Showing posts with label thoughts. Show all posts
Showing posts with label thoughts. Show all posts

Saturday, September 27, 2008

Dengan atau Tanpa: PRT

Obrolan saya dan rekan2 dosen di sebuah Jumat pagi di kantor S2 FSRD ITB mengarah ke dilema PRT, yang memang sedang rame2nya jadi kenyataan di musim mudik Lebaran begini. Mulai dari PRT yang nggak akan balik lagi tapi nggak pamitan, PRT yang tau2 ngeboyong kerabatnya utk ikutan kerja di kota (atau ingin ikutan icip2 tinggal di kota meskipun cuma sebentar), sampe PRT yang malah jadi dapet kesempatan untuk memeras employer-nya ("Saya mau balik lagi, asal dibeliin henpon model terbaru"). Tapi intinya adalah, orang kota sangat tergantung sama jasa PRT (termasuk babysitter, supir, tukang kebon, dan perangkat asisten RT lain), sehingga bisa 'dimanfaatkan' (in a negative term) oleh PRT yang 'niat' (juga dalam arti negatifnya :P).

Sehubungan dengan ketergantungan itu, timbul pertanyaan utama: Sebenernya bisa nggak sih orang2 kota di Indonesia hidup tanpa PRT? Jawaban singkatnya: bisa. Tapi prerequisite dan konsekuensi untuk "bisa" itu juga nggak sedikit!

Antara lain:
  • Tempat2 belanja kebutuhan sehari2 harus mudah diakses, kalau bisa within walking distance. Bisa berupa pasar tradisional, kios/warung, mini market atau supermarket.
  • Fasilitas RT yg mendasar, seperti kompor dan kulkas harus ada, dan operasional & perawatannya harus mudah. Fasilitas lain seperti mesin cuci baju, microwave, apalagi mesin cuci piring, adalah optional.
  • Rumah yang ditinggal kosong melompong harus terjamin keamanannya. Keki kan kalo cuma ke warung beli gula bentar, ehh balik2 TV udah digondol maling...     
  • Sumber energi dan air harus tersuplai dengan baik. Listrik nggak boleh byar-pet, sediaan gas untuk masak harus lancar, air bersih harus ngalir terus. Idealnya sih air ledengnya bisa langsung diminum, jadi kita nggak usah buang2 energi lagi utk masak2 air. Dan semua kelancaran ini harus bisa dihentikan temporer oleh masing2 RT, misalkan kalau rumahnya mau ditinggal lama, jadi tetap ada kontrol.
  • Mekanisme pembuangan sampah harus jelas: begitu ditaruh di luar rumah, pengambilan sampah (oleh dinas kebersihan) harus rutin dan dilakukan dengan baik.
  • Pembayaran berbagai hal (listrik, air, dll) bisa pakai internet banking, jadi kita nggak perlu buang2 waktu utk ngantri dan ngisi formulir ini itu di berbagai loket.
  • Harus ada tempat yg pantes utk menjemur cucian di rumah. Atau, kalau nggak ada tempat dan nggak punya mesin cuci, harus ada tempat laundry komunal yang mudah terjangkau dari rumah.
  • Jam-jam kerja harus fleksibel. Malah mungkin sebisa mungkin kerja di rumah, sambil mengontrol aktivitas domestik, termasuk mengurus anak2.
  • Setiap anggota keluarga harus kebagian tugas domestik.
Daftar ini masih bisa diperpanjang lagi (yang mau nambahin, silakaan :D). Sekarang tinggal berandai-andai, Indonesia bisa nggak ya diurus sedemikian rupa sehingga daftar itu bisa jadi kenyataan?


Gambar: Rosie, robot asisten rumah tangga keluarga Jetson (Hanna-Barbera Productions, 1962-1963)

Wednesday, September 24, 2008

"Anak Sekarang"

Iya, iya saya tahu, generasi mana pun pasti menganggap generasi yang lebih muda itu lebih lembek dan lebih manja ketimbang mereka. Hal ini terlihat sekali di lingkungan kerja saya yang adalah sebuah perguruan tinggi, yang setiap tahunnya dimasuki seangkatan generasi termuda di lingkungan tersebut. Ada beberapa kejadian yang membuat saya merasa kepingin nulis soal ini.

SPP
Semester baru baru dimulai. Pagi itu saya sudah ada di kantor bersama beberapa rekan dosen, para pegawai administrasi belom dateng. Ada telpon, saya angkat. Ternyata orang tua salah seorang mahasiswa.
Ortu: Bu, maaf mau tanya, SPP semester ini berapa ya?
Saya: Putra Ibu angkatan berapa?
Ortu: (menyebut angkatan)
Saya (sambil cari2 info di dinding): Sebentar, semestinya ada informasinya di sini.
Waktu saya sedang cari2 itu, datanglah seorang pegawai admin. Dia ngasih tau bahwa infonya ditempel di sisi luar kantor, nggak terlihat dari tempat saya nelpon.
Saya: Ada detailnya, Bu, ditempel di sini. Putra ibu bisa langsung datang dan melihat sendiri, sekaligus melakukan prosedur pembayaran.
Ortu: Oh, saya yang akan melakukan itu
Saya: Putra ibu memang sedang di mana?
Ortu: Dia di Bandung sih, tapi sedang main dengan teman2nya
Saya (mulai heran): Ya, dia kan bisa mampir kampus untuk mengurus SPPnya?
Ortu: Tapi dia nitip saya. Ya sudah Bu, terima kasih. 
Saya (udah narok telpon, ngomong ke temen2 seruangan): Anaknya di Bandung tapi lagi main sama temen-temennya??!

Material
Ortu: Bu, lain kali kalo mau menugaskan anak2 bawa material, jangan mendadak dong!
Saya: Gimana mendadaknya, Bu? Kalau ada tugas studio, biasanya kami sediakan bahannya. Kalau kurang, siswa biasanya bisa mencari sendiri ke toko material.
Ortu: Enggak, soalnya anak saya pernah nih, suatu malem ribut. Katanya, mah, tolong cariin material ini dong, besok saya harus bawa nih! Wah saya sampe repot muter2 nyari2 di toko2, udah malem, pula!
Saya (mikir, ni anak tega bener ama ibunya): Biasanya nggak semendadak itu kok Bu. Kalaupun harus cari sendiri, pasti ada jeda beberapa hari.
Masuk kuliah itu umur berapa sih, 18an kan ya. Apa nyari material aja masih harus minta ke orang tuanya, seperti kalo bikin prakarya waktu SD dulu?!

Dijawab nggak ya...
Nanya itu boleh. Nanya kritis itu bagus. Nanya asal bunyi itu yang nggak nahanin. Apalagi nanya yg sifatnya cuma 'minta disuapin', nggak ada usaha nyari jawaban sendiri. Kali ini kasusnya bukan cuma ke saya, tapi juga ke rekan2 dosen lain. Dosen senior, angkatan 70an awal, pernah ditelpon hanya untuk ditanya, "Pak, beli acrylic di mana ya?"
Dosen yang mengajar mata kuliah A, pernah ditelpon sama mahasiswa yang udah lamaaa banget gak masuk, "Pak, kuliah A itu kapan sih?" 
Dosen lain dapet pertanyaan ini, "Pak, ada kuliah nggak besok?" (padahal di jadual dia jelas2 ada - dia cuma pengen tau, si dosen ini akan masuk ngajar atau enggak)
Duh euy.

Kasus2 begini ini yang mau nggak mau bikin saya berandai2 bareng temen2 lain, memulai kalimat dengan "Jaman kita dulu...". Nggak salah kan ya?


Wednesday, April 2, 2008

Konsumen di Indonesia, jangan harap jadi "raja"

Sebenernya tulisan ini nggak akan ada kalau kasusnya cuma sesekali, maklum lah Indonesia. Tapi karena sepertinya hari-hari belakangan ini kasusnya lumayan beruntun, jadi 'terpaksa'lah menggelar sedikit unek-unek.

Yang pertama soal pemberesan SK Menteri HukHAM ttg kewarga-negaraan si Lindri. Hingga sekarang saya belum sempat ke sana lagi utk minta perbaikan nama dan tanggal lahir Lindri pada SK-nya (situ yang kerjanya gak becus, kok kita yang jadi repot?!). Bukan hanya bener2 nggak sempet, tapi juga enggan, mengingat 'biaya administrasi pengambilan SK' yang mereka kenakan, yaitu 500ribu rupiah per nama. Setelah tanya ke sana kemari, jelaslah bahwa nggak ada aturan resmi macam ini.
Suatu hari saya nemu artikel di Kompas Online ini: DepHuk dan HAM Paling Buruk. Intinya, saya cuplikkan demikian (penebalan oleh saya), "Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia serta Badan Pertanahan Nasional dinilai sebagai instansi-instansi yang paling buruk memberikan pelayanan kepada publik. Bahkan, di dalam survei Komisi Pemberantasan Korupsi, petugas pelayanan publik di dua instansi itu masih berperilaku koruptif". Hah! Jadi kalau saya ke sana lagi, selain ngotot minta bukti adanya peraturan 500rb itu, saya akan sodorkan artikel ini di depan hidung mereka. Mempan nggak mempan, kita bisa liat nanti mereka masih punya malu atau enggak! Yang jelas saya nggak mau
ngasih sejuta begitu saja ke para tukang porot ini...

Yang kedua adalah dengan PT Pos Indonesia (teman yang mengalami ini, kalau cerita saya nggak akurat, benerin ya :D). Seperti yang sudah dapat diduga, kami sedang (akan) sering2nya mengirimkan paket Curhat Tita ke luar kota, luar pulau dan luar negeri. Yang di dalam Indonesia mungkin nggak masalah. Tapi untuk yang keluar negeri, urusannya agak ajaib.
Jadi gini. Kita tau bahwa ada jasa2 pengiriman profesional seperti DHL, FedEx,
TIKI, dsb. Tapi karena kita cari yang harganya paling pantes (yg dikirim cuma barang cetak massal gituloh), kita mau pakai jasa PT Pos Indonesia saja. Paling enggak pakai pos tercatat, biar bisa dilacak. Nggak usah pakai ekspres yang mahal2 itu, sebab paling murah pun 300rb harus dikeluarkan untuk menaruh paket2 tsb ke benua di belahan bumi lain. Eh tapi apa coba kata petugas posnya hari ini, "Pakai yang ekspres (mahal) aja. Kalo pake yang murah begini, kami nggak jamin bisa sampai atau enggak. Dan kalau nggak sampai, nggak boleh keberatan". What the...?! Kok dari awal udah niat nyasarin barang orang?! Ini Kantor Pos atau tukang gadai pasar selundupan?! Ndilalah kok ya pada hari yang sama saya nemu artikel ttg Kantor Pos ini di Pikiran Rakyat. Puah, mau "persaingan global"?! Kalo kelakuannya kayak gini, mau bersaing tingkat kecamatan pun pasti keok!
Jadi sampe sekarang kita masih nggatau mau ngirim pake apa keluar negri, yang harganya masuk akal dan layanannya bisa dipercaya...

Terakhir, soal tiket konser Duran Duran yang mahalnya minta ampun. Ada artikel ttg konser DD di Kompas Online hari ini, tapi ngeja nama Nick Rhodes-nya salah sampe dua kali(!). Saya dan sepupu saya setuju utk beli tiket Festival Depan (750rb), sebab posisinya memang pas di depan panggung, menurut denah pada tempat penjualan tiket. Niatnya memang untuk ngibing, hehe. Tiket kami sudah terbeli minggu lalu, jadi tinggal nunggu Hari-H nya dengan tenang, bukan? Bukan.
Sebab baru tadi sore ini seorang teman lain mengirim SMS: dur, promotor nepthya brengsek. tadi malam ada selebaran, layout dirubah. paling depan vip semua, festival kebagean paling belakang. udah gitu tiket vip dihajar 2jt dan tidak dijual umum. payah. asli. ngecewain.
Saya: Idih norak! Dijual k member fanclub khusus kali ya. Booo
Temen bales lagi: protes gw. gw kan beli tiket based on layout yg pertama, yaitu depan panggung. skg kita jadi paling belakang. norak aja masa depan panggung penonton pada duduk?, emangnya gamelan! nepathya gw blacklist. di depan panggung mustinya crowd.
Huh, kecewa! Ada yang kenal nggak sama orang2 Nepathya ini? Kan namanya nipu (calon) penonton, yang udah keburu beli tiket! Sok2an mau jual tiket konser termahal di dunia, tapi layanannya kayak jual karcis layar tancep yang masih misahin antara inlander dan totok. Seperti yang saya bilang ke temen itu tadi: semogaaa konsernya sepi, jadi kita bisa ketemuan sama LeBon!

Dari tiga kasus di atas, keliatan kan kalo kita ini, sebagai konsumen yang harus dilayani dengan benar, malah nggak punya daya tawar di Indonesia? Peres aja terus, dianggap sumber uang, kayak yang pada nggak digaji aja. Bikin malu.


Sumber gambar: Kompas Online, Pikiran Rakyat Online, dan situsnya Nepathya

Saturday, January 26, 2008

What is Eaten in One Week..

Many of you must have received an email with that title recently. I did; a friend posted it in our mailing list, but the images didn't appear. So I did an Internet search and found the source: Peter Menzel Photography, who published a book titled Hungry Planet, and the photographs are excerpts from that book. The photos can also be viewed at TIME Photo Essays: What The World Eats
The images are photos from various countries, each features one family with a spread of food/drinks that they consume for one week, accompanied by the cost (in local currencies and in US$) and their favourite dishes.

Although I kind of knew that some nations are wealthier compared to another, and that some nations consume much more resources than the rest of the world, and value for money is different everywhere you go, these photographs show clearly how wide the gap actually is between the first and the latter.
What first came to attention was the number of family members: four people (say, family A) from country A vs eight or more B family members in country B. Then see the stack of food on A and B: A eats at least twice the amount of B! But the price A had to pay is not only twice, but could reach up to one-hundredfolds of what B spent for their food(!).

Then look at the components: the food itself, and the packaging that comes with the food. Artificial vs natural, chemicals vs organic, throw-away plastics vs refillable containers, food that travels overseas vs food that grows in your backyard. You can see all of those in the pictures, and even tell which is which.
All only confirm that we indeed need to be aware of our ecological footprints, so we get the picture about the amount of planets are needed to support ourselves, and that we have to do something to improve the situation. To quote Janine Benyus (non-verbatim), "Nature makes sure that the place they live in can still support their offsprings for thousands of years ahead, while still conducting their daily life"  - so why can't we, the so-called 'smartest species on earth'?

Right, if I keep going on, the subject will enter the zone of ethiques and philosophy. So I'd better stop. I'll leave you with some of the images (if you haven't seen them before).. and we can start pondering together: what have I been eating this previous week?               


Italy: The Manzo family of Sicily
Food expenditure for one week: 214.36 Euros or $260.11














Germany
: The Melander family of Bargteheide
Food expenditure for one week: 375.39 Euros or $500.07














United States
: The Revis family of North Carolina
Food expenditure for one week $341.98













Mexico
: The Casales family of Cuernavaca
Food expenditure for one week: 1,862.78 Mexican Pesos or $189.09













Poland
: The Sobczynscy family of Konstancin-Jeziorna
Food expenditure for one week: 582.48 Zlotys or $151.27














Egypt
: The Ahmed family of Cairo

Food expenditure for one week: 387.85 Egyptian Pounds or $68.53














Ecuador
: The Ayme family of Tingo
Food expenditure for one week: $31.55













Bhutan
: The Namgay family of Shingkhey Village
Food expenditure for one week: 224.93 ngultrum or $5.03














Chad
: The Aboubakar family of Breidjing Camp
Food expenditure for one week: 685 CFA Francs or $1.23

Tuesday, October 16, 2007

A little bit..

During one of my random browsing sessions, I came across an interesting article by Desmond Morris. I've long ago read his books Naked Ape, Human Zoo and The Naked Eye, all of which discuss a zoologist's viewpoints upon human animal (= us!). The first two books explain, among others, why women wear make up, why men are commonly the bread-winner of the family, how hooligans resemble tribe warriors, and so on. The latest discuss more deeply about comparison of cultures, difference in gestures and such. In short, still a captivating study about human animal.

I've become very fond of his writings and therefore was amusingly surprised when I bumped into the article I mentioned about, since it contains the following factors: a) It's written by Desmond Morris, b) It's about food and eating habit (= among my favorite subjects). The article, A little bit of what you fancy, in short points out that "the human species evolved as an omnivore. Eating the widest possible variety of foodstuffs was what gave us our special advantage over our animal rivals. And this is about the only rule that one need apply when sitting down to a meal."
The discussion goes on around the concept and causes of diet, obesity, food taboo and other relevant issues, starting and ending pleasantly with the memory of the arbitrary eating habit of his late mother, who died at the age of 99. Moral of the story? Enjoy life by not being a finicky eater! :)   

Another excerpt: "I expected (purely on statistical grounds) to die ten years ago ... Something has gone wrong with my prediction because I am still here, and I have a feeling that part of the reason could be that I have managed to maintain a deep disrespect for all the health police, the faddist gurus and diet fascists who plague our bookstalls, radio stations and newsagents."

Image source: www.cartoonbank.com  

Saturday, March 24, 2007

In Demand: Totto Chan's Tomoe Gakuen


Among the first things I worried about, during the process of moving back to Indonesia, was finding a school for our kids. A decent school in Bandung that they enjoy going to, that doesn't stress them out, that provides a pleasant learning environment. What I've heard so far, during my search, hasn't been satisfactory. Contradicting opinions always came up whenever we were considering upon one school after another.

Until the first days after our arrival in Bandung, I still had no clue where to start. Public schools are automatically out of count, because Dhanu and Lindri, being foreigners, are not entitled to enrol into one. International schools are also out of the question, because we have no means to pay the US$-rated fee (especially compared to Dhanu's former school in Amsterdam, where he went to for free). Besides, they would have English as their daily language, which would confuse our kids even more. So the choice narrowed down to private schools.

I was thinking of visiting some recommended private schools one by one, with the hope that they would still let our kids start school as soon as possible (the new semester has already started for a couple of weeks when we arrived).
But these schools.. well, my experiences of going to one for 11+ years (from Kindergarten to Junior High) are similar to what the students of such schools face nowadays. I don't mind the emphasize on discipline. What I do mind is when our kids are stressed out by too much homeworks, exams, intra- and extra-curricular activities. I tend to disagree when a child's achievement is valued by their (exam) grades and ranks in class. Moreover, there are still expenses for their uniforms, books and other necessities.
To tell you the truth, I was quite worried about kids nowadays who already measure 'friends' by their belongings. I heard of a 9-10 year old kid asking a new classmate, "What does your father do? How much does he make? What kind of car does he have?" Isn't that frightening?

I secretly longed for an elementary school similar to Totto Chan's Tomoe, where kids can be what they are: children who enjoy playing, exploring things and surroundings, and discovering their own interests - and are allowed to conduct such behaviours in school hours. And (with a faint hope) whose enrolling and monthly fees do not cost too much.








Lord Above be Praised, it only took within a week of our lives in Bandung until I got convincing recommendations from friends whose children go to this one school: Cendekia. Most of these friends are fellow alumnis (and lecturers) of the Faculty of Arts and Design ITB; the rest are their spouses and people I know from other sources. The way they promoted their kids' school is, "There's no homework!" or "They don't have to wear uniform!" or "We don't have to buy school books!"

We rightaway made a plan to visit the school, along with Dhanu and Lindri. I met some of these friends that day, who waited for us after they took their kids in. We were introduced to Pak Er, the headmaster, who then showed us around the school.
It is a small school, looking very homey and welcoming. They have daycare, playgroup and kindergarten classes as well, besides the elementary school classes. The ratio between teacher and students is 1:10. Dhanu's class-to-be, Grade 1, consists only of 8 students! This fact was what impressed me the most, knowing that Dhanu would need a lot of attention in his adjusting period.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Dhanu entering the school yard

Pak Er continued to explain that the students go through the day not based on subjects (Math, Science, etc.) but by projects. And - as my friends said - if there's an exam, we (parents) are not notified and the kids would do their exam without being aware that they are being tested. I was told that graduates from Cendekia elementary school also did a standard test (from the government) and they could manage. The school focuses on developing children's social skills, or leadership skills (hence the name Cendekia Leadership School) - training them to be independent and outspoken, with manners. It is an Islamic school that emphasizes on the understanding of conducting properly in daily life based on their belief.

The school seemed friendly enough, so we agreed to have some days of trials for our kids. Surprise, surprise, our kids were allowed to start in the next day already! And they seemed eager to go, as well, after one week of 'doing nothing' at home (or being dragged around by me).
So, the next day, I took them there and left them for a full school hour (08:30-16:00). That day, on the move, I kept checking my mobile to see if the school tried to contact me due to our kid(s) having trouble. But nothing happenned; they were quite content.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Dhanu shows his desk in his classroom

It's been almost two months now since Dhanu and Lindri became Cendekia students. So far, they never refuse to go to school and there's hardly any task that they have to do at home. They spend the rest of the day playing, until dinner time, and are happy to go to school again the next day. We had pleasant and informative conversations with their teachers and we know almost everyone in that school. Not to mention that we often get rides to school (thanks, Ira! :D) and from school (thanks to Ira, Mbak Dona and Bu Endang :D). Most importantly for us, Dhanu and Lindri are adjusting themselves happily in his new school. I think this is mainly due to the school's concept to recognize personality and characters of each child and to nurture his/her unique potentials accordingly. This school is definitely not a 'pupils factory' (borrowing Ivan Illich's term in Deschooling Society). In short, we are satisfied with how things are going so far. We might have found a 'Tomoe', and we need more of such!

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Dhanu and Lindri standing next to a staircase that goes to Dhanu's classroom









Sunday, April 9, 2006

Pulang: Untuk Siapa?



Berhubung waktunya sudah makin dekat, pertanyaan ini makin tergaung
kuat di benak. Niat dan rencana kami tetap, akan pindah ke Indonesia
seselesainya sekolah saya yg satu ini. Selain karena saya memang sudah
berstatus sebagai staf pengajar di kampus almamater (meskipun
bermasalah: sejak jadi CPNS 8 th lalu, belom juga ikutan Prajab!
hehe..), saya memang ingin segera bekerja lagi dengan para mahasiswa di
sana, dan mengembangkan bidang studi dan profesi yg pamornya masih
nanggung ini.

Kami juga punya cita2 mengembangkan lingkungan di komunitas tempat kami
tinggal nanti (antara lain ingin segera mempraktikkan waste management
tingkat rumah tangga/komunitas kecil, membudi-dayakan tanaman obat dan
dapur hidup skala kecil, menghidupkan perpustakaan desa, dsb). Waktunya
pun 'pas' utk anak2, terutama Dhanu; di usia 5 th ini tentunya
(mudah2an) lebih mudah bagi dia utk menyesuaikan diri dengan lingkungan
dan teman2 baru (dibandingkan bila dia remaja, misalkan). Dan, di luar
itu, tentu ada faktor keluarga, teman2, makanan dan alam Indonesia yg
tak tergantikan di mana2.



Tapi banyak juga pertimbangan2 yg discouraging,
seperti banyaknya penyakit aneh2 tanpa disertai pengaman dan fasilitas
medis yg memadai dan kelakuan demo2 jaman sekarang yg destruktif.
Polusi udara, sulitnya air bersih, taman, transportasi & fasilitas
umum lain yg kurang memadai (dan tentunya: sambungan Internet!) Semua
hal yg di sini sudah lumrah, tp masih termasuk kemewahan utk sebagian
besar orang di Indonesia.

Kenyataan bahwa 3/4 dari anggota keluarga kami adalah WNA tidak
mempermudah keadaan. Bahkan memperberat pertimbangan finansial: bukan
hanya biaya ijin tinggal, tapi juga uang sekolah anak2 dan berbagai
perlakuan diskriminatif lain - yg buntutnya pasti bikin apa2 jadi makin
mahal. Perlakuan yg akan diterima keluarga WNA saya di Indonesia pasti
berbeda dengan yg selama ini saya terima sebagai WNA di sini.



Tentu saja pertimbangan2 di atas hanyalah sebagian kecil dari
konsekuensi baik dari pilihan menetap ataupun pindah. Namun, hingga
sekarang pilihan untuk pulang tetap berlaku. Kenapa? Mungkin karena
saya masih optimis bahwa kesulitan2 nanti bisa diatasi dengan baik.




Jadi saya pulang untuk siapa?

Untuk diri sendiri: menuntaskan tanggung jawab dan membuktikan niat utk
mengembangkan profesiku di Indonesia (FYI, keberadaan saya di
sini adalah tanpa ikatan finansial/beasiswa dari institusi mana pun di
Indonesia)

Untuk bapaknya anak2: ah, dia sih emang udah dari dulu pengen tinggal di Indonesia...

Untuk anak2: hmm.. mungkin supaya mereka ngerti budaya ibunya (terutama supaya bisa street-wise dalam menghadapi orang Indonesia! :D), dan bisa kenal keluarga & teman2 ibunya dgn lebih baik

Untuk keluarga (orang tua dan keluarga besar): tentu saja makin
menyenangkan bila kami tinggal cukup dekat, meskipun beberapa dari
mereka juga menyarankan supaya kami nggak usah pindah dulu (Indonesia
masih kacau..)

Untuk almamater: bidang studiku masih sangat minim doktor, jadi mungkin
gelarku nanti (amiiin) bisa utk nambah2in point akreditasi

Untuk negara: haiyaaah nggak usah muluk2, manfaat ke orang2 sekitar aja dulu.. :)



I know, I know, berbakti utk Indonesia nggak harus berarti physically
berada/tinggal di sana. Tapi apa salahnya mencoba dulu, berkarya dekat
dengan rekan2 sebangsa. Saya toh tidak akan berjuang sendiri nanti.
Mengutip kata2 bekas pacar saat diskusi mengenai pindah/tidak, saat
sebelum menikah: "Indonesia lebih butuh kamu dibandingkan Belanda butuh
saya": mudah2an benar adanya, dan semoga semuanya bisa berlangsung
lancar. Doakan saja ya.





ps. to Tika: thanks for triggering the topic ;)









Tuesday, April 4, 2006

Rimpastikalkan


Itu salah satu judul kaset Sanggar Cerita yg masih saya ingat (adaptasi dari Rumpelstiltskin-nya Grimm Brothers/versi Jerman, atau Tom Tit Tot/versi Inggris). Judul2 lain, pastinya Kilu si Tupai Kecil, yg pernah looping terus-menerus di tape mobil sepanjang perjalanan ke Jawa Tengah (gara2 tuntutan Tiyas yg wkt itu umurnya baru lewat balita, seisi mobil di-brainwash KILU!), dan Katya si Serigala Putih (kalo nggak salah), karena seingetku ceritanya sedih dan mencekam sampe nggak berani dengerin kasetnya kalo udah lewat Maghrib.



Image hosting by Photobucket

Ilustrasi Tom Tit Tot dari situs SurLaLune: Steel,
Flora Annie.
English Fairy Tales. Arthur Rackham, illustrator.
New York: Macmillan Company, 1918.




Dulu itu koleksi kaset Sanggar Cerita kami lumayan banyak, juga kaset2 dari pentas2nya Liza Tanzil, termasuk yg adaptasi dari Voltus ("Voltus lima sahabat kita semua..") dan Candy-Candy ("Biar saja, biar wajahku begini.."). Sepertinya kaset cerita yg terakhir kali kebeli adalah Penerbangan 714-nya Tintin ("Aku Tintin, seorang wartawan muda.. Siapa ingin dengan aku ikut serta.. Bertualang, ke s'luruh penjuru dunia.."). Sejak itu, hampir nggak pernah saya dengerin cerita lewat kaset dan radio.



Belasan tahun kemudian terlewatkan dengan asyiknya mencoba2 ngerekam
lagu dari kaset/radio semasa SMA (bikin album kompilasi sendiri dong..
heheh..), sampe belanja kaset dan CD(! teknologi baru masa itu) di Aquarius (toko musik andalan) semasa kuliah. Dengerin cerita lewat radio dan kaset/CD seperti terlupakan.



Sampai.. kira2 dua tahunan yg lalu, si Tiyas Kilu itu nitip beliin audio-CD The Neil Gaiman Audio Collection:
CD yg isinya cerita2 pendek yg dibacakan sendiri oleh Neil. Penasaran,
saya coba versi icip2nya di Internet. Baru kerasa lagi enaknya dibacain
cerita sama orang lain! (Dan 'orang lain'nya Paman Neil, pula! Hahaha!)



Image hosting by Photobucket



Berpindah ke generasi berikut..



Saya pengen anak2 juga bisa merasakan senangnya dihibur cerita lewat
kaset atau CD. Selama ini, tentu saja mereka denger cerita dari bacaan
sebelum tidur (Lindri selalu minta dibacain minimal 5 buku, sampe bikin
serak); Dhanu juga sama aja, cuma udah bisa ditawar. Cara lain, dan yg
paling sering, tentu saja lewat TV (termasuk DVD), yg bikin mereka
ngetem depan TV dan enggan beranjak. Semua elemen cerita sudah
masuk di situ, dari lagu latar, efek suara dan landscape setting
cerita, hingga detail karakter (fisik & suara) para tokoh di
cerita. Itu semua nggak apa2, tapi anak2 perlu dicobakan ke stimulan
jenis lain..



Belakangan ini, acara TV antara jam 6-8 malam (antara wkt makan malam
hingga bedtime) nggak ada yg bagus buat anak2. Seri sitcom buat kita
juga nggak ada yg menarik. TV jadi bisa dibiarkan mati. Jam2 itu diisi
dengan main sendiri (atau barengan, atau sambil berantem rebutan
mainan), lalu menjelang jam tidurnya kita bikin ritual "dengerin
cerita" dari CD (banyak dapet gratisan CD cerita2 pendek, bonus
majalah2nya anak2). Wah mereka seneng banget. Mereka bukan cuma tiduran
atau duduk ndengerin cerita (seperti halnya kalo lagi nonton TV, pasti
diemmm aja di depan layar), tapi kadang2 ikut memerankan si tokoh yg
sedang diceritakan. Kocak banget. Interpretasinya bisa macem2, beda2
dari hari ke hari, padahal ceritanya ya itu2 aja. Bukan cuma
diperankan, habis ndengerin cerita itu pun mereka suka pengen nggambar
adegan2nya.



Image hosting by Photobucket

Babar, salah satu tokoh yg audio CD-nya jadi favorit anak2 belakangan ini.



Nah, kebetulan hari ini saya dan Nadine (ibu dari Jona, temen sekelas
Dhanu) bikin workshop di kelasnya Dhanu (anak2 umur 4-6 th): mbacain
cerita ke anak2 itu, lalu mereka nggambar cerita itu rame2 di lembaran
karton panjang, di hallway sekolah (lumayan bikin iri anak2 kelas
lain.. hehe..). Seru! Apalagi kalau diperhatiin interpretasi anak2 itu
asik2 banget, bebas!

Setelah semua dapet giliran nggambar, kita gelar di kelas dan masing2
menceritakan kembali apa yg mereka gambar. Ini juga menarik, sebab
mereka memang suka mengembangkan ceritanya sendiri berdasarkan cerita
yg mereka dengar sebelum menggambar (jadi bisa jauhhh banget). Tapi ini
asik, jadi sepertinya suatu hari workshop ini akan kami ulang, masih
dengan mengandalkan daya menyerap cerita.



Hm, rasanya memang sudah saatnya mencanangkan kembali budaya mendengar!





















Friday, March 10, 2006

Upsetting Thoughts (my home country, nowadays..)




Drawing sometimes functions as a therapy to me: I have the urge to pour my emotions on a piece of paper, to relieve my mind from disturbing thoughts. These drawings are done spontaneously, also the texts, therefore they're a bit messy, but at least it calms me down.

ps. I thought these series end today. But I just read on the news that our parliament members are raising their income again(!). *speechless*

Saturday, December 17, 2005

Ah, yang bener aja..?!! (RUU Anti Pornografi)




Dimulai dari membaca sebuah artikel berjudul Mempertanyakan Kepedulian Seniman di Kompas, yg ternyata membahas ttg RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi yg sedang digodog oleh DPR. Dilanjutkan dengan membaca tanggapan seseorang dari Komnas Perempuan di sebuah mailing list (intinya saya kopikan di bawah), yg juga menyertakan lampiran RUU tsb.

Langsung pikiran saya tertuju ke sebuah bab di Persepolis, di mana Satrapi dan teman2nya (yg belajar di sebuah sekolah seni di Iran) terpaksa menggambar model perempuan yg mengenakan cadar lengkap. Dengan cara ini, tidak mungkin mereka melatih ketrampilan menggambarkan anatomi manusia dengan baik. Juga ketika Satrapi sedang menggambar seorang model pria; ia ditegur seorang pengawas karena memandangi laki2 tsb., dengan alasan 'melanggar kode moral'. Satrapi harus menggambar model tsb sambil menatap pintu! Ini kan lucu, sekaligus ironis.
Satrapi juga menyatakan, saking harus selalu sibuk memperhatikan penampilannya - bukan utk menarik perhatian, tapi demi menghindari hukuman - ia (dan sesama perempuan) tak sempat lagi memikirkan hak2, apalagi penyuaraan pendapat mereka!

Yah, kasus Satrapi ini memang dari sisi ekstrim, karena situasi di negaranya yang memang represif terhadap kaum perempuan. Tapi, dengan RUU semacam ini, apa berarti kita di Indonesia mau menuju ke arah sana?! Kalau tujuannya melindungi kaum perempuan dan anak2, mestinya lebih ditekankan ke pasal2 mengenai, misalkan:
- Pelecehan seksual: dari lingkungan tempat kerja hingga di lingkungan rumah tangga. Hukum tuh preman2 jalanan yg suit-suit atau menyerukan kata2 nggak sopan saben ada cewek lewat! Hukum berat majikan yg suka 'ngerjain' pembantunya!
- Kesejahteraan WTS: pengontrolan kesehatan, pelatihan ketrampilan (supaya yg terjebak di dunia itu bisa keluar dgn kemampuannya sendiri), perlindungan terhadap kekerasan (baik oleh pelanggan, germo, maupun aparat yg juga memeras).
- Penindakan spamming porno di Internet.
- Pengkondisian jalan2 umum di daerah manapun dan jam berapapun, utk menjadi aman bagi perempuan yg bepergian sendiri (= menghindari resiko kekerasan seksual/ pemerkosaan), spt menambah penerangan jalan dan petugas keamanan.
- Pengkondisian tempat2 umum (kantor, pusat perbelanjaan, dsb), supaya menyediakan tempat yg nyaman bagi ibu2 utk menyusui dan mengurus bayinya. Jangan2 menyusui di tempat umum bisa dianggap tindak pidana juga karena mengeluarkan payudara dari balik baju!

Okelah bila perundang2an ini bertujuan utk mengatasi persoalan pesta seks dan video porno anak2 sekolah, misalkan. Tapi apakah semua masalah itu selesai dengan cara pengekangan (terutama terhadap kebebasan berekspresi)?
Yang harus 'dipegang ekornya', menurut saya, adalah asal muasal stigma terhadap "tubuh telanjang". Saya lihat dari pengalaman di Belanda, di mana anak2 mudah ter-expose terhadap program dan iklan televisi dan majalah yg menampilkan (bagian) tubuh telanjang, bahkan sex shop (meskipun yg terbanyak terdapat di daerah lampu merah, tidak tertutup kemungkinan adanya sex shop di lingkungan permukiman biasa). Tapi apakah anak2 Belanda ini semuanya tumbuh jadi maniak sex? Justru tidak. Peran orang tua, lingkungan dan pendidikan memang sangat penting dalam memberikan pengertian kepada anak2, dan hal inilah yg sangat kurang di Indonesia.

Akhir kata, pornografi adalah isu moral. Dengan membatasi dan mengekang segala hal, RUU ini menganggap dan mempermalukan masyarakat Indonesia sebagai orang2 tanpa moral yg tidak becus menentukan pandangan dan sikap mereka sendiri. Bila RUU ini disahkan, bisa2 orang2 Indonesia jadi benar2 bodoh, miskin moral dan makin kekanak2an.

gambar: dari Persepolis 2, bab berjudul The Socks. Klik ini utk melihat versi besarnya.

*Tambahan*: kutipan dari tulisan Jim Supangkat di Kompas, Minggu 18 Des 2005, yg 'terbit' beberapa jam setelah saya membuat entry ini (saya tebalkan bbrp bagian teks):
[...]
Salah acuan itu membuat RUU Tindak Pidana Kesusilaan yang sebenarnya disusun untuk kepentingan (melindungi) masyarakat jadinya malah (mohon dicatat) menghina masyarakat. Persepsi di balik RUU ini melihat seksualitas, sensualitas, ketelanjangan, dan bahkan aktivitas ciuman dalam kehidupan punya cuma satu dasar: pornografi.

RUU itu jadinya menuduh setiap orang yang mengangkat persoalan seksual, masalah sensualitas dan ketelanjangan punya tujuan mengeksploitasi kesenangan seks seperti pada pornografi. Semua bahan persoalan-persoalan ini materi kuliah anatomi, karya-karya seni, makalah seminar perkawinan dan pendidikan seks bisa dilihat mencerminkan akhlak rendah karena mencari keuntungan dengan menjual kesenangan seksual (Pasal 469). Kesalahan acuan membuat Pasal 469 ini bukan melindungi masyarakat dari penyebaran produk pornografi, tapi malah mem-pornografi-kan masyarakat
.
[...]





(lampiran: dari sebuah mailing list)
====================================
Pasal2 yang menurut saya harus dikritisi adalah:

I. "Larangan MEMPERTONTONKAN bagian tubuh tertentu yang sensual.." (Pasal 25) ..pidana penjara 2 - 10 tahun (Pasal 79),
dalam Penjelasan Pasal 4: Bagian tubuh tertentu yang sensual ANTARA LAIN adalah alat kelamin, PAHA, PINGGUL, pantat, PUSAR, dan PAYUDARA PEREMPUAN, baik terlihat SEBAGIAN maupun seluruhnya.

##Catatan sementara: artinya pihak yang berwenang menafsirkan RUU ini dapat menafsirkan bagian tubuh tertentu yang sensual di luar (lagi!) dari yang diatur RUU ini. Tentang mempertontonkan, apakah berarti “langsung” terlihat? bagaimana bila tidak langsung terlihat, tertutup kain, tapi ketat, sehingga membentuk bagian itu misalnya? ini akan menjadi bergantung kepada pihak yang berwenang menafsirkan RUU ini.
##Contoh Kasus:
--coba kita ingat, Celana yang sekarang menjadi Trend & “begitu banyak” dipakai perempuan berbagai usia, Celana yang memperlihatkan pinggul, dan ketat membalut kaki, dan biasanya dipakai bersama baju yang pendek = akan terlihat pusar??
--atau coba kita ingat Pakaian yang dipakai Artis perempuan ketika mereka tampil menyanyi, menari (atau tidak harus Artis, bisa Pakaian Pesta kita juga), yang mungkin memperlihatkan itu??
--atau contoh lagi, Peragawati yang memakai Baju2 yang dirancang oleh Perancang Busana, yang mungkin memperlihatkan Bagian2 tubuh yang dinyatakan sensual oleh RUU ini??
--bagaimana dengan Budaya berbagai Daerah di Indonesia, yang punya berbagai kebiasaan berpakaian??
apakah berarti PEREMPUAN DALAM JUMLAH YANG BEGITU BANYAK itu DAPAT DIPIDANA PENJARA??


II. "larangan menari erotis ATAU bergoyang erotis di depan umum.." (Pasal 28) ..pidana penjara 18 bulan - 7 tahun (Pasal 82),
dalam Penjelasan Pasal 28:
“Menari” erotis adalah melakukan gerakan-gerakan tubuh secara berirama dan mengikuti prinsip-prinsip seni tari sedemikian rupa sehingga gerakan-gerakan tersebut dapat dikategorikan sebagai suatu karya seni koreografi.
“Bergoyang” erotis adalah melakukan gerakan-gerakan tubuh secara berirama, “tidak” mengikuti prinsip-prinsip seni tari,dan lebih menonjolkan sifat seksual sedemikian rupa sehingga gerakan-gerakan tersebut dapat “diduga bertujuan merangsang nafsu birahi”.

##Catatan sementara: “= KEDUANYA DILARANG”
--lalu bagaimana dengan Tarian2 Daerah?? Tari Jaipongan dari Jawa Barat misalnya??
--bagaimana dengan Perempuan yang profesinya memang menjadi Penari??
--kalau alasannya: merangsang nafsu birahi, kalau yang bermasalah adalah birahi laki2 yang mungkin timbul setelah melihat Tarian itu, kenapa Perempuan yang harus dilarang menari?? hingga harus dibuat RUU ini?? seharusnya laki2 yang harus berpikir bagaimana mengontrol birahinya, dan bertanggungjawab atas birahinya itu??


III. “Larangan membuat (diantaranya) Tulisan, Film, yang MENGEKSPLOITASI daya tarik aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan pasangan SEJENIS..” [PASAL 9 ayat (2)] ..pidana penjara 2 – 10 tahun [Pasal 63 ayat (2)],

*Pasal 1 angka 14:
“mengeksploitasi” adalah kegiatan memanfaatkan perbuatan pornoaksi untuk tujuan mendapatkan keuntungan materi atau non materi bagi diri sendiri dan/atau orang lain.

*Pasal 34 ayat (1):
Pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi sebagaimana dimaksud dalam PASAL 4 SAMPAI dengan PASAL 23 DIKECUALIKAN untuk tujuan PENDIDIKAN dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dalam BATAS YANG DIPERLUKAN.
Penjelasan Pasal 34 ayat (1)
"dalam batas yang diperlukan" adalah sesuai dengan tingkat pendidikan dan bidang studi PIHAK YANG MENJADI SASARAN pendidikan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan.

*Pasal 34 ayat (2):
Pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan materi pornografi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) TERBATAS PADA LEMBAGA RISET ATAU LEMBAGA PENDIDIKAN YANG BIDANG KEILMUANNYA BERTUJUAN UNTUK PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN.

##Catatan sementara:
Homoseksual adalah salah satu bentuk orientasi seksual, yang menjadi bagian dari Hak Asasi Manusia.
Untuk menginformasikan hal tersebut diantaranya dapat dilakukan melalui Tulisan dan Film, dan itu adalah bagian dari perjuangan Hak2 Lesbian, Gay, Transeksual di Indonesia.
MENGEKSPLOITASI dalam Pasal 9, akan sulit ditafsirkan dalam Tulisan dan Film, Contoh: Film Arisan - untuk Gay, Film Detik Terakhir – untuk Lesbian, pihak yang berwenang menafsirkan RUU ini dapat saja mengatakan bahwa Film2 itu MENGEKSPLOITASI DAYA TARIK HUBUNGAN SEKS PASANGAN SEJENIS??


IV. BADAN ANTI PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI NASIONAL
Kalau kita baca RUU ini, Badan ini adalah pihak yang paling mungkin berwenang menafsirkan RUU ini.

*Pasal 42 BAPPN mempunyai fungsi: huruf (b): pengkoordinasian instansi pemerintah dalam pelaksanaan kebijakan pencegahan dan penanggulangan masalah pornografi dan/atau pornoaksi;

*Pasal 42: ayat (g): pelaksanaan kerjasama nasional, regional, dan internasional dalam rangka pencegahan dan penanggulangan masalah pornografi dan/atau pornoaksi;

**Pasal 43: ayat (7): Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf g, BAPPN mempunyai tugas : Huruf (b) menjadi SAKSI AHLI pada proses pemeriksaan tersangka/terdakwa dalam penyidikan dan pemeriksaan di sidang pengadilan;

**Pasal 44: Ayat (1): BAPPN terdiri dari unsur pemerintah dan masyarakat.
Penjelasan Pasal 44: Ayat (1): Unsur Pemerintah adalah instansi dan badan lain terkait yang tugas dan wewenangnya mencegah dan menanggulangi pornograifi dan atau pornoaksi yang antara lain terdiri dari Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan dan Kementerian atau Departemen.
MASYARAKAT adalah lembaga swadaya masyarakat yang MEMILIKI KEPEDULIAN terhadap masalah pornografi.

*Pasal 46: Persyaratan keanggotaan BAPPN adalah : Huruf (d): memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang pornografi dan pornoaksi; dan
Penjelasan Pasal 46: Persyaratan ini lebih ditekankan bagi unsur masyarakat yang antara lain terdiri dari Pakar komunikasi, Pakar teknologi informasi, Pakar hukum pidana, Pakar seni, Pakar Budaya, dan Tokoh AGAMA.

*Pasal 50: Ketentuan lebih lanjut mengenai BAPPN diatur dengan Peraturan Presiden.

##Catatan sementara:
Hal terpenting adalah bagaimana mekanisme pemilihan orang2 yang akan berada dalam Badan ini? supaya dapat mewakili nilai2 dalam masyarakat Indonesia yang sangat beragam?
Contoh: untuk menentukan bagian tubuh yang sensual – yang mungkin akan berbeda – bagi setiap orang??
atau tentang Homoseksual adalah salah satu bentuk orientasi seksual, yang menjadi bagian dari Hak Asasi Manusia?? apakah bisa dijamin bahwa dalam Badan ini ada orang yang mendukung perjuangan Hak2 Lesbian, Gay, Transeksual di Indonesia – sehingga bila menjadi SAKSI AHLI tidak sewenang2 mempidana orang??


V.
Pasal 36 Ayat (1)
Pelarangan pornoaksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, Pasal 26, Pasal 27, Pasal 28, Pasal 29, Pasal 30, Pasal 31, atau Pasal 32, DIKECUALIKAN untuk:
a.cara berbusana dan/atau tingkah laku yang menjadi kebiasaan menurut adat‑istiadat dan/atau budaya kesukuan, SEPANJANG BERKAITAN DENGAN PELAKSANAAN RITUS KEAGAMAAN ATAU KEPERCAYAAN;
b.kegiatan seni;
c.kegiatan olahraga; atau
d.tujuan pendidikan dalam bidang kesehatan.

Ayat (2): Kegiatan seni HANYA DAPAT DILAKSANAKAN DI TEMPAT KHUSUS PERTUNJUKAN SENI.
Ayat (3): Kegiatan olahraga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c hanya dapat dilaksanakan di tempat khusus olahraga.

Pasal 37
(1) Tempat khusus pertunjukan seni HARUS MENDAPATKAN IZIN DARI PEMERINTAH.
(2) Tempat khusus olahraga harus mendapatkan izin dari Pemerintah.

##Catatan sementara:
mengapa HANYA SEPANJANG berkaitan dengan pelaksanaan ritus keagamaan atau kepercayaan?
Bagaimana kalau pakaian SEHARI-HARI perempuan di suatu daerah di Indonesia – memang mempertontonkan bagian tubuh yang sensual?
Sudah cukup saya mendengar penderitaan Teman2 saya di Aceh – yang ketakutan sejak diberlakukannya Syariat Islam di Aceh, karena harus berbusana muslimah, termasuk tidak boleh memakai celana panjang, sehingga mereka harus membawa sarung – takut tiba2 ada Polisi Syariah??
ada yang sekali tertangkap – dan diarak keliling Kota oleh Polisi Syariah karena tidak memakai Kerudung?
Sudah cukup TUBUH PEREMPUAN menjadi OBYEK POLITIK!!


VI. “Larangan berciuman bibir di muka umum..” (Pasal 27) ..dipidana 1 – 5 tahun penjara (Pasal 81),
menurut saya, dengan alasan apapun - ini tidak boleh menjadi tindak pidana, kalau ada pihak2 yang merasa itu tidak boleh - harusnya disampaikan lewat pendidikan - tapi tidak dengan menjadikannya sebagai tindak pidana,


Teman2, menurut saya, PEREMPUAN ADALAH PIHAK YANG PALING RENTAN DIPIDANA oleh Rancangan Undang-Undang ini.
Saya mengikuti perjalanan Rancangan Undang-Undang ini selama sekitar 2 tahun.. dari Draftnya belum ada tentang Pornoaksi.. & saya lihat tidak ada perubahan substansi dalam Rancangan Undang-Undang ini, tapi melihat perkembangan di DPR dan Pemerintah, Rancangan Undang-Undang ini tidak mungkin ditolak - kalaupun ditolak tetap akan berjalan, sehingga saya mengambil sikap untuk mengikuti proses pembahasan di DPR dan Pemerintah, dan berusaha terus memperjuangkan Pasal2 yang menurut saya harus diubah,

Saya benar2 takut - Kekerasan terhadap Perempuan akan meningkat dengan Undang-Undang ini.. dari mulai pilihan berpakaian.. pilihan berekspresi (misalnya: para Penari perempuan..) ..pilihan pekerjaan (misalnya: Peragawati)
Komnas Perempuan berencana mengundang pihak2 yang rentan dipidana oleh UU ini - bila RUU ini disahkan, perempuan berbagai usia, Penulis, Pekerja Seni (Pembuat Film, Penyanyi, Penari, Artis, Perancang Busana, Peragawati, dan lain2), Lesbian, Gay, Transeksual.. dan perwakilan2 masyarakat lainnya,

Thursday, December 15, 2005

Tsunami Krant



Yesterday morning, after dropping Dhanu off at school, I went to Dirk (nearby our place) to do a quick shopping. After paying, I arranged my stuff at one of the tables provided for that purpose and saw that there's a box full of papers on each table. Title of the paper: Tsunami Krant - Een Jaar Na De Ramp (= Tsunami Paper - One Year After the Disaster - the first image here is a scan of the first page). It's given away for free, on behalf of the cooperating aid organizations. I picked one up rightaway, and flipped through the pages once I got home. Seems like the purpose of this paper is to let everyone (especially those who have donated to GIRO 555) know what happened to the financial aid, how it was distributed, and some resulfs of the contribution.


I really appreciate this publication. Because, indeed, after (almost) one year, people start to wonder about the situation at the damaged areas. Especially those who could only 'watched' from a distance and have no chance to be directly involved in the recovering process. At the top section of each page are FAQ and news sections. Moreover, there are figures of aid portions received by each country and of contributors, reports accompanied by photos. Most of these are touching.


I haven't had the chance to read thoroughly, but some articles cought my interest - such as how children, in their spare time, would draw about their horrible experience (drawing can be a therapy, you know). I would love to see their drawings, I hope somebody gathered these works and display them for the benefit of these children. Another article is about children who lost their parents (illustrated with a photo of a little girl with very beautiful, round, clear eyes), who are in need of paternal attention. My thoughts rightaway ran to my kids and how I would like to hug them right now. Underneath the main photo at the cover page, an article titled Mom, Dad, I'm still alive - why are you still crying? makes me think how rich I am to have a complete family with me, plus the luxury of a proper place to sleep and enough food to eat everyday.


At the last page, is the Kinder Tsunami Krant (= Children Tsunami Paper), containing, among others, an article titled De kinderen van Atjeh lachen weer (= Children of Aceh laugh again), illustrated with a photo of two boys on a pair of swings (second image in this entry). These swings and playground are among numerous facilities built by the money from Giro 555. One boy said that they're so happy with the new facilities, that they kept playing eventhough it rained. Children, indeed, have all the rights to be happy. And to think that some kids are never satisfied of their abundant expensive toys.. Another article is about Rachmat Tsunami, an Acehnese baby who was born during the disaster (the third photo is the baby with his parents). The parents told the story of Rachmat's birth - how the mother gave birth on the roof top of the father's office building during the tide, with help from no one, and how the father ran downstairs when the tide was low, to fetch some necessities from a fridge. How the father had to find something sharp to cut the umbilical cord of the baby and, in the end, had to use his car keys. Wow. I'm really impressed by their experience. In this last page, there's also a child's drawing, picturing a house that is almost drowned by the high water level.


I would suggest to anyone who reads Dutch (and lives in Holland) to get a hold on this paper, take it from a local supermarket. Perhaps it can do to you what it did to me: exercising my emphaty and making me wonder, again, about humanity and the purpose of life..




Wednesday, November 16, 2005

just passing by..




It was more than one week ago that I posted the following entry to Jalansutra mailing list (in Indonesian). Now I'm letting you know that my sister is already joining us in Amsterdam, still recovering but far healthier than when she was ill in Japan. Here's she with me, in front of Lambiek (thanks to Akil for the photo).

In short, the posting was about how my sister got terrible case of flu in Tokyo, and how a family who, eventhough they know her for only one week (then), really nursed her with great care and took care of everything (medicals, ticket, visa). At first I had a lot of doubt of posting this to the mailing list, since it is sort of a personal matter. But shortly, after an encouragement from the chief of the community, I did. But I mainly did it for other reasons: I want the world to know that kind and sincere people do exist, and I want to tell a story of hope and humanitiy, among the bad news that we received recently.

So, here goes..

===================================
From: Dwinita Larasati
Date: Sun Nov 6, 2005 9:00 pm
Subject: [o/t] untuk keluargaku: terima kasih!

Dear keluarga besar Jalansutra,
Ijinkan saya mengisahkan sedikit mengenai berkah yg kami peroleh
berkat pertemanan dalam komunitas (yang tidak hanya sekedar) jalan-
jalan dan makan-makan ini. Terima kasih sekali lagi utk Pak BW sang
kepala suku yg telah mengijinkan saya berbagi cerita ini melalui
milis :)

Terakhir kali saya & keluarga pulang ke Indonesia adalah th 2002, dan
sejak itu orang tua saya hanya sempat berkunjung 1x saat anak kedua
saya baru lahir (akhir 2003). Sekarang orang tua saya berkesempatan
mengunjungi kami di Amsterdam sekali lagi setelah sekian lama hanya
'bertatap muka' dengan cucu2 di sini melalui kiriman foto2. Mereka
sudah tiba sejak lebih dari dua minggu yang lalu, berbarengan dengan
acara rutin bapak menghadiri sebuah konferensi bi-annual di Köln,
Jerman. Adik saya, Tiyas, rencananya menyusul kemari setelah
perjalanannya di Jepang.

Saat tiba di Jepang, Tiyas menginap dulu di kediaman keluarga Lim Kim
Soan, seorang anggota Jalansutra yg tinggal di dekat Tokyo, selama 3
hari. Lalu ia mengunjungi sobat SMA-nya yg sedang kuliah dan bekerja
di Hokkaido, di belahan Utara Jepang yg cuacanya lebih dingin, selama
3 hari. Dari Hokkaido, Tiyas kembali ke Tokyo utk menginap semalam
lagi di rumah Kak Kim sebelum melanjutkan penerbangan ke Amsterdam.

Tapi ternyata, saat 'transit' di rumah Kak Kim tsb, Tiyas mengalami
demam tinggi, suhu tubuhnya mencapai 39,8 C. Kak Kim sampai menelpon
kami utk memberitahukan kejadian darurat tsb utk mengambil keputusan,
lalu dengan sigap membatalkan penerbangan Tiyas hari itu dan langsung
merawatnya dengan sangat telaten.
Tumben, biasanya bila demam, suhu badan Tiyas sudah akan membaik
dalam waktu 2-3 hari hanya dengan beristirahat. Kali ini lewat 5 hari
pun masih panas tinggi, bahkan disertai gejala2 parah seperti mual
dan sakit kepala. Kami berusaha berkomunikasi intensif dengan Kak Kim
untuk selalu ter-update dengan keadaan Tiyas, si putri bungsu yg
sedang berperjalanan sendiri, yg terpaksa terdampar di negri
orang dalam keadaan sakit, dan terpaksa tinggal di rumah orang yg
baru ia kenal.

Tiyas yg rencananya tiba di Amsterdam tgl 2 Nov lalu, hingga hari ini
(6 Nov) masih dalam perawatan Kak Kim sekeluarga. Urusan ke dokter,
pengubahan tiket, perpanjangan visa dan penalangan biaya, semua
diurus dengan cekatan oleh Kak Kim dan suaminya, bagai mengurus anak
sendiri. Orang tua saya yg sedang berada di sini dan tak dapat
berbuat banyak, tentu saja sangat berterima kasih pada Kak Kim &
keluarga, atas kebaikan dan ketulusan mereka.

Kemaren kami mendapat kabar bahwa keadaan Tiyas sudah membaik.
Meskipun sampai sempat mimisan, suhu tubuhnya sudah turun dan stabil
pada 37 C setelah (akhirnya) diinfus. Kak Kim pun bilang bahwa Tiyas
sudah bisa makan, meskipun sedikit. Walaupun begitu, waktu itu kami
masih harus melihat kondisinya, apakah masih memungkinkan utk terbang
ke Belanda atau langsung pulang saja ke Jakarta (Tiyas sih berniat
bisa, sebab dia belum pernah bertemu dengan keponakan perempuannya yg
baru berulang tahun yg ke-2).

Kami bener2 sempat dibuat deg2an dengan flu parah itu. Apalagi waktu
baca berita di Internet bbrp hari yg lalu ttg outbreak avian flu di
Vietnam, Cina dan Jepang. Syukurnya Tiyas tidak kena virus tsb. dan,
syukurnya lagi, Tiyas dirawat oleh tangan2 yg bertanggung jawab dan
tulus-kasih - sekali lagi, berkat pertemuan kami dalam komunitas
Jalansutra.
Betapa mengharukan, bukan saja uluran tangan yg diberikan keluarga
Kak Kim di Jepang, namun juga perhatian dari saudara dan teman2 JS
yang turut memantau keadaan Tiyas setiap kali 'bertemu' dengan saya
di program chatting.

Tadi siang (waktu Belanda, malam waktu Jepang) kami sempat mengontak
Tiyas lagi, kali ini lengkap melalui program Skype ('telepon'-
internet), messenger dan web-cam di rumah Kak Kim. Wah, betapa
leganya orang tua saya ketika bisa melihat Tiyas sudah bisa duduk
chatting dengan wajah sehat, bisa bercanda dan ketawa2 lagi. Betapa
senangnya mereka bisa 'bertemu muka' dengan Kak Kim dan suaminya
meskipun hanya melalui web-cam, sambil sempat bercakap2 sebentar.
Jarak jauh yg memisahkan, benar2 bukan penghalang pertalian
kekeluargaan kami. Kini hampir dapat dipastikan bahwa Tiyas akan
cukup sehat dan kuat untuk melakukan penerbangan jauh ke Amsterdam,
dan berkumpul bersama kami sesuai rencana semula.

Secara tidak langsung, kami juga telah dibantu oleh Pak Bondan dan
oleh semangat pertemanan keluarga Jalansutra, di mana pun berada.
Terima kasih!



Monday, October 10, 2005

My response to "Want to marry RI woman? Pay Rp 500m in deposit"




I am deeply concerned by this article (from The Jakarta Post, copied below), which shows a drawback (instead of improvement) of mixed-marriage laws in Indonesia, especially to the disadvantage of Indonesian women. Should the law be implemented, The Supreme Court has to give a clear explanation of the law's purpose (to protect women, from what?), of the law's gender preference (why only Indonesian women, and not men?), of the required amount of money (why Rp 500m, not 400 or 700? and where would the money go?) and the foundation of the law itself (why refer to Egypt? was there a research for the conditions in Indonesia? was there a direct survey about mix couples in Indonesia?).

As far as I'm concerned:
1. Marriage is a very private matter, conducted between two individuals. Interference from institutions and/or governments that intercept the marriage process negatively should be seen as a violation to human rights.
2. It is not wise to generalize Indonesian women as "need to be protected" this way. It might be true in some cases, a couple of decades ago, but in this era, Indonesian women are intellectually advanced, independent and open-minded.
3. The existing laws for mixed couple are already a disadvantage for Indonesian women. No wonder Indonesian women, including the smart & responsible ones, chose to move and work at their husbands' country where they are treated with equal respects to their male partners. This is a loss to Indonesia itself.
4. Indonesian mothers with 'mixed children' would also think that it's wiser to send their children to their fathers' homeland for school, and later, work. Another loss of quality human resource to Indonesia.
5. Indonesian mothers who are forced to raise their 'mixed children' (and to live with her foreign husband) in this legal pressure would despise these discriminating laws. This might lead to the lack of dedication and trust to (the government of) Indonesia as their motherland.

I think our government should pay more attention to the protection of Indonesian women who work abroad as domestic workers, instead of 'protecting' the rights of Indonesian women from chosing their own life partners.

Image source: Clip art

========== Here's the article from The Jakarta Post ==========

Want to marry RI woman? Pay Rp 500m in deposit
Muninggar Sri Saraswati
, The Jakarta Post, Jakarta

If you happen to be a not-so-rich foreign gentleman who plans to marry an Indonesian lady here, you'd better tie the knot quickly as the authorities may put an expensive price tag on Indonesian women in the future.

Unknown to many, the Supreme Court is mulling requiring foreign men to deposit some Rp 500 million (about US$50,000) before marrying Indonesian female citizens.

The idea was recommended during a recent Supreme Court national working meeting, which was attended by the Supreme Court leadership and top judges from across the country. It was not immediately clear how the proposed scheme would be implemented.

But according to a document studied at the meeting, such a regulation is applied in Egypt, where foreign men are required to pay a sum of money into a state bank before marrying Egyptian citizens.

"In a bid to protect women, the state of Egypt requires every (male) foreigner who plans to marry an Egyptian citizen to pay 25,000 Egyptian pounds into the Nasser Bank as a bond," said the document, a copy of which was made available to The Jakarta Post over the weekend.

The Supreme Court may likely follow up on the idea by submitting it to the government or the House of Representatives, which would draft the ruling.

The recommendation by the male-dominated Supreme Court will add to the complications faced by transnational couples wishing to register their marriages here.

Many consider the current Indonesian law on citizenship as failing to protect transnational couples, particularly marriages between Indonesian women and foreign men.

Such couples must go through lengthy and complicated immigration and other processes to legalize their marriage under Indonesian law.

More problems usually occur later since the Citizenship Law (No. 62/1958), which applies the outdated bloodline principle, does not allow foreign men married to Indonesian women to change nationality, while any children of the marriage will automatically take the same citizenship as the father.

The non-Indonesian husband and children are then treated in much the same way as foreign tourists or visitors. It means they must fly to neighboring countries to renew their visas should the family decide to live in Indonesia.

According to the law as it now stands, when an Indonesian woman who is married to a foreign man dies, her name cannot be inherited by her husband and children.

The Indonesian government instead auctions off the property within one year, leaving the mourning family homeless.

The unfavorable situation has forced many Indonesian women to marry their foreign fiances abroad, although this does not actually solve the problem should they decide to live in Indonesia.

The Ministry of Justice and Human Rights has submitted a bill to amend the 1958 Citizenship Law to the House of Representatives. However, the House has yet to list it for further deliberation.



Sunday, August 14, 2005

Wisata manja




Beberapa hari yang lalu, di luar cuaca sedang nggak jelas (cerah-bermatahari dan mendung-gerimis bergantian), di dalam rumah anak2 main Lego dengan saya, sambil ngobrol sesekali dengan ibu mertua yang mondar-mandir nyuguhin teh dan kue-kue (ini mertua memang full service banget). Ada satu bahan obrolan yg nyangkut terus, harus segera diumbar di sini, biar lepas.

Mertuaku bilang, ia baru2 ini baca ttg sebuah resort di Turki yang semuanya mirip dengan Amsterdam: rumah2nya, kanal2nya, hotel, toko, segala café dan restorannya (mungkin minus coffee shop dan XXX ya.. dan sepeda2 yg ganas di jalanan :P). Katanya, tujuannya adalah untuk para wisatawan dari Belanda yang ingin berlibur ke Turki, tapi maunya diladeni dengan fasilitas yang persis dengan di Belanda (atau lebih spesifik, Amsterdam). Malah, belakangan banyak complain dari para wisatawan Belanda yg pergi ke resort itu, bahwa ada terlalu banyak orang Perancis dan Jerman juga di situ.

"Why..?!" kata2 yg pertama keluar dari mulut. Ya memang sih, ada (banyak!) orang2 yg kalau pergi berlibur ke negara lain, harapannya adalah treatment dan lingkungan yg sama persis dengan tempat asalnya. Tapi kasus ini, bener2 seperti 'Amsterdam pindah' - hanya saja keberadaan sinar matahari dan kehangatan lebih bisa dipastikan. Hm, atau itu ya maksudnya: karena tak mungkin memindahkan cuaca Turki ke Belanda, ya Belandanya saja yg dibawa ke Turki. Tapi tetep aja, kitsch! Hahahaha..
Yang jelas, kalau saya ke Turki suatu hari nanti, yang pertama2 saya hindari adalah resort 'Amsterdam pindah' ini :D

(foto2: ngambil di Internet, dari hasil ngGoogle image)

Sunday, February 27, 2005

Perempuan WNI bersuami WNA, siap2 terima diskriminasi hukum di Indonesia :(




Ternyata, jadi perempuan WNI yg nikah dengan pria WNA itu jauh lebih banyak bermasalah dibandingkan jadi pria WNI yg nikah dengan perempuan WNA. Ini ada sebagian kecil masalah utama (dari daftar yg lebih panjang):

1. Perempuan WNI tidak dapat mensponsori suami maupun anak anaknya yang sudah dewasa untuk mengajukan ijin tinggal di indonesia. Pada situasi dimana suami kehilangan pekerjaan di Indonesia (ia otomatis tidak memiliki ITAS dari perusahaan) maka suami dan anak anak harus pindah keluar dari Indonesia. Bila keluarga ingin menetap di Indonesia mereka hanya dapat memperoleh visa turis atau visa kunjungan sosial budaya yang masa berlakunya hanya dua bulan.
==> Karena saya 'hanyalah istri', meskipun punya pekerjaan, nggak boleh mensponsori suami WNA dan anak2 (WNA - meskipun anak2 kandung). Beda kalau si suami yg WNI, ia boleh mensponsori istri WNA-nya (anak2nya semua WNI).

2. Hak asuh bagi anak WNA. Seorang ibu WNI memerlukan ijin dari kementrian terkait untuk mendapatkan hak asuh bagi anak anaknya (WNA) yang dibawah umur. Setelah ijin keluar visa ijin tinggal harus diambil di KBRI di luar negeri
==> Mau marah nggak sih. Anak2ku yg masih pada balita itu, adalah anak2 yg aku lahirkan sendiri, hasil meregang nyawa sendiri. Masak utk mengasuh & membesarkan mereka, harus minta ijin dari kementrian bla bla?! Dan utk bisa tinggal denganku di Bandung nanti, anak2 harus minta visa dari KBRI di Den Haag?! Edan tenan.
Belom lagi soal si suami WNA dan anak2 (yg juga otomatis jadi WNA itu) harus minta ijin tinggal tiap taun! Ini pasti sumber income utama Dirjen Imigrasi ya.. jangankan jumlah setoran yg resmi, jumlah pelicin (yg lumrah di Indonesia) pasti bikin mereka kaya raya juga tuh.. *keluh*

3. Perempuan WNI kehilangan hak untuk dapat bekerja di instansi/ pemerintah RI, tidak dapat berpolitik praktis, dan tidak dapat menjadi anggota DPR-MPR.
==> Gimana nih.. berarti beneran, nggak jadi PNS. Emang statusku udah CPNS kasus sih... hehe.. Dan, jangankan jadi gubernur atau presiden, jadi rektor ITB aja nggak boleh nih ya :P

4. Suami dan anak anak (WNA) tidak dapat menjadi WNI tampa melepas kewarganegaraan suami/ bapak (walaupun negara suami/bapak memperbolehkan dwi-kewarganegaraan).
==> Nyebelin banget. Terus terang, lebih enak pegang ke-WN-an mereka (suami & anak2) sendiri sekarang ini. Sekarang mereka masih berhak dapat tunjangan2 dan asuransi2 kesehatan, dan segala perhatian yg manusiawi dari negaranya ini. Kalau jadi WNI SAJA, bukan hanya mereka akan kehilangan semua hak itu, tapi juga bakal dapat perlakuan diskriminatif dari "bangsa sendiri"/ sesama WNI di negara Indonesia.

..Dan masih banyak lagi peraturan yg bisa mengurungkan niat saya untuk pulang ke Indonesia. Untuk kembali mengajar dan bekerja di Bandung (cita2 punya usaha sendiri nih.. hehe..) dan membesarkan anak2 di dekat keluarga besar.

Tapi, untuk menuju kemauan, pasti selalu ada jalan. Saya masih bertekad untuk pulang, meskipun dukungan dari pihak peraturan dan hukum di Indonesia akan sangat memberatkan moral dan (jelas!) kantong. Jangan menyerah, sebelum mencoba..

Sekian curhat malam ini. Oh iya, peraturan2 itu saya kutip dari sini: http://www.aliansipab.com/Problem.htm [I'm just glad that mixed couples in Indonesia has an association that fights for their rights. For a balanced family life. I'll surely contact this association for future references]



Thursday, February 17, 2005

Budaya orang Indonesia: Sombong tapi Kosong?




Hari Selasa (15 Feb) yang lalu saya hadir di sebuah mini-symposium di Eemnes (dekat Hilversum), di mana disajikan dua presentasi bertema "Desain untuk pengguna multi kultural". Yang saya tulis di sini adalah mengenai presentasi pertama, yg dibawakan oleh Johanna, lulusan Teknik Industri ITB (angkatan 96) yg mengajar di Unpar, dan sekarang sedang menyelesaikan S2 di Hogeschool Utrecht.
Penelitian Johanna adalah mengenai perbedaan usabilitly (penggunaan) produk oleh pengguna dengan latar belakang budaya yg berbeda; dalam hal ini Belanda dan Indonesia. Motivasi penelitian ini adalah banyaknya produk (terutama consumer goods) yg didesain dan diproduksi oleh Eropa dipasarkan ke Asia. Apakah produk2 tsb dapat dengan baik diterima oleh para penggunanya, dan dapat berfungsi seperti yg rancangannya? Untuk meneliti hal ini, Johanna mengadakan eksperimen dengan beberapa responden (wanita asal Belanda dan Indonesia) dengan food processor merk Braun (dari Jerman).
Johanna berkesimpulan bahwa memang dibutuhkan pengertian akan budaya setempat bila hendak memasarkan suatu produk ke masyarakat yang dituju. Banyak diskusi yg bisa keluar dari topik ini, yg salah satu point-nya saya ajukan di bawah ini.

Penjelasan mengenai eksperimen dan kesimpulannya memang sangat menarik. Terutama karena dari hasil eksperimen ini berbagai hal dapat diteliti lebih lanjut. Salah satu hal yg paling menarik adalah kesimpulan bahwa orang Indonesia banyak yg ragu menggunakan food processor tsb, sebab mereka tidak terbiasa membaca manual dan memecahkan masalah sendiri (independently); sementara pengguna Belanda sangat percaya diri dalam mengoperasikan produk tsb. Namun, dari hasil kuesioner, diketahui bahwa pengguna Indonesia lebih suka memiliki produk yang canggih, terlihat profesional dan rumit/ kompleks.
Nah, hal ini bertentangan, kan? Kalau disodori produk sederhana saja sudah bingung (karena nggak ngerti baca manual), gimana kalau diberi produk yg benar2 canggih dan rumit? Ternyata motivasi memilih produk canggih ini adalah "to impress people" atau hanya untuk pamer; hanya karena "appearance" dan bukan karena "performance" produk. Kalau menuruti pengguna yg seperti ini, bisa2 Indonesia dibanjiri produk2 dengan tombol2 palsu dan penuh dekorasi yg tidak fungsional dan hanya tempelan semata.
Apakah salah? Ya, kalau pada proses pembuatan dan akhir masa pakai benda2 tersebut hanya menambah sampah di muka bumi. Ya, kalau pengadaan produk tsb hanya utk memuaskan rasa gengsi orang2 materialistik.

Jadi solusinya apa? Pertama, mungkin, mengubah attitude bangsa kita yg suka pamer ini. Gaya hidup "sombong tapi kosong" ini, menurut saya, adalah sumber korupsi yg utama. Nggak mudah, tapi bukannya nggak mungkin. Hidup sederhana dan secukupnya, sambil tetap produktif dan maju dalam berpikir (jadi bukan berarti 'nrimo' atau cepat puas).
Kedua, kalaupun berencana mendesain produk yg cocok dengan selera masyarakat lokal yg dituju, hendaknya jangan berupa tempelan pada produk. Kreativitas memang ditantang di sini, di samping pengetahuan mendalam ttg kebutuhan dan gaya hidup masyarakat lokal yg dituju sebagai pengguna.



Sunday, January 23, 2005

Kata-kata Kartini





Sejak SD, buku Habis Gelap Terbitlah Terang selalu disebut2 guru2 di sekolah sebagai inspirasi emansipasi wanita di Indonesia, yg dipelopori R.A. Kartini. Tapi buku itu sendiri belum pernah saya pegang sama sekali, apalagi baca, hingga baru2 ini! Saya dapat buku ini sebagai hadiah ulang tahun dari Sybrand akhir Desember 2004 lalu, cetakan kedua (th 1949, lebih dari dua puluh tahun sejak cetakan pertama diterbitkan), masih dengan gaya bahasa dan ejaan masa itu. Bukunya sendiri agak fragile, sayang kalo dibawa2 utk baca di kereta, di cafe dll - makanya hanya sempet baca menjelang tidur, waktu malam. Duh, menyesal kenapa baru baca sekarang! Seharusnya sejak dulu-dulu, sebab isinya inspirasional sekali. Jarang2 ada buku yg bisa jadi makanan otak, sekaligus juga makanan hati nurani.

Buku ini merupakan kumpulan dari surat2 R.A. Kartini ke sahabat2nya. Semua surat tsb berbahasa Belanda, dan utk keperluan penerbitan buku ini, diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Armijn Pane. Seorang sastrawan unggul, yang dipercaya dapat menjaga ekspresi Kartini pada surat2nya, yang menggambarkan semangatnya, kesedihannya, dan pemikirannya yang menggebu-gebu.

Meskipun ditulis lebih dari seratus tahun yang lampau, beberapa pemikiran Kartini masih berlaku di masa kini. Antara lain saya kutip di bawah ini.
Mengenai agama; bahwa agama itu adalah alat di tangan manusia yg menjalankannya, dan yg sayangnya sering disalah-gunakan.
Hlm 47: "Agama harus mendjaga kita dari pada berbuat dosa, akan tetapi berapa banjaknja dosa diperbuat orang atas nama agama itu!"
Hlm 186: "Apa pedulinja, agama mana jang dipeluk orang dan bangsa mana dia, djiwa jang mulia tetap djuga djiwa jang mulia, dan orang jang budiman tetap djuga orang jang budiman. Hamba Allah ada ditiap-tiap agama, ditengah-tengah tiap-tiap bangsa".
Hlm 165: "[...] karena banjak kami lihat orang memakai topeng agama berkelakuan jang tidak menaruh kasihan. Lambat-laun barulah kami tahu, bukanlah agama itu jang tiada menaruh kasihan, melainkan manusia djugalah jang memperburuk segala sesuatu jang semulanja bagus sutji itu".

Mengenai budaya buruk orang Jawa: gengsi dan suka pamer. Masih banyak memang sekarang, orang2 yang merasa 'priyayi' tapi kelakuannya sama sekali nggak cocok, orang2 yg sombong tapi kosong; hanya ingin dipuja bagai 'ndoro' tanpa dirinya sendiri melakukan hal2 yg pantas membuatnya dianggap lebih bangsawan dari orang lain.
Hlm 54: "Salah satu sipat orang Djawa itiu jang tiada baik, jang harus dibasmi, ialah sipat gila ketjongkakan; hal itu akan banjak membantu memakmurkan pulau Djawa. Sipat jang tiada baik itu hanja dengan mendidik budi boleh dilenjapkan."

Mengenai peran ibu; bahwa seorang ibu menanggung tugas berat dalam mendidik anak2nya, terutama memberi budi pekerti sejak anak2 berusia sangat muda. Hal ini berarti bahwa si ibu harus cukup dibekali pengetahuan supaya dapat membimbing anak2nya, para pelaku dan penentu masa depan, dengan cakap.
Hlm 84: "Dari perempuanlah pertama-tamanja manusia itu menerima didikannya - diharibaannjalah anak itu beladjar merasa dan berpikir, berkata-kata; dan makin lama makin tahulah saja, bahwa didikan jang mula-mula itu bukan tidak besar pengaruhnja bagi kehidupan manusia dikemudian harinja. Dan betapakah ibu Bumiputera itu sanggup mendidik anaknja, bila mereka itu sendiri tiada berpendidikan?"
Hlm 155: "Ibulah jang djadi pusat kehidupan rumah tangga, dan kepada ibu itulah dipertanggungkan kewadjiban pendidikan anak-anak jang berat itu: jaitu bagian pendidikan jang membentuk budinja. Berilah anak-anak gadis itu pendidikan jang sempurna, djagalah supaja ia tjakap kelak memikul kewadjibannya jang berat itu".

Mengenai peran ibu; bahwa seorang wanita dapatlah juga menjadi 'ibu' bagi orang lain (selain anak2 kandungnya) selama ia dapat mencurahkan perhatian dan mendidik dengan segenap kemampuannya dengan ikhlas dan penuh kasih.
Hlm 152-153: "Tetapi, mestikah perempuan itu beranak dahulu, maka boleh mendjadi "ibu", menurut arti perkataan itu jang seharusnja, jakni machluk jang semata-mata berhati kasih dan tahu berkurban? [...] Seorang perempuan jang mengurbankan diri untuk orang lain, dengan segala rasa tjinta jang ada dalam hatinja, dengan segala asjik jang ada padanja, perempuan itu "ibu"-lah dalam hati sanubarinja.
Bagi kami lebih tinggi ibu jang djadi ibu karena hati sanubarinja itu darip ada ibu jang telah djadi ibu karena badannja.
Harapan dan doa kami dengan sangat, bila dikemudian hari boleh kiranja tjita-tjita kami berwujud, kami mengadjar didalam sekolah, anak-anak kami djanganlah sadja menjebut kami "ibu" dimulut sadja, melainkan djuga "ibu" dimulut dan dihati".

Mengenai peran istri; bahwa laki2 akan berbahagia bila pendampingnya adalah perempuan yg setara tingkat intelegensinya, sehingga dapat pula menjadi teman sejati.
Hlm 154: "Alangkah berbahagianja laki-laki, bila perempuannja bukan sadja mendjadi pengurus rumah tangganja, ibu anak-anaknja sadja, melainkan djuga djadi sahabatnja, jang menaruh minat akan pekerdjaannja, turut merasakan pekerdjaannja itu. Hal jang sedemikian itu tentulah berharga benar bagi kaum laki-laki, jaitu bila dia bukan orang jang pitjik pemandangannja dan angkuh".

Mengenai metoda pendidikan yg 'baru'; bahwa mendidik (perempuan) bangsa Indonesia dengan 'cara Belanda' bukanlah berarti bertujuan 'membelandakan' anak2 bangsa; bukanlah berarti hendak mengubah anak2 bangsa menjadi orang2 asing. Namun hendak membuka wawasan dan menambahkan pengetahuan kepada anak2 bangsa yg hendaknya dapat menyeimbangkannya dengan norma2 bangsa Indonesia.
Hlm 100: "Dengan pendidikan jang bebas itu, bukanlah sekali-kali maksud kami akan mendjadikan orang Djawa itu orang Djawa Belanda, melainkan tjita-tjita kami ialah memberikan kepada mereka djua, sipat-sipat jang bagus, jang ada pada bangsa-bangsa lain, akan djadi penambah sipat-sipat jang sudah ada padanja, bukanlah akan menghilangkan sipat-sipatnja sendiri itu, melainkan akan memperbaiki dan memperbagusnja!"
Hlm 123-124: "Kami sekali-kali tiada hendak mendjadikan murid-murid kami djadi setengah orang Eropah, atau orang Djawa kebelanda-belandaan. Maksud kami dengan mendidik bebas, ialah terutama sekali akan mendjadikan orang Djawa itu, orang Djawa jang sedjati, orang Djawa jang berdjiwa karena tjinta dan gembira akan tanah air dan bangsanja, jang senang dan gembira melihat kebagusan, bangsa dan tanah airnja, dan .... kesukarannja!"


Buku ini sudah beredar luas, dicetak oleh Gramedia (seharga Rp. 22.000,- per buku). Sangat patut dibaca oleh kaum muda, supaya tidak sekedar berbaju daerah setiap tgl 21 April, namun juga untuk lebih mengenal citra dan semangat Kartini.
Ada review mengenai buku ini di: KOMPAS