Showing posts with label jalansutra. Show all posts
Showing posts with label jalansutra. Show all posts

Sunday, October 5, 2008

[review] Pasta de Waraku, Jakarta

Kumpul-kumpul keluarga dari pagi hingga sore di hari pertama Lebaran rupanya tidak menyurutkan semangat saya dan beberapa saudara untuk bertemu lagi pada malam harinya. Kali ini tujuannya adalah untuk mencoba makanan di Pasta de Waraku, Grand Indonesia. Para sepupu yang beberapa kali melewati tempat makan ini sudah lama tertarik mencoba, karena melihat display model hidangannya pada dinding, yang memang sangat membangkitkan selera. Kami (total sebelas orang, termasuk anak-anak) harus menunggu selama satu jam untuk mendapatkan tempat duduk. Tapi satu jam ini sepertinya tidak menjadi soal untuk anak-anak, yang melewatkannya dengan bermain di berbagai fasilitas pada playground di lantai yang sama.

Apa yang istimewa dari Pasta de Waraku ini? Membaca dari lembaran menunya, langsung terdapat kesan fusion antara Italia dan Jepang. Saus pastanya (“Wafu”?) dinyatakan terbuat dari bahan dasar ikan bonito, pada foto (dan model makanan) terlihat bahwa tiap porsi pasta dan pizza-nya ditaburi irisan nori, dan makanan penutupnya pun menyajikan pilihan es krim dengan rasa green tea.

Akhirnya kami mendapatkan giliran masuk pada sekitar pk. 20.00. Sayangnya saat itu pizza sudah habis, jadi tidak bisa dipesan. Saya memesan seporsi Wafu Bacon and Eggplant (48K) dengan pilihan pasta jenis fettuccine (default-nya adalah spaghetti), adik saya memesan Wafu Plum and Basil (58K). Pesanan2 lain adalah Corn Soup (23K), Waraku Salad (28K), dan porsi-porsi pasta dalam berbagai jenis: Wafu Eel and Egg (58K), Wafu Ika Tako Mentai (68K), Carbonara Waraku (58K), Cream Salmon Spinach (58K), Carbonara Oyster Bacon (68K), dan Tomato Seafood (68K).

Ketika pesanan mulai berdatangan, meja langsung terlihat sibuk. Pertama, tentu saja ada kegiatan memotret tiap piring dan isinya. Kedua, sebelum tiba ke pemesan, pasti piring itu keliling dulu untuk diicipi oleh semuanya. Ketiga, condiments ikut berseliweran ketika si pemilik piring ingin menambahkan lada hitam (gerus sendiri), bubuk cabai atau bubuk parmesan.
Wafu dengan saus plum dan basil pesanan adik saya sama sekali tidak mengecewakan.

Sekilas, saus plum itu mirip segumpal selai kental, yang kalau diratakan ke sekujur spaghetti meninggalkan semburat merah di tengah-tengah hijaunya saus basil yang lebih dominan. Taburan nori yang ikut teraduk dan parmesan memeriahkan warna hidangan ini. Ketika mengicipi, rasa curiga saya bahwa bakal ada kesan anyir ikan tidak terbukti. Pastanya rasanya bahkan lebih ‘ringan’ dari pasta Italia, apalagi dengan adanya senggolan saus plum yang asam-manis dan saus basil yang tidak seberat pesto, meskipun rasanya mirip.
Wafu Bacon and Eggplant pesanan saya tidak kalah memuaskan dalam hal rasa. Tekstur dan rasa pastanya mirip, hanya berbeda bentuk saja. Kadar crunchiness pada beef bacon pas rasanya, porsinya pun cukup untuk mengimbangi rasa lembut dan manisnya irisan grilled eggplant yang timbul-tenggelam di tumpukan pasta. Taburan nori yang royal sekali lagi membedakan sensasi pasta yang ini dengan versi ‘asli’nya.
Pesanan-pesanan lain pun berhasil mencetak kesan positif dari para penikmatnya. Poached egg sebagai topping Carbonara Oyster Bacon yang runny, irisan salmon yang segar pada Cream Salmon Spinach, belut bakar yang gurih pada Wafu Eel and Egg, dan seterusnya. Hanya saja, sepertinya porsinya termasuk ‘sopan’ untuk ukuran kami, sehingga kami pun bertekad untuk melanjutkan ke tingkat dessert.

Saya dan adik berbagi Maccha Parfait (33K), sementara yang lain memesan Fruit Parfait (28K), Oreo Banana Parfait (28K), Petit Ice Cream (35K), Maccha Monaka (20K) dan Vanilla Monaka (20K). Petit Ice Cream adalah lima macam es krim berukuran mochi bite-size, Maccha dan Vanilla Monaka masing-masing adalah satu scoop es krim rasa green tea dan vanilla yang ditangkup wafer bundar, membentuk ‘ice cream burger’. Oreo Banana Parfait adalah es krim vanilla yang tercampur hancuran Oreo dan selingan irisan pisang. Mirip dengan Fruit Parfait, yang tentunya didominasi oleh irisan buah segar. Maccha Parfait tersusun dari cereal pada dasar gelas, es krim vanilla dan green tea, dengan topping wafer, irisan strawberry, red bean paste dan rice dumpling. Pas banget, semua rasa dari hidangan utama hingga dessert menyatu dengan akur, diselingi dengan ocha dingin yang bisa terus di-refill.

Secara keseluruhan, rasanya memuaskan, cocok dengan selera kami. Kualitas makanan dan pelayanannya sangat baik. Namun soal harga, memang a bit on the expensive side. Kami bersebelas, kenyang dengan pasta, dessert dan minuman, total menghabiskan Rp 1.115.730,- (termasuk 5% service dan 10% PPN), jadi tiap kepala menghabiskan sekitar seratus ribu rupiah. Kesimpulannya: recommended, dan kalau suatu hari kembali lagi, saya berniat menjajal pizza-nya.
Sebagai informasi, Waraku di Grand Indonesia ini ternyata cabang dari Singapura, yang juga membuka restoran di Hong Kong dan Malaysia. Hasil pencarian di Google membawa saya ke situs Waraku http://www.waraku.com.sg/ Sayang belum ada link ke bagian Indonesia, tapi silakan klik bagian Singapura untuk informasi lebih lanjut mengenai Pasta de Waraku.

Pasta de Waraku
Grand Indonesia Mall
Garden District Level 3A Unit 05 & 06
Jl. MH Thamrin No. 1
Jakarta 10310, Indonesia
Tel: (6221) 2358-0916
Fax: (6221) 2358-0917
Opening hours: 10am - 10pm (Last order 09:30pm)
Number of seats: 70

Foto-foto: hasil jepretan Chica.

Tuesday, August 19, 2008

dalam rangka ultah jalansutra




ada tiga gambar bertema kelakuan anak2 jalansutra (permintaan harnaz). yang pertama soal motret makanan sebelum disantap (apa pun makanannya), yang kedua perkara pindah2 tempat makan (minimal 3-4 tempat makan sekali jalan), yang ketiga tentang betapa jagonya anak js nemu tempat2 paling terpencil pun demi makanan.

gambar2 ini di-print perbesar dan disertakan dalam acara "mudik nasional" jalansutra tgl 18 agustus lalu di pondok indah, jakarta.

Thursday, February 14, 2008

Oh, ini toh yang namanya Es Bojong!

Hari Rabu kemaren ini saya dan beberapa teman ada pekerjaan di Tasikmalaya, pergi-pulang dalam sehari dari Bandung. Tentu saja pekerjaan bukan satu-satunya motivasi yang membuat kami berangkat ke sana, tapi ada motivasi yang lebih menggoda: petualangan makan siang!

Perhentian pertama kami adalah Soto Sapi Haji Didi. Soto pesanan kami datang sudah dengan nasi tercampur di dasar mangkuk. Taburan irisan daun bawang dan bawang goreng timbul-tenggelam, menyemarakkan permukaan soto yang sudah penuh dengan kilauan kuah kaldu dan potongan daging sapi (dan jeroan, bagi yang memesan "komplit"). Di meja terdapat berbagai macam kerupuk dan kedelai goreng, untuk menemani soto. Memang enak! Dagingnya serasa lumer di mulut! Sayang kuahnya sepertinya kurang panas, meskipun rasa keseluruhannya mantap. Rp8000/porsi. Letaknya di sebuah perempatan di (kalo nggak salah) Jl. Otista, deket banget sama SMA 1 Tasik dan RS terbesar di kota itu (lupa namanya euy).

Sasaran berikutnya adalah Baso Solo Mas Mul. Berhubung kami sudah makan nasi, di kios baso ini kami memesan baso kuah saja. Satu porsinya berisi satu butir baso urat (kira2 sebesar bola tenis) dan tiga butir baso biasa (sedikit lebih kecil dari bola ping pong). Si bola tenis itu, yang tadinya saya duga alot, ternyata lembuuut sekali. Sedikit kekurangan pada kuahnya adalah agak hambar untuk selera saya; perlu ditambahkan sedikit garam (tersedia di meja). Tapi kelebihannya adalah pada suhunya ketika disajikan: panas sekali! Puas rasanya. Rp5000/porsi. Yang ini kios rada nyelip di daerah Pasar Wetan(?), sejajar sama toko tas Alpina (masih ada lho di situ) dan toko2 lain.

Tibalah saat yang paling ditunggu-tunggu: Es Bojong! Begitu memasuki daerah Bojong, Tasikmalaya, memang terlihat banyak kios dan gerobak Es Bojong memajang diri di sela-sela komplek permukiman. Apalagi di siang cerah seperti waktu itu. Tapi teman yang merekomendasikan pencuci mulut ini berkeras mencari tempat langganannya, meskipun sepertinya mobil melaju ke daerah yang makin terpencil, dikelilingi sawah-sawah. Lega rasanya ketika kami akhirnya menemukan tanda kecil tergantung di depan sebuah rumah, bertuliskan Es Sirop Bojong Ibu Momoh. Tempatnya adalah semacam garasi beratap terpal dan plastik bagor di samping sebuah rumah, dengan meja dan bangku panjang. Dapurnya terletak di ujung belakang garasi. Sepertinya ini adalah tempat temporer, sementara tempat Es Bojong yang sesungguhnya sedang direnovasi (terletak sekitar 20 meter dari lokasi yang ini). 

Selama ini saya hanya bisa mendengar kehebohan Es Bojong dari teman-teman yang sering pergi bertugas ke Tasikmalaya, yang membuat penasaran. Sekarang bisa saya buktikan sendiri pamornya. Es Bojong ini dihidangkan dalam gelas tinggi bertekstur vertikal, persis seperti yang digunakan warung-warung untuk menghidangkan teh tawar. Serpihan es batu menggunung melebihi tinggi gelas, didasari oleh genangan berwarna putih susu: santan! Lalu berturut-turut di bawahnya: alpukat, satu butir durian(!), kelapa muda, ketan hitam (peuyeum?), cincau hitam, nangka, dan sirup tjampolay merah.

Tantangan pertama tentu pada cara mengaduknya, mengingat penuhnya gelas. Tapi akhirnya sukses. Campuran santan membuat minuman ini jadi gurih, sementara alpukat dan durian yang teraduk menambah kadar kekentalannya. Sehingga kita bisa mensyukuri adanya cincau, nangka, kelapa muda, dan serpihan es batu, yang menetralkan minuman magtig ini dengan tekstur mereka yang ringan dan crunchy.

Setelah semua cairan habis terminum dan semua irisan kecil isi habis termakan, tibalah saatnya mengulum sebiji durian. Jatuhnya biji durian yang telah 'bersih' ke dasar gelas Es Bojong menandakan kemenangan petualangan makan siang itu!     
Meskipun mungkin akan lebih enak bila serangan rasa manis dari sirup tjampolay tidak segencar itu, Es Bojong ini terbukti sudah kehebohannya. Ha, lumayan, ada tambahan sasaran bila lain kali bertugas ke Tasik lagi - juga untuk mencoba andalan2 lain, seperti nasi tutug oncom, sate maranggi, bubur galunggung, lotek.. (silakan diteruskan dengan usulan2 lain). Segelas dihargai Rp9000. Letaknya di Jl. Ampera no. 207, Panglayungan, Tasikmalaya (yg ini alamatnya dicatet dengan cermat! Hahaha!)  

Sunday, January 27, 2008

The Grill, Bandung


Oven baked tenderloin, spinach cream, mushrooms, roasted potatoes, mozzarella sauce, with pepper sauce

As promised, I would take pictures the next time I go to The Grill and I did! We went with my mother who just came in today from Jakarta and these photos were taken with her camera.

Crispy Garden Salad (**) - Rp11.800,-
Nothing special about it. It's allright, but that's all.

Onion Rings (***) - Rp7.800,-
The coat was a bit drier compared to our previous portion the other day, but still crisp and light. This time the onion rings came without the BBQ sauce. Inconsistency!

Bowl of Fries (***) - Rp8.800,-
Also just OK, like fries should be. No grease, right taste.

Club Sandwich (***) - Rp14.800,-
Our customer (Dhanu) is very happy with this dish. Perhaps I'll comment more if I get the chance to taste this one.

Steak a la Dago (****) - Rp30.800,-
Like I said in my previous note: recommended!

Popeye Steak (Beef) (****) - Rp30.800,-
No chance to taste this one, either, but Syb said the meat was well-cooked (he asked for 'medium'), the sauce friendly and the rest just perfect.

"The Grill" Burger (***) - Rp24.800,-
Juicy and tasty ground meat, caramelized mushroom and onion, in generous portion. Added with cheese and eggs and all, it's very filling. Although I think it's not necessary to include that smoked beef. And the buns were a bit dry.

Garlic Bread (*) - Rp5.800,-
We didn't order any garlic bread, but my mother asked for a plain burger bun to finish up her meal. So perhaps it's charged as 'garlic bread'. Oh well.

Snowy Fruit (**) - Rp10.800,-
My mother complained about the fruit only (sour or still frozen, I forgot); the rest was fine.

Sundae (**) - Rp9.800,-
Nothing special about it, either. Just two scoops of ice cream, two cherries to top each scoop, whipped cream, colorful chocolate sprinkles and a biscuit.

Our drinks were iced lemon tea (2 x Rp5.800,-), iced tea (2 x Rp4.800,-) and orange juice (Rp9.800,-). All are chemicals. In total, we spent Rp216.480,- for tonight's dinner.

Click each dish's photo to read the description, or simply check back to the menu :)
My previous journal entry about our first visit to The Grill: http://esduren.multiply.com/journal/item/229/The_Grill_Bandung

Wednesday, January 23, 2008

The Grill, Bandung

Lokasinya, yang merupakan bagian dari satu seri ruko baru, memang biasa-biasa saja. Suasananya bahkan cenderung berisik dengan suara kendaraan, karena berada tepat di sisi keramaian jalan Dago. Tapi tempat ini menggoda untuk dimampiri, karena:
  • terlihat sekilas dari jalan terkesan bersih dan luas (meskipun tempatnya tidak besar), dengan interior yang simple sekaligus ramah
  • berjudul steak & burger, cukup bisa mengundang saya yg cenderung karnivora ini
Jadi tadi sepulang menjemput anak-anak dari sekolah, kami spontan mampir untuk ‘makan malam’ di sana. Ketika kami datang, belum ada pengunjung lain. Selang seperempat jam kemudian baru satu persatu meja terisi. Desain meja dan bangku kayunya lurus tegas, hanya berupa kotak persegi panjang yang rapih. Dinding berlapis batu yang dialiri air di bagian belakang dan beberapa vas tanaman berdaun lebar membantu membentuk suasana yang lebih asri.
Tadinya kami duduk di dalam, tapi anak-anak selalu mau lari-lari di luar, jadi akhirnya kami pindah ke meja terluar. Dari meja kami ke tempat parkir hanya berbataskan vas-vas tanaman, jadi anak-anak harus benar-benar diingatkan untuk tidak sembarangan berlarian ke jalan. Tepat di sebelah tempat makan ini adalah warnet untuk game, jadi banyak motor berseliweran, membuat kami makin was-was kalau tiba-tiba anak-anak memutuskan untuk melesat ke lapangan parkir. Untungnya mereka bisa tenang ketika makanan datang (kelakuan liar mereka memang biasanya bersumber dari rasa lapar).


ONION RINGS
Satu makanan pembuka datang dahulu: onion rings. Irisan bawang bombaynya berukuran pas, dan tepung yang membalutnya juga tidak terlalu tebal, tapi menutupi sekujur irisan bawang. Keseluruhannya crunchy, sekaligus ringan. (Ah, andai isinya irisan cumi segar dan bukan bawang bombay..) Onion rings ini dihidangkan bersama semangkuk kecil saus BBQ yang dipenuhi irisan bawang putih dan bawang bombay. Kejutan indah buat yang gemar bawang-bawangan!
Tambahan lagi, di sisi piring ada ‘buket salad’ mini: daun sla, irisan panjang paprika merah dan hijau, berlumur dressing ringan (rasanya mirip saus huzarensla buatan ibu saya yg terbuat dari leburan kuning telur rebus), diikat oleh satu ring bawang bombay. Tampilannya manis sekali.

FRIES + SAUSAGES
Berikutnya, datang makanan utama pertama: kentang goreng + susis punya Lindri (4 th). Memang standar, tapi justru di hidangan yang sepele ini kelihatan kepedulian si pemasak: pas/tidaknya struktur, kadar kematangan, dan juga presentasi keseluruhan hidangan. Kentangnya panjang bergelombang, renyah di luar dan empuk di dalam, seperti seharusnya kentang goreng. Susisnya susis sapi biasa yang berwarna kemerahan – yang sayangnya bukan jenis yang disukai oleh Lindri, jadi tidak dihabiskan olehnya. Tapi dua potong susis itu dikerat bersilang sepanjang ‘badan’nya, sehingga isinya menyeruak dengan ramai akibat digoreng. Menarik. Porsi ini juga dihidangkan dengan saus BBQ serupa. 


CLUB SANDWICH
Hidangan pesanan Dhanu (7 th) ini datang berbarengan dengan kentang goreng dan susis, didampingi juga dengan kentang goreng dan saus BBQ. Saya tidak sempat mencicip yang ini, sebab Dhanu kelihatan senang sekali dengan makanannya. Tumpukan tiga lembar roti ini diisi dengan bacon sapi dan irisan telur rebus di bagian bawah, dan grilled chicken fillet di bagian atas. Irisan sla, timun dan tomat menambah ketebalan roti bertingkat ini; siraman dressing ‘kuning telur rebus’ (dan mungkin saja ada mayonais dan saus tomat) menambah ramainya hidangan ini.

SPAGHETTI CARBONARA
Berikutnya, datanglah spaghetti pesanan Syb. Gundukan pasta yang sudah bercampur dengan saus cream dan irisan ham sapi itu dihias dua utas spaghetti yang disimpul sehingga membentuk semacam laso, yang didudukkan dengan tegak di puncak gunung pasta. Garam dan merica siap sedia, jadi dapat ditambahkan sesuai selera. Nah, hidangan yang ini sempat saya icip sedikit. Tekstur pastanya sesuai harapan, dan untaian spaghetti yang sudah rata berlumur saus carbonara ini memang berasa sekali creamy-nya, tapi yang dominan terasa di gigitan pertama adalah butter, lalu cheesy. Gurih!


STEAK A’LA DAGO
Pesanan saya datang terakhir, pasti karena persiapannya paling banyak. Di lembaran menu, banyak bahan disebutkan untuk hidangan yang satu ini – dan memang benar: piringnya penuh sekali!
Tiga potong Lyonnaise potatoes berjajar rapih di sisi piring, ditemani setumpuk tumisan sayur hijau (kailan?) di sebelahnya. Dagingnya sendiri berupa sirloin yang dibentuk pipih sehingga bisa ‘membungkus’ campuran bayam, mozzarella dan bawang putih di dalamnya. Bayangkan ‘lumpia’ berkulit sirloin dan berisi bayam, dibagi dua dengan diiris menyerong di tengah2nya. Lalu satu potong ditegakkan pada tengah2 piring, sementara potongan lain berbaring tenang di sisinya. Seperti itulah garis besar presentasi Steak a la Dago. Saus black pepper menggenang luas di sekitarnya, diwarnai dengan aksen putih (dari sour cream, bila tidak salah tebak) yang berzig-zag di tengah-tengahnya.
Bayam bungkus daging ini sama sekali tidak sulit dipotong, apalagi dikunyah. Tekstur dan rasa bayam yang lembut dikuatkan dengan tarikan mozzarella dan bawang putih panggang. Dibalur saus black pepper (yang masih bertabur serpihan kasar butiran black pepper), dan sour cream, suapan yang rasanya lumer di mulut ini memang membuat saya enggan berbagi porsi ketika Syb minta gilirannya untuk mengicip.  

Secara keseluruhan, makanannya memuaskan. Meskipun tempat makan ini masih relatif baru (baru sekitar dua bulan), pelayanannya sudah cukup baik, stafnya lumayan tanggap dan lamanya waktu menunggu hidangan pun wajar. Hanya saja minuman yang kami pesan kebetulan semuanya ‘buatan’, instan: lemon tea dari Nestea (utk anak2), dan orange & lemon squash kami hanyalah sirup jeruk dan lemon yang diberi soda. Oh ya, untuk harga, saya kira masih wajar. Kami makan berempat menghabiskan sekitar Rp130.000 (dan ternyata porsi saya yang termahal.. hehe).
Kemungkinan besar kami akan kembali lagi ke sini – untuk mencoba menu yang lain. Apalagi lokasinya dekat sekali dengan tempat kami tinggal, dan anak-anak sudah terbukti doyan dengan makanannya (hanya saja mereka perlu diingatkan terus soal berlarian di tempat parkir). Lain kali, kalau diniatkan ke The Grill lagi, bawa kamera, ah!

The Grill steak & burger
Jl. Ir. H. Juanda 342 D
Bandung
Telpon: (022) 250 0232
(Kalau dari arah bawah/Selatan, letaknya di sisi kanan jalan, di kompleks bangunan ruko pas sebelum belokan ke Jl. Kanayakan/Politeknik Manufaktur ITB. Kalau sudah lihat Borma di sebelah kanan, berarti sudah terlewat!)

Friday, September 28, 2007

[Burger King, Jakarta] Petugas Judes

Another post of mine at Jalansutra mailing list, msg#75211 (again, no response). There was a discussion concerning a (new) Burger King outlet at Senayan City, Jakarta. So I spilled my last experience at that place, which happens to be unpleasant. After posting, I started to notice that my recent posts at this mailing list mostly contained unpleasant experience, or complaints :P

===========================================
Saya dan keluarga menyempatkan mampir ke BK di Senayan City ini pada tanggal 9 September 2007. Kami sengaja datang pagi (pk. 10.00, ketika baru buka) supaya tidak terjebak antrian panjang. Untuk anak2, saya pesankan Kids' Meal, tapi sayang mainannya (bonus menu anak2) sudah habis. Ini kedua kalinya saya ke BK Senayan City, dan selalu mainannya habis. Okelah, nggak apa2 tanpa mainan.

Ketika harus memilih minuman, ternyata tidak ada pilihan lain utk Kids' Meal selain minuman bersoda (iced tea sedang habis). Padahal anak2 saya nggak doyan soda. Ketika saya tanya, apakah boleh diganti jus, mbak di kasir bertanya pada seorang manager pria yang sedang
bertugas. Tidak boleh, katanya. Saya bilang (coba2), "Masa nggak bisa jadi kompensasi habisnya mainan?". Manager membalas dengan ketus, sambil menunjuk ke tulisan MAAF MAINAN HABIS, "Kan kami sudah bilang nggak ada mainan, Bu, nggak bisa dong.. (bla bla bla)". Saya putus saja, "Ya udah, cuma tanya aja, nggak boleh juga nggak apa2". Kaget deh, saya tanya senyum2 malah dia balas dengan judes.

Sayang waktu kami sempit untuk sarapan itu, jadi saya nggak bisa menuntaskan masalah ini. Paling enggak mereka harus tau gimana cara petugas2 BK di luar Indonesia melayani pelanggan (setidaknya di tempat2 yg pernah saya hampiri - di London dan di kota2 di Belanda). Sayang sekali kalau layanannya buruk, padahal burgernya termasuk favorit saya.

Photo source: detik.com

Friday, September 14, 2007

[Atmosphere, Bandung] Etika Mengoreksi Pesanan?

Tulisan ini saya posting di milis Jalansutra, msg #74574, 2 hari yg lalu (belum ada tanggapan). Saya simpan saja di sini sebagai arsip.
*****************************************************************************

Senin malam yang lalu saya dan keluarga (suami, anak2 dan ibu saya) makan malam di Atmosphere, Bandung. Terakhir kali kami ke sini adalah tahun 2002 untuk makan siang. Waktu itu saya belum masuk milis JS dan seingat saya semuanya berlangsung lancar dan memuaskan. Apalagi karena senangnya menemukan tempat segar seperti oase di tengah2 kota Bandung yang mulai padat dengan bangunan beton.

Namun Senin malam lalu ada kejadian yang sedikit aneh. Soal kualitas makanan, sebenarnya normal2 saja dari segi rasa dan harga. Yang saya pesan adalah beef schnitzel (tertera di buku menu sebagai salah satu menu baru, jadi saya coba - tapi ternyata tidak istimewa), anak2 makan "Little Mermaid" yg adalah ikan fillet goreng tepung dengan saus tartar dan kentang goreng. Suami saya makan fettuccine (lumayan, katanya), sementara ibu juga memesan menu baru "Japanese garlic steak" (ini enak! matangnya pas, masih empuk dan garlic-nya cukup terasa tanpa mendominasi).

Untuk makanan penutup, saya pesan "Atmosphere Sundae", yang pada menu terdeskripsikan sebagai: 1 bola es krim pistachio, 1 bola es krim vanilla, guyuran chocolate fudge hangat dan taburan remukan kacang. Ketika pesanan saya datang, ternyata yang menjadi pasangan es krim pistachio adalah es krim coklat - sedangkan saya tidak doyan es krim coklat. Saya bertanya pada waitress-nya, kenapa komposisi hidangannya berbeda dengan yang di menu? Waitress pun memanggil seorang koleganya (yang sepertinya posisinya lebih tinggi), yang segera mengambil gelas es krim saya dan dengan ramah mempersilakan saya untuk menunggu.

Beberapa saat kemudian ia kembali dengan penjelasan bahwa es krim vanilla-nya 'di bawah' sedang habis, jadi sekarang sedang diambilkan 'dari atas'. Setelah sekian menit, seorang waitress membawa kembali pesanan saya. Harapan saya, porsi kali ini adalah freshly-made, diulang dari awal dengan komposisi sesuai di menu. Ternyata yang datang adalah gelas saya yg tadi, hanya saja es krim coklatnya di-scoop keluar dari gelas dan seonggok es krim vanilla dimasukkan sebagai gantinya.

Rasanya jadi berantakan: sebagian besar es krim pistachio-nya sudah meleleh, chocolate fudge-nya sudah mengeras, serpihan kacangnya sudah melempem. Es krim vanilla-nya memang ada, tapi di bawah tetap ada lelehan es krim coklat yang tadi.

Sedangkan tadi siang, ketika saya makan di gerai Es Teler 77 yg terletak di dalam BIP (Bandung), ketika saya menemukan seuntai rambut pada "Es Gaul" dan menunjukkannya pada waitress, dengan segera Es Gaul tersebut diganti dengan yang sama sekali baru.

Jadi kenapa ya restoran sekelas Atmosphere tidak menerapkan etika serupa ketika mengoreksi pesanan saya? Mohon perhatiannya bila ada personel atau representatif dari Atmosphere di milis ini, agar pelayanannya dapat menjadi lebih baik lagi.

Salam,

Tita


Atmosphere Resort Cafe
Jl. Lengkong Besar 97
Bandung 40126
T +62 22 4262815
F +62 22 4262667
W http://www.atmosphere.co.id/bandung/

Kartun diambil dari http://www.cartoonstock.com/

Tuesday, July 17, 2007

Negeri Seribu Danau

[Di-post di milis Jalansutra, msg #71462]
(Baru nyadar bahwa cerita ke Finlandia ini ternyata pernah saya post juga di milis ini, dengan lebih detail dalam dua babak, di th 2004! Pantesan, ketika nulis rasanya kok deja vu)

Bila kita mengenal julukan Negara Kepulauan untuk Indonesia, sehingga sebuah seri tentang anak2 bangsa pun dijuduli Anak Seribu Pulau, ada pula negara yang dikenal sebagai Negeri Seribu Danau, yaitu Finlandia. Salah satu hal yang menonjol dari bangsa Finlandia adalah kecintaan dan penghargaan mereka yang tinggi terhadap alam. Nilai-nilai ini tercermin pada gaya hidup mereka yang selalu meluangkan waktu untuk 'kembali ke alam' di pondok2 musim panas mereka, atau "mökki". Pada umumnya tiap keluarga memiliki mökki di tengah hutan, di tepi danau. Ukuran dan fasilitas dalam pondok ini bermacam2, namun yang wajib ada - selain akomodasi untuk tidur dan masak/makan - adalah sauna.

Bila berteman dengan orang Finlandia, cepat atau lambat kita pasti akan segera dikenalkan kepada tradisi mereka ini. Begitu pula yang saya alami. Sepasang teman, Vesa dan Kikka, mengundang saya melewatkan liburan musim panas di mökki mereka di daerah tengah Finlandia. Setelah perjalanan bermobil dari Helsinki dan bermalam di Hyvinkkää, kami tiba di sebuah desa kecil di daerah Joutsa. Dari sana, mobil terus melaju di jalan raya, lalu tiba2 berbelok keluar jalur dan masuk 'jalan setapak' dalam hutan, menembus pepohonan tinggi. Tak lama kemudian tampak tiga pondok kayu yg terletak di pinggir danau. Satu pondok utama, satu gudang, dan satu sauna.

Ketika itu bulan Agustus, di penghujung musim panas - cuaca masih hangat bersahabat sementara serangan serangga sudah mulai berkurang. Pohon2 pinus yang tinggi dan semak2 rendah silih berganti mengisi lahan hijau di hutan sekitar pondok, tidak terlalu rapat sehingga orang dapat lewat dengan mudah, juga tidak terlalu renggang sehingga privacy pondok dan sekitarnya masih terjaga. Dari tepi danau terlihat pulau2 tersebar di kejauhan; dari yang besar hingga dapat memuat satu-dua m�kki, hingga yang terkecil, yg hanya dapat memuat pepohonan dan tumbuh2an lain.

Setelah membereskan barang2 di pondok utama, kami menuju pondok gudang/garasi untuk mengambil kano dan kayak. Ya, melewatkan seminggu di tepi danau tentunya harus merasakan nikmatnya mendayung! Kano untuk dua orang dipakai oleh Vesa dan Kikka, serta Sussi, seekor Siberian Husky yang sesekali mencebur ke danau untuk berenang. Saya pakai kayak yg hanya muat satu orang, yang perlu daya keseimbangan tinggi ketika masuk dan keluar dari kayak.
Hari pertama ini kami berkeliling di area sekitar pondok saja, terutama bagi saya untuk membiasakan diri mengontrol dan mengarahkan kayak sesuai keinginan. Permukaan air danau yang tenang merefleksikan bayangan kami di air yang bersih. Meskipun tidak ada tonggak2 pagar pembatas, jarak ke pondok2 orang lain yg dapat dicapai dari danau harus dijaga untuk menghormati privacy. Sukses mendayung perahu masing2 tanpa menjadi basah,
kami kembali menuju pondok mendekati jam makan malam ('alarm lapar' dari perut merupakan alat orientasi waktu yang tepat bagi saya di negeri yang - di musim panas - mataharinya enggan redup hingga larut malam).

Keesokan harinya, kami siap2 mengarungi danau lagi, kali ini membawa bekal makanan kecil dan minuman karena jarak yang ditempuh lumayan jauh. Kali ini kami pergi dengan misi mendarat di pulau2 kecil tak berpenghuni untuk mengumpulkan berries dan jamur liar. Bagi Vesa, yang seumur hidupnya selalu melewatkan masa2 liburan di pondok ini, tentu mudah mengorientasikan diri di tengah danau. Lain halnya dengan saya, yang pasti tersasar bila tidak baik2 memperhatikan landmark di sekitar danau selama berperjalanan.

Setelah sekitar satu jam mendayung, kami tiba di pulau kecil pertama. Tidak ada dermaga di sini, jadi kami harus mencari tempat mendarat yang aman. Segera setelah menambatkan kedua perahu, kami mulai menjelajah pulau - didahului Sussi yang girang mencium bau hewan2 liar. Wah, rasanya seperti bertualang di buku2nya Enyd Blyton!
'Panen' kami dari sini lumayan, banyak sekali blueberry yang dapat kami bawa pulang. Sayangnya, jamur yg dapat dimakan jarang dapat ditemukan. Apalagi jenis yg kami cari, chantarelle, yang sangat cocok jadi ingredient saus yg menemani salmon panggang.

Lanjut ke pulau kedua, dengan hasil serupa. Sebagian besar jamur yang dapat ditemukan sebagian besar adalah jenis terompet, yang kemudian, setelah dibersihkan, diuntai pada rentangan benang oleh Kikka, dan dibentangkan di langit2 pondok supaya mengering. Baru setelah menciut dan menghitam (hingga tampak seperti batang korek api yg terbakar habis), jamur2 ini disimpan dalam toples sebagai bahan makanan.
Nah, ketika hendak bertolak dari pulau ini, kembalinya saya masuk ke dalam kayak tidak berlangsung terlalu mulus. Masih di tepi danau, kayak oleng sedikit ketika baru satu kaki saya masuk. Untung titik di situ masih dangkal, jadi yang tercebur hanya sebagian kaki saja, sampai lutut. Ah, nggak apa2, main di danau masa takut basah :)

Menjelang sore kami sudah kembali ke pondok. Berkotak2 blueberry kami bersihkan dulu, sebelum dibuat jadi pies dan cheesecakes oleh Kikka. Selanjutnya, membersihkan jamur dengan kuas, lalu 'menjahit' ujung bawahnya ke seuntai benang panjang. Ini yang paling makan waktu. Setelah semua beres, waktunya bersauna!

Letak pondok sauna terpisah agak jauh dari pondok utama. Ruang sauna rata2 serupa, berisi satu tungku untuk batu panas, ember air dingin dan gayung2 untuk menyiram batu2 tsb. Bila suka, biasanya ada juga rempah alami yg bisa diteteskan ke atas batu, untuk mengaromakan uap. Bangku2 kayu berjajar pada dinding, 2 hingga 3 tingkat. Ada ventilasi untuk sirkulasi udara dan cahaya, tapi tidak sebesar pada ruangan2 hunian biasa.
Orang Finland terbiasa memakai fasilitas ini dengan bertelanjang bulat, baik antar anggota keluarga maupun dengan teman2 sendiri. Bukan berarti mereka kaum nudis atau exhibitionist, tapi karena mereka menganggap semua ini wajar dan alami. Untuk tamu atau pendatang seperti saya yang tidak biasa, mereka mengerti dan biasanya membagi sesi pemakaian sauna, perempuan dan laki2. Atau memaklumi bila kita ingin mengenakan baju renang selama di sauna.

Di pondok ini, saya memilih utk bersauna sendiri, membiarkan Vesa dan Kikka berduaan sebentar. Sauna yg baru mereka pakai menyisakan batu2 yg masih sangat panas di atas tungku api. Saya masuk, duduk dan sesekali menuang air pada batu ketika uap panas sudah berkurang. *PSSCCHHH* ..lalu keringat keluar deras. Ketika sudah agak kepanasan, kita keluar pondok, lari ke dermaga, dan menceburkan diri di danau. Bila dirasa sudah cukup berendam atau berenang di air, kita bisa kembali ke dalam sauna dan bebas mengulangi hingga puas. Kebiasaan ini berlaku di musim apa pun, juga musim dingin. Bila danau membeku, dibuat lubang di permukaannya, sehingga para sauna-goers pun menceburkan diri dalam air es!
Serbuan berbagai sensasi tubuh ini adalah cara cepat membangkitkan rasa lapar. Selesai bersauna dan mandi di shower cabin di sebelahnya, saya langsung tertuntun ke tepi dermaga oleh aroma salmon panggang. Salmon segar yang sudah cukup gurih hanya perlu sedikit diperciki lemon, lalu dipanggang di atas api hingga matang. Sementara menunggu, Kikka membuat sausnya: irisan bawang bombay, butter, creme fraiche dan irisan sedikit chantarelle temuan kami tadi pagi. Dilengkapi kentang rebus, lengkaplah hidangan kami. Dessert-nya tentu saja homemade blueberry pie hangat, dengan es krim vanilla! Makan malam di atas dermaga mungil, di tengah danau tenang, dikelilingi hutan ramah, dinaungi langit malam yg enggan gelap, dan dinikmati bersama teman2 baik.. serasa tak ada masalah di dunia ini.

Seminggu berlalu dengan cepat di sini. Tiba2 kami sudah harus berkemas pulang. Pertama2, tentu menyimpan kembali kano dan kayak yg sudah dikeringkan ke dalam gudang. WC satu2nya yg terletak di dalam gudang juga harus 'diolah'. Ini WC kering, jadi buangan kita yang jatuh di tanah (below the garage) dan tercampur pasir harus diaduk, dan ditutup dengan tanah. Lubang WC diganjal dari dalam sehingga tak ada hewan yg bisa masuk gudang. Meja barbeque juga dimasukkan kembali, pondok sauna dikunci, pondok utama dibereskan. Sampah2 non-organik dikumpulkan untuk dibawa ke pusat daur-ulang di kota, yang organik ditinggalkan sebagai kompos. Dengan cermat, segala jejak2 buangan disingkirkan dari sekitar lokasi. Pondok dan danau ini kami tinggalkan sedapat mungkin dalam keadaan persis seperti sebelum kami datang; bersih dan rapih. Siap untuk menerima penghuni pondok di saat berikutnya!

Thursday, July 12, 2007

Patengan atau Patenggang, sama-sama dingin!

[Di-post di milis Jalansutra, 11 Juli 2007, msg #71265]

Begini ini kalau di Bandung sebagai pendatang; nama-nama lokal jadi tersamar, apalagi kalau cuma mendengar dari omongan teman yang logat Sundanya lekoh sekali. Jadi ketika janjian untuk pergi bareng ke Situ Patengan, saya kira namanya Situ Patenggang. Tapi ternyata, dua-duanya benar! Di peta tertulis "Patenggang". Ah, apapun namanya, yang dimaksud adalah danau yang sama, yang terletak di 'ujung' Ciwidey.

Kenapa 'ujung'? Karena sebelum tiba di Situ Patengan, di sepanjang perjalanannya kita akan melewati obyek-obyek wisata lain, antara lain Kawah Putih dan Ranca Upas (bumi perkemahan, pemandian air panas dan penangkaran rusa), dan hamparan kebun strawberry "petik sendiri" di kiri-kanan jalan.

Kembali mengenai Situ Patengan. Dari kota Bandung menuju Ciwidey, harus melewati Kopo yang terkenal macet. Meskipun kira2 seminggu yg lalu - saat kami ke sana - bukan akhir pekan, namun liburan sekolah masih berlangsung (dengan konsekuensi penuhnya tempat-tempat wisata), jadi kami sepakat untuk menghindari Kopo. Lewat tol keluar Bandung, masuk ke Cimahi, lewat Boras, hingga sampe ke Soreang. Dari sana langsung naik ke Ciwidey. Memang agak memutar dan berbelok-belok, tapi setidaknya mobil bisa bergerak terus, tidak terpaksa berhenti di tengah padatnya lalu lintas. Misi hari itu, antara lain: menjemput anak laki2 kami (6,5 th) yang sedang melangsungkan program hari terakhir kelompok camping-nya di daerah tsb. Sementara teman2 seperjalanan saya memang hanya niat main saja di sana.

Setelah melewati jalanan antar kota, jalan desa, stop di warung untuk beli mie instan, kebun2 strawberry, lalu lanjut naik gunung dan tebing berbelok2 curam, akhirnya tibalah kami di tempat tujuan. Tidak jauh setelah kebon teh Waliman terlalui (dan setelah membayar bea masuk mobil + orang di gerbang depan), jalanan beraspal menyempit dan menggelap seperti direngkuh teduhnya pepohonan liar di sekitarnya.. lalu tiba2 membuka 'tirainya' untuk memperlihatkan pemandangan luas yg terhampar di depan: Situ Patengan!

Mobil terus melaju turun mendekat ke danau. Terdapat tempat parkir yang luas, beberapa villa yang bisa disewa, dan pasar/ kios2 penjual berbagai barang hingga makanan. Di sini, udara terasa jauh lebih segar dibanding di kota, dan suhu pun lumayan dingin. Angin yang hari itu cukup kencang bertiup menambahkan sensasi "liburan di gunung" bagi kami.
Oke, mulai angkat2 barang dari bagasi! Ransel yang saya gembol sudah penuh berisi baju ganti si kecil (3,5 th) yg juga ikut, biskuit dan jus favorit dia, plus kue2 kering. Tangan yg masih bebas membawa kantong plastik besar berisi (lagi2) makanan kering dan peralatan makan (sendok, garpu, piring dan mangkuk plastik). Satu teman menenteng wadah air galonan yg masih terisi kira2 sepertiganya, plus tenda. Teman lain menggotong kompor gas kecil dan panci. Seperti mau camping, ya? Memang!

Benar saja dugaan kami, meskipun waktu itu hari Kamis, Situ Patengan penuh pelancong! Apalagi di tempat parkir tadi kami lihat ada 10 bis yg rupanya membawa siswa2 IPDN berwisata ke sana. Dari tempat parkir ini, orang bisa berjalan sepanjang daratan lebar yang sepertinya menjorok ke 'tengah' danau.
Kami berjalan ke arah ujung daratan yg paling jauh dari tempat parkir, ke titik yang dijanjikan seorang teman lain, yg memimpin camp putra kami di sana. Dengan segera kami menemukan kelompok camp tsb, yang sedang ramai mengadakan game high rope dan flying fox. Pohon2, kontur alami dan proporsi antara tanah dan air danau di sana rupanya sangat cocok untuk permainan2 ini, sampai2 sepertinya tatanan alami ini memang sengaja menyediakan diri khusus untuk itu.

Setelah tenda kami pasang dan kompor diletakkan di balik sebuah batu besar (supaya kalau masak apinya tidak terganggu kencangnya tiupan angin), mulailah kami berjalan2 sedikit. Bisa ngapain aja sih di sini? Ternyata ada tempat penyewaan sepeda air dan perahu kayu, baik tanpa maupun dengan motor.
Selain itu, pada dasarnya pengunjung bebas menikmati alam.. bisa pasifsantai seperti duduk2 ngobrol, semi aktif seperti main musik dan bikin acara arisan temu-kangen outdoor, bisa juga hiper aktif seperti grup camping ini.

Waktunya makan siang! Untuk mengganjal perut, kami sudah bawa berbagai jenis roti. Tapi untuk hangat2an, paling tepat memang mie instan rebus! Tanpa ditambah kornet atau telur, tapi dengan iringan biskuit 'rasa ayam' berbentuk segi-enam sebagai 'kerupuk'nya. Klasik! :D
Selesai makan, bilas2 alat makan dan beberes, kami memindahkan tenda ke dataran yg lebih tinggi. Dari sana kita bisa nonton aktivitas grup camping selanjutnya: membuat rakit dari batang2 bambu dan ban2 bekas. Ada dua kelompok; setelah selesai, masing2 regu menaiki rakit buatan sendiri untuk berlomba. Meskipun saat itu siang bolong, udara tetap dingin - apalagi air danau! Tapi anak2 (usia SD-SMP) ini tetap bersemangat berlumpur2 dan berbasah2, mendorong dan mendayung rakit mereka ke tengah danau.

Sayang jadual program camping tsb. berjalan lebih lama dari rencana, padahal kami harus kembali ke Bandung sebelum terlalu sore. Jadi misi menjemput dan membawa pulang si sulung gagal. Ia kami tinggalkan bersama grup camping-nya lagi, sambil berjanji akan menjemputnya di meeting point malam itu. Kami mengemas barang2, mengumpulkan dan membuang sampah (kemasan makanan memang sampah terbanyak!), menggulung tenda, lalu membawa barang2 kembali ke mobil.
Tak disangka sudah seharian penuh kami berkeliaran di sekitar danau. Tidak berbuat banyak selain main bola, main sepeda (meminjam dari grup camping.. hehe) naik-turun bukit, berkemah kecil2an dan jalan mondar-mandir, tapi rasanya cukup penat juga. Sekitar pukul setengah empat sore kami meninggalkan Situ Patengan dan tiba kembali di Bandung Utara menjelang jam enam sore (ini setelah pakai acara mampir ke salah satu kebun strawberry). Kesan dan pesan dari acara plesiran hari itu? Senang dan lelah, namun kurang puas karena belum sempat berperahu! Nah, ini bisa jadi "Misi Ciwidey" selanjutnya, kan?

Sunday, April 29, 2007

[sambutsutra] Friends, Food, Fun!

As posted in Jalansutra mailing list, msg #67028

Sejak bergabung di milis Jalansutra th 2003, baru kali inilah saya merasakan

"kopdar" dan "samsut" sekaligus! Cerita2 mengenai ketemuan sesama JSers yg

selama ini hanya bisa saya baca lewat milis, akhirnya saya alami sendiri,

dan ternyata memang seru!



Saya dan keluarga 'baru' tiba dari Belanda utk menetap di Indonesia pada

awal Februari 2007 lalu. Karena kami langsung berdiam di Bandung (dan jarang

sekali ke Jakarta, berhubung penuhnya jadual utk mengurus dokumen2 ijin

tinggal, kepegawaian, kependudukan, dll.), baru weekend lalu lah acara

"sambutsutra" kami dapat diadakan. Pilihan tempat jatuh pada saya sebagai

yang disambut. Tanpa berpikir terlalu lama, saya sebut "Sate Khas Senayan"

pada Lidia Tanod, mod JS yg menjadi panitia sambutsutra kali ini (thanks,

LiTa!). Alasannya? Selain lokasinya yg dekat dengan rumah orang tua saya,

juga karena nilai sentimentilnya yg tak tergantikan: kenangan2 masa kecil

saya banyak yg dilatar-belakangi rumah makan ini!



FRIENDS

Ketika saya datang, sekitar pk. 12.00, meja sudah terisi dengan keluarga Pak

Tonny Syariel. Tidak lama kemudian datanglah Jeny dan Hendra 'Sop Jagung',

disusul dengan Santi, Irwan dan Reky. Sambil menunggu yg lain2 datang, Pak

Tonny telah mengeluarkan dua kotak coklat oleh2 dari Austria: yang satu

bertema Mozart (bungkusan setiap butir coklatnya bergambar Mozart!), satu

lagi kemasannya bergambar lukisan tenar berjudul "The Kiss" karya Gustav

Klimt.

Lidia lalu datang, membawa kabar bahwa Pak Bondan berhalangan hadir karena

kondisi kesehatannya (lekas pulih, ya, Pak!), dan Cak Uding juga terpaksa

batal datang karena harus mengantar putranya ke dokter, tepat pada jam 1

siang (semoga cepat sembuh, Cak). Ternyata bukan hanya kabar yg dibawa

Lidia, tapi juga bermacam2 coklat! Kami tumpuk dulu bawaan Lidia utk pencuci

mulut nanti.. sementara coklat dari Pak Tonny sudah lebih dari separuhnya

habis.



Peserta makan siang di meja kami akhirnya lengkap juga dengan kedatangan

Andrew, Iping, Wasis, dan Chica dengan Lunanya yg ginuk2 itu. Chica membawa

roti kreasi terbarunya: roti yg adonannya dicampur dengan pisang, berisi

coklat! Pengicipan roti yg masih hangat ini terpaksa diundur juga hingga

selesai makan siang, sebab kami sudah mulai memesan2 makanan, dan minuman

sudah datang.



Sementara menunggu itu, Capt GP beserta ibu menyempatkan mampir. Juga

Indrawihodo dengan Dito, putranya, yg sengaja makan siang bersama

keluarganya di tempat yg sama, supaya sambil bisa bertemu dengan teman2 JS

juga. Mia, yg terpaksa batal bergabung karena putranya sakit, juga

menyempatkan mampir utk bertemu lagi dengan saya dan memberikan kenang2an,

foto ketika kami bertemu di Amsterdam - sangat mengharukan, terima kasih ya

Mia! Belakangan, ketika kami hampir bubaran, datanglah Yohan untuk 'transit'

di sela2 acaranya yg padat hari itu.



FOOD

Makanan yg dipesan datang, rupanya pun bermacam2. Wajib tentunya memesan

sate, ayam dan kambing, yg disajikan di atas arang panas, sehingga tetap

hangat hingga lahapan tusuk terakhir. Rasa satenya tetap seenak yg saya

ingat dulu; tak lekang waktu. Tahu telornya enak, dengan gerusan kacang yg

menambah kayanya rasa saus kecap dan tekstur hidangan ini. Tahunya terasa

lembut di tengah2 'keriting'nya telur dadar yg menyelubunginya. Cumi isi

telur, gurih dan mantap, bumbunya meresap hingga ke dalam dan dagingnya

kenyal namun tidak alot. Ada juga tongseng kambing(?), tapi tidak saya coba.

Gurame goreng disajikan 'berdiri' dalam keadaan merekah renyah. Rasa dan

keringnya pas! Ada juga appetizer platter yg sayangnya datang belakangan,

sehingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya (keburu sudah pada kenyang

dengan hidangan utama!). Isi platter ini adalah kerupuk kulit, risoles,

sosis solo, dan tahu isi. Tidak semuanya sempat saya coba, karena sudah

hampir kekenyangan - sambil masih menyisakan tempat utk mengicipi coklat2 yg

dibawa LiTa dan rotinya Chica..



Saya lupa merk coklatnya, tapi masing2 kemasan bertuliskan "Number 1" dan

masing2 jenis dinamai nama tempat (Java, Madagascar, dsb). Sebagian besar

memuat lebih dari 60% cacao; seingat saya hanya satu yg berasa 'susu lembut'

dengan 33% cacao di dalamnya. Patahan2 coklat tersebar dari ujung meja yg

satu ke yg lain, diiringi komentar2 spt "Wah pahit", "Yg ini enak nih, pakai

bulir2 jeruk di dalamnya!", atau "Ini buat bikin kue aja nih, 85%

cacao-nya!" Seru ya, icip2 rame-rame..



Giliran roti buatan Chica kita bongkar. Menurutnya, kreasi terbarunya ini

atas permintaan 'simbah dukun roti' Cindy Ceretch: campurkan adonannya

dengan hancuran pisang, lalu isi coklat. Ketika kantung kertas yg membungkus

roti kita buka, semerbak pisang langsung tercium, sementara roti masih

terasa hangat. Dengan mudah bagian2 roti dapat kita sobek, dan masing2

mengulum roti dengan sensasi baru ini. Pisangnya tidak terlalu terasa, tapi

aromanya yg tidak terlalu kuat cukup dapat memberi 'warna' pisang pada si

roti. Isi coklatnya, seperti biasa, sangat royal. Coba kita tunggu komentar

Ceretch atas usulnya ini! :D



FUN

Selama makan siang tsb, tentu saja obrolan kita ngalor-ngidul. Awal2, karena

baru pertama bertemu muka, tentu saja kita bicara soal posting perjalanan

atau makan2 yg sama2 telah kita baca. Lalu seperti biasa nyambung ke teman2

yg kita kenal juga, sebelum akhirnya ke hal2 lain seperti.. komik! Dan

ternyata bapak2 yg hadir termasuk penggemar cerita silat, dan kita asyik

mendengarkan Andrew dengan semangat bercerita seputar hal itu. (BTW, makasih

ya Ndru pinjeman Kingdom Come dan Gundala-nya :D)



Sebagai yang di-samsut, saya hanya dapat membawa sedikit sekali oleh2

(karena kami belum juga selesai unpacking, meskipun sudah 3 bulan tinggal di

sini.. hehe). Ada sedikit coklat (berbentuk koin2 Euro) dan marshmallow isi

jelly, dan kantong2 teh (Dilmah rasa rum, Pickwick rasa redbush-honey dan

Lipton green tea yg 'kantong'nya bundar). Mudah2an berkenan ya.



Selesai makan pun, formasi meja tidak 'serapih' awalnya. Kami berpindah

duduk, berganti teman ngobrol, dan ramai lagi membahas hal2 lain. Perkakas

makan siang mulai dibereskan dan disingkirkan sekitar pk 3 sore, ketika

masing2 dari kami juga masih harus beranjak ke tempat lain. Terima kasih,

semuanya, atas siang yg menyenangkan! Friends, food, fun - a perfect

combination to fill your Saturday afternoon!



Salam dari Bandung,



Tita

Friday, April 13, 2007

Rice Bowl

Rating:★★★★
Category:Restaurants
Cuisine: Asian
Location:BIP Bandung
Resensi ini di-post juga di milis Jalansutra, msg #65886

Sebenarnya sudah sejak beberapa minggu lalu saya tahu tentang tempat makan ini, tapi agak enggan mendatanginya.Kenapa? Bukan karena lokasinya yang ‘mojok’ di lantai dasar Bandung Indah Plaza dan dikelilingi oleh kios2 yang belum buka. Tapi karena – setiap kali turun atau naik eskalator di lantai dasar yg dekat dengan tempat tersebut – selalu ada staf Rice Bowl yg berseru2, “Silakan Rice Bowl-nya!”, “Coba Rice Bowl-nya, Mbak!”, dan sejenisnya. Makin diteriaki, makin saya urung mampir.

Nah kemaren siang ini rupanya saya ‘jodo’ dengan tempat ini. Setelah sedari pagi hanya diisi bubur ayam pinggir jalan, sekitar jam dua siang - ketika akhirnya semua pekerjaan saya selesai - dalam keadaan sangat lapar, saya memutuskan utk mampir ke Rice Bowl. Kebetulan sedang tidak ada staf yg berseru2 di ujung eskalator. Ini cara meluangkan waktu yang baik sebelum berangkat menjemput anak2 di sekolah!

Ice Lemon Tea
Meskipun sudah lewat jam makan siang, beberapa meja di Rice Bowl masih terisi, dan ternyata pelanggan pun masih berdatangan. Saya memilih sebuah meja kecil di pojok ruangan, dan duduk di salah satu dari dua kursi empuk yg berhadapan. Sebelum membaca menu, saya pesan dulu minuman: ice lemon tea. Minuman ini segera datang dalam gelas tinggi, berisi bongkahan2 es batu dan cairan yg warnanya coklat pucat. Kadar manis dan asamnya cukup imbang, tapi kenapa rasanya agak sintetis ya? Minuman ini (pada menu) termasuk chef’s recommendation, jadi semestinya bukan lemon tea pabrikan, bukan?

Orange Chicken Rice Bowl
Berlanjut ke makanan. Saya pesan chef’s recommendation tanpa ‘cap cabe’ di pinggirnya (= tidak pedas): orange chicken rice bowl. Tak lama kemudian semangkuk besar porsi nasi tsb dihidangkan di depan saya. Tidak salah bahwa ini termasuk hidangan yg dijagokan, sebab tekstur dan rasanya pas. Gigitan pada potongan daging ayam bite-size bersalut tepung renyah, disusul dengan lembutnya daging dan asam-manisnya saus jeruk, sangat sesuai dengan harapan rasa yg telah dititipkan pada lidah. Condiments pada porsi tsb berupa irisan ketimun, bawang bombay dan nanas adalah juga teman2 yg cocok bagi si ayam renyah. Hanya saja sayang, nasinya tidak mudah ‘diangkat’ dengan sumpit; sangat mudah tercerai-berai dan jatuh berantakan kembali ke dalam mangkuk. Dan sayang juga daging ayamnya terlalu sedikit, sementara porsinya belum cukup meredakan rasa lapar saya.

Masa pesan lagi? Yah sekalian deh, mumpung sedang di sini dan sambil menghabiskan waktu. Saya ambil buku menu lagi sambil melirik ke meja2 lain. Wah, ada mie juga! Sepertinya yang berkuah2 hangat begitu enak utk sore2 yg dingin spt waktu itu. Mata saya segera menyisir kembali buku menu, terutama ke baris2 dengan icon ‘chef’s recommendation’ di sisinya. Foto beberapa menu yg tertera di situ sangat membantu saya membuat keputusan. Oke, karena tadi menu ayamnya sama sekali tidak pedas, kali ini saya pilih menu yang disertai satu icon cabe (ada nol, satu, dua atau tiga icon cabe pada masing2 menu, sesuai dengan tingkat kepedasannya): black pepper beef noodle (saya pilih yg home made noodle; beda sekitar 6000 IDR dengan pilihan Hong Kong noodle).

Mengamati sekitar, saya lihat para staf Rice Bowl cukup cepat tanggap. Selalu ada yg siap utk dipanggil, dan bahkan berinisiatif membantu ketika seorang pelanggan dengan bayinya menumpahkan sesuatu di meja mereka. Mungkin atribut ‘family restaurant’ memang cocok untuk tempat ini. Juga ketika dengan tidak sengaja saya menyenggol wadah saus/sambal di meja, yg berakibat cipratan2 sambal pada tangan dan permukaan meja. Seorang pelayan segera memberi setumpuk serbet kertas yg ditata di atas sebuah piring kecil.

Black Pepper Beef Noodle
Porsi black pepper beef noodle saya datang dengan kuah terpisah dalam mangkuk yg lebih kecil. Tampilannya menarik! Kalau yang tadi kaya dengan warna kuning cerah, diselingi aksen hijau dari ketimun, kali ini dominan warna coklat gelap baik dari daging sapi maupun taburan gerusan lada hitam di permukaan mangkuk dan coklat pucat dari lembaran2 mie, dengan aksen merah yg berani dari irisan cabe, hijau terang dari paprika dan pakchoy, dan kilapan2 segar dari irisan bawang bombay, daun bawang dan bawang putih. Kuah kaldunya yg sangat panas juga terlihat menarik, dengan taburan irisan tipis daun bawang. Ketika diicip, sangat terasa indikasi sari poultry – mungkin bebek dan ayam sekaligus – yang cukup mild dan dengan baik dapat mengimbangi pedasnya merica pada menu utama.

Bagian mie yang belum tercampur bumbu2 black pepper ternyata sudah terasa cukup enak. Sayur2an yg menyertai irisan daging sapi juga terasa segar, baik rasa maupun teksturnya. Namun sayang, beberapa potong daging terlalu melawan ketika digigit; cenderung alot. Padahal rasanya mantap, terutama dengan cubitan2 asyik dari serpihan2 kasar lada hitam yg bertebaran di sekujur porsi mie.

Red Bean Ice Bowl
Setelah porsi kedua ini, rasa lapar tergantikan dengan menjelang puas. “Menjelang”? Iya, sebab rasanya belum lengkap bila tidak diakhiri dengan sedikit yang manis-manis. Apalagi sebelumnya saya sudah melirik salah satu (lagi-lagi) rekomendasi si jurumasak pada buku menu: red bean ice bowl – yang porsinya saya duga cukup mungil, mengingat keadaan lambung saya yang mestinya sedang cukup sibuk mencerna makanan2 sebelumnya. Jadi dengan yakin saya pesan dessert yang satu ini.

Tak lama kemudian datanglah es krim kacang merah saya: sebuah mangkuk transparan yg pas untuk satu bola es krim vanilla, dengan taburan kacang merah dan salutan sirup kental. Kacang merahnya pas, tidak keras, juga tidak lembek. Sirup kental itu ternyata berasa seperti cairan gula jawa, yang segera mengingatkan saya pada manisnya cendol. Ini adalah penutup yang sangat pas, baik rasa maupun porsinya. Tidak terlalu manis, dan tidak membosankan.

Waktunya telah tiba bagi saya utk meninggalkan tempat ini, namun masih banyak menu yg ingin saya coba di sini. Lain kali, saya berniat mengajak teman makan, supaya makin banyak yang bisa diicipi. Mudah2an saat niat itu hampir terlaksana, sedang tidak ada yang berseru2 ke arah kita di dekat eskalator..

Prices (IDR)
Orange chicken rice bowl 18,900
Black pepper beef noodle (homemade) 23,900
Ice lemon tea 7,900
Red bean ice bowl 6,900
[Tax 10%]

Scale 1 to 5
Service: 4
Food: 3,5
Ambience: 4
Price: 3,5
Total: about 3,75

Rice Bowl Family Restaurant
Bandung Indah Plaza
Telp 022 4223308
Website: http://www.ricebowl.co.id/

P.S. Anyone who'd like to see the complete version of my Rice Bowl drawing can view it at my Back to Bandung, ... album.

Monday, March 27, 2006

Jalan-jalan di Barcelona (2)



As posted in Jalansutra mailing list, msg #48250

Lanjutan dari Jalan-jalan di Barcelona (1): #48235

Makan-makan di Barcelona: #48233





JANGAN NIKAH DULU SEBELUM...

Jumat malam (17 Maret). Di sebuah bagian kota (saya lupa namanya),
terdapat sebuah lapangan yg dipenuhi mobil2 polisi, juga petugas polisi
yg berjaga2 di sekitarnya. Ada apa ini, pikir saya. Gordi menjelaskan,
bahwa tiap Jumat malam anak2 muda Barcelona diijinkan mengkonsumsi
minuman keras beramai2 dengan teman2nya sampai pagi, hanya di tempat
ini. Tapi makin lama sistem lokalisasi ini makin tidak nyaman (utk para
pemuda tsb), karena makin banyaknya polisi yg dikerahkan utk
mengamankan daerah sekitarnya. Mereka merasa seperti anak2 yg terus
menerus diawasi, sehingga keramaian tempat ini pun menjadi berkurang.
Entah ini berarti mereka mengurangi pesta minum2, atau berarti mereka
diam2 minum di tempat lain..



Setelah makan malam (sekitar pk. 23:00), kami menelusuri Barri Gothic (gothic quarter), bagian tertua kota Barcelona. Di samping gedung2 megah dengan iluminasi mengagumkan pada malam hari, spt Palau de la Generalitat (istana gubernur) yg berseberangan dengan Casa de la Ciutat (town hall),
Cathedral, dan istana2 yg lebih kecil lainnya, di daerah ini tersebar
pula restoran dan cafe2 mentereng, yg terlihat dipenuhi orang.



Uniknya, beberapa kelompok pengunjung cafe mengenakan atribut serupa.
Sekelompok perempuan mengenakan telinga kelinci, tertawa2 ceria di
sebuah teras cafe; sekelompok laki2 mengenakan topi2 plastik, ribut
berseru2 dengan gelas bir di tangan masing2. Gordi menjelaskan bahwa
kelompok2 ini biasanya adalah mereka yg merayakan bachelor(ette) party,
atau pesta melepaskan masa lajang sebelum menikah, dan biasanya mereka
berasal dari daratan Britania Raya. Kenapa? Mungkin karena di sana
terdengar pepatah, "Jangan menikah dulu sebelum mencoba Spanyol"(?),
dan mungkin juga karena akhir2 ini banyak sekali penawaran penerbangan
murah dari London ke Barcelona.



Malam itu makin diramaikan oleh orang2 Irlandia yg merayakan St.
Patrick's Day; terlihat dari atribut yg mereka kenakan, baik berupa
topi (berbentuk bundar), hiasan kepala berbentuk daun semanggi, hingga
hiasan muka dan aksen pada baju, rompi dan dasi, yg semuanya berwarna
hijau. Sorakan, nyanyian, tawa, terdengar dari berbagai sudut, di
celah2 bayangan dan profil bangunan2 gothic, adalah campuran unik dari
energi hidup masa kini dengan saksi2 bisu masa lampau, yg berlangsung
hingga dini hari.





HIBURAN RAKYAT

Sabtu malam, keitka hari menjelang gelap, kami berjalan menuju Palau Nacional dari arah Placa d'Espanya.
Sekali lagi saya menemukan eskalator utk pejalan kaki, tanpa atap
pelindung, yg tersambung ke sebuah jembatan penyeberangan ke arah Montjuic. Di ujung jembatan, terdapat Placa del Marques de la Foronda, di mana terdapat sebuah air mancur raksasa, Font Magica,
yg akan memulai aksinya pada pukul 7 malam. Kami memanfaatkan satu2nya
WC otomatis yg perlu dioperasikan dengan koin seharga 0,30 Euro (ini
satu2nya "WC bayar" yg kami temui - sebelum ini, semua WC di tempat2
umum itu gratis dan lumayan terawat bersih).



Kami mampir sebentar ke Pavello Mies van de Rohe,
yg didesain pada th 1929 dengan bahan2 baja, kaca, batu dan onyx. Ciri2
desain Bauhaus yg simpel, tegas namun elegan segera terlihat pada
paviliun ini. Sayangnya kami tidak sempat masuk, dan hanya berjalan
sepanjang bagian teras paviliun, dengan sebuah kolam berbentuk persegi
terbentang di sisi kirinya. Kami lanjutkan mendaki, ke arah Palau
Nacional yg berfungsi sebagai Museum Nasional. Terdapat beberapa
eskalator lagi di antara anak tangga menuju gedung ini, hingga
perpotongan dengan Passeig de la Cascade.



Terlihat banyak sekali orang yg berjalan searah dengan kami, menuju
puncak Montjuic. Mereka pun hendak menyaksikan Font Magica beraksi.
Sampai di depan Palau Nacional, kami duduk di salah satu anak tangga di
depan istana tersebut, bersama dengan orang2 yg bahkan sambil berpiknik
dengan anak2 mereka. Dari titik tersebut, kami dapat melihat jauh ke
bawah, hingga ke Placa d'Espanya. Orang2 mulai ramai mengerubuti Font
Magica, juga mencari tempat duduk di anak2 tangga. Hari belum gelap
benar, tapi sekitar jam tujuh malam beberapa 'air terjun' pada
telundakan dari Palau Nacional menuju ke bawah mulai mengalir deras
secara serentak. Lampu2 pun mulai dinyalakan, termasuk juga yg
menerangi jajaran air terjun tersebut.



Font Magica juga terlihat mulai menyemburkan airnya, dengan lampu
berwarna-warni pada dasar kolam. Pertunjukan pertama dimulai! Musik
mulai terdengar dari arah air mancur. Kami dan beberapa orang lain yg
memutuskan utk melihat lebih dekat supaya dapat juga merasakan gelora
musik di sekitar kolam, bergegas menuruni anak2 tangga, menuju Font
Magica. Kami lalu duduk di salah satu anak tangga terdekat dengan kolam
air mancur tsb, dan mulai menikmati kombinasi dan variasi
tinggi-rendahnya, kuat-lemahnya semburan air dan pergantian warna yang
bersinkronisasi dengan alunan musik (medley lagu2 klasik yg bernada
energik dan dinamis, sebagian besar merupakan karya2 Tchaikovsky).



Bertambah gelapnya malam menambah pula kesan megah penampilan Font
Magica. Jejeran air mancur di sepanjang telundakan menuju Palau
Nacional turut memeriahkan suasana. Apalagi dari belakang gedung tampak
garis2 cahaya yg kuat menuju langit, dari lampu sorot yg diletakkan di
belakang gedung. Lengkap sudah kanvas alam Montjuic ini dilukisi dengan
cahaya, air, dan musik yg anggun.



Aksi air mancur ini berlangsung sekitar 15-20 menit, tapi dimulai
setiap setengah jam mulai pk. 19:00. Pada musim dingin (spt malam itu,
meskipun sudah hampir masuk musim semi), berlangsung hanya hingga pk.
20:00. Tidak hanya wisatawan asing dan domestik, para penduduk lokal
pun terlihat memenuhi lapangan luas di sekitar air mancur. Anak-anak
kecil tidak dapat menahan diri, menari2, melompat dan berlari di
sekitar air mancur, mengikuti irama musik.

Kami sangat terpesona hingga betah tinggal sampai tarian terakhir Font Magica malam ini, yg kali ini menampilkan lagu Barcelona yg dinyanyikan oleh (alm.) Freddie Mercury dan Monserrat Caballe,
seorang diva opera Spanyol (lagu ini batal dipentaskan pada Olimpiade
1992, karena Mercury meninggal pada akhir 1991, dan Caballe menolak utk
mementaskannya dengan orang lain). Saat "Barcelona" berkumandang, kami
telah berdiri tepat di salah satu sisi Font Magica, terdiam mengagumi
dan menikmati suasana yg sedikit mencekam ini. Ah, benar2 momen yg
tepat utk melewatkan malam terakhir di Barcelona.





Ada beberapa gambar di http://esduren.multiply.com/photos/album/39


















Saturday, March 25, 2006

Jalan-jalan di Barcelona (1)



As posted in Jalansutra mailing list, msg #48235



[Bagian lain dari msg. #48233 di milis Jalansutra]




Dalam waktu yg singkat, Miren berniat membawa saya ke beberapa tempat
wajib-kunjung di Barcelona, sebab tidak mungkin saya dapat menghampiri
semuanya. Ini pun sebagian besar hanya melewati gedung atau venue-nya
saja, tanpa sempat mampir masuk menikmati isi museum, dsb.





NYASAR TAPI ASIK

Karena 'ketlisiban' e-mail antara saya dan Miren, dari airport saya harus cari jalan sendiri ke tempat menginap: Residencia d'Investigadors (= Residence for Researchers), sebuah guest house
yg berafiliasi dengan universitas yg mengundang saya, di Carrer
Hospital 64. Begitu mendarat dan keluar di ruang kedatangan, segera
saya hampiri kios informasi, di mana personelnya dengan jelas
menunjukkan letak jalan Hospital tsb di peta.

Dari airport saya naik bis biru nomer A1 yg sengaja disediakan utk
mengangkut penumpang dari bandara ke pusat kota, dan sebaliknya. Tiket
satu jalan seharga 3,75 Euro. Sesuai instruksi dari petugas informasi,
saya turun di Plaza Catalunya, utk selanjutnya berjalan kaki menuju jalan Hospital.



Bis berhenti di sisi sebuah gedung pusat perbelanjaan yg sangat besar.
Meskipun udara agak dingin (sekitar 15C) dan matahari malu2 bersinar,
jalanan ramai sekali baik oleh orang lokal maupun wisatawan asing. Saya
menyeberang ke arah plaza, lalu mencari bangku utk duduk mempelajari
peta, mencari orientasi supaya bisa tahu harus berjalan ke arah mana.
Rupanya agak susah berkonsentrasi pada peta, sebab saya ingin melihat
sebanyak mungkin keadaan sekeliling. Lapangan di tengah sibuknya kota
ini begitu besar, penuh tanaman segar dan elemen penyejuk mata lainnya
(seperti patung dan air mancur). Di berbagai sudut terlihat orang
duduk2 bersantai, anak2 bermain, kios2 kecil penjual mainan atau
makanan kecil, dan sebuah kios informasi utk wisatawan. Di mana-mana
tersebar polisi yg mengenakan rompi berwarna lime green
dengan "Guardia Urbana" tercetak besar pada punggungnya. Ah, tanya
jalan ke mereka saja, pasti lebih yakin. Saya bertanya dalam bahasa
Inggris pada seorang polisi yg menjawab dengan bahasa Spanyol, tapi
bahasa tubuhnya demikian jelas: saya harus berjalan melintas plaza,
menyeberang ke La Rambla, terus menelusuri hingga ... (selebihnya hanya
saya anggukkan sopan, yg penting saya ke La Rambla dulu).



La Rambla, sebuah pedestrian strip
yg saya pandangi dari arah Plaza Catalunya, terlihat makin jauh makin
rendah elevasinya, sebab memang jalan ini menuju ke arah pantai di
selatan Barcelona. Di sisi kiri-kanan La Rambla adalah jalanan mobil
(masing2 satu jalur). Saat itu sekitar jam satu siang, jalanan sudah
dipenuhi orang, dan La Rambla sedang berada dalam kondisi 'full
action'. Terdapat deretan kios di sisi2 La Rambla, menjual berbagai
macam benda, dari cendera mata, bunga dan tanaman, hingga (makin ke
arah pantai) lukisan dan pengamen foto & karikatur. Banyak juga
street performer yg mendandani diri sebagai patung hidup dengan
berbagai tema yg sangat kreatif. Beberapa restoran juga memasang
sebagian bangku2nya di La Rambla, sementara restorannya sendiri
terletak di seberang jalur mobil.



Sebagai daerah padat wisatawan, banyak peringatan utk berhati2 pada
pencopet atau penjambret, dan terlihat pula sebaran polisi guardia
urbana yg cukup merata di jalanan ini. Kesempatan saya utk bertanya
lagi pada mereka, dan dijawab lagi dengan bahasa Spanyol, yg pesannya
kira2 begini: belok kanan setelah stasiun Metro "Liceu". Metro Liceu
pertama yg saya hampiri adalah sebuah exit kecil, tapi saya tetap belok
menyeberang ke kanan, sebab tertarik dengan sebuah tempat yg
kelihatannya seperti pasar tradisional, dengan atap tinggi di atas
ruang terbuka yg dipadati berbagai macam kios. Tergantung di antara
atap dan tanah, terdapat signage bertuliskan "La Boqueria". Dan benar, La Boqueria ini adalah pasar, dan mata saya bagai pesta begitu memasuki daerah pasar ini.



Kios2 terdepan dari arah masuk adalah bagian permen dan berbagai jenis
manisan, yg sangat berwarna-warni. Masuk lebih ke dalam lagi, terdapat
banyak kios buah2an yg bahkan menjual dragon fruit, manggis, pepaya,
rambutan dan jambu klutuk, di samping buah2an yg umumnya ada di pasar2
Eropa (spt berries, kiwi, anggur, dll). Di sini terdapat banyak juga
kios daging, dari yg mentah (baik daging maupun berbagai organ) hingga
berbagai hasil olahannya (cured ham, berbagai jenis susis, dll) .
Tidaklah heran, sebab daging memang lumayan banyak dikonsumsi oleh
penduduk daerah Katalan ini. Di pasar ini pula lah, pada keesokan
harinya, saya sempat membeli oleh2 dari kios khusus coklat, berupa
coklat tradisional khas Katalan: butiran kacang almond, dilapis gula,
diselubung coklat, lalu digulirkan pada coklat bubuk. Memang agak mahal
(10 butir dihargai 3 Euro), tapi benar2 enak dan pantas dicoba. Di sini
tersebar pula kios2 ikan dan produk2 laut lainnya, yg benar2 membuat
betah karena segarnya pemandangan dan hidupnya suasana sekitar. Mungkin
orang2 memang betah di sini, sebab tersedia pula beberapa tapas bar di
antara kios2 ini, sehingga pengunjung dapat melepas penat sambil masih
menikmati suasana pasar. Belakangan, saya dengar dari Miren bahwa pasar
La Boqueria ini memang yg paling terkenal se-Spanyol; bahkan orang2
luar Barcelona pun datang kemari utk mencari sesuatu yg eksotik atau
sekedar cuci mata.



Saya berkeliling pasar, hingga tembus ke bagian belakang pasar (tempat
parkir, umumnya utk un/loading bahan2 dagangan). Dari sana saya
berjalan ke arah selatan pasar, mengecek nama jalan, dan gembira
akhirnya menemukan jalan Hospital (hore! tempat menginap dekat sekali
dengan pasar!). Sempat menyasar2 sedikit jadi tak terasa, karena jalan2
yg saya lalui sangat penuh aksi!





ESKALATOR BISA DIHUJAN2KAN?

Sekitar 10:30, kami (saya, Miren, Deepa dan Jinisj) bertemu di stasiun Metro Vallcarca, utk kemudian berjalan ke Parc Guell/Casa-Museu Gaudi.
Dari arah ini berarti memasuki Parc Guell bukan dari gerbang utamanya,
tapi dari entrance yg tertinggi dari seluruh wilayah Parc Guell tsb.
Utk menuju ke sana, kami harus berjalan menanjak di antara rumah2
penduduk (umumnya berbentuk apartemen), yg makin lama makin curam. Di
sisi2 jalan terlihat deretan mobil yg diparkir seperti menukik ke
bawah. Di beberapa ruas jalan, saking curamnya, tidak dibuat jalan
beraspal, melainkan dibuat anak2 tangga. Di sini lah ada hal yg membuat
saya heran sekali: terdapat eskalator di antara anak2 tangga ini. Baru
kali ini saya lihat eskalator dioperasikan di luar ruang, tanpa
pelindung. Apakah memang ia bisa tahan terhadap hujan? Di samping itu,
kelihatannya aneh saja, ada eskalator di depan rumah orang, di tengah
jalan. Terlepas dari keanehannya, saya menyambut baik ide ini, sebab
pendakian masih harus terus dilakukan. Adanya eskalator ini sangat
membantu ("Terutama untuk saya", kata Miren, si perokok
berat).



Memasuki Parc Guell, terdapat jalan setapak menuju ke semua bagian
taman. Kami pilih utk naik ke titik tertinggi dulu, dari mana kami bisa
memandang ke seluruh kota Barcelona. Di kejauhan tampak beberapa
landmark yg mudah dikenali, dan dari sini pula tampak bahwa Barcelona,
meskipun padat permukiman, selalu menyediakan tempat lapang (plaza atau
wilayah pedestrian yg cukup luas) bagi penduduknya.

Dari titik tertinggi ini kami lalu berjalan menuju museum Gaudi; bagian
dari Parc Guell di mana Gaudi mulai membangun kota dengan konsep urban
yg ada dalam benaknya. Terdapat sebuah restoran di salah satu sisi
tebing, memandang ke arah lapangan luas berbentuk hampir bundar.
'Pagar' di sekeliling lapangan ini adalah juga bangku2 dengan dekorasi
mozaik, memandang ke arah pintu masuk utama Parc Guell. Lapangan ini
sendiri letaknya 'melayang' dari tanah, disangga beberapa pilar kokoh
yg juga berfungsi sebagai drainase air hujan. Air ini lalu diteruskan
ke bawah, dalam bentuk air terjun yg keluar dari patung2 mozaik karya
Gaudi yg lain, termasuk patung kadal yg terkenal tsb.



Meskipun padat pengunjung, kami dapat merasakan kekayaan ruang
tersebut. Luasnya tempat bernapas, ditambah dengan elemen2 buatan yg
sangat unik, tentu saja membuat betah. Di sisi kanan (dari arah
restoran) terdapat koridor buatan, yg dinding dan tiang2 penyangganya
terbuat dari batu. Meskipun buatan, setelah sekian lama koridor ini
sudah menyatu dengan alam, terlihat dari berbagai tanaman yg tumbuh di
sekitarnya, dan sarang2 burung yg dibangun di celah2 antara pilar dan
'atap' koridor tsb.



Kami berjalan di sekitar museum/rumah Gaudi, di jalanan utama di mana
terdapat beberapa penjual lukisan, lalu menuju gerbang utama utk keluar
dari Parc Guell. Sebelum itu, kami menyempatkan berdiri di antara
pilar2 penyangga lapangan, utk membuktikan kualitas akustik dari ruang
tsb (ada seorang pengamen memainkan musik di salah satu sudut
ruangan).

Di dekat gerbang, terdapat sebuah poster sebesar spanduk yg bergambar
lucu & berwarna cerah, seperti ditujukan utk anak2. Terjemahan
bebas dari tulisan poster tsb adalah: Mari nikmati dan pelihara alam
dan lingkungan.





MENGUKUR JALAN

Dari Parc Guell, kami berjalan menuju Sagrada Familia.
Tidak ada yg istimewa di sepanjang jalan, sebab sebagian besar hanya
daerah permukiman yg cukup padat. Sambil berjalan, Miren bercerita
bahwa Barcelona terbentuk dari gabungan kota2 kecil yg makin lama makin
berkembang. Kadang2 kita dapat melihat batas antara kota2 kecil tsb, yg
sekarang sudah berfungsi sebagai jalan besar atau jalur utama antar
kota.

Kami melewati pula sebuah gereja tua, yg di pelatarannya terlihat
kesibukan istimewa. Rupanya mereka hendak mengadakan acara tahunan
mereka, yaitu menghidangkan calzot bagi siapapun yg ingin mampir. Dengan membayar sekian euro, orang dapat menikmati calzot
dan minuman sepuasnya. Saat kami lewat itu acara belum dimulai.
Beberapa orang muda terlihat sedang menyiapkan api dari kayu2 bakar,
membuat saus, menata meja panjang dan piring2. Di berbagai tempat
terlihat untaian daun bawang (yg akan dibakar menjadi calzot) dan tumpukan kayu bakar. Beruntung malamnya kami sempat juga mengicipi calzot di sebuah restoran.



Ternyata cukup jauh juga berjalan kaki dari Parc Guell ke Sagrada
Familia. Kali ini saya bisa mengamati dan merasakan langsung betapa
perlunya ruang terbuka bagi permukiman padat semacam ini. Sangat terasa
betapa leganya setiap kali kami menjumpai lapangan atau taman, meskipun
kecil saja, atau jalur pedestrian di tengah jalan, lengkap dengan
patung, air mancur dan tanaman hijau. Di beberapa pedestrian (yg
terletak di antara jalur mobil) bahkan terdapat petak2 khusus utk anak2
(playground, lengkap dengan mainan2nya) atau utk anjing, dan bangku2
utk beristirahat. Semua ini dapat diakses dengan mudah dan gratis oleh
penduduk sekitar, yg tentunya sumpek bila harus melewatkan setiap
hari2nya dalam apartemen sempit.





BERCERMIN DI DANAU

Kami mendekat Sagrada Familia dari arah Passion Facade,
di mana terdapat pintu masuk utama. Meskipun tersedia lebih dari satu
loket, antrian orang yg hendak masuk sangat panjang, hingga berbelok ke
jalan sebelah gereja yg masih terus dibangun ini. Gaudi merancang
gereja ini atas kehendaknya sendiri, dimaksudkan sebagai persembahannya
pada Barcelona, namun tak sempat diselesaikannya. Ia meninggalkan maket
lengkap, sehingga setelah puluhan tahun, gereja tsb dapat terus
dilanjutkan (dan diproyeksikan utk selesai sekitar th 2030), dengan
biaya berasal dari keuntungan tiket masuk para pengunjung (sama sekali
tidak ada sponsor).



Mengingat singkatnya waktu dan padatnya pengunjung saat itu, kami tidak
mungkin ikut mengantri dan masuk ke dalam Sagrada Familia. Kami hanya
berjalan di sekelilingnya. Miren menunjuk ke sebuah gedung apartemen di
salah satu sisi jalan, "Apartemen ini harus dirubuhkan dalam waktu 10
tahun ke depan, karena termasuk dalam desain Sagrada Familia, sebagai
bagian pintu masuk utama." Di sisi lain, melihat ke dalam sebuah danau
di sebuah taman, "Gaudi sengaja membuat danau ini sedemikian rupa,
sehingga seluruh bangunan gereja dapat terefleksikan seluruhnya dalam
danau ini." Sayang hari terlalu berangin, sehingga permukaan danau
bergerak2 terus, sehingga hari itu kami tidak dapat menyaksikan
cerminan Sagrada Familia dalam danau.



Di beberapa titik gereja, terdapat pintu2 masuk lain, termasuk juga
pintu ke info center di mana orang dapat memperoleh info mengenai
rencana2 pembangunan Sagrada Familia. Ini sebuah proyek yg sangat
mengagumkan, benar2 memerlukan komitmen dari pengurus kota dan penduduk
Barcelona. Tak terbayangkan besarnya biaya yg dibutuhkan, namun melihat
padatnya pengunjung (meskipun bukan musim turis), kelihatannya semua
orang optimis akan keberlanjutan proyek ini.



(lanjut ke bagian 2)


Image source: Travel Channel community

Ada beberapa gambar di album foto
Barcelona









Makan-makan di Barcelona



As posted in Jalansutra mailing list, #48233



Minggu lalu, saya diundang untuk memberikan satu kuliah umum di
Universitat Polytecnica de Catalunya (UPC) di Barcelona, Spanyol. Saya
tiba pada hari Jumat siang di Barcelona, dan kembali terbang ke
Amsterdam pada hari Minggu. Dalam waktu yg sangat singkat itu, ternyata
cukup banyak makan-makan dan jalan-jalan yg saya alami, sehingga
artikel ini harus dibagi dua: utk makan-makan, dan utk jalan-jalan.




PIRING-PIRING KECIL

Jumat malam, setelah selesai memberikan kuliah, saya bersama nona
rumah, Miren, dan pacarnya, Gordi, berangkat dari kampus UPC menuju
Plaza Catalunya. Kami membuat janji utk bertemu dengan dua rekan lain,
Deepa dan Jinesh (yg berasal dari India) utk bertemu di depan Cafe
Zurich pk. 20:00, utk makan malam bersama.

Kami berdiri di depan cafe tua tsb., memandang ke arah La Rambla
(sebuah pedestrian strip yg membentang dari Plaza Catalunya hingga
garis pantai di bagian selatan kota Barcelona) dan ke arah dua-tiga
pintu keluar dari Metro, arah dari mana Deepa dan Jinisj diperkirakan
datang. Mendekati pk. 20:30, belum tampak juga dua orang yg kami tunggu
itu. Hari makin larut, namun jalanan makin penuh orang, tak peduli
dinginnya hembusan angin. Saya yg terbiasa makan malam pk. 18:00 sudah
sangat lapar, sementara perut terakhir terisi (dengan 2 tangkap roti)
sekitar jam dua siang, sebelum memberi kuliah.



Saya: Miren, apakah orang2 Spanyol makan malamnya memang telat sekali?

Miren (sambil meringis):
Iya! Biasanya restoran mulai ramai di atas pk. 21:30, apalagi weekend
begini, puncak ramainya pk. 22:00 hingga tengah malam.

Saya: Apa nggak kelaparan?

Miren: Nggak, karena sore2 biasanya kita makan makanan kecil yg disajikan dalam piring-piring kecil, atau "tapa" (= cover)
- yg sekarang umumnya dikenal sebagai "tapas". Asalnya adalah dari
daerah Andalusia, di mana piring kecil tsb digunakan utk menutup gelas
minuman supaya tidak dihinggapi lalat. Dalam piring2 kecil tsb
dihidangkan berbagai cemilan. Kebiasaan tsb berkembang hingga akhirnya
populer seperti sekarang ini.



Ah, rupanya itu asal mula tapas, yg mulai menjamur dan jadi gaya hidup
tersendiri di tempat saya tinggal sementara ini (Amsterdam). Pembahasan
tapas terpaksa berhenti, sebab Deepa dan Jinesh akhirnya terlihat
keluar dari salah satu kolong Metro. Kami segera beranjak mencari
tempat makan malam.





WARUNG KATALAN

Saat itu sudah lewat pk. 21:00, dan semua tempat makan sudah nyaris dipenuhi pelanggan. Bila tidak memesan tempat sebelumnya (and we didn't), adalah kecil kemungkinannya kita dapat tempat di restoran yg baik (= makanan enak, harga terjangkau).

Kami berjalan menelusuri La Rambla, dipandu oleh Gordi, yg mengumumkan,
"Karena semua tempat terbaik pastinya sudah penuh, yg kita tuju
sekarang ini adalah tempat 'teraman', artinya di mana kita pasti dapat
tempat duduk, dan dapat makanan enak". Tempat tersebut bernama L'Avia, sebuah kantin kecil yg menghidangkan makanan khas Katalan dan Amerika Latin.



Di sisi kiri ruangan, terdapat vitrine (meja display) yg berisi
berbagai jenis makanan yg mereka hidangkan dan dapur/ tempat menyiapkan
makanan. Di sisi kanan, deretan meja-kursi yg sudah dipenuhi orang. Di
tengah2nya, nyaris tak ada tempat utk berjalan, saking kecilnya kantin
ini. Gordi berbicara dengan pemilik kantin, meminta supaya kami boleh
duduk di lantai atas (yg saat itu belum dibuka). Setelah menunggu
beberapa menit, akhirnya kami dipersilakan naik.

Ruangan di atas ini mengingatkan pada restoran2 sederhana di Jawa
Tengah, dengan meja2 dan bangku2 plastik berwarna menor dan kipas angin
besar di langit2. Lukisan2 dan hiasan2 yg dipajang pun sangat khas,
berekspresi lugas, tanpa basa-basi, namun sangat bermain.



Tak lama setelah kami menempatkan diri di sebuah meja, ruangan itu pun
segera penuh terisi. Gordi memesankan makanan, dan menjelaskan bahwa
makanan tsb adalah utk dimakan bersama2. Tidak ada seorang pun dari
kami yg keberatan. Hidangan pun datang satu demi satu, beberapa hadir
dalam bak aluminium ukuran sedang, masing2 beralaskan piring keramik.



Terdapat dua piring yg masing2 berisi irisan kentang berbumbu (dengan
rasa terkuat dari tomat & paprika), ditemani berbagai daging
panggang (iga, susis hitam, dan sekerat daging babi). Satu bak berisi
irisan cumi-cumi dan kacang polong, bergelimang saus berwarna merah
(dengan rasa dominan tomat, namun agak pedas). Bak lain lagi berisi
ikan (cod) dan kentang dengan
saus serupa. Ada pula dua bak kerang (mussels) dengan saus yg rasanya
mirip, namun jauh lebih encer. Satu bak besar berisi seonggok
domba, bawang bombay dan kentang yg dipanggang bersama. Bak terakhir
berisi artichoke panggang, yg harus dimakan selapis demi selapis. Semua
lauk-pauk ini masih ditemani oleh beberapa potong roti berwarna
keputihan yg teksturnya agak padat dan berasa agak asin. Untuk menemani
makanan ini, Gordi memesankan anggur yg kualitasnya inferior (karena di
antara kami tidak ada peminum anggur sejati), yang hanya enak diminum
bila dicampur dulu dengan air soda.



Dari semua hidangan ini, yang tersisa hanya separuh dari susis hitam
(susis darah, tidak ada yg terlalu doyan) dan sebutir artichoke.
Sisanya licin tandas, termasuk roti asin yg kami gunakan utk menyapu
saus yg tersisa di piring. Sudah jelas saya senang ketemu makanan yg
bumbu2nya cukup 'nyambung' dengan lidah saya (demikian juga yg diaku
para rekan dari India). Satu jenis hidangan berharga sekitar 3-4 Euro,
jadi untuk 8 porsi yg kami pesan (dan dapat membuat kenyang 5 orang)
plus minuman, kira2 habis di bawah 40 Euro.



L'AVIA

Carrer La Cera 33

08001 Barcelona

T (93) 442 0097





RESTORAN TERSEMBUNYI

Sekitar jam dua siang keesokan harinya, saat kami berjalan menuju
tempat makan siang, Miren menjelaskan bahwa antara jam dua hingga jam
empat sore, toko2 tutup utk beristirahat, dan setelahnya buka kembali
hingga pk. 21:00 atau pk. 22:00. Jam2 istirahat itu dimanfaatkan utk
menikmati makan siang, bersantai dan (tentu saja) beristirahat.

Dari arah Plaza Catalunya, kami berjalan menuju ke arah
Cathedral. Ketika hampir tiba di lapangan depan katedral, Gordi membuka
pintu pada sebuah gedung tua di sisi kiri jalan. Terutama karena kaca2
gelapnya, gedung ini sama sekali tidak menarik dilihat dari luar. Di
dalam pun, ruangan berlantai keramik hitam-putih dan berdinding hijau
tua tsb. terlihat kosong. Yang paling menonjol adalah sebuah tangga
masif yg dicat putih, menuju ke lantai atas. Di ujung atas anak tangga
terdapat pintu kaca berbingkai kayu.



Saat memasuki pintu ini baru terasa bahwa ruangan ini adalah tempat
makan. Terdapat bar membentuk L di pojok kanan ruangan. Di tengah2
ruangan terdapat 'panggung' rendah berisi empat meja panjang yg maisng2
dikelilingi bangku2 kayu. 'Panggung' ini dikelilingi oleh pilar2 yg
menopang sebuah lengkungan pada langit2, di mana terdapat sebuah lampu
gantung (chandelier) di tengah2nya.



Pada dinding di sisi bar terdapat tumpukan kotak2 minuman dan sebuah
kotak pendingin. Dinding di sisi kiri juga dipenuhi berbagai kotak dan
kemasan bahan minuman dan makanan, yg ditumpuk di bawah sebuah lukisan
yg bingkainya memenuhi sisa permukaan dinding. Di sisi yg berseberangan
dengan bar, terdapat sederet lemari kayu berpintu kaca, yg
memperlihatkan isinya: berbagai barang 'rumahan' seperti koleksi buku,
piala dan plakat, berbagai jenis baju dan kain, dan cendera mata.




Saat kami masuk, baru ada satu meja yg terisi, sehingga dengan mudah
kami dapat memilih meja yg kami sukai. Gordi segera memesankan berbagai
jenis makanan utk bersama2, setelah kami masing2 memesan minuman.
Suasana tempat makan ini seperti rumahan, 'homey' sekali. Si bartender,
seorang pria setengah baya bertubuh besar dan berkumis-jenggot putih
terlihat berdiri santai di belakang bar, sedang mengobrol dengan
seorang pelanggan seumurannya (belakangan, mereka main kartu di meja
sebelah kami). Si pelayan, seorang muda yg ramah dan cekatan, menyapa
sana-sini sambil mondar-mandir membawa pesanan.



Pesanan kami sbb:

2 porsi cumi goreng tepung: irisan cumi berbentuk cincin diolah dengan
tepat; sehingga ketika digigit, sedikit melawan namun segera menjinak.
Tekstur tepung yg renyah sangat mengimbangi kekenyalan cumi.

1 porsi kentang goreng dengan saus sambal & mayonaise: kentang
dipotong2 persegi (dengan kulitnya), lalu digoreng. Di atasnya dituang
saus berwarna merah (agak pedas) dan mayonaise.

1 porsi kroket ikan: ragout ikan campur kentang tumbuk, dibentuk
bulat-lonjong, digulir tepung panir, lalu digoreng. Luarnya renyah,
dalamnya sangat lembut, rasanya cenderung agak asin.

1 porsi daging goreng (bite size): daging babi dipotong kotak2 lalu digoreng dengan bumbu khas.

1 porsi irisan baguette yg dioles tomat segar: salah satu hidangan khas daerah ini.

1 porsi yg terdiri dari irisan cured ham, kotak2 keju dan stick crackers: 'finger food' yg juga khas, terutama cured ham-nya
yg cukup enak, meskipun bukan dari kualitas terbaik (yg terbilang
mahal, belakangan saya cek harganya di pasar setempat, bisa mencapai 38
Euro/kg). Termasuk minuman, total kami habiskan 37,75 Euro. Lagi2 bukan
harga yg mahal, mengingat kami berlima ternyata cukup kenyang dengan
hidangan model 'cemilan' yg mantap ini.



Karena letaknya yg agak tersembunyi ini, jarang ada wisatawan yg dapat
menemukan tempat ini, meskipun letaknya di tengah2 kota. Miren pun
mengetahui tempat ini dari seorang temannya yg adalah seorang petualang
kuliner di Barcelona (yg sesekali ia telpon utk mengecek ulang, saat
kami berjalan mencari2 tempat makan), dan kami beruntung mendapatkan
pengalaman "go where the locals go".



HOGAR ESTREMENO

sekitar Plaza Nova (depan Cathedral)





UNTUNG DAPAT TEMPAT

Kami tidak juga memesan tempat utk makan malam ini, dan tadinya mengira
bila pergi awal (sekitar pk. 20:00), pasti akan ada tempat utk kami
berempat (Gordi tidak ikut). Ternyata dugaan kami salah: tempat2 makan
yg kami hampiri, yg terlihat sepi, ternyata sudah penuh dipesan. Ketika
hampir putus asa karena sepertinya dihadapkan pada dua pilihan: makan
enak (khas Spanyol/Katalan) tapi mahal, atau makan murah tapi hanya
semacam pizza dan shoarma, kami tiba di depan sebuah restoran. Miren
bilang ia belum pernah ke sini, tapi menilik dari daftar menu dan harga
yg dipajang di pintu, tempat ini cukup menjanjikan. Kami segera masuk
dan meminta meja utk 4 orang, dan siap2 mendengar penolakan utk
kesekian kalinya. Tapi ternyata, meskipun jawaban awalnya adalah, "Agak
susah", kami akhirnya dipersilakan masuk di ruangan belakang.



Miren memesankan makanan pembuka utk kami makan bersama, lalu kami
memilih hidangan utama dan hidangan penutup utk masing2. Kami beruntung
lagi, ternyata restoran ini menyediakan calzot, hidangan pembuka musiman (hanya tersedia di awal musim semi). Di samping calzot, kami juga memesan escalivada, yg juga tipikal daerah ini.

Calzot, yg disajikan di atas
lempengan genting (yg berprofil setengah lingkaran) ini, adalah daun
bawang yg dipanggang hingga lapisan luarnya menghitam, dan dalamnya
matang. Cara memakannya, pegang ujung atas (bagian hijau daun)nya, lalu
kupas lapisan kulit terluarnya seperti mengupas pisang, lalu singkirkan
(buang). Celup bagian yg putih pada saus khusus utk calzot
(rasanya mirip saus otak-otak, dengan bahan dasar kacang, cuka, tomat,
dan bumbu2 lain), lalu *hap!* langsung masuk ke mulut. Makan bagian yg
putih, dan sisakan bagian daun yg hijau (terlalu 'alot' utk ikut
ditelan begitu saja).

Escalivada, yg dihidangkan
dalam pinggan keramik, berupa irisan terong panggang, paprika panggang,
dan anchovies yg diberi dressing olive oil. Sederhana, namun rasanya
khas sekali. Kami juga memesan sangria
sekedar utk mengicipi buatan restoran ini. Tapi ternyata rasanya tidak
terlalu 'fruity', sebaliknya, lebih seperti 'watered-down wine'.



Saya dan Miren masing2 memilih iga panggang sebagai hidangan utama, Deepa memilih separuh ayam, dan Jinesh pork medallion.
Masing2 hidangan datang dengan separuh kentang yg dipanggang dalam
kulitnya, dan pada permukaannya ditabur berbagai bumbu segar, sedikit white beans,
dan sekeping roti panggang yg lumayan lebar, beserta separuh tomat
segar dan sesiung bawang putih. Miren segera menunjukkan cara unik
memakan roti "pa amb tomaquet" ini: belah bawang putih, dan gosokkan
pada permukaan roti sesuai selera. Lalu gosokkan tomat segar pada
permukaan yg sama, sebanyak mungkin hingga permukaan roti basah
memerah. Tuangkan olive oil dengan royal, lalu taburkan sedikit garam.
Roti siap dimakan.

Hidangan pendamping yg lain tak kalah enak; kentang panggangnya gurih, terutama karena kulit dan bumbu2 di atasnya, lembutnya white beans
pun berhasil mengimbangi rasa dan tekstur iga panggang. Penggunaan
bumbu2 di sini memang cenderung berani, benar2 terserap dalam bahan
makanan yg segar.



Sebagai hidangan penutup, saya pilih crema catalana, yg juga khas dari daerah ini. Crema catalana ini dihidangkan dalam bak keramik bundar, dalam keadaan dingin. Isinya adalah egg/cream custard yg sangat lembut (teksturnya spt vla), dengan selapis caramelized sugar menutupi permukaannya, yg 'pecah' saat sendok mulai beraksi.

Sebenarnya crema catalana ini mirip dengan creme brulee, hanya saja bedanya custard pada catalana ini tidak semanis pada creme brulee
(setidaknya yg pernah saya icipi selama ini). Namun tetap saja, ini
adalah hidangan penutup dengan rasa dan porsi yg sangat pantas.
Termasuk minuman dan kopi, kami berempat menghabiskan 57.19 Euro untuk
makan malam kali ini. Semua terlihat puas (terbukti dari kosongnya
piring2 yg disingkirkan), dan kami pun beranjak keluar sekitar pukul 11
malam, saat sebuah pesta di meja sebelah baru akan dimulai.



LA LLAR DE FOC

Ramon i Cajal, 13

T (93) 284 1025




Ada beberapa gambar di sini