Wednesday, March 14, 2007

[klipping] DI:Y, Apresiasi Eksplorasi Komikus Lokal








Dari http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/budaya/di-y-apresiasi-eksplorasi-komikus-lokal-3.html


DI:Y, Apresiasi Eksplorasi Komikus Lokal

Minggu, 11/03/2007





SEBELAS komikus – Sapto Raharjo (Anthok), Bambang Witjaksono, Bambang ‘Beng’ Tri Rahardian, Didi Purnomo (Didoth),Eko Nugroho, Erwan Hersi Susanto (Iwank), Ahmad Ismail (Ma’il),Siti Fitriyah (Iput),Golkas Teguh Sujiwo (Oyas), Prasajadi, dan Dinita Larasati (Tita)— menampilkan karya mereka dalam pameran bertajuk


”Eksposisi Komik DI:Y (Daerah Istimewa: Yourself)”di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki (TIM) dari 3-17 Maret 2007. Setiap komikus memperlihatkan keistimewaan atau kekhasan masing-masing. Anthok misalnya, tampil sebagai komikus yang menawarkan tema–tema realisme.Dalam karya berseri Oldskull and Friends tentang kisahkisah dari penjara yang merupakan pengalaman pribadinya, kecenderungan menawarkan realisme itu tampak kuat.Di sisi lain,Anthok kelihatan tidak membiarkan ruang kosong mengisi panel-panel komiknya.


Maka,panel-panel itu pun disi dengan corat-coret garis dan kata-kata seperti living on a prayer, bontex floresta, punk, bastard,God help me,derita tiada akhir,dan hidup di bui lagi. Obrolan singkat dan anekdot yang dibangun Anthok tampak spontan dan ekspresif. Sedangkan Beng Rahardian tampil lebih surealis, walaupun sedikit juga tertarik ke realis. Dalam komik bertajuk Lapar dan Tidur Panjang, komik korban gempa Yogyakarta, kekhasan surealis Beng sangat menonjol.


Lantas mengapa dia lebih suka gaya surealis? ”Saya tidak bisa lagi tanpa realis ketika menghadapi bencana seperti tsunami Aceh atau gempa Yogya, sebab tidak ada lagi yang riil untuk digambarkan dengan kata-kata,” ungkap Beng. Dalam menggarap karya-karya, dia mengaku, dirinya lebih mengedepankan ekspresi kekebasan kendati tetap dalam format konvensional. Penampilan ke-11 komikus, yang mempertontonkan kekhasan daerah istimewa mereka, sebenarnya sebuah upaya memetakan pertualangan komikus di jagad komik Indonesia.Upaya tersebut, kata Ketua Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Ade Darmawan, penting untuk mengetahui perkembangan karya komik di Tanah Air. Bagaimana tidak,sejak 1990 komik di Tanah Air mengalami perkembangan cukup pesat. Kendati pasar komik lebih didominasi kekuatan industri komik dari Jepang dan Amerika,namun geliat eksplorasi komikus Indonesia cukup fantastik.


”Sejumlah komikus kita melakukan eksplorasi bahasa visual dan literatur,menjajaki segala kemungkinan.Mereka juga berupaya menciptakan modus produksi dan estetika yang lebih mandiri di luar modus produksi dan estetika industri komik utama,”tutur Ade.Maka tujuan pameran ini, jelasnya, untuk membuka kesempatan komik Indonesia bertemu dengan khalayak komik,menghidupkan apresiasi,kajian, dan kritik.”Karena perkembangan,kendati kecil, akan menjadi penting ketika dicatat, dikaji, dan dikritik,”imbuh dia.


Sementara kurator komik Hikmat Darmawan menilai,ke-11 komikus yang tampil dalam pameran ini merupakan wakil-wakil yang boleh dibilang sangat berhasil memunculkan keunikan jati diri mereka dalam karya-karyanya.Keberhasilan tersebut karena aktivitas mereka dengan etos DIY (Do It Yourself). Keistimewaan komikus lokal era DIY ialah mereka tidak lagi mengutamakan ketrampilan teknis menggambar sebagaimana lazimnya. Mereka lebih mementingkan ekspresi, tidak terikat pada proses penerbitan tradisional atau tidak membutuhkan penerbit.Modus penerbitan melalui fotokopi dan distribusi dari tangan ke tangan,tanpa melalui jaringan distribusi resmi adalah ciri khas etos DIY. Menurut Hikmat,etos DIY ini membuka peluang seluas-luasnya bagi kemerdekaan estetik dan spontanitas ekspresi seni akan tumbuh. (donatus nador) K

Tuesday, March 13, 2007

[klipping] 'Gerilya' Komik Indonesia

Dari Republika: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=285841&kat_id=306


Minggu, 11 Maret 2007
Komik Yourself
'Gerilya' Komik Indonesia


Di tengah popularitas komik Jepang dan Amerika Serikat (AS), komik lokal hampir tak mendapat tempat di rak pajang toko buku. Kendati demikian, kondisi sebenarnya ternyata tidak terlalu mengenaskan. Setidaknya, komik lokal masih hidup dan dinikmati oleh penggemarnya.


Ingin bukti? Tengok saja cuplikan hasil karya 11 komikus yang dipamerkan di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki sejak 3 Maret 2007 lalu. Eksposisi Komik Daerah Istimewa Yourself (DI:Y) itu masih bisa dinikmati sampai 17 Maret mendatang.


Untuk memberi bobot pameran, juga digelar diskusi komik bertajuk Komik sebagai Sub Kultur, pada Sabtu 10 Maret 2007, dengan pembicara Vaniani Ika (pengamat komik), serta Dinita Larasati, Beng Rahadian, dan Bambang Toko (ketiganya komikus).


Komik Indonesia pernah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Tetapi, era itu sudah lama berselang. ''Komik lokal digandrungi pada tahun 1970-an,'' ujar Ade Darmawan, ketua Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta.

RA Kosasih beserta komik Mahabharata-nya amat terkenal dalam tahun 1970-an. Begitu pula, Hasmi dan karya fenomenalnya, serial Gundala Putera Petir. Nama lain yang sukar hilang dari ingatan pecinta komik lokal adalah Ganes TH, pencipta serial Si Buta dari Goa Hantu.


Dalam tahun 1970-an, lanjut Ade, komik lokal kental sekali dengan nuansa Indonesia. Kalau bukan lantaran mengangkat mitos tentu karena bahasa visualnya yang akrab. Cara komikus menggambarkan gerak-gerik tokoh-tokohnya patut diacungi jempol. Pada masanya, komikus malah sejajar dengan bintang film ternama yang selalu menjadi pusat perhatian saat berada di keramaian.


Ade berpendapat komikus zaman dulu amat terasah. Mereka mampu menciptakan karya-karya orisinal. ''Sayangnya, kemampuan itu tidak tertular pada generasi muda komikus,'' katanya.


Dalam pengamatan Ade, komikus masa kini sangat terpengaruh oleh gaya komik Jepang. Dari segi visual, tak ada pencapaian baru yang ditunjukkan. ''Padahal, kalau menggali lebih jeli, mereka bisa menemukan gaya khas sendiri,'' komentarnya.


Bilakah kebangkitan komik lokal tiba? ''Tak perlu merisaukan, Godot datang atau tidak,'' kata Hikmat Darmawan, kurator komik pada Eksposisi Komik DI:Y. Sejumlah komikus muda yang berdomisili di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta mengusung filosofi punk -- do it yourself alias kerjakan saja sendiri -- untuk mengangkat kembali kejayaan komik lokal.


Athonk termasuk salah satu komikus muda yang terbaik saat ini. Tokoh yang direkanya jauh dari pengaruh komik Jepang maupun Amerika yang digandrungi semua umur. Ia menawarkan sebuah kemungkinan realisme tema.


Seri Old Skull merupakan karya Athonk yang paling digemari. Dalam Old Skull, komikus bernama asli Sapto Raharjo sedikit banyak mengangkat pengalaman pribadinya semasa 11 bulan mendekam di bui. Salah satunya menceritakan tentang insafnya Old Skul, pemakai putaw berambut Mohawk berwajah tengkorak. ''Gaya kartun seri komik strip Old Skull tampak kasar, minim stilisasi, seperti diguris seadanya, serbacepat, dan spontan,'' komentar Hikmat.


Selain Athonk, ada pula Eko Nugroho. Dari pemikiran cemerlangnyalah lahir komik-komik banyolan seri The Konyol. Dalam The Konyol, Eko mengetengahkan keseharian orang kebanyakan. Di akhir tahun 1990-an, Eko membuat dunia komik lokal menggeliat. Presiden komunitas The Daging Tumbuh ini memprakarsai penerbitan jurnal komik indie, Daging Tumbuh. Daging Tumbuh merupakan kumpulan komik --mayoritas komik-komik DI:Y-- yang disebarluarskan dalam bentuk hasil fotokopi.


Tentang penyebab keterpurukan komik lokal, Hikmat punya teori. Kemungkinan besar itu terjadi karena ketidaksiapan industri buku untuk menerbitkan komik lokal. ''Tanpa dukungan infrastruktur industri, sulit untuk membuat komik tersebar luas,'' katanya.


Kecenderungan penerbit menyukai pencetakan komik luar negeri tentu bukan tanpa alasan. Dalih utama menyangkut kemudahan menerbitkan. ''Tinggal menerjemahkan naskah yang populer,'' urai Hikmat. Manga alias komik Jepang merupakan komik terbanyak yang menyerbu pasar Indonesia. Sedangkan, Amerika tak begitu produktif menghasilkan komik laris. ''Paling hanya Tintin dan Superman,'' imbuh Hikmat.


Pada tahun 1978, masyarakat baca Indonesia mulai mengenal komik asal Amerika. Saat itu, Tintin hadir. ''Tenda tempat penjualannya sampai rubuh gara-gara kerumunan penggemar,'' kenang Hikmat. Memasuki tahun 1980-an, Manga menyapa pecinta komik. Modus industrinya dibantu dengan anime (kartun Jepang). ''Manga menjadi amat kondang juga karena ketersediaannya yang berlimpah,'' kata Hikmat.


Di tahun 1990-an, dunia komik memasuki masa suram. Oleh masyarakat, komik hanya dianggap sebagai sub-kultur. ''Potret sebenarnya menggambarkan masyarakat yang terfragmentasi,'' ucap Hikmat. Di mata Hikmat, masa depan komik lokal tidak ditentukan oleh jumlah komikus yang meramaikan. Keaslian ide jauh lebih penting. ''Sebab, yang orisinallah yang bakal laris,'' ujarnya menandaskan. reiny dwinanda

Saturday, March 10, 2007

[klipping} Pameran Komik DI:Y

Dari http://www.suarapembaruan.com/News/2007/03/09/index.html

Pameran Komik DI:Y


Merangsang Kebangkitan Produksi dan Distribusi




Pameran Eksposisi Komik DI : Y (Do It Yourself) di Galeri Cipta II
Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Di pameran yang berlangsung hingga 17
Maret. [Pembaruan/Posman Sianturi]


Komik
lokal hampir tak berdaya menahan gempuran komik impor. Selain lemah
dari sisi produksi, komik lokal tak mampu bersaing dalam distribusi.
Namun di sisi lain, potensi komik lokal sesungguhnya cukup besar.


Sejumlah komikus membuktikan komik lokal masih eksis lewat pameran
Eksposisi Komik DI:Y (Do It Yourself) di Galeri Cipta II Taman Ismail
Marzuki, Jakarta. Di pameran yang berlangsung hingga 17 Maret ini
sekaligus upaya komikus asal Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung untuk
menjajaki sejumlah kemungkinan.


Menurut Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Ade Darmawan,
sesungguhnya Indonesia mempunyai banyak komikus. Di sisi lain,
keberadaan sumber daya manusia itu tidak didukung oleh percetakan dan
distributor. Hal itu diperburuk lagi dengan kesenjangan antara komik
lokal dengan pembaca.


Saat ini, pasar Indonesia dipenuhi oleh komik Jepang dan Amerika.
Kondisi itu disebabkan keberpihakan para penerbit besar dengan jalur
distribusinya. Secara langsung atau tidak, ketidakberagaman komik di
pasar Indonesia mendikte pembaca komik atau konsumen untuk memilih
komik Jepang atau Amerika.


Ditambahkan, pameran komik DI:Y ini merupakan usaha awal untuk membaca
perkembangan karya komik lokal saat ini. Di balik pasar yang didominasi
komik Jepang dan Amerika, sejumlah komikus melakukan eksplorasi bahasa
visual dan literatur.


Para komikus yang berpameran, kata Ade, berupaya menciptakan modus
produksi dan estetika yang lebih mandiri di luar mainstream. Pameran
ini sebuah upaya untuk lebih membuka kesempatan komik Indonesia bertemu
dengan khalayak komik, menghidupkan apresiasi, kajian dan kritik.


Sementara itu, Kurator Komik, Hikmat Dermawan mengatakan secara
kultural, sejak awal sejarahnya, komik Indonesia modern mengalami
pasang surut cercaan yang lumayan keras. Secara industrial, sejak awal
tahun 1990-an, komik lokal mengalami keruntuhan. Komik Indonesia
kehilangan pembaca dan sempat melahirkan ilusi kematian komik Indonesia.


Dikatakan, sebelas komikus lokal yang ditampilkan dalam eksposisi
pameran komik DI:Y adalah wakil-wakil yang bisa disebut sangat berhasil
memunculkan keunikan jati diri pribadi dalam karya-karyanya.
Keberhasilan tersebut sebagian karena afinitas mereka dengan etos DI:Y
(Do It Yourself, Red). Di samping itu, mereka juga adalah
pribadi-pribadi yang terus mencari berproses dalam berkarya.


Keunikan identitas mereka, kata Hikmat, akhirnya menawarkan daerah
kemungkinan yang lebih luas lagi bagi medium komik. Mereka telah
mentransformasikan etos dan modus DI:Y menjadi penciptaan sebuah Daerah
Istimewa, tempat berbagai kemungkinan narasi-visual terbuka ke segala
arah. Akhirnya, komik lokal tidak lagi pasif menunggu.


Para komikus tersebut antara lain Oyas dan Iput, ada Athonk, Bambang
Toko, Beng Rahardian, Didoth, Eko Nugroho, Iwank, Mail, Pras dan Tita.
Bambang Toko lebih suka memarodikan konvensi visual komik. Tidak heran
banyak persoalan sosial tak luput diparodikannya.


Hasil karya Bambang Toko dengan komik berjudul Abdul Toyib
..., begitu jelas menyindir fundamentalisme salah satu ajaran agama.
Dia memparodikan perkongsian politik-militer-bisnis dalam komik
Reformasi pada tahun 1998. [AHS/U-5]




[klipping] Dari Eksposisi Komik DI:Y

Dari http://www.sinarharapan.co.id/berita/0703/06/hib01.html
Pasti ada aja salah cetak nama gue di katalog. Dulu waktu di Erasmus Huis, Titia, sekarang di TIM, Dinita.. hihihi..
===============================

Yang Mati Justru Distributor
Indonesia



Oleh

Sihar Ramses Simatupang



Jakarta – “Saya menolak komik Indonesia telah mati. Yang mati justru
produsen dan distributor komik Indonesia,” ujar Hikmat Darmawan,
kurator pameran komik yang hadir pada pembukaan eksposisi “Komik
DI:Y” di Galeri Cipta 3 Taman Ismail Marzuki Jakarta, Sabtu (3/3).



Apa yang dikatakan Hikmat sesungguhnya memang telah jadi fenomena
belakangan ini. Komik Indonesia menjamur. Sebut saja areal di depan
Bioskop 21 Cinepleks di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, yang
menggelarnya hampir setiap hari. “Kulakan” ini bisa jadi luput dari
perhatian orang banyak, tetapi nyatanya banyak juga pelanggan
setianya.

Jadi, jangan hanya mengenang Djair (Warni), Taguan Hardjo, Ganes Th
yang memang terjamin dalam kenangan publik komik, walau itu perlu.
Namun, waktu terus berjalan, generasi komik Indonesia masih ada.
Bukan hanya komik singkat, Hikmat juga menjamin narasi panjang pada
karya komikus muda Indonesia itu terjaga. Seperti pendapat Ade
Darmawan, Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta, bahwa di balik
pasar yang didominasi komik Jepang dan Amerika, sejumlah komikus
kita melakukan “eksplorasi bahasa visual dan literatur”.

Jadi, komikus Indonesia ada, juga aktif. Bahkan, di ajang pameran
itu digelar komik-komik Indonesia. Memang masih ada fotokopian
sederhana dari komik mini Djair sekitar empat edisi, tapi Beng
Rahardian dan beberapa komikus yang juga menawarkan komik karyanya.
“Teh Jahe” yang merupakan tajuk kompilasi komik pendek Beng menarik
perhatian para hadirin di momen pembukaan eksposisi malam itu.

Ada juga yang sedang mempersiapkan komiknya. “Tolong ya bantu diedit,
komik saya ini,” ujar Tita, berbicara kepada Hikmat, seraya
menunjukkan karyanya empat buku calon komik tebal dan satu buku
berisi komik separuh jadi.

Tita, atau lengkapnya Dinita Larasati, adalah salah satu komikus
Indonesia yang pernah berpameran juga di Erasmus Huis, beberapa
bulan silam. Bersama dengan komikus Indonesia lainnya yang saling
berbeda gaya – mereka adalah Motulz (Dwi Santoso), Cahya (Muhammad
Cahya Daulay), dan Beng. Tita dengan komik “graphic diary”-nya
adalah salah satu fenomena komik terbaru di Eropa, berbicara tentang
kisahnya dalam tumpukan komik grafik yang detail serupa dengan
tumpukan dekoratif. Kisah pribadinya itu, gamblang dan terbuka.

Sekarang ini, komik manga dari Jepang masih menghebohkan pasar
industri komik di Indonesia, dengan mata gadis Jepang yang kerap
ditampilkan lebar itu. Kurator Hikmat, kemudian menyebut fenomena
lain manga yaitu kisah cinta dan desire-nya yang kerap tak logis,
namun dikonsumsi para generasi muda Indonesia saat ini.

Jadi, selain komik-komik silat di Indonesia yang penuh dengan aroma
“nostalgia kebangsaan” itu, juga usai terbius oleh pikatan komik
manga atau petualangan Tintin karya Herge, Asterix karya Rene
Goscinny (naskah) dan Albert Uderzo (gambar), atau secara acak komik
Roel Dijkstra, Trigan, Arad & Maya, Coki si Pelukis Cepat, Storm,
jangan lupakan komik Indonesia yang mungkin sedang beredar secara
underground di sekeliling Anda.



Orisinal dan Stilis

Mainstream itu, seperti yang dituturkan Hikmat, tak nampak dalam
pameran ini. Para komikus dari Kota Yogyakarta, Bandung dan Jakarta,
menampilkan kekuatan pribadi pada masing-masing karyanya. Seperti
tajuknya DI:Y yaitu Do It Your Self, dalam pameran gaya personal
mereka masing-masing, terasa pada momen eksposisi.

Di pameran ini ada Athonk yang memperlihatkan objek tak konvensional
dengan tubuh tokoh yang mengalami deformasi, terkesan “cuwek” namun
dilengkapi panel yang masih rapi. Tokohnya pun digambarkan mirip
wajah tengkorak dan berambut Mohawk. Ada Bambang Toko yang gambarnya
terkesan naif, namun kisahnya cukup menarik dan rumit untuk diselami.
Eko Nugroho yang eksperimentalis dan gandrung menggambarkan dunia
ganjil dalam strip tiga panel terutama dalam Fight Me (2004).

Iwank yang ajeg dalam gaya namun ringan dalam narasi. Ma’il yang
dalam komik personalnya menunjukkan upaya subversi atas kenyataan
sosial-historis yang resmi selama ini. Oyas Sujiwo yang dari “gaya
manga” ke “DI:Y” – bersama istrinya Iput kemudian mengeksplorasi
“komik bodor” Humor ala Bandung dan Prasajadi yang karyanya sangat
khas dengan latar desain grafis, simetris dan terkesan rapi.

Membuat komik, contohkan saja yang konvensional, memerlukan strategi
teknik yang memadai – keseimbangan antara visual dan narasi. Mirip
rangkaian slide film yang menggabungkan kisah dengan penjelasan
gambar (komik nenek moyang film?), komik sangat memerlukan
kecerdasan dari komikusnya. Sebuah seni yang tak bisa dipandang
sebelah mata. Tinggal bagaimana produsen-distributor kita merespons
gelombang besar komikus muda Indonesia ini.

Thursday, March 8, 2007

DISKUSI & ARTIST TALK EKSPOSISI KOMIK DI: Y


DISKUSI & ARTIST TALK EKSPOSISI KOMIK DI: Y

“KOMIK SEBAGAI SUBKULTUR”

Komik adalah media yang dinamis, tapi sering luput diberdayakan. Belakangan, memang banyak gerakan LSM atau organisasi politik memanfaatkan komik-komik pendidikan untuk menerangkan ideologi tertentu, sosok tertentu, lembaga tertentu, atau ide-ide tertentu.
Pemberdayaan ini belumlah sampai pada potensi tertinggi medium komik. Sementara komik, baik di aras internasional mau pun lokal, sedang membangun dunia subkulturnya sendiri. Dunia subkultur komik mensubversi dunia sehari-hari secara umum, maupun dunia budaya pop secara khusus. Komik-komik yang terinspirasi etos DIY (Do It Yourself) membangun dunia subversif yang lebih menarik lagi. Sebagai medium hibrida, komik memang memberi kemungkinan-kemungkinan naratif, dan diskursif serta estetis, yang menarik.

Kesebelas seniman komik yang tampil dalam “Eksposisi Komik DI: Y” telah menjelajahi
potensi-potensi komik tersebut, menyempal dari kelaziman tradisi komik yang ada, dan menawarkan sebuah Indonesia yang bersifat alternatif dari sudut pandang pribadi mereka sebagai komikus. Bagaimanakah mereka berkreasi, dan daerah kreatif macam apakah yang mereka olah? Apa relasi karya-karya mereka dengan situasi Indonesia pasca-Reformasi? Apakah mereka sedang memvisualkan sebuah “Indonesia Baru”?

Hadiri diskusi dan artist talk Eksposisi Komik DI: Y, pada:

Hari/Tanggal : Sabtu, Maret 2007
Tempat : Galeri Cipta II, TIM
Jl. Cikini Raya Jakarta Pusat
Waktu : 15.00 – 17.00 WIB
Fasilitator : Bagus Takwin
Pembicara : Ika Vantiani (pengamat komik), Dwinita Larasati (komikus), Beng Rahadian (komikus), Bambang Toko (komikus)

PANITIA
(c.p. Maha 08151612788, nia 08561086762)


Monday, March 5, 2007

The Way We Were (SR 91)


More photos from this event will eventually be uploaded

Thanks to our cute li'l pal Alex, we now have a collection of photographs from the good ol' days: angkatan 91 FSRD ITB. This first batch mostly consists photos from Anies' wedding in Jakarta. Another batch is when we girls had leftover films in our camera during the making of our Stone A' ID cards. Then, when we organized our own "OS" - final phase (camping!)

Weekend Happenings


I went to Jakarta with Lindri Friday afternoon, and came back to Bandung Monday morning. In between, our days were filled with many events. I'm noting them down here mainly for my own archive..


Friday 2 March


Picked up Lindri at Cendekia at about 13:00, went to CitiTrans to catch the 14:00 departure to Jakarta. Arrived at ClubStore (behind BEJ) at around 16:30; Chica and Pak Praya were already waiting. We took a spot inside ClubStore where we could sit and discuss the details concerning the arrival of our container at Tanjung Priok harbour. At about 17:30 we were done arranging stuff; I headed home and left Lindri there under the care of Eyang Ibu.


19:00 met Tiyas at Kinokuniya, Plaza Senayan. There was a launching for V for Vendetta, the Indonesian version, presenting speakers and such. It was an opportunity for me to meet, in person, some of my contacts from Komik Alternatif and Komik Indonesia mailing lists. So, that night I got to meet Beng, Anto and Alfi and many others. I and Tiyas started walking homewards at about 22:00, after successfully finding presents for Bapak and Mas Chico.


Saturday 3 March


My father's birthday. We celebrated it at his studio, inviting his staffs and colleagues as well: a birthday lunch with tumpeng, cakes and ice cream. At about 17:00 all the guests were gone and we were getting ready again to go someplace else.


18:00 I, Lindri and my parents picked up Tiyas from her ballet class, then we proceeded to Taman Ismail Marzuki (TIM): there would be an opening of an exhibition called Komik DI:Y (Daerah Istimewa : Yourself). I participate in this exhibition, which goes on until March 17th, along with Athonk, Ary Pras, Bambang Toko, Beng Rahadian, Didoth, Eko Nugroho, Iwank, Ma'il, Oyas & Iput. In this event, I got to meet some old friends, too, surprisingly. Lindri couldn't be contained, she ran to every direction, charming everybody around.


If any of you finds news or publications about this exhibition, please let me know! :)


Sunday 4 March


We went to church in the morning, then waited for Tiyas (she donated her blood) after the service. Lindri was hungry so Eyang Ibu bought her a pack of 'cheese stick', which Lindri refused to share to anyone while she was munching. Just like a fierce, hungry little puppy with its snack.


Mas Chico's birthday was on the 2nd, but he held a birthday lunch this Sunday. Everything was yummy, of course, and we got to meet our families and relatives again. Fun! We got home again at about 16:00; Lindri still in a sleeping state and she kept it that way until another couple of hours. This gave us time to devour the durians that were sent to our house earlier that morning.


4 March is also Victor's birthday, which we usually attend year after year. But now that we live faraway from our Zijlstra family, we could only send him all the well-wishes through the Internet.


Monday 5 March


I and Lindri departed to Bandung with the 10:00 CitiTrans. Things went smooth and we arrived at home somewhere before 13:00. Lindri was happy to see her father again, of course, but I got a phone call from Cendekia - saying that Dhanu wanted to go home because he wanted to continue his Bionicle game that he did with Sybrand the day before. Excuses, excuses.



Well, that was our full weekend. I can hardly wait until our stuff really gets here so I can start scanning again; drawings are piling up here in my book. See you around!