Wednesday, June 7, 2006

Stripdagen Haarlem 2006


Before going to where the events are, we dropped by Pak Khing's house. It turned out that we took a too-long detour; Dhanu was exhausted but he didn't complain.
I returned Pak Khing's books (Arman & Ilva) and old photos, which he showed rightaway to Patty Klein, who was there as well.

Stripdagen Haarlem, a bi-annual comics event in Haarlem, this year from 3 to 4 June 2006. Here's a visual report (sketches and photos); verbal report will be uploaded as soon as it is ready.

[KomOn News] Siapa Mau Bergabung di Tim Komik Berantai?


Bertie telah bersedia menjadi koordinator tim Komik Berantai baru. Bagi yang berminat utk bergabung, silakan langsung menghubungi Bertie melalui Multiply-nya atau e-mail nonacyan@gmail.com, supaya Bertie bisa menyusun nama2, giliran masing2, dan koordinasi selanjutnya.
Setiap panel terbaru nantinya akan di-upload di Multiply Komik ini.

Ditunggu tanggapannya

Info praktis:
1. Komik Berantai adalah di mana seorang membuat satu panel, dilanjutkan oleh orang lain. Seterusnya sesuai urutan, hingga tiba gilirannya lagi.
2. Plot cerita: pada awal2 akan dibebaskan (tidak ada skenario khusus). Tapi di suatu titik proses nanti, kemungkinan besar harus ada garis besar cerita yg disepakati bersama, supaya cerita lebih terfokus.
3. Sesuai etika universal, hendaknya gambar tidak mengandung unsur SARA dan pornografi.
4. Panel yang sudah diselesaikan, tolong di-scan dengan resolusi 72 dpi, berukuran maksimal 600 x 700 pixels. Kirim ke nonacyan@gmail.com
5. Masing2 orang mendapat waktu 1 minggu utk menyelesaikan panelnya. Lewat dari itu, harap memberitahukan koordinator (Bertie), supaya gilirannya bisa digantikan orang berikutnya. Urut2an bisa fleksibel: bila si A belum sempat, B bisa mengambil gilirannya, lalu kembali ke A sebelum dilanjutkan ke C.
6. Yang penting: enjoy!


ps. Contoh Chain Comix yg tak kunjung terselesaikan: http://komik.multiply.com/photos/album/7




Tuesday, June 6, 2006

Storm di Haarlem



Modified from a post in Komik Alternatif mailing list, Msg. #2529

Hari Sabtu yang lalu, 3 Juni 2006, adalah termasuk hari yg paling ditunggu2 publik komik se-Belanda: mulainya Stripdagen Haarlem. Di sini saya hanya akan cerita saat berjumpa dengan Romano Molenaar, komikus yang dipercaya sebagai penerus seri Storm. Salah satu venue Stripdagen, Philharmonie, memuat beberapa spot kios, di mana salah satunya adalah ruang utk Franka, Agen 327, Hein de Kort, dan Storm. Henk Kuijpers (pencipta Franka), Martin Lodewijk (pencipta Agen 327, penulis Storm), Hein de Kort, dan para penerus Storm pun turut hadir dan menyediakan waktu utk sesi tanda-tangan dan sketsa utk para penggemar.



Sekitar jam satu siang, saya menghampiri pojokan Storm, di mana dijual wine berlabel Storm (botol ukuran 500 ml berharga 4,75 Euro), original prints Agen 327, edisi khusus Storm dan Trigan, buku memoriam Don Lawrence, dan limited prints (berjumlah 150, numbered & signed) karya Romano & Jorg. Di salah satu pojok meja, Romano dan Jorg terlihat sibuk melayani permintaan sketsa dari pengunjung. Saya ikut mengantri, tapi pas sebelum giliran saya, waktunya bagi Romano dan Jorg utk istirahat makan siang. Mereka akan kembali pk. 15:00 - and so would I!


Photobucket - Video and Image Hosting
Sepotong dari limited art-prints karya Romano dan Jorg

15:00 - sambil menunggu Romano dan Jorg, saya membeli limited prints yg dijual, plus bonus sticker, seharga 35 Euro (btw, pembelian prints ini adalah syarat utk bisa dapat sketsa asli Romano dan Jorg. Sebelumnya saya sudah beli sebotol red wine berlabel Storm). Tiba giliran saya utk minta gambar.. sayangnya saya hanya diperbolehkan memilih salah satu tokoh. Hmm.. Storm atau Rambut Merah? Akhirnya saya pilih Rambut Merah. Sambil Romano menggambar, saya ajak ngobrol. Pertama kali tentu saya beri selamat atas comission yg ia peroleh.

Ketika saya bilang saya tau (karya2) Anto dari sebuah komunitas komik di Indonesia, Romano langsung menyatakan kekagumannya atas karya2 Anto. Saya bilang (berdasarkan 'sampel Storm' Anto yg ikut diterbitkan dalam The Chronicles of 30 years Storm), garis2 Anto sangat halus (delicate), sehingga Rambut Merah tampak terlalu terawat (groomed) seperti 'gadis kota', sementara kulit wajah dan lengan Storm, meskipun berotot, tampak mulus. Padahal kualitas kekasaran garis dan rough/wild looks merupakan kekhasan tokoh2 dalam Storm. Mungkin ini yg menyebabkan Anto belum berhasil memperoleh tugas meneruskan Storm.

Photobucket - Video and Image Hosting


Romano baru dipertemukan dengan Jorg (yg bertugas sbg colorist) dalam proyek Storm ini, namun terlihat keduanya sudah cukup fasih berkomunikasi mengenai dan melalui karya masing2. Saya dengar Anto juga dapat bagian sebagai colorist, utk komik2 lain? Lumayan membanggakan, ada komikus Indonesia bisa masuk tim Don Lawrence ini :)



Kemudian saya tanya Romano, kapan album Storm yg baru akan terbit. Romano bilang, diharapkan pertengahan 2007. Kini ia sudah mulai dengan sketsa2 awalnya. Pembuat ceritanya masih Martin Lodewijk, yg juga membuat cerita2 utk Don Lawrence dulu. Tapi lalu Romano juga menyatakan kecemasannya akan penerimaan penggemar Storm atas album barunya nanti. Sebab orang pasti akan selalu membandingkan dengan karya2 pendahulunya, Don Lawrence. Memang, menurut saya, karya Don Lawrence tak akan tergantikan. Tapi kita lihat saja karya duet Romano - Jorg nanti, yg kalau dilihat dari sampel yg sudah ada, sepertinya cukup menjanjikan.


Photobucket - Video and Image Hosting
Romano saat membuat sketsa di sebuah acara komik di Rijswijk, April 2006


Sketsa Rambut Merah saya selesai; kertas berpindah ke Jorg yg langsung memainkan kuas kecilnya di atas wajah Rambut Merah. Ia sudah menggambar sejak umur 14-15 tahun, dan sudah sejak itu pula ia selalu mempelajari gaya Don Lawrence. Saya melirik ke orang yg dapat giliran berikut, yg ngotot pengen gambar dua2nya, Storm dan Rambut Merah. Setelah menawar2, akhirnya Romano bersedia menggambar dua2nya, sedang berciuman. Aaargh keren sekali, saya nyesel nggak ngotot spt orang itu! Gambar Storm-Rambut Merah berciuman itu akhirnya cuma bisa saya potret

Betah rasanya memandangi gerakan tangan2 mereka di atas kertas. Tapi saya - dengan enggan - terpaksa meninggalkan pojokan Storm tersebut. Setelah cat air pada Rambut Merah mengering, saya selipkan sketsa tsb di antara sebuah buku. Lalu saya ucapkan terima kasih dan selamat bekerja pada keduanya.

Cerita selengkapnya ttg Stripdagen Haarlem, berikut foto2 dan gambar2, akan menyusul.




ps.
- Ttg Stripdagen Haarlem (berbahasa Belanda): http://www.stripdagenhaarlem.nl/

- Sedikit ttg The Chronicles of 30 years Storm: http://komik.multiply.com/journal/item/7

- Limited art print
bisa dilihat di situs Don Lawrence ini. Gambar2 lain pada situs itu (close up wajah2) adalah bonus sticker-nya.





Monday, June 5, 2006

The Fate of The Artist

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Comics & Graphic Novels
Author:Eddie Campbell
Sang seniman, bernama Eddie Campbell, tiba-tiba merasa muak pada karya-karyanya, dirinya sendiri, dan para penggemarnya. Sehingga pada suatu hari ia menghilang begitu saja. Seorang detektif yg bertugas menyelidiki hilangnya sang seniman memulai pencariannya di kediaman Campbell dengan mewawancarai istri dan anak perempuan Campbell yg tertua, Hayley. Demikianlah buku ini dimulai, berbentuk prosa yang dituturkan oleh si detektif; ditampilkan dalam teks yang diselingi ilustrasi kecil di sana-sini.

Photobucket - Video and Image Hosting

Narasi si detektif ini merupakan alur utama kisah dalam buku ini. Sebagai selingannya, terdapat kisah2 pendamping dan beberapa kilas balik, yang ditampilkan dalam berbagai bentuk: bentuk pertama adalah berupa panel2 gambar bersekuel (komik). Dalam panel2 komik ini, Eddie Campbell 'diperankan' oleh seorang aktor bernama Richard Siegrist. Bentuk kedua merupakan sebuah wawancara terpisah dengan Hayley (interviewer: unknown) ditampilkan dalam bentuk urut2an montage foto Hayley di sebuah café; ucapan2 Hayley berupa balon kata2 yg ditik rapih. Dalam wawancara ini Hayley menceritakan proses unik ayahnya dalam berkreasi dan berkehidupan sehari2. Bentuk ketiga adalah (seolah2) guntingan komikstrip pendek (2-3 panel) dari surat kabar: seri Honeybee yg menampilkan suka-duka sepasang suami-istri (kombinasi dumb husband/snarky wife), seri Angry Cook yg bertokoh utama Hayley (yg selalu gusar saat menyiapkan makanan/minuman), dan cuplikan2 komikstrip lepas lain - termasuk strip bertema metanarasi, misalkan saat Siegrist diberi pengarahan saat memerankan Campbell di depan kamera. Untuk meyakinkan bahwa benar2 dari guntingan surat kabar tua, strip2 pendek tsb disajikan di atas warna kertas yg kekuningan, disertai potongan artikel dan sebagian kotak2 TTS. Tidak hanya itu, strip ini pun berkembang dari bentuk pendek (2-3 panel, hitam putih) hingga menjadi "Sunday page" (satu halaman penuh, berwarna), dan sempat mengajak para pembaca koran bereaksi supaya komik dapat dipertahankan terbit. Di akhir buku, terdapat sebuah komik 'ekstra' berjudul The confessions of a humorist, dengan tokoh utama.. Eddie Campbell sendiri(!).

Photobucket - Video and Image Hosting
Photobucket - Video and Image Hosting

Sangat menyenangkan bahwa berbagai bentuk bercerita tersebut berhasil disusun menjadi cerita yang enak diikuti. Lebih dari itu, isi ceritanya sendiri sangat menarik. Bukan saja karena narasi fiktif Campbell tentang ke(tidak)beradaan dirinya, tapi juga karena pembaca diberi kesempatan melihat kebiasaan hidupnya sehari-hari, terutama yg berkenaan dengan proses berkarya dan keunikan sifatnya.
Beberapa hal yg menonjol antara lain adalah kebiasaan Campbell untuk menyebarkan kertas gambarnya di sekujur rumah. Ini sengaja dilakukannya utk memperoleh efek 'kejutan' setiap kali ia menjumpai gambarnya dari arah yg berbeda. Yang menjadi masalah adalah, seluruh anggota keluarganya (termasuk anjing dan kucing2 peliharaan) juga setiap saat 'terbentur' pada sebaran gambar2 tersebut. Sehingga nasib sketsa2 tsb bermacam2, hingga ada yg berakhir menjadi bahan lelang di eBay. Ada lagi sifat Campbell yg menonjol, yaitu kecerobohan sekaligus pemarahnya. Campbell mudah meninggalkan barang2 kecil (seperti kunci, dompet) dan mudah pula mengumpat karena geramnya akan hal tsb. Menurut Hayley, anak2 tetangga selalu menunggu2 saat Campbell pergi belanja ke supermarket, karena di jalan ia bisa tiba2 mengumpat, berlari ke rumah (utk mengambil barang yg tertinggal), lalu kembali ke jalan.. dan mengulangi kejadian yg sama, bisa hingga 3-4 kali.
Kejadian serupa diperankan juga oleh 'Richard Siegrist' (sebagai Eddie Campbell, dalam bentuk komik) saat meninggalkan paspornya di rumah, dan baru sadar ketika sudah tiba di bandara. Betapa perjalanan kembalinya ke rumah, mencoba masuk lewat jendela belakang, menyapa anjing dan kucing2nya dengan terburu2, bahkan sempat mengecek koleksi CD-nya, merupakan kekesalan tersendiri.. sehingga di halaman berikutnya terdapat sketsa (seperti gambar anak2): tangan besar yg keluar dari awan, melempar sebuah pesawat terbang sehingga jatuh ke laut.

Photobucket - Video and Image Hosting

Campbell juga dikenal sebagai tukang mengatur. Yang menurutnya seharusnya demikian, diubahnya sesuai dengan maunya sendiri. Misalkan pendapatnya tentang penempatan cover/buku CD dalam wadah CD, yg menurutnya adalah terbalik, sebab buku CD tsb mudah rusak bila dipaksakan masuk ke wadahnya. Jadi ia balik posisi semua cover CD koleksinya. Tidak berhenti sampai situ, setiap bepergian jauh dari rumah, yg ia kuatirkan adalah ada orang yg merambah koleksi CD-nya dan kembali menempatkan buku2 CD-nya secara "terbalik".
Ia pun suka 'mengoreksi' isi buku ensiklopedia. Istrinya bercerita bahwa Campbell telah merombak sebuah buku ensiklopedia ttg kesehatan: bila menurutnya suatu jenis penyakit tidak seharusnya berada di halaman sekian, akan ia gunting bagian ttg itu, utk dibuang atau digantikan dengan yang "lebih tepat".

Photobucket - Video and Image Hosting

Di bagian wawancara dengan Hayley, disinggung lagi persoalan pendefinisian Graphic Novel. Adalah merupakan masalah besar bagi Campbell bila seseorang mengkategorikan komik sebagai, misalkan, urut2an beberapa gambar ('Bloody definers,' he'd say). Untuk menyatakan sikapnya, ia akan sengaja membuat komik hanya dengan SATU gambar. Atau membuat "graphic novel"-nya berupa dominasi teks yg diselingi hanya beberapa ilustrasi. 'It's all just illustrated stories.' he'd say, 'And an illustration is just a typographical anomaly.' He detested the way they have to categorize everything.
Photobucket - Video and Image Hosting

Menjelang akhir cerita, Campbell telah berhasil ditemukan. Campbell (diperankan oleh Siegrist) dikisahkan telah menemukan arti semesta, hasil dari percakapannya dengan Tuhan (Hayley: By God I mean a sort of methaporical god. [...] And if anybody said 'Jeezis' he'd go 'No: Eddie Campbell. Jeezis is the one with the sandals.') Episode terakhir adalah "The confessions of a humorist" yg diperankan sendiri oleh Eddie Campbell. Tumben, sebab biasanya ia menciptakan tokoh yg memerankan dirinya, seperti Richard Siegriest di buku ini, atau Alec MacGarry di seri Alec, yg sebenarnya menceritakan ttg dirinya.

Photobucket - Video and Image Hosting

The Fate of The Artist ini bisa dibilang sebagai karya autobiografi Campbell yang terbaik. Berbeda dengan seri Alec yang hitam-putih, buku ini menampilkan lebih banyak warna dan campuran teknik, dari pewarnaan manual, hingga kolase foto dan ilustrasi yg tersusun secara harmonis dengan teks. Melalui buku ini pula pembaca bisa mengenal Campbell tidak hanya sebagai seniman dan komikus ("A. Humorist" - yg adalah tanda tangan pembuat komikstrip Honeybee), tapi juga sebagai kepala keluarga. Dari buku ini pula pembaca bisa mendapat lebih banyak lagi kesan tentang seorang Eddie Campbell. Ia mungkin berada di mana dirinya sekarang berada, berkat attitude-nya yang unik tsb, yang sebenarnya tidak membuat hidupnya lebih mudah, dan tidak jarang pula merepotkan orang2 terdekatnya.


Sebuah wawancara dengan Eddie Campbell, yg dijawabnya dengan sketsa berwarna: http://www.powells.com/ink/campbell.html

Photobucket - Video and Image Hosting

Blog Eddie Campbell (atau, tempat di mana ia kadang2 menulis atau memasukkan sketsa2nya): http://firstsecondbooks.typepad.com/mainblog/eddie_campbell_guest_blogger/index.html

The Fate of The Artist
Hardcover 96 pages (May 2, 2006)
Publisher: First Second
ISBN: 1596431717

Paperback 192 pages (May 2, 2006)
Publisher: Roaring Brook P. (an imprint of Millbrook P. Inc)
ISBN: 1596431334

Photobucket - Video and Image Hosting

Sunday, May 21, 2006

Debut Pertama Anto Garang di Belanda



Pada Jumat malam (19 Mei 2006) yang lalu, di Galerie Lambiek terjadi berbagai peristiwa: peluncuran buku kedua Lamelos (sebuah grup komikus yg tahun ini mendapat giliran menggarap semua materi publikasi resmi Stripdagen Haarlem 2006), pembukaan pameran karya2 Lamelos di Galerie Lambiek, dan peluncuran sebuah buku yg dibagikan secara cuma-cuma kepada orang yg membelanjakan sejumlah 12,12 Euro (atau lebih) untuk komik di 400 toko di Belanda yg berpartisipasi dalam prorgam Stripboek Geschenk ini. Buku tersebut tak lain adalah STORM: De Kronieken van 30 Jaar Storm.

Photobucket - Video and Image Hosting

Sketsa awal karakter Storm dan Rambut Merah

Buku setebal 48 halaman (soft cover) ini memuat sejarah ringkas tentang lahirnya seri Storm dan proses kelanjutannya, yg melibatkan nama2 besar Don Lawrence, Martin Lodewijk, dan Dick Matena. Di antara kisah perkembangan seri tsb, diselipkan pula beberapa lembar komik karya Don Lawrence, seperti komik lepas berjudul The Son of the Hunter dan World on Wheels (keduanya dari th 1974), dan cuplikan seri Storm dari episode The Last Warrior, yg diduga telah menginspirasi film Indiana Jones and The last Crusade (penulis film tsb, Menno Meyjes, seorang Belanda yg pasti pernah membaca seri tsb di masa mudanya!).
Tak kalah menarik, adalah tampilan sketsa awal Don Lawrence kala membuat konsep visual karakter2 utamanya, Storm dan Rambut Merah (yg kala itu dinamainya Carrots), berbagai sketsa dan karya yg dibuat utk berbagai terbitan khusus, poster2 pameran atau peluncuran buku Don Lawrence, dan foto2 tim pembuat Storm dari masa ke masa.

Photobucket - Video and Image Hosting
Storm baru versi Liam, digambar berdasarkan sketsa pensil Don Lawrence

Photobucket - Video and Image Hosting
Photobucket - Video and Image Hosting
Storm versi Romano

Namun yang paling mengejutkan adalah bab terakhir, berjudul Storm Tanpa Don Lawrence?, yg menampilkan sketsa dan ilustrasi dari para komikus (calon) penerus seri Storm, di antaranya, seperti bocoran yg pernah kita dengar, adalah Anto Garang! Anto adalah satu-satunya nama komikus yg disebut di bab ini selain Liam Sharp, seorang komikus Inggris berusia 38 th, yg semasa remajanya pernah bekerja magang pada Don Lawrence (namun kemudian memilih utk membuat karyanya sendiri) dan Romano Molenaar, komikus Belanda berusia 35 th yg telah dipastikan akan meneruskan episode Storm berikutnya, The Ring of Fire.

Photobucket - Video and Image Hosting

Photobucket - Video and Image Hosting
Fragmen utk seri Storm karya Anto

Terdapat tiga Ilustrasi karya Anto di sini, disertai keterangan sbb, "Fragmen dari karya komikus Indonesia, Anto", yang menggambarkan Storm, Rambut Merah dan Nomad(?) sedang duduk mengelilingi api unggun, close-up Rambut Merah, dan Rambut Merah & Storm dalam posisi siap tempur. Selamat untuk Anto, yang sejak Jumat lalu karyanya telah diperkenalkan kepada publik pembaca & pecinta komik di Eropa Barat, khususnya Belanda!


Tita, Amsterdam, 21 Mei 2006

Bacaan tambahan:
- Portfolio Anto Garang di Deviantart
- Wawancara dengan Anto Garang di | r e k a m a t r a |

Gambar depan: sampul dari De Kronieken van 30 Jaar Storm
Gambar di bawah: Sketsa pensil karya Romano Molenaar

Photobucket - Video and Image Hosting







Tuesday, May 16, 2006

Luapan Semangat dan Enerji dari Kerkstraat, Amsterdam



Kerkstraat adalah sebuah jalan kecil yang memotong Leidsestraat, jalan besar menuju Leidseplein yang merupakan salah satu tempat tujuan para wisatawan di Amsterdam, di mana terdapat gedung-gedung teater, ratusan bar, café dan restoran. Di sekujur Kerkstraat pun terdapat beberapa restoran, galeri seni, hotel, tempat penyewaan sepeda, dan berbagai tempat menarik lainnya. Di jalan kecil inilah sebuah toko komik kecil bernama Lambiek mulai berdiri dan kemudian berkembang hingga memperoleh reputasi sebagai salah satu toko komik yang terlengkap di Belanda. Tak sekedar menjual komik, Lambiek pun memiliki ruang galeri dan juga mengoleksi memorabilia antik (yang berhubungan dengan komik/strip) dan karya-karya asli para komikus tenar.

Photobucket - Video and Image Hosting
Suasana Leidsestraat yg selalu dipenuhi wisatawan

Para profesional, penggemar dan pemerhati di bidang komik dan cergam, terutama yang telah mengenal Lambiek, pasti selalu mengasosiasikan toko tersebut dengan seorang Kees Kousemaker (63). Kees adalah sosok di balik seluruh kesuksesan Lambiek, bahkan dapat dikatakan merupakan personifikasi, bentuk jiwa-raga dari Lambiek dan seluruh aktivitas seputar Lambiek. Kees muda yang sebelumnya berprofesi sebagai guru gambar di Haarlem, kemudian melanjutkan studinya ke bidang Bahasa Belanda di Utrecht, memang senang berburu dan mengumpulkan berbagai komik dan cergam, baik baru maupun bekas. Setelah melewati masa wajib militernya, pada tahun 1968 Kees membuka toko Lambiek bermodalkan uang tabungannya sendiri. Tabungan Kees saat itu, sejumlah 2000 Gulden, masih dapat melunasi biaya sewa ruang (sebesar 129 Gulden/bulan - yang termasuk murah, bahkan untuk masa itu) dan biaya pembuatan rak dan perabot lain-lainnya, yang dibuat sendiri dari kayu bekas dengan bantuan teman-temannya. Kees memilih nama “Lambiek” untuk tokonya, yang berasal dari salah satu tokoh pada cergam seri Suske & Wiske dari Belgia (yang bisa dibilang merupakan satu-satunya seri ‘baru’ yang populer kala itu). Kees mengambil tokoh Lambiek karena asosiasi tokoh tersebut dengan bir dan perangainya yang agak ceroboh, yang dianggapnya mirip dengan dirinya (Kees) sendiri – terutama dalam hal ‘kenekatan’nya mendirikan toko komiknya tersebut. Di samping itu, pada masa itu orang senang menyebut toko mereka dengan istilah boutique (misalkan brood boutique untuk bakery, atau toko roti), jadi nama Lambiek pun pas bersajak dengan kata “boutique”. Salah satu motivasi terkuat Kees untuk mendirikan Lambiek adalah tidak adanya toko yang mengkhususkan ke komik/ cergam pada masa itu. Toko-toko buku besar sangat jarang menampilkan komik, sementara kios-kios rokok dan koran hanya menyediakan sedikit jenis majalah komik dan cergam.

Photobucket - Video and Image Hosting
Kees muda saat memasang papan nama toko di lokasi pertama Lambiek, Kerkstraat 104

Photobucket - Video and Image Hosting
Saat pembukaan Galerie Lambiek: (ki-ka) Evelien Kousemaker, Kees Kousemaker, Willy Vandersteen, pencipta seri Suske & Wiske

Meskipun tak pernah secara khusus memasang iklan, Lambiek sering mendapat publikasi gratis, baik dari mulut ke mulut maupun melalui media massa yang jumlah dan variasinya masih sangat terbatas. Antara lain adalah ketika acara peresmian Lambiek yang dihadiri oleh Willy Vandersteen (pencipta seri Suske & Wiske yang berasal dari Belgia) pada tanggal 8 November 1968 yang diliput oleh stasiun televisi Belanda. Kala itu hanya ada tiga saluran untuk seluruh negeri Belanda, sehingga dengan mudah kabar mengenai Lambiek, toko komik pertama di Belanda, tersebar ke seluruh pemirsa televisi di Belanda. Lambiek memang merupakan pelopor di bidangnya, sebab setelah didirikan, dengan segera bermunculan banyak toko di Belanda dan Eropa yang juga mengkhususkan diri di bidang komik/ cergam, memorabilia dan pernak-pernik komik lain.

Photobucket - Video and Image Hosting
Dalam sebuah seri Agen 327, Ijzerbroot digambarkan lewat di depan Lambiek

Pada awal masa berdirinya, Lambiek hanya menampilkan koleksi pribadi milik Kees. Para penggemar komik yang sering mengunjungi Lambiek, menjadikan Lambiek tempat berkumpul dan bergaul. Kees pun sering berinisiatif untuk mengadakan acara semacam sesi tanda tangan para komikus, atau perayaan penerbitan (ulang) suatu album komik; kegiatan yang masih berlangsung hingga kini. Peminat komik makin besar, sejalan dengan bertambahnya jumlah dan variasi komik di pasaran, dan koleksi Lambiek pun bertambah. Sehingga pada tahun 1980, toko pertama Lambiek di Kerkstraat nomer 104, yang hanya berupa sebuah ruang bawah tanah, pindah ke lokasi barunya ke nomer 78, ke sebuah ruang yang lebih besar di jalan yang sama. Saat itu dunia komik sedang mencapai masa jayanya, terus berkembang dan memiliki banyak penggemar setia, sehingga aktivitas pada Lambiek pun tak pernah mereda. Toko di lokasi yang baru ini diresmikan dengan nama Galerie Lambiek.

Photobucket - Video and Image Hosting
Sebuah gimmick reklame milik Lambiek yg mengundang banyak masalah (berkenaan dengan aturan tata kota) karena ditempatkan di tikungan antara Leidsestraat dan Kerkstraat. Kini gimmick tsb. ditempatkan tepat di depan toko.

Sehubungan dengan galerinya ini, yang mulai dibuka pada tahun 1986, Kees tidak ingin mengecilkan istilah “galeri” dengan sekedar memasang hasil cetakan silkscreen dan gambar-gambar komik pada dinding. Salah satu tujuan galeri ini adalah mengeksplorasi wilayah yang tak terdefinisi antara komik/ strip dan lukisan seni murni. Hal ini dibuktikan dengan pameran perdana saat pembukaan galeri, di mana ditampilkan berbagai karya dari para kontributor majalah Raw. Pers dan masyarakat umum dikejutkan oleh karya-karya yang ditampilkan, dan Eropa pun mulai menemukan seni komik/strip eksperimental. Ironisnya, Galerie Lambiek meraih reputasi lebih besar di luar Belanda, bukan di Belanda sendiri dengan dunia seninya yang konservatif. Semenjak itu, pameran-pameran di Galerie Lambiek berlanjut dengan berbagai jalur eksperimental, antara lain menampilkan Peter Pontiac (pencipta novel grafis Kraut) yang memamerkan lukisan-lukisan unik yang dibuatnya di lembaran-lembaran kardus berukuran besar, Pascal Doury dan Bruno Richard (para pencipta majalah Elles sont de sortie; Doury sendiri adalah seniman underground/comix yang tenar dengan karyanya Pornographie Catholiqie di majalah Raw) yang menggarap karya-karya mereka langsung pada saat pameran, dan André Franquin (pencipta tokoh-tokoh komik terkenal Marsupilami dan Gaston) yang menggunakan foto-foto untuk memperbesar sketsa pensilnya menjadi lukisan abstrak selebar dinding, dengan warna-warna mengejutkan.

Photobucket - Video and Image Hosting
Suasana interior Lambiek di Kerkstraat 78, karya Peter Pontiac, yg menampilkan beberapa tokoh komik terkenal. Kees terlihat sedang duduk membaca, sementara Klaas berdiri melayani seorang pelanggan. Para 'pelanggan' adalah tokoh2 komik terkenal di Belanda.

Sementara itu, Galerie Lambiek juga tetap mengoleksi berbagai sketsa dan lay-out asli (pre-produksi sebuah album cergam) hasil kerja para komikus tenar. Kees menganggap sketsa dan lay-out tersebut adalah bagian dari suatu proses produksi, yang sebagian besar dibuat untuk memenuhi target tenggat waktu dan permintaan klien maupun pasar. Sketsa dan lay-out untuk album cergam bukanlah curahan emosi, intuisi, dorongan bereksperimen atau penuangan kreativitas sepenuhnya, sehingga jarang yang dapat disebut sebagai karya seni, meskipun tampilannya tak kalah menarik. Karya-karya asli yang merupakan proses komik jarang dapat terjual, meskipun harganya tidak terlalu mahal. Sebagai gambaran, harga sebuah sketsa pensil dari Will Eisner (pencipta seri Spirit dan perintis novel grafis dengan karyanya A Contract with God) ‘hanya’ berkisar antara 300 hingga 400 Euro, sementara sebuah lukisan dapat mencapai harga ribuan Euro.

Photobucket - Video and Image Hosting
'Poster' Lambiek karya beberapa komikus

Photobucket - Video and Image Hosting
Sketsa Will Eisner untuk Lambiek

Galerie Lambiek telah banyak dikunjungi para komikus terkemuka di dunia. Mereka datang untuk berbagai acara, seperti sesi tanda tangan, peluncuran (ulang) album baru, atau hanya sekedar mampir di waktu senggang. Sebuah buku tamu tebal yang selalu tersedia telah terisi oleh coret-coretan gambar dan komentar dari para pengunjung, yang dengan sendirinya merupakan koleksi yang sangat berharga. Pertemanan Kees dengan para tokoh komikus ini, ditambah pula dengan Galerie Lambiek-nya yang telah melegenda, berakibat pada pengabadian lokasi Lambiek di Kerkstraat 78 dan Kees Kousemaker sendiri sebagai elemen dan tokoh pada beberapa komik/ cergam, poster, dan sebagainya, antara lain oleh Peter Pontiac dan Martin Lodewijk (pencipta Agent 327).

Photobucket - Video and Image Hosting
Tim Lambiek

Para pengunjung baru Lambiek dapat dengan tenang mengeksplorasi isi toko, begitu banyak koleksi yang dapat dilihat. Para pengunjung tetap pun tak akan bosan, karena setiap kali datang, pasti akan ada hal baru yang menarik. Klaas Knol, seorang personel senior Lambiek, selalu jeli melihat dan dapat merekomendasikan dengan tepat pilihan album komik/ cergam pada para pelanggan. Koleksi Lambiek memang melingkupi banyak aliran pada komik/ cergam, mulai dari keluaran penerbit besar hingga karya-karya underground maupun indie/ independent (patut dicatat bahwa Lambiek adalah toko komik pertama yang mendukung dan bersedia menjual komik-komik underground dan independent baik yang berasal dari Belanda maupun luar Belanda). Di Lambiek tak jarang pula dijumpai album-album cergam ternama dalam berbagai bahasa, yang menjadi sasaran para kolektor. Koneksi Lambiek yang tersebar begitu luas sempat juga menjadi berkah bagi sekelompok komikus Indonesia, yang melalui kontak dengan Lambiek telah membuahkan hasil konkret, berupa partisipasi dalam Stripdagen Haarlem (sebuah ajang komik/cergam terbesar di Belanda yang diadakan di Haarlem setiap dua tahun), dengan menampilkan pameran komik Indonesia bertajuk Madjoe! pada tahun 2002. Lambiek bahkan meminjamkan koleksi berharganya untuk disertakan dalam pameran “Madjoe!” tersebut: beberapa eksemplar koran tua yang penuh berisi komik/strip, yang diterbitkan di Hindia-Belanda pada tahun 30-an.

Photobucket - Video and Image Hosting
Interior Lambiek di Kerkstraat 78

Photobucket - Video and Image Hosting
Beberapa koleksi memorabilia komik milik Lambiek

Lambiek membebaskan para pengunjungnya menikmati koleksi mereka (buku/album yang disegel hanyalah yang masuk kategori antik), bahkan menyilakan para pelanggan tetap untuk membawa pulang (setelah membayar) komik baru yang mereka pilih untuk dibaca di rumah, dan boleh segera dikembalikan ke Lambiek bila ternyata tidak suka. Hubungan semacam ini memang membuat Lambiek lebih dari sekedar sebuah toko dan galeri, dan menciptakan pengalaman berinteraksi lebih dari sekedar hubungan pembeli dan penjual. Mereka dapat membuat semua pelanggan merasa nyaman dan diterima dengan baik sebagai kawan. Mungkin ini lah salah satu faktor yang membuat orang-orang selalu menyempatkan diri untuk mampir, walaupun hanya untuk sekedar bertukar sapa dengan para personel Lambiek.

Photobucket - Video and Image Hosting
Interior Lambiek di Kerkstraat 119 - toko perpindahan sementara yg memang sangat sempit - sebelum akhirnya mereka pindah di lokasinya yg sekarang, Kerkstraat 132

Sangat disayangkan, gedung tua yang ditempati Lambiek di Kerkstraat 78 mulai menampakkan kerapuhannya, sehingga mengakibatkan kerusakan pada banyak komik koleksi Lambiek. Sebagian besar komik baru yang terkena sedikit kerusakan karena kelembaban terpaksa dijual dalam kotak khusus bertuliskan vocht schade (= humidity damage), dengan harga yang sangat miring. Menjelang akhir tahun 2003, Lambiek dihadapkan pada dua pilihan: untuk pindah ke tempat baru, yang berarti memerlukan banyak sekali biaya, atau menutup bisnisnya sama sekali, yang berarti merupakan kehilangan besar bagi dunia komik internasional.
Setelah berdiri sebagai toko komik tertua di Belanda, bahkan Eropa, selama puluhan tahun dan tetap bertahan, sangat disayangkan bahwa Lambiek tidak mendapat dukungan apapun dari pemerintah Belanda. Titik lokasi Lambiek di Amsterdam yang telah seringkali dikunjungi oleh ribuan pelanggan setianya, baik dari dalam maupun luar Belanda, ternyata tidak layak dianggap sebagai landmark kota Amsterdam. Sehingga, bila ingin terus bertahan, Lambiek harus mengandalkan usaha dan tenaga sendiri. Dan memang itulah yang dilakukan Kees, Klaas dan teman-temannya untuk terus mempertahankan eksistensi Lambiek.

Kabar baik terdengar melalui De Reporter, jurnal online yang dikeluarkan Lambiek melalui situs Internetnya, bahwa toko Lambiek memang akan ditutup di lokasi Kerkstraat 78, namun akan dibuka kembali di Kerkstraat 119 - sebuah ruang kecil yang letaknya nyaris berseberangan dengan lokasi sebelumnya. Pada masa perpindahan ini, Lambiek mengumumkan berbagai korting dari koleksinya pada situs Lambiek di Internet. Foto-foto dari berbagai sudut toko legendaris ini segera diabadikan, termasuk sebuah dinding penuh coretan para tamu yang akan juga dihancurkan bila interior gedung tua ini benar-benar dibongkar untuk direnovasi.
Sekitar April 2004, Lambiek dibuka kembali di Kerkstraat 119. Ruang di lokasi ini jauh lebih kecil dari sebelumnya; hanya berupa lorong panjang di mana terdapat rak-rak buku, kotak etalase dan berbagai poster dalam pigura menutupi seluruh bagian dinding. Namun hal ini tidak berlangsung terlalu lama. Kabar baik terdengar lagi melalui De Reporter edisi Desember 2004, bahwa Lambiek akhirnya akan pindah ke lokasi yang lebih luas: Kerkstraat 132. Lokasi baru ini masih di jalan yang sama, nyaris berseberangan dengan lokasi sempit di nomer 119. Kabar lain menyatakan bahwa Bas van der Zee, seorang anak muda, telah menjadi pengurus baru dari Lambiek, sementara Kees Kousemaker masih akan terus memegang pengawasan Lambiek.

Photobucket - Video and Image Hosting
Bas, berpose di tengah2 proses renovasi ruang cikal bakal galeri Lambiek

Tanggal 28 Januari 2005 merupakan hari pembukaan Lambiek di lokasi terbarunya, di mana perayaan dan sekaligus penyambutan tahun baru dilangsungkan. Para teman-teman lama dan pengunjung setia Lambiek sangat senang ketika menemukan bahwa di lokasi ini terdapat ruang yang luas, di mana terdapat ruang untuk sebagian besar buku, dan terdapat pula ruang bawah tanah yang dapat dimanfaatkan sebagai galeri, dengan sebuah ruang kecil di sebelahnya sebagai kantor. Aktivitas kembali berlangsung di Galerie Lambiek. Namun perjuangan untuk tetap bertahan menjadi makin sulit di era digital ini. Sebagian besar generasi muda lebih terbiasa bermain game pada komputer, menonton DVD, dan sibuk saling berkirim teks pada ponsel, dibandingkan dengan membaca album komik/ cergam. Media komik dan cergam tidaklah sepopuler dulu lagi; adalah tidak mudah bagi komik untuk bersaing dengan media hiburan lain, dan Kees pun menyadari hal tersebut.
Sehingga, seiring dengan perkembangan jaman, Kees memilih untuk berkonsentrasi pada database komikus pada situs Lambiek, yang dinamai Comiclopedia. Comiclopedia ini adalah prestasi Lambiek yang paling menonjol saat ini. Pada database itu terdapat lebih dari tujuh ribu nama komikus dari seluruh dunia, dilengkapi dengan data pribadi ringkas dan beberapa contoh karya masing-masing, dan Lambiek masih terus menerima masukan baru setiap harinya. Rencana Kees dalam waktu dekat adalah membuat bagian khusus untuk komikus Belanda pada situsnya. Situs Lambiek, yang dirintis sejak tahun 1994, kini dikunjungi sekitar 20.000 pengguna Internet per harinya. Dengan tingkat aktivitas sedemikian tinggi, mestinya mudah bagi Lambiek untuk memperoleh sponsor pada situsnya..Namun Kees kurang menyukai tambahan banner iklan pada situs ini, sehingga masih terus mempertimbangkan kemungkinan ini. Pada satu sisi, Kees ingin agar tampilan situsnya tetap sederhana dan bersih, bebas dari banner iklan. Namun pada sisi lain, situs Lambiek butuh pemasukan finansial terutama untuk membiayai hosting data yang makin membludak, di samping juga tentunya untuk membiayai Galerie Lambiek.

Photobucket - Video and Image Hosting
Ruang dalam Lambiek, memandang ke arah pintu. Di balik rak roket Tintin, terdapat anak2 tangga menuju ke lantai galeri dan kantor di lantai bawah.

Photobucket - Video and Image Hosting
Interior Lambiek di lokasinya sekarang, Kerkstraat 132. Ruang galeri dan kantor terdapat di lantai bawah.

Galerie Lambiek kini memegang peranan penting dalam dunia komik dan cergam di Belanda, bahkan di Eropa dan dunia. Situs Lambiek telah disewa untuk ditampilkan di Nederlands Stripmuseum (museum komik/strip Belanda) di Groningen, di mana Kees Kousemaker sendiri menduduki posisi sebagai salah seorang dewan penasehat. Kees mengakui bahwa sangatlah berat untuk menjaga reputasi Galerie Lambiek, tak hanya sebagai toko dan galeri, namun juga bahkan sebagai sentra budaya komik dan cergam di Eropa. Galerie Lambiek, dalam perjuangannya mencapai reputasi tersebut, akan selalu menjadi teladan bagi para pecinta dan profesional media komik dan cergam, di mana pun mereka berada.


Tita, Amsterdam, 19 Juni 2005


Photobucket - Video and Image Hosting
Kru Lambiek, saat hendak memindahkan papan nama dari Kerkstraat 78

Lambiek
Galerie, Stripwinkel & Antiquariaat
Kerkstraat 132
1017 GP Amsterdam
Tel +31 (20) 626 7543
Fax +31 (20) 620 6372
E-mail lambiek@lambiek.net
Website http://www.lambiek.net


Sumber teks dan foto:
- Wawancara dengan Kees Kousemaker
- Situs Lambiek http://www.lambiek.net
- Lambiek’s Almanac 1968 – 1993







Friday, May 12, 2006

Stripdagen Haarlem

Start:     Jun 3, '06
End:     Jun 4, '06
Location:     Haarlem, The Netherlands
Ajang komik terbesar se-Belanda ini diadakan setiap 2 tahun di Haarlem, dan menarik pula para penerbit dan komikus Internasional. Selama 2 hari berturut2 akan digelar berbagai macam pameran, workshop, bursa, demo, pemutaran film, sesi jumpa komikus, dsb. Tema Stripdagen Haarlem kali ini adalah komik dari Skandinavia dan komik dalam pendidikan. Materi publikasi Stripdagen Haarlem 2006 digarap oleh Lamelos (tim komikus yg terdiri dari 3 orang).

Info selengkapnya (berbahasa Belanda): stripdagenhaarlem.nl