Tuesday, July 10, 2007

[KONDE!] Get A Taste of Tita!

A Taste of Tita was produced to participate in KONDE! (One Decade of Indonesian Comics) Festival, which was held from June 22nd to July 1st, 2007 at Pasar Seni Ancol, Jakarta. Those who didn't have the chance to go to that event, but would like to have a copy, need to seek no further! You can get it right from the source :) 

There are also some buttons with two designs: Tita and Mosquito.

WHAT?

BOOK
  • Soft cover, plain black (front and back) to resemble the look of my original sketchbook diary
  • B5 format (wider than A5, smaller than A4)
  • 52 pages full of black/white drawings, plus one cover page
  • More than 20 stories
BUTTON
  • Round plastic, about 4 cm diameter
  • White background, matt surface
  • Each comes with a safety pin at the back! (*duhh..)

HOW?
  1. Please send me a Private Message with your details: name, email address and postal address. And what you'd like to have and how many.
  2. I will send you details for payment, etc.
  3. Let me know as well if and how you'd like your copy personalized by me (some words, drawing, signature)
  4. The order is based on first come first served. If I run out of this batch, you'll have to wait a while until I reproduce some more - or make new ones :)
I'll send your order as soon as I have your postal address, so please PM me your details either here via Multiply or to this address: titalarasati@gmail.com


HOW MUCH?
  • One book is IDR 20.000 and one button IDR 5000
  • For those living outside Indonesia, the postal fee might exceed the price of one book (if I'm not mistaken, it's about IDR 27.000 to EU countries - but I'll confirm as soon as I know the cost). Sending abroad can take 2 weeks by regular mail.
  • If you're in Bandung or around, you're welcome to pick up the book or button yourself. We can make an appointment; I'm usually roaming around Dago area. OR you can try to find them at TOBUCIL, starting next week.

Monday, July 9, 2007

[Case: Closed] Pengadilan Negeri yang Aneh..

Singkat kabar: urusan saya dengan Pengadilan Negeri Bandung selesai!

Urut2an kejadian:

10.00    Saya tiba di kantor PN, langsung ke ruang Panitera Pengganti. Melihat bangku Pak B yg kosong, saya tanya ke rekannya yg duduk dekat pintu, "Pak B sudah datang?". "Oh sudah", jawabnya, "Sedang makan". Rupanya normal bagi mereka untuk makan tengah pagi, meninggalkan ruangan, di jam kantor. Saya tunggu di luar ruangan, berdiri di balkon di mana saya bisa melihat orang yang naik tangga menuju kantor Panitera Pengganti.

10.45   Saya lihat Pak B menaiki tangga bersama seorang rekannya, sambil merokok. Saya diamkan sampai ia masuk kantor dan duduk di mejanya. Setelah berhadapan, saya sapa, "Selamat pagi, Pak, ada kabar?". Pak B mengeluarkan map kasus saya dan memberitahu bahwa berkas sudah ditanda-tangani hakim. "Sekarang kita berikan ke bagian Perdata, biar mereka yang mengurus selanjutnya". Saya ikuti ke bawah, masuk ke ruang Perdata.

11.00   Bu R di ruang Perdata, yg harus menanda-tangani salinan berkas tsb, segera memeriksa kelengapan isi map. Ternyata ada yang kurang, jadi Pak B harus keluar lagi utk meminta tanda-tangan seseorang (entah siapa). Saya disuruh duduk menunggu di luar ruang Perdata.
Pak B kembali sekian menit kemudian, lalu menyerahkan berkas ke Bu R. Ketika ia beranjak pergi, saya bilang, "Terima kasih", tapi ditengok pun tidak. Perilakunya sejak ketemu dengan saya cukup judes.. pasti dia sebel karena nggak saya kasih 'tips' (mau tips kok judes.. heheh)

Berkas2 harus dikopi, menitip pada anak2 SMA yg sedang magang di situ. Saya hanya punya sedikit receh (kembalian angkot), jadi hanya mengopi 1x. Bu R lalu minta selembar meterai, dan untungnya saya selalu menyimpan beberapa lembar di dompet. Setelah itu, saya menunggu di ruang tunggu kantor Perdata tanpa mengerti kapan urusan ini akan selesai.

Lewat pk. 12.00   Bu R menuju ruang tunggu dan memberi saya berkas2 tsb. "Biayanya 20 ribu", ujarnya. "Saya bayarkan ke kasir?" tanya saya sambil menunjuk ke meja kasir di sebelahnya. "Nggak, ke saya aja". "Maaf, saya nggak punya pecahan kecil Bu, adanya ini. Ada kembalian?", sambil menunjukkan selembar 100 ribu Rupiah. Nggak ada, katanya. Jadi saya harus keluar sebentar, beli sesuatu, supaya dapat kembalian pecahan yg lebih kecil.
Di depan kantor PN itu banyak tukang jualan (minuman, gorengan, dll), tapi saya nggak yakin mereka bisa mengembalikan 100rb Rp. Jadi saya ke toko BaBe (Barang Bekas) di seberang kantor PN. Beli LEGO palsu (LIGIO? pokoknya buatan Cina), terus balik ke PN dengan bekal kembalian, lembaran2 senilai 20rb.

Masuk kantor Perdata, saya masih harus menunggu Bu R yg sedang melayani orang lain. Baru saya bisa membayarkan 20rb tsb dan membawa pulang SK! Ketika naik angkot, jam sudah menunjukkan hampir pk. 13.00. SELESAI! Saya nggak harus bolak-balik PN lagi untuk hal2 yg nggak jelas!

Selingan:

Waktu saya sedang menunggu Bu R di ruang Perdata, ada seorang ibu2 datang untuk memohon pengesahan surat nikah anaknya dan akte lahir cucu2nya yg dilahirkan di Swiss (dari ibu WNI, ayah WN Swiss). Tanpa harus menguping, karena semua jelas terdengar dari ruang tunggu, saya tahu bahwa si ibu ini langsung digiring ke meja Bu Mm. Lalu, lagu lama terulang lagi!
Saya dengar Bu Mm lagi2 menasehati agar cucu2 ibu itu tetap WNA saja, kenapa ibunya nggak jadi WN sana aja, apa benar si ayah mau menimang mereka bila ada apa2, dsb. Si ibu itu disuruh pulang utk pikir2 dulu. Sounds familiar, doesn't it.
Setelah meninggalkan meja Bu Mm, si ibu yang lewat dekat saya itu saya sapa. Lalu saya ceritakan saja pengalaman saya sewaktu mengurus pengesahan surat2 saya sejak awal di PN. Ibu itu juga bertanya, berapa lama hingga SK keluar dan sudah berapa biaya yg saya keluarkan. Saya bilang, saya hanya mau bayar kalau ada kuitansi yg jelas, dan ibu itu juga setuju. Dari nadanya kelihatan sekali bahwa si ibu skeptis akan 'kebersihan' para staf di PN ini :P Setelah mengobrol dengan suara lirih, ibu itu pamit pergi. Saya agak senang bisa menceritakan keanehan di kantor PN ini, semoga si ibu itu juga doesn't give in easily dalam membereskan urusan di sini.

Selama menunggu Bu R, seperti biasa saya menggambar di buku harian bersampul keras warna hitam itu. Bu Bb, yg bertugas sebagai kasir (ini si cashier lady yg memberi saya seribu rupiah dan yg pernah bilang ke Pak A bahwa biaya pengadilan masih cukup), beberapa kali melewati dan melihat gambar2 saya. Lalu menyapa, "Nggambar apa aja nih? Dari tadi asyik aja!". Sambil sedikit memperlihatkan halaman2 sebelumnya, saya bilang, "Bukan apa2 Bu, cuma kejadian sehari2 aja". Lalu dia bilang, "Waah.. nanti pengalaman nunggu lama di sini digambar juga?!". Sambil senyum saya jawab, "Nggak di buku yang ini". Bu Bb beranjak pergi sambil ketawa dan menepuk pundak saya, "Jangan dong!" katanya. Hahaha..

Itung2an:

Saya nggak ngerti gimana caranya PN menghitung2 biaya pengadilan. Yang sudah saya bayarkan adalah berikut ini (dalam Rupiah):
  • Biaya sidang akta perkawinan: 265.000 (diserahkan ke kasir, pada kuitansi tertulis 259.000)
  • 'Biaya administrasi' pembuatan SK: 50.000 (diserahkan ke Pak A, tanpa kuitansi)
  • 'Biaya map' untuk berkas salinan: 20.000 (diserahkan ke Bu R, tanpa kuitansi)
Padahal di berkas2 saya dari PN, tertera biaya2 sbb:
  • Relaas Panggilan Sidang: biaya panggilan dan ongkos perjalanan: 25.000 (surat relaas tidak diantar, saya ambil sendiri ke kantor PN)
  • Turunan/Salinan Pemutusan Perkara Perdata: materai + leges: 7.750 (meterai saya sediakan sendiri)
  • Perincian biaya Nomor: 74/Pdt/P/2007/PN.Bdg: biaya administrasi (50rb) + biaya panggilan (50rb) + biaya redaksi (3rb) + biaya materai (6 rb): 109.000
Apakah 25.000 + 7.750 + 109.000 itu termasuk dalam 265.000 yg telah saya bayarkan? Entah lah, tetap saja nggak jelas.. hehe..

Buka2an:

Pak A = Abas Basari, no. HP +62 813 219 77 646
Hakim = Hj. D.S. Dewi, S.H., M.H.
Pak B = Bambang, Panitera Pengganti
Pak J = Jejen, Bagian Arsip
Bu R = Hj. Rina Pertiwi, S.H.

Tahap selanjutnya:

Membawa SK ke kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil untuk mendaftarkan akte pernikahan kami dan akte lahir anak2. Kembali berurusan dengan markas Pak Rofiq yang takut dimintai kuitansi itu. Wish me luck for the next moves! :)

Saturday, July 7, 2007

I'm not as 80s as I thought..

Haha nunjukin umur banget nggak sih.. :P

Who's Your 80s Hunk?

Your 80s Hunk Is
Kirk Cameron

Euh.. iya dulu gue emang suka Kirk Cameron pas dia masih di Growing Pains, tapi dia sebenernya masih kalah ama John Taylor-nya Duran Duran (dari segi jumlah poster dan foto2nya di sekujur kamar dan dalam dompet).


What's Your 80s Theme Song?

Your 80s Theme Song Is:
99 Luftballons by Nena

Nah yg ini ngasal abis. Jawaban random keluar beda2 dari kolom isian yang cuma satu. Bokis! :D

How Much Do You Know About 80s Music?

You Scored 35% Correct

You know some 80s stuff
Like that Paula Abdul was a star back then
But you're not sure who Suzie Q was
And you don't know what Samantha Fox was really famous for!

Aw.. I sucked big time at this qiuz :P


Are You a Child of an 80s?

You Are 60% A Child of the 80s
Back in the day, you were totally 80s.
Tubular, totally tubular.

Ohh.. gitu ya..


How's Your Taste in Music?

Your Taste in Music:
80's Alternative: High Influence
80's Pop: High Influence
80's R&B: High Influence
90's Alternative: High Influence
90's Pop: High Influence

Hehehe.. iya dehh..

Fragile Things

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Science Fiction & Fantasy
Author:Neil Gaiman
Ini kumpulan cerita pendek yang kedua dari Neil Gaiman setelah Smoke & Mirrors. Sebelum ini ada perasaan antara harap-harap cemas dan penasaran akan suka/tidaknya saya terhadap buku ini, karena mau nggak mau pasti saya bandingkan dengan Smoke & Mirrors yang sungguh sangat saya sukai. Pertama kali saya baca punya Tiyas (pinjem! hehe), belum terlalu impressed. Mungkin juga karena buku yg punya Tiyas itu formatnya yg besar dan nggak mudah dibawa (dan dibaca) ke mana2. Dan waktu itu juga belum ada waktu luang untuk membaca dan mendalami semua ceritanya karena masih konsentrasi ke yang lain.

Hingga suatu hari, saya menemukan buku ini (atas petunjuk Ayu) di Aksara Kemang, Jakarta, dalam keadaan korting dan dalam format paperback yg familiar dengan saya. Tentu saja langsung saya beli. Seperti biasanya kisah2 Neil yg lain, tidak cukup membaca suatu cerita sekali saja. Makin diulang, makin terasa asiknya mengunyah kata per kata dan menelan maknanya. Kesimpulannya, setelah berulang kali membaca, Fragile Things ini kumpulan cerita yang nggak kalah menarik dari Smoke & Mirrors. Temanya meloncat2 dari satu ke yang lain, namun semuanya tetap pada satu garis fantasi, thriller, bahkan suspense, yang sering berbumbu humor. Berikut ini beberapa judul favorit saya dari buku tsb:

October in the Chair
Para dua belas bulan duduk bersama, melingkar mengitari api unggun. Oktober yang sedang mendapat giliran duduk di Kursi memimpin acara kumpul2 ini, di mana masing2 bulan boleh saling bercerita. Cerita terpanjang adalah dari Oktober sendiri, tentang seorang anak laki2 yg minggat dari rumah dan, ketika tiba di suatu tempat, bermain semalaman dengan arwah seorang anak laki2 dari abad lalu.
Loncatan tema yg tidak disangka2 dan akhir cerita yang tidak tertebak memang khas Neil. Jauh dari membosankan.

Forbidden Brides of the Faceless Slaves in the Secret House of the Night of Dead Desire
Tau kan tipikal kastil2 tua dan para penghuninya yg mengerikan, yang sering digambarkan di film2, baik kartun maupun horor di layar lebar? Dan bahwa dunia 'yang itu' berlawanan dengan keseharian kita yg 'normal' ini, pergi kerja, baca koran, sarapan roti bakar dan kopi? Nah, di cerita yg ini semua itu dibalik. Cara Neil menuliskannya cerdas sekali!

The Flints of Memory Lane
Yang ini bisa jadi pengalaman Neil sendiri di masa remaja, ketika pertama kalinya bertemu makhluk dari dunia fana. Ceritanya sangat pendek, sederhana, namun pilihan kata2nya sempat membuat saya merinding saking membayangkan kejadian itu.

Other People
Siapa yang mengira bahwa 'neraka' itu dapat digambarkan seperti ini.

Instructions
Jika suatu hari kita memasuki negeri dongeng untuk menjalankan suatu misi, Instruksi ini pasti sangat penting untuk dibawa serta sebagai 'buku pemandu'.

How to Talk to Girls at Parties
Judulnya seperti buku2 kacangan ya. Tapi isinya tidak disangka-sangka. Cerita pendek ini telah memenangkan banyak penghargaan, dan bisa diakses di http://www.neilgaiman.com/exclusive/shortstories/partiesstory/

Sunbird
Ini tentang sekumpulan petualang kuliner, yang dalam sejarahnya sudah pernah mengicipi rasa semua makhluk yang bisa dimakan di muka bumi ini. Mereka bosan, karena sepertinya tidak ada lagi yang bisa diburu untuk dapat disantap. "Sepertinya"? Ya, karena ada satu makhluk yang belum pernah mereka makan sebelumnya: sunbird. Burung matahari, sang phoenix sendiri. Kisah ini menggambarkan perjalanan mereka memburu sunbird, memasak lalu memakannya, dan konsekuensi atas perbuatan mereka ini.

The Monarch of the Glen
Barangsiapa yang pernah membaca American Gods, pasti sudah kenal dengan tokoh utama di cerita ini, Shadow. Bab ini mengisahkan petualangan Shadow di daratan Skotlandia, di mana dia ditawari untuk menjadi petugas keamanan pada sebuah pesta mewah di sebuah kastil terpencil - namun berakhir menjadi petarung atas nama umat manusia dalam perjanjian manusia dengan makhluk lain.

Cerita di atas hanyalah sebagian kecil dari rentetan judul pada buku ini. Bagi yang dapat terhibur dengan genre semacam ini, sangat saya rekomendasikan kumpulan cerpen ini. 4,5 bintang untuk Fragile Things!

Fragile Things
Neil Gaiman (2007)
ISBN 13: 9780755334148
ISBN 10: 0755334140
Publisher: Headline 5/4/2007

Friday, July 6, 2007

[KONDE!] Strip-Jam, Display 2




Photos taken by Tiyas during KONDE! at Pasar Seni Ancol on Sunday, June 24th, 2007. There's an earlier album (photos by Chica) at http://esduren.multiply.com/photos/album/78

An expression of gratitude from Esduren goes to Gidigidi from Tribe Studio and friends who prepared our kiosk with great spirits! Thanks for having me (my stuff) around and sorry for not being able to help and accompany you longer than I wanted.

Perhaps I'll put more links here, to relevant sites. And I'll fill in the captions later. You wait and see. First, links to photos from the same event:
http://gidigidi.multiply.com/photos/album/33
http://akademisamali.multiply.com/photos/album/15

Wednesday, July 4, 2007

"Jangan nggak enak gitu dong ngomongnya.. "

Kemaren (Selasa) mestinya saya ke PN lagi untuk meneruskan urusan minggu lalu yang menyebalkan itu. Tapi Senin dan Selasa, sejak pagi sampai sore, saya fully occupied di kampus karena diserahi tugas oleh Koordinator TA jadi ketua sidang Tugas Akhir anak2 Desain Produk di Ruang Sidang B. Jadi baru hari Rabu ini saya bisa ke PN, sekitar jam 9 pagi saya tiba di sana setelah sebelumnya ngurus perpanjangan paspor di Kantor Imigrasi.

Saya langsung naik ke kantor Panitera Pengganti, menjumpai Pak B dan menanyakan kabar berkas saya. Menurut Pak B berkas2 saya belum diberikan ke dia, masih di Pak J. Pak B juga mengabarkan bahwa Bu Hakim masih sakit, bahkan merencanakan untuk pergi berobat ke luar negeri dalam waktu dekat ini. Pembicaraan ini saya potong, karena lebih baik saya ambil dulu berkas2 di Pak J untuk dibawa ke Pak B.

Menelusuri koridor utama, belok kiri di depan Koperasi, sampai di Musholla, masuk ke ruangan di gedung seberangnya dan langsung naik tangga. Di bawah tangga ada empat bapak2 bersafari biru tua sedang ngobrol2, dan salah satunya memanggil saya. Ternyata Pak J, yang masih mengenali saya. Sambil jalan ke ruang arsip di atas, Pak J juga bilang bahwa Bu Hakim masih sakit.
T: Urusan saya gimana dong?
J: Ya kita nggak bisa berbuat apa2 Bu, namanya juga orang sakit. Nah ini dia berkasnya. Ayo kita bawa saja ke Pak B.
(sambil berjalan kembali ke ruang Pak B, kantor Panitera Pengganti)
T: Ini urusan sudah terlalu lama, mana katanya Hakimnya akan berobat ke luar negeri. Ya silakan saja, itu urusan beliau, tapi setidaknya kan tanggung jawabnya yang ini diselesaikan dulu.
J (mendadak suaranya meninggi): Jangan nggak enak gitu dong ngomongnya, Bu. Masa enak aja ngomong tanggung jawab - tanggung jawab gitu!
T: Lho kok marah. Ini kan kondisi sebenarnya, Pak.
J: Saya nggak ada kaitannya dengan ini, nih bawa aja sendiri ke Pak B, daripada saya kena juga! (sambil berhenti di tengah jalan dan menyodorkan berkas2 ke saya)
T (mulai keras juga): Eh nggak bisa gitu dong, tugas siapa ini. Kalo emang nggak salah, nggak usah takut dong Pak. Ayo bawa ke Pak B!
(saling berdiam sampai tiba di depan Pak B)
J: B, ini berkasnya. Sudah ya, saya serahkan ke Anda.
T (ke Pak J yg berbalik pergi): Terima kasih ya Pak..
T (ke Pak B lagi): Sekarang gimana ini Pak? Apa tanda-tangannya nggak bisa diwakilkan hakim lain?
B: Ya nggak bisa Bu, yang ngetok palu kan Hakim D ini. Lagipula beliau juga harus periksa lagi isinya, kalau benar dan disetujui, baru beliau bisa tanda-tangan.
T (sambil membolak-balik berkas SK yg ternyata tebalnya sekitar 20 halaman): Terus ini ada kolom utk Pak A juga, berarti dia juga harus dikejar untuk menanda-tangani?
B: Pak A mah gampang Bu, yang penting Hakimnya dulu tanda-tangan. Ini Bu, perlu meterai (sambil menunjuk ke kolom tanda-tangan hakim)
T: Perlu meterai? Nih saya punya, saya tempel sekarang ya.. (ngambil meterai dari dompet, lalu tempel di kolom itu pakai air embun di tatakan cangkir teh Pak B). Apa lagi?
B: Yah saya coba kejar ke rumah Bu D, tapi nggak bisa hari ini sebab saya ada sidang penuh. Paling besok atau Jumat. Coba kembali lagi hari Senin ya Bu.
T: Ya sudah Pak, sampai Senin kalau begitu. Terima kasih (sambil beranjak pergi)

Skenario berikut? Kalau Senin itu SK-nya belum siap juga, kemungkinan besar alasannya "Bu D sudah keburu pergi berobat ke luar negeri". Saya bisa apa kalo gitu? Rencananya gini:
  1. Mau saya lihat lagi SK yg belum ditanda-tangani itu, catet nomernya. Catat nama2 orang2 yg terlibat berikut NIP masing2. Tulis selengkap2nya utk dicerita2kan ke mana2.
  2. Usul supaya PN bikin sistem yang tepat untuk mengatasi hal2 semacam ini. Masa semua urusan bergantung pada 1-2 orang yang tiba2 bisa lenyap?! Ini baru kasus 'ringan' lho, gimana kalo yang nyangkut nyawa orang?
  3. Mulai pikir2 tawaran Chica..
  4. Apa lagi ya.. (yg terpikir sekarang ini hanya tindak2 kekerasan terhadap mereka.. hayang gelut :P)
Yah begitulah, saudara-saudara, sekelumit potret dunia hukum dan pengadilan di negri kita (haha menggeneralisir.. ah biarin!).

Foto: dari albumnya Tiyas, saat orang tua saya dipanggil sebagai saksi dan sedang disumpah oleh Bu Hakim D (kiri) saat sidang di awal bulan Mei. Di belakang terlihat Pak A.

Sunday, July 1, 2007

Dhanu, a 'Santri'

This morning we waved goodbye at Dhanu, who sat in a bus with tens of other kids, departing to Ciwidey. Today is the day these kids started a program called Salam (Pesantren Alam), this year the 6th since its first one in 1996. Perhaps Dhanu's participation in Salam 6 raises questions such as, "Why a pesantren? What will Dhanu do there?"

First, practical answers:
  1. It's a three-weeks holiday and Dhanu needs an activity to fill his days
  2. Salam is held by EcoEthno, an organization led and mobilized by a trusted friend of mine, Ihsan
  3. Dhanu is allowed to join even though he's not a Moslem
  4. I and Syb looked through the program schedule and agree that it is good for Dhanu to join (more about this, below)
  5. When explained and asked about Salam, Dhanu said he's willing to join this program

Then, answers with slightly-deeper thoughts:
  1. Although called pesantren, this one is unlike the usual ones that make the kids sitting neat and chanting prayers the whole day and night, learning religion and disciplines in closed doors. Salam is a practice of religion in real life, emphasizing closeness and respect to nature and (consequently) gratefulness to The Maker. Moreover, Salam also offers outbound activities, which is a way for a person (even a young child) to discover him/herself. To know their own limits and abilities. We've observed that - especially in physical activities - Dhanu is very cautious of everything he's about to do. However, appearing somewhat reluctant, he doesn't give up until he achieves his aims. He has his own way of calculating his moves - although seemingly slow and even frightened. So we think this trip is a good training for his confidence. 
  2. The fact that he's not a Moslem doesn't seem to be a problem for the organizer, and I'm glad to know that. Here's our view. Dhanu is now living in a country with the highest number of Muslims in the world. He might as well be familiar with their customs and learn to live among them pleasantly. I think this is no difference from me going along with neighborhood girls of my age to a Qur'an class when I was a little girl, or from when my Moslem cousin joined a Vacation Bible School at another cousin's church during a school holiday. There's no harm in learning to know each other, isn't there.
  
Here's an overview of Salam's program from 1 to 5 July 2007:
In the first three nights the kids will stay in local people's houses and living according to these people's rhythms and activities (farming, minding livestocks, etc.). They will mingle and play with local children; eat what they eat and sleep where they sleep. In the fourth (and last) night, they will stay in tents, learn to make fire and cook outdoors. They will do 'outbound' games in the forest, make bamboo rafts and sail a lake.
In the last day, the 5th, parents are allowed to pick up their kids at the location. We'll see if I can get a ride to Ciwidey that morning and fetch Dhanu over there. That day, parents are allowed to 'taste' some outdoor games as well. I'm looking forward to doing it!

Dhanu has been looking forward to this event. The way he talked about it, he seems to have a scenario in his head already of what 'camping' is. Only after seeing some photos from previous Salam that he knew that this is not the one with marshmallows-on-fireplace variation. But he's still eager to go and kept singing, "Camping, camping, lalalalalaa!". He asked me to pack also a notebook and a pencil so he can draw what he sees that day ("Perhaps an owl!", he said).

So, this morning he was sitting in the bus, paying attention to his surroundings. He's the youngest of the pack, and whose Indonesian language skill is the lowest. I hope he doesn't feel outcasted when he doesn't understand his peers. When the bus left, he waved at us with a straight face. Lindri, on the other hand, screamed and cried while stretching her arm to the direction of the departing bus: she didn't like Dhanu leaving her behind. She expressed loudly what I felt deep inside. Separation anxiety happens to adults as well and we just have to face it, one way or another. 
Gladly Lindri could be calmed down a few minutes later, when we were about to catch an angkot. This is Dhanu's first night in Ciwidey and I'm curious about how he's doing. May he fare well and return healthy and happy!

Photos coming up (from previous Salam, courtesy of EcoEthno)