerna makanan2 sebelumnya. Jadi dengan yakin saya pesan dessert yang satu ini.

Tak lama kemudian datanglah es krim kacang merah saya: sebuah mangkuk transparan yg pas untuk satu bola es krim vanilla, dengan taburan kacang merah dan salutan sirup kental. Kacang merahnya pas, tidak keras, juga tidak lembek. Sirup kental itu ternyata berasa seperti cairan gula jawa, yang segera mengingatkan saya pada manisnya cendol. Ini adalah penutup yang sangat pas, baik rasa maupun porsinya. Tidak terlalu manis, dan tidak membosankan.

Waktunya telah tiba bagi saya utk meninggalkan tempat ini, namun masih banyak menu yg ingin saya coba di sini. Lain kali, saya berniat mengajak teman makan, supaya makin banyak yang bisa diicipi. Mudah2an saat niat itu hampir terlaksana, sedang tidak ada yang berseru2 ke arah kita di dekat eskalator..

Prices (IDR)
Orange chicken rice bowl 18,900
Black pepper beef noodle (homemade) 23,900
Ice lemon tea 7,900
Red bean ice bowl 6,900
[Tax 10%]

Scale 1 to 5
Service: 4
Food: 3,5
Ambience: 4
Price: 3,5
Total: about 3,75

Rice Bowl Family Restaurant
Bandung Indah Plaza
Telp 022 4223308
Website: http://www.ricebowl.co.id/

P.S. Anyone who'd like to see the complete version of my Rice Bowl drawing can view it at my Back to Bandung, ... album.

Saturday, December 2, 2006

Taste of Culture [Kopdar Mini di Amsterdam - 2]











[sambungan dari bagian-1]

Dari Leidseplein, kami masuk ke sebuah jalan kecil (Korte Leidsedwarstraat) yang kanan-kirinya dipenuhi tempat makan. Mulai dari ujung (dari arah Leidseplein) terdapat Häagen-Dasz dan Burger King di sisi kiri, serta Bulldog Coffeeshop dan Sports Café di sisi kanan. Makin masuk ke dalam, kami serasa mengelilingi dunia: terdapat restoran2 Italia, Argentina, Yunani, Meksiko, Cina, Turki, dan sebagainya. Setelah mencapai perempatan, sedikit jalan lagi di sisi kiri akan ditemukan sebuah restoran bernama Taste of Culture.

Pintu masuknya sederhana, tidak seperti entrance restoran2 lain di jalan itu, sampai2 terlewat oleh saya (mungkin juga saya yg berjalan terlalu cepat karena sudah lapar). Dari luar pintu memang sudah bisa terlihat bagian dalam restoran yg berkesan ringkas tapi nyaman. Begitu masuk, memang benar suasananya terasa 'rumahan' - baik elemen interiornya maupun aroma yg tercium dari dapur, yg terletak dengan pintu terbuka di ruang sebelah. Meja penerima tamu di bagian depan dilengkapi dengan pengukus bambu berdiameter sebesar tampah, berisi nasi hangat. Dinding2 restoran dipenuhi lembaran2 karton bertuliskan aksara cina (yg saya duga sebagai daftar menu); selain itu hampir tidak ada dekorasi lain.

Kami dipersilakan duduk di meja utk 4 orang, di mana saya bisa melihat ke arah lemari dapur yg penuh berisi bumbu2 dan bahan makanan. Saat itu pengunjung restoran (termasuk kami) telah memenuhi sekitar 80% dari semua meja yg ada. Kita tentu ingat pedoman, "Jika sebuah restoran dipenuhi pengunjung yg aslinya berasal dari daerah khas restoran tsb, hampir bisa dipastikan bahwa tempat ini menghidangkan masakan otentik yang enak". Nah, demografi pengunjung Taste of Culture pada malam itu pun terlihat demikian, sehingga tentu saja kami memiliki harapan tinggi terhadap hidangan restoran ini.

Photobucket - Video and Image Hosting

Vonny yang pernah dua kali ke sini berpesan supaya kami tidak memesan supnya. Kami langsung memesan hidangan utama berupa kombinasi panggang2an (pecking duck, crispy pork dan panggang merah), belut goreng saus madu, dan mixed dim sum sebagai pembukanya. Baru saja kami selesai memesan, Vonny melirik ke sebuah hidangan yg baru diantarkan ke meja sebelah: satu porsi sayuran hijau yg tampak segar. Kami panggil seorang pelayannya, seorang gadis muda yg ramah, utk menanyakan hidangan tersebut. Ternyata memang tidak tertera di menu, dan si pelayan bergegas masuk dapur utk kembali lagi membawa petikan mentah sayur tsb. Karena penasaran, kami memesan juga masakan ini - yang belakangan (thanks to Venny) baru saya tahu bahwa namanya dou miao (snow pea shoots).

Dim sum datang pertama kali: sebuah piring berisi 2 prawn dumplings, 2 siomay, 1 lumpia mini dan 2 pangsit goreng yg ditata di atas suwiran lettuce. Rasanya cukup pantas, tapi tidak istimewa. Belut goreng segera menyusul. Ternyata ini adalah menu juara malam ini! Potongan2 belut besar tsb berlapis tepung yg sangat renyah dan tasty, digoreng kering hingga melengkung membentuk 'gelang'. Dihidangkan di atas piring panjang dengan siraman saus yang madunya terasa samar, sekaligus gurih-manis dengan aroma daun ketumbar dan stone leeks (semacam daun bawang) yg ditata di atasnya. Kombinasi dari belut goreng yg renyah dan saus yang wangi dan agak pedas (karena taburan irisan cabai merah) benar2 berpesta dalam mulut sejak suapan pertama hingga sapuan terakhir hidangan ini dari piringnya. Kami tak sungkan terus2an memuji sang juru masak, baik melalui si pelayan maupun langsung kepada si koki yang beberapa kali berjalan mondar-mandir antara dapur, storage dan ruang makan.

Photobucket - Video and Image Hosting

Ternyata belut itu bukan kejutan terakhir. Saya yang belum pernah makan dou miao (tertulis tau miu pada bon) langsung jatuh cinta pada sayuran ini di kecapan pertama. Dedaunan yg hanya ditumis dengan bawang putih ini nampak hijau segar, dengan irisan kasar bawang putih bertebaran di sela2nya. Teksturnya yang pas - tidak selemas bayam, tidak sealot kangkung - benar2 memanjakan lidah. Seratnya terlihat menawarkan tantangan, namun segera menurut ketika digigit.
Kombinasi panggang2an dihidangkan dalam wadah semacam hot pot, sehingga tingkat kelembabannya melebihi hidangan serupa di restoran2 lain yg menyajikannya dalam piring ceper. Namun begitu irisan2 dagingnya masih berhasil mempertahankan bagian2 crispy mereka. Bumbu meresap dengan baik pada daging; sayuran (sawi hijau) dan kuah yg mengendap di dasar wadah ini rasanya lembut (delicate), namun cukup tasty.
Nasi putih pun dihidangkan dalam wadah hot pot serupa. Saya yang tadinya berniat tidak makan terlalu banyak nasi putih 'terpaksa' mengambil secukupnya untuk menyapu saus belut goreng - yang rasanya sayang betul bila disisakan. Namun tetap saja kami bertiga tidak sanggup menghabiskan semuanya. Saya kebagian membawa pulang sisa dou miao dan kombinasi panggang2an.

Photobucket - Video and Image Hosting

Ketika kami meninggalkan restoran (lewat pk. 22:00), ruang makan sudah agak sepi. Staf restoran dan jurumasak terlihat mulai makan malam di salah satu meja, sehingga kami berkesempatan untuk berterima kasih sekali lagi pada mereka. "Kami akan kembali lagi lho!" kata Vonny, yg juga sudah kepincut dengan belut gorengnya. Makan bertiga, puas dan kenyang dengan 4 macam hidangan tsb, menghabiskan 52,75 Euro.

Kami berjalan2 sebentar sepanjang Leidsestraat - yang masih hingar bingar meskipun sudah mendekati pukul sebelas malam - untuk melancarkan jalannya pencernaan. Tapi sebelum benar2 beranjak pulang, kami menyempatkan mampir di Häagen-Dazs utk menikmati es krimnya sebagai pencuci mulut. Terima kasih sekali lagi utk Vonny dan Herry, yg telah menjadi teman2 yg menyenangkan dalam berburu makan enak malam itu!

Taste of Culture
Korte Leidsedwarsstraat 139
1017 PZ Amsterdam
Tel +31 (20) 4271136
kitchen open 05.00pm-01.00am, Fri-Sat till 03.00am
reviews at iens.nl

Photobucket - Video and Image Hosting











Saturday, March 25, 2006

Makan-makan di Barcelona



As posted in Jalansutra mailing list, #48233



Minggu lalu, saya diundang untuk memberikan satu kuliah umum di
Universitat Polytecnica de Catalunya (UPC) di Barcelona, Spanyol. Saya
tiba pada hari Jumat siang di Barcelona, dan kembali terbang ke
Amsterdam pada hari Minggu. Dalam waktu yg sangat singkat itu, ternyata
cukup banyak makan-makan dan jalan-jalan yg saya alami, sehingga
artikel ini harus dibagi dua: utk makan-makan, dan utk jalan-jalan.




PIRING-PIRING KECIL

Jumat malam, setelah selesai memberikan kuliah, saya bersama nona
rumah, Miren, dan pacarnya, Gordi, berangkat dari kampus UPC menuju
Plaza Catalunya. Kami membuat janji utk bertemu dengan dua rekan lain,
Deepa dan Jinesh (yg berasal dari India) utk bertemu di depan Cafe
Zurich pk. 20:00, utk makan malam bersama.

Kami berdiri di depan cafe tua tsb., memandang ke arah La Rambla
(sebuah pedestrian strip yg membentang dari Plaza Catalunya hingga
garis pantai di bagian selatan kota Barcelona) dan ke arah dua-tiga
pintu keluar dari Metro, arah dari mana Deepa dan Jinisj diperkirakan
datang. Mendekati pk. 20:30, belum tampak juga dua orang yg kami tunggu
itu. Hari makin larut, namun jalanan makin penuh orang, tak peduli
dinginnya hembusan angin. Saya yg terbiasa makan malam pk. 18:00 sudah
sangat lapar, sementara perut terakhir terisi (dengan 2 tangkap roti)
sekitar jam dua siang, sebelum memberi kuliah.



Saya: Miren, apakah orang2 Spanyol makan malamnya memang telat sekali?

Miren (sambil meringis):
Iya! Biasanya restoran mulai ramai di atas pk. 21:30, apalagi weekend
begini, puncak ramainya pk. 22:00 hingga tengah malam.

Saya: Apa nggak kelaparan?

Miren: Nggak, karena sore2 biasanya kita makan makanan kecil yg disajikan dalam piring-piring kecil, atau "tapa" (= cover)
- yg sekarang umumnya dikenal sebagai "tapas". Asalnya adalah dari
daerah Andalusia, di mana piring kecil tsb digunakan utk menutup gelas
minuman supaya tidak dihinggapi lalat. Dalam piring2 kecil tsb
dihidangkan berbagai cemilan. Kebiasaan tsb berkembang hingga akhirnya
populer seperti sekarang ini.



Ah, rupanya itu asal mula tapas, yg mulai menjamur dan jadi gaya hidup
tersendiri di tempat saya tinggal sementara ini (Amsterdam). Pembahasan
tapas terpaksa berhenti, sebab Deepa dan Jinesh akhirnya terlihat
keluar dari salah satu kolong Metro. Kami segera beranjak mencari
tempat makan malam.





WARUNG KATALAN

Saat itu sudah lewat pk. 21:00, dan semua tempat makan sudah nyaris dipenuhi pelanggan. Bila tidak memesan tempat sebelumnya (and we didn't), adalah kecil kemungkinannya kita dapat tempat di restoran yg baik (= makanan enak, harga terjangkau).

Kami berjalan menelusuri La Rambla, dipandu oleh Gordi, yg mengumumkan,
"Karena semua tempat terbaik pastinya sudah penuh, yg kita tuju
sekarang ini adalah tempat 'teraman', artinya di mana kita pasti dapat
tempat duduk, dan dapat makanan enak". Tempat tersebut bernama L'Avia, sebuah kantin kecil yg menghidangkan makanan khas Katalan dan Amerika Latin.



Di sisi kiri ruangan, terdapat vitrine (meja display) yg berisi
berbagai jenis makanan yg mereka hidangkan dan dapur/ tempat menyiapkan
makanan. Di sisi kanan, deretan meja-kursi yg sudah dipenuhi orang. Di
tengah2nya, nyaris tak ada tempat utk berjalan, saking kecilnya kantin
ini. Gordi berbicara dengan pemilik kantin, meminta supaya kami boleh
duduk di lantai atas (yg saat itu belum dibuka). Setelah menunggu
beberapa menit, akhirnya kami dipersilakan naik.

Ruangan di atas ini mengingatkan pada restoran2 sederhana di Jawa
Tengah, dengan meja2 dan bangku2 plastik berwarna menor dan kipas angin
besar di langit2. Lukisan2 dan hiasan2 yg dipajang pun sangat khas,
berekspresi lugas, tanpa basa-basi, namun sangat bermain.



Tak lama setelah kami menempatkan diri di sebuah meja, ruangan itu pun
segera penuh terisi. Gordi memesankan makanan, dan menjelaskan bahwa
makanan tsb adalah utk dimakan bersama2. Tidak ada seorang pun dari
kami yg keberatan. Hidangan pun datang satu demi satu, beberapa hadir
dalam bak aluminium ukuran sedang, masing2 beralaskan piring keramik.



Terdapat dua piring yg masing2 berisi irisan kentang berbumbu (dengan
rasa terkuat dari tomat & paprika), ditemani berbagai daging
panggang (iga, susis hitam, dan sekerat daging babi). Satu bak berisi
irisan cumi-cumi dan kacang polong, bergelimang saus berwarna merah
(dengan rasa dominan tomat, namun agak pedas). Bak lain lagi berisi
ikan (cod) dan kentang dengan
saus serupa. Ada pula dua bak kerang (mussels) dengan saus yg rasanya
mirip, namun jauh lebih encer. Satu bak besar berisi seonggok
domba, bawang bombay dan kentang yg dipanggang bersama. Bak terakhir
berisi artichoke panggang, yg harus dimakan selapis demi selapis. Semua
lauk-pauk ini masih ditemani oleh beberapa potong roti berwarna
keputihan yg teksturnya agak padat dan berasa agak asin. Untuk menemani
makanan ini, Gordi memesankan anggur yg kualitasnya inferior (karena di
antara kami tidak ada peminum anggur sejati), yang hanya enak diminum
bila dicampur dulu dengan air soda.



Dari semua hidangan ini, yang tersisa hanya separuh dari susis hitam
(susis darah, tidak ada yg terlalu doyan) dan sebutir artichoke.
Sisanya licin tandas, termasuk roti asin yg kami gunakan utk menyapu
saus yg tersisa di piring. Sudah jelas saya senang ketemu makanan yg
bumbu2nya cukup 'nyambung' dengan lidah saya (demikian juga yg diaku
para rekan dari India). Satu jenis hidangan berharga sekitar 3-4 Euro,
jadi untuk 8 porsi yg kami pesan (dan dapat membuat kenyang 5 orang)
plus minuman, kira2 habis di bawah 40 Euro.



L'AVIA

Carrer La Cera 33

08001 Barcelona

T (93) 442 0097





RESTORAN TERSEMBUNYI

Sekitar jam dua siang keesokan harinya, saat kami berjalan menuju
tempat makan siang, Miren menjelaskan bahwa antara jam dua hingga jam
empat sore, toko2 tutup utk beristirahat, dan setelahnya buka kembali
hingga pk. 21:00 atau pk. 22:00. Jam2 istirahat itu dimanfaatkan utk
menikmati makan siang, bersantai dan (tentu saja) beristirahat.

Dari arah Plaza Catalunya, kami berjalan menuju ke arah
Cathedral. Ketika hampir tiba di lapangan depan katedral, Gordi membuka
pintu pada sebuah gedung tua di sisi kiri jalan. Terutama karena kaca2
gelapnya, gedung ini sama sekali tidak menarik dilihat dari luar. Di
dalam pun, ruangan berlantai keramik hitam-putih dan berdinding hijau
tua tsb. terlihat kosong. Yang paling menonjol adalah sebuah tangga
masif yg dicat putih, menuju ke lantai atas. Di ujung atas anak tangga
terdapat pintu kaca berbingkai kayu.



Saat memasuki pintu ini baru terasa bahwa ruangan ini adalah tempat
makan. Terdapat bar membentuk L di pojok kanan ruangan. Di tengah2
ruangan terdapat 'panggung' rendah berisi empat meja panjang yg maisng2
dikelilingi bangku2 kayu. 'Panggung' ini dikelilingi oleh pilar2 yg
menopang sebuah lengkungan pada langit2, di mana terdapat sebuah lampu
gantung (chandelier) di tengah2nya.



Pada dinding di sisi bar terdapat tumpukan kotak2 minuman dan sebuah
kotak pendingin. Dinding di sisi kiri juga dipenuhi berbagai kotak dan
kemasan bahan minuman dan makanan, yg ditumpuk di bawah sebuah lukisan
yg bingkainya memenuhi sisa permukaan dinding. Di sisi yg berseberangan
dengan bar, terdapat sederet lemari kayu berpintu kaca, yg
memperlihatkan isinya: berbagai barang 'rumahan' seperti koleksi buku,
piala dan plakat, berbagai jenis baju dan kain, dan cendera mata.




Saat kami masuk, baru ada satu meja yg terisi, sehingga dengan mudah
kami dapat memilih meja yg kami sukai. Gordi segera memesankan berbagai
jenis makanan utk bersama2, setelah kami masing2 memesan minuman.
Suasana tempat makan ini seperti rumahan, 'homey' sekali. Si bartender,
seorang pria setengah baya bertubuh besar dan berkumis-jenggot putih
terlihat berdiri santai di belakang bar, sedang mengobrol dengan
seorang pelanggan seumurannya (belakangan, mereka main kartu di meja
sebelah kami). Si pelayan, seorang muda yg ramah dan cekatan, menyapa
sana-sini sambil mondar-mandir membawa pesanan.



Pesanan kami sbb:

2 porsi cumi goreng tepung: irisan cumi berbentuk cincin diolah dengan
tepat; sehingga ketika digigit, sedikit melawan namun segera menjinak.
Tekstur tepung yg renyah sangat mengimbangi kekenyalan cumi.

1 porsi kentang goreng dengan saus sambal & mayonaise: kentang
dipotong2 persegi (dengan kulitnya), lalu digoreng. Di atasnya dituang
saus berwarna merah (agak pedas) dan mayonaise.

1 porsi kroket ikan: ragout ikan campur kentang tumbuk, dibentuk
bulat-lonjong, digulir tepung panir, lalu digoreng. Luarnya renyah,
dalamnya sangat lembut, rasanya cenderung agak asin.

1 porsi daging goreng (bite size): daging babi dipotong kotak2 lalu digoreng dengan bumbu khas.

1 porsi irisan baguette yg dioles tomat segar: salah satu hidangan khas daerah ini.

1 porsi yg terdiri dari irisan cured ham, kotak2 keju dan stick crackers: 'finger food' yg juga khas, terutama cured ham-nya
yg cukup enak, meskipun bukan dari kualitas terbaik (yg terbilang
mahal, belakangan saya cek harganya di pasar setempat, bisa mencapai 38
Euro/kg). Termasuk minuman, total kami habiskan 37,75 Euro. Lagi2 bukan
harga yg mahal, mengingat kami berlima ternyata cukup kenyang dengan
hidangan model 'cemilan' yg mantap ini.



Karena letaknya yg agak tersembunyi ini, jarang ada wisatawan yg dapat
menemukan tempat ini, meskipun letaknya di tengah2 kota. Miren pun
mengetahui tempat ini dari seorang temannya yg adalah seorang petualang
kuliner di Barcelona (yg sesekali ia telpon utk mengecek ulang, saat
kami berjalan mencari2 tempat makan), dan kami beruntung mendapatkan
pengalaman "go where the locals go".



HOGAR ESTREMENO

sekitar Plaza Nova (depan Cathedral)





UNTUNG DAPAT TEMPAT

Kami tidak juga memesan tempat utk makan malam ini, dan tadinya mengira
bila pergi awal (sekitar pk. 20:00), pasti akan ada tempat utk kami
berempat (Gordi tidak ikut). Ternyata dugaan kami salah: tempat2 makan
yg kami hampiri, yg terlihat sepi, ternyata sudah penuh dipesan. Ketika
hampir putus asa karena sepertinya dihadapkan pada dua pilihan: makan
enak (khas Spanyol/Katalan) tapi mahal, atau makan murah tapi hanya
semacam pizza dan shoarma, kami tiba di depan sebuah restoran. Miren
bilang ia belum pernah ke sini, tapi menilik dari daftar menu dan harga
yg dipajang di pintu, tempat ini cukup menjanjikan. Kami segera masuk
dan meminta meja utk 4 orang, dan siap2 mendengar penolakan utk
kesekian kalinya. Tapi ternyata, meskipun jawaban awalnya adalah, "Agak
susah", kami akhirnya dipersilakan masuk di ruangan belakang.



Miren memesankan makanan pembuka utk kami makan bersama, lalu kami
memilih hidangan utama dan hidangan penutup utk masing2. Kami beruntung
lagi, ternyata restoran ini menyediakan calzot, hidangan pembuka musiman (hanya tersedia di awal musim semi). Di samping calzot, kami juga memesan escalivada, yg juga tipikal daerah ini.

Calzot, yg disajikan di atas
lempengan genting (yg berprofil setengah lingkaran) ini, adalah daun
bawang yg dipanggang hingga lapisan luarnya menghitam, dan dalamnya
matang. Cara memakannya, pegang ujung atas (bagian hijau daun)nya, lalu
kupas lapisan kulit terluarnya seperti mengupas pisang, lalu singkirkan
(buang). Celup bagian yg putih pada saus khusus utk calzot
(rasanya mirip saus otak-otak, dengan bahan dasar kacang, cuka, tomat,
dan bumbu2 lain), lalu *hap!* langsung masuk ke mulut. Makan bagian yg
putih, dan sisakan bagian daun yg hijau (terlalu 'alot' utk ikut
ditelan begitu saja).

Escalivada, yg dihidangkan
dalam pinggan keramik, berupa irisan terong panggang, paprika panggang,
dan anchovies yg diberi dressing olive oil. Sederhana, namun rasanya
khas sekali. Kami juga memesan sangria
sekedar utk mengicipi buatan restoran ini. Tapi ternyata rasanya tidak
terlalu 'fruity', sebaliknya, lebih seperti 'watered-down wine'.



Saya dan Miren masing2 memilih iga panggang sebagai hidangan utama, Deepa memilih separuh ayam, dan Jinesh pork medallion.
Masing2 hidangan datang dengan separuh kentang yg dipanggang dalam
kulitnya, dan pada permukaannya ditabur berbagai bumbu segar, sedikit white beans,
dan sekeping roti panggang yg lumayan lebar, beserta separuh tomat
segar dan sesiung bawang putih. Miren segera menunjukkan cara unik
memakan roti "pa amb tomaquet" ini: belah bawang putih, dan gosokkan
pada permukaan roti sesuai selera. Lalu gosokkan tomat segar pada
permukaan yg sama, sebanyak mungkin hingga permukaan roti basah
memerah. Tuangkan olive oil dengan royal, lalu taburkan sedikit garam.
Roti siap dimakan.

Hidangan pendamping yg lain tak kalah enak; kentang panggangnya gurih, terutama karena kulit dan bumbu2 di atasnya, lembutnya white beans
pun berhasil mengimbangi rasa dan tekstur iga panggang. Penggunaan
bumbu2 di sini memang cenderung berani, benar2 terserap dalam bahan
makanan yg segar.



Sebagai hidangan penutup, saya pilih crema catalana, yg juga khas dari daerah ini. Crema catalana ini dihidangkan dalam bak keramik bundar, dalam keadaan dingin. Isinya adalah egg/cream custard yg sangat lembut (teksturnya spt vla), dengan selapis caramelized sugar menutupi permukaannya, yg 'pecah' saat sendok mulai beraksi.

Sebenarnya crema catalana ini mirip dengan creme brulee, hanya saja bedanya custard pada catalana ini tidak semanis pada creme brulee
(setidaknya yg pernah saya icipi selama ini). Namun tetap saja, ini
adalah hidangan penutup dengan rasa dan porsi yg sangat pantas.
Termasuk minuman dan kopi, kami berempat menghabiskan 57.19 Euro untuk
makan malam kali ini. Semua terlihat puas (terbukti dari kosongnya
piring2 yg disingkirkan), dan kami pun beranjak keluar sekitar pukul 11
malam, saat sebuah pesta di meja sebelah baru akan dimulai.



LA LLAR DE FOC

Ramon i Cajal, 13

T (93) 284 1025




Ada beberapa gambar di sini